DNA Berusia Jutaan Tahun?

(Berita Mingguan GITS 21 November 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari creationmoments.com, 11 September 2020: “Sementara banyak orang Kristen merasa harus menerima jutaan tahun dalam skema evolusi, bukti-bukti untuk penciptaan dunia yang masih muda semakin menumpuk. Bukti semakin menumpuk sampai-sampai banyak evolusionis yang merasa mereka harus menemukan penjelasan untuk semua itu. Dalam program Creation Moments sebelumnya, kita bicara tentang DNA dan material sel lainnya yang ditemukan tanpa menjadi fosil (membatu) di dalam sebuah T. rex. yang menjadi fosil. Sejak pembahasan itu, sebuah tulang kaki hadrosaurus telah ditemukan dengan sel-sel darah yang masih utuh. Lalu ada juga hadrosaurus yang menjadi mumi yang menjadi subjek pembahasan spesial di suatu program televisi. Bahkan organ-organ dalamnya masih utuh. Menurut evolusionis, kita harus percaya bahwa mumi ini tidak menjadi debu dalam waktu 77 juta tahun. Klaim ini tidak bisa dipercaya, dibandingkan dengan pengalaman kita dengan mumi-mumi Mesir yang terpelihara paling baik sekalipun yang baru ribuan tahun umurnya. Segmen-segmen DNA juga telah ditemukan pada kaum Neanderthal, pada mamalia yang katanya pra-sejarah, pada tumbuhan, dan bahkan bakteri. Menurut penanggalan evolusionis, sampel-sampel ini berkisar umurnya dari 40.000 hingga 250 juta tahun. Namun, kita tahu bahwa DNA sudah akan hancur penuh dalam 10.000 tahun. Masih ada cukup banyak sel pigmen berwarna yang tersisa dalam sebuah bulu yang terfosilisasi, sehingga kita masih bisa melihat pola warnanya. Namun, dikatakan usianya 100 juta tahun. Sementara para evolusionis mencoba berbagai penjelasan untuk femonena ini, penjelasan paling sederhana adalah bahwa mereka memang masih berusia muda. Ref: Acts & Facts, 6/09, hal. 17, Brian Thomas, ‘Fossilized Biomaterials Must Be Young.’”

This entry was posted in Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *