Masalah Horison bagi Big Bang

(Berita Mingguan GITS 17 September 2011, sumber: www.wayoflife.org)Jason Lisle, Ph.D. dalam bidang astrofisika dari Universitas Colorado, membuat observasi: “[Teori] Big Bang mengharuskan wilayah-wilayah yang berbeda dari alam semesta mulai dengan temperatur yang sangat berbeda, sebagai konsekuensi dari mekanika kuantum. Sambil alam semesta mengembang, wilayah-wilayah yang berbeda dari alam semesta ini seharusnya memiliki temperatur yang berbeda. Namun hari ini semua wilayah memiliki temperatur yang hampir sama persis. Kita bisa melihat latar belakang gelombang mikro di alam semesta dan melihat temperaturnya. Jadi ada masalah, karena tidak cukup waktu, menurut perhitungan jangka waktu evolusi, bahkan jika diberikan 20 milyar tahun bagi cahaya untuk pindah dari satu wilayah ke wilayah lain dan dengan cara demikian bertukar temperatur untuk mencapai ekuilibrium. Agar semua wilayah memiliki temperatur yang sama, mereka harus memiliki kontak. Jika kamu menaruh es batu dalam kopi akan menghasilkan kopi yang suam-suam kuku. Ada pertukaran panas karena mereka memiliki kontak. Cahaya dapat memfasilitasi pertukaran energi, tetapi tidak ada cukup waktu. Ini disebut sebagai Problema Horison, dan ini adalah masalah yang besar, karena temperatur di alam semesta ini bukan hanya mirip, tetapi sangat-sangat merata.” (Lisle, Creation Astronomy, 2006, Answers in Genesis).

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Pemimpin Gerakan Emerging Terganggu dengan Istilah “Diselamatkan” dan “Lahir Baru”

(Berita Mingguan GITS 10 September 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Dalam blognya dan dalam sebuah wawancara dengan Christian Post, Tim Stevens, gembala sidang dari Granger Community Church di Granger, Indiana, mengatakan bahwa dia terganggu oleh penggunaan istilah “diselamatkan” dan “lahir baru.” Dia menulis: “Saya baru-baru ini memperhatikan bahwa saya semakin lama semakin terganggu oleh kata “selamat.” Bukan dalam pemakaian seperti “selamat pagi” atau “selamat jalan” tetapi dalam konteks Kristiani: “Apakah Johnny sudah diselamatkan?” Atau “lambat laun Martha akan diselamatkan.” ….Sering kali gereja-gereja bisa menjadi tempat yang tidak nyaman bagi orang-orang yang sedang dalam pencarian. Mereka merasakan kebutuhan akan Allah, jadi mereka nongol di gereja pada suatu Minggu pagi dan mereka tidak bisa menangkap apa-apa karena dunia itu berbeda dengan dunia yang mereka tinggali. Bahasa yang dipakai tidak masuk akal, cara komunikasinya aneh, dan musiknya aneh….Saya rasa penggunaan bahasa merupakan bagian yang besar dari semua ini” (Christian Post, 1 Sept. 2011). Granger adalah contoh yang sempurna sebuah gereja 2 Timotius 4:3-4 yang hidup menurut hawa nafsu mereka sendiri dan memiliki banyak guru palsu yang menggelitik telinga generasi yang sesat dengan suatu jenis kekristenan yang baru. Ini adalah jenis gereja yang berpesta rock & roll. Gereja-gereja dilarang oleh Tuhan untuk menjadi sama dengan dunia untuk memenangkan dunia (Roma 12:2). Memang benar bahwa orang yang belum percaya seharusnya dapat merasa bahwa mereka dikasihi dan disambut dengan baik ketika mereka menghadiri kebaktian, dan umat Tuhan perlu untuk berusaha dan memastikan hal ini terjadi, dan Injil harus dengan jelas diberitakan, tetapi orang yang belum percaya seharusnya tidak merasa nyaman di gereja. Mereka harus dibuat mengerti bahwa umat manusia terbagi menjadi kategori yang terhilang dan yang selamat, dan kecuali mereka mengalami kelahiran kembali dan masuk kategori selamat, mereka akan menghabiskan kekekalan di lautan api sebagai upah kejahatan mereka melawan Allah yang mahakuasa. Ketika seorang yang tidak percaya datang ke gereja, ia tidak seharusnya merasa nyaman; dia harus merasa tusukan Roh Kudus (1 Kor. 14:24-25). Tusukan dan tuduhan rohani ini tidak datang melalui musik yang membuat anda ingin berdansa atau melalui mengubah gereja menjadi suatu tempat yang beratmosfir pesta sensual atau melalui menurunkan standar berpakaian dan standar bahasa ke level masyarakat yang konyol yang dikuasai oleh budaya pop. Tusukan dan kerja rohani Roh Kudus tidak datang ketika gereja-gereja mencoba menggantikan “cool” duniawi dengan “cool” gerejawi. Tetapi ia datang melalui kehidupan Kristen yang serious dan terpisah dari dunia, dan musik-musik yang rohani, dan pemberitaan Firman Tuhan yang setia kepada Alkitab dan bukan melalui khotbah-khotbah dangkal yang hanyalah berisikan psikologi modern.

Posted in Emerging Church, Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Seorang Nabiah Kharismatik Mengetik Dalam “Bahasa Roh”

(Berita Mingguan GITS 10 September 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Seorang “nabiah” Kharismatik, Juanita Bynum, bukan saja berbicara dalam “bahasa roh;” dia bahkan mengetik dalam “bahasa roh” di halaman Facebooknya. Pada tanggal 17 Agustus, dia mengetik doa berikut, “Kami memanggilMu Yesus. Engkaulah penolong kami dan harapan kami!!!!NDHDIUBGUGTRUCGNRTUGTIGRTIGRGBNRDRGNGGJNRIC. Engkaulah penolong kami dan harapan kami. RFSCNGUGHURGVHKTGHDKUNHSTNSVHGN Engkau Allah. Engkaulah penolong kami dan harapan kami!!!” Bynum tidak menjawab pertanyaan dari The Christian Post mengenai komunikasi yang aneh ini (“Televangelist Juanita Bynum Raises Brows with “Tongues’ Prayer,” Christian post, 31 Agus. 2011). Ini adalah contoh-contoh kekonyolan yang adalah bagian dari paket Pantekosta sejak permulaan gerakan ini di pergantian abad ke-20. Bahasa lidah ditenggarai muncul di Bethel Bible School yang dipimpin oleh Charles Parham di Topeka, Kansas, pada bulan Januari 1901, dimulai oleh seorang mahasiswi bernama Agnes Ozman. Seorang wartawan Topeka State Journal mencatat “bahasa roh” yang diucapkan seorang mahasiswi lain, Lilian Thistlewaite. Bunyinya seperti ini: “Euossa, Euossa, use rela sema calah mala kanah leulla ssage nalan. Ligle logle lazie logle. Ene mine mo, sah rah el me sah rah me” (Topeka State Journal, 9 Jan. 1901).Walaupun “bahasa roh”nya Thistlewaite masih lebih meyakinkan daripada punya Juanita Bynum, keduanya hanyalah cerocosan tak berarti. “Ligle logle lazie logle” dan “ene mine mo” persis adalah tipe-tipe “bahasa roh” yang saya dengar berulang-ulang di berbagai pertemuan Pantekosta dan Kharismatik di berbagai belahan dunia (di Indonesia mungkin lebih mirip “sikalabalaba…sikalabalaba”), tetapi semuanya adalah komat kamit tak jelas. Bahasa lidah dalam Alkitab adalah bahasa sebenarnya yang secara ajaib dapat dipakai oleh orang-orang yang belum pernah mempelajari bahasa tersebut. Inilah yang kita lihat terjadi pada hari Pentakosta, dan kejadian itu adalah suatu mujizat yang besar. Pada tahun 1914, Charles Shumway dengan teliti mencari bukti untuk membuktikan bahwa “bahasa roh” kaum Pantekosta awal tersebut adalah bahasa yang sebenarnya, tetapi dia gagal menemukan bahkan satu orang pun yang dapat membuktikan klaim-klaim yang dibuat (James Goff, Jr. Fields White Unto Harvest, 1988, hal. 76). Setelah meneliti “bahasa roh” yang diucapkan di Azusa Street mission yang dipimpin oleh William Seymour, pemimpin Holiness, W. B. Godbey menyimpulkan bahwa ucapan-ucapan itu bukanlah bahasa (G. F. Taylor, The Spirit and the Bride, 1907, hal. 52). Banyak ahli bahasa yang telah mencapai kesimpulan yang sama. William Samarin, profesor linguistik di Universitas Toronto, merangkumkan penelitian dia selama 5 tahun sebagai berikut: “Glossolalia memang mirip dengan bahasa dalam hal-hal tertentu, tetapi ini hanyalah karena pengucapnya ingin agar yang diucapkannya itu mirip bahasa. Namun walaupun ada kemiripan-kemiripan superfisial, glossolalia secara mendasar BUKANLAH bahasa” (Tongues of Men and Angels, 1972, hal. 227). Kunci yang mendasar untuk mengerti bahasa lidah dalam Alkitab adalah menyadari bahwa bahasa lidah adalah tanda bagi bangsa Yahudi yang tidak percaya (1 Kor. 14:20-22). Dalam kitab Kisah Para Rasul, ketika bahasa lidah dipraktekkan, ada orang Yahudi yang hadir. Topik ini dibahas dalam buku The Pentecostal-Charismatic Movement: The History and the Error oleh David Cloud, dan juga buku Glossolalia oleh Dr. Steven Liauw.

Posted in Kharismatik/Pantekosta | 7 Comments

Ilmuwan Mengatakan Bahwa Cerita Asal Muasal Kehidupan dalam Evolusi Adalah Dongeng

(Berita Mingguan GITS 10 September 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Dr. John Marcus mengatakan bahwa kisah-kisah tentang asal muasal kehidupan dalam evolusi adalah dongeng. Marcus memiliki gelar Ph. D. dalam bidang kimia biologi dari Universitas Michigan, dan sekarang adalah pejabat riset di Cooperative Research Centre for Tropical Plant Pathology, di Universitas Queensland, Australia. Dia mengatakan, “Dua hal yang mengukuhkan kepercayaan saya dalam penciptaan adalah bukti yang jelas akan desain dalam alam semesta, dan betapa kecil nihilnya kemungkinan bahwa kehidupan muncul karena perubahan….Sungguh, ide bahwa bahkan satu protein yang berfungsi lengkap dapat muncul karena kebetulan sudah merupakan iman buta yang tidak dapat dan tidak mau mengakui angka-angka [probabilitas]! Pemikiran seperti itu murni adalah fantasi dan tidak ada hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Tidak heran bahwa para evolusionis tidak dapat menghasilkan skenario spesifik yang dapat menjelaskan bagaimana kehidupan dapat muncul dari zat-zat kimia yang mati. Kisah-kisah yang diajukan seperti dongeng dengan beberapa istilah ilmu pengetahuan yang dimasukkan agar terdengar berpendidikan….banyaknya skenario evolusi yang menipu sepertinya tidak kurang adalah mitos-mitos yang bias yang muncul karena keinginan yang putus asa untuk menghilangkan Allah dari kehidupan dan hati nurani manusia” (In Six Days, diedit oleh John Ashton, hal. 172, 179, 180).

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Desa Bujangan Cina

(Berita Mingguan GITS 10 September 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Karena praktek pemilihan jenis kelamin anak dan juga pembunuhan bayi-bayi perempuan karena kebijaksanaan satu anak yang tidak alktabiah, komunis Cina kini menghadapi masalah yang sudah dapat diprediksi. Jutaan laki-laki kini menghadapi masa depan sebagai bujangan karena tidak ada cukup wanita untuk dinikahi. Hal ini terilustrasikan secara jelas di desa Banzhushan di tengah propinsi Hunan, di mana tidak ada satu pun wanita umur menikah yang belum memiliki pasangan atau tunangan (“China’s Village of Bachelors,” The Guardiang, 2 Sept. 2011). Ketika ditanya wanita jenis apa yang dia ingin nikahi, petani Duan Biansheng menjawab, “Saya sama sekali tidak punya syarat. Saya akan puas dengan seorang istri bagaimanapun,” tetapi kans bagi dia “hampir nol.” Dia kesepian dan khawatir mengenai masa tua dengan tidak ada seorang pun untuk memelihara dia dan tidak ada anak untuk meneruskan garis keluarga. Dalam dua puluh tahun ke depan, 30 hingga 50 juta lelaki Cina tidak akan dapat menemukan istri.

Posted in General (Umum) | Leave a comment

“Gembala Sidang” Baptis Yang Sesat Mengatakan Bahwa Himne Tentang Darah, Cocoknya Di Film Vampir

(Berita Mingguan GITS 3 September 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Amy Butler, “gembala sidang” senor dari Calvary Baptist Church, Washington D.C., mengklaim bahwa himne-himne tentang darah Kristus pantasnya berada di film vampir. Tentang himne seperti “There Is a Fountain,” Butler mengatakan, “Dengan segala hormat kepada tradisi agung yang telah membentuk praktek iman denominasi kita, lirik seperti ini membuat kita seperti berada di salah satu film [vampir] Twilight. Selain theologi yang patut dipertanyakan, metafora-metafora dalam himne-himne ini tidak memiliki arti yang bermakna bagi penyembah-penyembah zaman modern. Maksud saya, siapa yang mau menghampiri “takhta kasih karunia” (jika mereka bahkan tidak tahu apa artinya itu) jika takhta itu diperciki oleh darah?” (“There Is Power in the ‘Blood’ Hymns,” Associated Baptist Press, 25 Agus. 2011). Butler memutuskan untuk mengkhususkan satu kebaktian Minggu untuk “ritual” menyanyikan “himne-himne darah” yang kuno itu, tetapi hanyalah untuk “membangun indentitas dan mengingat akar-akar kita.” Ini mengingatkan kita bahwa kebanyakan gereja Baptis hari ini sudah sesat total atau kompromi mendalam dengan dunia dan filosofi emerging church. Ini bagaikan lautan yang berbahaya dan banyak Baptis fundamental yang membangun jembata dengan hal-hal seperti ini melalui adaptasi musik Kristen kontemporer dan main mata dengan para Injili “konservatif.” Kesesatan suatu gereja tidak terjadi sekaligus. Ia terjadi perlahan-lahan, biasanya lintas generasi, dan mulai dengan langkah-langkah kompromi yang “kecil.” Kita akan mengatakan kepada Butler bahwa doktrin tentang pendamaian yang diajarkan dalam “himne-himne darah” yang kuno itu bukanlah theologi yang patut dipertanyakan. Adalah benar dalam Alkitab bahwa “noda-noda dosa terhapus dalam aliran darah yang memberikan hidup itu” dan bahwa “darahNya mendamaikan seluruh umat, dan kini memerciki takhta kasih karunia.” Tidak ada keselamatan di luar dari darah Kristus. KematianNya saja tidak dapat membeli pendamaian. Ini adalah salah satu tema utama kitab Ibrani. “Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan…Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus” (Ibr. 9:22; 10:19).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Air Mata

(Berita Mingguan GITS 3 September 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Mata manusia memiliki mekanisme untuk membersihkan dan memelihara diri sendiri. Mata memproduksi tiga jenis air mata yang berbeda, masing-masing dengan kompisisi kimianya sendiri yang kompleks. Air mata basal adalah air mata yang normal yang dipakai untuk melumasi mata dan menyingkirkan debu. Komposisi dari air mata ini termasuk lisosom yang berperang melawan infeksi bakteri sebagai bagian dari sistem imun tubuh yang tak terbayang kompleksnya. Air mata refleks diproduksi untuk membilas mata dari benda-benda iritan, seperti uap bawang atau cabe. Air mata emosional diproduksi sebagai respons terhadap stres emosional dan mengandung zat yang secara alami menghentikan rasa sakit dan hormon-hormon penenang. Air mata memiliki tiga lapisan, sebuah lapisan luar yang mengandung minyak yang mencegah penguapan dan mengontrol laju jatuhnya air mata di pipi; sebuah lapisan tengah, yang mengandung protein dan hormon-hormon, dan sebuah lapisan mukosa yang menyentuh mata itu sendiri yang melapisi kornea dan memungkinkan distribusi yang seimbang akan film air mata tersebut. “Beginilah firman TUHAN, Allah Daud, bapa leluhurmu: Telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu” (2 Raj. 20:5). “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?” (Maz. 56:9). “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai” (Maz. 126:5). “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Wah. 21:4).

Posted in General (Umum), Science and Bible | Leave a comment

Eugene Nida, Bapa Dynamic Equivalency, Meninggal Usia 96 Tahun

(Berita Mingguan GITS 3 September 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Eugene Nida, bapa dari metode dynamic equivalency penerjemahan Alkitab, meninggal tanggal 25 Agustus pada usia 96 tahun. Awalnya bersama dengan Wycliffe Bible Translators, Nida lalu berasosiasi dengan American Bible Society dan United Bible Societies sejak tahun 1943. Melalui tulisan-tulisan dan konsultasi yang dia berikan, Nida memegang pengaruh yang luas dalam bidang teks dan penerjemahan Alkitab. Dia mengunjungi 90 negara untuk berdiskusi dengan para penerjemah yang bekerja dalam lebih dari 200 bahasa yang berbeda. Nida memiliki peran yang penting dalam terbentuknya United Bible Societies (UBS) yang sangat liberal dan “memulai, mengorganisir, dan mengadministrasikan” Perjanjian Baru Yunani UBS (kata pengantar untuk edisi pertama, 1965). Adalah Nida yang bersikukuh harus ada evaluasi bertingkat untuk setiap variasi tekstual (Aland, The Text of the New Testament, hal. 44). Di bawah skema ini, variasi teks diberi nilai A, B, C, atau D, bergantung kepada seberapa yakin para editor akan suatu bagian teks. Namun demikian, pengaruh Nida yang paling hebat adaah sebagai bapa dari teori penerjemahan Alkitab dengan metode dynamic equivalency, dimulai pada tahun 1947 dengan diterbitkannya buku Bible Translating. Dia mempromosikan metode penerjemahan “pikiran untuk pikiran.” Nida mengajar bahwa penerjemah memiliki kebebasan untuk mengubah bentuk Kitab Suci dan bahkan untuk mengkontekstualisasikan Kitab Suci ke dalam budaya modern, seperti mengubah kata “salju” menjadi “kelapa” jika salju tidak dikenal di budaya tertentu. Ia dapat melakukan ini karena ia tidak percaya dalam inspirasi Kitab Suci yang tanpa salah. Nida mengolok doktrin bahwa Alkitab “ditulis dalam bahasa Roh Kudus” (Language Structure and Translation, 1975, hal. 259). Dia menulis: “Pewahyuan Alkitab tidaklah absolut dan semua pewahyuan ilahi secara esensi bersifat inkarnasi. …Kata-katanya, dalam pengertian tertentu, tidaklah ada arti apa-apa dalam diri mereka sendiri….Kata-kata adalah kosong kecuali jika berhubungan dengan pengalaman” (Nida, Message and Mission, 1960, hal. 222-226). Ini adalah kesesatan Neo-ortodoks. Di seluruh Kitab Suci, adalah kata-kata Alkitab yang disebut sebagai penting, bukan hanya artinya. Tiga kali kita diberitahu bahwa “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari SETIAP FIRMAN yang keluar dari mulut Allah.” (Ul. 8:3; Mat. 4:4; Luk. 4:4). Nida berpendapat bahwa kisah-kisah tentang malaikat dan mujizat-mujizat tidak perlu ditafsirkan secara literal (Message and Mission, hal. 41). Dan dia menolak pengorbanan darah Yesus Kristus yang bersifat menggantikan (Theory and Practice, 1969, hal. 53), dia mengklaim bahwa darah Kristus dalam Roma 3:25 dan perikop-perikop lain adalah simbol dari kematian karena kekerasan (A Translator’s Handbook on Paul’s Letter to the Romans), sementara Roma 5:8-10 mengajar kita bahwa keselamatan memerlukan BAIK darah MAUPUN kematian Kristus. Darah dibutuhkan untuk pendamaian (Im. 17:11; Ibr. 9:22). 100 tahun terakhir ini, bidang penerjemahan Alkitab telah terkorupkan secara mendalam. Kita telah mendokumentasikan ini daam buku The Modern Version Hall of Shame, yang dapat dibeli di Way of Life Literature.

Posted in Alkitab | Leave a comment

John Piper – Theologi Reformed Dan Penyembahan Kharismatik

(Berita Mingguan GITS 3 September 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Dalam sebuah kunjungan riset ke sebuah kebaktian di Bethlehem Baptist Church yang dipimpin oleh John Piper di Minneapolis tahun ini, saya kembali teringat akan hari-hari kharismatik saya! Khotbah yang disampaikan bertheologi Reformed, tetapi musiknya adalah mistikisme rock & roll kharismatik. Dalam beberapa tahun belakangan saya juga telah mengunjungi Saddleback Church di Willowcreek, sebuah Calvary Chapel, sebuah Vineyard Church, beberapa gereja Southern Baptist, kebaktian-kebaktian Roma Katolik, sebuah konferensi Baptis yang liberal, sebuah konferensi kharismatik, dan sebuah konferensi emerging church. Satu hal yang semua kebaktian ini miliki bersama adalah musik rock dan kebaktian yang berpusat pada pengalaman emosional. Ini adalah salah satu aspek yang paling berkuasa dalam gerakan ekumene dan dengan efektif menarik semua tipe gereja bersama. Salah satu tema besar dari penyembahan kontemporer adalah kesatuan ekumenis, “tubuh Kristus ” dan “kita adalah satu.” Ini adalah tema yang muncul dalam penyembahan kontemporer seperti di gereja Piper. Musik membawa sebuah gereja dan anggota-anggotanya untuk berasosiasi dengan ekumenis-ekumenis yang paling radikal, seperti Darlene Zschech dari Hillsong (yang melakukan performans untuk Roman Catholic World Youth Day dan sangat suka bahwa musik kontemporer menyatukan Katolik, Anglikan, dan kharismatik), Jack Hayford (yang mengatakan bahwa Allah memberitahu dia agar tidak menghakimi gereja Katolik), Graham Kendrick (salah satu pendiri dari March for Jesus), Chris Tomlin (yang bersukacita bahwa musik kontemporer sedang menyatukan “konservatif dan kharismatik), dan Stewart Townend (yang mau membawa gereja-gereja konservatif untuk bersekutu dengan “gereja yang lebih luas”). Seorang gembala sidang Baptis fundamental yang baru-baru ini menulis untuk mengritik apa yang dia sebut “pelayanan peringatan” saya mengatakan bahwa musik adalah semata-mata masalah gereja lokal dan bahwa hanya gembala sidang sebuah gereja lokal yang berhak untuk memberi peringatan tentang musik gereja tersebut. Rupanya ia berpikir bahwa 2 Timotius 4:2; Titus 2:15; 1 Petrus 4:11; dan Yudas 3 hanya ditulis kepada gembala-gembala sidang dan hanya beraplikasi kepada satu gembala sidang dan satu gereja. Dia juga berpikir bahwa setiap gembala sidang cukup diperlengkapi untuk berurusan dengan isu musik dan tidak memerlukan pertolongan. Pandangan ini terdengar seperti pendirian Diotrefes!

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Bekerja Sama Dengan Kesalahan Menghancurkan Kekuatan Untuk Melawan Kesalahan Tersebut

(Berita Mingguan GITS 27 Agustus 2011, sumber: www.wayoflife.org)
Beberapa orang bertanya kepad saya, mengapa “si itu” dan “si dia” tidak berbicara lantang melawan kesalahan dan kompromi yang sudah sedemikian jelas. Saya rasa Charles Spurgeon, gembala sidan dari Metropolitan Tabernacle di London, Inggris, telah dengan tepat mengenai inti dari masalahnya 100 tahun yang lalu. Walaupun dia salah dimengerti dan salah digambarkan oleh bahkan saudaranya sendiri dan banyak mantan muridnya, Spurgeon tidak berbalik dari keputusannya untuk separasi dari Baptist Union di Inggris karena doktrin-doktrin sesat yang diperbolehkan di organisasi itu. Dia mengatakan: “IKUT SERTA DALAM KESALAHAN AKAN MEMBUAT ORANG YANG PALING BAIK SEKALIPUN MENJADI TIDAK BERKUASA UNTUK MEMPROTES KESALAHAN ITU. Adalah keyakinan kami yang mendalam bahwa di mana tidak bisa ada persekutuan rohani yang sejati, maka janganlah ada persekutuan apapun. Persekutuan dengan kesalahan vital yang sudah jelas diketahui adalah berpartisipasi dalam dosa. Sesegara mungkin setelah saya melihat, atau mengira saya melihat, bahwa kesalahan telah dengan kuat tercacak, saya tidak lagi menimbang-nimbang, tetapi meninggalkan badan itu seketika. Sejak saat itu, nasihat saya adalah ‘keluarlah dari antara mereka.’ Saya merasa bahwa tidak ada protes yang dapat menyamai kuasa separasi yang jelas dari kesalahan yang nyata. Agar saya tidak menodai kesaksian saya, SAYA TELAH MEMUTUSKAN DIRI SAYA TERPISAH DARI MEREKA YANG MENYIMPANG DARI IMAN, BAHKAN DARI ORANG-ORANG YANG BERASOSIASI DENGAN MEREKA.” Posisi ini hari ini dicemooh sebagai “separasi tingkat kedua,” tetapi sebenarnya ini adalah ketaatan kepada Firman Allah (2 Tes. 3:6) dan ini adalah jalur hikmat, karena “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33).

Posted in Fundamentalisme, New Evangelical (Injili) | Leave a comment