Paus Dilaporkan Mengatakan Tidak Ada Neraka

(Berita Mingguan GITS 7 April 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Pope Francis,” CNSNews.com, 29 Mar. 2018: “Dalam sebuah wawancara lainnya dengan Eugenoi Scalfari, teman atheisnya sejak lama, Paus Fransiskus mengklaimb ahwa Neraka tidak eksis dan bahwa jiwa-jiwa yang terhukum hanya ‘lenyap.’ Ini adalah penyangkalan terhadap pengajaran 2000 tahun Gereja Katolik sendiri tentang realitas Neraka, dan eksistensi kekal dari jiwa. Wawancara antara Scalfari dan sang Paus dipublikasikan pada tanggal 28 Maret 2018, di La Repubblica. Bagian yang relevan tentang Neraka diterjemahkan oleh web log yang banyak dipercaya, Rorate Caeli. Wawancara itu berjudul, ‘Sang Paus: Sungguh terhormat jika disebut revolusioner’ (‘Il Papa: ‘È un onore essere chiamato rivoluzionario). Scalfari berkata kepada Paus, ‘Yang Mulia, dalam pertemuan kita sebelumnya, anda memberitahu saya bahwa spesies kita akan menghilang pada saat tertentu, dan bahwa Allah, masih dengan kuasa penciptaanNya, akan menciptakan spesies baru. Anda tidak pernah berbicara kepada saya tentang jiwa-jiwa yang mati dalam dosa dan yang akan pergi ke neraka untuk menderita di sana selamanya. Namun anda pernah berbicara kepada saya tentang jiwa-jiwa yang baik, yang diizinkan masuk ke dalam persekutuan dengan Allah. Tetapi bagaimana dengan jiwa-jiwa yang buruk? Di manakah mereka dihukum?’ Paus Fransiskus mengatakan, ‘Mereka tidak dihukum, mereka yang bertobat mendapatkan pengampunan Allah dan masuk dalam jajaran jiwa-jiwa yang merenungkanNya, tetapi mereka yang tidak bertobat dan oleh karena itu tidak dapat diampuni, akan menghilang. Tidak ada neraka, yang adalah lenyapnya jiwa-jiwa berdosa.’”

Posted in Katolik | Leave a comment

Film tentang Maria Magdalena Menggambarkan Dia sebagai Seorang Rasul

(Berita Mingguan GITS 7 April 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah film baru yang berjudul Mary Magdalene, disutradarai oleh Garth Davis, menggambarkan Maria sebagai seorang wanita independen yang kuat, yang adalah “juga seorang rasul dirinya sendiri” (“Think you know Mary Magdalene”? BBC, 13 Mar. 2018). Maria yang didalam Kitab Suci adalah seorang wanita dari desa nelayan Magdala, di pantai barat laut Danau Galilea, yang menjadi seorang pengikut Yesus setelah roh-roh jahat diusir dari dirinya. Dia hadir pada peristiwa Penyaliban dan adalah yang pertama menyaksikan Kristus yang telah dibangkitkan (Mar. 16:9-10). Pada abad keenam, Paus Gregory I, secara salah mendeklarasikan Maria sebagai wanita pelacur yang bertobat yang disebut dalam Lukas 7:36-50, dan ini menjadi pandangan yang populer hingga sekarang. Tulisan-tulisan Gnostik dari abad kedua dan ketiga, seperti Injil Maria, menggambarkan dia sebagai seorang murid yang spesial, dengan pemahaman rohani yang mendalam, yang menjadi seorang instruktur bagi murid-murid lelaki. Tentu semua ini adalah kesesatan. Yang benar tentang Maria Magdalena, dari Firman Tuhan adalah sebagai berikut.

Dia disebut Maria Magdalena, karena ia berasal dari kota Magdala, yang terletak di pantai barat laut Danau Galilea, sebuah kota nelayan. Ada industri sarden di kota itu, dan nama Yunani dari kota itu adalah Tarichaea, yang berarti “tempat ikan diasinkan.” Penggalian arkeologi baru-baru ini menemukan adanya sebuah sinagog besar di kota itu, dari abad pertama. Kristus pastinya pernah berkhotbah di sana (Mat. 4:23).

Kita tidak tahu apa-apa tentang status pernikahan Maria, kecuali bahwa tidak pernah disinggung dia memiliki suami. Maria pernah dirasuki roh jahat dan menderita berbagai penyakit, dan Yesus mengusir tujuh roh jahat dari padanya. Maria menjadi murid Yesus yang setia, dan adalah salah satu wanita yang melayani Yesus dan murid-murid selama pelayananNya di daerah Galilea (Luk. 8:1-3). Alkitab banyak memberi penekanan tentang peran pelayanan para wanita bagi Kristus selama Ia di bumi.

Maria hadir saat penyaliban dan menyaksikan kematian Yesus (Mat. 27:55-56). Semua murid lelaki melarikan diri sepertinya, kecuali Yohanes. Tetapi banyak murid wanita dari Galilea bertahan bersama Kristus dalam penderitaanNya, termasuk Maria Magdalena. Maria lalu mengunjungi kubur Kristus setelah kematianNya dan mengamati persiapan pada tubuhNya dan penaruhanNya pada kubur (Mat. 27:58-61). Maria “yang lain” adalah istri Kleopas dan ibu dari Yakobus dan Yoses.

Kepada Maria-lah, seorang wanita, Yesus pertama menampakkan diri pada pagi itu (Mar. 16:9). Yohanes 20 menggambarkan apa yang terjadi secara lebih mendetil. Dia melihat batu telah terguling dan berlari untuk memberitahu Petrus dan Yohanes (Yoh. 20:1-2). Dia kembali lagi setelah mereka telah pergi dan menangisi kubur itu. Pada saat itulah dia melihat Yesus dan pertama ia kira seorang tukang kebun. Lalu Yesus menyatakan diriNya kepada Maria dengan penuh kasih. Sungguh, Maria Magdalena tidak perlu diangkat menjadi rasul, dan tidak perlu kita menciptakan berbagai legenda atau kesesatan tentang dia (misal bahwa dia menikah dengan Yesus). Dari apa yang tertulis dalam Alkitab, Maria adalah pengikut Yesus yang setia, dan yang diberkati oleh Tuhan karena ia memiliki persekutuan indah dengan Juruselamatnya.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Wanita | Leave a comment

Meterai Yesaya Ditemukan Dekat Meterai Hizkia

(Berita Mingguan GITS 24 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Penggalian yang dilakukan di bawah Bukit Bait Suci (Temple Mount), telah menemukan sebuah bulla (meterai dari tanah liat), yang tertera dengan nama “Yesaya” diikuti oleh sebuah kata yang bisa jadi adalah “nabi.” Kata yang kedua ini memang kehilangan satu huruf, jadi identifikasi kata tersebut tidaklah 100% pasti. Tetapi tanggal dan lokasi benda ini menunjuk kepada nabi Yesaya yang ada dalam Alkitab. Bulla tersebut ditemukan hanya beberapa kaki dari bulla lainnya yang mengandung nama “Raja Hizkia dari Yehuda” dalam sebuah wilayah yang diperkirakan adalah ruang pemanggangan roti kerajaan di zaman kuno. Kita tahu bahwa Yesaya memiliki hubungan karib dengan istana dan adalah seorang penasihat dekat kepada sang raja. Pada waktu penggalian tahun 2009, 34 bulla ditemukan, tetapi pekerjaan sulit untuk meneliti mereka di bawah mikroskop memakan waktu banyak tahun. Bulla Hizkia diidentifikasi pada tahun 2014, dan bulla Yesaya diidentifikasi pada bulan ini. Bulla-bulla tersebut ditemukan di bawah pengarahan Eilat Mazar, cucu perempuan dari Benjamin Mazar, yaitu arkeolog yang menggali dan menemukan Tembok Barat dan Tembok Selatan dari Bukit Bait, setelah Israel mendapatkan kembali Yerusalem Timur pada akhir dari Perang Enam Hari di tahun 1967. Benjamin menemukan hal-hal yang luar biasa, seperti Batu-Batu Titus, Batu Sangkakala, dan Tangga-Tangga Selatan. Eilat telah menggali di lokasi istana Daud sejak tahun 2005 dan telah menemukan bulla-bulla yang mengandung nama-nama pejabat-pejabat tinggi istana, yang disebut di kitab Yeremia: Yukhal bin Selemya (Yer. 37:3) dan Gedalya bin Pasyhur (Yer. 38:1). Sebuah wawancara dengan Dr. Mazar dapat dilihat di tautan berikut – www.thetrumpet.com/16947-has-eilat-mazar-discovered-archaeological-evidence-of-isaiah-the-prophet.

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Pertahanan Kacang Lima

(Berita Mingguan GITS 24 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 1 Maret 2018: “Anda mungkin tiadk menganggap tumbuhan sebagai sesuatu yang intelijen pada tingkat apapun, karena nampaknya mereka hanya diam di tempat di tanah mereka dan bertumbuh. Namun, kia telah membuat beberapa program Creation Moments yang menyingkapkan tanaman yang berusaha untuk meracuni atau mengusir predator. Sekarang kita akan melihat kacang lima menggunakan strategi pertahanan yang bahkan lebih rumit lagi, yang bukan hanya memberikan peringatan kepada kacang-kacang lima di sekitar tempat serangan, tetapi juga memanggil tentara pertahanan. Siapapun yang pernah bekerja dan meneliti tanaman ini, pastinya kenal dengan yang namanya tungau laba-laba. Ada banyak jenisnya, teatpi salah satu yang paling berbahaya bagi kacang lima adaalh tungau laba-laba bertitik dua. Tungau-tungau ini menginjeksi ludah mereka ke jaringan tanaman, yang akan meluruhkan jaringan tersebut. Salah satu musuh terbesar tungau ini adalah tungau karnivora yang memakan tungau bertitik dua tersebut. Tungau-tungau karvinora bertubuh kecil dan berperjalanan ke mana pun angin meniupkan mereka. Ketika tungau-tungau bertitik dua menyerang suatu tanaman kacang lima, tanaman ini akan mengirimkan sebuah sinyal kimia yang spesial. Ketika sinyal bahaya ini mencapai kacang-kacang lima di sekeliling, mereka juga mulai mengirimkan sinyal tersebut, walaupun mereka tidak sedang diserang. Sinyal ini membawa beberapa pesan kepada spesies-spesies yang berbeda. Tungau bertitik dua yang ada di wilayah itu akan diusir dari sana. Di sisi lain, jika ada tungau karnivora yang ada di wilayah, mereka akan tinggal untuk memakan tungau-tungau laba-laba bertitik dua. Sebagai hasil, kacang lima mempertahankan diri dengan mengirimkan pesan-pesan yang spesifik kepada tiga spesies yang berbeda! Strategi kacang lima yang pintar ini sulit untuk dijelaskan oleh evolusionis. Tetapi hal ini mudah dijelaskan jika kita menerima Pencipta yang peduli akan semua ciptaanNya. Catatan: Bombardier Beetles and Fever Trees, William Agosta, 1997, hal. 28-30.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Persamaan dalam Berbagai Penembakan Sekolah

