Sumber: www.wayoflife.org
Sudah bertahun-tahun lamanya saya (David Cloud) membaca tentang Gulungan Laut Mati, tetapi minat saya semakin meningkat baru-baru ini setelah mengunjungi dua situs yang terkait dengannya: gua-gua dan museum di Qumran, dan Kuil Kitab di Yerusalem tempat tujuh gulungan pertama disimpan.
Gulungan-gulungan itu ditemukan antara tahun 1947 dan 1956 dalam 11 gua dekat pantai barat laut Laut Mati, 13 mil tenggara dari Yerusalem. Gua pertama berisi dua gulungan Yesaya, termasuk Gulungan Besar Yesaya yang hampir utuh.
Gulungan-gulungan itu terawetkan oleh iklim gua yang sangat kering, yaitu 1.300 kaki di bawah permukaan laut.
Gulungan-gulungan itu berisi sisa-sisa sekitar 900 tulisan yang berbeda-beda, sebagian besar ditulis antara 200 SM dan tahun 68 M. Sebagian besar gulungan-gulungan itu berupa fragmen-fragmen. Gulungan-gulungan Laut Mati disebut sebagai “teka-teki jigsaw terbesar di dunia.” Sebagian besar gulungan ditulis di atas perkamen (kulit domba atau kambing), sementara sebagian kecil ditulis di atas papirus (kertas yang terbuat dari tanaman papirus) dan tanah liat, dan dua di antaranya ditulis di atas tembaga (Geza Vermes, The Story of the Scrolls, 2010 ).
Delapan puluh persen dari gulungan-gulungan itu ditulis dalam bahasa Ibrani, dan 25% di antaranya adalah kitab-kitab dalam Alkitab. Ada bagian dari setiap kitab Perjanjian Lama kecuali Ester, dengan demikian meneguhkan kanon tradisional Kitab Suci. Ada 15 salinan Kejadian, 17 Keluaran, 13 Imamat, delapan Bilangan, 29 Ulangan, dua Yosua, tiga Hakim-Hakim, 21 Yesaya, enam Yeremia, enam Yehezkiel, 36 Mazmur, dua Amsal, dan empat dari Rut.
Tidak ada bagian dari kitab-kitab Perjanjian Baru di antara Gulungan Laut Mati, dan Yesus tidak disebutkan di mana pun di dalamnya.
Tes penanggalan mutakhir pada awal 1990-an menegaskan bahwa gulungan-gulungan yang berisikan teks Alkitab berasal dari dua abad sebelum Masehi (George Bonani, “Carbon-14 Tests Substantiate Scroll Dates,” Biblical Archaeology Review, November/Desember 1991, hlm. 72).
Gulungan Besar Yesaya
Kitab Perjanjian Lama yang paling penting dan lengkap di antara Gulungan-gulungan Laut Mati adalah Gulungan Besar Yesaya, yang berisi semua 66 pasal Yesaya. Ia ditemukan di gua pertama dan ditulis pada 17 lembar kulit domba yang dijahit menjadi satu untuk membentuk gulungan dengan panjang sekitar 24 kaki. Gulungan ini sekarang berada di Kuil Kitab di Museum Israel di Yerusalem, dan sebuah rekayasa salinan yang realistis dipajang di ruang utama. Penanggalan gulungan ini telah diuji setidaknya empat kali dengan metode karbon-14 dan hasilnya berkisar antara 335 hingga 107 SM. Teknik lain (misalnya dari bahan dan gaya tulisan, koin terkait, dan artefak lainnya) bertanggal 150-100 SM. Jadi, gulungan ini ditulis setidaknya satu abad sebelum Masehi dan mungkin dua abad sebelumnya.
Bidat Essenes
Buku-buku non-alkitabiah dari Gulungan Laut Mati mewakili berbagai macam buku, banyak di antaranya adalah ajaran sesat dari bidat Yahudi yang disebut Essenes, yang mungkin mempunyai sebuah komunitas biara di dekat Qumran. Mereka menganggap diri mereka Israel sejati dan percaya bahwa Tuhan telah memanggil mereka untuk memulihkan Hukum Musa dan mendirikan kerajaan Tuhan di bumi. Pemimpin mereka disebut “Guru Kebenaran.” Karena percaya bahwa penyembahan di Bait Suci di Yerusalem tidak murni, mereka berpisah darinya dan pindah ke padang gurun untuk menunggu kedatangan Mesias, dengan pemahaman bahwa mereka menggenapi Yesaya 40:3.
Mereka melihat diri mereka sebagai “Anak-anak Terang” dan “Anak-anak Kebenaran” dan semua orang lain sebagai “Anak-anak Kegelapan,” dan mereka mengharapkan Mesias untuk kembali dan memimpin mereka mengalahkan “bala tentara Belial” dalam suatu perang yang berkepanjangan dan kemudian membangun Bait baru dan menetapkan kembali penyembahan Bait yang murni. Semua ini dijelaskan dalam buku mereka The War Rule dan The New Jerusalem.