Wheaton Menurunkan Plakat yang Mengenang Para Misionari yang Dibunuh Karena Ada Kata “Savage” (Biadab/Buas)

(Berita Mingguan GITS 27 Maret 2021, sumber: www.wayoflife.org)

Muncul lagi suatu contoh terbaru akan orang-orang “Injili” yang sekarang lebih mengikuti pemikiran sekuler yang sia-sia daripada firman Allah, yaitu Wheaton College yang menurunkan sebuat plakat yang mengenang kemartiran lima orang lulusan mereka pada tahun 1956, hanya karena ada kata “savage” (Indonesia: biadab atau buas) di plakat tersebut, yang sekarang dianggap ofensif (“Wheaton College scrubs ‘savage,’ The Spectator, 17 Mar. 2021). Plakat tersebut, yang diberikan pada tahun 1957 oleh alumni angkatan 1949, menyatakan, “Pergi dan Beritakan Injil … Karena Kasih Kristus Menguasai. Didedikasikan untuk kemuliaan Allah dan dalam kenangan penuh kasih akan Edward McCully, presiden dari angkatan 1949, dan James Elliot, juga seorang atlit dan pemimpin yang luar biasa. Karena Amanat Agung, Ed dan Jim, bersama-sama dengan Nathanael Saint, Roger Youderian, dan Peter Fleming, pergi ke ladang misi. Rela untuk melakukan ‘apa saja – di mana saja tanpa peduli harganya,’ mereka memilih hutan belantara Ekuador yang didiami oleh suku Indian Auca. Selama banyak generasi, semua orang luar dibunuh oleh orang-orang Indian yang biadab (Inggris: savage) ini. Setelah banyak hari melakukan persiapan dengan sabar dan doa-doa yang saleh, para misionari ini membuat kontak bersahabat pertama yang tercatat dalam sejarah dengan orang-orang Auca. Pada tanggal 8 Januari 1956, lima orang misionari itu dibunuh secara brutal – mereka martir karena kasih Allah.”

Wheaton College versi “woke” yang baru sekarang ini, terlalu bijak duniawi untuk menggunakan istilah “biadab” untuk menggambarkan para pembunuh bercabang lidah yang membunuh para misionari yang penuh damai tersebut, walaupun ini adalah istilah yang cocok sekali untuk menggambarkan situasi yangt terjadi, sekalipun menurut definisi kamus modern. Kata “savage” dalam bahasa Inggris berarti “tidak mempunyai pengekangan yang biasanya ada pada manusia yang beradab, buas, ganas, liar, tidak berbudaya, jahat” (Merriam-Webster). Presiden Wheaton, Philip Ryken, mengatakan, “Baru-baru ini, para mahasiswa, fakultas, dan staf, menyatakan keprihatinan tentang kata-kata yang ada pada plakat ini, yang sekarang dipahami sebagai sesuatu yang menyinggung. Terutama, kata ‘savage’ dianggap sebagai hinaan dan secara historis telah dipakai untuk menurunkan kemanusiaan dan memperlakukan salah orang-orang pribumi di berbagai belahan dunia.” Tetapi para misionari tersebut bukan sedang menurunkan nilai manusia atau memperlakukan salah orang-orang Auca; mereka mengasihi orang-orang tersebut dengan penuh pengorbanan, dan mencoba untuk memperingatkan mereka tentang penghakiman kekal dan menyampaikan kabar baik Yesus Kristus kepada mereka. Mengenai orang-orang Auca yang terlibat pada hari itu, Alkitab sendiri menggunakan istila-istilah seperti “pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan … tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan … lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah, kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka … rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu … orang-orang durhaka … orang-orang yang harus dimurkai … tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia” (Roma 1:29-31; 3:13-16, 18; Ef. 2:2-3, 12). Kabar baiknya adalah bahwa sekolah Alkitab tersebut sudah menunjuk suatu “komite untuk me-review kata-kata dalam plakat tersebut, dan akan membuat rekomendasi yang spesifik sebelum 1 Mei untuk mengganti kata-kata itu dengan hati-hati.” Akan menarik untuk melihat bagaimana mereka akan menggambarkan pembunuhan oleh orang-orang biadab tanpa menyinggung siapa-siapa.

This entry was posted in Misi / Pekabaran Injil, Penganiayaan / Persecution, Separasi dari Dunia / Keduniawian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.