Gaya Musik Kontemporer Akan Selalu Memangsa Musik Gereja “Tradisional”

(Berita Mingguan GITS 10 Oktober 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini adalah kutipan dari buku Why I Left the Contemporary Christian Music Movement oleh Dan Lucarini, 2002. Berbicara mengenai seseorang yang pernah berada di dalam gerakan tersebut, sang penulis [Dan Lucarini] mengatakan bahwa dulu dia mempertahankan CCM (Contemporary Christian Music) terutama karena dia mencintai musik rock. Dalam bab 17, Lucarini menggambarkan perannya dalam menggerakkan dua gereja dari posisi musik “tradisional” ke kontemporer. Hal ini dilakukan setahap demi setahap, mulai dengan soft-rock. “Orang-orang tradisional pada awalnya diyakinkan oleh kelompok Kontemporer bahwa dua gaya musik ini bisa berjalan berdampingan secara damai. Pada kenyataannya, apa yang terjadi seiring dengan waktu adalah gereja akan terus meluncur turun pada lereng yang licin, beralih dari semua musik tradisional, ke gaya kontemporer yang paling baru dan paling ‘menantang’” (Lucarini, hal. 119). “Dengan menggunakan kebaktian campuran [mencampur dua gaya musik], kami menciptakan dua set musisi dengan keahlian yang berbeda. Kini dimulai kompetisi untuk memenangkan hati jemaat: pertarungan antar band, kira-kira begitulah. … Kaum kontemporer selalu menang melawan kaum tradisional, karena musik mereka mengobarkan keinginan dosa daging kita. Ditambah lagi jika para pemimpin gereja menyanjung musik kontemporer (CCM), dan banyak orang percaya yang akan dengan senang menukarkan musik yang lama dengan yang baru. … kebaktian gabungan musik ini bukanlah solusi jangka panjang … Sebaliknya, ini hanya suatu fase transisi untuk secara gradual memindahkan suatu kebaktian gereja dari memakai semua lagu tradisional ke memakai semua lagu kontemporer. … bahkan memisahkan menjadi dua kebaktian berbeda [bagi gereja-gereja yang mencoba untuk membuat dua kebaktian, satu dengan musik tradisional, satu dengan musik kontemporer] tidak akan bertahan lama. Segera perbedaan akan mengabur, dan pengaburan ini selalu condong ke arah kontemporer” (Lucarini, hal. 122, 123).

This entry was posted in musik. Bookmark the permalink.

8 Responses to Gaya Musik Kontemporer Akan Selalu Memangsa Musik Gereja “Tradisional”

  1. Oka says:

    jadi kalau begitu memang lebih baik untuk memakai musik tradisional karna musik tersebut netral.
    saya ingin bertanya Dr Steven bagaimana dengan pengunaan musik pop yang masuk ke dalam gereja dilihat dari sifat yang menepel dari karakter musik tsb?? banyak jemaat dibawa kedalam suatu rasa yang begitu mendalam apa itu dapat dikatakan salah?? dalam artian rasa bersyukur kepada Tuhan. Bukankah itu baik pak?

  2. Dr. Steven says:

    Musik tradisional yang belum terkontaminasi oleh filosofi rock and roll memang mayoritas bisa dipakai.
    Mengenai musik pop, kita tidak pakai untuk memuji Tuhan, karena:
    1. Musik Pop diciptakan untuk entertainment manusia, tujuannya adalah human-centric
    2. Musik Pop memang bisa membangkitkan perasaan mendalam, tetapi perasaan mendalam ini bersifat romantis, tidak cocok untuk Tuhan. Banyak orang suka dengan perasaan yang ditimbulkan oleh lagu-lagu pop, karena manusia pada dasarnya suka dengan perasaan “fall-in-love” tersebut. Kasih kepada Tuhan tentu tidak sama dengan cinta romantis suami istri.
    3. Musik Pop sering juga memakai teknik back-beat yang merupakan bagian dari rock-n-roll, dan membawa pesan percabulan dan pemberontakan.

  3. Oka says:

    Baik Dr Steven saya setuju dengan argumen bapak.
    Bagaimana mengenai Daud yang memuji Tuhan dengan menggunakan rebana pak?? Bahkan dia sampai telanjang. Apakah umat Israel dulu memuji Tuhan dengan menyanyikan himne pak??

  4. Dr. Steven says:

    Memuji Tuhan dengan rebana boleh saja. Masalahnya bukan pada alat musiknya, tetapi pada cara penggunaan alat musik.

    Boleh tidak memakai drum? Boleh, asal drum dipakai tanpa back-beat, seperti pada orkestra / marching band.
    Kalau drum dipakai dengan gaya rock ‘n roll, ya itu salah.

    Boleh tidak pakai piano? Boleh, asal tidak memainkan back-beat.
    Piano bisa dipakai untuk nge-jazz, nge-country, dll. Mungkin kalau pernah lihat film-film koboi western, di salon-salon, piano bisa dipakai untuk musik salon yang sangat duniawi tentunya.

    Daud tidak telanjang. Baca lagi ayatnya! 2 Sam. 6:14 “Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.”
    Yang bilang Daud “telanjang” adalah Mikhal, istrinya (2 Sam. 6:20), yang berkata bahwa Daud “menelanjangi” dirinya, maksud Mikhal adalah Daud melepas jubah rajanya, dan bergaya seperti rakyat biasa!
    Sebenarnya Daud pakai baju efod.

    Tuhan Yesus menyanyikan Himne. Mat. 26:30, kata “menyanyikan nyanyian” dari kata Yunani Humnesantes yang adalah akar kata himne.

  5. Adi Putra says:

    Pak, mau tanya, apa bedanya “Hymn” dan “Spiritual Song” di Kolose 3:16 dan Efesus 5:19 ?

  6. Dr. Steven says:

    Keduanya mirip, yang ditekankan bukan perbedaannya, tetapi beberapa istilah yang mengacu kepada memuji Tuhan secara rohani dan benar.

  7. Asyer Bulan says:

    Syalom Pak.
    Pak minta referensi apa judul buku yang khusus mengupas tentang Music yang digunakan pada saat ibadah ?

  8. Dr. Steven says:

    Salah satunya “Musik Duniawi dalam Gereja” oleh Dr. Andrew Liauw, dapatkan di toko buku Graphe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *