Dewan Gereja-Gereja Sedunia: Main Mata dengan Penyembahan Berhala

Sumber: www.wayoflife.org

Dewan Gereja Dunia atau World Council of Churches (WCC) adalah persatuan ekumenis internasional yang terdiri dari sekitar 350 denominasi di 120 negara yang mewakili lebih dari 500 juta orang yang mengaku Kristen (termasuk jutaan orang yang hanya memiliki kesaksian Kristen bahwa mereka dibaptis saat bayi). Dewan ini merupakan bagian utama dari “gereja” global yang sesat di akhir zaman.

Karakternya yang tidak bertuhan terlihat jelas pada Sidang Umum Keenam di Vancouver, British Columbia, pada bulan Juli 1983, yang dihadiri oleh lebih dari 4.000 orang. Dalam upacara pembukaan, suku Indian kafir Amerika Utara diundang untuk membangun altar dan menyalakan “api suci.” Mereka melemparkan persembahan ikan dan tembakau ke dalam api untuk dewa-dewa alam mereka dan menari mengelilingi altar. Lilin-lilin yang digunakan dalam kebaktian di konferensi ini dinyalakan dari api pagan yang terus menyala di seluruh Sidang. Sebuah Pondok Keringat Indian Pribumi, yang digunakan dalam ritual ‘penyucian’ kafir mereka, juga ditampilkan; dan salah satu kebaktian malam menghadirkan tarian, pujian, nyanyian dan pemukulan drum Indian Asli (Foundation, Vol. IV, Edisi III, 1983).

Ada pembacaan dari kitab suci Hindu, Buddha, dan Muslim. Dalam laporan Sekretaris Jenderal kepada Sidang, Philip Potter mengatakan bahwa adalah kehendak Tuhan “untuk menyatukan semua bangsa dalam keragaman mereka menjadi satu rumah.” Pauline Webb, yang bertugas di komite eksekutif WCC, menyambut para pengunjung dari “agama lain” dan berkata, “Mari kita bertemu sebagai orang-orang yang tidak memiliki apa pun untuk dipertahankan dan segalanya untuk dibagikan.” Dewan Dunia tidak memiliki apa pun untuk dipertahankan karena tidak memiliki kebenaran.

Dirk Mulder, moderator program dialog antaragama WCC, mengatakan bahwa ia “tidak percaya orang akan terhilang selamanya jika mereka tidak diinjili.” M.H. Reynolds, mendiang editor majalah Foundation, menghadiri Sidang Raya tersebut dengan kredensial pers. Dalam sebuah wawancara dengan Mulder, ia bertanya, “Apakah menurut Anda seorang Buddha atau Hindu dapat diselamatkan tanpa percaya kepada Kristus?” Jawabannya adalah, “Tentu, tentu!” (Foundation, Ibid.). Sidang Raya WCC tahun 1983 juga menampilkan tarian kafir oleh seorang perempuan Hindu dari India Selatan. Tarian tersebut merupakan “tarian Bharathanatyam klasik” yang dipersembahkan kepada “dewi bumi” Hindu.

Posted in Ekumenisme, Gereja | Leave a comment

Tiga Prinsip Alkitab yang Dilanggar oleh Celana pada Wanita

Sumber: www.wayoflife.org

Celana pada perempuan di masyarakat Barat modern melanggar tiga prinsip Alkitab yang jelas:

Pertama, celana pada perempuan meruntuhkan perbedaan gender. Para perancang busana dunia membuat celana sebagai suatu mode unisex. Setelan celana diciptakan oleh perancang busana homoseksual Yves Saint Laurent pada tahun 1966. Ia dijuluki “pria yang membuat perempuan mengenakan celana panjang” (“Celebrating Yves Saint Laurent,” Daily Mail, 2 Juni 2008). Gaya yang dia ciptakan itu digambarkan sebagai “menantang,” “tidak sopan,” “berani,” dan “androgini” (“How Yves Saint Laurent Revolutionized Women’s Fashion,” Business Insider, 8 Agustus 2011). Para model mempopulerkan mode tersebut dengan tampil dengan “rambut disisir ke belakang dan postur maskulin.” Feminis Linda Grant mengamati bahwa setelan celana “menempatkan wanita pada pijakan busana yang setara dengan pria” dan “adalah sumbangsih dunia fashion bagi feminisme” (“Feminism Was Built on the Trouser Suit,” The Guardian, 3 Juni 2008).

Kedua, celana pada wanita sering tidak senonoh secara seksual, menonjolkan bentuk tubuh wanita dengan cara yang sensual. Celana ketat diciptakan oleh Calvin Klein, seorang perancang busana biseksual. Ketika celananya muncul pada tahun 1974, terjual 200.000 pasang dalam minggu pertama (“Calvin Klein: A Stylish Obsession,” Entrepreneur, 10 Oktober 2008). Celana ketat yang dikenakan sebagai celana (legging) diciptakan oleh perancang busana homoseksual Gianni Versace.

Ketiga, celana pada wanita bertentangan dengan kesopanan. “Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana…” (1 Tim. 2:9). Di sini kita melihat bahwa elemen dasar dari pakaian yang kristiani adalah karakter batin, takut akan Tuhan, kekudusan, kerendahan hati, feminitas saleh. “Sopan” di ayat ini adalah kata Yunani aidos, yang “memiliki gagasan tentang mata yang tertunduk” dan berarti “rasa malu, yaitu (terhadap pria) atau (terhadap Tuhan) kagum” (Strong). Kata ini menyiratkan “menjauhi pelanggaran terhadap batas-batas kesopanan” (William Hendrickson). Rasa malu adalah kebalikan dari sikap kurang ajar, pongah, sembrono, dan tidak patuh yang dunia coba ajarkan kepada wanita saat ini. Konsep sopan atau merasakan malu itu sendiri diolok-olok. Bayangkan membaca 1 Timotius 2:9 di depan umum di mana pun dalam masyarakat modern (misalnya, di mal, pertandingan sepak bola, konser rock, forum sekolah negeri, bahkan dari mimbar sebagian besar gereja).

Posted in Fashion, Wanita | Leave a comment

Gereja Esa-Sedunia Melanjutkan Pergerakannya yang Berbahaya

Sumber: www.wayoflife.org

Berikut ini kutipan dari “Raja Charles III dan Ratu Camilla berdoa bersama Paus Leo dalam langkah bersejarah bagi gereja-gereja,” The Washington Times, 23 Oktober 2025: “Raja Charles III dan Ratu Camilla dari Inggris berdoa pada hari Kamis bersama Paus Leo XIV dalam kunjungan bersejarah ke Vatikan untuk menjalin hubungan yang lebih erat antara Gereja Inggris dan Gereja Katolik, sebuah jeda spiritual yang disambut baik oleh para bangsawan itu untuk keluar dari kemelut di dalam negeri yang terjadi karena skandal seks Epstein.
Charles, yang merupakan kepala Gereja Inggris berdasarkan titel, beserta Camilla duduk di singgasana emas yang ditinggikan di altar Kapel Sistina, di depan lukisan fresco ‘Penghakiman Terakhir’ karya Michelangelo, sementara Leo dan Uskup Agung York dari Gereja Anglikan memimpin sebuah kebaktian ekumenis. Acara ini menandai pertama kalinya sejak Reformasi, para pemimpin kedua gereja Kristen tersebut, yang telah terpecah selama berabad-abad karena isu-isu yang kini mencakup penahbisan imam perempuan, berdoa bersama. …

Umat Anglikan memisahkan diri dari Gereja Katolik pada tahun 1534 ketika Raja Inggris Henry VIII ditolak pembatalan pernikahannya. Meskipun para paus selama beberapa dekade telah menjalin hubungan hangat dengan Gereja Inggris dan Komuni Anglikan yang lebih luas dalam perjalanan menuju persatuan yang lebih besar, kedua gereja tersebut masih terpecah. …

Kamis sore, Charles juga akan secara resmi menerima gelar dan pengakuan baru di sebuah basilika kepausan yang memiliki ikatan tradisional yang kuat dengan Gereja Inggris, St. Paul’s Outside the Walls. Gelar ‘Royal Confrater’ [kolega, kawan] merupakan tanda persekutuan rohani dan dibalas oleh Charles: Leo diberi gelar ‘Papal Confrater of St George’s Chapel, Windsor Castle.’ Di basilika tersebut, Charles akan diberikan kursi khusus yang dihiasi dengan lambang pribadinya, bertuliskan seruan Latin ‘Ut Unum Sint’ (Agar mereka menjadi satu), mantra persatuan Kristen. Kursi tersebut akan tetap berada di basilika itu untuk digunakan oleh Charles dan ahli warisnya, kata para pejabat.

Posted in Gereja, Katolik | Leave a comment

Paus, Sang Manusia Dongeng

Sumber: www.wayoflife.org

Nubuat tentang kesesatan dalam kekristenan yang palsu, yang tercatat dalam 2 Timotius, menekankan tentang dongeng, dan Paus Katolik Roma adalah tokoh dongeng utamanya. “Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng” (2 Tim. 4:4). Dongeng terbaru yang diadopsi oleh Paus adalah dongeng tentang pemanasan global akibat ulah manusia. Pada 1 Oktober, Paus Leo memberkati bongkahan es yang mencair saat beliau berpartisipasi dalam konferensi Raising Hope for Climate Justice di Castel Gandolfo. Siaran pers tersebut mengatakan bahwa acara tersebut merupakan “tanda urgensi krisis iklim, yang ditandai dengan harapan yang dibawa melalui berkat Paus.”

Leo mengikuti jejak Paus Fransiskus, yang pada tahun 2015 menerbitkan Laudato Si, “yang menekankan urgensi krisis iklim dan perlunya tindakan global yang cepat dan terpadu.” Mudah bagi para paus untuk mempercayai dongeng. Mereka digambarkan dalam 2 Timotius 3:13 sebagai “menyesatkan dan disesatkan.”

Kepausan itu sendiri adalah dongeng raksasa (misalnya, bahwa paus adalah: Penerus Pemimpin Para Rasul, duduk di takhta Petrus dan memiliki kunci Petrus, Vikaris Kristus, Pontiff Tertinggi, Pontifex Maximus, Summus Pontifex, Bapa Suci, Yang Mulia). Maria dalam versi Roma adalah sebuah dongeng (misalnya, doktrin tentang Maria: Dikandung Tanpa Noda, Keperawanan Abadi, Diangkat ke Surga, Pembela, Dermawan, Pelindung, Rekan Penebus, Mediatrix segala rahmat, Bunda Maria dari Para Malaikat, Hawa Kedua, Ratu Damai, Ratu Surga, berbagai penampakan Maria). Dongeng kepausan lainnya termasuk doktrin Suksesi Apostolik, Transubstansiasi, Kehadiran Nyata, Pengurapan Terakhir, Pengakuan Dosa kepada imam, Penance, Indulgensi, Baptisan Bayi, Baptis untuk Regenerasi, Dewan Kardinal, Perantaraan Orang Kudus, Infalibilitas Ex Cathedra, Semper Eadem (selalu sama), Rosario, Skapulir, Donasi Konstantinus (dikatakan sebagai penipuan terbesar dalam sejarah), Dekretal Isidore, Api Penyucian, Salib Sejati, Stigmata, Pemujaan terhadap Relik, dan Perbendaharaan Jasa.

Siapa pun yang bergandengan tangan dengan Gereja Katolik Roma dan memperlakukan Paus sebagai apa pun selain seorang yang tersesat, penipu, dan penghujat berada dalam ketidaktaatan terbuka terhadap Firman Tuhan. Ini termasuk sebagian besar pemimpin injili dan musikus Kristen kontemporer. Lihat Roma 16:17; 2 Korintus 6:14-18; 2 Timotius 3:5; 2 Yohanes 1:9-11.

Posted in Katolik | Leave a comment

Musikus Kontemporer Mengakui Dia Meniru Dunia

Sumber: www.wayoflife.org

Forrest Frank, musikus Kristen kontemporer yang populer, bersaksi di Instagram baru-baru ini bahwa ia meniru dunia. “Sebagai orang Kristen, sulit untuk mengetahui di mana garis perbatasan antara berada di dunia tetapi tidak dari dunia. Dan sebagai seniman Kristen, Anda tahu, saya berpakaian seperti dunia. Saya terlihat seperti dunia. Musik saya bisa terdengar seperti dunia.” Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa dia tidak akan lagi menerima penghargaan atau menghadiri upacara penghargaan, seperti Dove atau Grammy, karena dia “tidak akan menerima trofi untuk sesuatu yang berasal dari Yesus dan untuk Yesus.” Dia perlu bersikap lebih jauh dari itu.

Seperti yang dia akui, segala sesuatu tentang musik Kristen kontemporer bersifat duniawi. Musik itu duniawi dalam penampilan dan suara. Kitab Suci menjawab pertanyaan, Di manakah batas antara berada di dunia dan bukan dari dunia? Yaitu tidak menjadi serupa dengan hal-hal jahat dunia, keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup (1 Yohanes 2:15-17). Semua hal itu yang harus dijauhi itu justru adalah definisi sempurna dari budaya pop yang kotor. Fashion dunia dirancang oleh para pemberontak. Fashion dunia itu unisex, tidak sopan, narsis, dan berantakan. “Suara” musik pop—irama latar yang tak henti-hentinya, urutan akord yang tak tuntas, senandung dan bisikan yang terengah-engah, teknik scooping dan sliding, teknik vokal fry atau popcorning—diciptakan untuk menyatakan gaya hidup hidup sesuka hati. Sensualitas meresapi setiap aspek musik. Penyanyi pop memelintir suara mereka dan menyelip naik turun di sekitar nada karena mereka telah menolak kebenaran mutlak. Sadar atau tidak, gaya bernyanyi mereka mencerminkan filosofi relativisme moral yang meresapi musik pop modern.

Sejak awal mulanya, musik pop (misalnya, ragtime, boogy woogy, blues, jazz, rock) telah menjadi suara dansa sensual, suara bar, suara tempat judi, dan suara pesta duniawi. Musik pop adalah kebalikan dari suara yang kudus, sakral, dan rohani (Ef. 5:18-19; Kol. 3:16). Musik sakral tidak cocok untuk bar, dan musik bar tidak cocok untuk rumah Tuhan. Para musikus Kristen kontemporer akan bertanggung jawab kepada Tuhan karena telah menyesuaikan diri dengan dunia dan mempengaruhi orang Kristen yang mengaku menuju keduniawian. Musik Kristen Kontemporer merupakan elemen utama dari kemurtadan akhir zaman, yaitu Kekristenan yang “hidup menurut hawa nafsumu” (2 Timotius 4:3-4).

Posted in musik, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Ekumenisme dan Alkitab

Sumber: www.wayoflife.org

Kita sedang menyaksikan perpaduan dan peleburan yang luar biasa dalam Kekristenan. Persatuan adalah seruan zaman ini. Ada seruan untuk “meruntuhkan tembok-tembok.” Prinsip dan semangat ekumenis semakin dominan di mana-mana, tetapi itu adalah semangat pemberontakan yang bertentangan dengan Alkitab.

Pertama, gerakan ekumenis memiliki pandangan yang tidak alkitabiah tentang doktrin.
Kata “doktrin” muncul lima puluh enam kali dalam Alkitab bahasa Inggris (KJV). Ciri pertama gereja di Yerusalem adalah “bertekun dalam pengajaran para rasul” (Kis. 2:42). Iman yang benar, satu-satunya kumpulan kebenaran doktrinal yang sejati, diberikan kepada para rasul dan nabi melalui ilham ilahi dan diabadikan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Doktrin itu ditulis, dikanonisasi, dan dilestarikan. Doktrin itu “telah disampaikan satu kali kepada orang-orang kudus” (Yudas 1:3). Iman yang sempurna itu dimeteraikan dengan peringatan keras di pasal terakhir (Wahyu 22:18-19). Sejak saat itu, gereja-gereja harus memelihara doktrin yang sama. Mereka harus memperjuangkannya (Yudas 1:3).

Paulus mengajar Timotius untuk sungguh-sungguh memperhatikan doktrin yang sehat. Dalam 1 Timotius, Paulus menyebutkan doktrin dan pengajaran sebanyak 18 kali. Ia memulai suratnya dengan menasihati Timotius untuk tidak membiarkan doktrin lain (1 Timotius 1:3). Itu adalah posisi yang paling tegas. Timotius harus memperhatikan doktrin (1 Timotius 4:13). Ia harus memperhatikan doktrin dan bertekun di dalamnya (1 Timotius 4:16). Ia harus memisahkan diri dari pihak-pihak tertentu berdasarkan doktrin (1 Tim. 6:3-5). Ia harus menjaga doktrin itu tanpa cacat (1 Tim. 6:20).

Kebanyakan perpecahan di antara orang Kristen bersifat doktrinal. Mengapa gereja Episkopal berbeda dari gereja Baptis? Doktrinnya berbeda. Pertimbangkan doktrin baptisan. Satu denominasi mengajarkan bahwa baptisan adalah kelahiran baru; yang lain, bahwa baptisan bersifat simbolis. (“Dalam air baptisan, kita dengan penuh kasih diadopsi oleh Allah ke dalam keluarga Allah, yang kita sebut Gereja, dan diberikan hidup Allah itu sendiri” (episcopalchurch.org). Yang satu membaptis bayi; yang lain hanya membaptis orang percaya. (“Bayi sedang dibersihkan dari dosa asal,” The Episcopal Dictionary). Yang satu menuangkan; yang lain membenamkan.

Salah satu nama Roh Allah adalah “Roh Kebenaran” (Yoh. 14:17; 15:26; 16:13; 1 Yoh. 4:6). Ketika Roh datang dalam kuasa-Nya yang menyelamatkan dan menguduskan, Dia selalu datang dengan Kebenaran. Dia tidak pernah mengajarkan ajaran sesat. Mustahil untuk menganggap serius instruksi Alkitab tentang doktrin dan pada saat yang sama bersikap ekumenis.

Kedua, gerakan ekumenis mengabaikan peringatan Alkitab tentang kesesatan.
Kristus dan para rasul mengajarkan bahwa Kekristenan palsu akan semakin meningkat sepanjang zaman gereja dan akan berkuasa di mana-mana pada akhir zaman. Mereka yang mengkhotbahkan persatuan ekumenis mengabaikan kebenaran ini. Mereka tidak memperingatkan tentang kesesatan. Mereka tidak mengidentifikasi kesesatan.
Kesesatan dinubuatkan dalam perumpamaan Kristus tentang misteri kerajaan (Mat. 13:10-11, 24-25, 33). Perumpamaan-perumpamaan ini mengajarkan bahwa Iblis akan menabur Kekristenan palsu ke dalam dunia, dan itu akan berkembang biak seperti ragi “sampai seluruhnya khamir.” Ini berarti Kekristenan palsu akan bertumbuh selama berabad-abad, akan menyebar ke seluruh bumi, dan akan menjadi bentuk Kekristenan yang dominan.

Continue reading

Posted in Ekumenisme | Leave a comment

Kaum Homoseksual Berpartisipasi Dalam Yubileum Vatikan

Sumber: www.wayoflife.org

Pada tanggal 5-6 September, sekelompok homoseksual berpartisipasi secara terbuka dalam Yubileum Vatikan, yang dirayakan setiap 25 tahun dan ditandai dengan masuk ke “Pintu-Pintu Suci” Basilika Santo Petrus dan basilika lainnya. Memasuki pintu-pintu tersebut, yang biasanya tertutup, dianggap sebagai sakramen keselamatan (“Ziarah Yubileum LGBTQ+ menandai babak baru bagi Gereja Katolik,” GMA News Online, 7 September 2025).

Lebih dari 1.300 homoseksual dan pendukung mereka, termasuk para pastor dan biarawati, “memasuki Basilika Santo Petrus sambil membawa salib pelangi dan mengenakan kemeja bergambar hati pelangi” (“Umat Katolik ini baru saja menjadi komunitas LGBTQ+ pertama yang berpartisipasi,” Advocate, 8 September 2025). Ziarah ini diselenggarakan oleh La Tenda di Gionata (Tenda Jonathan), “sebuah asosiasi Italia untuk umat Kristen LGBTQ+.” Mereka menyebutnya “simbol visibilitas dan harapan” dan “kesempatan unik untuk bersatu dan menjadi saksi keindahan Gereja yang merangkul semua orang tanpa terkecuali.” Uskup Francesco Savino, yang memimpin misa selama Yubileum, mengatakan, “Kita perlu menyingkirkan prasangka. Tak seorang pun boleh merasa dikucilkan. Saya tegaskan, tak seorang pun boleh merasa dikucilkan.”

Posted in Katolik, LGBT | Leave a comment

Rencana Perdamaian Trump untuk Timur Tengah

Sumber: www.wayoflife.org

Pada tanggal 29 September, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan dalam konferensi pers bersama “Rencana Komprehensif untuk Mengakhiri Konflik Gaza.” Trump berkata, “Gaza memang salah satunya, tetapi kita berbicara tentang lebih dari sekadar Gaza. Kita berbicara tentang keseluruhan, semuanya terselesaikan. Yang dimaksud adalah perdamaian di Timur Tengah.”

John Hinderaker merangkum rencana tersebut sebagai berikut: “Perang berakhir; pasukan Israel mulai ditarik; para sandera, baik yang hidup maupun yang tewas, akan dipulangkan dalam waktu 72 jam; Israel akan membebaskan lebih banyak teroris Hamas dan tahanan lainnya; bantuan akan dikirim ke Gaza; anggota Hamas yang meletakkan senjata akan menerima amnesti; akan ada rencana pembangunan ekonomi untuk Gaza. … Gaza akan dikuasai, untuk sementara, oleh sebuah ‘komite Palestina yang teknokratis dan apolitis,’ yang diawasi oleh ‘badan transisi internasional baru, yaitu Dewan Perdamaian,’ yang akan dipimpin oleh Donald J. Trump. Tony Blair juga akan menjadi anggota badan ini. Seiring pasukan Israel ditarik, ketertibandi Gaza akan dijaga oleh suatu ‘Pasukan Stabilisasi Internasional’ yang bersifat sementara yang akan dibentuk oleh ‘negara-negara Arab dan mitra internasional’” (“Perdamaian di Zaman Kita?” PowerLine, 29 September 2025).

Trump membanggakan kemampuannya membuat kesepakatan dan menginginkan Hadiah Nobel Perdamaian, tetapi ia tidak memiliki kekuatan untuk membawa perdamaian ke Timur Tengah atau dunia pada umumnya. Firman Tuhan memberi tahu kita dengan tepat apa yang akan terjadi. Nubuat-nubuat Alkitab tentang kedatangan Kristus yang pertama telah digenapi dengan tepat, dan nubuat-nubuat tentang kedatangan-Nya yang kedua akan digenapi dengan cara yang sama. Dunia tidak akan memiliki kedamaian sampai kedatangan kembali sang Raja Damai dan berdirinya kerajaan Kristus. Sebelum itu, hari Tuhan akan membawa kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan” (1 Tesalonika 5:3).

Israel tidak akan memiliki kedamaian sampai mereka bertobat dan berbalik kepada Allah mereka serta menerima Yesus sebagai Mesias mereka. Israel akan tertipu oleh manusia durhaka itu, sang Antikristus, yang akan muncul sebagai raja perdamaian yang agung yang akan membuat Trump dan setiap pembuat kesepakatan sejarah lainnya tampak seperti amatir yang menyedihkan. Antikristus akan menandatangani perjanjian damai dengan Israel dan memungkinkan pembangunan Bait Suci Ketiga, tetapi ia akan melanggar perjanjian itu setelah tiga setengah tahun dan akan menempatkan dirinya di Bait Suci dan menuntut penyembahan global dengan ancaman hukuman mati.

“…haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, 4 yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah” (2 Tesalonika 2:3-4).

“Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, 17 dan tidak seorangpun yang dapat membeli atau menjual selain dari pada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya” (Wahyu 13:16-17).

Dalam konferensi pers, Trump memuji Presiden Erdogan dari Turki dan menganggapnya sebagai bagian dari proses perdamaian, tetapi Erdogan secara gamblang dan terbuka menyatakan dukungannya terhadap Hamas, menyebut mereka sebagai kelompok pembebasan, dan menuduh Israel melakukan pembunuhan massal, genosida, berpenyakit mental, dan menduduki secara ilegal daerah “Palestina” (“Erdogan Turki,” Reuters, 25 Oktober 2023). Negara-negara Muslim di sekitar Israel akan menjadi buluh yang menusuk tangan mereka seperti Mesir di zaman dahulu (2 Raj. 18:21). Waktunya sudah hampir habis dan tawaran Injil akan segera berakhir. Tuan Trump, Tuan Netanyahu, dan setiap orang yang belum lahir baru perlu dilahirkan kembali melalui “bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus” (Kis. 20:21) sebelum terlambat.

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Israel | Leave a comment

Beberapa Pemikiran tentang Pembunuhan Charlie Kirk

Sumber: www.wayoflife.org

Oleh: Dr. David Cloud

Charlie Kirk, pendiri dan presiden Turning Point USA dan Turning Point Faith, influencer muda, pemersatu agama, dan aktivis politik konservatif, dibunuh saat berbicara di sebuah forum luar ruangan yang besar di Utah Valley University pada 10 September. Kematiannya telah menghasilkan curahan perhatian besar-besaran, baik negatif maupun positif. Jenazahnya diangkut dari Utah dengan Air Force Two ditemani oleh Wakil Presiden J.D. Vance. Dewan Perwakilan Rakyat AS mengeluarkan resolusi untuk menghormati Kirk. Bendera Amerika dikibarkan setengah tiang di seluruh negeri. Sebuah upacara peringatan di State Farm Stadium di Glendale, Arizona, menarik 100.000 orang dan dihadiri oleh Presiden AS Donald Trump dan pejabat pemerintah lainnya. Berikut beberapa pemikiran tentang hal ini:

Kita sangat berduka atas pembunuhan Kirk. Suaranya yang tenang, penuh kasih, konservatif, dan pemersatu, dibungkam oleh seorang pria yang tertipu oleh suatu agenda jahat. Kirk adalah seorang pemuda yang luar biasa.

Kita diingatkan akan kebobrokan karakter moral Amerika. Hal ini terbukti dari pembunuhan keji itu sendiri, serta banyaknya suara yang mendukung pembunuhan tersebut (termasuk sejumlah besar pria dan wanita di militer). Tidak ada yang dapat dilakukan Presiden Trump yang akan mengubah karakter moral Amerika yang buruk atau melindungi bangsa ini dari penghakiman Tuhan. “Orang-orang fasik akan kembali ke dunia orang mati, ya, segala bangsa yang melupakan Allah.” (Mazmur 9:18).

Charlie Kirk tidak mengkhotbahkan kebencian. Di antara para penentangnya, terutama mereka yang bersukacita atas kematiannya, banyak yang menyatakan bahwa ia mengkhotbahkan kebencian. Seorang siswa berkata, “Banyak teman saya hari itu seperti, ‘Yah, saya merasa senang Charlie Kirk meninggal, tapi saya juga merasa bersalah karena merasa seperti itu.’ Saya pikir banyak dari itu hanyalah karena dia menyebarkan begitu banyak kebencian, misinformasi, mendorong kekerasan, jadi saya pikir dalam skenario ini, banyak orang tidak senang dia meninggal tetapi senang suaranya dibungkam” (“Happy That His Voice Was Silenced,” Washington Times, 23 September 2025). Ini adalah pemikiran yang salah dan berbahaya. Berpegang teguh pada pernikahan tradisional, pada pandangan Alkitab tentang laki-laki dan perempuan, pada kebebasan berbicara dan kebebasan beragama, pada hukum dan ketertiban, pada hak amandemen kedua, bukanlah kebencian. Mereka yang berpikir seperti ini telah dicuci otak dan tertipu.

Continue reading

Posted in Amerika Serikat, Ekumenisme, General (Umum) | Leave a comment

Bapa dan Putra dalam Mazmur

Berikut ini kutipan dari “Mastering the English Bible: Old Testament”, sebuah kursus survei Alkitab, tafsir satu jilid, dan Buku Pegangan Alkitab, www.wayoflife.org

Beberapa Mazmur berisi percakapan yang menakjubkan antara Allah Bapa dan Putra. Di sini kita melihat doktrin Tritunggal. Kita melihat bahwa Allah memiliki Putra, dan Putra adalah Yang Diurapi (Kristus). Kita melihat Putra disapa oleh Allah sebagai Allah, bahkan sebagai Yehovah. Kita melihat bahwa Putra adalah Sang Pencipta. Kita melihat bahwa Putra akan duduk di sebelah kanan Allah di surga. Kita melihat bahwa Putra akan memerintah atas kerajaan Allah selamanya.

Mazmur 2
– Ayat 1-3 menggambarkan pemberontakan dunia di akhir zaman melawan Allah dan Yang Diurapi-Nya, yaitu Kristus. Yang Diurapi diidentifikasikan sebagai Putra. Bandingkan ayat 2 dengan ayat 7 dan ayat 12.
– Ayat 7-9 adalah firman Bapa kepada Putra untuk menaklukkan bangsa-bangsa dan memerintah mereka. “Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.”

Mazmur 45
– Dari Ibrani 1:8-9, yang mengutip Mazmur 45:7-8, kita tahu bahwa Mazmur 45 adalah kisah Bapa yang berbicara langsung kepada Anak. Bapa menyapa Anak sebagai Allah (ayat 7).
– Bapa menyapa Anak sebagai raja (ayat 2), sebagai orang yang paling elok (ayat 3), sebagai orang yang ucapannya penuh kasih karunia (ayat 3), sebagai orang yang diberkati Allah selamanya (ayat 3). Dia memerintahkan Anak untuk maju dalam keagungan dan kemenangan atas orang fasik (ayat 4-6). Ia menggambarkan kerajaan kekal Putra yang penuh kebenaran dan sukacita (ayat 7-8). Ia menggambarkan pemerintahan Putra yang mulia: kebenaran (ayat 7), keadilan (ayat 8), sukacita (ayat 8), istana, wewangian, dan pakaian (ayat 9, 10), permaisuri (ayat 11, 12), para pemohon dan pemohon dari bangsa-bangsa lain (ayat 13), anak-anak yang semuanya adalah orang-orang yang ditebus oleh Kristus (ayat 17), pujian kekal (ayat 18).

Continue reading

Posted in Theologi | Leave a comment