Kepemimpinan yang Lemah Bisa Berbahaya

(Berita Mingguan GITS 24 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Kepemimpinan adalah hal yang sulit, terutama ketika melibatkan peneguran, memberi peringatan, dan disiplin, dan seringkali hal-hal ini memang harus dilakukan oleh pemimpin. Kita semua ingin disukai. Kita lebih memilih untuk menjadi populer daripada tidak populer, tetapi hal ini bisa menghalangi kita untuk menolong orang-orang yang seharusnya kita pimpin. Ini adalah jerat yang dapat menyandung pemimpin manapun, dari seorang ayah atau ibu, ke seorang polisi, ke seorang gembala sidang. Baru-baru ini saya membaca tentang serangan seekor beruang grizzly di sebuah taman nasional di Amerika. Dua orang yang terbunuh adalah pekerja di taman nasional itu, dan mereka sebenarnya sudah diberikan instruksi dan peringatan mengenai bagaimana harus bersikap ketika berhadapan dengan beruang, tetapi para pemimpin di sana (dalam hal ini para ranger taman dan manager) tidak selalu mengetatkan peraturan tersebut. Salah satu pemimpin di sana dideskripsikan sebagai seseorang yang “sangat populer di antara bawahannya; gayanya cenderung ringan dan penuh canda.” Dan walaupun dia “menyatakan peraturan” tentang keselamatan berurusan dengan beruang, dia tidak selalu memastikan peraturan itu diikuti dengan baik. Ketika dia diberitahu bahwa ada pegawai-pegawai wanitanya yang mengabaikan “peraturan” yang dia buat, dan malam-malam jalan-jalan ke daerah beruang untuk pacaran, dia “mengangkat tangan” dan mengatakan bahwa “ada batasan seberapa banyak nasihat yang bisa diberikan sebelum kita dianggap tukang celoteh yang membosankan, dan bahwa dia merasa dia sudah sampai kepada batasan tersebut.” Motivasinya adalah dia ingin populer, dan tidak dianggap “tukang celoteh yang membosankan.” Dalam kasus ini, wanita-wanita yang bersangkutan tidak terbunuh oleh beruang, tetapi ada dua orang lain yang terbunuh. Kita semua ingin “disukai,” tetapi kasih yang sejati menjalankan teguran dan disiplin yang saleh. Alkitab mengatakan, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya” (Ams. 13:24). Orang tua bijak yang mengasihi anaknya akan mengoreksi dan menghukum dia walaupun terasa sulit, karena sang orang tua lebih peduli kepada anak itu dan hubungan anak itu dengan Tuhan dan karakter dan masa depannya daripada perasaannya sendiri dan kenyamanannya sendiri. Ini juga adalah salah satu motivasi besar bagi seorang gembala untuk melaksanakan disiplin. Disiplin tidak pernah mudah, baik bagi yang memberi maupun menerimanya, tetapi ini hal yang penting di dunia yang jatuh dalam dosa ini, dan ketika dilakukan dengan benar sesuai dengan Firman Allah, ini adalah suatu tindakan kasih yang besar.

This entry was posted in General (Umum). Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *