Gereja Mennonite USA Menyetujui Resolusi yang Mendukung Pernikahan Sesama Jenis dan Berkomitmen untuk Inklusivitas LGBTQ

Sumber: www.wayoflife.org

Berikut ini dikutip dari “ Mennonite Church USA,” Religion News Service, 2 Juni 2022: “Badan pemerintahan dari denominasi Mennonite terbesar di Amerika Serikat mengeluarkan resolusi pada hari Minggu (29 Mei 2022) yang mengakui bahwa selama ini mereka ‘melakukan kekerasan terhadap orang-orang LGBTQ [Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Queer atau Questioning] dan berkomitmen untuk menerima LGBTQ. Dalam pemungutan suara yang terpisah, Gereja Mennonite USA juga mencabut instruksi kepada para gembala untuk tidak memimpin pernikahan antara orang-orang dari jenis kelamin yang sama. Pengakuan iman resmi denominasi tersebut, yang mendefinisikan pernikahan sebagai antara seorang pria dan seorang wanita, tetap tidak berubah. Hampir 83% dari delegasi yang bertemu di majelis khusus di Kansas City, Missouri, memberikan suara mendukung pencabutan pedoman yang melarang pernikahan untuk pasangan sesama jenis, sementara resolusi untuk inklusi LGBTQ disahkan dengan selisih yang lebih tipis, dengan 55,7% mendukung. “Mengeluarkan orang-orang LGBTQIA dari gereja adalah penolakan terhadap sukacita Tuhan dalam keragaman ciptaan dan penolakan terhadap gambar dan nafas Ilahi yang menjiwai seluruh umat manusia,” demikian bunyi Resolusi untuk Pertobatan dan Transformasi. Resolusi tersebut mengikat denominasi ini untuk membentuk kelompok konstituen LGBTQ, menciptakan sumber daya denominasi untuk membahas pertobatan dan rekonsiliasi untuk jemaat-jemaat lokal dan menghormati orang-orang LGBTQ dalam pernyataan teologis di masa depan.”

Posted in Gereja, LGBT | Leave a comment

Rick Warren Mengumumkan Penerusnya

Sumber: www.wayoflife.org

Rick Warren, gembala sidang senior dari Saddleback Church di Orange County, California, telah mengumumkan bahwa dia akan digantikan oleh Andy dan Stacie Wood, tim gembala suami-istri. Pasangan Wood saat ini menjabat sebagai gembala dan “gembala pengajar” dari Gereja Echo di San Jose. Saddleback, gereja terbesar kedua di Southern Baptist Convention (SBC, dalam bahasa Indonesia: Denominasi Baptis Selatan), menentang pengakuan iman SBC (belum lagi ajaran Alkitab yang jelas) yang melarang wanita menjadi gembala. “Juga aku tidak mengizinkan perempuan untuk mengajar, ataupun untuk memerintah laki-laki, sebaliknya hendaklah ia berdiam diri. Sebab Adam yang pertama dijadikan, setelah itu barulah Hawa. Dan Adam tidaklah tertipu, melainkan perempuan itu yang karena tertipu jatuh ke dalam pelanggaran.” (1 Timotius 2:12-14, ITR). Setahun yang lalu, Saddleback menahbiskan tiga gembala wanita pertama mereka, yaitu Liz Puffer, Cynthia Petty, dan Katie Edwards. Sekarang mereka akan dipimpin oleh seorang gembala sidang senior wanita. Disebut oleh Christianity Today sebagai “gembala paling berpengaruh di Amerika,” pengaruh Warren sangatlah luas. Filosofi “Purpose Driven”-nya, berdasarkan buku terlarisnya The Purpose Driven Life, menjangkau ke dalam setiap sudut kekristenan, dari Katolik hingga Mormonisme hingga Protestan liberal hingga kelompok Injili hingga gereja-gereja alkitabiah dan Baptis fundamentalis. Satu dekade yang lalu, lebih dari 12.000 gereja dari 50 negara bagian di Amerika dan 19 negara telah berpartisipasi dalam acara 40 Days of Purpose yang diselenggarakan Warren. Lebih dari 60.000 gembala sidang berlangganan Ministry Toolbox-nya Rick Warren. Banyak gereja Baptis independen telah dipengaruhi oleh ajaran Warren. Dia mengadakan Konferensi Super Purpose Driven pada Oktober 2003 di Universitas Liberty milik Jerry Falwell (Falwell berafiliasi ganda dengan Southern Baptist Convention dan Baptist Bible Fellowship). Secara bersamaan, kampanye 40 Days of Purpose-nya Warren ditayangkan melalui siaran di lebih dari 4.000 gereja, termasuk gereja-gereja Baptis independen. Rick Warren telah dijuluki “gembalanya Amerika,” dan julukan itu cukup cocok. Dia begitu dangkal dalam pengajarannya, begitu positif dalam pendekatannya, begitu meremehkan pertobatan, begitu mengabaikan doktrin-doktrin yang tidak populer seperti penghakiman dan neraka, begitu toleran terhadap kesesatan, begitu ekumenis, begitu antusias dengan musik rock, begitu lembut berbicara tentang masalah keduniawian yang kotor, sehingga Amerika yang murtad tidak bisa tidak mencintainya. Semua karakteristik ini tercermin dalam buku terlarisnya. Injilnya begitu kosong sehingga tidak diragukan lagi itu adalah Injil yang palsu. Inilah cara untuk diselamatkan, menurut Rick Warren: “Di mana pun Anda sedang membaca ini, saya mengundang Anda untuk menundukkan kepala dan membisikkan doa yang akan mengubah keabadian Anda. ‘Yesus, saya percaya kepadaMu dan saya menerimaMu.’ Silakan. Jika Anda sungguh-sungguh memaksudkan doa itu, selamat! Selamat datang dalam keluarga Tuhan!” (The Purpose Driven Life, hlm. 58, 59). Ini bukan Injil yang diberitakan dalam kitab Kisah Para Rasul atau surat Roma atau dalam 1 Korintus. Tidak ada penanganan yang jelas tentang masalah dosa, tidak ada apa pun tentang kekudusan dan keadilan Allah, tidak ada pengajaran yang jelas tentang apa yang Yesus lakukan di kayu salib, tidak ada apa pun tentang darahNya atau kebangkitanNya. Percaya saja pada Yesus. Yesus apa? Percaya apa? Percaya bagaimana? Rasul Paulus memperingatkan dengan keras dan terus-menerus tentang Injil palsu dan dengan jelas dan ekstensif menggambarkan Injil yang benar, tetapi Rick Warren mempunyai cara yang berbeda. Dia adalah seorang penyesat yang ceria, riang, menyenangkan, dan fakta bahwa dia adalah anggota terkemuka di Southern Baptist Convention justru memperlihatkan kemerosotan denominasi itu. (Untuk dokumentasi lebih lanjut yang ekstensif tentang tuduhan ini, lihat Purpose Driven or Scripture Driven, e-book gratis yang tersedia dari www.wayoflife.org.)

Posted in Emerging Church, Gereja, Wanita | Leave a comment

Penembakan Massal di Sekolah-Sekolah Amerika

Oleh: David Cloud

Penembakan massal di sekolah Amerika yang paling baru terjadi terjadi pada 24 Mei 2022, ketika Salvador Ramos, seorang remaja berusia 18 tahun, membunuh 19 siswa sekolah dasar dan dua guru di Uvalde, Texas. Meskipun ada insiden kekerasan senjata yang terisolasi di sekolah-sekolah umum Amerika sebelum tahun 1960-an, tidak ada pembunuhan massal. Yang pertama terjadi adalah pada Agustus 1966, ketika Charles Whitman yang berusia 25 tahun membunuh 16 orang dan melukai 31 lainnya di Universitas Texas-Austin. Sejak itu, telah terjadi 13 kali atau lebih penembakan massal di sekolah-sekolah, tergantung cara penghitungannya (“13 Penembakan Sekolah Massal,” 26 Mei 2022, Reason.com). Misalnya, pada April 1999, Eric Harris dan Dylan Klebold yang berusia 18 tahun membunuh 12 siswa dan seorang guru di Columbine High School dekat Denver, lalu bunuh diri. Pada Maret 2005, Jeffrey Weise yang berusia 16 tahun membunuh tujuh siswa dan staf di Red Lake High School di Minnesota. Pada April 2007, Seung-Hui Cho yang berusia 23 tahun membunuh 32 mahasiswa dan fakultas di Virginia Tech. Setelah setiap peristiwa yang sangat dipublikasikan ini, undang-undang baru telah diusulkan, tetapi sebagian besar itu adalah hal-hal spontan yang tidak membahas masalah mendasar. (Menempatkan lebih banyak senjata ke tangan orang yang tepat akan memberikan perlindungan yang lebih baik.) Amerika sejak dulu sudah memiliki budaya senjata, tetapi Amerika tidak selalu rawan kekerasan seperti saat ini. Persentase yang lebih besar dari penduduk Amerika memiliki senjata pada paruh pertama abad ke-20 dan persentase yang lebih besar memiliki pengalaman militer dan bela diri lainnya, tetapi tidak ada penembakan massal di sekolah. Hal yang berubah adalah karakter moral Amerika dan budaya yang berlaku.

Kami akan mendaftarkan tiga hal fondasi yang mendasari perubahan ini. Yang pertama adalah kemurtadan gereja-gereja Amerika. Abad ke-20 menyaksikan penurunan besar dalam karakter gereja-gereja Injili Protestan dan Baptis. Ada penghilangan besar-besaran dari hal-hal dasar seperti keanggotaan jemaat yang lahir baru, khotbah yang terus terang, disiplin gereja, separasi dan gaya hidup musafir, ayah sebagai kepala rohani rumah tangga dan pengawas pendidikan anak-anak, dan ibu sebagai penjaga rumah. Suasana pesta yang ringan menggantikan suasana suci. Gereja-gereja berjalan seirama dengan dunia. Hal fondasi kedua adalah bangkitnya budaya pop dan industri hiburan yang keji dan melawan Kristus. Budaya anak-anak muda yang digerakkan oleh musik mmeluncur masuk pada tahun 1950-an (didahului oleh budaya jazz yang lebih kecil) dan meledak dalam pengaruh pada tahun 1960-an. Dengan tema yang berpusat pada diri sendiri: “Ini hidupmu; lakukan apa yang kamu inginkan,” budaya ini adalah pemberontakan terbuka kepada Tuhan dan hukum-hukum suci-Nya dan merupakan resep untuk bencana moral. Budaya pop dan industri hiburan telah tumbuh semakin korup dan rawan kekerasan setiap dekade, dan internet, handphone, dan media sosial telah memperkuat pengaruhnya. Hal fondasi ketiga adalah korupsi filosofis dari sistem sekolah umum. Ini dimulai pada pergantian abad ke-20 dan menyebar perlahan, dan semakin bertumbuh secara dramatis seiring dengan berjalannya waktu menuju pertengahan abad. Titik balik utama adalah penggantian kepercayaan akan penciptaan dunia dengan evolusi dan penolakan pandangan alkitabiah tentang Tuhan dan manusia dan moral absolut. Hasilnya telah terbukti untuk dilihat semua orang. Perbedaan moral antara Amerika tempat saya dilahirkan pada tahun 1949 dan Amerika yang ada saat ini sangat menakjubkan. Penembakan massal di sekolah hanyalah salah satu elemen kecil. Dua hal teratas yang akan membawa perubahan moral yang nyata ke Amerika adalah ini: Hal pertama adalah kebangunan rohani di gereja-gereja yang percaya Alkitab. Gereja-gereja memegang kunci untuk ini jika mereka bersedia membayar harganya. Para gembala harus berhenti mengikuti dan mulai memimpin. Hal kedua yang dapat membawa perubahan moral yang nyata di Amerika adalah pembongkaran sistem pendidikan publik, termasuk perguruan tinggi dan universitas yang didukung pemerintah. Paling tidak, semua umat tebusan Tuhan harus berhenti mendukung sekolah umum yang menentang Tuhan.

Posted in General (Umum) | Leave a comment

Semangat Tempur Fundamentalisme

Oleh David Cloud

Disadur dari buku The History and Heritage of Fundamentalism and Fundamental Baptists, www.wayoflife.org

Fundamentalisme sebagai sebuah gerakan memiliki kelemahan-kelemahan yang serius, seperti yang telah kami dokumentasikan dalam buku ini, tetapi kekuatan Fundamentalisme adalah pendiriannya yang kokoh membela inspirasi yang sempurna dari Kitab Suci, pola pikirnya yang menguji segala sesuatu, semangatnya untuk kebenaran, kesediaannya untuk memperjuangkan kebenaran, untuk membela kebenaran, untuk berkhotbah melawan kesalahan sekaligus mendukung kebenaran, dan untuk memisahkan diri (separasi) dari kesalahan.

Hal-hal ini alkitabiah dan benar. Faktanya, tidak ada bentuk kekristenan yang bisa tidak memiliki hal-hal ini dan bisa bertahan alkitabiah dan benar.

“Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci.” (Maz. 119: 128).

“Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Rom. 16:17).

“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Kor. 6:14).

“Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu.” (Ef. 5:11).

“Ketika aku hendak meneruskan perjalananku ke wilayah Makedonia, aku telah mendesak engkau supaya engkau tinggal di Efesus dan menasihatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan ajaran lain.” (1 Tim. 1:3).

“Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka, di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.” (1 Tim. 1:19-20).

“Percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.” (1 Tim. 6:5).

“Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan” (1 Tim. 6:20).

“Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.” (2 Tim. 2:16-18).

Continue reading

Posted in Fundamentalisme | Leave a comment

Hashem, Yehovah, Yahweh, Yesus

Sumber: www.wayoflife.org
Oleh Dr. David Cloud

Tradisi Talmud Yahudi melarang penyebutan nama Tuhan baik Yehovah atau Yahweh, yang terdiri dari empat huruf Ibrani. Dalam tiga abad sebelum Kristus, tradisi para rabi menetapkan bahwa nama Allah terlalu suci untuk diucapkan. Diklaim bahwa nama Tuhan diucapkan di masa lalu hanya oleh imam besar pada Hari Pendamaian, tetapi ini bertentangan dengan ajaran Alkitab yang jelas. Nama Allah yang mulia telah diganti dalam tradisi Yahudi dengan sebutan hashem yang datar, yang berarti “nama itu”, dan karena itu tidak berarti apa-apa.

Tetapi Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah dengan penuh belas kasih dan ajaib telah menyatakan nama-Nya yang kudus untuk dikenal dan diucapkan oleh manusia, bukan untuk dikaburkan oleh tradisi yang sia-sia.

“Supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama YEHOVAH, Yang Mahatinggi atas seluruh bumi.” (Mazmur 83:19).

“Percayalah kepada YEHOVAH selama-lamanya, sebab TUHAN YEHOVAH adalah gunung batu yang kekal.” (Yesaya 26:4).

Nama Jehovah atau Yehovah muncul 6.519 kali dalam Alkitab Ibrani, dimulai dari Kejadian 2 dalam kaitannya dengan penciptaan pribadi Allah atas Adam dan Hawa.

Nama “Yehovah” mencakup segala sesuatu tentang Allah, tetapi secara khusus menekankan Allah sebagai Penebus, Juruselamat, Gembala. “Dari TUHAN [Yehovah] datang pertolongan” (Mzm. 3:9); ”TUHAN [Yehovah] adalah gembalaku” (Mzm 23:1); ”Aku, Akulah TUHAN [Yehovah] dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku” (Yes. 43:11); “Aku, TUHAN [Yehovah], adalah Juruselamatmu dan Penebusmu, Yang Mahakuat, Allah Yakub.” (Yes. 49:26; 60:16). Yehovah juga adalah Hakim. Dia adalah Penebus yang menepati perjanjian bagi orang percaya dan juga Allah kudus yang menghakimi penghakiman orang yang tidak percaya (Ul. 7:9-10).

Yehovah adalah Allah yang setia memelihara perjanjian. Yehovah-lah yang membuat perjanjian dengan Abraham (Kej 12:1-4; 15:8), Ishak (Kej 26:1-4), Yakub (Kej 28:11-15) dan Daud (2 Sam. 7:8-16). Yehovah adalah Penulis Perjanjian Baru dengan Israel (Yer. 31:31-34). Salomo menekankan bahwa Yehovah adalah Allah yang “menepati perjanjian dan menunjukkan belas kasihan” (2 Taw 6:14-15).

Kita melihat definisi Yehovah dalam penyebutan pertama nama itu di Kejadian 2-3. Tuhan disebut Yehovah 19 kali dalam pasal-pasal ini. Di sini kita melihat Yehovah sebagai Pencipta yang pengasih dan mahakuasa, menciptakan manusia dan menyediakan semua kebutuhannya, menjadikan alam semesta untuk tempat tinggalnya dan firdaus yang mulia untuk rumahnya. Kita melihat Yehovah sebagai Hakim yang adil, yang memberikan hukum pertama kepada manusia dan peringatan penghakiman atas ketidaktaatan (Kej. 2:16-17). Kita melihat Yehovah sebagai Hakim, menghukum manusia setelah kejatuhan. Tetapi kita juga melihat Dia sebagai Penebus, mencari orang berdosa, membawa mereka kepada pertobatan, bernubuat tentang Juruselamat yang akan datang, dan mengenakan jubah yang menandakan keselamatan yang akan disediakan oleh pengorbanan Anak Allah (Kej. 3:8, 15, 21 ).

Continue reading

Posted in Alkitab, Theologi | Leave a comment

App Pengirim Pesan di China Mensensor Kata “Kristus”

Sumber: www.wayoflife.org

Berikut ini dikutip dari China Aid, 4 April , 2022: “Sejak ‘Langkah-langkah untuk Administrasi Layanan Informasi Keagamaan Internet’ yang diambil oleh Partai Komunis China mulai berlaku pada tanggal 1 Maret, akun-akun dan grup-grup WeChat Kristen menjadi area utama penindasan. Ran Yunfei dari Early Rain Covenant Church memiliki grup WeChat yang bernama ‘Cara membaca’. Anggota-anggota dalam grup teresbut dapat merekomendasikan judul buku dan memilihnya dengan pemungutan suara bawaan WeChat. Dalam ronde pemilihan baru-baru ini, para anggota kelompok merekomendasikan buku-buku berikut … ‘Imitasi Kristus’ oleh Thomas Kempis … Namun, pemungutan suara tidak dapat melewati sensor WeChat, dan muncul pesan berikut: ‘Kata Kristus yang anda mencoba untuk publikasikan melanggar peraturan tentang Layanan Informasi Internet, termasuk tetapi tidak terbatas pada kategori berikut: pornografi, perjudian, dan penyalahgunaan narkoba, pemasaran yang berlebihan, hasutan. Masalah ini dapat diselesaikan melalui salah satu dari berikut ini: (1) Edit konten Anda (2) Kirim untuk ditinjau.’ Pada tanggal 20 Desember 2021, Administrasi Negara untuk Urusan Agama China menerbitkan ‘Langkah-langkah untuk Administrasi Layanan Informasi Keagamaan Internet’ di situs resminya. Dokumen ini dibuat melalui upaya bersama dari lima departemen: Administrasi Negara untuk Urusan Agama, Administrasi Cyberspace China, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi, Kementerian Keamanan Publik, dan Kementerian Keamanan Negara. … Kecuali jika kondisi yang ditentukan oleh pasal 15 dan pasal 16 terpenuhi, tidak ada organisasi dan individu yang boleh mengajar di internet, menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan agama, menerbitkan khotbah, memposting ulang atau menautkan konten terkait, menyelenggarakan kegiatan keagamaan di internet, atau menyiarkan langsung atau menyiarkan rekaman upacara keagamaan.” CATATAN DARI D. CLOUD: Kami tidak merekomendasikan buku Kempis atau bahan doa kontemplatif lainnya.

Posted in Penganiayaan / Persecution, Teknologi | Leave a comment

Gereja Sesat di Chicago Menolak Himne-Himne yang Ditulis oleh “Orang Putih”

Sumber: www.wayoflife.org

First United Church di Oak Park, pinggiran kota Chicago, “tidak akan menggunakan musik atau liturgi apa pun yang ditulis atau digubah oleh orang kulit putih,” menurut situs web mereka. Mereka “berpuasa dari keputihan.” Sebaliknya, mereka akan menggunakan “suara orang kulit hitam, penduduk asli, dan orang kulit berwarna.” Gereja tersebut, yang digembalakan oleh seorang pria kulit putih bernama John Edgerton, “menghargai orang dari semua ras, etnis, identitas budaya, identitas gender, orientasi seksual…” Gereja yang alkitabiah tidak memilih himne berdasarkan warna kulit dari para komposernya. Gereja yang alkitabiah sama sekali tidak peduli tentang warna kulit, karena mengetahui bahwa semua orang adalah satu darah dan tidak ada yang namanya “ras.” Tetapi gereja yang alkitabiah sangat peduli dengan moralitas dan doktrin alkitabiah. Sebuah gereja alkitabiah percaya pada ajaran Alkitab bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan. Sebuah gereja alkitabiah memilih himne berdasarkan apakah mereka memuliakan Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan apakah doktrinnya sehat menurut iman yang telah satu kali disampaikan kepada orang-orang kudus.

Posted in Gereja | 1 Comment

Fakultas Sebuah Universitas Baptis Mendukung Serikat Siswa Homosexual

Sumber: www.wayoflife.org

Universitas Baylor yang dikenal sebagai universitas Baptis terbesar di dunia, sekarang secara terbuka mendukung “kekristenan homoseksual.” Pada 18 Agustus 2019, Linda Livingstone, Presiden Baylor, mengatakan dalam sebuah surat kepada siswa, fakultas, dan staf bahwa sekolah “berkomitmen untuk menyediakan komunitas yang penuh kasih dan perhatian bagi semua siswa–termasuk siswa LGBTQ kami … Para siswa tidak akan didisiplin atau dikeluarkan dari Baylor karena ketertarikan sesama jenis. Selain kehadiran berkelanjutan dari banyak anggota fakultas dan staf yang peduli dan tepercaya, Baylor menyediakan sumber daya bagi siswa-siswi LGBTQ melalui Kantor Title IX, Tim Respon Bias, Kantor Pendeta dan Kehidupan Spiritual, dan Pusat Konseling. Konselor Baylor tidak mempraktekkan atau membenarkan konversi atau terapi reparatif. Dengan ini, kami memahami bahwa kami harus berbuat lebih banyak untuk menunjukkan cinta dan dukungan bagi siswa kami yang mengidentifikasi diri sebagai LGBTQ.” Pada 8 Februari 2021, Senat Fakultas Baylor mengeluarkan resolusi yang mendukung pendirian organisasi mahasiswa homoseksual bernama Gamma Alpha Upsilon (“Senat Fakultas mengeluarkan resolusi,” Baylor Lariat, 9 Februari 2021). Pemungutan suara mengeluarkan hasil 26 mendukung, 9 menentang, dan 4 abstain. Situs web sekolah memposting pernyataan berikut; “Kami mengakui kompleksitas masalah seputar seksualitas manusia dan keinginan untuk terlibat dalam percakapan ini dengan kerendahan hati, doa dan kesopanan yang mawas diri.” Isu homoseksualitas menjadi jelas ketika dipertimbangkan secara alkitabiah dan sekolah Kristen seharusnya tidak memiliki “percakapan” tentang seksualitas yang tidak berdasarkan alkitabiah.

Posted in LGBT | Leave a comment

Penerbit Kristen Dikunci Dari Twitter Karena Menyebut Seorang Pejabat Transgender Sebagai Laki-Laki

Berikut ini dikutip dari Christian Headlines, 23 Maret 2022: “Twitter telah mengambil tindakan terhadap platform media Kristen Babylon Bee dan The Christian Post karena menyebut Asisten Sekretaris Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan, Rachel Levine, seorang pria. The Babylon Bee, sebuah situs berita satir, dikunci dari Twitter karena ‘perilaku kebencian’ setelah memposting tweet yang menyebut Levine, seorang wanita transgender dalam Administrasi Biden, sebagai ‘Man of The Year’ mereka Sabtu lalu. Tweet tersebut merupakan bentuk ejekan terhadap USA Today, yang menyebut Levin sebagai salah satu ‘Women of the Year’ awal bulan ini. Meskipun dihukum oleh Twitter, CEO Babylon Bee, Seth Dillon menegaskan bahwa mereka tidak akan menghapus tweet tersebut. “Kami tidak akan menghapus apapun,” tulisnya pada hari Senin di akunnya. ‘Kebenaran bukanlah ujaran kebencian. Jika harga untuk mengatakan kebenaran adalah hilangnya akun Twitter kami, maka biarlah.’ … Twitter juga memberlakukan hukuman yang sama pada publikasi berita Kristen The Christian Post karena men-tweet artikelnya dengan judul, ‘USA Today menyebut Rachel Levine, seorang pria, di antara Women of the Year-nya.’ Pada hari Jumat, Twitter mengirim email ke The Christian Post yang menuduh outlet berita tersebut melanggar kebijakannya terhadap ‘perilaku kebencian’ dan melarang akun tersebut memposting artikel baru dan ‘untuk sementara’ membatasi beberapa fitur lainnya di akun Twitter mereka. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan untuk Faithwire, reporter investigasi senior The Christian Post tentang etika seksual dan gerakan trans, Brandon Showalter, menjelaskan mengapa outlet tersebut menolak untuk menghapus tweet tersebut. “Alasan The Christian Post bersikukuh menggunakan bahasa demikian, terutama ketika melaporkan perkembangan ideologi transgender, adalah karena kami menghargai kebenaran,” kata Showalter. “Jika kami gagal menjaga integritas tentang apa dan bagaimana kami melaporkan isu-isu penting ini, kami sangat merugikan pembaca kami yang mengandalkan kami untuk berkomunikasi dengan jujur. Kami tidak bisa, dengan hati nurani yang baik, menghilangkan kebenaran fisiologi kami dengan kata-kata yang tidak memiliki arti atau memiliki arti sebaliknya,’ demikian dia tegaskan.”

Posted in LGBT, Teknologi | Leave a comment

Mata Kita yang Menipu

Berikut ini dari CreationMoments.com, 30 April 2021: “Apakah matamu pernah mempermainkanmu? Mata kita secara teratur mempermainkan kita dengan bantuan otak kita. Penelitian berulang menunjukkan bahwa gambar yang kita lihat tidak persis sama dengan yang dilihat mata kita. Mata dan otak kita bekerja sama untuk membangun gambar yang kita sebut penglihatan. Ini terjadi bukan karena mata kita ingin menipu kita. Justru kebanyakan kali mata kita bekerja untuk membantu kita. Dengan bekerjasama, otak dan mata kita menambahkan detil-detil logis pada gambar yang kita lihat. Masing-masing dari kita memiliki titik buta dalam penglihatan kita karena tidak ada sel penglihatan di lokasi saraf optik. Daripada menunjukkan kepada kita titik kosong pada titik buta di bidang penglihatan kita, otak kita menciptakan gambar dari detil-detil di sekitarnya. Otak anda melakukan trik yang sama saat anda mengoreksi naskah anda yang sudah selesai. Sementara orang lain masih dapat menemukan kesalahan ketik, anda mungkin tidak. Otak anda sudah tahu apa yang anda mau katakan dan secara otomatis menunjukkan versi yang diperbaiki, membuat banyak kesalahan pengetikan anda tidak terlihat oleh anda sendiri. Biji mata anda dapat mengungkapkan pikiran Anda. Studi menunjukkan bahwa ketika melihat adegan yang tidak menyenangkan, biji mata (Inggris: pupil) akan mengecil. Adegan yang menyenangkan atau menarik menyebabkan biji mata terbuka lebih lebar. Charles Darwin pernah menulis, ‘Untuk mengandaikan bahwa mata, dengan semua kecanggihannya yang tak ada bandingannya untuk menyesuaikan fokus pada jarak yang berbeda, untuk menerima jumlah cahaya yang berbeda, dan untuk mengoreksi aberasi sferis dan kromatik, dapat dibentuk oleh seleksi alam, tampaknya, saya dengan bebas mengakui, tidak masuk akal dalam tingkat yang setinggi mungkin.’ Kita tidak sering setuju dengan Charles Darwin, tetapi kali ini kita setuju! Pengarang: Paul A. Bartz. Ref: McCutcheon, M. 1989, Kompas di Hidung Anda, Los Angeles: Jeremy P. Tarcher.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment