Para Ilmuwan Menemukan Aspek Baru dari Sistem Imun Tubuh

(Berita Mingguan GITS 5 November 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Para ahli biologi di Imperial College London telah menemukan sebuah aspek baru dari sistem imun manusia yang berhubungan dengan epitop, yaitu molekul-molekul pada permukaan sel yang mengidentifikasi toksin atau patogen asing dalam tubuh (misalnya bakteri atau virus). Epitop mengenali patogen melalui suatu antigen, yaitu molekul unik milik patogen tersebut. Epitop lalu membuat semacam tag atau tanda pengenal pada antigen tersebut, yang akan mengisyaratkan antibodi untuk menyerangnya. Sebagian aspek dari proses sinyal yang luar biasa ini sudah diketahui sebelumnya, tetapi sekarang dipahami bahwa ternyata sistem ini jauh lebih luas dan kompleks dari yang dikira semula. Penemuan ini baru ini begitu penting, sehingga dianalogikan dengan menemukan suatu benua baru. Biologis Michael Stumpf mengatakan, “Ini dapat memimpin bukan hanya pada pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana sistem imun bekerja, tetapi juga dapat memberi petunjuk cara-cara baru pemgembangan terapi dan obat dan vaksin” (“Scientists have discovered,” Science Alert, 21 Okt. 21, 2016).

Apa yang ilmuwan telah temukan selama setengah abad terakhir adalah bahwa sel makhluk hidup adalah suatu dunia yang penuh dengan kompleksitas. Sungguh kompleksitas di dalam kompleksitas di dalam kompleksitas, dan ini sudah nyata walaupun para ilmuwan baru mulai memahami dunia molekuler dan atom. Berbagai sistem di dalam sel makhluk hidup membuat mesin-mesin kompleks buatan manusia, seperti mikroskop elektron, terasa seperti mainan, dan bukan hanya sederhana tetapi juga tidak hidup dan tidak dapat berkembang biak. Dari hal ini saya mendapat pelajarn bahwa sel makhluk hidup memiliki seorang pencipta, sama seperti mikroskop memiliki pencipta, tetapi Pencipta sel makhluk hidup jauh lebih intelijen dan berkuasa. Saya tidak pernah bermasalah percaya ada Allah, bahkan ketika saya masih memberontak dan belum selamat. Setiap aspek dari dunia ciptaan bersaksi tentang Dia. Tetapi percaya ada Allah tidak sama dengan keselamatan. Keselamatan memerlukan iman pada Injil Yesus Kristus: bahwa Allah menjadi manusia melalui kelahiran perawan, menjalani hidup tanpa dosa, dan menjadi penebusan bagi dosa manusia dengan menderita dan berdarah di atas salib Kalvari, mati, dan bangkit dari kematian setelah tiga hari. Saya menjadi 100% percaya pada injil Yesus Kristus 43 tahun yang lalu dan tidak pernah meragukan atau menyesalinya. Ada yang mengejek iman saya tidak masuk akal bahwa Allah menjadi manusia, tetapi saya mengejek iman mereka bahwa cacing dapat menjadi manusia.

This entry was posted in Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *