Ironi Seminar Daniel Wallace Dan Sola Scriptura

Pada tanggal 12 Maret 2011, Daniel Wallace akan mengunjungi Jakarta atas undangan Sola Scriptura untuk memberikan seminar yang bertema: “Why Trust The Bible?” (http://solascripturaonline.org/). Dalam promosi seminar tersebut, pertanyan berikut dilontarkan untuk memancing minat umum: “Seberapa dapat dipercayakah teks-teks yang mendasari Alkitab kita, terutama Perjanjian Baru?” Ironi dari semua ini adalah bahwa Wallace sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat untuk menjawab pertanyaan ini. Saya mengatakan ini bukan karena meragukan kemampuan Wallace, yang adalah seorang ahli bahasa Yunani, tetapi karena dia memiliki fondasi Bibliologi yang salah. Wallace adalah editor dari www.bible.org, dan posisi Bibliologinya sangat jelas dalam artikel-artikel di sana. Dalam hal teks Yunani Perjanjian Baru, dia memegang posisi Critical Text CT), dan menyerang posisi Textus Receptus (TR) maupun Majority Text (http://bible.org/article/majority-text-and-original-text-are-they-identical). Posisi Critical Text dikembangkan oleh Westcott dan Hort pada abad 19, dan adalah usaha Iblis untuk menggoyahkan Alkitab Perjanjian Baru yang sejak abad 16 (1516) sudah memakai Textus Receptus (Textus Receptus sudah dipakai sejak awal, tetapi tahun 1516 adalah pertama kali Perjanjian Baru dicetak secara lengkap). Textus Receptus didukung oleh mayoritas manuskrip, dan untuk menggoyahkan posisi ini, Westcott dan Hort membuat teori-teori mereka, yang menjunjung tinggi dua manuskrip saja (dengan kode B dan Aleph). Dua manuskrip ini sangat korup tetapi dianggap sebagai yang paling baik oleh Westcott dan Hort, dan juga Wallace rupanya.

Salah satu contoh (dari sekian banyak) kebobrokan posisi Critical Text adalah dalam Injil Markus, di mana Critical Text menghilangkan 12 ayat terakhir Markus. Jadi, dalam Critical Text, Injil Markus berakhir di 16:8, dan banyak Alkitab terjemahan modern juga menghilangkan atau mempertanyakan bagian ini. Sebagai contoh, NIV memberi catatan kaki untuk perikop Markus 16:9-20, yang berbunyi “The earliest manuscripts and some other ancient witnesses do not have verses 9–20.” (Manuskrip-manuskrip paling awal dan beberapa saksi kuno lain tidak memiliki ayat 9-20).

Sebenarnya, posisi CT adalah posisi yang sangat menggelikan. Bahkan para pendukung CT sendiri, misalnya Kurt dan Barbara Aland, mengakui bahwa Markus 16:9-20 terdapat dalam 99% manuskrip (The Text of the New Testament, hal 292). Dari ribuan manuskrip Yunani yang kita miliki saat ini hanya ada tiga yang berhenti di Markus 16:8, yaitu, B (Vaticanus), Aleph (Sinaiticus), dan minisculus 304. Tiga versus ribuan manuskrip yang mendukung Markus 16:9-20. Argumen mereka adalah bahwa walau hanya didukung oleh 3 manuskrip, tetapi B dan Aleph adalah yang terbaik dan tertua (Abad keempat Masehi). Kedua pernyataan itu sangat salah. B dan Aleph adalah 2 manuskrip yang sangat korup, yang sering menyerang keilahian Kristus. Mereka juga bukan yang paling tua, dan selain itu, tua atau muda bukanlah patokan manuskrip yang benar.

Markus 16:9-20, selain didukung oleh ribuan manuskrip Yunani, juga terdapat dalam banyak sekali manuskrip terjemahan yang sebagiannya jauh lebih tua daripada B dan Aleph, antara lain Old Latin, Syriac, Gothic, Vulgate, Armenian, dsb. Lebih jauh lagi, ayat-ayat dalam Markus 16:9-20 dikutip oleh banyak tokoh-tokoh awal kekristenan, seperti Papias, Justin Martyr, Tertullian, Irenaeus, Hippolytus, Eusebius, Marinus, Ambrose, Chrysostom dan Jerome. Banyak di antara mereka hidup di abad kedua Masehi.

Bagaimanakah Wallace yang mendukung CT dapat mempertahankan bahwa Alkitab dapat dipercaya, jika mereka bersikukuh bahwa Markus 16:9-20 adalah palsu? Wallace percaya bahwa Injil Markus berakhir dengan kata-kata berikut: “Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut” (Markus 16:8). BENARKAH INJIL MARKUS BERAKHIR DENGAN PARA MURID KETAKUTAN? Injil apa itu? Kabar baik apakah yang tidak menyertakan kebangkitan Yesus Kristus? Akal sehat tidak dapat menerima bahwa Markus menghentikan Injilnya dengan kata-kata bahwa para murid ketakutan, dan sama sekali tidak tidak menjelaskan kebangkitan Yesus. Hanya seorang yang tidak percaya dan sesat yang akan melakukan itu, dan saya percaya itulah yang terjadi, seorang penyesat mencoba menghilangkan Markus 16:9-20 dari manuskrip miliknya sendiri. Manuskrip ini lalu berlanjut ke B dan Aleph, tetapi mayoritas orang percaya abad-abad pertama tahu bahwa itu salah, dan mereka tetap memelihara Markus 16:9-20 yang tercermin dari ribuan manuskrip Yunani dan terjemahan yang mengandungnya.

Wallace dan para pendukung CT lainnya akan mengatakan bahwa tidak ada doktrin yang dipengaruhi dengan hilang atau adanya Markus 16:9-20. Tetapi itu adalah ketidakbenaran! Yang jelas doktrin Bibliologi sudah dipengaruhi, karena Tuhan berkata bahwa FirmanNya tidak akan hilang satu iota atau satu titikpun, jangankan satu perikop penuh (Mat. 5:18). Markus 16:9 memberitahu kita bahwa Maria Magdalena adalah saksi pertama kebangkitan Yesus (informasi ini tidak ada di tempat lain). Markus 16:15 memberi penekanan yang kuat pada universalitas Injil (penekanan ini paling kuat dalam ayat ini). Markus 16:16 mengajarkan bahwa baptisan mengikuti percaya (bukan baptis bayi, info ini dihilangkan CT, karena CT juga menghilangkan Kisah Para Rasul 8:37). Pengajaran dalam Markus 16:17-18 hanya terdapat dalam Injil ini, jadi mana mungkin tidak ada doktrin yang hilang? Markus 16:19 adalah satu-satunya perikop yang memberitahu bahwa Yesus terangkat ke sebelah kanan Allah. Ada perikop lain yang mengajarkan pengangkatan Yesus, tetapi perikop lain itu tidak memberitahu Yesus terangkat ke sebelah kanan Allah. Markus 16:20 sangat penting bagi orang Kristen untuk mengerti bahwa mujizat-mujizat yang dilakukan para Rasul di abad pertama adalah untuk meneguhkan Firman, yaitu mendukung proses kanonisasi! Siapa bilang tidak ada doktrin yang dipengaruhi oleh Markus 16:9-20?

Saya senang kalau Wallace masih mempercayai Alkitab, dan saya memang berharap demikian. Tetapi sebenarnya posisinya yang mendukung CT sangatlah tidak konsisten dengan iman yang teguh terhadap janji Tuhan akan pemeliharaan FirmanNya. Sayangnya, karena dia seorang ahli Yunani yang brilian, dia akan banyak mempengaruhi orang lain untuk memegang posisi CT. Banyak orang yang akan diperlemah imannya ketika mereka percaya CT. Betapa pintar pun seseorang, tanpa hikmat dari Tuhan, ia tidak dapat mengerti kebenaran. (Jika ada yang ingin memastikan bahwa posisi Wallace perihal Markus 16:9-20 sama seperti yang saya tulis di atas, http://bible.org/article/irony-end-textual-and-literary-analysis-mark-168 ditulis oleh Kelly Iverson, murid Wallace yang dia rekomendasikan).

This entry was posted in Alkitab. Bookmark the permalink.

2 Responses to Ironi Seminar Daniel Wallace Dan Sola Scriptura

  1. DR Steve: Saya mengatakan ini bukan karena meragukan kemampuan Wallace, yang adalah seorang ahli bahasa Yunani, tetapi karena dia memiliki fondasi Bibliologi yang salah. Wallace adalah editor dari http://www.bible.org, dan posisi Bibliologinya sangat jelas dalam artikel-artikel di sana. Dalam hal teks Yunani Perjanjian Baru, dia memegang posisi Critical Text CT), dan menyerang posisi Textus Receptus (TR) maupun Majority Text
    ———
    Adalah lebih baik ulasan ini dituliskan setelah Anda bertemu dan berdiskusi dengan beliau baik saat melayankan seminar di Jakarta (Tgl 12 Maret) atau saat berada di Malang (Tg 14-15 Maret) serta di Surabaya (Tgl 17 Maret).

    Saya melihat sikap Wallace hanya berusaha proporsional dan tidak terjebak pada pra paham teologis yang tidak sehat dalam memberikan penilaian terhadap keabsahan sumber-sumber Textus Receptus yang berasal dari Byzantine Text maupun edisi terjemahan modern yang bersumber dari Alexandrian Text.

    Kutipan di bawah ini dapat memberikan semacam peta jalan:
    Inspiration, Preservation, and New Testament Textual Criticism
    In sum, there is no valid doctrinal argument for either the Textus Receptus or the majority text. A theological a priori has no place in textual criticism. That is not to say that the majority text is to be rejected outright. There may, in fact, be good arguments for the majority text which are not theologically motivated. But until TR/MT advocates make converts of those who do not share with them their peculiar views of preservation and inspiration, their theory must remain highly suspect.
    http://bible.org/article/inspiration-preservation-and-new-testament-textual-criticism
    Westcott & Hort vs. Textus Receptus: Which is Superior?
    What shall we say then? Which text shall we choose as superior? We shall choose neither the Westcott-Hort text (or its modern kinsmen) nor the textus receptus (or the majority text) as our standard text, our text of last appeal. All these printed texts are compiled or edited texts, formed on the basis of the informed (or not-so-well-informed) opinions of fallible editors. Neither Erasmus nor Westcott and Hort (nor, need we say, any other text editor or group of editors) is omniscient or perfect in reasoning and judgment. Therefore, we refuse to be enslaved to the textual criticism opinions of either Erasmus or Westcott and Hort or for that matter any other scholars, whether Nestle, Aland, Metzger, Burgon, Hodges and Farstad, or anyone else. Rather, it is better to evaluate all variants in the text of the Greek New Testament on a reading by reading basis, that is, in those places where there are divergences in the manuscripts and between printed texts, the evidence for and against each reading should be thoroughly and carefully examined and weighed, and the arguments of the various schools of thought considered, and only then a judgment made.

    http://www.bible-researcher.com/kutilek1.html

    Demikian yang bisa saya sampaikan. Tuhan memberkati

    Teguh Hindarto

    APAKAH PENEMUAN INJIL-INJIL NON KANONIK
    MENGUBAH PERSEPSI KRISTEN TENTANG YESUS?
    http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/apakah-penemuan-injil-injil-non-kanonik.html

  2. Dr. Steven says:

    Sdr. Hindarto,

    Terima kasih untuk commentnya. Tetapi ada beberapa poin:
    1. Saya tidak akan bertemu dengan Wallace, karena saya saat ini sedang di Amerika.
    2. Saya tidak perlu bertemu dengan dia untuk mengetahui posisi dia. Seminar yang akan dia adakan di Indonesia bukanlah untuk mengungkapkan suatu terobosan baru dalam Textual Criticism. Posisinya jelas tertuang dalam artikel-artikel dan buku-bukunya (yang saya miliki).
    3. Saya sudah menghabiskan banyak sekali waktu mempelajari topik ini. Saya telah membaca lusinan buku mengenai topik ini. Waktu yang telah saya investasikan jauh lebih banyak dari seminar sehari dua hari.
    4. Saya sudah bisa menebak jawaban dia kalau saya presentasikan hal ini kepadanya. Mirip dengan apa yang anda kutipkan itu.
    5. Wallace menunjukkan inti dari sikap dia dengan kutipan ini: “A theological a priori has no place in textual criticism.”
    Ini letak kesalahannya. Seseorang tidak mungkin datang tanpa “theological priori.”
    Entah seseorang mendekati textual criticism dengan percaya Alkitab itu diinspirasikan, atau dia datang dengan tidak percaya Alkitab itu diinspirasikan.
    Critical Text adalah hasil dari rasionalisme, yaitu mendekati Alkitab tanpa percaya Alkitab itu diinspirasikan. Mereka mendekati textual criticism dengan asumsi bahwa Alkitab adalah kitab biasa. Walaupun orang-orang seperti Wallace mencoba untuk “menjauh” dari Westcott dan Hort, tetapi textual criticism mereka mengambil dari sumur yang sama. Dan akhirnya toh mereka memakai teks yang berdasarkan CT.

    Kalau seseorang percaya Alkitab diinspirasikan, ia akan percaya apa yang Alkitab sendiri katakan tentang preservasi dirinya.
    Ada banyak ayat yang mengajarkan preservasi Alkitab, misalnya yang telah saya kutip (Matius 5:18), yang memprediksikan bahwa tidak ada satu titik atau iota pun dari Firman Tuhan yang akan hilang. Markus 16 hanyalah satu kasus yang memperlihatkan bias theologi dari para textual critic umumnya.

    Pertanyaannya adalah: apakah kita memiliki seluruh Firman Tuhan hari ini?
    Menurut Wallace belum, karena kita masih dalam proses membandingkan setiap textual variant untuk memastikan yang mana yang benar-benar Firman Tuhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *