(Berita Mingguan GITS 5Januari 2013, sumber: www.wayoflife.org)
Para penganut Zoroastrian dalam komunitas Parsi di Mumbai (dulu Bombai), India, sedang bersiap-siap membawa kembali burung-burung bangkai untuk menyantap orang-orang mereka yang meninggal. Kebiasaan kuno mereka adalah menolak baik itu penguburan maupun kremasi, melainkan mereka meletakkan orang-orang mati mereka di luar untuk dimakan oleh burung-burung bangkai.
Burung-burung bangkai hilang 15 tahun lalu karena kombinasi berbagai faktor, dan setelah negosiasi selama enam tahun, pemerintah telah setuju untuk membiayai restorasi burung-burung itu dengan biaya $5 juta. Di masa lalu, India memiliki sebanyak 400 juta burung bangkai, dan mayat-mayat dengan cepat dikonsumsi, tetapi selama dekade-dekade belakangan mereka menghilang karena penggunaan obat sakit diklofenak yang menyebabkan gagal ginjal pada burung dan sebab-sebab lain. Kaum Parsi memiliki tanah perlindungan sebesar 22 hektar di tengah Mumbai, tempat mereka mengoperasikan tiga Menara Keheningan untuk melenyapkan mayat-mayat, dengan bagian yang berbeda untuk laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Pengurusan mayat adalah suatu isu rohani dan agamawi, walaupun dunia sekuler Barat tidak lagi menganggapnya demikian.
Alkitab menyuruh kita menguburkan orang-orang mati dan memberikan contoh penguburan dari Abraham hingga Yesus, karena Alkitab mengajarkan kebangkitan tubuh. Tubuh “ditanam” seperti suatu benih dengan iman bahwa Kristus akan membangkitkan individu itu dari antara orang mati (1 Korintus 15). Orang-orang Hindu mengkremasi tubuh karena mereka tidak percaya kebangkitan; mereka percaya reinkarnasi dan transmigrasi jiwa dari satu tubuh ke tubuh lainnya.