“Rentan” Tanpa Pertobatan

(Berita Mingguan GITS 14 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Paulus menggambarkan cinta akan uang dan konsekuensi-konsekuensinya. “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Tim. 6:9-10). Perhatikan bahwa mereka “menyiksa dirinya.” Mereka bukanlah korban. Banyaknya dukacita datang karena suatu gaya hidup yang berdosa. Banyak gereja kontemporer yang menawarkan kasih karunia dan pengampunan tanpa adanya pertobatan dan perubahan supranatural. Mereka memiliki anggota-anggota gereja yang menjalani gaya hidup rock & roll yang tidak kudus dan mengejar kekayaan di tengah industri musik pop / entertainment yang kotor. Semua mereka menyiksa diri sendiri melalui berbagai-bagai duka dalam konteks tersebut, tetapi mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai korban. Bukannya bertobat dari dosa-dosa mereka, mereka menjadi “rentan” dengan cara membagikan masalah-masalah mereka di hadapan gereja. Mereka tidak membedakan antara penderitaan yang datang karena dosa dan penderitaan yang datang dalam kehendak Allah. Bintang musik pop, Justin Bieber, adalah salah satu contoh. Dia adalah anggota dari gereja kontemporer Churchome di Beverly Hills, California, yang digembalai oleh tim suami istri. Bieber memberitahu kepada gerejanya, “Alkitab mengatakan anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Ini terdengar gila ketika menghadapi kesusahan kamu merasa sangat buruk. Tetapi jika kita mengucap syukur dan menyembah Allah untuk apa yang kita miliki, pada waktunya ada kuasa yang besar dalam hal ini…. rasa sakit apapun yang anda rasakan katakan pada diri sendiri INI TIDAK AKAN BERLANJUT!” (“Justin Bieber Leads Worship,” CBN News, 30 Agus. 2019). Perhatikan bahwa dia tidak mengatakan apapun tentang darah Kristus atau dosa atau pertobatan atau perubahan. Semuanya generik dan tidak terdefinisikan. Dia menghabiskan banyak waktu membenarkan diri sendiri karena fakta bahwa dia tercebur ke dalam popularitas sejak usia yang sangat muda. Sebagai kontras, Petrus membuat perbedaan yang tajam dan berulang antara menderita karena Kristus dan menderita karena dosa. “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau” (1 Pet. 4:14-15). Lihat juga 1 Petrus 2:19-20; 3:17. Janji agung dalam Roma 8:28 bukan untuk semua orang dalam segala situasi. Janji tersebut adalah untuk orang-orang yang “mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Janji ini adalah untuk orang yang lahir baru melalui pertobatan dan iman yang menyelamatkan dan yang berjalan sesuai dengan panggilan dan kehendak Allah.

This entry was posted in Renungan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *