Cina Bermaksud untuk “Meng-Cina-Kan” Kekristenan dan Menulis Ulang Alkitab

(Berita Mingguan GITS 6 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “China Berusaha Menulis Ulang,” Christian Post, 28 Sept. 2018: “Rev. Bob Fu, seorang mantan pemimpin gereja rumah di Cina, yang telah berimigrasi ke Amerika Serikat tahun 1997, dan mendirikan sebuah organisasi pemberi peringatan penganiayaan, China Aid, memberikan banyak detil-detil dalam sebuah presentasi di hadapan House of Representatives (semacam DPR) AS, pada hari Kamis, tentang sebuah rencana yang dibuat oleh denominasi-denominasi yang diakui pemerintah di Cina, untuk ‘meng-sino-sasi’ [yaitu ‘meng-cina-kan’] kekristenan di sana. Sementara Cina semakin gencar menekan kebebasan beragama, yang mengakibatkan banyak gereja-gereja rumah dihancurkan dan ribuan salib dihilangkan dari gereja-gereja di seluruh negeri itu, Fu memperingatkan [bahwa] ‘kebebasan beragama di Cina telah menyentuh level yang paling parah yang belum pernah terjadi sejak permulaan Revolusi Budaya oleh Pemimpin Mao [Zedong] pada tahun 1960an.’ . . . Sebagai pusat dari peningkatan level penganiayaan yang tinggi ini adalah peraturan baru Cina tentang urusan agama, yang dikeluarkan tahun lalu tetapi ditetapkan tanggal 1 Februari. Menurut Fu, revisi peraturan-peraturan keagamaan dimaksudkan untuk secara aktif membimbing agama untuk ‘beradaptasi kepada suatu masyarakat sosialis.’ Dalam sebuah kesaksian tertulis, Fu mengatakan bahwa di bawah aturan-aturan baru ini, tempat-tempat kegiatan keagamaan akan ‘menerima bimbingan, supervisi, dan inspeksi dari departemen-departemen yang relevan dari pemerintah lokal, mengenai manajemen personel, keuangan, aset, akuntansi, sekuriti, perlindungan terhadap kebakaran, perlindungan relik-relik, pencegahan penyakit, dan lain0lain.’ . . . Salah satu cara yang mereka rencanakan untuk ‘mengcinakan’ kekristenan, Fu berkata, adalah dengan ‘menerjemahkan ulang’ Perjanjian Lama da memberikan komentari baru pada Perjanjian Baru untuk membuat ide-ide sosialis dan budaya Cina terkesan lebih ilahi. . . . Menurut outline paling terakhir, kata Fu, sebuah terjemahan ulang akan merupakan rangkuman dari Perjanjian Lama dengan sebagian Kitab Suci Buddha dan pengajaran Konfusius, dan komentari baru atas Perjanjian Baru. . . . Fu menambahkan bahwa rencana lima tahunan ini mengusahakan ‘memasukkkan elemen-elemen Cina ke dalam kebaktian-kebaktian di gereja, himne-himne dan lagu-lagu, pakaian kependetaan, dan gaya arsitektural dari bangunan gereja. Ini termasuk mengedit dan menerbitkan lagu-lagu penyembahan dengan karakteristik Cina dan mempromosikan proses peng-cina-an musik penyembahan, memakai bentuk-bentuk seni yang khas Cina . . . Pada permulaan setiap kebaktian gereja, paduan suara gereja harus menyanyikan beberapa lagu-lagu revolusi komunis, dan memuji partai komunis sebelum mereka boleh menyanyikan lagu-lagu penyembahan, Fu memberikan keterangan. . . . Ratusan pemimpin kristen di Cina menandatangani sebuah pernyataan yang menyerang peraturan-peraturan baru ini, meningkatnya penganiayaann dan kendali yang dilakukan oleh partai terhadap gereja-gereja. ‘[Kami] percaya dan diwajibkan untuk mengajar semua orang percaya bahwa semua gereja-gereja sejati di Cina yang adalah milik Kristus harus memegang prinsip separasi gereja dan negara, dan harus memproklamirkan Kristus sebagai satu-satunya kepala dari gereja. . . . Demi Injil, kami siap untuk menanggung segala kerugian – bahkan hilangnya kebebasan kami dan hidup kami.’ demikian bunyi pernyataan tersebut. . . . Dalam acara Ministerial to Advance Religious Freedom pada bulan Juli, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan sebuah pernyataan resmi yang mengritik Cina karena pelanggaran-pelanggaran kebebasan beragama. Tetapi, pernyataan itu hanya ditandatangani oleh tiga negara.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Bahaya Kecanduan Smartphone dan Media Sosial

(Berita Mingguan GITS 6 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini adalah kutipan-kutipan dari dokumentari BBC Mind Control: The Dark Side of Your Phone – “’Orang-orang dalam memberitahu kita bahwa perusahaan-perusahaan media sosial, melacak begitu banyak data, setiap swipe dan klik anda, dan menganalisa semua itu secara langsung.’ Lalu Artificial Intelligence akan memakai semua itu untuk mengadaptasikan apa yang anda lihat di layar anda supaya anda akan kembali lagi terus dan terus. Asa Raskin, yang mendesain scroll tak berujung [endless scroll] dan fitur-fitur app populer lainnya, mengatakan ‘Kita sedang berada dalam eksperimen perilaku terbesar yang pernah dilihat di dunia. Anda sedang berada dalam eksperimen senantiasa. Hal-hal seperti mengubah warna tombol ‘like’ anda. Apakah biru yang seperti ini, ataukah seharusnya sedikit lebih merah? Dan mereka akan terus mencoba sampai mereka menemukan bentuk dan warna yang sempurna yang akan memaksimalkan anda terus scrolling. Di balik setiap gambar di telepon anda, secara literal ada ribuan insinyur yang mencoba untuk membuatnya secara maksimum membuat orang ketagihan. Seolah-olah mereka mengambil kokain perilaku dan menaburkannya di atas semua interface anda.’ Asa berkata, ‘Saya tidak mau pikiran saya dibajak.’ Jadi dia melakukan hal-hal seperti menginstall sangat sedikit app, dan membuat handphonenya hitam putih, bukan berwarna. Scrolling tak berujung adalah desain yang didasarkan pada eksperimen sup, yang menunjukkan bahwa jika semangkuk sup diisi ulang tanpa henti, tanpa pengetahuan orang yang makan, ia akan makan lebih banyak, karena tidak ada sinyal bahwa makanan sudah selesai. Tanpa desain scrolling tak berujung, anda akan scrolling sampai ke akhir halaman dan harus mengklik ke halaman berikut, tetapi scrolling tak berujung tidak memiliki akhir. ‘Kami menemukan bahwa jika anda tidak memberikan kepada orang sinyal untuk berhenti, ia akan terus scrolling. Kami menemukan bahwa teknik desain kami menjadi sedemikian kuat, sehingga orang-orang ketagihan.’ Sean Parker, co-founder dari Napster dan juga presiden pendiri dari Facebook, menggambarkan tujuan pertama perusahaan itu sebagai berikut: ‘Bagaimanak kita bisa menghabiskan sebanyak mungkin waktu anda dan perhatian anda? Dan itu berarti kami perlu memberikan anda semacam dosis kecil dopamin setiap selang beberapa lama, karena ada orang yang ‘like’ atau berkomentar atas suatu foto atau tulisan anda, atau apapun itu.’ Keseluruhan industri perjudian dibangun di atas dasar hadiah yang diiming-imingkan tetapi tidak dapat diprediksi. Apakah smartphone kita bisa seperti semacam mesin slot [mesin judi], atau bahkan lebih buruk? Industri perjudian menyebut semua pernak-perni di kasino-kasino – berbagai permainan cahaya dan bunyi dan aksi dan musik – sebagai ‘jus.’ Smartphone kita juga memiliki ‘jus.’ Profesor Catherine Winstanley, yang telah melakukan riset mutakhir mengenai bagaimana dopamine menyebabkan ketagihan, berkata, “Hadiah-hadiah yang tidak terduga mengaktivasi pengalaman dopamine. Saya rasa ada elemen-elemen desain pada app-app di smartphone, yang mirip dengan permainan elektronik. Jadi jika smartphone anda merekrut dan mengaktivasi sistem dopamine anda dengan cara yang sama yang terjadi ketika seseorang berjudi, maka hal ini mengimplikasikan bahwa kedua perilaku ini bisa membuat ketagihan, sama seperti kecanduan obat.” (See also “Dopamine, Smartphones & You” by Trevor Haynes, sitn.hms.harvard.edu.)

Posted in Teknologi | Leave a comment

Video Game dan Kecanduan

(Berita Mingguan GITS 29 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Video game online multiplayer memiliki potensi besar untuk menjadi suatu kecanduan. Telah diperkirakan bahwa sekitar 10% gamer di seluruh dunia, adalah orang-orang yang kecanduan. Sedikitnya 10 gamer telah meninggal karena gejala-gejala yang berkaitan dengan sistem jantung-paru, di berbagai kafe-kafe internet, setelah sesi-sesi gaming marathon. Ada satu orang muda yang meracuni orang tuanya karena mereka memberikan batasan pada aktivitas gaming-nya (“Gaming Addiction a Serious Problem in Asia,” 7 Mar. 2014, www.thecabinchiangmai.com). Sepasang suami istri menelantarkan putri mereka yang berusia tiga bulan hingga meninggal, sambil mereka main game-game online. Para gamer juga ada yang melakukan tindakan-tindakan kekerasan, bahkan pembunuhan, sebagai balas dendam atas “pembunuhan karakter online sang pemain.” Di beberapa negara Asia, kecanduan gaming dianggap sebagai salah satu masalah kesehatan publik yang besar. Di Korea Selatan, rata-rata anak di antara usia 10-18 tahun, menghabiskan lebih dari 20 jam seminggu, bermain video game secara online. Pemerintah telah menetapkan jam malam di kafe-kafe cyber bagi mereka yang berusia di bawah 18 tahun, dan juga membuat pusat-pusat pengobatan. Raksasa internet Cina, Tencent, memberikan batasan waktu dalam sehari seorang pemain bisa memainkan game King of Glory. Beberapa game yang paling berpotensi membuat kecanduan di tahun 2015 adalah Madden, Dota 2, Grand Theft Auto, Tetris, Candy Crush Saga (perusahan ini dinilai $7.5 milyar), Minecraft, EverQuest (dijuluki “never rest” dan “ever crack” karena sering membuat kecanduan), The Sims, World of Warcraft (dijuluki World of War Crack), Call of Duty (dua game terakhir ini dimainkan oleh lebih dari 100 juta pemain), Halo 3 (disebut juga Halodiction), Total War, Pong, Civilization, Diablo 3, Super Meat Boy, Team Fortress 2, Dark Souls 2, Counter Strike, Starcraft 2, Persona 4 Golden, Monster Hunter 3, Elder Scrolls, Angry Birds, Faster Than Light, Peggle, League of Legends (LOL), Civilization V, and Pokemon. Berhati-hatilah terutama terhadap game-game yang disebut MMORPG (massively multiplayer online role-playing games, atau disingkat MMO pendeknya). Internet penuh dengan kesaksian menyedihkan dan mengenaskan akan orang-orang yang telah merusak hidup mereka dengan game-game online ini. Perhatikan satu contoh: “Cerita panjang berakhir dengan cepat, saya menjadi lvl 50 cukup cepat di server. Bahkan saya peringkat 5 dari keseluruhan, dan adalah half elf pertama. Saya hebat. Saya memiliki pedang yang berkilauan dan semua peralatan hebat saya. . . . Saya akan masuk ke kota dan semua newbs [pemain baru] akan kagum. Saya memerintah dunia, atau yang virtual ini setidaknya. Sementara kehidupan sejati saya telah kacau balau. Saya kehilangan pekerjaan saya, dan masuk dalam hutang, ditelpon terus oleh penagih, belum lagi saya gemuk, lebih dari 150 kg. Saya tidak bisa mengurus hidup saya yang sebenarnya. Saya membenci setiap waktu saya harus keluar dari waktu Everquest saya. Saya adalah penguasa di dunia itu. Tetapi satu hari, listri saya mati. … Saya begitu depresi. Bukan saja dunia online saya kini mati, tetapi saya harus berhadapan dengan kehidupan sejati saya yang telah saya telantarkan selama 2 tahun terakhir. Sepertinya tidak ada harapan, jadi saya memutuskan untuk pindah keluar dari apartemen saya, yang membuat saya tambah berhutang, dan mungkin saya akan tinggal bersama orang tua saya” (shoemoney.com/2008). “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan ” (Amsal 4:23).

Posted in Separasi dari Dunia / Keduniawian, Teknologi | Leave a comment

Kekosongan dalam Ketidakpercayaan

(Berita Mingguan GITS 29 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini adalah kesaksian dari B. H. Carroll, yang meninggalkan warisan iman Kristen-nya pada masa muda, menjadi orang yang tidak percaya, dan menemukan bahwa di sana hanya ada kekosongan: “Pada masa-masa kegelapan saya, saya berpaling sepenuhnya kepada ketidakpercayaan. Kali ini saya membawa kepadanya hati yang hancur dan hidup yang kecewa, mencari terang dan damai dan istirahat. Ini bukan lagi sekedar rasa ingin tahu; ini bukan pemeriksaan tentatif secara intelektual. Ini adalah suatu jiwa yang terpukul, dengan gemetar dan sungguh mencari terang. … Saya membawa suatu hati yang hancur dan berdarah, tetapi tulus, kepada setiap nabi ketidakpercayaan yang terkenal. Saya tidak meminta kehidupan atau ketenaran atau kesenangan. Saya hanya meminta cahaya untuk menyinari jalan kebenaran. Sekali lagi saya memandangi filosofi-filosofi anti-Kristen, bukan lagi untuk mengagumi mereka mengenai apa yang mereka bisa hancurkan, tetapi untuk menyelidiki apa yang mereka bangun, apa yang mereka tawarkan bagi hati yang lapar dan kehidupan yang capek. Kini tiba bagi saya suatu penyingkapan, yang sama parahnya dengan ketika Mokanna, dalam cerita ‘Lalla Rookh’ karangan Moore, mengangkat cadarnya bagi Zelica. Mengapa saya tidak pernah menyadarinya sebelumnya? Mengapa saya sedemikian buta terhadapnya? Filosofi-filosofi ini, satu per satu dan semuanya, hanyalah menyerang. Mereka menghancurkan, tetapi tidak membangun. Mereka menyatakan salah dan membongkar bangkir; tetapi, demi jiwa saya yang hidup, mereka tidak membangun apa-apa di bawah seluruh kolong langit, untuk menggantikan apa yang mereka hancurkan. Saya katakan tidak ada apa-apa; itu persis yang saya maksudkan, tidak ada sesuatu pun. Bagi jiwa yang tidak merana, yang hanya penasaran, mereka indah seperti aurora borealis, menyinari keping-keping es di kutub. Tetapi bagi saya, mereka tidak menghangatkan sedikitpun dan tidak melumerkan apa-apa. Tidak ada bunga yang mekar dan tidak ada buah yang ranum di bawah sinar mereka yang dingin. Mereka memandangi hati saya yang berdarah sama seperti bintang-bintang telah memandangi seluruh penderitaan manusia dari jauh dan tanpa kepedulian. Siapapun, yang pada masa ia sungguh-sungguh membutuhkan, mengambil filosofi abstrak sebagai alas kepalanya, sama saja membuat batu granit yang dingin dan keras sebagai bantalnya. Siapapun yang dengan penuh harap memandangi wajah-wajahnya yang palsu, sama dengan memandangi wajah Medusa, dan diubahkan menjadi batu. Mereka semua adalah sumur-sumur tanpa air, awan-awan yang kering. …suatu awan tanpa air adalah bentuk apapun ketidakpercayaan bagi jiwa, pada saat ia sangat memerlukan. Siapakah yang dapat menghasilkan sesuatu dengan nama Voltaire? Apa gunanya pada saat itu Epicurus atau Zeno, Huxley atau Darwin?” (disadur dari B.H. Carroll, “My Infidelity and What Became of It,” Sermons and Life Sketch, 1893).

Posted in Atheisme/Agnostikisme, Renungan | Leave a comment

Filosofi “Free Love” di Amerika, Menghasilkan Tsunami Penyakit Seksual

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari ““Rates of 3 STDs have reached a record high in the US,” Business Insider, 28 Agus. 2018: “Ada 2,3 juta kasus baru chlamydia, gonorrhea, dan sifilis, yang didiagnosa di AS tahun lalu, menurut data awal yang dirilis oleh Centers for Disease Control (CDC). Data ini memperlihatkan rekor tinggi yang baru bagi negara tersebut, dan tahun keempat berturut-turut terjadinya ‘peningkatan tajam yang menetap’ pada tiga jenis infeksi ini, menurut pernyataan pers CDC. Data ini dipresentasikan di Konferensi Pencegahan Penyakit Menular Seksual di Washington pada hari Selasa, demikian laporan CNN. Antara tahun 2013 dan 2017, kasus-kasus gonorrhea meningkat 67% secata total, dan hampir dua kali lipat pada laki-laki; kasus sifilis meningkat 76% dan chlamydia tetap menjadi kondisi yang paling sering dilaporkan ke CDC. … ‘Kita telah meluncur mundur,’ demikian kata Dr. Jonathan Mermin, direktur dari Pusat Nasional CDC untuk HIV/AIDS, Hepatitis Viral, Penyakit Menular Seksual, dan Pencegahan Tuberkulosis, dalam peryataan pers tersebut. ‘Sangat jelas bahwa sistem-sistem yang mengidentifikasi, mengobati, dan pada akhirnya mencegah Penyaki Menular Seksual, sudah bekerja lembur dan tidak cukup lagi.’ … Pernyataan pers CDC juga mencamkan meningkatnya ancaman gonorrhea yang resisten terhadap antibiotik, yang kadang disebut ‘super gonorrhea.’ Kuman-kuman yang menyebabkan gonorrhea telah menjadi resisten terhadap ‘hampir semua jenis antibiotik’ yang pernah dipakai untuk mengobati mereka, demikian bunyi pernyataan tersebut.”

Posted in Kesehatan / Medical | Leave a comment

Orang-Orang yang di Tengah-Tengah

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

James Henley Thornwell adalah seorang pengkhotbah Presbyterian zaman dulu yang dengan gigih berjuang melawan modernisme theologi di abad ke-19. Sebagai presiden keenam dari South Carolina College (hari ini namanya adalah University of South Carolina), Thornwell sangat capek dengan “orang-orang yang di tengah” pada zmaan dia, yang mengatakan bahwa mereka mencintai kebenaran tetapi mereka lemah dalam berposisi dan tidak mau dengan berani melawan kesalahan. “Menggunakan kata-kata yang gemulai dan dimanis-maniskan dalam membahas topik-topik yang memiliki nilai abadi; memperlakukan kesalahan-kesalahan yang menyerang fondasi segala pengharapan manusia, seolah-olah ini adalah kekhilafan yang wajar dan tidak berbahaya; memberkati hal-hal yang Allah tidak senangi, dan beramah tamah pada tempat-tempat Dia memanggil kita untuk berdiri seperti laki-laki dan tegas, walaupun adalah cara yang paling cocok untuk mendapatkan pujian populer di zaman yang canggih ini, sebenarnya adalah kekejaman terhadap sesama manusia dan pengkhianatan terhadap Sorga. Orang-orang yang pada topik-topik ini lebih mementingkan aturan-aturan kesopanan daripada poin-poin kebenaran, tidaklah membela benteng, tetapi menyerahkannya ke tangan para musuhnya. KASIH AKAN KRISTUS, DAN AKAN JIWA-JIWA YANG UNTUKNYA DIA MATI, AKAN MENJADI TAKARAN SEMANGAT KITA DALAM MEMBONGKAR BAHAYA-BAHAYA YANG MEMERANGKAP JIWA-JIWA MANUSIA” (dikutip dalam sebuah khotbah oleh George Sayles Bishop, penulis dari The Doctrines of Grace and Kindred Themes, 1910).

Posted in Fundamentalisme, Renungan | Leave a comment

Bertambahnya Informasi

(Berita Mingguan GITS 22 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari CreationMoments.com, 4 Desember 2017: “Para evolusionis berasumsi bahwa evolusi terjadi dengan meningkatnya informasi genetika. Hal ini, mereka mengklaim, terjadi melalui mutasi, yang menciptakan informasi tambahan. Kita harus menganalisa bagaimana hal ini bisa terjadi. Telah sering dikatakan bahwa penciptaan informasi baru dalam organisme adalah seperti terjadinya suatu ledakan dalam sebuah pabrik percetakan, dan keluarlah hasilnya sebuah kamus. Tetapi para evolusionis berargumen bahwa ini adalah analogi yang tidak adil, karena evolusi seharusnya terjadi setahap demi setahap, bukan dengan cara ledakan. Jadi bagaimanakah satu tahap demi satu tahap itu bekerja? Salah satu evolusionis terkenal di Inggris, muncul dalam sebuah acara anak-anak, dengan sekantong huruf-huruf Scrabble, untuk mempertunjukkan cara kerjanya. Dia membuat anak-anak itu masing-masing mengambil sebuah huruf dari kantong tersebut. Lambat laun, ada tiga huruf berturut-turut yang m uncul yang bisa membuat suatu kata, misalnya C-A-T. ‘Aha!’ dia berseru. ‘Kita mendapatkan kata cat (kucing). Informasi telah muncul secara acak.’ Tetapi huruf C-A-T, hanyalah berarti “kucing” dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Indonesia, yang muncul haruslah huruf K-U-C-I-N-G. Jadi, C-A-T hanya mengandung informasi jika sudah ada kemampuan berbahasa untuk membaca informasi itu. Dengan cara yang sama, informasi DNA harus ‘dibaca’ oleh molekul-molekul RNA. Jadi informasi ini tidak terjadi dengan sendirinya. Bahkan jika informasi baru itu mungkin muncul, proses ini hanya bisa berhasil jika sudah ada metode yang eksis terlebih dahulu, untuk memahami informasi tersebut. Informasi tidak muncul dengan sendirinya. Informasi selalu muncul dari suatu tempat – atau lebih tepatnya dari seorang Pribadi.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Menjadi Kontemporer

(Berita Mingguan GITS 10 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

“Menjadi Kontemporer” (Gone Contemporary) adalah judul dari sebuah artikel yang ditulis oleh Dave Mallinak, yang memaparkan kesalahan dan bahaya dari filosofi musik kontemporer yang sudah dianut oleh dunia kekristenan pada umumnya, dan sedang melanda gereja-gereja Baptis juga. Kami merekomendasi seluruh tulisan tersebut, yang juga memberikan tautan-tautan kepada contoh-contoh kebaktian-kebaktian Baptis Independen yang sudah menggunakan musik kontemporer, dan juga sebuah video dialog antara Josh Teis dan Robert Bakss, penulis dari buku Worship Wars. Berikut ini cuplikan dari laporan tersebut yang berkaitan dengan inti dari masalah ini, dan dengan tepat menyerukan separasi dari mereka yang sudah berkomitmen pada filosofi kontemporer: “Seruan untuk musik kontemporer adalah raungan kematian dari suatu gereja yang sekarat. Gaya ‘penyembahan’ ini tidaklah menjadi populer karena orang Kristen menjadi semakin setia. Dalam usaha untuk menyenangkan audiens, kita telah lupa bahwa Allah adalah audiens yang sebenarnya. Kita sekarang merasa bosan dengan Tuhan. Semakin tergantung kita pada pendekatan ‘penyembahan’ yang eksternal seperti ini, semakin kita kehilangan inti dari penyembahan. Pada akhirnya, orang Kristen akan mendapatkan bahwa mereka harus memiliki musik jenis kontemporer, atau mereka tidak bisa menyembah. Penyembahan kontemporer mengubah audiens menjadi penonton dan musiknya menjadi suatu pertunjukan. Hal ini menghasilkan suatu pandangan yang rendah akan Allah, suatu kesenangan terhadap pengalaman penyembahan itu, bukan pada Allah yang kita sembah, suatu passion yang superfisial yang kehilangan passion terhadap penyembahan yang sejati, suatu ketergantungan yang semakin hebat pada pengalaman yang dihasilkan oleh musik tersebut, dan suatu ide palsu bahwa penyembahan itu sesuatu yang mudah, bahwa devosi dapat ditingkatkan dengan beberapa baris reff nyanyian. Penyembahan yang sebenarnya adalah menantang – memerlukan fokus dan ketekunan dan kedalaman, yaitu hal-hal yang justru ditentang oleh CCM. … Gaya musik mengindikasikan apa yang suatu gereja konsepkan tentang Tuhan. Secara alkitabiah, kami tidak dapat berpura-pura bersekutu baik dengan gereja-gereja yang lebih mengutamakan relevansi dibandingkan reverensi (Ed: lebih mengutamakan relevan di mata dunia dari menghormati Allah). Jadi, walaupun kami tidak berusaha mendikte cara suatu gereja melakukan kebaktian, kami jelas memiliki tanggung jawab dari Allah untuk menentukan dengan siapa kami bersekutu atau tidak. … Klaim bahwa gaya musik tidak lebih dari suatu pilihan preferensi saja, menunjukkan betapa relativistiknya orang-orang ini. Mereka dengan sengaja mengabaikan pembelajaran teori musik. Mereka percaya bahwa kita hanya perlu mempelajari Alkitab untuk melihat gaya musik apa yang diperlukan. Mereka mengingat kita, dengan nada merendahkan, bahwa Alkitab tidak berkata apa-apa tentang sinkopasi, atau ‘ketukan antisipasi.’ Dengan demikian, mereka dengan sengaja mengabaikan pesan yang jelas yang disampaikan oleh gaya musik tentang makna dari kebaktian dan penyembahan itu. Para produsen film menyadari hal ini. Kebanyakan orang tahu bahwa ada musik tertentu yang cocok untuk pernikahan, untuk penguburan, untuk restoran kelas atas, untuk barbecue di halaman belakang, untuk parade militer, dan untuk pertandingan basket. Orang-orang ini percaya bahwa kita bisa menyeret gaya apa saja untuk suatu kebaktian rohani, menempelkan kata-kata yang bagus padanya, dan dengan cara demikian ‘menebusnya.’ … Gaya musik itulah makna dari musik tersebut. Musik, pakaian, dan penampilan trendy dari kaum Baptis Independen yang kontemporer, lebih memberitahu kepada kita pandangan mereka tentang Allah daripada pandangan mereka tentang gaya musik. Hal ini benar untuk kebanyakan acara. Cara kita berpakaian dan musik yang kita mainkan, menyampaikan pandangan kita tentang acara tersebut, daripada pandangan kita tentang gaya yang kita pakai.” Laporan yang sepenuhnya dari Dave Mallinak dapat dilihat di villagesmithysite.wordpress.com/2018/08/31/gone-contemporary/

Posted in musik | Leave a comment

Protein Penting untuk Kehidupan

(Berita Mingguan GITS 10 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolution’s Myths and Hoaxes, David Cloud, copyright 2011: “Sel-sel tubuh terbuat dari protein-protein (sekitar satu juta protein per sel, terdiri dari ribuan variasi), dan sel-sel dan protein-protein membentuk tubuh. Protein adalah ‘mesin di dalam jaringan makhluk hidup yang membangun struktur dan melaksanakan reaksi-reaksi kimia yang penting untuk kehidupan’ (Michael Behe, Darwin’s Black Box). Otot, kulit, rambut, mata, antibodi, enzim (senyawa yang menghasilkan reaksi kimia esensial seperti memecahkan gula), dan hormon-hormon, semua terbuat dari protein. Pembekuan darah dihasilkan oleh protein fibrinogen dan thrombin. Hemoglobin dalam sel darah merah adalah suatu protein yang memungkinkan oksigen dibawa ke semua bagian tubuh. Protein kolagen dan keratin, yang bersifat elastik dan lebih kuat dari baja, membentuk kulit, rambut, dan kuku, sekaligus juga dukungan struktural di dalam sel itu sendiri. Sel dapat membuat ribuan jenis protein yang berbeda-beda, masing-masingnya sangat kompleks dan didesain untuk fungsi yang spesifik. Sebagai contoh, ada ratusan tipe protein yang menjembatani membran sel, bertugas sebagai gerbang dan transporter. Pertama, DNA (deoxyribonucleic acid) membuat tiga macam RNA (ribonucleic acid). RNA lalu membaca kode DNA yang rumit, mengetahui dengan persis di mana mulainya dan bagaimana menyelesaikan tugas ini, bekerja sama dengan berbagai organ sel untuk membuat protein menurut cetak biru master tersebut. Proses ini sangat kompleks, sulit dijelaskan dengan kata-kata, dan para ilmuwan barulah mulai memahami bagian kecil darinya. Setiap protein terdiri dari serangkaian panjang sekitar 20an asam amino yang berbeda, biasanya ribuan asam amino panjangnya, dan setiap asam amino haruslah pada urutan yang tepat agar protein tersebut berfungsi dengan baik. Setelah protein itu selesai dirangkaikan, ia akan dilipat dan dibentuk secara sempurna dalam pabrik-pabrik sel, dan lalu diantarkan ke tempat yang benar. Pemberian bentuk yang tepat adalah essensial. Protein memerlukan DNA untuk dapat dibentuk, tetapi DNA itu sendiri terbentuk dari protein. ‘Karena DNA dan protein saling tergantung secara intim agar dapat eksis, sulit untuk membayangkan salah satunya berevolusi terlebih dahulu. Tetapi sama tidak mungkinnya kedua-duanya muncul berbarengan dari lautan pre-biotik’ (Carl Zimmer, “How and Where Did Life on Earth Arise?” Science, Vol. 309, 1 Juli 2005, hal. 89).”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Penelitian Baru Mematahkan Mitos Bahwa Minum Alkohol Baik untuk Kesehatan

(Berita Mingguan GITS 01 September 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Dengan mengutip berbagai penelitian secara selektif, industri alkohol dengan gencar mempromosikan ide bahwa minum alkohol secara moderat membawa keuntungan medis. Namun sebuah penelitian skala besar yang baru-baru ini selesai, oleh Institute for Health Metrics di Universitas Washington, telah menemukan bahwa keuntungan apapun yang diperoleh dari minum alkohol, kalah dari kerugian yang diakibatkan. Dr. Max Griswold, pemimpin penelitian tersebut, mengatakan, “Kami telah menemukan bahwa kombinasi resiko-resiko kesehatan yang berhubungan dengan alkohol, meningkat seiring dengan konsumsi alkohol dalam jumlah berapapun” (“Study shows women in Ireland have three alcoholic drinks a day,” RTE, Ireland’s national public service broadcaster, 24 Agus. 2018). “Para ilmuwan mengumpulkan data dari 592 penelitian, dengan total 28 juta peserta, untuk mengakses data resiko kesehatan global yang terhubung ke alkohol.” “Setiap tahun, 2,2% wanita dan 6,8% pria mati dari masalah kesehatan yang berhubungan dengan alkohol, termasuk kanker, tuberkulosis, dan penyakit hati. Konsekuensi merugikan lainnya dari minum alkohol mencakup kecelakaan dan kekerasan. Secara global, minum alkohol adalah faktor resiko ketujuh untuk keseluruhan kematian prematur dan penyakit pada tahun 2016, demikian didapatkan oleh hasil penelitian tersebut.”

Posted in Kesehatan / Medical | Leave a comment