Membela Pembunuh atas Dasar Evolusi

(Berita Mingguan GITS 19 Februari 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Pada tahun 1925, Clarence Darrow adalah pengacara utama yang membela John Scopes terhadap tuduhan bahwa dia melanggar hukum negara bagian Tennessee karena mengajar evolusi di sekolah umum. Pengadilan tersebut, yang dinamai “Scopes Monkey Trial” telah diatur sebagai suatu pertunjukan oleh American Civil Liberties Union (ACLU) dalam agenda mereka untuk menggeser Alkitab dari posisinya sebagai otoritas dalam masyarakat Amerika. Pengadilan itu menjadi salah satu pencapaian penting dalam proses “kerusuhan” manusia melawan Allah yang Mahakuasa dan hukumNya yang kudus (Mazmur 2:1-3). “Ide mengenai Scopes Monkey Trial pada tahun 1925 di Dayton, Tennesse, sepertinya sudah dibuahi di New York oleh para pejabat American Civil Liberties Union (ACLU). Kubu pembela menyewa pengacara kriminal terkenal Clarence Seward Darrow…Clarence Darrow adalah seorang yang kotor yang rela menggunakan taktik keji dan murahan apapun untuk membela yang bersalah (dia dua kali diadili atas tuduhan penyogokan dan pelanggaran hukum pengacara di Kalifornia). Tetapi Darrow bukan hanya dipilih karena dia seorang pengacara yang pintar dan manipulatif. Dia adalah seorang Darwinis sejati. Pertemuan mingguan Klub Evolusi adalah di rumahnya di Chicago. Di antara toto-foto pahlawan dia yang tergantung di dinding-dinding kantornya adalah Karl Marx (Hal Higdon, The Crime of the Century). Satu tahun sebelum Pengadilan Scopes, Darrow membela dua orang remaja kaya pembunuh, Nathan Leopold dan Richard Loeb. Keduanya telah mengaku membunuh Bobby Franks yang berusia 14 tahun dengan alasan “untuk mendapatkan semacam kesenangan murni.” Dengan alasan mau melakukan kejahatan yang sempurna, kedua orang muda tersebut (berusia 19 dan 18 tahun waktu itu) mengatakan, “Itu hanyalah semacam eksperimen. Mudah bagi kami untuk membenarkan tindakan tersebut, sama seperti seorang entomologis (ahli serangga) menusukkan jarum pada seekor kumbang” (Higdon). Leopold dan Loeb adalah Darwinis yang atheistik, dipengaruhi kuat oleh filsuf Frederick Nietzsche yang terkenal dengan filosofi “Allah sudah mati” dan oleh murid Jerman Darwin yang paling terkenal, Ernst Haeckel. Leopold mengatakan, “Tidak ada perbedaan antara kematian manusia dan kematian seekor anjing” (Higdon). Walaupun kedua orang muda tersebut tersenyum dan tertawa-tawa sepanjang pengadilan dan sama sekali tidak menunjukkan penyesalan atas kejahatan mereka yang kejam, Darrow menyelamatkan mereka dari hukuman mati dengan filosofi takdir Darwin dan seleksi alam. Dalam orasinya yang terakhir sesaat sebelum pembacaan hukuman, Darrow menyerang “teori kuno” bahwa manusia memiliki kehendak bebas dan bertanggung jawab atas tindakan-tindakannya, yang dia sebut sebagai suatu pandangan yang “barbar dan kejam.” Ia menyerukan untuk menggantinya dengan pandangan yang baru dan ilmiah bahwa “manusia adalah mesin yang telah ditentukan sepenuhnya oleh hereditas dan lingkungannya” (John West, Darwin Day in America, hal. 46). Darrow bahkan menggambarkan Leopold dan Loeb sebagai korban dalam tragedi tersebut, karena mereka membunuh Bobby hanya karena “mereka telah dijadikan seperti itu.” Darrow bahkan membuat pernyataan bahwa kesalahan tidak pernah bisa dilekatkan kepada tindakan manusia, karena “setiap pengaruh, sadar atau tidak sadar, beraksi dan bereaksi dalam setiap organisme hidup.” Jika evolusi sesuai Darwin adalah benar, mana Darrow benar dalam kesimpulannya mengenai filosofi takdir ini, dan Loepold dan Loeb benar ketika mereka membandingkan pembunuhan seorang manusia dengan penusukan seekor kumbang dengan jarum. Jika manusia tidak lebih dari bakteria yang berevolusi, tidak mungkin ada arti yang lebih untuk hidup ini atau suatu dasar absolut bagi moralitas atau untuk menyatakan kesalahan dan memberi hukuman. Apakah seekor harimau bersalah karena membunuh seekor rusa? Apakah rayap harus bertanggung jawab secara moral jika mereka melemahkan fondasi sebuah rumah, lalu rumah itu roboh dan orang-orang di dalamnya mati?
EDITOR: Takdir versi Darwin adalah bahwa tindakan manusia ditentukan oleh gen-nya dan pengaruh-pengaruh dalam lingkungannya. Argumen Darrow adalah bahwa Leopold dan Loeb, karena gen mereka dan cara mereka dibesarkan, mereka sudah “ditakdirkan” untuk membunuh Bobby, dan tidak dapat dipersalahkan. Semua orang Kristen akan menolak takdir jenis ini. Tetapi banyak orang tidak sadar bahwa ada doktrin takdir lain yang sama berbahaya di lingkungan Kristiani. Takdir versi Kalvinis mengatakan bahwa semua tindakan manusia sudah ditentukan oleh Allah sebelumnya. Adam jatuh dalam dosa-pun sudah ditentukan oleh Allah. Doktrin ini sebenarnya sama berbahaya-nya dengan konsep Darrow, bahkan lebih berbahaya lagi karena menyerang karakter Allah. Secara tidak logis, banyak Kalvinis percaya Allah menentukan segala sesuatu, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas apa yang telah ditentukan Allah itu. Sebaliknya, Alkitab mengajarkan bahwa Allah tidak pernah menentukan seseorang untuk melakukan dosa, bahwa Allah memberi manusia kehendak bebas, dan bahwa manusia harus bertanggung jawab atas tindakannya.

This entry was posted in General (Umum), Science and Bible and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *