Museum Smithsonian, Tur Federal di D.C., dan Sejarah Amerika

Berikut ini oleh Dr. David Cloud dari www.wayoflife.org

Pada bulan Agustus, saya menghabiskan waktu seminggu untuk melakukan penelitian di Washington D.C. Museum-museum Smithsonian sungguh luar biasa—mulai dari arsitektur, infrastruktur, artefak, hingga kedai kopi dan kafeterianya — dan saya telah menghabiskan banyak hari di sana pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, hal yang paling mencolok bagi saya kali ini adalah apa yang justru tidak ada di sana. Bahkan di museum sejarah Amerika dan Galeri Seni Amerika, sama sekali tidak ada informasi mengenai kaum Pilgrim, kaum Puritan, maupun peran penting Kekristenan dan Alkitab dalam sejarah Amerika. Pada dasarnya, tidak ada sama sekali.

Saya berbicara dengan para pemandu museum (docent) yang dianggap sebagai ahli — para sukarelawan yang bertugas di berbagai titik — dan mereka tidak tahu apa-apa mengenai hal itu. Museum Nasional Sejarah dan Budaya Afrika-Amerika sama sekali tidak menampilkan peran Alkitab atau Kekristenan. Fokusnya adalah pada perbudakan, penghapusan perbudakan, dan budaya populer yang bobrok, padahal sejarah warga kulit hitam mencakup jauh lebih banyak hal daripada hal-hal itu. Dalam perjalanan baru-baru ini, saya mengunjungi Museum Universitas Hampton di Virginia, tempat Booker T. Washington menempuh pendidikan dan mengajar. Ia adalah lulusan paling terkemuka dari sekolah tersebut dan tokoh penting dalam sejarah warga kulit hitam, namun tidak ada satu pun informasi mengenai dirinya di Museum Hampton. Ia telah dihapuskan dari catatan sejarah di sana. Saya diberi tahu bahwa artefak-artefaknya disimpan di gudang. Saya tidak terkejut, karena filosofi Booker bertentangan dengan pandangan yang kini digembar-gemborkan, yang berfokus pada narasi sebagai korban (victimization), rasisme sistemik, tuntutan ganti rugi tanpa akhir, dan kemarahan yang terus-menerus.

Distorsi sejarah merupakan salah satu cara utama kehancuran Amerika. Saya melihat hal ini dalam tur federal di gedung Capitol dan gedung pengadilan. Para pemandu wisatanya adalah pegawai pemerintah federal. Di ruang rotunda Gedung Capitol, terdapat dua lukisan besar yang menggambarkan peran Kekristenan dalam sejarah Amerika — pembaptisan Pocahontas di Jamestown pada tahun 1613 dan keberangkatan kaum Pilgrim dari Belanda pada tahun 1620. Pemandu wisata hanya menyinggung lukisan-lukisan tersebut secara sepintas tanpa memberikan penjelasan berarti mengenai makna sesungguhnya yang terkandung di dalamnya. Hal ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas dalam sistem pendidikan umum untuk menghancurkan Amerika yang lama. Akar dari upaya ini dapat ditelusuri kembali ke sosok John Dewey (1859–1952) — seorang ateis, globalis, dan penentang Kekristenan yang juga merupakan salah satu penyusun Humanist Manifesto. Saya bersyukur karena banyak sekolah swasta, sekolah berbasis gereja, dan sekolah rumah (homeschooling) yang berani mengambil langkah berbeda demi melestarikan sejarah yang akurat, serta karena Tuhan terus menjawab doa demi kebebasan dalam hal-hal tersebut.

This entry was posted in Amerika Serikat, Sejarah Umum. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *