Sumber: www.wayoflife.org
“Sebab dari antara mereka terdapat orang-orang yang menyusup masuk ke rumah-rumah, dan menawan perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa, yang terseret oleh berbagai-bagai nafsu” (2 Timotius 3:6-7). Hal ini memiliki berbagai penerapan. Ayat ini berlaku bagi perempuan di dalam jemaat yang menjadi sasaran empuk para pemimpin laki-laki, bagi sekte-sekte yang dipimpin oleh perempuan (misalnya: Ann Lee, Mary Baker Eddy, Ellen G. White, Joanna Southcott), bagi denominasi Pentakosta dan lainnya yang menahbiskan perempuan, serta bagi denominasi Protestan modernis yang menarik minat perempuan-perempuan lemah, dan sebagainya.
Berikut ini adalah kutipan dari The World Council of Churches (2013), yang tersedia sebagai e-book gratis di www.wayofllife.org:
Pada konferensi *Re-imagining* di Minneapolis, Minnesota, tahun 1993, sekitar 2.000 perempuan yang ‘berupaya mengubah Kekristenan’ turut hadir. Denominasi yang menjadi sponsor dan peserta antara lain United Methodist Church, United Presbyterian Church, Evangelical Lutheran Church in America, United Church of Christ, United Church of Canada, Church of the Brethren, American Baptist Convention, Episkopal, dan Mennonit. Terdapat 234 peserta dari kalangan Katolik Roma.
Para pembicara meliputi Virginia Mollenkott, seorang lesbian yang secara terbuka mendukung aborsi; Elizabeth Bettenhausen, profesor di Harvard Divinity School; dan Jose Hobday, seorang biarawati Katolik Roma. Para hadirin mendengar para pembicara mengecam doktrin penebusan dosa melalui darah Kristus sebagai pengganti umat manusia (substitutionary blood atonement). Delores Williams dari Union Theological Seminary berkata, ‘Menurut saya, kita sama sekali tidak membutuhkan teori penebusan dosa. Saya berpendapat bahwa Yesus datang demi kehidupan dan untuk menunjukkan sesuatu tentang kehidupan kepada kita. Saya rasa kita tidak butuh orang-orang yang tergantung di kayu salib, darah yang menetes, dan hal-hal aneh semacam itu… kita hanya perlu mendengarkan Allah yang ada di dalam diri kita’ (AFA Journal, Feb. 1994).
Mereka menyapa sesosok dewi bernama ‘Sophia’ dengan doa ini: ‘Pembimbing kami, Sophia, kami adalah perempuan yang diciptakan menurut citra-Mu.’ Sue Seid-Martin dari University of St. Thomas School of Divinity di St. Paul, Minnesota, menyatakan bahwa Sophia ini adalah ‘bagian yang ditekankan dalam tradisi Alkitabiah, dan jelas merupakan sisi feminin dari jiwa manusia.’ Para hadirin diajarkan untuk berdoa kepada pohon demi mendapatkan ‘energi kehidupan.’ Mereka diajarkan bahwa ‘Alkitab pada dasarnya adalah buku terbuka’ yang pasal-pasal baru dapat ditambahkan melalui teologi feminis (AFA Journal, Feb. 1994). Chung Hyung Kyung dari Korea, seorang profesor di Ewha Women’s University—universitas khusus perempuan terbesar di dunia dengan 20.000 mahasiswa—berkata, ‘Perut saya adalah perut Buddhis, hati saya adalah hati Buddhis, otak kanan saya adalah otak Konfusianis, dan otak kiri saya adalah otak Kristen.’ Sekitar 100 ‘perempuan lesbian, biseksual, dan transeksual’ berkumpul di atas panggung dan diberi…” …tepuk tangan meriah sambil berdiri. Mereka ‘merayakan keajaiban menjadi seorang lesbian, yang terbuka akan identitasnya, sekaligus seorang Kristen.’