Sumber: www.wayoflife.org
“Gereja” esa-sedunia sedang menunjukkan kemajuan pesat dalam persiapannya menuju wujud penuh “Misteri Babel” sebagaimana tertulis dalam Wahyu 17. Pada tahun 1521, Martin Luther dikucilkan oleh Paus Leo X, dan Reformasi Protestan pun dimulai, dengan gereja-gereja Lutheran menyebar ke seluruh wilayah Jerman dan Skandinavia. Pada tahun 1525, Ulrich Zwingli memisahkan diri dari Roma di Zurich, Swiss, dan memimpin gerakan Protestan di wilayah tersebut. Pada tahun 1530, John Calvin memisahkan diri dari Roma, dan enam tahun kemudian menerbitkan Institutio Christianae Religionis (Pengajaran Agama Kristen), yang menjadi landasan doktrinal bagi gereja-gereja Protestan Presbiterian dan Reformed. Pada tahun 1534, Raja Henry VIII memisahkan diri dari Roma dan mendirikan Gereja Inggris (Church of England) dengan dirinya sendiri sebagai kepalanya. Antara tahun 1545–1563, Konsili Trente dari Gereja Katolik Roma melontarkan 125 anathema (kutukan hukuman kekal) terhadap semua orang Kristen non-Katolik, termasuk mereka yang meyakini bahwa keselamatan diperoleh semata-mata oleh kasih karunia Allah tanpa perbuatan baik.
Kini, sejak abad ke-20, kita menyaksikan pembalikan arah dari Reformasi serta penyatuan ekumenis antara pihak Protestan dan Roma. Peristiwa berikut ini merupakan langkah terbaru dalam rekonsiliasi Gereja Inggris dengan Roma. Dikutip dari “Raja Inggris menganugerahkan sebuah kehormatan,” Zenit News, 23 Oktober 2026: “Paus Leo XIV telah menerima gelar kehormatan di Kapel St. George, Kastel Windsor. Penerimaan ini melengkapi pertukaran simbolis persaudaraan dengan Raja Charles III, yang menandai perbaikan hubungan secara bertahap antara Gereja Katolik dan tradisi Anglikan. Pengumuman tersebut disampaikan pada 23 Oktober 2026 oleh Dekan dan para Kanon Windsor, dengan persetujuan dari monarki Inggris serta dukungan dari Uskup Agung Canterbury. Paus telah diangkat sebagai Papal Confrater (anggota persaudaraan kehormatan) di College of St. George — sebuah gestur yang digambarkan oleh pihak Istana Kerajaan sebagai wujud nyata dari persekutuan rohani, persahabatan ekumenis, dan persaudaraan Kristiani. Pengangkatan ini terjadi tepat satu tahun setelah kunjungan kenegaraan bersejarah Raja Charles III dan Ratu Camilla ke Vatikan pada 23 Oktober 2025, di mana pasangan kerajaan tersebut bertemu dengan Leo XIV dan mengunjungi sejumlah situs keagamaan penting, termasuk Kapel Sistina dan Kapel Paulina. Dalam kunjungan tersebut, Raja diterima sebagai Royal Confrater di Basilika Kepausan St. Paulus di Luar Tembok, dengan persetujuan Paus. Gelar kehormatan baru ini merupakan bentuk timbal balik atas gestur tersebut, yang mengubah rasa saling hormat menjadi simbol publik akan komitmen bersama kedua institusi tersebut terhadap kesatuan umat Kristiani.”