Sumber: www.wayoflife.org
Berikut ini adalah kutipan dari “When Science Errs: The Oft Times Lonely Stand for Truth” (Ketika Sains Keliru: Pendirian yang Sering Kali Sepi demi Kebenaran), ChristianAnswers.net:
Dalam kiprahnya di Rumah Sakit Umum Wina, Ignaz menyaksikan banyak korban demam nifas (setelah persalinan) yang sangat menular dan sering kali mematikan. Perlahan-lahan, ia mulai mencurigai adanya peningkatan risiko bagi siapa pun yang melakukan kontak dengan para penderita demam tersebut. Seiring berjalannya waktu, kecurigaannya berubah menjadi keyakinan yang teguh. Ia berpendapat bahwa para dokter di rumah sakit itu secara tidak sadar membawa penyakit tersebut dari ruang autopsi mayat dan menularkannya kepada para wanita di bangsal bersalin. Oleh karena itu, Ignaz memerintahkan semua dokter untuk mencuci tangan secara menyeluruh menggunakan larutan kapur klorin sebelum memeriksa pasien. Ini adalah langkah yang radikal dan kontroversial, yang berujung pada masalah besar bagi Ignaz, sang dokter muda tersebut. Perlu diingat bahwa Ignaz mengambil sikap ini bertahun-tahun sebelum Louis Pasteur, dengan mikroskopnya, mendokumentasikan secara ilmiah bahaya bakteri menular. Pada masa hidup Ignaz, sikap radikal semacam itu tidak dapat diterima oleh dunia medis. Akibatnya, tekanan hebat ditimpakan kepada pria muda itu. Ia diejek. Karakternya diserang. Namun, ia tetap teguh pada pendiriannya — benar-benar seorang diri — melawan seluruh aparatus ilmiah pada zamannya. Tidak ada seorang pun yang sependapat dengannya. Namun pada akhirnya, tekanan itu mengalahkannya. Ignaz mengalami gangguan jiwa dan meninggal dunia pada tanggal 1 Agustus 1865 dalam usia 47 tahun. Tak lama kemudian, Joseph Lister melakukan operasi antiseptik pertamanya, dan Ignaz — yang baru meninggal kurang dari setahun — pun mulai mendapatkan pembenaran penuh atas pandangannya.