(Berita Mingguan GITS 24 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “A Key Commonality,” DailyWire.com, 26 Feb. 2018: “Setelah peristiwa tragis penembahan di SMA South Florida [tanggal 14 Februari], yang berakhir dengan 17 kematian, kelompok Demokrat [AS] dan para sekutu mereka di media massa mainstream, melancarkan serangan penuh kepada National Rifle Association (NRA), politikus-politikus Republikan, dan juga warga-warga Amerika pemiliki senjata api, dan juga Amandemen Kedua [yang menjamin kebebasan memiliki senjata]. Dan sementara ada berbagai obrolan mengenai ‘maskulinitas toksik’ yang muncul di berbagai blog sayap-kiri, ada keheningan yang luar biasa mengenai satu hal yang menjadi faktor yang sama yang terdapat dalam mayoritas penembakan di sekolah-sekolah: yaitu rumah tangga tanpa ayah. Sebagaimana diperhatikan oleh Profesor Brad Wilcox dari University of Virginia, tahun 2103, ‘hampir semua penembakan tahun lalu, dalam daftar yang ada di Wikipedia tentang penembakan di sekolah-sekolah AS, melibatkan seorang lelaki muda yang orang tuanya bercerai atau yang orang tuanya tidak pernah menikah sejak awalnya.’ Lebih lanjut lagi, sebuah studi tentang penembak-penembak lelaki yang lebih tua, juga menemukan koneksi yang serupa kepada faktor tumbuh besar tanpa figur ayah. Menulis dalam The Federalist, tahun 2015, Peter Hasson menggarisbawahi fakta bahwa semua penembakan dalam daftar yang dibuat CNN berjudul ‘27 Penembakan Massal paling Mematikan dalam Sejarah AS,’ yang dilakukan oleh lelaki-lelaki muda, hanya satu yang dibesarkan oleh ayah kandungnya sendiri. Penembak sekolah Florida yang paling baru ini, juga tidak memiliki figur ayah, karena ayah angkatnya mati ketika tersangka masih anak kecil. Hasson juga menyarikan korelasi yang mengguncang antara rumah tangga tanpa ayah dengan kekerasan lelaki pada umumnya: “Kekerasan? Ada hubungan langsung antara anak-anak tanpa ayah dan kekerasan remaja. Bunuh diri? Anak-anak tanpa ayah lebih dari dua kali lebih mungkin untuk melakukan bunuh diri. Putus sekolah? Tujuh puluh satu persen anak yang putus sekolah berasal dari latar belakang tanpa ayah. Penggunaan narkoba? Menurut Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia AS, ‘Anak-anak tanpa ayah menghadapi resiko yang jauh lebih tinggi untuk jatuh pada penyalahgunaan obat dan alkohol.’ Bagaimana dengan senjata api? Dua korelasi paling tinggi dengan pembunuhan menggunakan senjata api adalah tumbuh besar dalam rumah tangga yang tidak memiliki ayah, dan putus sekolah, yang sendirinya berhubungan langsung dengan tiadanya ayah yang aktif atau hadir.” Koneksi yang jelas ini diabaikan secara sengaja dan malas oleh kalangan Kiri, dan kalaupun disinggung, dipakai sebagai bukti untuk lebih lanjut lagi menghantam maskulinitas, yang mereka anggap ‘toksik.’”

Posted in General (Umum), Keluarga | 4 Comments

Prostitusi Lelaki di Vatikan

(Berita Mingguan GITS 17 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari ““Male Prostitution Big Business at Vatican,” PulpitandPen.org, 6 Mar. 2018: “Dunia terkejut mendengar adanya dunia gelap imam-imam di Vatikan, yang membayar untuk melakukan seks dengan lelaki-lelaki lain. Tetapi mengingat sejarah Gereja Roma Katolik dan kebijakan selibetnya [tidak menikah] yang tragis, homoseksualitas, pedofilia, dan bahkan bestiality adalah hal yang terlalu sering terjadi di kalangan keimamatan mereka. Melarang orang untuk menikah atau melakukan persetubuhan yang kudus dalam pernikahan adalah tanda agama yang kafir atau usaha untuk membenarkan diri melalui pekerjaan (1 Timotius 4:3). Konsekuensi dari tuntutan tidak menikah ini sangatlah buruk dan secara rutin dapat dibaca di koran harian. Seorang pendamping [escort] lelaki bernama Francesco Mangiacapra mengkompilasi sebuah dossier 1200 halaman, yang mengidentifikasi lebih dari 34 imam aktif yang gay dan enam mahasiswa seminari gay di Vatican. Bagaimana dia bisa tahu orang-orang ini? Melalui pengalaman pribadi. Kardinal Cresenzio Sepe dari Keuskupan Naples, mem-forward dossier ini ke Vatikan, walaupun tidak ada imam yang teridentifikasi yang berasal dari Naples, karena dia merasa bahwa korupsi di dekat dan di dalam Vatikan haruslah dibongkar. Dossier yang dikompilasi oleh pelacur pria ini kebanyakan mengandung percakapan dan bukti-bukti yang muncul dari berbagai App yang dipakai untuk berhubungan ‘gay,’ seperti WhatsApp, Grindr, dan Telegram. Di dalamnya, para imam akan mengatur perjumpaan seksual dengan sang gigolo. Informasi yang disediakan dalam platform media sosial seperti Facebook juga ada. Sebuah buku telah diterbitkan mengenai topik budaya imam yang gay di Vatikan, pada bulan Maret tahun lalu, tetapi secara umum diabaikan oleh para pendukung Roma. Oleh sebab itulah, sang pelacur pria itu mengkompilasi data mentah menjadi dossier itu, dan mulai mengirimkannya ke orang-orang yang dia rasa dapat membongkarnya. Dia melakukan hal ini, menurut pengakuannya, karena ia tidak dapat lagi tahan terhadap kemunafikan gereja tersebut. Sama seperti di Amerika, pers agama tidak akan mempublikasikan material ini karena dianggap membahayakan, sehingga harus pers sekuler yang melakukannya. … Ketika Paus Fransiskus berargumen bahwa gereja Roma harus lebih menyambut para homoseksual, sepertinya ini adalah kata-kata yang tidak begitu dibutuhkan lagi. Lihat Jonathan Merritt, ‘This Vatican adviser is moving Catholics toward LGBT inclusion,’ ReligionNews.com, 6 Jun. 2017.”

Posted in Katolik, LGBT | Leave a comment

Disney Terus Menurun kepada Penyimpangan Moral

(Berita Mingguan GITS 17 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Elsa Coming Out as a Lesbian?” CBN.com, 1 Mar. 2018: “Sebuah sequel untuk film populer [Frozen] dicanangkan akan rilis pada bulan November 2019, dan sekarang sebuah wawancara dengan penulis dan co-sutradara film tersebut, Jennifer Lee, dalam Huffington Post, mengangkat kemungkinan bahwa Elsa akan mendapatkan seorang pacar wanita. Gerakan ini dimulai ketika para fans dan aktivis LGBTQ memakai lagu hit dari film tersebut, ‘Let It Go,” sebagai lagu nasional ‘coming out’ mereka [pengakuan bahwa mereka LGBTQ]. Begitu sebuah sequel diumumkan, media sosial dibanjiri dengan hashtag ‘GiveElsaAGirlfriend.’ Petisi-petisi bahkan beredar untuk memberikan karakter tersebut seorang kekasih wanita. Ketika Lee ditanya mengenai apakah dia akan secara resmi memasukkan Elsa ke komunitas LGBTQ, dia berkata bahwa tim film telah mendiskusikan kemungkinan ini. ‘Saya sangat suka dengan semua yang orang-orang katakan dan pikirkan tentang film kami ini,’ dia memberitahu Post. ‘Bahwa hal ini menciptakan dialog, bahwa Elsa adalah karakter yang luar biasa yang berbicara kepada begitu banyak orang.’ Disney menambahkan seorang remaja yang secara terbuka gay dalam seri populer Andi Mack, dan juga seri Disney Doc McStuffins menargetkan anak-anak PAUD dengan pesan pro-lesbian dalam episode berjudul [2 Ibu].”

Posted in LGBT, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Hari Ketika Billy Graham Menyambut Para Peziarah ke Kuil Maria

(Berita Mingguan GITS 10 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Injili Baru (New Evangelicalism), yang dengan lantang menyerukan “penolakan terhadap separasi,” mencuat ke permukaan dunia kekristenan pada akhir 1940an, dan sejak itu telah mentransformasi wajah kekristenan dalam masa hidup saya, dan Billy Graham adalah tokohnya yang paling prominen. (See New Evangelicalism: Its History, Characteristics, and Fruit, yang tersedia sebagai eBook gratis dari www.wayoflife.org.) Tidak ada orang lain dalam generasi ini, yang melebihi Billy Graham dalam hal membuat Gereja Roma Katolik diterima oleh kaum “injili” dan untuk membangun gereja esa-sedunia yang sesat. Puncak dari semua ini adalah ketika dia berdiri di luar kuil Madonna Hitam di Jasna Gora, Cz?stochowa, Polandia, tahun 1979, bersama dengan seorang uskup Katolik, untuk menyambut para peziarah yang sedang meninggikan Maria sebagai Ratu Sorga yang tanpa dosa, dan Pengantara bagi orang-orang berdosa. Apa lagi yang lebih kacau dan membingungkan selain seorang pengkhotbah Baptis melakukan hal semacam ini, bukannya menyerukan suaranya melawan injil palsu yang terkutuk ini? Sebuah foto peristiwa tersebut diterbitkan dalam majalah Graham sendiri, Decisi, pada edisi Februari 1979, tetapi kata-kata di bawah foto itu sekedar berbunyi, “Mr. Graham sedang menyambut orang-orang di luar sebuah kuil nasional di biara di Cz?stochowa.” Graham berada di Polandia waktu itu atas undangan mendiang Paus Yohanes Paulus II, yang adalah seorang penyembah Maria. Madonna Hitam adalah salah satu situs ziarah dia yang paling favorit. Dalam audiensi publik yang dia lakukan tanggal 13 Desember 1995, Yohanes Paulus menyebut Maria sebagai “Mediatrix” (Pengantara) dan “Co-Redemptress” (Sesama Penebus) dan berbicara tentang “peran luar biasa [Maria] dalam karya penebusan” (“Council’s Teaching on Mary Is Rich and Positive,” 13 Des. 1995, L’Osservatore Romano, edisi Inggris). Dalam audiensi publik tanggal 7 Mei 1997, sang Paus itu berkata, “Maria adalah jalan yang memimpin kepada Kristus” (Vatican Information Service). Berapa banyak orang Polandia yang telah masuk ke neraka yang kekal karena injil palsu Roma? Namun Graham tidak memiliki kata-kata peringatan apapun tentang hal ini. Dia sering memuji sang Paus tetapi tidak pernah membongkar injil palsunya. Graham berkhotbah di gereja-gereja Roma dan menerima penghargaan-penghargaan dari Roma, tetapi tidak pernah mengutuki atau menyatakan kesalahan-kesalahan besar Roma. Kunjungan Graham ke Jasna Gora adalah peristiwa yang nyata, tetapi juga adalah suatu metafora tentang bagaimana Graham telah mengundang begitu banyak orang kepada pangkuan Roma di seluruh dunia, Roma dengan injil sakramentalnya yang palsu dan kristus sakramentalnya yang palsu, dan rohnya yang palsu. Memuji dan mendukung guru-guru palsu adalah hal yang sangat serius. “Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat” (2 Yoh. 1:9-11).

Posted in Ekumenisme, Katolik | Leave a comment

Injil Ekumenis Billy Graham Adalah Pedang Bermata Dua

(Berita Mingguan GITS 10 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Saya tumbuh besar di sebuah gereja Baptis Selatan (Southern Baptist), dan beberapa kenangan paling awal dalam benak saya adalah mendengar Billy Graham berkhotbah di radio dan televisi. Dia ditinggikan sebagai seorang pahlawan rohani oleh semua orang yang saya kenal. Dikatakan bahwa Graham memberitakan Injil kepada lebih banyak orang daripada siapapun juga dalam sejarah gereja, tetapi kompromi ekumenisnya yang besar-besaran (bekerja sama dan mendukung semua tipe gereja) adalah suatu pedang bermata dua yang mungkin saja mengirim lebih banyak orang ke neraka daripada ke sorga. Perhatikan kisah pertobatan istri saya. Ketika istri saya seorang remaja, dia dan ibunya mendengar Graham berkhotbah di televisi ketika mereka tinggal di Alaska. Hal itu membuat mereka pergi ke gereja, dan akhirnya mereka diselamatkan. Tetapi, perspektif yang sangat signifikan adalah, mereka diselamatkan walaupun terpapar kepada kesalahan Graham, karena Graham mengajarkan orang-orang untuk pergi ke “gereja pilihanmu sendiri.” Dia tidak dengan hati-hati membedakan antara satu gereja dengan gereja lain. Ketika ibu istri saya memutuskan untuk pergi ke gereja pada hari Minggu berikutnya, dia bermaksud untuk pergi ke sebuah gereja Metodis [Editor: Gereja Metodis di Amerika rata-rata sudah liberal], yang kemungkinan tidak mengkhotbah Injil yang jelas pada waktu itu dan di tempat itu. Ibu istri saya mendapatkan kesan bahwa “semua gereja sama,” dan Billy Graham sama sekali tidak mengatakan apa-apa dalam pesannya atau undangannya untuk membuyarkan pikiran semacam itu. Satu-satunya alasan mengapa akhirnya dia sampai ke gereja Baptis, di mana Injil yang jelas diberitakan, adalah karena Tuhan dalam kasih karuniaNya mengintervensi. Waktu itu musim dingin, dan dia tidak bisa naik ke bukit bersalju lokasi gereja Metodis itu, jadi dia pergi ke gereja Baptis sebagai gantinya. Ini terjadi bukan karena Billy Graham, tetapi walaupun [tidak dibimbing] Billy Graham. Inilah mengapa, Billy Graham dijuluki “Mr. Menghadap Dua Arah.” Injil ekumenisnya menyelamatkan sebagian orang, tetapi mencelakakan lebih banyak lagi. Sebagai kami dokumentasikan dalam buku Billy Graham’s Sad Disobedience (available as a free eBook from www.wayoflife.org), dia menyerahkan begitu banyak orang-orang yang mencari dan ingin tahu kepada Roma Katolik, Ortodos, dan gereja-gereja Protestan yang liberal. Sebaliknya, rasul Paulus tidak hanya mengkhotbahkan suatu “injil yang positif”; dia mengkhotbahkan Injil yang benar dan juga meng-ekspos injil-injil palsu. Dia mengatakan, “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia” (Gal. 1:8). Bahasa yang keras, tetapi bahasa yang saleh. Paulus dengan jelas mengidentifikasi pada penyesat di Galatia sebagai orang-orang yang terkutuk. Seperti Tuhannya, Paulus tidak memperingatkan tentang kesalahan hanya secara umum dan ngambang.

Posted in Ekumenisme | Leave a comment

Billy Graham dan Rock Kristen

(Berita Mingguan GITS 10 Maret 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Billy Graham memiliki pengaruh besar pada penyebaran musik Rock Kristen. Sebelum saya diselamatkan, saya menghidupi dan menafasi musik rock & roll, dan saya tahu secara pasti bahwa tidak ada yang saleh tentang musik rock, dan saya berbicara tentang musiknya, bukan lirik atau kata-katanya. Para rockers sekuler tahu dan siap mengakui bahwa musik mereka secara garis besar adalah tentang seks, dan musik yang demikian tidak mungkin dapat dipakai untuk menyembah Allah yang kudus, kudus, kudus. “Rock Kristen” adalah suatu kekacauan istilah. Ia adalah kesesatan. Ia adalah penipuan. Ia adalah kejahatan. Berikut adalah beberapa saja dari begitu banyak kutipan yang dapat diberikan dari mulut para praktisi itu sendiri.

Gene Simmons dari KISS mengatakan , “Itulah inti dari rock – seks dengan bom berkekuatan 100 megaton, BEAT itu! (Entertainment Tonight, ABC, 10 Des. 1987). Jimi Hendrix mengatakan, “Mungkin [musik saya] itu seksi … tetapi ada musik apa yang punya BEAT YANG KUAT yang tidak seksi?” (David Henderson, ‘Scuse Me While I Kiss the Sky: The Life of Jimi Hendrix. hal. 117). Tina Turner mengatakan, “Rock and roll itu fun, penuh dengan energi … ia nakal” (Rock Facts, Rock & Roll Hall of Fame and Museum). Luke Campbell dari 2 Live Crew mengatakan, “Seks jelas adalah dalam musik itu, dan seks ada dalam SEGALA ASPEK musik itu.”

Perhatikan bahwa kutipan-kutipan ini mengacu kepada ritme dari rock, bukan kata-katanya. Para ahli rock & roll ini mengatakan bahwa seksualitas ada dalam ritme rock. Namun Billy Graham sedemikian tidak memiliki kejelian rohani dan begitu dikendalikan oleh pragmatisme sehingga dia memakai musik rock untuk menarik rombongan-rombongan anak-anak muda. Ketika Graham meninggal, dia dipuji oleh para rocker Kristen dari berbagai tipe (“In Memory of Billy Graham,” www.classicchristianrockzine.com). Saya tidak tahu ada satu pun rocker Kristen yang memperingatkan tentang kompromi Graham yang parah, karena mereka satu roh dengan dia dalam membangun gereja esa-sedunia. Ulasan kematian Graham dalam Christianity Today mendokumentasikan peran Graham dalam mempopulerkan rock Kristen sebagai berikut:

“Pada tahun 1990an dia merancang ulang formula untuk “crusade-crusade”nya (belakangan disebut “misi-misi” untuk tidak menyinggung kaum Muslim yang tidak senang dengan istilah crusade). ‘Malam Pemuda” yang dia biasa lakukan direvolusionerkan menjadi ‘Konser untuk Generasi Berikut,’ dengan artis rock, rap, dan hip-hop “Kristen” menghiasi acara tersebut, dilanjutkan dengan Graham berkhotbah. Format ini menarik jumlah orang yang menembus rekor, orang-orang muda yang menyoraki band-band tersebut, dan yang lalu, luar biasanya, mendengarkan dengan baik kepada sang pengkhotbah berusia 80an itu” (Marshall Shelley, “Evangelist Billy Graham Has Died: America’s Pastor Shaped Modern Evangelicalism,” Christianity Today, Feb. 2018).

Bagi siapapun yang memiliki mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar, ini adalah peringatan yang lantang tentang dalamnya kompromi rohani yang terjadi. Pandangan seseorang tentang Billy Graham ternyata memberitahu banyak tentang orang tersebut. Dia adalah Mr. Ekumenisme, Mr. Gereja Esa Sedunia, dan orang-orang yang setuju dengan dia adalah bagian dari “gereja itu,” walaupun kebanyakan mereka tidak sadar. Ini adalah masalah ada atau tidak adanya penilaian rohani. Seorang individu yang memiliki semangat Mazmur 119:128 dan Yudas 3, tidak mungkin menjadi bagian dari ekumenisme apapun. Mengasihi seluruh kebenaran dan membenci kesalahan dan berjuang demi iman yang telah diberikan kepada orang-orang kudus adalah kebalikan dari apa yang dipegang oleh Billy Graham. Billy Graham berbicara tentang kebenara, tetapi ia tidak memiliki semangat untuk berjuang demi kebenaran. Ini bukan kekristenan yang alkitabiah. Nabi-nabi dan pengkhotbah-pengkhotbah alkitabiah adalah pejuang-pejuang. “Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci” (Maz. 119:128). “Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus” (Yud. 1:3 ITB).

Posted in Ekumenisme, musik | Leave a comment