Dua Santo Mistik Yang Baru

(Berita Mingguan GITS 3Mei2014, sumber: www.wayoflife.org)

Paus Yohanes Paulus II dan Paus Yohanes XXIII adalah tambahan terbaru kepada kesantoan Roma Katolik yang penuh mistikisme. Vatican Information Service melaporkan bahwa setengah juta orang berbondong-bondong ke St. Peter’s Square dan daerah sekitarnya untuk menyaksikan seremoni kanonisasi tersebut pada pagi tanggal 27 April. Para delegasi berasal dari lebih dari 100 negara. Ada 20 kepala negara dan banyak tokoh dunia politik dan kebudayaan, termasuk raja dan ratu Spanyol, raja dan ratu Belgium, presiden Uni Eropa, dan presiden Komisi Eropa. Himne-himne yang khusus digubah dan dinyanyikan bagi kedua paus tersebut. Paus Fransiskus membuat pengumuman berikut: “Kami mendeklarasikan dan menyatakan Diberkati Yohanes XXIII dan Yohanes Paulus II menjadi santo-santo, mendekritkan bahwa mereka harus dihormati sebagai demikian oleh seluruh Gereja.” Yohanes Paulus II dimasukkan ke dalam jalur cepat menjadi santo karena popularitas dia yang tinggi dan perannya dalam meningkatkan popularitas Roma Katolik di generasi ini. Kedua paus tersebut memiliki peran besar mempromosikan ekumenisme akhir zaman. Yohanes XXIII adalah paus yang mengadakan Konsili Vatikan II pada tahun 1960an, yang membuka pintu bagi hubungan ekumenisme antara Roma dan para Protestan dan Baptis, dan mempersiapkan terbentuknya “gereja” esa-sedunia yang sesat yang digambarkan dalam Wahyu 17. Kedua paus sangat memuja Maria. Terukir pada peti mati Yohanes Paulus II yang terbuat dari kayu, yang disaksikan dalam apa yang disebut “penguburan terbesar sedunia,” adalah sebuah huruf M besar yang adalah singkatan untuk “Maria” (The Evening Standard, London, 8 Apr. 2005). Ketika terpilih sebagai paus tahun 1978, ia mendedikasikan kepausannya kepada Maria, dan membuat kata-kata latin “Totus Tuus,” yang berarti “Total Milikmu” (mengacu kepada Maria) mejadi motonya (“John Paul II’s Devotion to Mary,” Inside the Vatican, special insert, Mei 1996). Dia juga mengenyamkan kata-kata hujat penyembahan kepada Maria ini pada jubah-jubah kepausannya. Dalam otobiografinya Crossing the Threshold of Faith, yang terjual empat juta salinan pada tahun pertama saja, ia mengatakan: “Selama Perang Dunia Kedua, sementara saya bekerja sebagai seorang buruh pabrik, saya menjadi tertarik kepada penyembahan Maria. …Maria adalah Hawa yang baru, ditaruh Allah dalam hubungan dengan Kristus, Adam yang baru. …Bunda Allah ikut berperan, dalam cara yang unik, Kebangkitan dan Kemuliaan Anaknya sendiri….” Alkitab membantah kesesatan ini dengan kata-kata yang paling jelas. “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Tim. 2:5). “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung” (Yes. 42:8). 

This entry was posted in Katolik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *