Peringatan 40 Tahun Serangan Entebbe oleh Israel

(Berita Mingguan GITS 2 Juli 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Bullet scars as Uganda remembers,” Times of Israel, 26 Juni 2016: “Menyisir di atas ombak yang pecah-pecah di tengah kegelapan, empat pesawat melesat rendah di atas Danau Victoria, berisikan 200 komando elit Israel dalam misi penyerbuan yang berani untuk membebaskan tawanan yang disandera. Mendarat tidak lama setelah tengah malam di lapangan udara Entebbe di Uganda pada 4 Juli 1976, para pasukan terjun itu memerlukan waktu kurang dari satu jam untuk menyerbu markas itu dan membebaskan lebih dari 100 penumpang di pesawat Air France, sebuah misi operasi yang menjadi legenda bagi para pasukan khusus seluruh dunia. Pesawat tersebut telah dibajak seminggu sebelumnya pada tanggal 27 Juni. Empat dekade kemudian, Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, dijadwalkan untuk mengunjungi Uganda untuk memperingati peristiwa itu, bukan hanya untuk menghormati operasi tersebut dan meningkatkan hubungan yang kini bersahabat antara Uganda dan Israel, tetapi juga untuk hal yang sangat pribadi. Pemimpin komando Israel, satu-satunya tentara Israel yang terbunuh dalam serangan itu, adalah abangny sendiri, yaitu Letnan Kolonel Yonatan Netanyahu, yang waktu itu berusia 30 tahun. … Uganda dan Israel merencanakan memorial itu sebagai peristiwa rekonsiliasi, bahkan mengawetkan bekas-bekas peluru di tembok terminal tua di Entebbe, yang hinggi kini masih menjadi airport bagi ibukota Kampala, sekitar 40 km di utara ibukota. Di awal bulan, beberapa komando yang sudah pensiun yang ikut penyerbuan waktu itu, mengunjungi situs dari penyelamatan yang luar biasa tersebut. Mereka berdiri di samping pejabat-pejabat Uganda, termasuk putra dari musuh mereka waktu itu, diktator Idi Amin. … Putra Amin, Jaffar, yang waktu serbuan itu terjadi berusia 10 tahun, menyambut para komando itu ke Uganda pada bulan ini, sebagai ‘tanda rekonsiliasi,’ sambil mengingat cerita-cerita yang disampaikan ayahnya pada waktu ia digeser dan terpaksa lari ke luar negeri. …Jaffar mengingat apa yang ayahnya katakan sewaktu ia bertanya mengapa tidak dikirim pesawat tempur untuk menembak jatuh orang-orang Israel yang berangkat pulang. ‘Ayah saya mengatakan tentang orang Israel, anakku, mereka itu anak-anak Allah, dan ketika mereka mulai berperang, mereka tidak akan berhenti,’ kata Jaffar. ‘Bagi dia, dia merasa bahwa mereka telah datang untuk menyelamatkan orang-orang mereka sendiri, dan mereka telah menyelesaikan misi, jadi ia membiarkan mereka pergi.’”

This entry was posted in General (Umum). Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *