Para Ilmuwan Terkemuka Membuktikan Propaganda Media tentang Homoseksualitas Salah

(Berita Mingguan GITS 3 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Nearly Everything the Media Tell You about Sexual Orientation and Gender Identity Is Wrong,” CNSNews.com, 22 Agus. 2016: “Sebuah laporan penting yang baru, yang dipublikasikan hari ini dalam jurnal The New Atlantis, menantang narasi populer yang dipropagandakan oleh media massa mengenai orientasi seksual dan identitas gender. Ditulis oleh dua orang ilmuwan terkemuka dalam bidang kesehatan mental dan seksualitas, laporan sepanjang 143 halaman tersebut mendiskusikan lebih dari 200 penelitian yang sudah melalui proses peer-review dalam bidang biologi, psikologi dan ilmu-ilmu sosial, dan dengan sangat teliti mendokumentasikan apa yang ditunjukkan dan apa yang tidak ditunjukkan oleh riset sains mengenai seksualitas dan gender. Kesimpulan besarnya, sebagaimana dijelaskan oleh editor jurnal tersebut, adalah bahwa ‘beberapa klaim yang paling sering didengar tentang seksualitas dan gender tidak didukung oleh bukti-bukti sains.’ Berikut adalah empat kesimpulan yang paling penting dari laporan tersebut:

Satu – ‘Kepercayaan bahwa orientasi seksual adalah suatu sifat bawaan dan menetap secara biologis pada manusia – yaitu bahwa seseorang dilahirkan demikian – tidaklah didukung oleh bukti ilmu pengetahuan.’ Dua – ‘Dengan cara yang sama, kepercayaan bahwa identitas gender adalah suatu sifat bawaan dan menetap pada manusia terlepas dari jenis kelamin biologisnya – sehingga seseorang bisa menjadi laki-laki yang terperangkap dalam tubuh wanita atau wanita yang terperangkap dalam tubuh laki-laki – tidalah didukung oleh bukti-bukti ilmu pengetahuan.’ Tiga – ‘Hanya minoritas anak-anak yang mengekspresikan pemikiran atau perilaku yang tidak lazim bagi gendernya (gender-atypical) akan berlanjut seperti itu ketika masuk ke masa remaja dan dewasa. Tidak ada bukti bahwa semua anak-anak seperti itu harus didorong untuk menjadi transgender, apalagi diberikan terapi hormon dan oerasi.’ Empat – ‘Orang-orang non-heteroseksual dan orang-orang transgender memiliki tingkat masalah kesehatan mental yang lebih tinggi (kecemasan, depresi, bunuh diri), demikian juga masalah perilaku dan sosial (penyalahgunaan obat, kekerasan pada partner intim), daripada populasi umum. Diskriminasi saja tidak dapat menerangkan perbedaan ini.’

Laporan tersebut, berjudul ‘Sexuality and Gender: Findings from the Biological, Psychological, and Social Sciences,’ ditulis oleh Dr. Lawrence Mayer dan Dr. Paul McHugh. Mayer adalah seorang ilmuwan residen di Departemen Psikiatri di Universitas John Hopkins dan seorang profesor statistik dan biostatistik di Universitas Negeri Arizona. McHugh, yang digambarkan oleh editor The New Atlantis sebagai ‘bisa dikatakan psikiatris paling penting di Amerika selama 50 tahun terakhir,’ adalah profesor ilmu psikiatri dan perilaku di Fakultas Kedokteran Universitas John Hopkins. Ketika dia menjabat sebagai kepada psikiatri di Johns Hopkins, dia menghentikan program operasi ganti kelamin di sana, setelah sebuah penelitian yang dibuat di Hopkins memperlihatkan bahwa operasi itu tidak membawa manfaat yang diharapkan oleh dokter dan pasien.”

This entry was posted in LGBT. Bookmark the permalink.

16 Responses to Para Ilmuwan Terkemuka Membuktikan Propaganda Media tentang Homoseksualitas Salah

  1. Lukas says:

    Haruskah pemerintah Indonesia mengkriminalkan homoseksual?

  2. Dr. Steven says:

    Idealnya tentu jika pemerintah melarang pernikahan homoseksual, melarang aktivitas homoseksual, dan jika tertangkap, dilakukan edukasi.

  3. Lukas says:

    Seperti apa kira-kira rehabilitasi saudara-saudara kira ini? Ada pendapat?

  4. Dr. Steven says:

    Rehabilitasi homoseksual?
    Pertama dia perlu bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat. Itu kunci paling penting untuk melawan dosa apapun, baik itu alkohol, berjudi, dan juga homoseksualitas.
    Kedua, dia perlu berada dalam jemaat lokal yang alkitabiah, yang mengajar dia Alkitab dengan baik, membuat imannya bertumbuh, dan menekankan hidup yang sesuai Firman Tuhan.

  5. Lukas says:

    Itu solusi secara Kristen, kalau dalam konteks hukum negara?

  6. Dr. Steven says:

    Negara bisa membuat undang-undang yang melarang homoseksualitas, dan melarang promosi homoseksualitas.

  7. Lukas says:

    Mirip jurusnya Putin Rusia berarti

  8. Dr. Steven says:

    Sebenarnya dulu, hampir semua negara punya undang-undang melarang homoseksualitas, termasuk Amerika Serikat.

  9. Lukas says:

    Berarti juga, organisasi-organisasi yang sudah disusupi kaum lgbt dengan kedok penanganan AIDS atau kalau yang lebih terang-terangan menuntut hak mereka seperti suara kita, gaya nusantara, dan organisasi pendukungnya seperti kontras, elsam, ICJR, dan ylbhi harus dibubarkan juga?

  10. Dr. Steven says:

    Dalam negara yang ideal, ya tentu advokasi LGBT tidak akan diizinkan. Tetapi tentu Indonesia masih jauh dari ideal.

  11. Lukas says:

    Memang tidak ada yang sempurna.

    Tetapi, saya sebagai umat menyerukan kepada semua orang percaya untuk melawan invasi LGBT ini bila perlu keluar dari organisasi HAM yang sudah tercemar ideologi mereka seperti yang saya sebutkan di atas dan menjaga jarak dengan organisasi Islam yang turut memperjuangkan pelarangan LGBT tetapi banyak yang menyarankan syariat Islam yang bapak pasti ketahui sebagai sebuah ideologi yang diktator.

    Dan bagaimana menangani organisasi-organisasi tersebut terutama jika mereka menuntut balik dengan tuduhan pelanggaran kebebasan berekspresi dan berorganisasi?

  12. Dr. Steven says:

    Organisasi tidak bisa protes jika orang Kristen memboikot mereka. Mereka punya kebebasan, kita juga punya kebebasan untuk tidak mau berurusan dengan dia.

  13. Lukas says:

    Anda dapat membaca artikel ini dan memberi pendapat mengenai seseorang yang beranggapan Pancasila sebenarnya toleran LGBT (dalam bahasa Inggris)

    http://www.e-ir.info/2016/03/21/against-state-straightism-five-principles-for-including-lgbt-indonesians/

    Saya mendapatkan link ini dari halaman Facebook bernama “marjin kiri” penerbit buku beraliran politik kiri/marxis.

  14. Dr. Steven says:

    Pancasila toleran LGBT atau tidak, itu tidak ada relevansi dengan orang Kristen, karena Pancasila bukanlah dasar orang Kristen. Dasar orang Kristen adalah Alkitab.

  15. Lukas says:

    Pertanyaan saya adalah bagaimana menanggapi sebagai warga Indonesia (apalagi kalau berbicara kepada non Kristen) dalam hal ini mengenai Pancasila yang katanya toleran lgbt. Meski mungkin bapak merujuk ke ayat kisah rasul yang menyatakan kita harus lebih taat kepada Tuhan (dan Firman Tuhan) daripada kepada manusia (termasuk ideologi manusia), yang tentu saja benar adanya.

  16. Dr. Steven says:

    Ya benar, kita bisa mengacu kepada Kisah Rasul itu. Tetapi intinya adalah bahwa hidup bernegara (yang dasarnya adalah Pancasila dan UUD), bukanlah keseluruhan sudut pandang kita. Selain hidup bernegara, kita ada hidup bermasyarakat, dan hidup beragama. Tidak semua hal yang diperbolehkan oleh negara adalah hal yang moral atau baik. Misal: negara memperbolehkan suami istri untuk bercerai, bukan berarti itu sesuatu yang seorang pasangan Kristen lalu boleh lakukan.
    Jadi, ada hal-hal yang bisa jadi tidak ada sanksi hukum, tetapi ada sanksi sosial, sanksi moral.
    Andaikata pemerintah netral dalam hal LGBT, yang jelas umat Kristen, melalui para pengkhotbah, guru rohani, dll, harus mengajar umatnya sikap Firman Tuhan terhadap hal ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *