Kesetiaan Berjemaat

(Berita Mingguan GITS 20Juli2013, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini diadaptasi dari “Faithfulness in God’s House” oleh Gembala Terry Coomer, www.fortheloveofthefamily.com – “Sudah pasti, terkadang akan ada situasi darurat yang menyebabkan seseorang tidak menghadiri acara berjemaat, tetapi saya telah menemukan bahwa orang-orang yang longgar dalam hal kehadirannya pada hari Minggu selalu memiliki isu-isu rohani dan biasanya keluarganya dan anak-anaknya yang terkena dampak. (Mereka dipimpin oleh emosi, bukan dipimpin Alkitab). Bertahun-tahun lalu, ada seseorang di gereja kami yang bekerja di suatu perusahaan mobil, yang membayarnya dua kali lipat jika ia bekerja pada hari Minggu. Dia seringkali mengambil lembur hari Minggu tersebut untuk mendapatkan uang.

Ia memiliki dua anak yang tumbuh besar kacau sekali dan ia menghabiskan uang yang banyak sekali untuk mengeluarkan mereka dari berbagai masalah. Pada akhir hidupnya, karena menderita suatu penyakit, dia duduk di kursi roda. Dia memberitahu saya, “Pak Gembala, saya kini merasa seharusnya saya tidak pernah melakukan itu, bekerja pada hari Minggu; saya kehilangan anak-anak saya dan lihatlah hidup mereka!” Enam bulan terakhir hidupnya, dia duduk di kursi roda itu, memandang keluar dari jendela, sambil menangisi keluarganya. Semua anak-anaknya hanya tertarik tentang berapa banyak uang yang akan mereka dapatkan ketika ayah mereka meninggal. Dia telah membesarkan anak-anak yang egois. Di masa lalu saya adalah seorang penerbit suatu surat kabar, seorang direktur di perusahaan kami, dan saya memiliki beberapa orang yang bekerja bagi saya. Saya memastikan bahwa karyawan-karyawan saya mengerti kami tidak bekerja pada hari Minggu. Seorang teman gembala pernah memberitahu saya, “Ada orang-orang lain yang bisa melakukan tugas itu, dan Tuhan bisa menyediakan pekerjaan bagimu yang tidak mengharuskan engkau tidak berjemaat.” Saya setuju. Ketika saya diselamatkan, saya bermain bisbol secara profesional bagi organisasi San Francisco Giants. Saya dulunya seorang pelempar bola (pitcher), tetapi saya tahu saya tidak bisa meneruskan hal tesebut karena mereka main bisbol pada hari Minggu dan Alkitab memerintahkan agar saya berjemaat.

Saya tahu banyak orang dalam dunia yang berorientasi sport ini tidak ingin anak-anaknya ketinggalan aktivitas-aktivitas seperti itu. Tidak setia berjemaat demi bermain sport memperlihatkan kurangnya pengertian rohani dan akan berakibat kehilangan hati anak tersebut. …Ketika olahraga menjadi ilah, kehancuran rohani akan terjadi. …Karena orang lain membuat keputusan yang buruk, bukan berarti saya harus ikut. Saya seharusnya ingin anak-anak saya tumbuh besar dan berjalan dengan Tuhan, tetapi ini tidak akan terjadi jika ada dosa yang disengaja dalam hidup saya. Allah memberkati kesetiaan; dia tidak memberkati kemalasan. “Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai” (1 Kor. 4:2).

This entry was posted in Gereja, Renungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *