(Berita Mingguan GITS 01 Oktober 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Di dalam isu Oktober 2011 dari majalah In Touch, Charles Stanley dengan mentereng mempromosikan mistikisme kontemplatif. Perhatikan kutipan berikut: “…kesendirian adalah pilihan yang disengaja untuk menghabiskan waktu bersama Allah dan memberikan Dia perhatianmu yang sepenuhnya…..Saran pertama saya adalah untuk menemukan tempat yang sunyi yang bebas dari gangguan. Ketika anda di tempat itu, langkah berikutnya adalah JANGAN MELAKUKAN APA-APA, tetapi buatlah dirimu terbuka bagi Tuhan. Pada saat itu, Allah tidak harus sedang mengharapkan engkau membaca suatu daftar doa atau mempelajari suatu renungan. Dengan sederhana undanglah Dia untuk bertemu denganmu dalam kesunyian dan berbicara kepadamu melalui FirmanNya, dengan cara apapun yang Dia pilih. Bergantung pada keperluanmu, Dia bisa mengucapkan kata-kata penguatan atau instruksi, atau hanya mengelilingi engkau dengan kasihNya. Jangan putus asa jika MERASAKAN HADIRATNYA tidak terjadi seketika. Dengan waktu, anda AKAN MERASAKANNYA dengan suatu cara yang mengubahmu dan tak dapat terlupakan….melalui kesendirian kita menjadi intim dengan Allah, dan tidak ada di dunia ini yang dapat dibandingkan dengan mengenal Dia secara mendalam” (“Ask Dr. Stanley,” In Touch, Okt. 2011). Yang sedang direkomendasikan oleh Stanley bukanlah meditasi alkitabiah; ini adalah mistikisme buta yang dipinjam dari masa lalu monastik Roma yang gelap. Stanley tidak menjelaskan tentang bagaimana mencari waktu sendiri bersama Allah tanpa gangguan dan mempelajari dan merenungkan Firman Tuhan dan berdoa. Dia menjelaskan bagaimana duduk dalam keheningan dan TIDAK MELAKUKAN APA-APA dan berharap Allah akan menemui saya dalam konteks seperti itu. Ketika dia menyinggung Allah berbicara melalui “FirmanNya,” dia bukan memaksudkan Alkitab tetapi kepada suatu pengalaman, suatu perasaan, suatu intuisi. Mencari suatu “pengalaman” dengan Allah adalah lawan dari berjalan dengan iman (yang hanya datang melalui Firman Allah, Alkitab, lihat Roma 10:17), dan adalah resep manjur menuju penipuan rohani. Jika saya mengikuti rekomendasi Charles Stanley untuk mencari Allah dalam “keheningan” dan berharap Dia menyatakan DiriNya kepada saya dalam suatu pengalaman tertentu di luar Alkitab, bagaimana saya bisa tahu bahwa yang berbicara adalah Allah? Alkitab berulang kali memperingatkan tentang bahaya ditipu oleh Iblis, yang menjelma menjadi malaikat terang (mis. 2 Kor. 11; 1 Pet. 5:8). Firman Allah menginstruksikan orang percaya untuk tetap sadar dan berjaga-jaga secara rohani terhadap penipuan rohani di segala waktu. Setiap pikiran dan pengalaman harus dengan hati-hati diuji dengan Kitab Suci Kudus. Mistikisme kontemplatif juga dipromosikan pada isu bulan Januari 2011 dan Januari 2010 dari majalah In Touch. Charles Stanley adalah satu lagi contoh “Injili konservatif” yang menjadi jembatan ke lautan yang berbahaya dan kesesatan akhir zaman.