Darlene Zschech Mengatakan “Gereja” Sedang Memasuki “Masa Kebangunan Rohani Lagi”

Sumber: www.wayoflife.org

Darlene Zschech, mantan pemimpin pujian di Hills Christian Life Centre di Sydney, Australia, dan rekan Hillsong Music, “meyakini bahwa Gereja sedang memasuki masa kebangunan rohani lainnya, dengan munculnya generasi baru lagu-lagu pujian yang menyertainya.” Ia berkata, “Lagu baru selalu hadir bersamaan dengan kebangunan rohani yang baru di bumi, di mana pun hal itu terjadi. Selalu ada lagu baru yang mengiringi kebangunan rohani dalam sejarah, dan kini kita berada di titik itu lagi. … Saya rasa kita sedang berada di ambang sesuatu yang begitu luar biasa” (Darlene Zschech, Christianity Daily, 7 September 2026).

Hillsong memiliki pengaruh yang sangat besar dan telah merambah banyak gereja Baptis independen. Lagu-lagu Hillsong yang populer antara lain “Oceans,” “Shout to the Lord,” “Stronger,” “This Is Our God,” dan “Mighty to Save.” Namun, tidak ada kebangunan rohani dalam musik Kristen kontemporer. Musik yang demikian itu merupakan perpaduan yang tidak sah antara Kristus dan dunia. Itu adalah musik bagi gereja-esa-sedunia (one-world church), bukan gereja Perjanjian Baru. Dalam sebuah wawancara tahun 2004, Zschech mengungkapkan filosofinya yang tidak sesuai dengan Alkitab: “Saya pernah berada di Gereja Katolik, United Church, Gereja Anglikan, dan banyak gereja lainnya, dan ketika penyembahan dipersembahkan dalam kebenaran, suara ini muncul—terlepas dari gayanya.” “Itu adalah suara hati manusia yang terhubung dengan Penciptanya” (Michael Herman, “Zschech, Please,” *Christianity Today*, 4 Juni 2004).

Ia tidak menjelaskan bagaimana penyembahan bisa dilakukan “dalam kebenaran” di tengah konteks kesatuan ekumenis yang melibatkan berbagai denominasi yang mengajarkan kesesatan dan injil palsu. Zschech dan Hillsong tampil dalam acara Hari Orang Muda Sedunia (World Youth Day) Gereja Katolik Roma di Sydney pada 18 Juli 2008. Paus Benediktus XVI hadir dan memimpin misa kepausan dalam acara akbar tersebut. Pada 3-4 Juli 2015, Darlene Zschech dan Hillsong bergabung dengan Paus dalam acara Pertemuan Pembaruan Roh Kudus di Vatikan. Di halaman Facebook-nya, Zschech berkata, “Merupakan suatu kehormatan bisa bernyanyi minggu ini bersama Andrea Bocelli, Don Moen, Noa [penyanyi Israel], serta Paus Fransiskus dan ribuan umat yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Ini adalah perayaan kesatuan dan damai sejahtera dalam Pembaruan Roh Kudus. Hari-hari yang luar biasa bagi Tubuh Kristus.”

Misa Katolik yang dipimpin oleh Kardinal Angelo Comastri diselenggarakan dalam acara tersebut. Menurut dogma Katolik yang menghujat, imam memiliki kuasa untuk mengubah roti menjadi tubuh dan darah Yesus yang sesungguhnya, yang kemudian disembah dalam wujud hosti yang telah dikuduskan. Kita bertanya-tanya apakah rombongan Hillsong sempat mengunjungi basilika Santa Maria Maggiore untuk berdoa kepada Maria Sang Ratu Damai dan Maria Sang Ratu Surga, serta merenungkan patung yang terletak tepat di luar gereja tersebut—patung yang menggambarkan Maria sedang bergantung di kayu salib bersama Yesus?

Posted in Katolik, musik | Leave a comment

Kemungkinan Gambaran Yerusalem dan Hizkia yang Berusia 2.700 Tahun

Sumber: www.wayoflife.org

Berikut ini adalah kutipan dari tulisan Brent Nagtegaal, “Revealed: A 2,700-Year-Old Depiction” (Terungkap: Sebuah Gambaran Berusia 2.700 Tahun), dalam Let the Stones Speak, Desember 2025: “Ketika peneliti Stephen Compton memperlihatkan kepada saya gambar Lempengan 28 dari ruang takhta Sanherib di Niniwe, saya sangat takjub. Saat mengamati pemandangan pada relief tersebut, identitas kota yang digambarkan itu menjadi semakin jelas: Ini adalah Yerusalem! … Dia mungkin benar! pikir saya. Ini adalah karya seni tertua yang menggambarkan Yerusalem yang pernah ditemukan! Bukti-bukti pun segera bermunculan. Terdapat tiga jenis pohon buah-buahan — anggur, ara, dan delima — yang semuanya merupakan tanaman asli Israel dan Yehuda. Hal yang juga patut dicatat adalah, tidak seperti beberapa penggambaran pohon pada relief lain, pohon-pohon ini tidak ditebang, yang mengisyaratkan bahwa kota ini tidak ditaklukkan. Di atas pohon-pohon buah tersebut, terdapat tembok kota yang sangat besar, menara pertahanan, dan dua gerbang. Pada menara pertahanan itu tergambar parapet (dinding pelindung) dengan struktur corbel (penopang menonjol) bertingkat dua. Meskipun saat itu saya belum mengetahuinya, bentuk ini hampir identik dengan yang ada pada relief tembok Lakhis, yang mengisyaratkan bahwa ini adalah kota di daerah Yehuda. Di atas parapet berstruktur corbel tersebut terdapat deretan perisai, yang mengingatkan pada pemandangan yang dijelaskan dalam beberapa bagian Alkitab mulai dari zaman Raja Daud dan seterusnya. Di bagian lebih atas lempengan itu, terdapat deretan tembok dan menara kedua. Hal ini menarik. Apakah ini menunjukkan bahwa kota tersebut menempati dua bukit atau punggung bukit, persis seperti Yerusalem? Akhirnya, berdiri sendiri di menara tertinggi adalah sesosok figur tunggal. Dia adalah satu-satunya individu di seluruh kota itu. Dan dia memegang panji, yang mengisyaratkan status rajani. Jika Lempengan 28 menggambarkan peristiwa invasi Raja Sanherib ke Yehuda, dan… Jika kota yang digambarkan itu adalah Yerusalem, maka sosok raja yang tampak seorang diri itu pastilah Raja Hizkia! … Panel 28 [berada] di ruang takhta, pusat keagungan Sanherib. Sayangnya, ruang takhta Sanherib — beserta relief-reliefnya yang membentang lebih dari 100 meter (330 kaki) — dihancurkan oleh Islamic State pada tahun 2015–2016. … Untunglah, [Henry] Layard dan timnya mendokumentasikan ruang takhta Sanherib (serta sebagian besar Niniwe) dalam laporan-laporan terperinci, yang mencakup sejumlah gambar dan ilustrasi.

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Ignaz Philipp Semmelweis Melawan Arus Utama Sains

Sumber: www.wayoflife.org
Berikut ini adalah kutipan dari “When Science Errs: The Oft Times Lonely Stand for Truth” (Ketika Sains Keliru: Pendirian yang Sering Kali Sepi demi Kebenaran), ChristianAnswers.net:

Dalam kiprahnya di Rumah Sakit Umum Wina, Ignaz menyaksikan banyak korban demam nifas (setelah persalinan) yang sangat menular dan sering kali mematikan. Perlahan-lahan, ia mulai mencurigai adanya peningkatan risiko bagi siapa pun yang melakukan kontak dengan para penderita demam tersebut. Seiring berjalannya waktu, kecurigaannya berubah menjadi keyakinan yang teguh. Ia berpendapat bahwa para dokter di rumah sakit itu secara tidak sadar membawa penyakit tersebut dari ruang autopsi mayat dan menularkannya kepada para wanita di bangsal bersalin. Oleh karena itu, Ignaz memerintahkan semua dokter untuk mencuci tangan secara menyeluruh menggunakan larutan kapur klorin sebelum memeriksa pasien. Ini adalah langkah yang radikal dan kontroversial, yang berujung pada masalah besar bagi Ignaz, sang dokter muda tersebut. Perlu diingat bahwa Ignaz mengambil sikap ini bertahun-tahun sebelum Louis Pasteur, dengan mikroskopnya, mendokumentasikan secara ilmiah bahaya bakteri menular. Pada masa hidup Ignaz, sikap radikal semacam itu tidak dapat diterima oleh dunia medis. Akibatnya, tekanan hebat ditimpakan kepada pria muda itu. Ia diejek. Karakternya diserang. Namun, ia tetap teguh pada pendiriannya — benar-benar seorang diri — melawan seluruh aparatus ilmiah pada zamannya. Tidak ada seorang pun yang sependapat dengannya. Namun pada akhirnya, tekanan itu mengalahkannya. Ignaz mengalami gangguan jiwa dan meninggal dunia pada tanggal 1 Agustus 1865 dalam usia 47 tahun. Tak lama kemudian, Joseph Lister melakukan operasi antiseptik pertamanya, dan Ignaz — yang baru meninggal kurang dari setahun — pun mulai mendapatkan pembenaran penuh atas pandangannya.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Perempuan-Perempuan Lemah yang Sarat dengan Dosa

Sumber: www.wayoflife.org

“Sebab dari antara mereka terdapat orang-orang yang menyusup masuk ke rumah-rumah, dan menawan perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa, yang terseret oleh berbagai-bagai nafsu” (2 Timotius 3:6-7). Hal ini memiliki berbagai penerapan. Ayat ini berlaku bagi perempuan di dalam jemaat yang menjadi sasaran empuk para pemimpin laki-laki, bagi sekte-sekte yang dipimpin oleh perempuan (misalnya: Ann Lee, Mary Baker Eddy, Ellen G. White, Joanna Southcott), bagi denominasi Pentakosta dan lainnya yang menahbiskan perempuan, serta bagi denominasi Protestan modernis yang menarik minat perempuan-perempuan lemah, dan sebagainya.

Berikut ini adalah kutipan dari The World Council of Churches (2013), yang tersedia sebagai e-book gratis di www.wayofllife.org:

Pada konferensi *Re-imagining* di Minneapolis, Minnesota, tahun 1993, sekitar 2.000 perempuan yang ‘berupaya mengubah Kekristenan’ turut hadir. Denominasi yang menjadi sponsor dan peserta antara lain United Methodist Church, United Presbyterian Church, Evangelical Lutheran Church in America, United Church of Christ, United Church of Canada, Church of the Brethren, American Baptist Convention, Episkopal, dan Mennonit. Terdapat 234 peserta dari kalangan Katolik Roma.

Para pembicara meliputi Virginia Mollenkott, seorang lesbian yang secara terbuka mendukung aborsi; Elizabeth Bettenhausen, profesor di Harvard Divinity School; dan Jose Hobday, seorang biarawati Katolik Roma. Para hadirin mendengar para pembicara mengecam doktrin penebusan dosa melalui darah Kristus sebagai pengganti umat manusia (substitutionary blood atonement). Delores Williams dari Union Theological Seminary berkata, ‘Menurut saya, kita sama sekali tidak membutuhkan teori penebusan dosa. Saya berpendapat bahwa Yesus datang demi kehidupan dan untuk menunjukkan sesuatu tentang kehidupan kepada kita. Saya rasa kita tidak butuh orang-orang yang tergantung di kayu salib, darah yang menetes, dan hal-hal aneh semacam itu… kita hanya perlu mendengarkan Allah yang ada di dalam diri kita’ (AFA Journal, Feb. 1994).

Mereka menyapa sesosok dewi bernama ‘Sophia’ dengan doa ini: ‘Pembimbing kami, Sophia, kami adalah perempuan yang diciptakan menurut citra-Mu.’ Sue Seid-Martin dari University of St. Thomas School of Divinity di St. Paul, Minnesota, menyatakan bahwa Sophia ini adalah ‘bagian yang ditekankan dalam tradisi Alkitabiah, dan jelas merupakan sisi feminin dari jiwa manusia.’ Para hadirin diajarkan untuk berdoa kepada pohon demi mendapatkan ‘energi kehidupan.’ Mereka diajarkan bahwa ‘Alkitab pada dasarnya adalah buku terbuka’ yang pasal-pasal baru dapat ditambahkan melalui teologi feminis (AFA Journal, Feb. 1994). Chung Hyung Kyung dari Korea, seorang profesor di Ewha Women’s University—universitas khusus perempuan terbesar di dunia dengan 20.000 mahasiswa—berkata, ‘Perut saya adalah perut Buddhis, hati saya adalah hati Buddhis, otak kanan saya adalah otak Konfusianis, dan otak kiri saya adalah otak Kristen.’ Sekitar 100 ‘perempuan lesbian, biseksual, dan transeksual’ berkumpul di atas panggung dan diberi…” …tepuk tangan meriah sambil berdiri. Mereka ‘merayakan keajaiban menjadi seorang lesbian, yang terbuka akan identitasnya, sekaligus seorang Kristen.’

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Wanita | Leave a comment

Buku Baru tentang Josephus dan Yesus

Sumber: www.wayoflife.org

Buku Josephus and Jesus: New Evidence for the One Called Christ karya T.C. Schmidt diterbitkan pada tahun 2025. Schmidt menyajikan bukti kuat bahwa bagian tulisan Josephus yang mengisahkan tentang Yesus adalah otentik dan tidak ditambahkan atau diubah di kemudian hari oleh orang-orang Kristen, sebagaimana diklaim oleh sebagian kaum skeptis. Bagian tulisan Josephus dalam Antiquities — karya sejarahnya mengenai bangsa Yahudi (sekitar tahun 93 M) — yang dikenal sebagai Testimonium Flavianum, merupakan catatan tertua mengenai Yesus yang ditulis oleh seorang non-Kristen. Teks yang ditemukan dalam semua naskah tulisan Josephus ini berbunyi: “Dan pada masa itu hiduplah Yesus, seorang manusia yang bijak — jika memang pantas menyebutnya sebagai manusia — karena ia melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dan menjadi guru bagi orang-orang yang menerima kebenaran dengan sukacita. Ia memenangkan banyak pengikut, baik dari kalangan Yahudi maupun Yunani. Dialah Kristus. Dan ketika Pilatus menjatuhkan hukuman salib atas dirinya berdasarkan tuduhan para pemuka bangsa kami, mereka yang sejak awal mengasihinya tidak berhenti mengasihinya; sebab ia menampakkan diri kepada mereka dalam keadaan hidup kembali pada hari ketiga, sebagaimana telah dinubuatkan oleh para nabi ilahi mengenai hal itu dan ribuan perkara menakjubkan lainnya tentang dirinya. Hingga saat ini pun, kaum Kristen—yang dinamai menurut namanya—belumlah lenyap.” Buku Josephus and Jesus tersedia dalam format PDF gratis di situs web Oxford Academic. Kunjungi josephusandjesus.com.

Posted in Apologetika, Arkeologi | Leave a comment

Gembala Mengkloning Dirinya Sendiri dan Menggunakan AI untuk Menjawab Pertanyaan

Sumber: www.wayoflife.org
Berikut ini adalah kutipan dari “California Pastor,” Crosswalk, 4 September 2026:

Justin Lester, Gembala dari Friendship Baptist Church di Vallejo, California, telah mengkloning dirinya sendiri menggunakan AI agar para jemaat dapat berinteraksi dengannya saat ia sedang berhalangan. … Dengan menggunakan Delphi.ai untuk membuat versi avatar dirinya, siapa pun dapat menghubunginya kapan saja dan di mana saja. … Lester melatih model AI tersebut dengan menghubungkannya ke semua materi yang pernah ia tulis. ‘Saya menghubungkannya dengan YouTube, TikTok, Instagram, dan segala tulisan saya. Jadi, mencakup semuanya, mulai dari setiap khotbah yang pernah saya sampaikan hingga buku-buku; semua itu ada di dalamnya.’ … [S]istem ini memiliki mekanisme pengaman dan dibatasi pada topik-topik tertentu. Jika sistem mendeteksi adanya hal yang terlalu serius, sistem akan menyarankan pengguna untuk menghubungi sang gembala secara langsung.” Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan AI terhadap materi milik gembala tersebut, dan kita juga tidak tahu pengamanan apa yang telah diterapkan. Hal ini terdengar berbahaya, mengingat kita tahu bahwa AI tidak memiliki hikmat dalam menggunakan materi Alkitabiah. AI memang bermanfaat dalam berbagai hal, termasuk penerjemahan materi rohani dan Alkitab, namun ada pula bahaya besar yang menyertainya, sehingga diperlukan kewaspadaan, doa, dan pengawasan yang berkelanjutan. “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tesalonika 5:21). “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Petrus 5:8).

Posted in Teknologi | Leave a comment

Hutan Fosil Kanada

Sumber: www.CreationMoments.com, 24 Juli 2026:

Pulau Axel Heiberg di Kanada Utara merupakan daratan yang letaknya paling dekat dengan Kutub Utara. Saat ini, bentang alamnya benar-benar gersang, namun dahulu kala, hutan lebat yang terdiri dari pohon-pohon meta-sequoia berukuran besar pernah tumbuh di sana. Pada masa itu, iklimnya pastilah menyerupai iklim Florida saat ini. Tunggul-tunggul dari “pohon fosil” ini tidak mengalami mineralisasi dan wujudnya masih berupa kayu, yaitu selulosa. Pohon-pohon ini diklaim berusia 45 juta tahun. Para peneliti di Universitas Johns Hopkins mempelajari isotop hidrogen dan oksigen pada selulosa tersebut. Isotop-isotop ringan ini biasanya cepat hilang akibat penguapan dari kayu mati, namun yang mengejutkan, para peneliti menemukan kandungan isotop yang sangat tinggi. Hal ini berarti laju penguapannya sangat rendah. Dengan kata lain, pohon-pohon tersebut tidak hanya tumbuh di iklim yang lembap, tetapi kondisi iklim itu juga bertahan lama setelah pohon-pohon tersebut musnah. Selain itu, selulosa cepat terurai oleh aktivitas bakteri jika terpapar udara; hal ini menunjukkan bahwa pohon-pohon tersebut terkubur dengan cepat dan dalam, serta pada masa yang jauh lebih baru daripada 45 juta tahun yang lalu. Pihak Creation Moments kebetulan hadir saat sampel kayu ini digunakan untuk mengkalibrasi peralatan di sebuah laboratorium penanggalan Karbon-14 yang ternama. Karena kayu tersebut diyakini berusia 45 juta tahun, seharusnya kayu itu tidak mengandung Karbon-14 sama sekali; namun kenyataannya, kayu itu mengandung Karbon-14 dan hasil penanggalannya menunjukkan usia hanya 41 ribu tahun!”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Charles Spurgeon, Perbudakan, dan Wilayah Selatan AS di Masa Lampau

Sumber: www.wayoflife.org

Berikut ini adalah kutipan dari artikel “The Lion of Anacostia and the Prince of Preachers,” majalah World, 13 Agustus 2026:
Spurgeon tidak pernah mengunjungi Amerika Serikat, meskipun ada banyak undangan dan ia sempat mempertimbangkan perjalanan ke sana pada tahun 1859. Sikapnya yang vokal menentang perbudakan membuat kunjungan itu terlalu berbahaya. ‘Dari lubuk hati terdalam, saya membenci perbudakan… dan meskipun saya bersekutu dalam Perjamuan Tuhan dengan orang-orang dari berbagai keyakinan, namun dengan seorang pemilik budak, saya tidak memiliki persekutuan dalam bentuk apa pun,’ tulisnya. ‘Setiap kali ada pemilik budak yang menemui saya, saya menganggapnya sebagai kewajiban saya untuk menyatakan kebencian saya terhadap kejahatannya… sebagai pencuri manusia.’ Sikap Spurgeon ini mendapat perhatian dan penentangan. ‘Jika penulis yang bersikap seperti orang Farisi itu sampai menampakkan diri di wilayah ini, kami berharap seutas tali yang kuat akan segera melilit lehernya yang pandai berorasi itu,’ demikian seruan keras surat kabar The Southern Reporter and Daily Commercial Courier pada tahun 1860. Surat kabar The North Carolinian mencatat bahwa banyak orang ‘menginginkan kesempatan untuk melampiaskan kemarahan pada pengkhotbah munafik ini.’ The Weekly Raleigh Register menyatakan bahwa siapa pun yang menjual khotbah-khotbahnya [Spurgeon] harus ditangkap dan didakwa karena ‘menyebarkan publikasi yang memicu hasutan.’ Sebuah surat kabar Florida menuduhnya sebagai ‘orang Inggris yang banyak bicara, pemakan daging sapi, sombong, angkuh, merasa paling benar sendiri, dan bersikap seperti orang Farisi.’ Khotbah-khotbah Spurgeon dilarang dan dibakar. Beberapa surat kabar di wilayah Selatan bahkan menyerukan agar orang-orang ikut menyumbang dalam acara pembakaran massal karya-karya Spurgeon yang telah dijadwalkan. ‘Karakter Spurgeon dihancurkan (dipermalukan secara kejam) di seluruh wilayah Konfederasi,’ catat The Spurgeon Center di Midwestern Seminary. ‘Khotbah-khotbahnya, yang pada tahun 1862-1863 terjual satu juta eksemplar setiap tahunnya, dikecam keras. Buku-bukunya, yang terjual 1.000 eksemplar per menit di pameran dagang, dimusnahkan di depan umum. Api unggun pembakaran khotbah menerangi halaman penjara, perkebunan, dan toko buku di seluruh negara bagian Selatan.’”

Editor: Dalam hidup ini, jika kita mau berdiri untuk kebenaran, tidak mungkin semua orang suka dan menyenangi kita. Kita tidak perlu terlalu khawatir tentang itu. Yang perlu kita puaskan hanyalah Tuhan yang menjadi komandan kita.

Posted in General (Umum) | Leave a comment

Kasih Karunia versi Chuck Swindoll yang Tidak Alkitabiah

Oleh: Dr. David Cloud
Sumber: www.wayoflife.org

Sejak tahun 1990-an, kami telah memperingatkan bahwa Chuck Swindoll adalah salah satu bapak dari apa yang baru-baru ini disebut “liberalisme budaya.” Kasih karunia versi Swindoll adalah undangan bagi orang percaya untuk berpartisipasi dalam budaya pop yang jahat dengan cara yang secara umum tidak kritis. Doktrin “anugerah”-nya membuka pintu bagi musik rock sekuler, musik rock Kristen, berdansa, minum-minum, rok mini, bikini, bermesraan fisik dengan pacar, perzinahan, mode fashion unisex, pemakaian ganja, bahasa sumpah serapah, menonton film berperingkat R, permainan video okultisme yang penuh kekerasan, pornografi, media sosial tanpa filter, dll.

Filosofi “kebebasan” ini telah meresap ke seluruh evangelikalisme (gerakan Injli) sejak tahun 1950-an. Harold Ockenga, yang mengklaim telah menciptakan istilah “neo-evangelikalisme” (Injili Baru), mengatakan bahwa gerakan ini adalah “penolakan terhadap eklesiologi fundamentalisme dan teori sosialnya” (Ockenga, kata pengantar untuk The Battle for the Bible karya Harold Lindsell). Injili Baru menolak standar tradisional pemisahan dari dunia, dan hasilnya adalah budaya rock Kristen yang aneh.

Sejak tahun 1978, Richard Quebedeux mendokumentasikan perubahan dramatis yang terjadi dalam evangelikalisme (Injili) hanya tiga puluh tahun setelah serangan awal semangat “Newisme” (pembaharuannya). Ia mengamati bahwa “tekanan budaya yang lebih luas telah memberikan dampak mendalam pada gerakan evangelikal secara keseluruhan” ( The Worldly Evangelicals, hlm. 115). Ini adalah hasil langsung dari penolakan pemisahan. Dia berkata: “Dalam upaya membangun reputasi mereka di mata masyarakat luas, kaum evangelis semakin sulit dibedakan dari orang lain. Mobilitas sosial ke atas telah membuat hal-hal tabu pada masa kebangkitan rohani yang lama menjadi tidak berfungsi. … Koktail menjadi semakin sulit untuk ditolak. Kaum muda evangelis belajar berdansa dan secara terbuka ‘bergoyang’ mengikuti musik rock. … Dan majalah serta surat kabar evangelis mulai mengulas drama dan film. … Jajak pendapat Gallup benar dalam menyatakan bahwa orang Kristen yang lahir baru ‘percaya pada kode moral yang ketat.’ TETAPI KEKETATAN ITU TELAH BANYAK DIMODIFIKASI SELAMA BEBERAPA TAHUN TERAKHIR… PERCERAIAN DAN PERNIKAHAN KEMBALI menjadi lebih sering terjadi dan dapat diterima di kalangan evangelis dari segala usia, bahkan di beberapa gereja mereka yang lebih konservatif. … Beberapa wanita evangelis melakukan dan menyetujui ABORSI atas permintaan. Banyak evangelis muda kadang-kadang menggunakan KATA-KATA KASAR dalam ucapan dan tulisan mereka… Beberapa buku teknik seks evangelis baru-baru ini berasumsi bahwa pembacanya sesekali membaca dan menonton PORNOGRAFI, dan memang demikian. Akhirnya, pada tahun 1976 muncul sebuah organisasi persekutuan dan informasi untuk LESBIAN DAN PRIA GAY evangelis yang aktif dan simpatisan mereka. Mungkin persentase kaum gay dalam gerakan evangelis sama tingginya dengan di masyarakat luas.
Beberapa dari mereka (kaum gay yang ‘injili’) sekarang mulai terbuka, menyebarkan literatur yang terstruktur dengan baik, dan menuntut untuk diakui dan ditegaskan oleh komunitas evangelis secara luas. … Sangat signifikan bahwa kaum evangelis, bahkan yang lebih konservatif di antara mereka, telah MENERIMA MODE ROCK. Penerimaan ini, jelas menunjukkan babak selanjutnya dalam kematian penyangkalan diri dan penolakan dunia di antara mereka. … Ketika kaum muda bertobat dalam gerakan Yesus, banyak dari mereka tidak meninggalkan kebiasaan, praktik, dan sikap budaya mereka sebelumnya — MINUM, MEROKOK, DAN PAKAIAN SERTA BAHASA YANG KHAS. … Kaum evangelis muda minum, tetapi begitu juga kaum evangelis konservatif seperti Hal Lindsey dan John Warwick Montgomery (yang merupakan anggota International Wine and Food Society). … Tetapi BAHKAN GANJA, yang sekarang hampir legal di beberapa wilayah Amerika Serikat, tidak lagi dilarang di kalangan kaum evangelis muda seperti dulu. Beberapa dari mereka, terutama kaum intelektual, memang sesekali merokok…” (The Worldly Evangelicals , 1978, hlm. 14, 16, 17, 118, 119).

Continue reading →

Posted in New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Pertahanan Diri Tanaman

Sumber: www.creationmoments.com

Setiap hari, di seluruh penjuru bumi, tanaman melakukan perang kimia melawan serangga dan hewan yang hendak memangsanya. Ketika fenomena ini dijelaskan oleh para ilmuwan evolusionis, mereka biasanya berbicara seolah-olah tanaman adalah ahli kimia terampil yang mengembangkan kemampuan mereka sendiri. Sebagai contoh, daun pohon ek mengandung tanin. Tanin membentuk senyawa kompleks dengan protein sehingga, saat dimakan, nilai gizinya menjadi sangat rendah. Penjelasan evolusioner mengenai asal-usul mekanisme ini menggambarkan bagaimana pohon-pohon tersebut konon mengembangkan strategi pertahanan diri ini. Kisah-kisah semacam ini membuat orang bertanya-tanya bagaimana pohon ek bisa memiliki begitu banyak pengetahuan tentang pencernaan hewan dan ilmu kimia. Beberapa spesies tanaman milkweed dan dogbane menghasilkan zat pelemas otot yang sangat kuat dan bisa mematikan bagi manusia. Seseorang mungkin membayangkan, di masa lampau yang sangat jauh, tanaman milkweed yang mengenakan jas putih sedang bekerja di laboratorium kimia. Tanaman ‘dokter’ milkweed lainnya memberikan berbagai ramuan kepada manusia yang berada di dalam kandang untuk menguji reaksi mereka. Ketika seseorang mencoba menjelaskan hal ini tanpa melibatkan Sang Pencipta, gambaran yang muncul bisa jadi terdengar konyol. Alkitab memberikan jawaban yang jauh lebih masuk akal. Dalam Ayub 38 dan 39, Tuhan—Sang Pencipta—bertanya kepada Ayub mengenai berbagai aspek ciptaan. Melalui pertanyaan-pertanyaan-Nya, Dia menanyakan kepada Ayub tentang sumber pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki oleh makhluk hidup. Jawabannya, tentu saja, adalah bahwa Allah Sang Pencipta—dan bukan yang lain—yang merancang, membentuk, dan mengajar ciptaan-Nya. Jawaban-jawaban lain sama sekali tidak memuaskan.

Posted in Science and Bible | Leave a comment