C. H. Spurgeon dan 1 Timotius 2:4

(Berita Mingguan GITS 20 Januari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

“Yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1 Tim. 2:4). C.H. Spurgeon menyebut dirinya sendiri seorang Kalvinis, dan kita tidak meragukan bahwa dia seorang Kalvinis, tetapi dia adalah tipe Kalvinis yang unik sendiri. Dia tidak disukai oleh para Kalvinis yang lebih kuat di zamannya, karena dia menyerukan supaya semua orang diselamatkan (lihat buku Spurgeon vs. the Hyper-Calvinism oleh Iain Murray.) Spurgeon menafsirkan 1 Timotius 2:4 secara literal dan tidak berusaha untuk menghilangkan maknanya lewat penjelasan yang rumit berdasarkan theologi Kalvinis. Dia mengkhotbahkan, “Akankah kita mencoba untuk menaruh makna lain dalam teks ini selain dari yang tercantum secara jelas? Saya katakan tidak. Pastilah, kebanyakan kalian, mengenal metode yang dipakai oleh teman-teman Kalvinis kita yang lebih tua untuk menghadapi teks ini. ‘Semua orang’ kata mereka, yaitu maksudnya ‘sebagian orang’; ‘semua orang,’ kata mereka, yaitu ‘sebagian dari semua jenis orang.’ Roh Kudus melalui sang Rasul telah menulis ‘semua orang,’ dan tanpa diragukan Dia memaksudkan semua orang. … Saya baru saya membaca ekposisi dari seorang doktor yang sangat mumpuni yang menjelaskan teks ini sehingga meniadakan maknanya; dia menaruh bubuk mesiu grammatis ke atasnya, dan meledakkanya dengan cara meneranginya. … Kecintaan saya pada konsistensi pandangan doktrin pribadi saya, tidak cukup besar untuk mengizinkan saya secara sadar mengubah satu teks Kitab Suci mana pun. Saya lebih senang seratus kali terlihat tidak konsisten dengan diri saya sendiri daripada tidak konsisten dengan Firman Allah. … Kiranya Allah menghindarkan saya dari memotong atau mengubah, sekecil apapun, ekpresi ilahi mana pun. Jadi teks sudah berbunyi demikian, dan demikianlah harus kita pahami, ‘Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran’” (C.H. Spurgeon, “Salvation by Knowing the Truth,” Park Street and Metropolitan Tabernacle Pulpit). Gereja Metropolitan Tabernacle, pada zaman Charles Spurgeon, adalah organisasi dengan usaha penginjilan yang besar. Ribuan orang diselamatkan, dengan bukti hidup-hidup yang berubah (sebagai didokumentasikan dalam Wonders of Grace: Original testimonies of converts during Spurgeon’s early years). Gereja itu mengoperasikan 27 Sekolah Minggu dan Sekolah untuk anak-anak tidak mampu, dengan sekitar 600an guru yang melayani lebih dari 8.000 anak-anak.

Posted in Kalvinisme | 12 Comments

Bono Mengatakan Paulus Salah

(Berita Mingguan GITS 6 Januari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Bono, pemimpin dari rock band U2, menyatakan pandangannya tentang Alkitab dalam sebuah wawancara baru-baru ini sebagai berikut: “Orang yang menulis hal terbaik mengenai kasih dalam era Kristen adalah Paulus dari Tarsus, yang menjadi Santo Paulus. Dia adalah seorang yang hebat. Dia adalah seorang yang super-intelektual, tetapi dia keras, dan tentu saja dia memiliki pengalaman Damsyik itu. …Nah, tentu saja pengalaman itu tidak menyembuhkan dia dari segala sesuatu, mengenai apa yang dia pikirkan tentang wanita dan orang-orang gay dan hal-hal lain lagi, tetapi dalam konteksnya, dia memiliki pandangan yang luar biasa transenden mengenai kasih” (“Bono: The Rolling Stone Interview” with Jann Wenner, 27 Des. 2017).

Jadi, menurut Bono, rasul Paulus perlu disembuhkan dari pandangannya mengenai wanita dan orang-orang gay dan hal-hal lain lagi. Tidak diragukan lagi, seorang modern yang super-cool seperti Bono dapat meluruskan Paulus yang malang dan tersesat itu. U2 bukan hanya sekedar sebuah rock band yang populer. U2 dan Bono sering dipuji-puji, hampir secara universal, di antara orang Kristen kontemporer dan duniawi. Bono telah dipuji oleh Eugene Peterson, penulis dari The Message, Brian McLaren, Tony Campolo, Bill Hybels, Rick Warren, Rob Bell, dan banyak lagi yang lain. Christianity Today hampir bisa dikatakan memuja U2. Tetapi Kristusnya Bono bukanlah Kristus dalam Alkitab dan gaya hidup rock & roll dia adalah serangan terhadap kekudusan yang alkitabiah, yang dia sendiri akui.

Editor: Banyak sekali orang yang kacau dalam pandangan mereka tentang Alkitab. Ketika Rasul Paulus, atau Petrus, atau Yohanes, atau siapapun penulis Alkitab lainnya, menulis surat-surat atau kitab-kitab dalam Alkitab, mereka bukan hanya memberikan pendapat pribadi mereka. Tulisan mereka diilhami oleh Tuhan sendiri (2 Tim. 3:16), sehingga bukan hanya pendapat pribadi, tetapi adalah pengajaran dari Tuhan. Banyak orang, yang demi isu-isu yang mereka mau pertahankan, misal masalah wanita, masalah gay, dan lain-lain, malah berargumen bahwa Paulus melakukan kesalahan ketika menulis tentang hal-hal ini. Sebenarnya pandangan demikian adalah serangan Iblis terhadap otoritas Alkitab, dan orang Kristen yang mau menggunakan argumen seperti itu dipakai Iblis untuk menyerang Alkitab.

Posted in Alkitab, Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Michael W. Smith Terus Menyerukan Persatuan Ekumenis

(Berita Mingguan GITS 6 Januari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Salah satu bahaya besar menggunakan musik “penyembahan” kontemporer adalah bahwa musik tersebut membangun jembatan kepada gereja esa-sedunia. Sepanjang pengetahuan saya, 100% dari musisi “penyembahan” kontemporer yang terkenal, adalah ekumenis radikal, termasuk Stuart Townend dan keluarga Getty. Mereka memiliki asosiasi yang tidak kritis dengan orang-orang “Kristen” dari segala golongan, termasuk Roma Katolik. Bagi mereka, “separasi” hampir adalah suatu kata kotor. Michael W. Smith adalah salah satu nama yang paling prominen dan berpengaruh dalam penyembahan kontemporer, dan dia terus menyerukan persatuan ekumenis. Tujuan dari album live-nya yang baru, Surrounded, adalah “untuk menyatukan ekspresi-ekspresi Gereja yang beragam, menjadi satu seruan penyembahan yang berapi-api dan penuh sukacita.” Dia mengatakan, “Saya merasakan Allah bergerak melalui GerejaNya dan Dia sedang memanggil kita bersama untuk menjadi satu suara dan satu hati. Satu mempelai. Setiap bangsa, setiap suku dan setiap bahasa. Setiap kelas sosial, SETIAP DENOMINASI” (“Michael W. Smith Releases Two Albums,” louderthanthemusic.com, Des. 2017).

Tidak mungkin untuk merekonsiliasi peringatan-peringatan Alkitab yang jelas dan keras mengenai pengajaran yang menyimpang dan kesesatan (misal Roma 16:17; 2 Korintus 6:14-18; 11:1-4, 14-15; 1 Timotius 1:3; 4:1-5; 2 Timotius 3:5; 4:3-4; 1 Yohanes 4:1; Yudas 3; Wahyu 2:14-16) dengan seruan dari musik penyembahan kontemporer untuk persatuan ekumenis. Bagi orang-orang yang mengasihi Alkitab, menafsirkannya secara literal, dan memegangnya sebagai satu-satunya otoritas final bagi iman dan praktek, jelas bahwa suara yang didengar oleh Michael W. Smith bukanlah dari Allah. “Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci” (Maz. 119:128). Gereja-gereja yang percaya Alkitab, tetapi yang bermain-main dengan musik Kristen kontemporer, dan tidak dengan baik mengedukasi jemaatnya tentang isu-isu ini, sedang bermain api secara rohani, tetapi kebanyakan gembala sidang sangat tidak memahami hal-hal ini.

Posted in Ekumenisme, musik | Leave a comment

Evolusionis Menarik Kembali Suatu Studi Kunci Mengenai Asal Muasal Kehidupan

(Berita Mingguan GITS 6 Januari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Evolutionist Retracts,” Christian Headlines, 22 Des. 2017: “Seorang ilmuwan sekuler yang mencoba untuk menjelaskan asal muasal kehidupan telah membuat suatu pengakuan yang berani yang mendukung argumen-argumen melawan evolusi Darwinian. Jack Szostak dari Harvard University menerbitkan sebuah karya ilmiah pada tahun 2016 dalam jurnal Nature Chemistry, yang mengklaim bahwa dia dan kolega-koleganya telah menemukan cara untuk membuat molekul RNA mereplikasi diri sendiri. Para evolusionis Darwinian percaya bahwa RNA, yaitu asam nukleotid yang hadir dalam semua sel hidup, adalah bagian dari molekul-molekul pertama yang terbentuk di Bumi, dan yang akhirnya menimbulkan makhluk hidup. Tetapi supaya hal demikian dapat terjadi, RNA harus dengan suatu cara dapat mereproduksi dirinya sendiri tanpa enzim-enzim yang diperlukan yang belum berevolusi. Szostak mengklaim bahwa ia telah memfasilitasi kemampuan reproduksi diri RNA di laboratorium dia, tetapi di awal bulan ini, dia mengatakan bahwa salah satu koleganya, Tivoli Olsen, menyadari bahwa mereka telah salah menginterpretasikan data, saat dia tidak mampu mengulangi hasil eksperimen yang orisinal. ‘Mengilas balik, kami sama sekali dibutakan oleh kepercayaan kami [akan penemuan kami] . . . kami tidak cukup hati-hati ataupun ketat sebagaimana seharusnya (seperti yang dilakukan Tivoli) dalam menafsirkan eksperimen-eksperimen ini,’ demikian kata Szostak kepada Retraction Watch.

Dalam bukunya, Signature in the Cell, tahun 2009, Stephen Meyer dari Discovery Institute mencatat betapa tidak adekuatnya usaha untuk memakai RNA untuk menjelaskan bagaimana kehidupan dapat secara spontan muncul di bumi. Ketidakmampuan itu masih terus membayangi dan menekan pada evolusionis hari ini. ‘Sambil saya menginvestigasi berbagai model yang mengkombinasikan keacakan dan keharusan, saya telah menemukan rasa gagal dan frustrasi yang semakin meningkat di antara para ilmuwan yang bekerja dalam topik asal muasal kehidupan,’ demikian tulis Meyer, sambil mereferensikan karya Szostak yang awal tentang subjek ini.” [Catatan akhir: Sama sekali tidak ada bukti ilmiah bahwa kehidupan mulai dari benda mati atau bahwa kehidupan tingkat tinggi berevolusi dari kehidupan yang lebih rendah. Bahkan faktanya, hal seperti ini bertentangan dengan semua fakta ilmiah yang diketahui manusia. Mempertahankan evolusi Darwinian selalu harus memakai pengalihan isu.]

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Penganiayaan oleh Kaum Protestan (bagian 2)

KAUM BAPTIS DIANIAYA PADA ZAMAN RATU ELIZABETH I

Ratu Elizabeth I mengambil alih takhta dari Ratu Mary yang berhaluan Roma Katolik, dan Elizabeth menyetir Gereja Inggris ke atas dasar yang lebih Protestan.

1. Walaupun Elizabeth memberikan kebebasan kepada kaum Protestan dan memperlakukan kaum Katolik dengan toleran (walaupun mereka terus menerus berkomplot melawan tahktanya dan bahkan nyawanya), dia memperlakukan kaum Baptis dengan keras.

2. Kaum Baptis bertambah banyak di Inggris dan tersebar di banyak bagian negeri itu. Langley, dalam bukunya English Baptists, sebelum tahun 1602, menyebut gereja-gereja di sembilan wilayah county yang berasal dari sekitar 1576 hingga 1600. Jemaat-jemaat ini tumbuh dari pemberitaan Injil orang Inggris asli yang telah berlangsung untuk waktu yang lama. Mereka juga mulai ber-emigrasi dari Belanda, dan Perancis, dan tempat-tempat lain, dengan harapan bahwa Ratu Protestan di Inggris akan memberikan mereka lebih banyak kebebasan daripada negara asal mereka.

3. Didukung oleh para uskup Gereja Inggris, dalam hitungan bulan dia naik takhta, Elizabeth mengeluarkan sebuah proklamasi bahwa kaum Anabaptis harus ditemukan dan ditransportasi keluar dari Inggris, dan jika mereka tidak pergi, mereka akan dihukum. Dia mengatakan bahwa kaum Anabaptis “terjangkit oleh pendapat-pendapat yang berbahaya.”

Pada 4 Februari 1559, High Commision Court (sejenis Pengadilan Tinggi) dibentuk oleh Parlemen. Sang Ratu mengeluarkan larangan untuk mengkhotbahkan doktrin apapun yang bertentangan dengan Gereja Inggris. Dia melarang penerbitan buku “sesat” manapun. Dia juga memulai “pembesukan kerajaan,” yaitu perwakilan Raja/Ratu akan mengelilingi negara dalam satu putaran, dengan kuasa untuk mencari semua penyesat.

Pada akhir tahun 1559, Undang-Undang Keseragaman Agama diberlakukan. Undang-undang ini membuat doktrin dan praktek Gereja Inggris menjadi hukum bagi negeri itu.

 

4. Pada Juni 1575, dua orang Anabaptis Belanda dibakar hingga mati di Smithfield. Awalnya sebelas orang dihukum bakar setelah sebuah pengadilan dewan gereja di Katedral St. Paul, tetapi sembilan orang lainnya akhirnya diusir saja.

Salah satu yang dibakar adalah HENDRICK TERWOOKT. Dia adalah seorang muda, sekitar 25 tahun, yang baru saja menikah beberapa minggu. Dia telah lari ke Inggris untuk menghindari penganiayaan di Fleming, dengan anggapan bahwa Ratu Elizabeth yang Protestan akan lebih berbelas kasihan.

Orang yang satu lagi, JAN PIETERS, adalah seorang yang lebih tua, dengan seorang istri dan sembilan anak yang bergantung pada hasil kerjanya. Istrinya yang pertama telah dimartir di Flanders, dan istrinya yang sekarang adalah janda seorang martir. Sekarang wanita itu menjadi janda seorang martir untuk kedua kalinya.

Surat pemutusan kematian bagi kedua orang tersebut, yang dikeluarkan oleh sang Ratu Protestan, hampir sama persis dengan yang dikeluarkan oleh Ratu Katolik, Mary.

“Sang Ratu tidak mau mengalah. Pada tanggal 15 Juli, dia menandatangani surat eksekusi untuk dua orang dari antara mereka, memerintahkan para sheriff London untuk membakar mereka hidup-hidup di Smithfield. Sebuah salinan surat tersebut saat ini ada di hadapan saya. Juga ada di hadapan saya sebuah salinan surat pembakaran Uskup Agung Cranmer dari zaman Ratu Mary. Kedua surat ini secara substansi sangat mirip. Bahkan, mereka memakai gaya bahasa yang hampir sama, kata demi kata. Mary, sang pemuja Paus, mematikan sang Protestan, dan Elizabeth, sang Protestan, memerintahkan pembunuhan sang Baptis, menggunakan alasan-alasan yang sama dan memakai bentuk tulisan yang sama. Keduanya menyebut korban-korban mereka sebagai “penyesat.” Keduanya mengasumsikan diri ‘berjuang demi keadilan.’ Keduanya adalah ‘pembela iman yang Katolik’ (Editor: universal maksudnya). Keduanya mendeklarasikan keteguhan mereka untuk ‘mempertahankan dan membela gereja yang kudus, hak-hak dan kebebasan gereja itu.’ Keduanya menegaskan kegigihan mereka untuk ‘mencabut dan membinasakan kesesatan dan kesalahan.’ Keduanya menyatakan bahwa para penyesat yang disebut dalam surat telah diadili dan dijatuhi hukuman ‘sesuai dengan hukum-hukum dan kebiasaan-kebiasaan negeri.’ Keduanya memerintahkan para sheriff untuk membawa orang-orang tahanan mereka ke ‘tempat yang publik dan terbuka,’ dan di sana untuk ‘menyerahkan mereka ke dalam api,’ di hadapan orang-orang, dan untuk membuatkan mereka ‘sungguh terbakar’ dalam api yang disebut di atas. Keduanya memperingatkan para sheriff akan bahaya bagi mereka jika mereka gagal” (John Cramp, Baptist History, 1852).

 

Sang ratu tidak memiliki alasan untuk mengklaim bahwa orang-orang ini berbahaya bagi takhtanya. Mereka telah menyerahkan kepada sang ratu pernyataan iman berikut:

“Kami percaya dan mengakui bahwa para magistrasi (hakim-hakim) telah ditetapkan oleh Allah, untuk menghukum kejahatan dan melindungi yang baik; dan magistrasi itu hendak kami taati dari hati kami, sebagaimana tertulis dalam 1 Petrus 2:13, ‘Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia.’ ‘Karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang’ (Roma 13:4). Dan Paulus mengajari kita untuk menaikkan ‘permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan’ (1 Tim. 2:1-4). Lebih lanjut lagi dia mengajarkan kita untuk ‘tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik’ (Titus 3:1). Jadi, kami memohon kepada paduka yang mulia, untuk dengan baik memahami maksud kami; yaitu, bahwa kami tidak merendahkan sang ratu yang eminen, terhormat dan penuh kurnia, dan juga dewannya yang bijak, tetapi kami menganggap mereka pantas untuk segala kehormatan, dan kepada mereka kami mau taat dalam segala hal yang dapat kami perbuat. Sebab kami mengaku, sama seperti Paulus di atas, bahwa sang ratu adalah hamba Allah, dan bahwa jika kami menolak kuasa ini, kami menolak perintah Allah; sebab ‘pemerintah bukanlah musuh kebaikan, tetapi musuh kejahatan.’ Jadi kami mengakui berada di bawah dia, dan siap untuk memberikan, penghargaan, pajak, hormat, dan rasa takut, sebagaimana Kristus sendiri telah mengajar kita, dengan berkata, ‘Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah’ (Mat. 22:21). Jadi, karena Ratu adalah hamba Allah, kami dengan lembut memohon kepadanya yang mulia, agar ia berkenan untuk menyatakan belas kasihan kepada kami tahanan-tahanan yang menderita, sama seperti Bapa kita di sorga juga penuh belas kasihan (Luk. 6:36). Kami dengan cara yang sama tidak setuju dengan orang-orang yang menentang magistrasi; tetapi mengakui dan mendeklarasikan dengan seluruh hati bahwa kami taat dan berada di bawah mereka, sebagaimana kami tulis di sini” (Von Braght, Martyr’s Mirror, hal. 929).

5. Pada tahun 1593, dua pelayan puritan, Copping dan Thacker, digantung karena mengajarkan yang tidak sesuai (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. xxx).

6. Sekitar waktu kekalahan armada Spanyol pada tahun 1588, Elizabeth menunjuk John Whitgift sebagai Uskup Agung Canterbury. Dalam semangatnya untuk membuat semua orang tunduk kepada Gereja Inggris, dia memenuhi penjara dengan kaum Baptis. “…pada akhirnya, sekitar lima puluh dua ditahan untuk periode waktu yang lama dalam ‘liang-liang penjara yang paling buruk dan kotor,’ tanpa tempat tidur atau bahkan jerami untuk berbaring.” Dalam khotbahnya, Whitgift menyebut kaum Anabaptis “orang-orang yang melenceng dan sombong.” Ada yang melarikan diri dari negeri, tetapi banyak yang tetap tinggal dan dianiaya.

 

7. Penganiayaan secara umum memaksa kaum Baptis untuk menghilangkan diri dari pandangan umum semasa pemerintahan Elizabeth, tetapi kita tahu bahwa mereka terus eksis. Sejarahwan Strype menggambarkan sebuah gereja di London pada tahun 1588 dengan pandangan “anabaptis.” Dia berkata bahwa mereka berkumpul secara rutin pada hari Minggu, mengkhotbahkan Firman Allah, mengambil persembahan, mengirimkan bantuan kepada saudara-saudari mereka yang dianiaya dalam penjara, tidak menganggap gereja Inggris sebagai gereja yang sejati, menolak baptisan bayi, dan berpendapat bahwa negara tidak seharusnya mencampuri masalah kepercayaan iman.

 

KAUM BAPTIS DIANIAYA SELAMA MASA RAJA JAMES I

Ketika Elizabeth meninggal, James I (1603-25) naik ke atas takhta Inggris. Dia adalah raja yang mengotorisasi penerjemahan maha karya Kitab Suci Inggris itu, Alkitab King James, yang muncul pada tahun 1611.

1. Dia juga menganiaya kaum Baptis dengan berapi-api. Mereka dipenjarakan, barang-barang mereka disita, dan satu orang dibakar.

2. Orang terakhir yang dibakar hidup-hidup di Inggris oleh karena iman kepercayaannya adalah EDWARD WIGHTMAN, seorang Baptis, di Smithfield pada tanggal 11 April 1612, di bawah pemerintahan James I. (Satu bulan sebelumnya, Bartholomew Legate juga telah dibakar. Dikatakan bahwa ia adalah seorang Arian, yang berarti dia menyangkali keilahian Kristus). Ada banyak jenis “kesesatan” yang dituduhkan pada Wightman, tetapi sebagaimana Thomas Crosby, penulis dari The History of the English Baptists (1738) mengobservasi: “Banyak dari kesesatan yang mereka tuduhkan padanya adalah hal yang sedemikian konyol dan tidak konsisten, sehingga membatalkan apa yang mereka katakan. Jika ia sungguh berpegang pada kepercayaan seperti itu, pastinya ia seorang idiot atau seorang gila, dan mestinya didoakan dan dibantu, daripada dimatikan dengan sedemikian kejam” (Crosby, I, hal. 108). Tiga hal yang karenanya Wightman dibakar adalah sebagai berikut: ‘Bahwa pembaptisan bayi adalah suatu kebiasaan yang keji: Bahwa Perjamuan Tuhan dan Baptisan tidak seharusnya dirayakan sebagaimana sekarang ini dipraktekkan dalam gereja Inggris: Bahwa kekristenan tidak sepenuhnya diakui dan diberitakan di gereja Inggris, melainkan hanya sebagiannya saja.” Mengenai ketiga hal ini, saya setuju dan berdiri teguh bersama dengan sang martir Baptis kuno ini! Adalah fakta yang menarik bahwa baik martir pertama maupun martir terakhir yang dibakar di Inggris karena agamanya adalah orang Baptis. “Yang pertama yang dimatikan dengan cara yang kejam ini di Inggris adalah William Sawtre, katanya karena dapat dibuktikan ia menolak baptisan bayi; dan lalu orang ini, yang terakhir yang mendapat kehormatan merasakan kemartiran seperti ini, juga secara tegas dikecam karena pendapat yang sama: sehingga sektenya mendapat kehormatan untuk membuka jalan, sekaligus menjadi penutup dari semua martir yang dibakar hidup-hidup di Inggris” (Crosby, I, hal. 109).

3. Orang-orang lain ada yang mati selama pemerintahan James I, tetapi bukan dengan cara pembakaran. Mereka mati dalam penjara. Ini bukan karena kebaikan hati sang raja, tetapi karena teriakan protes publik melawan pembakaran. Sejarahwan Thomas Fuller mencatat, “Raja James, karena alasan politik, lebih suka agar setelah ini para penyesat, walaupun sudah dijatuhi hukuman, lebih baik dengan senyap dan tersendiri habis dalam penjara, daripada mendapat kehormatan, sekaligus menjadi tontonan publik, untuk menghadapi eksekusi publik, yang menurut penilaian populer mirip dengan penganiayaan” (Fuller, The Church History of Britain). Thomas Crosby setuju: “Raja James memilih agar di masa depan, hanya untuk menyita rumah dan tanah mereka, dan menghabiskan kehidupan mereka secara tersembunyi di penjara-penjara yang kotor, daripada memberi mereka kehormatan kemartiran publik, yang tidak terhindarkan akan disebut sebagai penganiayaan” (The History of the English Baptists, I, hal. 110).

4. Pada tahun 1610, kaum Baptis mengajukan petisi ke House of Lords, untuk dilepaskan dari penjara, tempat mereka ditahan karena hati nurani.

Mendekat kepada sidang dengan rendah hati dan lembut, petisi Baptis tersebut mengandung kata-kata menyentuh berikut: “Sebuah permohonan yang rendah hati dari berbagai tahanan miskin, dan banyak lagi yang lain dari antara rakyat Raja yang pribumi dan setia, yang siap untuk bersaksi dengan sumpah kesetiaan dengan segala ketulusan, yang permasalahannya sungguh disayangkan, hanyalah karena masalah hati nurani.”
Petisi ini disimpan oleh Perpustakaan House of Lords, dan ditandai, “Telah dibaca dan ditolak.”

5. Sedikitnya enam orang yang terlibat dalam penerjemahan Alkitab King James berpartisipasi dalam penganiayaan terhadap kaum Baptis dan kaum separatis lainnya pada tahun 1590an.

Richard Bancroft, yang membuat instruksi untuk penerjemahan tersebut, telah bekerja secara erat dengan Uskup Agung Canterbury, Whitgift, “mencabut jemaat-jemaat Separatis di London” (Adam Nicholson, God’s Secretaries, hal. 86). Bancroft sangat agresif dalam aktivitas ini, mengirimkan berbagai mata-mata untuk mencari kaum separatis [Editor: separatis di sini bukan dalam pengertian politik, tetapi orang yang tidak mau bergabung dengan gereja Inggris]. Ketika Bancroft mengambil alih sebagai Uskup Agung Canterbury menggantikan Whitgift, dia meneruskan pekerjaan penganiayaan melawan semua kaum “non-conformist” [Editor: kaum yang tidak mau menurut].

Sangat menyedihkan bahwa Lancelot Andrewes terlibat dalam urusan yang parah ini. Dia bertanggung jawab untuk menginterogasi para separatis [Editor: bukan separatis negara, tetapi separatis dari Gereja resmi], di bawah Bancroft, dan dia turun secara pribadi ke “sel-sel yang buruk,” dalam usaha untuk menemukan kesesatan dalam diri korban-korban inkuisisi Anglikan tersebut. Dia menginterogasi Henry Barrow, seorang pemimpin separatis, pada bulan Maret 1590 di Penjara Fleet. Barlow memulai dengan menekankan bahwa satu-satunya standar yang dia pegang adalah Alkitab, bahwa “Kitab Allah seharusnya menentukan secara damai semua kontroversi kita.” Dia bersaksi, “Saya dengan rela menyerahkan seluruh iman saya untuk dicobai dan diadili oleh firman Allah.” Andrewes menjawab bahwa orang Kristen harus membiarkan “gereja” untuk menafsirkan Kitab Suci dan bahwa mereka tidak boleh menuntut hak untuk penafsiran pribadi, tidak boleh, meminjam istilah yang dia pakai, memiliki “roh pribadi.” Barrow mengeluh tentang pemenjaraan selama tiga tahun dan bahwa “kesendirian, hilangnya sensasi, kondisi lingkungan yang sangat buruk, telah membuat dia masuk ke dalam depresi yang mendalam” (Nicholson, hal. 91). Respons Andrewes terhadap permintaan yang penuh kesedihan ini, adalah sesuatu yang memalukan baginya. Dia berkata: “Untuk pemenjaraan ini, kamu paling berbahagia. Kehidupan yang sendirian dan penuh perenungan adalah kehidupan yang saya anggap paling bahagia. Itu adalah kehidupan yang saya sendiri akan pilih.” Barlow memahami betapa bodohnya pernyataan tersebut dan menjawab: “Anda berbicara secara filosofis, tetapi tidak secara Kristiani. Sedemikian manisnya harmoni kasih karunia Allah bagi saya dalam jemaat, dan juga dalam persekutuan orang-orang kudus dalam segala waktu, sehingga saya membayangkan diri saya seekor burung pipit di atap rumah ketika saya diusir sama sekali. Akankah anda juga bahagia, Mr. Andrewes, jika tidak mendapat olahraga dan udara segar sedemikian lama? Hal-hal ini juga penting untuk tubuh alamiah.” Andrewes sungguh telah menjawab secara filosofis, tetapi tidak secara Kristiani. Tidaklah Kristiani untuk menganiaya mereka yang percaya hal yang berbeda, untuk melemparkan mereka ke dalam sel-sel penjara dan untuk membakar mereka. Barrows dimatikan pada tanggal 6 April 1593, setelah enam tahun pemenjaraan, dan Andrewes berbicara dengan dia lagi pada malam kematiannya. Barrows dihukum mati karena “menyangkali otoritas para uskup, menyangkali kekudusan gereja Inggris dan liturginya dan menyangkali otoritas ratu atas gereja.”

Henry Saville juga terlibat dalam interogasi-interogasi ini. Dia menginterogasi Daniel Studley di Penjara Fleet.

Thomas Sparkes menginterogasi Roger Waters yang berusia 18 tahun, yang ditaruh dalam penjara selama setahun “dalam rantai-rantai dalam lubang-lubang paling bau di penjara Newgate, yang dikenal sebagai Limbo” (Nicholson, God’s Secretaries, hal. 88).

Thomas Ravis menggantikan Bancroft sebagai uskup London, dan melanjutkan jejak penganiayaannya. “Segera setelah ia naik ke posisinya di London, dia mengulurkan tangannya untuk mempersulit kaum Puritan yang tidak mau tunduk [pada gereja resmi]. Di antara lain, dia memanggil ke hadapannya, orang yang kudus dan diberkati itu, Richard Rogers, yang selama lima puluh tahun telah melayani dengan setia di Weathersfield, dang yang tentangnya diberikan kesaksian, ‘Tuhan tidak menganugerahi kepada orang lain lebih lagi dari pada dia, dalam hal pemenangan jiwa.’ Dalam hadirat orang yang hebat ini, yang karena kedekatannya pada Allah dijuluki Henokh zaman itu, Uskup Ravis memprotes, ‘Dengan bantuan Yesus, saya tidak akan membiarkan ada satu pengkhotbah pun dalam wilayah ini, yang tidak tunduk dan ikut.’ Namun petinggi gereja itu harus mengalami kekecewaan; karena dia mati, sebelum misinya itu dia mulai dengan sungguh, pada tanggal 14 Desember 1609” (Alexander McClure, The Translators Revived, 1855).

George Abbot, yang menjadi Uskup Agung Canterbury, adalah seorang penganiaya. “Dia tidak akan bertangguh, belakangan dalam karirnya, untuk menggunakan siksaan terhadap pada penjahat, dan untuk menghukum mati pada Separatis” (Nicholson, hal. 157).

6. Pada tahun 1615, kaum Baptis menyampaikan petisi kepada Raja James untuk kebebasan beragama. Mereka menyatakan doktrin mereka secara gamblang dan membuktikannya lewat Kitab Suci bahwa bukanlah kehendak Kristus bahwa orang-orang Kristen menganiaya mereka yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Hal ini juga ditolak.

7. Joseph Ivimey mengobservasi bahwa kaum Baptis “menderita amat sangat dari tahun 1590 hingga 1630.” Berikut ini adalah sebuah gambaran yang ditulis oleh seorang Baptis dalam tahanan:

“Kesengsaraan kami adalah pemenjaraan yang panjang dan berkelanjutan selama banyak tahun di berbagai county di Inggris, dan dalam semua itu banyak yang mati dan meninggalkan janda-janda dan anak-anak kecil; penyitaan barang-barang kami, dan hal-hal sejenis, yang sebenarnya dapat kami jelaskan dengan baik; bukan karena kurangnya kesetiaan kepada raja, atau untuk melukai manusia manapun, biarlah musuh-musuh kami dapat menjadi hakim; tetapi hanya karena kami tidak berani untuk menyetujui, dan mempraktekkan dalam penyembahan pada Allah, hal-hal yang sama sekali kami tidak imani, karena itu adalah dosa terhadap Yang Mahatinggi” (dari traktat “Permohonan yang Paling Rendah Hati dari Rakyat Raja yang Setia; yang dianiaya (hanya karena berbeda dalam hal agama), berlawanan dengan kesaksian ilahi dan manusia,” dikutip oleh John Cramp, Baptist History).

8. Sikap yang kejam dari banyak pelayan Anglikan terhadap kaum Baptis, terlihat dalam contoh pada tahun 1644, dengan penerbitan “THE DIPPERS DIPT; atau, Kaum Anabaptis Dicemplungkan dan Dibenamkan melewati Kepala dan Telinga dalam Perdebatan di Southwark.” Penulis Anglikan yanb berpengaruh, Daniel Featley, menggambarkan kaum Anabapstis di Vienna, diikat bersama dengan rantai, dan ditenggelamkan di sungai. Dia lalu mengobservasi dengan dingin, “Di sini anda melihat tangan Allah dalam menghukum anggota-anggota sekte ini untuk dosa-dosa mereka….” Berikut adalah contoh lain dalam publikasi tersebut:

“Dari semua penyesat dan pemecah belah, kaum Anabaptis harus diperhatikan paling seksama dan dihukum dengan berat, jika bukan dicabut sepenuhnya dan diusir dari gereja dan negara. … Mereka mengkhotbahkan, dan mencetak, dan mempraktekkan ketidakkudusan mereka yang sesat secara terbuka; mereka menggelar pertemuan mereka secara mingguan di kota-kota terbesar kita dan daerah-daerah sekitarnya, dan di sana mereka bergiliran bernubuat [Editor: dalam pengertian menyampaikan firman Tuhan di sini]. …Mereka bergerombol dalam jumlah besar ke sungai-sungai Yordan mereka, dan baik lelaki maupun wanita masuk ke dalam sungai, dan dicelupkan sesuai dengan cara mereka seolah di bawah sihir, yang berisikan paham-paham mereka yang salah. … Dan sambil mereka menajiskan sungai-sungai kita dengan pemandian mereka yang kotor, dan mimbar-mimbar kita dengan nubuat palsu mereka dan antusiasme mereka yang fanatik, demikianlah percetakan-percetakan mengeluh di bawah beban penghujatan mereka” (Featley, The Dippers Dipt).

 

 

KAUM BAPTIS DIANIAYA DI INGGRIS 1626-1689

Gereja Anglikan berlanjut menganiaya orang-orang yang berusaha untuk menyembah Tuhan secara independen, hingga hampir akhir abad 17.

1. Banyak pengkhotbah Baptis menderita hukuman penjara yang panjang selama abad 17 di Inggris.

Francis Bampfield mati di penjara setelah menghabiskan sembilan tahun hidupnya dalam rantai.

John Miller dipenjarakan selama sepuluh tahun.

Henry Forty menghabiskan dua belas tahun dalam penjara.

John Bunyan menulis Perjalanan Seorang Musafir-nya yang terkenal sementara mendekam di penjara selama 12 tahun yang panjang, tanpa dapat menunjang istrinya dan putrinya terkasih yang buta.

Joseph Wright terbaring di penjara Maidstone selama dua puluh tahun.

George Fownes mati di penjara Gloucester.

Samuel Howe mati di penjara pada tahun 1640 dan dikuburkan disamping sebuah jalan karena Gereja Inggris menolak untuk mengizinkan dia dikuburkan di tempat pemakaman.

Thomas Delaune dan keluarganya mati di Penjara Newgate yang penuh sengsara.

Delaune tumbuh besar dalam sebuah keluarga Roma Katolik di Irlandia, mendapatkan pendidikan yang bagus, dan dimenangkan kepada Kristus oleh seorang pengkhotbah Baptis. Dia pindah ke London dan menjadi seorang kepala sekolah dan adalah anggota sebuah gereja Baptis.

Benjamin Calamy, seorang rohaniwan yang melayani raja, menerbitkan sebuah khotbah yang menantang para non-conformist (orang-orang yang tidak mau ikut gereja resmi dari negara) untuk menuliskan doktrin dan ketidaksetujuan mereka terhadap Gereja Inggris. Delaune menjawab tantangan tersebut dan menuliskan “Plea for the Nonconformists” (Permohonan bagi Para Nonconformists). Ketika buku itu diterbitkan, segera disita oleh seorang utusan raja dan Delaune dipenjarakan.

Dari dalam penjara dia menulis kepada Calamy dan memintanya untuk mengintervensi baginya, tetapi orang itu tidak mau menolongnya atau bahkan menjawab surat Delaune.

Pada Januari 1684, Delaune didenda 100 mark, dan akan dipenjarakan hingga denda itu dibayar, untuk menjamin setahun ke depan, dan buku-bukunya harus dibakar. Karena kini dia tidak memiliki pekerjaan, dia tidak dapat membayar dendanya, dan dia beserta keluarga jatuh miskin. Istrinya dan dua orang anak yang masih kecil harus hidup bersama dia dalam penjara karena tidak adanya penghidupan, dan situasi yang tidak sehat di sana merenggut nyawa mereka satu per satu.

 

2. Orang-orang yang percaya Alkitab dianiaya secara kejam selama pemerintahan Raja Charles II (1660-1685) dan Raja James II (1685-1688).

 

3. “Undang-Undang Keseragaman” pada tahun 1662, membuat banyak orang dipukuli dan dipenjarakan.

Undang-undang Conventicle yang pertama, pada tahun 1664, melarang semua pertemuan agamawi yang tidak sejalan dengan Gereja Inggris. Hukuman-hukuman yang diancamkan antara lain denda yang berat dan pemenjaraan, dan bagi pelanggaran ketiga, pengusiran ke koloni Amerika selama tujuh tahun.

Undang-undang Five-Mile pada taun 1665 melarang para pengkhotbah non-conformist untuk masuk dalam radius lima mil ke kota atau desa apapun yang mengandung sebuah jemaat Gereja Inggris di dalamnya. UU ini juga melarang mereka untuk mengajar di sekolah umum ataupun pribadi mana pun. Hukuman untuk setiap pelanggaran adalah denda yang berat yang melampaui kemampuan kebanyakan orang.

Undang-undang Conventicle kedua pada tahun 1670 lebih parah lagi.

Selain pemenjaraan dan siksaan lainnya, juga akan ada denda berat bukan hanya atas semua pengkhotbah dan pengikut non-conformist, tetapi juga atas semua pemilik gedung yang dipakai untuk pertemuan-pertemuan non-conformist.

Denda-denda tersebut dibayar oleh penjualan harta milik orang-orang percaya, yang sering terjual dengan harga sangat rendah dibandingkan nilai sejati mereka. Karena sepertiga dari harga denda akan diberikan kepada informan, banyak orang termotivasi untuk melaporkan para separatis dari Gereja Inggris tersebut.

Banyak yang jatuh miskin melarat. Ayah-ayah yang mendekam dalam penjara tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong keluarga mereka yang miskin papa.

Antara tahun 1660 dan 1689, sekitar 70.000 lelaki dan wanita menderita di bawah penganiayaan agamawi di Inggris; 8.000 orang mati; dan puluhan juta dolar dibayarkan lewat denda.

 

4. Tangan panjang Gereja Anglikan juga menimbulkan penganiayaan kepada orang-orang yang percaya Alkitab di Amerika, sebelum kemerdekaan. Koloni Virginia adalah koloni Anglikan, dan pada tahun 1643, sang gubernur menjalankan penganiayaan terhadap orang-orang yang tidak sepaham. Banyak orang yang dicambuk, dicap besi panas, dipenjarakan, didenda, dan diusir dari koloni tersebut.

 

5. Akhirnya, pada tahun 1689, Undang-undang Toleransi dimunculkan di Inggris, yang mengurangi jauh tekanan pada semua penentang, memberikan kepada mereka kebebasan hati nurani dan menjadikan tindakan kriminal siapapun yang mengganggu tindakan agamawi orang lain. Jadi, barulah 155 tahun setelah pembentukannya, Gereja Inggris berhenti menganiaya.

 

PENGANIAYAAN OLEH KAUM PROTESTAN DI AMERIKA

Kaum Protestan yang tinggal di Amerika, walaupun sendirinya melarikan diri dari penganiayaan agamawi, ternyata sendirinya juga menganiaya kaum Baptis dan Quaker dan kaum-kaum lain yang berbeda dengan mereka, hingga sekitar waktu Kemerdekaan Amerika dan dibentuknya Konstitusi (semacam Undang-undang Dasar) Amerika. Kami akan memberikan dua contoh akan hal ini.

 

MASSACHUSETTS

1. Negara bagian Massachusetts didirikan oleh koloni para Pilgrim di Plymouth pada tahun 1620, dan oleh kaum Puritan dari Massachusetts Bay Colony di tahun 1630.

Para pilgrim adalah kaum separatis yang telah dipaksa untuk melarikan diri dari penganiayaan Gereja Inggris. Mereka menghabiskan waktu sejenak di Belanda, lalu berperjalanan dengan kapal ke Amerika. Sementara di Belanda, mereka menikmati sampai tahap tertentu kebebasan beragama, tetapi mereka tidak memberikan hak yang sama kepada orang-orang lain. Mereka mempraktekkan baptisan bayi dan mengutuki kaum Anabaptis.

Kaum Puritan adalah orang-orang Anglikan yang menginginkan semacam reformasi pada Gereja Inggris, tetapi yang tidak memisahkan diri dari Gereja Inggris tersebut. Mereka membawa bersama mereka dari Inggris, konsep yang salah tentang gereja negara dan semangat penganiayaan.

2. Berikut adalah beberapa contoh penganiayaan oleh kaum Prostestan dalam sejarah awal Massachusetts, sebelum terbentuknya negara Amerika:

 

ROGER WILLIAMS diusir dari Massachusetts pada tahun 1635.

Seorang terpelajar yang gigih, yang bisa membaca Alkitab dalam bahasa Yunani dan Ibrani, Williams tiba di Amerika dari Inggris, dengan istrinya yang belum lama dinikahi pada Februari 1631.

Dia adalah seorang hamba Tuhan Anglikan yang telah ditahbiskan, dan pada waktu ia tiba di Amerika, ia masih berpegang pada baptisan bayi.

Sementara tinggal di Plymouth, Williams berkhotbah kepada orang-orang Indian asli. Dia mempelajari bahasa mereka dan membuat banyak sahabat di antara mereka, termasuk dua orang kepala suku mereka.

Pada bulan Agustus 1634, dia ditunjuk sebagai gembala sidang dari jemaat Anglikan di Salem.

Tetapi pada 9 Oktober 1635, dia diusir dari koloni tersebut karena mengkhotbahkan “pendapat-pendapat yang baru dan berbahaya.” Dia diberikan waktu enam minggu untuk pergi, dan pada bulan Januari dia dipaksa ke padang belantara di tengah musim dingin New England (daerah itu secara umum disebut New England) yang brutal.

Orang-orang Indian membantu dia, dan pada bulan Juni, dia berperjalanan dengan kanoe ke Rhode Island dan mendirikan pemukiman yang disebut Providence.

Orang-orang lain bergabung dengan dia dari Massachusetts, dan tempat itu menjadi benteng kebebasan beragama. Mereka menyatakan tujuan mereka sebagai “membuat suatu eksperimen yang menarik, bahwa suatu pemerintahan sipil yang berkembang dapat berdiri dan dipertahankan dengan cara terbaik, melalui kebebasan penuh dalam hal beragama.”

Pada bulan Maret 1639, Roger William secara publik diselamkan dalam baptisan, dan gereja Baptis pertama di Rhode Island terbentuk. Ini secara umum dianggap gereja Baptis paling tua di Amerika.

Pada bulan Maret 1644, William mendapatkan surat resmi dari raja Inggris untuk mendirikan koloni Rhode Island.

Williams menulis “The Bloody Tenet of Persecution for Cause of Conscience,” dan di dalam tulisan ini dia dengan berani mempertahankan kebebasan hati nurani.

Walaupun berbagai fitnah ditujukan kepada Roger Williams oleh berbagai sejarahwan, banyak penulis Baptis yang terpelajar (dan orang-orang lain juga), telah mencatatkan peristiwa yang sebenarnya. Lihat buku-buku sejarah oleh Thomas Armitage dan David Benedict, sebagai contoh.

Pada tahun 1634, Lady Deborah Moody, yang memiliki sebuah lahan pertanian sebesar 400 acre, di kota Swampscott, dipaksa untuk pindah ke Long Island, New York, untuk tinggal di antara orang-orang Belanda, guna melarikan diri dari penganiayaan di Massachusetts. “Kejahatan”nya adalah bahwa dia menolak baptisan bayi.

Hukum pertama yang dibuat untuk melawan kaum Baptis di Amerika, dibuat di Massachusetts di November 1644. Undang-undang tersebut mengancamkan hukuman-hukuman berat melawan kaum Anabaptis. Pada tahun itu, Thomas Painter dicambuk karena menolak baptisan bayi.

Pada Februari 1646, William Witter dan John Wood dari Lynn, secara publik ditegor dan didenda karena menolak baptisan bayi. John Spur didenda pada Jlui 1651 untuk “kejahatan” yang sama.

Pada tahun 1651, beberapa orang Baptis ditangkap dan satu dicambuk dengan brutal di Massachusetts. Nama-nama mereka yang ditangkap adalah John Clark, Obadiah Holmes, dan John Crandal.

Mereka berasal dari sebuah gereja Baptis di Newport, Rhode Island, dan mereka sedang berkunjung ke rumah William Witter yang telah disebut di atas, seorang saudara Kristen yang sudah tua, di kota Lynn, Massachusetts. Pada waktu itu, tidak ada gereja Baptis di Massachusetts.

Pada hari Minggu, mereka mengadakan kebaktian rohani di rumah Witter; dan sementara Mr. Clark sedang berkhotbah dari teks Wahyu 3:10, dua polisi mendobrak masuk ke rumah itu, menangkap mereka, dan membawa mereka ke penjara di Boston.

Holmes dicambuk dengan 30 kali pukul dari cambuk bercabang tiga. Dalam sebuah surat kepada sebuah gereja Baptis di Inggris, Holmes menceritakan kembali kemurahan Tuhan yang menguatkan dia dalam pencobaan tersebut:

“… karena dalam kebenarannya, sambil cambukan demi cambukan jatuh pada diri saya, saya memiliki suatu manifestasi rohani kehadiran Allah yang sedemikian rupa, yang belum pernah saya miliki atau alami, dan yang tidak dapat diekspresikan oleh lidah daging, dan rasa sakit eksternal itu begitu jauh dari diri saya, sehingga sungguh saya tidak dapat memberitahukannya kepada kalian, itu mudah bagi saya, saya dapat menanggungnya dengan baik, ya, dan dengan suatu cara, saya tidak merasakannya, walaupun para penonton menggambarkannya sangat berat, orang itu memukul dengan segenap tenaganya (ya, meludah ke tangannya tiga kali, sebagaimana ditegaskan banyak orang), dengan cambuk bercabang tiga, memberikan kepada saya tiga puluh pukulan. Ketika di melepaskan saya dari tiang cambuk, dengan rasa sukacita dalam hati saya, dan keriangan dalam muka saya, sebagaimana diobservasi oleh para penonton, saya memberitahu para pejabat, kalian telah memukul saya, seperti dengan mawar….”

Walaupun dia bersaksi bahwa dia tidak menderita waktu dipukuli itu, dia menderita berat dari efek selanjutnya. Pencambukan itu sedemikian keras pada punggung, sisi, dan perutnya, sehingga Holmes tidak bisa berbaring selama berhari-hari selanjutnya.

Sekitar waktu itu, dua orang Baptis lainnya, John Hazel dan John Spur, dipenjarakan karena mereka mendukung dan menghibur Holmes setelah dia dicambuk.

Setelah gereja Baptis pertama akhirnya terbentuk di Massachusetts pada kira-kira tahun 1656, anggota-anggota gereja itu “menghabiskan kebanyakan waktu mereka di pengadilan dan penjara; mereka sering didenda, dan beberapa dari mereka diusir.” Gembala gereja ini, Thomas Gould, dipenjarakan karena imannya. Ketika gereja ini belakangan membangun sebuah gedung pertemuan, para otoritas sipil, pada tahun 1680, memaku tutup pintu-pintunya dan memerintahkan mereka untuk tidak bertemu.

Gereja Baptis yang kedua tidak terbentuk di Massachusetts hingga tahun 1749. Ini adalah di kota Sturbridge, dan banyak anggotanya yang dipenjara, didenda, dan disita hartanya.

Gereja Baptis lainnya terbentuk di tahun 1761, di kota Ashfield, dan diperlakukan dengan cara yang sama. Banyak anggota gereja yang seluruh tanah dan perkebunan anggur mereka disita.

3. Penganiayaan ini berlangsung terhadap banyak gereja Baptis lainnya yang didirikan pada zaman itu, dan hal ini tidak berakhir hingga Massachusetts menjadi sebuah koloni dari Amerika Serikat, dan membentuk Undang-undang Dasar Negara Bagian, pada tahun 1780. Melalui usaha kaum Baptis dan kaum-kaum lain yang mencintai kebebasan beragama, UUD Negara Bagian ini mengandung Jaminan Hak yang menjamin kebebasan beriman.

 

VIRGINIA

1. Yang pertama tinggal di Virginia, kebanyakan berasal dari Inggris, dan mereka mendirikan gereja-gereja Anglikan.

2. Melalui undang-undang tahun 1623, 1643, dan 1661, semua warga diharuskan untuk mengikuti agama dan doktrin tersebut.

3. Undang-undang Virginia, tahun 1659, 1662, dan 1663, mengharuskan semua anak untuk dibaptis dan juga melarang perkumpulan kaum Quakers dan penentang lainnya.

4. Hamba-hamba Tuhan didukung oleh pajak dari warga negara.

5. Berikut adalah contoh-contoh penganiayaan oleh kaum Prostestan di Virginia:

Pada 4 Juni 1768, beberapa orang Baptis ditangkap di Spottsylvania, dan dipenjarakan. Di antara mereka adalah John Waller, Lewis Craig, dan James Childs. Mereka mendekam hampir enam minggu di penjara.

Pada bulan Desember 1770, William Webber dan Joseph Anthony ditangkap dan dicampakkan ke dalam penjara karena berkhotbah di Chesterfield, Virginia. Mereka tetap dalam penjara hingga Maret 1771.

Webber sekali lagi ditangkap pada bulan Agustus, ketika ia berkhotbah di Middlesex. Juga ditangkap pada waktu itu adalah John Waller, James Greenwood, Robert Ware, dan Thomas Waford. Waller, Greenwood, Ware, dan Webber ditahan dalam penjara selama sebulan.

Thomas Waford dipukuli dengan berat dengan sebuah cambuk, dan membawa bekas luka hingga ke kubur.

Pada Agustus 1772, James Greenwood dan William Loveall ditangkap dan dipenjarakan di daerah King and Queen selama 16 hari.

Pada 13 Maret 1774, semua pengkhotbah Baptis di Piscataway ditangkap dan dikirim ke penjara. Mereka adalah John Waller, John Shackleford, dan Robert Ware.

Semuanya, sekitar 30 pengkhotbah Baptis pernah dipenjarakan di Virginia, ada yang sampai empat kali.

6. Semua penganiayaan ini berlanjut hingga Virginia masuk menjadi bagian dari Amerika Serikat.

7. Walaupun sema ini terjadi, gereja-gereja Baptis berkembang pesat di Virginia pada waktu itu. Gereja Baptis pertama terbentuk pada tahun 1767, dan yang kedua pada 1769. Dalam waktu empat tahun telah ada sekitar 50 gereja.

 

 

KESIMPULAN

Semua ini mengingatkan saya akan perumpamaan Tuhan tentang orang yang dihapuskan hutangnya. Dia berhutang pada tuannya 10.000 talenta perak, yang adalah jumlah uang yang besar, tetapi ketika dia tidak bisa membayarnya, dia memohon kepada tuannya untuk berbelas kasihan padanya, dan tuannya itu dengan bebas mengampuninya akan keseluruhan hutang itu. Namun, orang yang sama itu lalu berbalik, dan menganiaya orang lain yang berhutang padanya jumlah yang sangat kecil (Mat. 18:23-25).

Demikain juga, kaum Protestan dengan sungguh-sungguh mencari kebebasan beragama dari kaum Katolik. Ketika mereka mendapatkannya, mereka menolak untuk memberikan hal yang sama kepada kaum Baptis, walaupun kaum Baptis ini memohon kepada mereka dengan rendah hati dan mengutipkan Firman Tuhan dengan cara yang sangat logis dan saleh.

Sebagai contoh, ketika Hans Muller dihadapkan pada dewan kota Protestan, Zurich, karena penolakannya akan baptisan bayi, dia memohon dengan cara demikian: “Janganlah memaksakan hati nurani saya, karena iman adalah karunia Allah yang bebas, dan bukanlah milik bersama. Rahasia ilahi tersembunyi, seperti harta karun di ladang, yang tidak dapat ditemukan siapapun, kecuali dia yang ditunjukkan oleh Roh Kudus. Jadi saya memohon pada kalian, para hamba-hamba Allah, biarkanlah iman saya berdiri dengan bebas” (John Christian, A History of the Baptists). Permohonan Muller diabaikan, sama seperti puluhan ribu kaum Baptis lainnya pada zaman itu.

Berdasarkan otoritas Firman Tuhan, misalnya perumpamaan Tuhan, dan juga nada keseluruhan Kitab Suci Perjanjian Baru, kita bisa yakin bahwa Tuhan tidak menganggap enteng dosa besar ini, dan Dia tidak mengecilkannya seperti yang dilakukan oleh banyak sejarahwan Prostestan. Banyak yang memakai alasan “ketidaktahuan pada zaman itu,” tetapi orang-orang Prostestan yang menganiaya pada zaman itu memiliki Alkitab dan mengakui Alkitab sebagai satu-satunya otoritas atas iman dan praktek mereka. Jadi, mereka sama sekali tidak miliki alasan untuk tidak tahu kehendak Tuhan. Zaman-zaman itu memang gelap, tetapi kaum Baptis, dengan Alkitab yang sama di tangan mereka, melihat terang yang lebih besar, dan terang itu adalah iman Perjanjian Baru yang tidak terkotori oleh tradisi manusia, dan iman itu tidak memberikan otoritas kepada siapapun untuk menganiaya orang-orang yang tidak percaya hal-hal yang sama dengan kita. Kita bisa berkhotbah melawan kesalahan. Kita bisa mendisiplinkan anggota-anggota gereja yang berdosa. Kita bisa menolak kesesatan. Tetapi kita tidak boleh memukul mereka dengan tangan kita, dan memaksa mereka untuk percaya seperti kita percaya. Itu adalah sifat serigala, bukan sifat domba.

 

Posted in Penganiayaan / Persecution, Sejarah dan Doktrin Baptis | Leave a comment

Mencari Seorang Manusia Damai dan Penyelesai Masalah

(Berita Mingguan GITS 23 Desember 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam tradisi Yahudi, pembangunan Bait Ketiga diasosiasikan dengan kedatangan Mesias. Menurut Maimonides (Rambam), otoritas rabbinikal tertinggi, siapapun orang Yahudi yang memulai pembangunan Bait adalah potensi Mesias. Shimon ben Kosiba dianggap Mesias pada abad kedua Masehi ketika dia memimpin pemberontakan untuk menguasai Yerusalem kembali dan membangun ulang Bait. Dia dijuluki Bar Kokhba (“Anak Bintang”) didasarkan pada nubuatan Mesianik di Bilangan 24:17, dan sebuah koin dibuat yang menggambarkan Bait dengan tabut perjanjian di dalamnya dan bintang Mesias di atapnya. Melalui tradisi ini, mudah untuk melihat bagaimana Antikristus akan dianggap sebagai Mesias. Dalam sebuah wawancara di Yerusalem beberapa tahun lalu, seorang rabbi Yahudi Reformed memberitahu kami bahwa Mesias akan datang ketika kondisi terlihat sangat gelap, dan akan menegakkan perdamaian dan mendirikan Bait. Seorang perwakilan dari Temple Institute mengatakan hal yang sama: “Kami sedang menantikan seorang Mesias. Dalam tradisi Yahudi, kami percaya bahwa dalam setiap generasi ada seseorang yang bisa menjadi Mesias. Pertanyaannya adalah siapakah dia itu. Jawabannya hanyalah orang yang melakukan hal-hal spesifik yang dapat disebut Mesias. Orang yang membawa Israel kembali ke Israel. Orang yang mendirikan Bait kembali. Orang yang membuat Israel berjalan sesuai dengan perintah-perintah. Setelah itu, dia bisa disebut Mesias.” Ini adalah gambaran Mesias sebagai seorang penyelesai masalah yang ulung, dan persis seperti itulah Antikristus akan menampilkan dirinya sendiri. “And through his policy also he shall cause craft to prosper in his hand; and he shall magnify himself in his heart, and by peace shall destroy many: he shall also stand up against the Prince of princes; but he shall be broken without hand” (Dan. 8:25 KJV).

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Israel | Leave a comment

Bahaya Doktrinal dalam Zaman Internet

(Berita Mingguan GITS 23 Desember 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Internet adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, internet memungkinkan pengajaran Alkitab yang baik untuk disebarkan dalam jangkauan yang tidak mungkin sebelumnya, tetapi di sisi lain, internet memungkinkan para penyesat untuk menyebarkan pengajaran-pengajaran mereka kepada siapapun yang memiliki handphone. Banyak umat Tuhan yang telah tersandung oleh karena kurang berhikmat tentang bagaimana menggunakan sumber-sumber dalam internet. Persyaratan pertama untuk menggunakan sumber-sumber internet dengan aman adalah sudah diselamatkan dan memahami Alkitab dengan baik dan memiliki pengertian rohani yang tajam. Rata-rata orang Kristen yang “percaya Alkitab” ternyata sangat tidak siap untuk menghadapi bahaya-bahaya rohani yang bertebaran di berbagai sudut internet, atau di toko buku Kristen pada umumnya. Jika anda bukan seorang yang serius mempelajari Alkitab, dan memiliki pendidikan Alkitab yang baik dan secara serius menangkap esensi dari doktrin-doktrin Alkitab; jika anda “tidak memahami ajaran tentang kebenaran” dan tidak “terlatih untuk membedakan yang baik dari yang jahat” (Ibrani 5:12-14), anda bagaikan seorang bayi di tengah hutan. Anda akan dengan mudah “diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan” (Ef. 4:14). Untuk dapat memakai tulisan-tulisan atau artikel-artikel Kristen dengan efektif dan aman, anda harus menjadi terlatih dalam Firman Allah. Inilah yang saya putuskan untuk lakukan begitu saya diselamatkan 44 tahun yang lalu. Saya tahu bahwa saya pernah ditipu sebelum saya diselamatkan, dan saya tidak pernah mau ditipu lagi. Saya berpegang pada janji-janji seperti Yohanes 7:17 dan 8:31-32 dan bergerak untuk dengan rajin mempelajari Firman Allah. Persyaratan kedua untuk memakai sumber-sumber internet dengan aman adalah memiliki informasi dan sikap hati-hati terhadap penulis mana pun. Anda sebaiknya tahu siapa penulis tersebut dan apa yang dia percayai dan apa saja yang mungkin menjadi bias-bias-nya. Firman Allah memperingati kita untuk menjauh dari orang-orang yang tidak sehat. “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka!” (Rom. 16:17). Internet yang sama yang berisikan materi-materi yang berbahaya, juga memberikan perlindungan bagi yang bijak, karena sekarang ini cukup mudah untuk mendapatkan informasi dasar tentang seorang penulis. Tidak melakukan hal ini adalah kebodohan. Saya juga mau memberikan peringatan, bahwa jika sulit sekali untuk menemukan informasi tentang seorang penulis, misalnya kesaksian keselamatannya, afiliasi gerejanya, dan doktrin-doktrin yang dipercayainya, maka ini juga adalah suatu peringatan yang cukup keras. Sebelum saya mengizinkan seseorang yang mengajar saya tentang doktrin-doktrin Alkitab apapun, saya mau tahu hal-hal ini. Pelajar-pelajar Alkitab yang bijak tahu bahwa mereka adalah musafir di dunia yang gelap dan bahwa mereka memiliki musuh yang mau menipu mereka, dan mereka berjalan dengan penuh kehati-hatian. “Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya” (Ams. 14:15).

Editor: Oleh sebab itu, Graphe International Theological Seminary secara rutin mengadakan Block Class tiga doktrin utama, untuk memberikan dasar doktrin yang benar kepada orang Kristen. Yang terdekat adalah pada bulan Januari 2018 ini. Jangan lewatkan kesempatan-kesempatan ini.

Posted in General (Umum), Teknologi | Leave a comment

Apakah “Argumen Desain” Telah Dipatahkan?

(Berita Mingguan GITS 23 Desember 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolution’s Myths and Hoaxes, oleh David Cloud, copyright 2011: “Para pembela evolusi mengklaim bahwa ‘argumen desain’ telah dipatakan. Mereka mengutip filsuf-filsuf seperti David Hume yang katanya telah mematahkan ‘argumen pembuat jam,’ yang dipublikasikan dalam buku William Paley yang berjudul Natural Theology, or Evidences of the Existence and Attributes of the Deity Collected from the Appearances of Nature (1802). Argumen Paley yang sederhana dan masuk akal mengatakan bahwa jika anda menemukan sebuah jam tangan di tanah, anda akan segera menyadari bahwa barang ini di-desain dan dihasilkan oleh suatu intelijensi; dengan cara yang sama, ciptaan di mana-mana mendemonstrasikan bukti bahwa ia adalah desain dari intelijensi. Bertentangan dengan klaim sebagian orang, argumen Paley ini belum pernah dijawab dan dipatahkan, dan memang tidak bisa dipatahkan. Dr. Michael Behe mengatakan: ‘Tetapi persisnya di mana, kami bertanya, Paley dipatahkan? Siapa yang menjawab argumennya? Bagaimanakah jam tangan itu bisa dihasilkan tanpa seorang desainer yang intelijen? Mengagetkan tetapi benar bahwa argumen utama dari Paley yang [katanya] telah dipatahkan, ternyata belum pernah dipatahkan. Tidak Darwin, ataupun Dawkins, tidak juga sains ataupun filosofi, telah dapat menjelaskan bagaimana suatu sistem yang kompleks tak ter-reduksi (irreducibly complex), seperti sebuah jam tangan, dapat dihasilkan tanpa seorang desainer. Sebaliknya, argumen Paley telah dialihkan melalui serangan-serangan terhadap contoh-contoh yang ia berikan yang kurang baik, dan diskusi theologi yang tidak berhubungan dengan poin utama. Paley, tentu saja, bisa dipersalahkan karena tidak menyatakan argumen dia secara lebih teliti lagi. Tetapi banyak dari penentang Paley juga harus dipersalahkan karena menolak untuk berurusan dengan poin utama Paley, melainkan berpura-pura tidak tahu untuk mencapai suatu kesimpulan yang dapat mereka terima. … Argumen Paley selama tahun-tahun ini telah dijadikan bahan serangan untuk dijatuhkan. Bukannya berurusan dengan kompleksitas yang riil dari suatu sistem (seperti retina, atau jam tangan), para pembela Darwin puas dengan menyajikan suatu cerita tentang fitur-fitur sampingan’ (Darwin’s Black Box, pasal 10). Argumen tentang desain bahkan telah bertambah kuat sejak zaman Paley, melalui riset mikrobiologi dan penemuan sistem mekanis yang luar biasa yang ada dalam sel hidup. Desain yang sangat jelas dalam penciptaan telah meyakinkan banyak orang, termasuk para ilmuwan, bahwa ada Allah. Pada tahun 1962, pemenang Nobel ahli biologi molekuler, E.C. Komfield, mengatakan: ‘Sementara bekerja di tengah-tengah begitu jelimetnya dan mendetilnya partikel-partikel dalam laboratorium, saya sering terlingkupi oleh suatu perasaan betapa tak terhingganya hikmat Allah … mekanisme manusia yang paling sederhana sekalipun memerlukan seorang perencana dan seorang pembuat; betapa suatu mekanisme yang sepuluh kali lebih kompleks dan mendetil dapat dianggap terjadi dengan sendirinya dan muncul dengan sendirinya, sama sekali tidak masuk pikiran saya’ (‘The Evidence of God in an Expanding Universe,’ Look, 16 Jan. 1962).”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Berbagai Tes Menghasilkan Abad Keempat Sebagai Tanggal untuk Lapisan Kubur Kristus

(Berita Mingguan GITS 16 Desember 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pertama kalinya tes dilakukan pada kubur yang dikatakan adalah kuburnya Kristus di Gereja Holy Sepulcher di Yerusalem, dan didapatkan bahwa lapisan marmer dan mortar di kubur tersebut berasal dari abad keempat Masehi, yaitu zamannya Konstantin (“Age of Jesus Christ’s Purported Tomb Revealed,” National Geographic, 28 Nov. 2017). Tes OSL (optically stimulated luminescence) tersebut dilakukan secara independen oleh dua laboratorium. Ini adalah konfirmasi lebih lanjut bahwa kubur ini adalah kubur yang benar. Pada sekitar tahun 135, Kaisar Hadrian membangun sebuah kuil Venus di atas situs yang dihormati sebagai tempat penguburan Kristus. Karena tanggal tersebut hanyalah 40 tahun setelah kematian Rasul Yohanes, dan lokasi tempat penguburan yang sejati masih diketahui orang, maka tidak perlu diragukan bahwa kuil kafir itu ada di tempat yang benar. Pada tahun 325, Kaisar Konstantin yang “Kristen” menghancurkan kuil Venus itu dan membangun sebuah gereja oktagonal yang diberi nama Gereja Holy Sepulchre, pada situs yang sama. Walaupun gereja ini dihancurkan oleh orang-orang Muslim pada taun 1009, tetapi dibangung kembali pada situs yang sama. Karena itu, kami yakin bahwa Gereja Holy Sepulchre memang benar-benar melingkupi tempat penguburan Kristus yang sejati. Tentu saja, hal ini tidak terlalu penting, karena kubur tersebut telah kosong sejak tiga hari setelah penyaliban Kristus, dan kebangkitan Kristus disaksikan oleh ratusan saksi mata yang dapat dipercayai, seperti Saulus yang diajar oleh Gamaliel, yang kemudian rela mati untuk kesaksian mereka. Kami juga tidak percaya atau menghimbau orang untuk melakukan ziarah rohani mirip dengan gaya Katolik. Tetapi semua ini tetap adalah fakta yang menarik!

Posted in Arkeologi, General (Umum) | Leave a comment

Tidak Mungkinnya Metamorfosis Kupu-Kupu Berasal dari Evolusi

(Berita Mingguan GITS 16 Desember 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolutions Myths and Hoaxes, David Cloud, copyright 2011: “Michael Pitman, yang mengajar biologi di Cambridge, bertanya bagaimana mungkin metamorfosis dapat muncul dari evolusi: ‘Di dalam cangkang yang kering ini, organ-organ sang ulat diluluhkan dan direduksi menjadi bubur. Tuba-tuba pernafasan, otot-otot dan saraf-saraf menghilang; makhluk itu sepertinya sudah mati. Tetapi proses-proses sedang berjalan yang akan membentuk ulang bubur itu menjadi bagian-bagian yang berbeda namun berkoordinasi, dan dalam waktu yang tepat serangga tersebut, yang tidak bertumbuh atau berkembang dalam pengertian yang normal, akan muncul kembali sebagai kupu-kup dewasa yang indah. Ini adalah semacam kebangkitan. Jelas hal ini memperlihatkan betapa konyolnya untuk mencoba menjelaskan proses yang sedemikian jelas, walaupun terselubung, telah diprogram tersebut, dengan menggunakan seleksi alam melalui mutasi berturut-turut. Mengapakah, dengan dasar demikian, nenek moyang serangga ini bertahan hidup menghadapi mutasi yang membuat dia masuk dalam tahap chrysalid, namun yang belum mampu untuk menjadi bentuk dewasanya? Di manakah seleksi alam pada waktu itu? Bagaimana mungkin metamorfosis yang telah diprogram sejak awal, dalam serangga, amfibi, ataupun krustasea, dapat berevolusi dari keacakan? Sungguh, bagaimana mungkin perkembangan demikian dapat muncul melalui evolusi satu bagian demi satu bagian? Jelas beban untuk menjawab hal ini ada pada pundak evolusionis, bagaikan bola yang kusut dalam jaringan kesulitan’ (Adam and Evolution, hal. 71).

Bahkan jika kita berasumsi bahwa seekor ulat bulu dapat berevolusi dari makhluk lain, bagaimana mungkin evolusi berlanjut lagi ke fase pupa dan kemudian kupu-kupu? Mengapakah seekor ulat bulu kecil yang bahagia mau ‘berevolusi,” sambil ia dengan senangnya menghabiskan daun-daun yang renyah, lalu memutuskan untuk memintal suatu tatakan sutra dan membentuk dirinya sendiri menjadi pupa? Dan jika hal ini masuk dalam pola pikirnya, bagaimanakah ia dapat mempelajari hal yang sedemikian kompleks luar biasa? Dan mengapa? Dan bahkan jika semua ini entah bagaimana bisa terjadi, dan ulat bulu secara misterius meluluh menjadi sup biologis, maka akan berakhir di sana. Bagaimana mungkin ulat bulu yang telah meluluh merancang ulang dirinya sendiri menjadi suatu makhluk yang berbeda, kecuali jika keseluruhan proses ini telah diprogramkan ke dalam struktur genetikanya? Mutasi gen dan seleksi alam harus berdiam diri di hadapan metamorfosis. Lebih lanjut lagi, sang ulat bulu tidak bisa bereproduksi. Ia tidak memiliki organ seks. Jika ia tidak melalui proses kematian dan kebangkitan dalam metamorfosis, dan menjadi seekor kupu-kupu, ia tidak memiliki cara untuk melanjutkan dirinya. Ia harus memliki kemampuan untuk menjalani metamorfosis ejak dari awalnya untuk dapat eksis! Proses metamorfosis harus sudah sempurna sejak awalnya. Suatu metamorfosis yang setengah jalan saja berarti kematian bagi makhluk itu. Proses tersebut harus membentuk kupu-kupu yang sempurna yang dapat menjalankan mekanisme reproduksi yang kompleks.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment