Sumber: www.wayoflife.org
“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai” (1 Korintus 4:2). “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Matius 25:21).
Dimulai dari Dinasti Han (202 SM – 220 M), bangsa Tiongkok mengirimkan duta-duta ke berbagai wilayah kerajaan Baktria-Yunani dan bahkan hingga ke Siria. Yang pertama adalah Zhang Qian pada tahun 138 SM. Ia ditugaskan untuk mencari sekutu. Rombongan yang berjumlah 100 orang itu termasuk seorang mantan budak yang ditangkap saat masih kecil dan dapat berbicara bahasa suku Xiongnu di barat. Kelompok itu ditangkap tetapi diperlakukan dengan baik. Zhang Qian diberi seorang istri yang dengannya ia memiliki seorang putra.
Setelah 12 tahun, ia, istrinya, dan mantan budak itu melarikan diri, tetapi alih-alih pulang, Qian melanjutkan perjalanannya ke barat. Ia menemukan Baktria dengan aksara Yunani, koin, dan budayanya, yang berasal dari masa Alexander Agung. Ia menyebut penduduk Lembah Ferghana sebagai “Dayan” (“Orang Ionia Agung”). Ini adalah nama kuno untuk orang Yunani yang tinggal di pesisir Ionia di Laut Aegea. Ia menemukan tentang orang-orang di tenggara Baktria yang menggunakan gajah perang dalam peperangan. Mereka adalah orang India yang berperang melawan Alexander.
Qian tiba kembali di Tiongkok setelah 13 tahun dan dianugerahi jabatan tinggi. Mantan budak itu juga dihormati dengan gelar “Tuan yang Menjalankan Misinya.” Ini adalah sedikit gambaran tentang bagaimana Tuhan Yesus akan memberi upah kepada hamba-hamba-Nya yang setia ketika masa peperangan ini berakhir. Tidak seorang pun akan menyesal karena 100% setia kepada Tuhan.