Kompromi Billy Graham

Pada tanggal 21 Februari 2018, Billy Graham, seorang yang dijuluki “penginjil Kristen Injili yang paling terkenal” meninggal dunia. Pujian baginya mengalir dari berbagai penjuru dunia, dari berbagai presiden dan mantan presiden, politikus, maupun tokoh masyarakat. Ada yang bahkan menyebutnya sebagai “penginjil yang paling berpengaruh sejak Rasul Paulus.”

Tidak diragukan bahwa Billy Graham memiliki pengaruh yang luas. Tetapi apakah pengaruh itu positif? Jawaban ini tergantung pada seberapa kita mempercayai dan memahami Alkitab. Billy Graham memulai pelayanannya sebagai seorang penginjil Baptis yang konservatif, tetapi perlahan-lahan bergeser dalam berbagai posisi. Untuk mendapatkan audiens yang lebih besar, ia bekerja sama dengan berbagai kaum, seperti Gereja Katolik, kaum Unitarian, juga kaum liberal dan modernis. Terakhir posisi dia bahkan menyatakan bahwa manusia bisa diselamatkan tanpa mengenal Yesus Kristus. Sungguh suatu perjalanan rohani yang menurun dan penuh kompromi. Berikut adalah salah satu riset dokumenter tentang langkah-langkah kompromi dalam hidup Billy Graham.

 

Sumber: Dr. David Cloud, dari www.wayoflife.org

Kompromi dan ketidaktaatan Billy Graham sudah dimulai sejak awal dalam pelayanannya. Dia lahir tahun 1918, dalam sebuah rumah tangga Presbyterian, dan melacak pertobatannya kepada khotbah seorang penginjil bernama Mordecai Ham pada tahun 1934. Dia lulus dari SMA pada Mei 1936 dan masuk ke Bob Jones College (yang belakangan menjadi Bob Jones University) pada tahun itu juga, tetapi kemudian pindah ke Florida Bible Institute setelah hanya satu semester di sana, karena dia tidak suka dengan disiplin ketat di Bob Jones.

Dia mencatat dalam biografinya bahwa “satu hal yang membuat saya senang [tentang Florida Bible Institute] adalah adanya berbagai variasi sudut pandang yang disuguhkan kepada kami dalam kelas, suatu campuran pemikiran ekumenisme dan injili yang indah, yang sungguh lebih maju dari zamannya” (Graham, Just As I Am, hal. 46).

Pada waktu dia di Florida itulah Graham merasakan panggilan untuk berkhotbah. Pada akhir tahun 1938, dia dibaptis secara selam di sebuah gereja Baptis, dan pada awal 1939, dia ditahbiskan untuk berkhotbah oleh sebuah jemaat Southern Baptist.

Graham lulus dari Florida Bible Institute pada bulan Mei 1940, dan bergabung dengan Wheaton College pada bulan September tahun itu, dan lulus dari sana tahun 1943. Pada Mei 1944, dia mulai berkhotbah untuk Chicagoland Youth for Christ yang baru terbentuk waktu itu, dan pada Januari 1945, dia ditunjuk sebagai penginjil full-time pertama bagi Youth for Christ International.

Dia adalah presiden dari Northwestern Schools (didirikan oleh W.B. Riley) sejak Desember 1947 hingga Februari 1952, walaupun dia terus berpergian dan berkhotbah bagi Youth for Christ, dan akhirnya membuka pelayanannya sendiri yang independen.

Billy Graham Evangelistic Association didirikan tahun 1950 dan acara radio Hour of Decision dimulai pada tahun yang sama. Graham pertama kali mengadakan KKR penginjilan (disebut crusade) atas suatu kota, di Grand Rapids, Michigan, pada bulan September 1947. Dan crusade dia pada bulan Oktober 1948 di Augusta, Georgia, menandakan mulainya suatu program yang jelas-jelas ekumenis. Ini adalah crusade pertama yang disponsori oleh asosiasi ministerial kota tersebut. Organisasi Graham mulai menuntut dukungan luas dari berbagai denominasi untuk crusade-crusade yang dia lakukan.

Selama crusade Graham tahun 1949 di Los Angeles, pelayanannya mulai mendapatkan sorotan media massa nasional. Namun demikian, perpecahan final Graham dengan kebanyakan pemimpin fundamentalis baru akan terjadi tahun 1957. Hal ini terjadi karena sponsor terbuka dari Protestant Church Council yang liberal di New York City. Komite crusade Graham di New York mengikutsertakan 120 theolog modernis yang menyangkali ketiadasalahan Kitab Suci. Istri dari Norman Vincent Peale, seorang modernis, memimpin kelompok doa wanita untuk crusade tersebut. Tokoh-tokoh modernis seperti Dr. Martin Luther King, Jr., duduk di panggung mimbar dan memimpin doa. Dalam National Observer, 30 Des. 1963, King mengatakan bahwa kelahiran Kristus dari perawan adalah “suatu cerita mitos” yang diciptakan oleh orang-orang Kristen awal. Dalam majalah Ebony, Januari 1961, King berkata: “Saya tidak percaya pada neraka sebagai tempat yang literal dengan api yang membakar.”

NAMUN, SEBENARNYA KOMPROMI SUDAH MULAI JAUH LEBIH AWAL DARI 1957. BAHKAN SEJAK 1944, BILLY GRAHAM SUDAH DIDEKATI OLEH SALAH SATU PEMIMPIN KATOLIK PALING BERPENGARUH DI AMERIKA, FULTON SHEEN.

Ketika Sheen meninggal pada Desember 1979, Graham bersaksi bahwa dia “telah mengenal dia sebagai seorang sahabat selama lebih dari 35 tahun” (Religious News Service, 11 Des. 1979). Sheen adalah seorang putra Roma yang setia. Dalam bukunya Treasure in Clay, Sheen berkata bahwa salah satu rahasia rohaninya adalah mengadakan Misa setiap Sabtu “untuk menghormati Ibu yang Diberkati, untuk meminta perlindungannya terhadap keimamatan saya.” Sheen menghabiskan satu pasal dalam biografinya untuk Maria, “Wanita yang Aku Cintai.” Dia mengatakan, “Ketika saya ditahbiskan, saya berketetapan hati untuk mempersembahkan Persembahan Kudus Ekaristi setiap Sabtu kepada Ibu yang Diberkati … Semua ini membuat saya sangat yakin bahwa ketika saya akan tampil di hadapan takhta pengadilan Kristus, Ia akan berkata pada saya dalam KemurahanNya: ‘Saya mendengar Ibu saya menyebut engkau.’ Selama hidup saya, saya telah melakukan kira-kira tiga puluh kali ziarah ke kuil Our Lady of Lourdes, dan sekitar sepuluh kali ke kuilnya di Fatima” (Fulton Sheen, Treasure in Clay, hal. 317).

Dalam otobiografinya, tahun 1997, Graham menggambarkan pertemuan pertamanya dengan Sheen, walaupun dia tidak memberikan tanggal pastinya. Dia berkata bahwa waktu itu dia sedang berperjalanan dalam sebuah kereta api dari Washington ke New York dan hampir saja tertidur ketika Sheen mengetuk kabin tidurnya dan meminta untuk “masuk dan ngobrol sedikit dan berdoa” (Graham, Just As I Am, hal. 692). Graham mengatakan: “Kami berbicara mengenai pelayanan kami dan komitmen kami yang sama kepada penginjilan, dan saya memberitahu dia betapa bersyukur saya akan pelayanan dia dan fokusnya pada Kristus. …Kami berbicara lebih lanjut dan kami berdoa; dan setelah dia pergi, saya merasa sudah mengenal dia seluruh hidup saya.”

Jadi, Graham mengakui bahwa dia sudah menerima injil sakramental yang dianut oleh Fulton Sheen sebagai kebenaran, bahkan pada tahun itu. Dalam semua ini terkandung suatu masalah dan penipuan yang serius. Sementara Graham bertemu dengan Fulton Sheen dan menganggap dia seorang teman sepenginjilan, Graham sedang meyakinkan pada pemimpin fundamentalis, seperti Bob Jones, Sr., dan John R. Rice, bahwa dia menentang katolikisme dan bahwa dia adalah seorang fundamentalis. Namun sangatlah jelas, bahwa Billy Graham tidak pernah berkomitmen pada posisi fundamentalis dalam hatinya.

Ketika Graham bertemu Sheen pada tahun 1944, itu adalah tiga tahun sebelum crusade se-kota yang pertama yang ia lakukan. Graham telah mulai berkhotbah bagi Youth for Christ pada tahun 1944, dan waktu itu adalah seorang muda yang tidak dikenal. Mengapakah seorang pemimpin Katolik yang terkenal seperti Fulton Sheen mau bergerak dan bersahabat dengan seorang pengkhotbah Baptis fundamentalis yang tidak penting seperti Billy Graham? Graham baru delapan tahun lulus SMA waktu itu.

Uskup Agung wilayah Boston, Richard Cushing, juga “memegang pengaruh yang spesial atas Billy Graham, mulai dari 1950.” Cushing mencetak kata-kata ‘BRAVO BILLY’ di halaman depan majalah keparokiannya, dalam kampanye Januari 1950. Dalam sebuah wawancara tahun 1991, Graham menyebut hal ini sebagai salah satu titik tinggi dalam pelayanannya:

“Satu hal lagi yang signifikan terjadi di awal 50an di Boston. Kardinal Cushing, dalam majalahnya, The Pilot, menulis ‘BRAVO BILLY’ di halaman depan. Hal ini menjadi berita di seluruh negeri. Dia dan saya menjadi teman yang dekat dan luar biasa. Itu adalah kali pertama saya benar-benar paham situasi Protestan/Katolik secara keseluruhan. Saya mulai memahami bahwa ada orang Kristen di mana-mana. Mereka bisa saja disebut modernis, Katolik, atau apapun juga, tetapi mereka adalah orang Kristen” (Bookstore Journal, Nov. 1991).

Sampai dengan akhir 1950, Graham telah membentuk sebuah tim anggota staf permanen yang mengatur semua pertemuannya. Willis Haymaker adalah orang garis depan yang akan pergi ke kota-kota dan mengatur struktur organisasi yang diperlukan untuk melakukan crusade-crusade tersebut. Salah satu tugasnya, bahkan pada tahun-tahun itu, adalah sebagai berikut:

“Dia juga akan menghubungi uskup Katolik setempat atau pelayan lainnya untuk memberitahukan kepada mereka rencana Crusade dan mengundang mereka untuk ikut pertemuan-pertemuan itu; mereka biasanya akan menunjuk seorang imam untuk ikut hadir dan melaporkan hasilnya. Ini terjadi banyak tahun sebelum [konsili] Vatikan II yang membuat Katolik lebih terbuka pada Protestan, tetapi KAMI SANGAT INGIN MEMBIARKAN PARA USKUP KATOLIK UNTUK MELIHAT BAHWA TUJUAN SAYA BUKANLAH UNTUK MEMBUAT ORANG-ORANG MENINGGALKAN GEREJA MEREKA; sebaliknya, saya mau mereka menyerahkan hidup mereka kepada Kristus” (Graham, Just As I Am, hal. 163).

Dalam otobiografinya, Graham mengakui bahwa dia mulai mendekat kepada Roma sangat awal dalam pelayanannya:

“Pada waktu itu [Maret 1950], Protestanisme di daerah New England adalah lemah, sebagian karena perbedaan theologis antara beberapa denominiasi, pengaruh ide-ide Unitarian dalam denominasi-denominasi lain, dan kekuatan Gereja Roma Katolik. Walaupun ada semua faktor itu, sejumlah imam Roma Katolik dan rohaniawan Unitarian, bersama dengan sebagian anggota jemaat mereka, hadir dalam pertemuan-pertemuan itu, bersama dengan yang dari gereja-gereja Injili. Dengan latar belakang Injili saya yang terbatas, ini adalah ekspansi lebih lanjut dari pandangan ekumenis saya. Saya sekarang mulai berteman dengan orang-orang dari berbagai latar belakang dan mengembangkan rasa cinta pada sistem kerohaniawan mereka” (Graham, Just As I Am, hal. 167).

Saya perlu mengingatkan para pembaca bahwa “kerohaniawan” Katolik dan Unitarian dan modernis yang Graham belajar untuk cintai pada akhir 1940an dan awal 1950an, adalah orang-orang yang menyangkali iman yang katanya Graham percayai. Kerohaniawan Katolik yang Graham cintai, menolak bahwa keselamatan adalah melalui kasih karunia Kristus saja, melalui iman saja, tanpa pekerjaan atau sakramen, dan mereka lebih lanjut lagi menyangkal bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas untuk iman dan praktek. Kerohaniawan modernis yang Graham cintai menyangkal bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang tiada salah, dan secara terbuka mempertanyakan atau menyangkali kelahiran Kristus dari perawan, mujizat-mujizat, penebusan Kristus yang menggantikan manusia, dan kebangkitan Yesus Kristus. Kerohaniawan Unitarian yang Dr. Graham cintai adalah orang-orang yang menyangkal keilahian dan penebusan Yesus Kristus, dan yang menertawakan ketiadasalahan Kitab Suci.

Mengapakah Graham tidak sebaliknya mengasihi orang-orang yang berada dalam bahaya ditipu oleh para guru-guru palsu ini? Mengapakah dia tidak sebaliknya cukup mengasihi Firman Allah untuk berdiri melawan musuh-musuh Alkitab? Mengapakah dia tidak lebih mengasihi Kristus dalam Alkitab sehingga menolak orang-orang yang telah menolak Kristus yang sejati dan mengikuti kristus-kristus palsu? Kasih Graham termotivasikan ke arah yang salah. Dia mengasihi gembala-gembala palsu, tetapi dia tidak mengasihi kawanan domba yang dipimpin ke kehancuran kekal oleh gembala-gembala tersebut.

Hanya Tuhan yang tahu seberapa besar pengaruh guru-guru palsu seperti Fulton Sheen dan Richard Cushing terhadap penginjil muda tersebut. Sampai dengan awal 1950an, Graham juga sangat bersahabat dengan theolog-theolog modernis.

Dalam sebuah ceramah di Union Theological Seminary pada bulan Februari 1954, Graham bersaksi bahwa pada tahun 1953, dia telah mengunci dirinya sendiri dalam sebuah kamar di New York City untuk satu hari penuh, bersama dengan Jesse Bader dan John Sutherland Bonnell, supaya dia bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka dan mendapatkan nasihat mereka. Melalui tindakan ini, Graham sebenarnya mengunci dirinya sendiri bersama dengan Iblis, karena orang-orang tersebut sungguh adalah pelayan-pelayan Iblis (2 Kor. 11:13-15). Bader dan Bonnell, keduanya adalah orang yang sangat liberal, yang menyangkali banyak doktrin-doktrin iman Perjanjian Baru. Dalam sebuah artikel dalam majalah Look (23 Maret 1954), Bonnell telah menyatakan bahwa dia dan kebanyakan pelayan Presbyterian lainnya, tidak percaya ada kelahiran perawan dan kebangkitan tubuh Kristus, pengilhaman Kitab Suci, surga dan neraka yang literal, dan banyak doktrin lainnya.

Allah telah memperingatkan Graham untuk menandai dan menghindari orang-orang yang mengajarkan berlawanan dengan kebenaran rasuli (Roma 16:17). Allah memperingatkan ahwa kesalahan adalah seperti kanker (2 Tim. 2:16-18) dan seperti ragi (Gal. 5:9), bahwa “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33), tetapi sang penginjil populer ini mengabaikan peringatan-peringatan demikian.

Sampai dengan 1950, Billy Graham sudah sedemikian jatuh ke bawah pengaruh Katolik, sehingga ia berpaling kepada mereka untuk mendapatkan penghiburan selama menderita penyakit. Selama kampanye New England tahun 1950 yang ia lakukan, Graham jatuh sakit selama beberapa hari di Harford, Connecticut. Sekretaris Eksekutif, Gerald Beavan “tinggal di samping tempat tidurnya dan membacakan kepadanya dari buku Uskup Fulton Sheen ‘Peace of Soul’ (Wilson Ewin, The Assimilation of Evangelist Billy Graham into the Roman Catholic Church).

Kita telah melihat bahwa Sheen adalah seorang yang sangat mencintai Maria [versi Katolik yang palsu], dan yang yakin bahwa kemurahan Allah hanyalah karena devosinya kepada Maria. Mengapakah seorang pengkhotbah Baptis fundamental berpaling kepada tulisan-tulisan seorang yang demikian untuk penghiburannya?

Pertemuan KKR penginjilan Graham yang pertama yang bersifat satu kota, dilaksanakan di Los Angeles, California, 1949. Dan, di awal 1950an saja sudah mulai beredar rumor bahwa Graham bekerja sama dengan Roma Katolik.

Pada tahun 1950, Dr. Robert Ketcham, dari General Association of Regular Baptist Churches, menemui sebuah artikel koran yang mengindikasikan bahwa Graham mengharapkan orang-orang Katolik dan Yahudi untuk berkooperasi dalam sebuah KKR di Oregon, dan artikel lain yang melaporkan bahwa Graham menyerahkan kartu data orang-orang yang membuat keputusan selama KKR, kepada gereja-gereja Roma Katolik. Surat Ketcham [yang ditulisnya untuk mempertanyakan hal ini] mendapat kecaman yang keras dari sekretaris eksekutif Graham, Jerry Beavan. Sebagian dari jawaban Beavan adalah sebagai berikut:

“Sebagai contoh, anda bertanya apakah Billy Graham telah mengundang orang-orang Roma Katolik dan Yahudi untuk bekerjasama dalam pertemuan-pertemuan penginjilan. PIKIRAN SEMACAM INI, BAHKAN JIKA WARTAWAN MENGIRA BAHWA INI BERASAL DARI MR. GRAHAM, NAMPAK SANGAT KONYOL BAGI SAYA. SEMESTINYA ANDA TAHU BAHWA INI TIDAK BENAR. …LEBIH LANJUT, BAHWA ANDA BISA MEMPERCAYAI IDE BAHWA MR. GRAHAM AKAN MENYERAHKAN KARTU-KARTU KEPUTUSAN KEPADA GEREJA ROMA KATOLIK, SANGATLAH TIDAK TERBAYANGKAN” (John Ashbrook, New Neutralism II).

Graham tidak lama kemudian akan melakukan secara terbuka apa yang Mr. Beaven katakan “konyol” dan “tidak terbayangkan” itu. Pada tanggal 6 September 1952, wartawan William McElwain, menulis untuk Pittsburgh Sun-Telegraph, berkomentar tentang aktivitas ekumenis Graham dengan Roma:

“Graham menekankan bahwa crusade dia di Pittsburgh akan bersifat interdenominasi. Dia mengatakan bahwa dia berharap akan mendengar khotbah Uskup Fulton J. Sheen di salah satu Misa di Katedral St. Paul besoknya. Graham mengatakan, ‘Banyak orang yang telah mengambil keputusan bagi Kristus dalam pertemuan-pertemuan kami yang telah bergabung dengan gereja Katolik, dan kami telah menerima pujian dari publikasi-publikasi Katolik karena dibangkitkannya ketertarikan pada gereja mereka setelah salah satu kampanye kami. Hal ini terjadi di Boston maupun Washington. Pada akhirnya, salah satu tujuan utama kami adalah untuk membantu gereja-gereja di sebuah komunitas.’”

Sungguh tidak ada yang konyol dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Dr. Ketcham di atas. Graham secara publik mengakui bahwa dia sudah menyerahkan orang-orang kepada Gereja Katolik sejak awal 1950an.

Dalam sebuah wawancara dengan Religious News Service, tahun 1986, Billy Graham yang berusia 67 tahun waktu itu mengakui bahwa pelayanannya memang sudah sengaja bersifat ekumenis sejak awal. Dia memberitahu pewawancara bahwa salah satu dari “penasihat dan sahabat dekat dia” adalah Dr. Jesse Bader yang telah disinggung di atas, seorang rohaniwan Disciples of Christ yang liberal, yang menjadi sekretaris dari National Council of Churches yang radikal (Christian News, 31 Maret 1986).

Sejak waktu itu, Graham telah bergerak semakin dekat dalam persekutuan dengan Roma Katolik dan modernisme theologis. Sebagaimana diobservasi oleh John Ashbrook, penulis dari buku New Neutralism II: Exposing the Gray of Compromise, “Kompromi selalu membawa seseorang lebih jauh dari yang dia maksudkan.” Alkitab memperingatkan bahwa “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Kor. 15:33).

Bagaimanakah hubungan ekumenis Graham telah mempengaruhi dia? Dalam edisi Januari 1978 dari majalah McCall, ada sebuah wawancara atas Graham oleh James Michael Beam. Graham mengakui perubahan yang terjadi dalam pola pikirnya:

“Saya jauh lebih toleran terhadap tipe-tipe kekristenan yang lain daripada sebelumnya. Kontak saya dengan Katolik, Lutheran, dan pemimpin-pemimpin lain – orang-orang yang jauh dari tradisi Southern Baptis saya – telah membantu saya, saya harap, untuk bergerak ke arah yang benar. Saya telah menemukan bahwa kepercayaan saya secara essensial sama dengan kaum ortodoks Roma Katolik, misalnya. Mereka percaya kelahiran perawan, saya juga. Mereka percaya Kebangkitan Yesus dan datangnya penghakiman Allah, dan saya juga. Kami hanya berbeda dalam beberapa hal tradisi gereja yang belakangan.”

Ini adalah kata-kata yang aneh. Kesalahan-kesalahan Gereja Roma Katolik bukan hanya masalah “tradisi gereja yang belakangan.” Roma Katolik adalah penyelewengan total terhadap Injil dan gereja Perjanjian Baru melalui pencampuran kebenaran alkitabiah dengan paganisme dan Yudaisme. Injil sakramental Roma yang berupa kasih karunia plus pekerjaan, patut kita nyatakan sebagai terkutuk oleh Allah (Gal. 1:6-10), tetapi Dr. Graham telah sejak lama menetapkan hati untuk menganggap Roma Katolik sebagai kekristenan yang sejati, dan dia telah memimpin banyak orang kepada kesesatan karena keputusan itu.

 

ADDENDUM:

Berikut adalah kutipan dari surat yang dilayangkan oleh Kardinal Roger Mahoney, Uskup Agung Los Angeles, berkaitan dengan Rose Bowl Crusade yang akan adakan oleh Billy Graham Evangelistic Association (BGEA) bulan November 2004 waktu itu:

 

Saudara-saudara imam yang terkasih,

Suatu kesempatan besar, untuk menginjili dan menyambut kembali orang-orang Katolik yang telah terasingkan, kembali kepada kehidupan sakramental penuh [yaitu Gereja Roma Katolik], kini muncul bagi kita bulan November ini.

Mahoney melanjutkan:

Para pejabat ini [dari BGEA] telah memastikan bagi saya, bahwa, sesuai dengan kepercayaan dan kebijakan Dr. Graham, tidak akan ada usaha penobatan [terhadap orang Roma Katolik], dan bahwa siapapun yang mengidentifikasi diri sebagai Katolik, akan direferensikan kepada kita untuk reintegrasi ke dalam hidup gereja [Roma] Katolik…. Dr. Graham mengkhotbahkan Injil dengan kepiawaian tinggi dan roh ekumenis yang sejati.

 

Berikut adalah kutipan dari sebuah wawancara antara Robert Schuller dengan Billy Graham, dalam acara Schuller “Hour of Power,” program #1426, yang pertama kali disiarkan tanggal 31 Mei 1997.

Schuller: Katakan pada saya, apa pendapatmu tentang masa depan kekristenan?

Graham: Ya, kekristenan dan menjadi seorang percaya sejati – kamu tahu, saya pikir ada yang namanya Tubuh Kristus. Ini berasal dari semua kelompok Kristen di seluruh dunia, dan di luar kelompok-kelompok Kristen. Saya rasa semua orang yang mengasihi Kristus, atau mengenal Kristus, apakah mereka sadar akan hal itu atau tidak, adalah anggota dari Tubuh Kristus. Dan saya tidak merasa bahwa kita akan melihat suatu kebangkitan rohani yang besar-besaran melanda, yang akan menobatkan seluruh dunia kepada Kristus, kapan pun. Saya rasa Yakobs menjawab bahwa, Rasul Yakobus dalam konsili pertama di Yerusalem, ketika dia berkata bahwa rencana Allah bagi zaman ini adalah memanggil keluar suatu umat bagi namaNya.

Dan itulah yang Allah sedang lakukan hari ini, Dia sedang memanggil keluar umat dari dunia bagi namaNya, apakah mereka dari dunia Islam, atau dunia Buddha, atau dunia Kristen, atau dunia yang tidak percaya, mereka adalah anggota Tubuh Kristus karena mereka telah dipanggil oleh Allah. Mereka mungkin saja bahkan tidak mengenal nama Yesus tetapi mereka tahu dalam hati mereka bahwa mereka memerlukan sesuatu yang mereka tidak miliki, dan mereka berpaling kepada satu-satunya terang yang mereka miliki, dan saya rasa bahwa mereka diselamatkan, dan bahwa mereka akan bersama kita di Sorga.

Schuller: Apa, apa yang saya dengar anda katakan adalah bahwa dimungkin bagi Yesus Kristus untuk masuk ke dalam hati dan jiwa dan kehidupan manusia, bahkan jika mereka lahir dalam kegelapan dan tidak pernah terpapar kepada Alkitab. Apakah ini pemahaman yang benar dari apa yang anda katakan?

Graham: Ya, ini benar, karena mempercayai hal ini. Saya telah bertemu berbagai orang di berbagai bagian dunia dalam situasi suku-suku, yang belum pernah melihat suatu Alkitab atau mendengar tentang Alkitab, dan belum pernah mendengar Yesus, tetapi mereka percaya dalam hati mereka bahwa ada Allah, dan mereka mencoba menjalani kehidupan yang terpisah dari komunitas di sekitar mereka hidup.

 

 

Posted in Ekumenisme, New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Gloria Copeland, Guru Palsu Injil Kemakmuran, Berkata Bahwa Iman Kristen Melindungi dari Virus Flu

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, oleh Dr. Steven E. Liauw)

Pada awal tahun 2018 ini, banyak orang di Amerika Serikat terkena virus influenza, dan musim flu kali ini terhitung sebagai musim flu yang cukup berat. Orang Kristen yang alkitabiah tahu, bahwa orang percaya masih bisa menderita sakit, dan bahwa sakit penyakti diizinkan Tuhan sebagai bagian dari rencanaNya dalam hidup orang Kristen hari ini. Sebagai contoh dalam Alkitab, Paulus memiliki kelemahan tubuh yang Tuhan tidak mau sembuhkan (2 Kor. 12:7dst). Trofimus sakit (2 Tim. 4:20), demikian juga Epafroditus (Fil. 2:25-27). Tidak terbilang juga contoh dalam sejarah, orang-orang Kristen yang setia pada Tuhan yang sakit, atau yang bahkan meninggal dunia karena suatu penyakit.

Tetapi, sebagian orang Kristen telah tertipu oleh Injil palsu yang sering disebut Injil kemakmuran, yang menjanjikan hal-hal jasmani, duniawi, dan materi, dan dengan demikian membuat orang mencari “Kristus” demi hal-hal materi dan jasmani, seperti kekayaan, dan juga kesehatan jasmani. Dalam Injil palsu ini, orang Kristen dijamin menjadi kaya, dan dijamin sehat dan bebas penyakit. Bukan saja ini bertentangan dengan realita, ini bertentangan dengan Alkitab.

Salah satu guru palsu demikian adalah Gloria Copeland, istri dari guru palsu lainnya, Kenneth Copeland. Dalam sebuah video Youtube (https://www.youtube.com/watch?v=BcNPjUraXrA), yang ditujukan kepada para pengikutnya, Copeland menyampaikan bahwa orang Kristen seharusnya secara otomatis bebas dari flu, dan tidak lagi memerlukan suntikan (vaksin) flu. Dia berkata, “Kita ada musim bebek, musim rusa, tetapi kita tidak punya musim flu, dan jangan mau terima jika ada orang yang mengancam anda dengan kata-kata ‘semua orang kena flu.’ Kita sudah menerima suntikan kita: Ia menanggung penyakit kita dan membawa kesakitan kita. Di sinilah kita berdiri. Dan oleh bilur-bilurNya kita telah menjadi sembuh.” Copeland berkata bahwa “Yesus sendiri telah memberikan kita suntikan flu.” Anehnya, dalam video tersebut Copeland lalu berdoa bagi orang-orang yang terkena gejala flu. Dia menghardik flu tersebut, dengan gaya khas kharismatik. Copeland ingin mendorong naratif theologis injil kemakmuran bahwa seharusnya orang Kristen tidak kena flu, tetapi tidak bisa lari dari realita bahwa ada pengikutnya yang kena flu. Pada akhir video, dia mempraktekkan paham Word Faith yang kacau dengan menganjurkan para pengikutnya untuk terus mengatakan “saya tidak akan pernah kena flu,” secara berulang-ulang. Dalam paham Word Faith (semacam cabang dari Positive Thinking yang kacau), kata-kata kita berkuasa untuk mengubah realita.

Pada dasarnya, Injil kemakmuran adalah injil palsu yang menyalahgunakan Alkitab. Mereka memelintir ayat Alkitab demi kepentingan dan kesalahan mereka. “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1 Pet. 2:24). Ayat ini berbicara mengenai kesembuhan dari dosa. Kesembuhan fisik akan terjadi pada kita ketika kita mendapatkan tubuh kemuliaan kita.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Kharismatik/Pantekosta | 2 Comments

Wilayah Keuskupan Episkopal di Amerika Serikat Mengambil Suara untuk Berhenti Menggunakan Kata Ganti Maskulin untuk Allah

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Wilayah keuskupan Washington D.C. dari Gereja Episkopal, telah menolak Allah dalam Alkitab, demi suatu dewi mistik hasil pemikiran feminisme. Pada tanggal 27 Januari, para delegasi ke konvensi tahunan keuskupan tersebut, menyetujui sebuah pernyataan “untuk mempergunakan bahasa yang luas bagi Allah … dan, jika memungkinkan, untuk menghindari penggunaan kata ganti jenis kelamin tertentu bagi Allah.” Kata ganti jenis kelamin tertentu maksudnya adalah kata-kata seperti “He,” [Inggris] dan “Bapa,” dan “Raja.” Pada penyusun pernyataan yang konyol ini mengatakan, “Dengan memperluas bahasa yang kita pakai untuk Allah, kita akan memperluas gambaran kita akan Allah dan sifat Allah” (“U.S. Episcopal diocese,” LifeSiteNews, 1 Feb. 2018). “Reverend” Linda Calkins dari Gereja Episkopal St. Bartholomew, di Laytonsville, Maryland, mengatakan, “Banyak dari antara kita sedang menantikan dan perlu mendengar Allah dalam bahasa kita, dalam kata-kata kita, dan kata-kata ganti kita.” Pada kenyataannya, Keuskupan Episkopal Washington D.C., telah menolak Allah dalam Alkitab demi suatu dewi mistikal. Dalam Kitab Suci, Allah selalu disebut dengan istilah-istilah maskulin. Dia adalah Raja di atas segala raja, bukan Ratu atas segala ratu. Dia adalah Bapa dan Putra, bukan Ibu dan Putri. Dalam inkarnasi, Allah menjadi seorang lelaki, bukan seorang wanita. “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia [dalam bahasa asli maskulin, yaitu laki-laki] Kristus Yesus” (1 Tim. 2:5).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | 3 Comments

Musik: Karunia dari Allah

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Jonathan O’Brien, Creation Ministries, 6 Feb. 2018: “Para ilmuwan baru-baru ini menemukan bahwa otak kita didesain untuk musik – bahwa apresiasi musik yang mendalam adalah aspek mendasar dari seorang manusia (Music on the Brain, Australian Broadcasting Network’s Catalyst). Mengapakah kita memiliki hubungan yang spesial ini dengan musik, walaupun kera dan binatang “tingkat tinggi’ lainnya yang berotak besar, tidak membuat, atau bahkan menginginkan musik, seperti kita? Sama seperti berbicara dan menulis dalam bahasa yang grammatis, musik adalah ciri yang khas dan khusus dari manusia saja. Dari manakah datangnya kebiasaan dan kesukaan kita yang misterius ini? … Menariknya, apresiasi terhadap musik sepertinya sudah tertanam atau ter-install ke dalam semua bagian otak. Para ilmuwan menemukan bahwa musik sepertinya terikat erat dengan kasih dan hubungan pribadi – bahwa musik membawa efek fisiologis yang jelas dan kuat terhadap proses pertalian sosial. Mereka menyimpulkan bahwa musik sedemikian penting bagi struktur fisik otak kita, sehingga musik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari arti dasar menjadi seorang manusia. … Harmoni dan melodi, keduanya melibatkan hukum-hukum ilmiah dan matematika yang tidak berubah, jadi yang tertulis dalam bahan dasar alam semesta itu sendiri – tetapi hanyalah manusia yang mampu untuk peduli tentang hal ini. …Karena Darwinisme hanyalah suatu filosofi materialistik, bukan ilmu pengetahuan sejati, ia tidak mampu untuk menjelaskan arti musik. Musik mampu melingkupi kita dengan emosi karena terhubung dengan aspek rohani kita, dan ini adalah bukti yang baik tentang eksistensi jiwa. … Banyak orang, dari berbagai latar belakang dan kepercayaan, telah berbicara tentang ‘jiwa’ musik. …Vishal Mangalwadi mencatat, ‘Menyangkali realitas suatu inti rohani sebagai esensi dari setiap manusia, akan membuat sulit untuk dapat memahami musik, karena musik, sama seperti moralitas, adalah masalah jiwa.’ …Tubuh manusia seolah dirancang untuk musik. Sebagai makhluk yang berkaki dua dan berdiri tegak, tangan kita bebas untuk membuat karya kreatif yang memerlukan skill – yang lalu didorong oleh keinginan dalam pikiran dan hati kita. Kita memainkan instrumen-instrumen yang sulit, seperti violin, gitar, dan piano, membuat komposisi musik yang kompleks, dan bernyanyi, karena otak dan kepribadian kita berjuang untuk berekspresi dalam format rohani musik. Tangan kita adalah hasil mujizat desain, dirancang secara sempurna untuk menghasilkan gerakan yang paling halus, dan sentuhan yang paling sensitif, dan adalah karya luar biasa ‘genius, fleksibel, dan mobilitas’ … Telinga kita juga adalah instrumen yang telah dirancang secara ahli, untuk menerima dan meneruskan suara-suara musikal. …Kita juga memiliki pita suara yang mampu menghasilkan nada-nada musik yang terbaik yang dapat dibayangkan. …Sangatlah jelas bagi barangsiapa yang mau melihat, bahwa musik, secara jasmani maupun rohani adalah bagian dari desain Allah bagi dunia ciptaan.”

Posted in musik | Leave a comment

100% Percaya

(Berita Mingguan GITS 10 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Alkitab mengatakan bahwa iman yang menyelamatkan adalah mempercayai Yesus Kristus sebagai Juruselamat “dengan segenap hati” (Kis. 8:37). Iman ini adalah iman yang yakin atau “tahu” (Yoh. 6:69). Ini adalah iman yang 100%. Hal ini didemonstrasikan dengan cara yang dramatis pada tanggal 17 Agustus 1859, di air terjun Niagara yang terkenal. Sebuah tali tebal, berdiameter 3 inci, bergantung menyeberangi Ngarai Niagara sepanjang 350an meter, di perbatasan Amerika dan Kanada, dan Charles Bondin, seorang yang ahli menyeberangi tali seperti itu, sedang bersiap untuk melakukan penyeberangan yang berbahaya itu, 55 meter di atas air yang membuih. Dia telah melakukan beberapa kali sebelumnya: dengan mata ditutup, sambil mendorong kereta sorong, sambil melakukan jungkir balik depan dan belakang, sambil menggunakan tongkat kayu sebagai kaki, dan pada malam hari dengan menggunakan lampu kereta sebagai senter. Pernah satu kali ia membawa sebuah tungku logam di punggungnya, menaruhya di tengah sungai, dan memasak telur goreng, lalu menurunkannya ke dek kapal penumpang Maid of the Mist yang lewat. Tetapi kali ini, Harry Colcord akan naik ke punggung Blondin. Sebelum memulai acara ini, Blondion berkata, “Pandang ke depan, Harry…. Kamu bukan lagi Colcord, kamu sekarang Blondin. Sampai saya selesai menyeberang, jadilah bagian dari diri saya, pikiran, tubuh, dan jiwa. Jika saya bergoyang, goyang bersama saya. Jangan mencoba untuk menyeimbangkan dirimu sendiri” (“The Daredevil of Niagara Falls,” Smithsonian.com, 18 Okt. 2011). Colcord yakin dengan kemampuan Blondin. Dia memiliki bukti yang kuat bahwa orang ini bisa melakukan apa yang ia janjikan. Jadi dia menyerahkan dirinya 100% kepada Blondin, dan mendapatkan perjalanan gratis menyeberangi sungai, tanpa menyumbang satu iota pun kepada usaha tersebut. Ini adalah gambaran iman yang menyelamatkan. Iman ini menolak segala bentuk pengandalan diri sendiri, dan sebaliknya mengandalkan Kristus 100% dan karya penebusanNya, untuk membuat saya benar di hadapan Allah. “Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN” (Maz. 116:13).

Posted in Psikologi | Leave a comment

Apakah Israel di Dunia Hari Ini Adalah Israel-Nya Allah?

(Berita Mingguan GITS 3 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Pengkhotbah Baptis, Steven Anderson, mengklaim bahwa Israel yang eksis di dunia hari ini, Israel yang keluar dari bangsa-bangsa untuk membentuk sebuah negara pada tahun 1948, bukanlah Israel yang ada dalam Kitab Suci dan tidak akan memiliki masa depan dalam perjanjian-perjanjian dan janji-janji Allah. Sebuah poin utama dalam video populer Anderson yang berjudul Marching to Zion, adalah bahwa karena orang-orang Yahudi telah menolak Yesus sebagai Mesias dan telah berlanjut dalam ketidakpercayaan dan ketidaktaatan, dan karena Yudaisme rabbinik hari ini tidak didasarkan pada Alkitab tetapi pada Talmud, maka Israel hari ini bukanlah Israel sejati. Israel telah ditolak oleh Allah dan telah digantikan oleh gereja. Anderson berkata, “Kita yang percaya pada Yesus Kristus adalah Israel. … Kita orang Kristen adalah umat Allah yang sejati. Kita adalah Israel sejati. Dan kita sedang berjalan ke Sion” (Marching to Zion). Lebih lanjut lagi dia berkata, “Jadi dalam pemandangan Allah, mereka bukan orang Yahudi, mereka adalah jemaah Iblis.” Tetapi Alkitab berbicara dengan jelas mengenai isu ini. Mulai dari kitab Taurat hingga Perjanjian Baru, kita diajar bahwa Israel yang sama yang membangkang terhadap Allah dan yang disebarkan di antara bangsa-bangsa adalah Israel yang akan bertobat dan direstorasi. Satu pernyataan yang jelas mengenai ini adalah dalam Imamat 26:44 – “Namun demikian, apabila mereka ada di negeri musuh mereka, Aku tidak akan menolak mereka dan tidak akan muak melihat mereka, sehingga Aku membinasakan mereka dan membatalkan perjanjian-Ku dengan mereka, sebab Akulah TUHAN, Allah mereka.” Perhatikan juga Hosea 3:4-5, “Sebab lama orang Israel akan diam dengan tidak ada raja, tiada pemimpin, tiada korban, tiada tugu berhala dan tiada efod dan terafim. 5 Sesudah itu orang Israel akan berbalik dan akan mencari TUHAN, Allah mereka, dan Daud, raja mereka. Mereka akan datang dengan gementar kepada TUHAN dan kepada kebaikan-Nya pada hari-hari yang terakhir.” Dan perhatikan Yeremia 23:7-8 – “Sebab itu, demikianlah firman TUHAN, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa orang tidak lagi mengatakan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri.” Faktanya, semua nubuat yang berhubungan dengan kembalinya dan restorasi Israel mengindikasikan dengan jelas bahwa Israel yang sama yang memberontak dan diserakkan di antara bangsa-bangsa sebagai penghukuman dan yang telah berlanjut dalam kesesatan hingga sekarang, adalah Israel yang akan bertobat dan direstorasi. Contoh-contoh lain adalah Ulangan 28-30; Yeremia 31:6-11; Yehezkiel 36:22-38; 37:1-14; Amos 9:8-15; Roma 11:15, 25-27.

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Israel | Leave a comment

Pengkhotbah yang Belajar untuk Percaya pada Tuhan dalam Perpuluhan

(Berita Mingguan GITS 3 Februari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (Mal. 3:10). “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Kor. 9:6). Satu-satunya cara untuk mempraktekkan secara efektif memberi kepada Tuhan secara rutin adalah dengan iman. Kita harus percaya janji-janji Tuhan bahkan dalam saat-saat kesulitan. Dan kita harus mengingat bahwa Allah menguji iman untuk memperlihatkan apakah iman itu sejati, dan juga untuk membuatnya bertambah kuat (Yak. 1:2-4). Banyak kali jika seorang Kristen memutuskan untuk mulai memberikan perpuluhan, dia akan mengalami masalah finansial tertentu untuk menguji keputusannya itu. John R. Rice bercerita tentang seorang penginjil bernama Kuykendahl di Texas pada awal abad 20. Dia memiliki pelayanan khotbah sirkuit (keliling), dan persembahan yang dia dapatkan sangat kecil, sehingga keluarganya yang besar mengalami kesusahan. Satu tahun, seorang pebisnis yang kaya mengunjungi daerah itu untuk membagikan kesaksiannya di beberapa gereja, dan penginjil Kuykendahl adalah tuan rumahnya, dan membawa dia dari tempat ke tempat dalam kereta kudanya. Di antara berbagai hal yang dia saksikan, pebisnis itu menantang orang-orang untuk memberikan perpuluhan dan mendukung pekerjaan Tuhan yang besar. Sambil mereka berperjalanan suatu hari, pebisnis itu bertanya kepada sang penginjil apakah dia percaya perihal perpuluhan. Dia menjawab, “Ya, saya akan senang untuk memberikan perpuluhan, tetapi saya terlalu miskin dan harus mengurus keluarga saya yang besar.” Pebisnis itu menjawab, “Saya akan memberikan suatu penawaran padamu. Jika kami mau memberi perpuluhan untuk setahun penuh, saya akan menjamin kamu. Jika pada waktu mana pun dalam tahun tersebut engkau menemukan bahwa engkau tidak dapat membayar kewajiban-kewajibanmu, dan tidak tahu lagi harus berpaling ke mana, hubungi saja saya, dan saya yang mengirimkan uang yang diperlukan kepadamu. Saya seorang yang kaya, dan saya orang yang pegang janji.” Kuykendahl dengan antusias menjawab, “Saya akan dengan senang menerima penawaran ini.” Sang penginjil menetapi janjinya, dan memberi perpuluhan dengan setia, tetapi dia tidak pernah perlu menghubungi pebisnis tersebut. Pada akhir dari 12 bulan, penginjil tersebut merenungkan apa yang terjadi. Allah telah memberkati dia tahun itu dan memenuhi semua keperluan. Orang-orang memberikan kepadanya lebih daripada yang pernah terjadi, dan keluarganya mengalami banyak berkat spesial. Sambil dia merenungkan hal-hal ini, hatinya tiba-tiba terpukul ketika dia menyadari bahwa dia mempercayai kata-kata seorang pebisnis, padahal dia tidak siap untuk mempercayai Firman Allah yang hidup, yang telah memberikan janji yang lebih hebat!

Posted in General (Umum), Renungan | Leave a comment

Hillsong di Thomas Road

(Berita Mingguan GITS 27 Januari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Baptis Thomas Road di Lynchburg, Virginia, didirikan oleh almarhum Jerry Falwell, akan mengadakan sebuah konser “worship” rock & roll dari Hillsong, pada tanggal 20 April 2018. Ketidaktaatan dan kompromi selama puluhan tahun telah menghasilkan tingkat kebutaan rohani yang sedemikian mengerikan, sehingga dapat menerima kesesatan Hillsong. Musik “worship” Hillsong dimulai di Gereja Hillsong, Sydney, Australia. Di sana, gembalanya adalah tim suami istri, Brian dan Bobby Houston, dan pemimpin “worship” adalah Darlene Zschech. Beberapa tahun lalu Bobby mempublikasikan sebuah seri video berjudul “Wanita Kerajaan Suka Seks.” Kira-kira pada waktu yang sama Brian mempublikasikan seri dia yang berjudul “Kamu Perlu Lebih Banyak Uang” mengenai subjek “memberi kelimpahan.” Hari ini Gereja Hillsong memiliki cabang-cabang di berbagai belahan dunia, dan semuanya menghasilkan musik “worship.” Pada tahun 2014, New York Times melaporkan bahwa Hillsong “tanpa diragukan adalah penghasil musik worship yang paling berpengaruh di dunia kekristenan” (“Megachurch with a Beat Lures Young Flock,” 9 Sept. 2014).

Hillsong memiliki sifat ekumenis radikal, sangat duniawi, dan secara total berkomitmen pada kesesatan Pantekosta Hujan Akhir (misal komat-kamit yang disebut “bahasa roh,” membunuh dalam roh, bernubuat, kata-kata iman, gembala wanita, persatuan ekumenis sebagai tanda kebangkitan rohani akhir zaman, dll.). Pada bulan Juli 2015, Hillsong bergandengan tangan dengan Paus Fransiskus di acara Convocation of the Renewal of the Holy Spirit yang diadakan di Vatikan. Pemimpin pujian Hillsong, Darlene Zschech mengatakan dalam halaman Facebooknya, “Ini adalah perayaan persatuan dan damai dalam Pembaharuan Roh Kudus. Hari-hari yang luar biasa bagi Tubuh Kristus.” Siapapun yang berpikir bahwa orang-orang – yang percaya keselamatan melalui baptisan dan menghormati Maria sebagai Ratu Sorga – berada dalam “tubuh Kristus,” tidaklah memahami ABC (hal paling mendasar) dari kebenaran Alkitab. Pada bulan Mei 2016, Hillsong New York mengadakan Konferensi Wanita, yang di dalamnya terdapat antara lain, para cheerleader dengan pakaian minim, seorang peniru Elvis, dan seorang koboi telanjang, yang hanya memakai celana dalam, topi koboi, sepatu, dan sebuah gitar. Koboi itu diperankan oleh gembala muda Hillsong New York sendiri, yaitu Diego Simla.

Gereja Baptis Thomas Road, yang akan menjadi tuan rumah konser Hillsong di bulan April mendatang ini, terafiliasi dengan Konvensi Baptis Selatan, dan lama berafiliasi dengan Baptist Bible Fellowship International. Gembala pendirinya, Jerry Falwell, membuat terobosan ekumenis di antara kaum Baptis Independen melalui afiliasinya dengan Gereja Roma Katolik, mulai dari tahun 1970an. Pada tahun 1986, dia menyatakan bahwa orang-orang Roma Katolik merupakan bagian terbesar dari organisasi politiknya, yang bernama Moral Majority. Falwell memuji Paus Yohanes Paulus II dan merekomendasikan buku Chuck Colson, 1992, berjudul The Body, yang menganggap Gereja Katolik bagian dari “tubuh Kristus.” Gereja Baptis Thomas Road dan Universitas Liberty berada pada tebing licin kompromi yang dimulai di bawah arahan Jerry Falwell. Kompromi yang dia lakukan dimulai dengan langkah-langkah kecil, sebagaimana selalu terjadi, tetapi Firman Allah memperingatkan bahwa “sedikit ragi mengkhamirkan seluruh adonan” (1 Kor. 5:6; Gal. 5:9).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Kharismatik/Pantekosta, musik, New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Cina Menghancurkan Gedung Gereja

(Berita Mingguan GITS 27 Januari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Bomb destroys persecuted church,” China Aid, 9 Jan. 2018: “Sebuah ledakan menggema di udara tadi pada hari ini, ketika pihak otoritas mengebom dan menghancurkan sebuah gereja yang telah berulang kali mengalami penganiayaan di propinsi Shanxi utara, Cina. Gereja Golden Lampstand (Kaki Dian Emas), di Linfen, Shanxi, sebelumnya adalah sebuah gereja yang tidak terdaftar dengan gedung bernilai 17 juta Yuan ($2,603,380 USD), yang dibayarkan secara total oleh orang-orang Kristen yang menghadiri gereja itu. Pada tanggal 9 Januari, polisi militer Cina meledakkan bahan-bahan peledak yang telah ditanam di aula-aula pertemuan bawah tanah yang terletak di bawah gereja itu, dan berlanjut ke penghancuran gedung yang di atasnya, sehingga luluh. Polisi militer Cina telah dikendalikan langsung oleh pemerintah pusat sejak kepala biro keamanan umum, yang sebelumnya mengepalai polisi militer, ditangkap tahun lalu. Ini mengindikasikan bahwa perintah untuk menghancurkan gereja itu datang dari pejabat-pejabat tertinggi, bukan dari otoritas lokal yang tidak seberkuasa itu. Namun, ini bukan pertama kalinya gereja tersebut menghadapi penganiayaan. Cina berulang kali menyerang gereja-gereja rumah, yaitu gereja-gereja yang menolak untuk mendaftarkan diri, seringkali supaya tidak perlu dimonitor dan dikontrol oleh pemerintah. Tetapi para pejabat seringkali mempidanakan pilihan demikian, dan sebagian pemimpin Gereja Golden Lampstandtelah dipenjarakan selama satu hingga tujuh tahun, hanya karena melayani di gereja mereka. Penghancuran yang serupa atas sebuah Gereja Katolik tahun lalu, membuat orang-orang Kristen khawatir bahwa pemerintah pusat akan mulai menginstruksikan penghancuran masal gedung-gedung gereja di seluruh negeri, ketika peraturan-peraturan agama yang baru mulai berlaku bulan depan. Peraturan-peraturan ini memberikan Partai Komunis Cina kuasa yang lebih besar lagi untuk mengatur agama, dan hal ini membuka jalan untuk penganiayaan yang semakin banyak. … [Para pemimpin gereja itu ditangkap tahun 2009 dan menghabiskan antara tiga hingga tujuh tahun dalam penjara.]”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Gembala Southern Baptist Memenangkan Penghargaan Azusa

(Berita Mingguan GITS 20 Januari 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Gembala Southern Baptist, William Dwight McKissic, Sr., telah diberikan penghargaan tahunan, William Seymour Award, untuk tahun 2018. Penghargaan ini dinamakan sesuai dengan nama gembala dari apa yang disebut Azusa Street Revival, 1906, yang biasanya disebut-sebut sebagai lahirnya Pantekostalisme. Penghargaan itu akan diserahkan pada bulan April di perayaan Azusafest. Pada saat itu akan juga diadakan sebuah “konferensi kenabian” dengan “Rasul” Ron dan Tyda Harvey. Jika McKissic menerima penghargaan ini, maka itu membuktikan ketidaktahuan dia yang parah, atau kesesatan. Azusa adalah suatu fenomena gila yang sesat! Kebaktian-kebaktiannya dicirikan oleh kekacauan, bertentangan dengan pengajaran Kitab Suci yang jelas: menari, melompat-lompat, berjatuhan, masuk “trance,” membunuh dalam roh, “bahasa” kacau balau komat kamit, tubuh yang gemetaran atau kejang, histeria, meniru suara-suara binatang, “tertawa kudus,” “bisu rohani,” dll. Para pencari yang datang ke sana akan “tersita oleh suatu sihir yang aneh dan memulai suara-suara yang kacau balau.” “Saat-saat tertentu orang-orang akan jatuh bergelimpangan di seluruh rumah, mirip pasukan yang mati di medan perang…” (Larry Martin, The Life and Ministry of William J. Seymour, hal. 179). Tidak ada aturan atau urutan kebaktian, dan biasanya tidak ada yang memimpin. Orang-orang bernyanyi bersama-sama tetapi “dengan kata-kata, ritme, dan melodi yang sama sekali berbeda” (Ted Olsen, “American Pentecost,” Christian History, Issue 58, 1998). “Siapapun yang diurapi dengan pesan akan berdiri dan menyampaikannya. Bisa jadi seorang lelaki, atau seorang wanita, atau seorang anak kecil” (Martin, hal. 186). Ada saatnya kebaktian menjadi sedemikian berisik sehingga polisi dipanggil. Ada satu orang yang gemetaran sedemikian kerasnya di bawah pelayanan Seymour, sehingga sebuah ambulans dipanggil. Ketika orang yang gemetar itu memberitahu dokter, “Jangan sentuh saya, ini kuasa Allah,” sang dokter dengan bijak menjawab, “Jika ini kuasa Allah, maka kuasa ini sedang menggoncang anda seperti setan” (Martin, hal. 306). Seymour mengklaim bahwa kesembuhan jasmani digaransi dalam penebusan Kristus dan mengajarkan orang-orang untuk berseru kepada Allah dan menuntut “baptisan Roh Kudus dan penyembuhan ilahi” (Synan, The Holiness-Pentecostal Tradition, hal. 99). Tetapi Seymour mati pada usia lima puluh dua, dan sebelum kematiannya dia digambarkan dalam kondisi “capek, usang, dan sangat lemah” (John Matthews, Speaking in Tongues, 1925, hal. 14). Gambaran itu bagi saya tidak terdengar seperti kesembuhan ilahi! Sebenarnya, kehidupan dan kematian orang malang tersebut mencerminkan kekacauan yang tidak alkitabiah yang sama yang mencirikan kebaktian-kebaktiannya. Tidak heran G. Campbell Morgan menyebut Azusa Street sebagai “muntahan terakhir Iblis.” (Untuk lebih banyak lagi informasi tentang sejarah dan doktrin Pantekostalisme, lihat The Pentecostal-Charismatic Movements, tersedia di Way of Life Literature, www.wayoflife.org.)

Posted in Kharismatik/Pantekosta | Leave a comment