Gereja Anglikan Melarang Lagu “Maju Laskar Kristus”

(Berita Mingguan GITS 11 November 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah jemaat Gereja Inggris telah melarang lagu “Maju Laskar Kristus” dalam kebaktian mereka akhir pekan yang lalu ini, supaya tidak “menyinggung perasaan” orang-orang non-Kristen. Gereja Santo Petrus di Oadby, Leicester, menghilangkan lagu tersebut dari kebaktian tahunan Sunday Remembrance, yang memperingati prajurit-prajurit Inggris yang meninggal (“Church Bans Singing ‘Onward Christian Soldiers,’” Christian Post, 29 Okt. 2017). Lagu ini dulunya selalu dinyanyikan sebagai tradisi. Sebagian anggota jemaat berencana untuk tetap di luar pada waktu acara kebaktian dan menyanyikan lagu ini di luar sebagai bentuk protes, tetapi menurut kami ini adalah tindakan sia-sia, karena sangatlah jelas bahwa sudah lama sekali tidak ada laskar Kristen yang sejati yang duduk di bangku-bangku “gereja” itu.

Posted in Gereja | Leave a comment

Pelajaran dari Operasi Pra-Kelahiran

(Berita Mingguan GITS 11 November 2017, sumber: www.wayoflife.org)

New York Times baru-baru ini melaporkan tentang sebuah operasi pra-kelahiran yang dilakukan untuk memperbaiki kecacatan yang dikenal dengan istilah spina bifida (tulang belakang pada bayi tidak menutup dengan sempurna). Para dokter telah menganjurkan kepada kedua orang uta, Lexi dan Joshuwa Royer, untuk mengaborsi bayi tersebut, dengan alasan bahwa anak kemungkinan akan memiliki “kualitas hidup yang rendah.” Tetapi, mereka lebih memilih operasi pra-kelahiran. Selama prosedur yang berlansung tiga jam itu, dokter membelah perut Ny. Royer, dengan hati-hati mengeluarkan rahim dari tubuhnya, memasukkan fetoskop dan alat-alat operasi lainnya ke dalam rahim melalui pembukaan rahim, dan mengoperasi bayi yang masih dalam kandungan usia 24 minggu itu. Cairan amniotik (air ketuban) dikosongkan dan sebagai gantinya dimasukkan karbon dioksida untuk mempertahankan rahim tetap mengembang, sehingga dokter bedah dapat melihat dan mengkaterisasi jaringan dengan lebih baik. Ada banyak pelajaran yang dapat ditarik dari peristiwa ini. Pertama, kita memuji keluarga Royer karena tidak mau mengaborsi bayi mereka. Alkitab mengajarkan bahwa Allah adalah pencipta dan pemberi buah kandungan (Kej. 29:31; 30:22; Rut. 4:13) dan Dia membentuk bayi di dalam kandungan (Maz. 139). Kedua, kerelaan sang ibu untuk mempertaruhkan nyawanya demi kebaikan bayinya, adalah suatu tindakan kasih yang mengatasi kepentingan sendiri, dan ini mengingatkan bahwa kita dibentuk dalam gambar dan rupa Allah dan masih memiliki keserupaan itu, walaupun telah jatuh. Salah satu dokter yang membantu dalam operasi tersebut mengobservasi bahwa “operasi janin adalah salah satu dari sedikit operasi yang bisa memiliki tingkat mortalitas 200%.” Ketiga, teknologi medis modern itu sendiri adalah bukti bahwa manusia diciptakan sesuai gambar dan rupa Allah, dan bukanlah bagian dari dunia binatang. Keempat, kepercayaan pada Allah memberikan orang perspektif yang berbeda dan lebih baik terhadap kehidupan. Ibu dari Ny. Royer mengatakan bahwa walaupun mereka tahu bahwa bayi itu kemungkinan besar akan memiliki kecacatan tertentu, “Kami percaya dengan kuat kepada Allah dan kami damai tentang hal ini; bayi ini akan sangat dikasihi; kami tidak peduli hal lain” (“Reporting from the Operating Room as Doctors Perform Fetal Surgery,” The New York Times, 24 Okt. 2017).

Posted in General (Umum), Kesehatan / Medical | 2 Comments

Para Uskup Agung Gereja Inggris yang Sesat

(Berita Mingguan GITS 4 November 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Gereja Inggris [disebut juga Gereja Anglikan] tidak pernah sehat dalam hal pengajaran Firman Tuhan, tetapi dalam tahun-tahun belakangan ini, ia semakin menjauh dari Firman Allah. Perhatikan beberapa pernyataan dari 65 tahun belakangan ini, yang dibuat oleh para Uskup Agung Canterbury, yaitu posisi tertinggi dalam gereja Anglikan (Editor: dalam sistem gereja Inggris, yang meniru sistem Katolik, Raja Inggris adalah kepala gereja, tetapi Uskup Agung Canterbury adalah kepala rohaninya). Pada tahun 1953, William Temple, dalam bukunya Nature and God, mengatakan, “… tidak ada yang namanya kebenaran disingkapkan.” Pada tahun 1961, Michael Ramsey mengatakan, “… sorga bukanlah tempat untuk hanya orang Kristen. … Saya yakin akan melihat banyak orang yang hari ini atheis nanti di sana” (London Daily Mail, 2 Okt. 1961). Pada tahun 1982, Robert Runcie mengatakan bahwa dia agnostik [tidak tahu] tentang mengapa Yesus menderita di atas kayu salib (Sunday Times Weekly Review, London, 11 April 1982). Saya membaca wawancara itu sambil makan sarapan di London waktu itu, dan hampir menumpahkan kopi saya. Pada tahun 1996, George Carey menyerang para fundamentalias yang menurut dia menempatkan Alkitab “di atas dan terlepas dari penyelidikan manusia” (Christian News, 9 Des. 1996). Pada tahun 2008, Rowan Williams memimpin Gereja Inggris untuk membuat pernyataan berikut: “Charles Darwin, 200 tahun sejak kelahiranmu, Gereja Inggris berhutang pernyataan maaf karena telah salah memahamimu, dan membuat reaksi pertama yang salah, sehingga mendorong orang-orang lain untuk masih salah memahamimu hingga sekarang” (“Church Makes ‘Ludicrous’ Apology,” The Daily Mail, 13 Sep. 2008). Dalam sebuah wawancara tahun 2014, Williams mengatakan bahwa dia mempraktekkan suatu meditasi kombinasi Buddha/Katolik/Ortodoks (“Rowan Williams: How Buddhism Helps Me Pray,” The Telegraph, London, 2 Juli 2014). Bulan lalu, Justin Welby memberitahu seorang wartawan dari majalah GQ bahwa dia tidak bisa menjawab pertanyaan apakah homoseksualitas itu dosa atau tidak.

Posted in Gereja, Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Gospel Music Association Memberi Penghargaan kepada Film “The Shack”

(Berita Mingguan GITS 4 November 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam acara penghargaan Dove award yang diadakan tahunan, Gospel Music Association memilih The Shack sebagai “film inspirasi tahun ini.” The Shack, yang ditulis oleh William Paul Young, adalah cerita fiktif tentang seseorang yang pahit terhadap Allah karena mengizinkan putrinya dibunuh dan yang kembali ke lokasi pembunuhan tersebut, yaitu sebuah gubuk tua di hutan, dan di sana dia mendapatkan suatu pertemuan dengan Allah yang mengubah hidupnya. Namun demikian, “Allah” yang dia temui itu bukanlah Allah dalam Alkitab. Diterbitkan pada tahun 2007, buku ini telah terjual lebih dari 20 juta kopi secara internasional. Dengan dirilisnya filmnya, buku ini sekali lagi naik ke puncak daftar penjualan buku. William Young bukanlah anggota gereja mana-mana dan bahkan enggan untuk menyebut dirinya sendiri seorang Kristen, dia lebih menggambarkan dirinya sebagai seorang yang “rohani tetapi tidak agamawi” (“After The Shack, a Crossroads: William Paul Young,” Publishers Weekly, 21 Sep. 2012). Namun novel ini telah dipuji dan direkomendasikan oleh Klub 700 milik Pat Robertson, artis CCM Michael W. Smith, Gayle Erwin dari Calvary Chapel, James Ryle dari gereja-gereja Vineyard, Andy Crouch, editor senior dari majalah terkenal Christianity Today, Gloria Gaither, Mark Lowry (mantan penyanyi dengan keluarga Gaither), Eugene Peterson, pembuat Alkitab The Message, banyak tokoh Southern Baptist (seperti Wade Burleson, gembala dari Emmanuel Baptist Church di Enid, Oklahoma), dan banyak lainnya. Secara mendasar, The Shack mendefinisikan ulang Allah. Dalam sebuah wawancara tahun 2007, Young bercerita tentang seorang wanita yang menulis kepadanya dan berkata bahwa putrinya yang berusia 22 tahun datang kepadanya setelah membaca buku itu dan bertanya, “APAKAH BOLEH SAYA MENCERAIKAN ALLAH YANG LAMA DAN MENIKAHI YANG BARU?” Dengan demikian Young mengakui bahwa Allah dalam The Shack adalah berbeda dari konsep Allah tradisional dalam kekristenan yang percaya Alkitab. Dia mengatakan bahwa Allah yang “menghakimi dosa” adalah “Zeus yang telah dikristenkan.” Dalam buku The Shack, Young menggambarkan Allah tritunggal sebagai seorang wanita Asia muda yang bernama “Sarayu” (ini katanya adalah Roh Kudus, tetapi nama ini adalah dari kitab suci Hindu dan mewakili sungai mistis di India yang katanya di pinggir sungai itu dewa Rama lahir), seorang tukang kayu oriental yang suka bersenang-senang (ini katanya adalah Anak Allah), dan seorang wanita kulit hitam yang lebih tua bernama “Elousia” dan “Papa” (katanya ini adalah Allah Bapa). Ilahnya Young adalah ilah gereja-gereja emerging. Ilah ini digambarkan cool, suka rock & roll, tidak menghakimi, tidak menjari murka terhadap dosa, tidak mengirim orang yang tidak percaya ke api neraka yang kekal, tidak menuntut pertobatan dan kelahiran kembali, tidak menaruh keharusan pada orag, tidak menyukai gereja-gereja Alktiabiah yang tradisional, dan tidak menerima Alkitab sebagai Firman Allah yang tanpa salah.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Sarang Lebah Kuno Ditemukan di Israel

(Berita Mingguan GITS 28 Oktober 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dua puluh kali Alkitab menggambarkan tanah Israel di masa kuno sebagai tanah yang berlimpah-limpah “susu dan madu” (Kel. 3:8, dll.). Banyak sejarahwan dan arkeologis modern telah mengklaim bahwa madu yang dimaksud ini adalah hasil dari buah korma atau buah ara, bukan madu yang dari sarang lebah. Tetapi, pada bulan September, arkeolog-arkeolog yang dipimpin oleh profesor Hebrew University, Amihai Mazar, menemukan suatu industri madu lebah berusia 2.900 tahun di Lembah Yordan di Israel utara. Sarang-sarang lebah yang terpelihara baik, dan diperkirakan yang paling tua yang eksis hari ini, masing-masingnya berukuran 2,5 kaki panjangnya dan satu kaki diameternya. Sarang-sarang ini ditumpuk tiga dalam barisan-barisan yang teratur. Seratus delapan puluh sarang telah ditelmukan, dan 30 sarang saja sudah cukup untuk menghasilkan hingga setengah ton madu per tahun (“Oldest Bee Hives Discovered in Israel,” Patterns of Evidence, 12 Okt. 2017). Mazar mengatakan, “Dapat terlihat bahwa ini adalah industri yang terorganisir, bagian dari suatu ekonomi yang terorganisir, dalam sebuah kota yang sangat terorganisir” (“Archaeologists Find 3,000-year-old Beehives,” Haaretz, 4 Sep. 2017). Sarang-sarang yang ditemukan tersebut sedemikian terpelihara sehingga masih ada lilin lebah dan sisa-sisa lebah yang dapat dianalisa, termasuk lebah pekerja, lebah drone, pupa, dan juga larva. Industri ini sangat rumit. Setiap sarang lebah harus ada penutup yang dapat dibuka pada satu ujung untuk pengeluaran madu, dan juga satu lobang kecil di ujung yang lainnya agar lebah dapat keluar dan masuk. Penanggalan Karbon pada gandum yang ditemukan dekat sarang-sarang itu, memberikan kesan bahwa sarang-sarang tersebut berasal dari zaman masa kerajaan Israel terbagi, dan lokasi penemuannya adalah Tel Rehov (dalam Alkitab Rehob, sekitar tiga mil selatan dari Bet Sean dan dua mil barat dari Yordan), tempat nabi Elisa diperkirakan tinggal (“World’s Oldest Beehives,” BreakingIsraelNews.com, Sep. 26, 2017). Sebuah mezbah bagi dewi kesuburan ditemukan di samping sarang-sarang tersebut, memberikan cuplikan gambar tentang penyembahan berhala kerajaan Israel utara sebagaimana dicatat dalam Kitab Suci. Penemuan ini memberikan latar belakang arkeologis untuk Yehezkiel 27:17, yang mengatakan bahwa orang Israel menjual madu kepada orang-orang Fenisia. Keakuratan sejarah yang tercatat dalam Alkitab telah diverifikasi oleh bukti-bukti eksternal tak terhitung seringnya. Tidak ada kitab kuno lainnya yang dapat bertanding dengan Alkitab dalam hal akurasi, bahkan dari sudut pandang sekuler yang jujur sekali pun.

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Bill Hybels Pensiun dan Akan Digantikan Tim Gembala Pria-Wanita

(Berita Mingguan GITS 28 Oktober 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Bill Hybels, pendiri dari Willow Creek Community Church dekat kota Chicago, akan pensiun pada bulan Oktober 2018, dan akan digantikan oleh Heather Larson sebagai “Gembala Utama” dan Steve Carter sebagai “Gembala Pengajar Utama.” Willow Creek telah memiliki penatua-penatua wanita sejak berdirinya pada tahun 1970an, tetapi pada tahun 1997 semua anggota staf diberikan waktu satu tahun untuk menerima penuh posisi ini atau mundur. Pada tahun itu, John Ortberg, salah satu “penatua pengajar” di Willow Creek, menulis sebuah paper dan mengatakan bahwa Alkitab “mengajarkan kesetaraan penuh antara laki-laki dan perempuan dalam status, karunia, dan kesempatan untuk melayani” (“Femme Fatale: The Feminist Seduction of the Evangelical Church,” World magazine, 9 Maret 1997). Ini adalah pemberontakan terbuka terhadap pengajaran jelas dalam Firman Allah. Willow Creek adalah salah satu “megachurch” pertama yang “seeker sensitive” (Editor: maksudnya mengakomodir kemauan orang-orang yang belum percaya yang masih “mencari-cari”). Gereja ini sejak awal mengiklankan dirinya sendiri sebagai berikut: “Tidak ada api neraka dan belerang di sini, tidak ada memukul-mukul Alkitab, hanya khotbah-khotbah positif yang merangsang.” Tempat kebaktian utama mereka di komunitas Willow Creek, barat dari Chicago, bernilai $73 juta dengan kapasitas tempat duduk lebih dari 7.000. Sekitar 25.000 orang mengikuati kebaktian akhir minggu di delapan lokasi gedung gereja.

Posted in Emerging Church, Gereja | Leave a comment

Paus Menolak Hukuman Mati

(Berita Mingguan GITS 28 Oktober 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berbicara kepada audiens yang berkumpul untuk memperingati 25 tahun munculnya New Catholic Catechism, pada tanggal 11 Oktober 2017, Paus Fransiskus mencela hukuman mati sebagai “tindakan yang tidak manusiawi” dan “bertentangan dengan Injil” (“On the death penalty,” Boston Globe, 18 Okt. 2017). Dia mengatakan bahwa “doktrin gereja” telah salah mengenai hal ini selama “2000 tahun.” Pada tahun 2016, sang paus menyerukan “suatu dunia yang bebas dari hukuman mati” (“Pope Francis calls for,” Crux, 21 Jun. 2016). Bukannya meninggalkan sistem kepausan itu sendiri dan ribuan kesesatan Roma Katolik lainnya yang tercantum dalam New Catholic Catechism, paus yang kebingungan ini memilih untuk mencela sesuatu yang jelas didukung oleh Kitab Suci. Gereja Katolik telah sejak dulu menyalahgunakan hukuman mati, dengan cara membunuh orang-orang Kristen yang alkitabiah, orang Yahudi, dan kelompok-kelompok lainnya, di bawah gerakan Inkuisisi. Tetapi, penyalahgunaan sesuatu yang baik tidaklah menghancurkan semua nilainya sama sekali. Hukuman mati bagi tindakan kejahatan besar adalah tindakan keadilan sekaligus peringatan bagi yang lain. “Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri” (Kej. 9:6). “Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat” (Rom. 13:4).

Posted in Katolik | 1 Comment

Nubuat Palsu Kenneth Copeland tentang Hurricane Irma

(Berita Mingguan GITS 14 Oktober 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pada tanggal 9 September, pengkhotbah kharismatik, Kenneth Copeland, menaikkan suatu doa “perkataan iman” (word faith), untuk menghentikan Hurricane Irma, yang mendekat ke Amerika Serikat waktu itu. Berbicara kepada sekumpulan orang di konferensi Living Victory, Copeland berkata, “Allah tidak sedang pegang kendali. Itu berasal dari cuci otak agama. Dia tidak sedang pegang kendali. … Bumi bukanlah milih Allah; bukanlah milik Yesus, Ia telah memberikannya kepada manusia. Jika kamu mempelajari Kitab Suci, kamu akan menyadari bahwa Allah cukup terbatas pada apa yang kita minta Dia lakukan. Dia tidak bisa menyela masuk begitu saja dan menghentikan badai itu [Irma]. Seseorang di bumi harus mulai berbicara dengan badai ini” (“Kenneth Copeland delivers a special message about Hurricane Irma,” https://www.youtube.com/watch?v=1f3gzbYU01I). Setelah mengucapkan kesesatan yang menghujat itu, Copeland lalu berpura-pura melakukan apa yang dia bilang Allah tidak bisa lakukan, yaitu menjalankan kuasa atas badai itu: “Bapa, dalam nama Yesus kami berdoa bagi semua yang ada pada jalur badai ini, kami mengutuki benda ini dalam nama Tuhan Yesus Kristus dari Nazaret. Kami berdiri di hadapanMu dalam iman. Kami berdiri di hadapanMu dalam nama Yesus. Kami berdiri di hadapanMu, menyatakan di hadapanMu, bahwa hurricane Irma sekarang mati! Dibalikkan! Mati, demikian kata Tuhan! … Kami berdiri bersama sebagai gang Roh Kudus [partner-partner doa Copeland]… kami mengikatmu, Iblis” (Ibid.). Dalam beberapa hari [sejak doa dia], jelas bahwa Copeland sekali lagi terbukti sebagai nabi palsu, dan bahwa kata-kata dia dan gang “Roh Kudus”nya, tidak memiliki kuasa penciptaan. Irma menghantam Florida sebagai badai keras kategori 3 dan menimbulkan kerusakan badai dan banjir yang luas. Badai Irma tidak sekuat yang awalnya diprediksikan, tetapi jelas jauh dari “mati”! Alkitab mengajarkan bahwa Allah pegang kendali langsng atas “alam.” “TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya” (Nah. 1:3).

Posted in Kharismatik/Pantekosta | 4 Comments

Uskup Agung Canterbury Tidak Mau Mengatakan “Seks Gay Adalah Dosa”

(Berita Mingguan GITS 14 Oktober 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah wawancara baru-baru ini, Justin Welby, Uskup Agung Canterbury, menolak untuk menyebut seks homoseksual sebagai suatu dosa. Uskup Agung Canterbury adalah kepala dari Gereja Anglikan. [Editor: Pada abad 16, setelah Martin Luther menggulirkan gerakan Reformasi, berbagai pihak juga melepaskan diri dari cengkeraman Katolik. Salah satunya adalah raja Inggris, Henry VIII, yang mendeklarasikan Inggris tidak lagi dibawah Roma (walaupun motivasinya dapat dipertanyakan, karena dia juga ingin menceraikan istrinya dan menikahi wanita lain). Itulah sejarah munculnya Gereja Inggris yang disebut juga Gereja Anglican. Sayangnya, mereka tetap memakai sistem hirarki yang secara esensi sama dengan Katolik. Jika di Katolik kepalanya adalah Paus, maka di Anglican, kepalanya adalah Uskup Agung Canterbury]. Majalah GQ bertanya kepada Welby, “Apakah seks gay itu dosa?” Dia menjawab, “Kamu tahu persis, bahwa ini adalah pertanyaan yang saya tidak bisa jawab dengan tegas.” Ketika ditanya lebih lanjut, “Mengapa tidak bisa?” Welby menjawab, “Karena saya tidak memberikan penghakiman secara luas demikian dan karena saya tidak memiliki jawaban yang baik untuk pertanyaan itu” (“Archbishop Justin Welby,” GQ, Oktober 2017). Kami menyarankan agar sang uskup agung berkonsultasi dengan Alkitab mengenai masalah ini. Rasul Paulus tidak memiliki keraguan untuk mengatakan bahwa homoseksualitas adalah dosa. Dalam Roma 1:26-28, dia menyebutnya “hawa nafsu yang memalukan,” “tak wajar,” “kemesuman,” dan “terkutuk.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Mitos Evolusi yang Terus Bertahan

(Berita Mingguan GITS 14 Oktober 2017, sumber: www.creationmoments.com)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 22 Agustus 201: “Ernst Haeckel terkenal karena membuat diagram-diagram embrio, untuk menunjukkan kemiripannya. Ide dia adalah bahwa “ontogeni merekapitulasi filogeni.” Dengan kata lain, tahapan-tahapan perkembangan, yang dilalui oleh sebuah embrio (ontogeni), adalah semacam rekapitulasi (pengilasan ulang) dari evolusi organisme tersebut (filogeni). Saya dengan jelas masih ingat diajarkan hal ini, sebagai bukti evolusi, ketika saya masih duduk di Sekolah Dasar. Ketika saya mengingat guru mana yang mengajarkan hal ini, saya tahu bahwa saya diajarkan hal ini pada tahun 1971. Gambar-gambar Haeckel yang terkenal ini dipublikasikan tahun 1874, tetapi menuai kritik hampir pada saat yang bersamaan. Teori Haeckel telah diketahui sebagai kesalahan sejak minimal 1965 (Simpson and Beck, An Introduction to Biology, hal. 241). Gambar-gambar yang dia buat itu bukan saja suatu kesalahan. Gambar-gambar itu secara sengaja dimanipulasi, untuk mendukung teori rekapitulasinya, walaupun bentuk sebenarnya dari embrio-embrio tidak menunjukkan kesamaan yang dimaksud. Namun, ketika saya menjadi seorang guru tahun 1983, mengajar di sebuah sekolah pemerintah di Inggris, saya diberikan suatu kurikulum IPA, yang menyertakan konsep ini, 20 tahun setelah diketahui bahwa ini konsep yang salah, dan 12 tahun setelah saya diajar konsep ini. Dalam kantor saya, saya memiliki sejumlah buku teks ilmu pengetahuan tingkat SMP-SMA. Salah satu buku teks Biologi yang paling terkenal adalah yang diterbitkan oleh Prentice Hall. Edisi yang saya miliki adalah edisi 2002, hampir 40 tahun setelah ide-ide Haeckel telah dibuktikan salah. Namun, buku ini masih menyertakan konsep Haeckel itu sebagai salah satu bukti evolusi Darwin (Miller and Levine, Biology, hal 385). Ini memaksa kita untuk menyimpulkan bahwa para evolusionis menipu diri mereka sendiri, karena mereka desperate mencari bukti untuk ide mereka, padahal memang tidak ada buktinya.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment