(Berita Mingguan GITS 16 Januari 2016, sumber: www.wayoflife.org)
Sementara meneliti Hillsong New York City, seorang reporter untuk majalah GQ mengalami sendiri kekuatan dari musik penyembahan Hillsong. Taffy Brodesser-Akner menggambarkan pengalaman itu sebagai berikut: “Musik Hillsong adalah katalog balada-balada sejenis Selena Gomez, dengan melodi yang mirip satu sama lain, menyenangkan, seperti musik spa. … Liriknya mirip himne, namun musik dan cara bernyanyinya seolah ada nafas hangat dekat anda, dan seksi, dekat sekali dengan microphone. Musik itu membuat tubuh saya merasa bingung” (“What Would Cool Jesus Do?” GQ, 17 Des. 2015).
Apa yang dialami oleh reporter tersebut adalah kebingungan karena pencampuran apa yang kudus dengan apa yang sensual. Pada akhir 1960an dan awal 1970an, pada hari-hari “hippie” saya, saya sangat memahami kuasa sensual dari rock & roll, bahkan dalam bentuknya yang “soft.” Setelah saya mengenal Kristus pada tahun 1973, pada usia 23 tahun, Roh Allah meyakinkan saya tentang memisahkan diri dari “keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup” (1 Yoh. 2:15-17), yang adalah definisi persis dari musik yang telah saya cintai sejak awal tahun 60an. Keputusan itu bukanlah keputusan yang mudah atau cepat, tetapi satu hari, mungkin di awal 1974, saya mematikan radio mobil saya dan memalingkan punggung pada rock & roll secara tuntas. Saya tidak pernah menyesalinya, walaupun bertahun-tahun saya telah memikirkan ulang keputusan itu di hadapan Tuhan dan telah dikuatkan dalam tekad saya.
Saya membuat keputusan itu karena musik rock adalah sensual dan duniawi. Melalui lirik dan musiknya, ia telah, sejak awal mulanya, mempromosikan pemberontakan terhadap jalan kekudusan Allah yang “ketat.” Lebih dari pengaruh masyarakat manapun yang lain, musik rock telah mempromosikan keegoisan, memunculkan pemberontakan, menghancurkan rumah tangga, menciptakan keterpisahan, dan mendorong relativisme moral. Saya pernah menghidupi rock & roll, dan saya telah mempelajari rock & roll. Reporter GQ tersebut secara tidak sadar telah menulis salah satu gambaran musik Kristen kontemporer yang paling jujur dan akurat yang pernah saya baca. “Seolah ada nafas hangat dekat anda, dan seksi, dekat sekali dengan microphone” (di luar dari pernikahan, lihat Ibrani 13:4), tidak ada hubungannya dengan kekristenan yang Alkitabiah, dan fakta bahwa CCM (Musik Kristen Kontemporer) bisa digambarkan sebagai membuat tubuh seseorang “bingung” adalah saksi yang tidak terbantahkan bahwa ia tidaklah kudus. “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah” (Ibrani 13:4).