Mahasiswa Theologi Berdoa Minta Maaf pada Tanaman

(Berita Mingguan GITS 21 September 2019, oleh Dr. Steven E. Liauw)

Memang ada banyak sekali hal yang aneh di dunia ini. Tetapi yang berikut ini bukan hanya aneh, tetapi menyedihkan karena memperlihatkan kemelaratan dan kebutaan rohani yang mendalam. Pada hari Selasa, 17 September 2019, akun Twitter dari Union Theological Seminary, yang berlokasi di kota New York, Amerika Serikat, menayangkan sebuah cuplikan foto dari kebaktian chapel mereka. Dalam foto tersebut, terlihat ada beberapa pot tanaman yang ditaruh di tengah ruangan, dengan mahasiswa-mahasiswa theologi di sekitarnya. Lalu, tertulis dalam Twitter pesan berikut ini: “Hari ini dalam chapel, kami mengakui dosa kepada tumbuhan. Bersama, kami mengangkat dukacita, sukacita, penyesalan, pengharapan, rasa bersalah dan kesedihan dalam doa; mengajukannya kepada makhluk-makhluk yang menopang kita, tetapi yang pemberiannya seringkali tidak kita hormati. Apa yang mau kamu akui kepada tumbuhan-tumbuhan dalam hidupmu?”

Jika ini dilakukan oleh para penyembah berhala dalam sebuah ritual kepada Gaia, dewi bumi dalam mitologi, maka kita tidak perlu heran. Bahwa ini dilakukan dalam kebaktian chapel sebuah Seminari Theologi, sungguhlah mencengangkan. Tetapi, hal ini menggenapi nubuat Paulus tentang akhir zaman, bahwa pengajaran yang sehat tidak akan lagi dicari orang, melainkan manusia akan mencari guru-guru untuk memuaskan keinginan telinga mereka saja (2 Tim. 4:3-4). “Kekristenan” yang kacau balau, yang sudah khamir dengan ragi liberalisme dan kharismatikisme, tidak lagi memiliki mata rohani, sehingga mengikuti semua pergerakan dan aba-aba dunia ini. Ketika dunia dengan segala hawa nafsunya meninggikan LGBT, “gereja-gereja” berlomba-lomba untuk mengakomodasi LGBT. Demikian juga, ketika dunia menggiatkan kembali praktek kafir penyembahan kepada bumi, dengan kedok aktivisme lingkungan, global warming, dan climate change, “gereja-gereja” yang tidak memiliki Injil yang sejati berebutan untuk ikut serta dan mendapatkan acungan jempol dari teman-teman dunia mereka.

Dalam doktrin aktivisme lingkungan saat ini, manusia dianggap virus yang mengotori bumi, dan banyak di antara kalangan ekstrim di antara mereka yang tidak ragu untuk mengorbankan manusia demi “nature” atau “alam.” Bahkan mulai bermunculan yang namanya “eco-terrorism,” yaitu tindakan teror untuk mendukung kebijakan lingkungan tertentu. Mereka mengajarkan orang untuk membenci manusia yang dianggap benda asing di atas bumi. Salah satu doktrin mereka adalah untuk tidak memiliki anak lagi, atau memiliki anak dengan jumlah yang sedikit. Mereka akan senang ketika ada ibu-ibu hamil yang mengaborsi anaknya untuk mengurangi jumlah populasi manusia, tetapi marah besar ketika ada telur burung yang tidak sengaja dipecahkan oleh turis atau anak-anak.

Pada kenyataannya, Alkitab mengajarkan bahwa bumi diberikan untuk dikuasai, ditaklukkan dan dikelola oleh manusia (Kej. 1:27-28). Aktivisme lingkungan yang digalakkan dunia saat ini adalah penyembahan berhala, sebagaimana yang Paulus katakan: “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin” (Roma 1:25). Ya, Union Theological Seminary, berdoa kepada tanaman, mengaku dosa kepada tanaman adalah penyembahan berhala, menuhankan ciptaan. Kita berdoa dan mengaku dosa kepada Tuhan.

Pelajaran lain yang sangat berharga dari semua ini adalah betapa pentingnya orang Kristen untuk waspada terhadap pengajaran. Hanya karena sesuatu dilakukan atau diajarkan oleh gereja atau sekolah theologi, bukan berarti itu benar. “ Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1 Tes. 5:21). Bila anda salah memilih gereja, atau salah memilih sekolah theologi, efeknya bisa sangat buruk. Union Theological Seminary adalah contoh yang sangat baik, karena institusi ini memiliki sejarah kelam menghancurkan iman. Pada tahun 1920, seorang dari Cina bernama John Sung, tiba di Amerika, dan dalam waktu singkat dengan hebat mendapatkan gelar Doktor dalam bidang kimia dari Ohio State University. Namun, walaupun ia ditawari untuk menjadi pengajar di Peking University, ia memilih untuk belajar theologi, dan ia masuk di Union Theological Seminary pada tahun 1926. Pada waktu itu, Union Theological Seminary, dipimpin oleh Rektor Henry Sloane Coffin dan profesor Harry Emerson Fosdick, mengajarkan liberalisme yang mempertanyakan segala sesuatu dalam Alkitab, termasuk otoritas Kitab Suci, kelahiran Yesus dari perawan, kebangkitan tubuh Kristus, mujizat-mujizat, dll. John Sung diajarkan filosofi “God-is-Dead,” dan dalam beberapa bulan iman John Sung bagaikan terkikis. “Jika Kristus tidak bangkit dari antara orang mati,” demikian ia merenung, “maka kekristenan tidak lebih baik dari Budhisme atau Taoisme.” Dengan Rektor yang bernama Coffin, seminari tersebut hampir saja menjadi kuburan bagi iman John Sung. Puji syukur Tuhan menyediakan jalan keluar baginya. Suatu kali ia menghadiri kebaktian penginjilan yang dilakukan oleh sebuah gereja setempat, Calvary Baptist Church, dan walaupun yang menyampaikan Injil adalah seseorang berusia 15 tahun, John Sung merasakan bahwa ia memiliki lebih banyak kuasa rohani dari para profesornya. Setelah pergumulan selama beberapa bulan, akhirnya John Sung menyerah kepada Tuhan dan mengukuhkan imannya, dan sukacita menyelimutinya. Ia segera bersaksi tentang Kristus ke mana pun ia pergi. Kepada Dr. Fosdick, yang dulunya adalah profesor favoritnya, ia berkata: “Kamu adalah Iblis. Kamu membuat saya kehilangan iman saya, dan kamu membuat orang-orang muda lain kehilangan iman mereka.” Menghadapi John Sung yang penuh keberanian dan sukacita itu, Dr. Coffin dan Fosdick menyatakannya telah sakit jiwa, dan mengirim John Sung untuk ditahan di rumah sakit jiwa. Ditahan selama 193 hari, John berkata bahwa ia membaca Alkitab 40 kali selama masa itu, dan akhirnya dibebaskan setelah diperjuangkan oleh teman misionarinya, Dr. Rollin Walker. (Kisah ini disadur antara lain dari buku John Sung, My Teacher, yang ditulis oleh Timothy Tow, salah satu murid John Sung).

Jadi, Union Theological Seminary memiliki sejarah menghancurkan iman, dan mereka masih melakukannya hari ini. Mempertahankan pengakuan dosa kepada tumbuhan, jurubicara dari seminari ini menambahkan kepada Washington Examiner, “Mengaku dosa kepada tumbuhan hanyalah salah satu ekspresi penyembahan di Union sini. Union Theological Seminary dilandaskan pada tradisi Kristen, dan pada saat yang sama berkomitmen mendalam terhadap hubungan antar-agama. Chapel harian Union, memang didesain untuk menjadi tempat orang-orang dari berbagai tradisi iman yang berbeda bisa mengekspresikan kepercayaan mereka. Dan, karena komunitas kami begitu beragam, penyembahan bisa sangat berbeda dari hari ke hari! Satu hari, anda bisa masuk dan menemukan kebaktian Anglikan tradisional, hari lain lagi anda masuk menemukan kebaktian meditasi Buddha atau doa Muslim. Pada hari lain, anda dapat menemukan kebaktian penyembahan Pantekosta atau kebaktian Quaker yang hening. Kami menciptakan suatu rumah, tempat orang-orang dapat menyembah secara berdampingan…” (https://www.washingtonexaminer.com/news/absolute-theological-bankruptcy-union-theological-seminary-students-pray-to-plants, 18 Sept. 2019). Berbahagialah orang-orang yang telah menemukan kebenaran dalam Firman Tuhan, dan gereja atau sekolah theologi yang alkitabiah.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Liberalisme | Leave a comment

Perang Cina Melawan Hak Beragama Anak-Anak

(Berita Mingguan GITS 21 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Elizabeth Yore, “China’s War on Children,” Breitbart, 12 Sept. 2019: “Sementara orang-orang muda di Hongkong berdemonstrasi menuntut kebebasan dan demokrasi, Partai Komunis Cina (CPC) melancarkan kampanye brutal opresi dan tirani terhadap anak-anak muda di Cina, melarang orang-orang muda terlibat dalam semua dan segala praktek dan tempat-tempat agamawi. … Partai Komunis Cina yang penuh kuasa tersebut telah mengumumkan bahwa tempat-tempat agamawi, gereja-gereja, praktek-praktek agama, pendidikan agama, dan tempat-tempat penyembahan, adalah tempat terlarang bagi semua anak-anak di bawah usia 18 tahun. Hak kebebasan beragama dihilangkan dari pemuda-pemudi Cina – suatu hak yang dijamin dalam undang-undang dasar Cina dan yang adalah hak asasi yang dilindungi dalam Artikel 2, 14, dan 30 di Konvensi PBB tentang Hak Anak, yang ditandatangani dan disetujui oleh Republik Rakyat Cina (RRC) pada tahun 1992. Ternyata begitu caranya Cina menghargai kewajiban kesepakatan internasional yang mereka setujui! … Menurut Departemen Negara AS, ‘Peraturan-peraturan tentang agama yang telah diperbaharui tersebut mulai diimplementasi pada bulan Februari (2018), dan kebijakan yang diambil oleh asosiasi-asosiasi agama yang disetujui oleh negara, melarang anak-anak di bawah 18 tahun berpartisipasi dalam aktivitas dan pendidikan agama.’ … Kelompok-kelompok pengawas kebebasan agama dan hak asasi manusia seperti Save the Persecuted Christians, Bitter Winter, Open Doors, dan China Aid, sedang memonitor dan melaporkan tentang tindakan keras Xi yang dia lancarkan atas seluruh negeri, melarang anak-anak ikut serta dan berpartisipasi dalam kebaktian dan ibadah agama apapun. … Zona-zona terlarang bagi anak-anak Cina meliputi semua fase kehidupan anak tersebut, mulai dari sekolah hingga camping musim panas, hingga di rumah. … Sambil anak-anak sekolah tingkat SD dan SMP di Cina istirahat untuk libur musim panas antara bulan Juni dan Agustus, Partai Komunis tidak menyia-nyiakan waktu untuk mengukuhkan aturan tidak boleh ada agama tersebut. Pejabat-pejabat Partai Komunis Cina mengirimkan surat kepada para orang tua, mengingatkan mereka untuk melarang anak-anak mereka pergi ke tempat-tempat agamawi untuk kelas Alkitab atau pembelajaran agama lainnya. Pelaksanaan aturan ini semakin lama semakin agresif, sehingga camp-camp musim panas yang disponsori oleh organisasi agama diperiksa dan ditutup oleh polisi. … Kampanye indoktrinasi ini juga memakai guru-guru sekolah untuk menasihati murid-murid mereka yang masih mudah dipengaruhi bahwa sebagai warga-warga Cina yang baik, mereka sebaiknya tidak percaya pada Tuhan. Pada bulan Juni yang lalu ini, anggota Kongres AS, Chris Smith (R-NJ) bersaksi dalam sebuah rapat kerja Kongres tentang kebebasan beragama, dan memperingatkan bahwa ‘dalam program Sini-sikasi [Editor: maksudnya proses menjadi semakin Cina], semua agama dan orang beriman harus menyetujui dan secara agresif ideologi komunis – kalau tidak..’ Smith mengakui bahwa ‘situasinya tidak pernah seburuk sekarang ini.’ Smith juga memberi peringatan hati-hati bahwa pemerintah Cina telah memaksakan kamera-kamera yang bisa mengenali wajah, merestriksi ekspresi beragama di dunia online, dan melarang orang-orang di bawah 18 tahun dari berpartisipasi dalam kegiatan agama … Plus, pemerintah Cina sedang menulis ulang Alkitab. …. Komisioner Tinggi dari Hak Asasi Manusia PBB, tidak bergerak untuk menerapkan Konvensi PBB tentang Hak-Hak Anak. Ada keheningan dari kelompok-kelompok pemerintah internasional tentang kampanye pembunuhan spiritual yang berbahaya ini.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Novel-Novel Romansa

(Berita Mingguan GITS 21 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Novel-novel romansa meledak dalam popularitas pada tahun 1970an. Sampai dengan tahun 2008, penjualan mencapai 74 juta. Banyak novel romansa yang memiliki konten seksual yang kuat. Sebagai contoh baru-baru ini adalah Fifty Shades of Grey, yang bahkan masuk ke ranah sadomasokisme. “Novel-novel ini ditulis sengaja untuk membangkitkan hawa nafsu, dan saya pikir tidak ada perbedaan besar antara novel-novel ini dengan pornografi. Ia masuk kategori ‘soft-porn,’ dan memang banyak wanita yang mendapatkan diri jauh lebih terangsang dengan membaca sesuatu seperti ini daripada menonton pornografi di komputer. Jadi wanita-wanita yang menghabiskan novel demi novel yang seperti ini, tidak banyak berbeda dengan para lelaki yang menonton pornografi sepanjang malam” (“Romance Novels: Dangerous, Harmless, or Just Fun?” 16 Jan. 2012, tolovehonorandvacuum.com). Bahkan novel romansa yang diberi rating G, membawa para pembaca ke dalam suatu dunia yang tidak realistik yang biasanya penuh dengan jagoan-jagoan wanita yang kuat dan cantik, dengan lelaki yang tampan dan sangat perhatian, yang “jatuh cinta.” Mereka bisa menciptakan suatu kecanduan terhadap dunia fantasi dan ketidakpuasan dengan kehidupan nyata. Pada tahun 2011, Journal of Family Planning and Reproductive Health di Inggris melaporkan bahwa novel-novel romansa “adalah salah satu penyebab rusaknya pernikahan, perselingkuhan, dan kehamilan yang tidak diinginkan.” Sama seperti apapun yang memiliki sifat ketergantungan, ada bahaya terjadinya progresi. “Saya mengenal begitu banyak remaja Kristen yang menghabiskan semua buku romansa di perpustakaan gereja, lalu pergi ke perpustakaan umum untuk mencari lebih banyak lagi, dan pada akhirnya menjadi hampir kecanduan dengan buku-buku yang sangat seksual” (“Romance Novels: Dangerous, Harmless, or Just Fun?” 16 Jan. 2012).

Posted in Keluarga, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Hillsong Menyajikan Sirkus

(Berita Mingguan GITS 14 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Hillson adalah koalisi gereja-gereja, yang secara longgar bermarkas di Hillsong Sydney yang digembalai bersama oleh suami istri Brian dan Bobby Houston. Gereja-gereja Hillsong menghasilkan banyak musik kontemporer yang paling populer dan berpengaruh, tetapi keduniawian mereka yang menyolok sungguh mencengangkan. Pada bulan Agustus 2019, Hillsong Gold Coast di Australia mempertunjukkan suatu sirkus duniawi. “Orang-orang Kristen yang berpikiran lurus dan alkitabiah telah sering menyebut Hillsong sebagai suatu sirkus. Tetapi mungkin mereka belum menyadari bahwa Hillsong bukan saja adalah sirkus secara allegoris – Hillsong benar-benar secara literal adalah suatu sirkus. Hillsong Gold Coast, dipimpin oleh James & Elida Turner, baru-baru ini membuat suatu atraksi sirkus di kampus mereka. Ini tidak bercanda. Dalam sebuah program yang mereka sebut #SundayNightAtTheMovies, mereka mempertunjukkan suatu acara stunt sirkus yang sedemikian heboh dan konyol, sehingga bahkan orang tidak percaya yang tidak tahu Alkitab pun bisa melihatnya dan langsung mengetahui bahwa hal semacam ini tidak ada hubungannya dengan kekristenan. Ini adalah suatu pertunjukan kacau” (“Hillsong Puts on Circus Performance,” Reformationcharlotte.org, 23 Agus. 2019). Pada bulan Mei 2016, Hillsong New York City menjadi tuan rumah Konferensi Wanita Hillsong, yang menyajikan antara lain, sekelompok cheerleader yang berpakaian minim, seorang peniru Elvis, dan seorang koboi telanjang yang hanya memakai topi dan sepatu koboi, dan sebuah gitar. Koboi itu adalah gembala sidang bagian pemuda dari Hillsong New York itu sendiri, Diego Simla. Tahun ini (2019), Yelp mengidentifikasi Hillsong Los Angeles sebagai salah satu dari top ten “gereja-gereja paling bersahabat dengan gay” di kota tersebut. Predikat ini menyingkapkan sesuatu mengenai Hillsong. Seorang homoseksual dapat masuk, duduk, dihiburkan, dan sama sekali tidak tertusuk hati nuraninya oleh khotbah dari Injil yang alkitabiah dan seruan untuk bertobat dari dosa dan datang kepada Kristus (“Hillsong Listed in Top Ten,” Reformationcharlotte, 3 Sept. 2019).

Posted in Gereja, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

“Rentan” Tanpa Pertobatan

(Berita Mingguan GITS 14 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Paulus menggambarkan cinta akan uang dan konsekuensi-konsekuensinya. “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Tim. 6:9-10). Perhatikan bahwa mereka “menyiksa dirinya.” Mereka bukanlah korban. Banyaknya dukacita datang karena suatu gaya hidup yang berdosa. Banyak gereja kontemporer yang menawarkan kasih karunia dan pengampunan tanpa adanya pertobatan dan perubahan supranatural. Mereka memiliki anggota-anggota gereja yang menjalani gaya hidup rock & roll yang tidak kudus dan mengejar kekayaan di tengah industri musik pop / entertainment yang kotor. Semua mereka menyiksa diri sendiri melalui berbagai-bagai duka dalam konteks tersebut, tetapi mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai korban. Bukannya bertobat dari dosa-dosa mereka, mereka menjadi “rentan” dengan cara membagikan masalah-masalah mereka di hadapan gereja. Mereka tidak membedakan antara penderitaan yang datang karena dosa dan penderitaan yang datang dalam kehendak Allah. Bintang musik pop, Justin Bieber, adalah salah satu contoh. Dia adalah anggota dari gereja kontemporer Churchome di Beverly Hills, California, yang digembalai oleh tim suami istri. Bieber memberitahu kepada gerejanya, “Alkitab mengatakan anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Ini terdengar gila ketika menghadapi kesusahan kamu merasa sangat buruk. Tetapi jika kita mengucap syukur dan menyembah Allah untuk apa yang kita miliki, pada waktunya ada kuasa yang besar dalam hal ini…. rasa sakit apapun yang anda rasakan katakan pada diri sendiri INI TIDAK AKAN BERLANJUT!” (“Justin Bieber Leads Worship,” CBN News, 30 Agus. 2019). Perhatikan bahwa dia tidak mengatakan apapun tentang darah Kristus atau dosa atau pertobatan atau perubahan. Semuanya generik dan tidak terdefinisikan. Dia menghabiskan banyak waktu membenarkan diri sendiri karena fakta bahwa dia tercebur ke dalam popularitas sejak usia yang sangat muda. Sebagai kontras, Petrus membuat perbedaan yang tajam dan berulang antara menderita karena Kristus dan menderita karena dosa. “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu. Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau” (1 Pet. 4:14-15). Lihat juga 1 Petrus 2:19-20; 3:17. Janji agung dalam Roma 8:28 bukan untuk semua orang dalam segala situasi. Janji tersebut adalah untuk orang-orang yang “mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Janji ini adalah untuk orang yang lahir baru melalui pertobatan dan iman yang menyelamatkan dan yang berjalan sesuai dengan panggilan dan kehendak Allah.

Posted in Renungan | Leave a comment

Ilmuwan Lain Lagi Menyatakan Diri Melawan Darwinisme

(Berita Mingguan GITS 7 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari ‘Renowned Yale Computer Science Prof Leaves Darwinism,” The Stream, 21 Agus. 2019: “David Gelernter bukanlah seseorang yang anda kira akan menolak Darwin. Dia hidup dan bekerja di jantung suatu organisasi intelektual. Dia adalah seorang ilmuwan komputer ternama di Yale University – koran New York Times menyebut dia seorang ‘rock star’ — dan dia tergabung dalam National Council on the Arts. Dia menjelaskan dalam sebuah esai baru-baru ini, dalam Claremont Review of Books, mengapa dia tidak lagi mempercayai teori evolusinya Charles Darwin. Dia membuat poin-poin yang serupa dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan Peter Robinson dari Hoover Institution. Mungkin kelemahan terbesar dengan Darwinisme, demikian dia tulis, adalah betapa sulitnya untuk secara ac ak membuat protein-protein baru yang fungsional. Evolusi Darwin bergantung pada sejumlah besar protein-protein demikian. Pemahaman kita tentang biologi molekuler telah berkembang pesat sejak Darwin. Teorinya tidak cocok lagi dengan pemahaman baru ini. Gelernter dengan seksama me-review bukti-bukti, dan artikel yang dia tulis memberikan pedoman pendek terhadap masalah yang muncul. Dia mengutip Douglas Axe, seorang ilmuwan ternama, yang telah menghitung kemungkinan menghasilkan suatu protein yang stabil yang menjalankan suatu fungsi yang berguna, dan yang oleh karena itu dapat dipertahankan oleh seleksi alam, dan hasilnya hanya 1 dalam 1077. Itu hanya untuk satu dari antara begitu banyaknya protein yang dibutuhkan oleh organisme manapun. Gelernter merangkumkan bukti-bukti yang ada. ‘Hal yang besar adalah sedemikian besar, dan hal yang kecil adalah sedemikian kecil, dan evolusi neo-Darwinian – sejauh ini – gagal total. Cobalah untuk membuat mutasi dari 150 rantai kacau balau untuk menjadi suatu protein yang berfungsi dan bekerja, dan anda dijamin akan gagal. Cobalah dengan sepuluh mutasi, seribu, sejuta – anda gagal. Kecilnya kemungkina akan mengubur anda. Ini tidak bisa dilakukan.’ Dia memiliki banyak masalah lain dengan Darwinisme. …Gelernter mengakui bahwa desain intelektual adalah suatu ‘argumen yang sangat serius.’ Ini adalah ‘[alternatif] pertama, dan yang paling jelas paling intuitif yang muncul dalam pikiran.’ Hal ini harus diperlakukan secara intelektual. Ia tidak bisa disingkirkan begitu saja karena sikap anti agama. Teman-temannya telah memperlakukan dia dengan sopan sejak dia mengubah posisinya dalam isu ini, katanya. Namun tetap saja, bagi mereka Darwinisme telah melampaui sekedar suatu argumen ilmiah. ‘Anda mempertaruhkan hidup anda jika anda menantang [Darwinisme] secara intelektual. Mereka akan menghancurkan anda.’ Dia tidak adalah melihat adanya ‘sesuatu yang mendekati kebebasan berbicara dalam topik ini.’ Ini bukanlah suatu diskusi ilmiah atau intelektual. Mereka berpikir bahwa ia sedang menyerang ‘agama’ mereka. Sayangnya, dia tidak terlalu berharap bahwa Darwinisme akan dihilangkan dari akademia dalam waktu dekat.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Pemimpin Jesuit Mengatakan Setan Hanyalah Simbol

(Berita Mingguan GITS 7 September 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Jesuit Superior General: The Devil Is a Symbol,” DailyWire.com, 21 Agus. 2019: “Pada hari Rabu, Jenderal Superior dari Ordo Jesuit mengumumkan bahwa Setan itu sendiri adalah suatu ‘simbol’ bukan makhluk yang nyata yang pernah diciptakan Allah sebelum jatuh ke dalam penghakiman. Menurut Catholic News Agency, Romo Arturo Sosa memberitahu majalah Italia, Tempi, bahwa Iblis ‘eksis sebagai personifikasi dari kejahatan dalam berbagai struktur, tetapi bukan dalam pribadi-pribadi, karena ia bukanlah pribadi, ia adalah suatu cara berlaku yang jahat,’ demikian tegas sang imam. ‘Kebaikan dan kejahatan berada dalam peperangan permanen dalam hati nurani manusia dan kita memiliki cara-cara untuk menunjukkan itu. Kita memahami Allah sebagai kebaikan, kebaikan penuh. Simbol-simbol adalah bagian dari realita, dan Iblis eksis sebagai suatu simbol realita, bukan sebagai suatu realita pribadi.’ Pernyataan pemimpin Jesuit tersebut tentang Iblis, kontras langsung dengan Katekisme Gereja Katolik, yang mengajarkan bahwa Satan dan roh-roh jahatnya adalah ‘makhluk-makhluk rohani yang tidak bertubuh’ namun yang bagaimanapun juga adalah ‘makhluk-makhluk pribadi dan abadi’ yang memiliki ‘intelijensi dan kehendak.’ … [Sebuah jajak pendapat tahun 2011] menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh orang Katolik di AS percaya bahwa Setan hanyalah suatu simbol, lebih mirip Santa Klaus daripada pribadi yang nyata. Alkitab mengatakan, “Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka” (2 Korintus 11:13-15).

Posted in Katolik, Okultisme | Leave a comment

Mereka Akan Melihat WajahNya

(Berita Mingguan GITS 24 Agustus 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Dan mereka akan melihat wajahNya” (Wah. 22:4). Di bawah Hukum, Musa tidak diizinkan untuk melihat wajah Allah (Kel. 33:20), tetapi orang-orang kudus yang ditebus di Yerusalem Baru akan memandangNya. Wajah yang akan mereka lihat adalah wajah Yesus. Pengenalan akan kemuliaan Allah akan terlihat pada wajah Yesus Kristus (2 Kor. 4:6). Yesus adalah gambar wujud Allah (Ibr. 1:3). Wajah Kristus adalah wajah Allah Pencipta, wajah kekudusan yang murni, wajah kasih yang tak terukur, wajah hikmat yang tak terbatas, wajah kecerdasan dan pengetahuan dan kebijaksanaan (Ams. 8:12), wajah kemahakuasaan, wajah yang “permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” (Mik. 5:1), wajah sang Lanjut Usia (Dan. 7:9, 13, 22). Wajah manusia adalah ciptaan yang luar biasa. Ia adalah wajah dari setiap individu jiwa. Bahkan “kembar identik” tidaklah identik. Martin Schoeller, seorang fotografer potret yang telah memotret lebih dari 100 kembar identik, mengatakan, “Begitu anda melihat mereka berdampingan di bawah cahaya yang sama dan dari sudut kamera yang sama, anda mulai menyadari betapa berbedanya kebanyakan kembar itu” (“Why identical twins look different,” The Globe and Mail, 30 Apr. 2018). Wajah merefleksikan intelijen dan karakter dan perasaan seseorang. Wajah diberi julukan “organ emosi.” Pengetahuan tentang wajah (“kemampuan membaca wajah orang”) adalah salah satu alat penegakan hukum yang penting. Wajah memiliki satu set sekitar 20 otot pipih, yang disebut otot-otot mimetik, yang memampukannya untuk merefleksikan rangkaian penuh emosi manusia. Otot-otot ini dikendalikan oleh saraf wajah yang pada gilirannya dikendalikan oleh pikiran dan roh. Otot-otot ini adalah satu-satunya jenis otot yang tertanam di kulit. Sebuah penelitian oleh insinyur kelistrikan dan komputer, Aleix Martinez, menemukan bahwa wajah membuat 21 ekspresi emosi yang berbeda, tergantung otot mana yang bekerja (“Human Faces Can Express at Least 21 Distinct Emotions,” Time magazine, 31 Mar. 2014). Orang-orang kudus mengenal Allah dalam Kristus dan rindu untuk melihat wajahNya. Himne “Nanti Berhadapan Muka” mengatakan, “Nanti berhadapan muka, Aku dengan Tuhanku; Jiwaku bersukacita, Yesus Jurus’lamatku. Nanti berhadapan muka! Aku dengan Tuhanku! Di dalam kemuliaanNya, Yesus tampak olehku.”

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, General (Umum), Renungan | Leave a comment

Revolusioner Fashion, Mary Quant

(Berita Mingguan GITS 24 Agustus 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Pakaian adalah sejenis bahasa, dan hari ini hal tersebut sangat benar adanya. Perhatikan Mary Quant, desainer fashion Inggris yang revolusioner dari era grup Beatles. Tahun ini, Museum Victoria & Albert di London menayangkan suatu ekshibit besar tentang Quant, penemu dari rok mini dan celana pendek wanita (hot pants) dan juga seorang yang berandil besar mempopulerkan celana panjang pada wanita. Fokus dari ekshibit museum tersebut adalah revolusi, pembebasan dari moralitas Alkitab, dan peruntuhan tembok-tembok antara kedua jenis kelamin (unisex, androgini). Tidak ada usaha untuk menutupi hal ini. Quant menempatkan wanita ke dalam pakaian laki-laki: celana, dasi, jas, dan rambut pendek. Salah satu display, yang diberi judul “Boys Will Be Girls” (Anak-anak Lelaki Akan Menjadi Perempuan), mengatakan bahwa Quant “melencengkan pakaian lelaki.” “Celana dianggap tidak pantas bagi wanita tetapi Quant mengenakannya ke mana pun dia ingini.” Mary Quant tahu bahwa celana bagi wanita di masyarakat Barat modern bukanlah semata-mata masalah kenyamanan dan kebebasan gerak. Berikut ini beberapa kutipan dari teks-teks di ekshibit tersebut: “menggunakan fashion untuk mempertanyakan hirarki dan aturan gender,” “suatu pendekatan penuh pemberontakan terhadap norma-norma gender yang sudah ada,” “mengejek agama,” “suatu gaya independen,” “ekspresi-diri,” “kebebasan.” “Rok mini menjadi simbol internasional pembebasan wanita.” “Gaya [Quant] yang provokatif merefleksikan sikap yang semakin longgar dalam masyarakat terhadap seksualitas dalam segala bentuknya, yang secara legal diperkuat oleh dekriminalisasi homoseksualitas pada tahun 1967.” Quant juga merobohkan tembok-tembok antara berbagai usia, memasangkan fashion anak perempuan pada wanita dewasa. Dia berkata, “Saya tidak mau tumbuh dewasa.” Tahun 1960an adalah salah satu perubahan zaman yang besar, dan revolusi moral waktu itu didorong oleh revolusi teknologi. Waktu itu adalah permulaan era televisi berwarna, printer berwarna, pemasaran masal internasional, dan kerajaan-kerajaan merchandise global. Mengapakah fashion Quant begitu populer? Mengapakah sebuah ekshibit Quant di sebuah museum art besar menarik ribuan pengunjung yang bersemangat? Dia membantu menciptakan budaya AKU modern, generasi yang “mencintai dirinya sendiri” yang dinubuatkan dalam 2 Timotius 3:2. Musik, fashion, hiburan, dan perdagangan yang terjadi, semuanya menyerukan pesan yang sama, “Ini hidupmu; hiduplah sebagaimana engkau suka!” dan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa telah mencintai pesan ini sejak Mama Hawa percaya kata-kata Iblis, “kamu akan menjadi seperti Allah.” Ini semua adalah kebohongan yang luar biasa. Tidak ada orang yang bisa memberi dirinya sendiri kehidupan. Kita tidak memiliki apa-apa; kita adalah ciptaan Allah di dalam dunia milik Allah. “Semua jiwa Aku punya! … dan orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati” (Yehezkiel 18:4). “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat” (Pengkhotbah 12:13-14). Kabar Baiknya adalah bahwa penebusan tersedia dalam Yesus Kristus untuk sepenuhnya menutupi hutang dosa saya melawan Allah dan saya dapat diselamatkan, tetapi Kabar Buruknya adalah jika saya mati tanpa Kristus, saya akan menghabiskan kekekalan membayar hutang kepada Allah yang tidak akan pernah selesai.

Posted in Fashion, Separasi dari Dunia / Keduniawian, Wanita | Leave a comment

Atlet Angkat Besi Trans-Seksual Dicopot dari Gelar Kejuaraan Wanita

(Berita Mingguan GITS 17 Agustus 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Female Trans Powerlifter,” Daily Wire, 12 Mei 2019: “Atlet angkat besi, Mary Gregory, yang adalah individu transgender dari lelaki ke perempuan, telah dicopot dari beberapa gelar kejuaraan wanita, setelah Federasi Angkat Besi menentukan bahwa Gregory tidak memenuhi syarat untuk bertanding sebagai seorang wanita. …. pada bulan April, Gregory menciptakan rekor dalam kategori angkat besi squat, bench-press, dan deadlift, untuk wanita, dan telah mendapatkan sebuah “rekor dunia total Masters” karena nilai angkat besi yang dia dapatkan dalam semua kompetisi… Tetapi pada hari Jumat, Federasi Angkat Besi Murni 100% yang sama mengumumkan bahwa Gregory akan dicopot dari gelar-gelar yang sedang dia pegang, karena, sepertinya, dewan federasi tidak menganggap Gregory cukup wanita, lapor Hot Airs. … Presiden federasi, Paul Bossi, mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada media. ‘Aturan-aturan kami, dan dasar pembedaan jenis kelamin untuk kompetisi, didasarkan pada klasifikasi fisiologis, bukan identifikasi.’ …Dalam sebuah pemungutan suara yang dilakukan minggu lalu, USA Powerlifting meloloskan kebijakan yang melarang atlet yang sedang transisi (jenis kelamin) untuk bertanding melawan atlet-atlet yang cocok dengan ‘identitas jenis kelamin’ mereka, dengan hasil 46 lawan 5 suara. Dewan menjelaskan kebijakan ini dengan mengacu kepada keuntungan khusus yang dimiliki oleh atlet pria (bahkan yang sedang beralih ke wanita) di atas orang-orang yang secara biologis wanita. ‘Laki-laki secara alami memiliki struktur tulang yang lebih besar, kepadatan tulang yang lebih tinggi, jaringan konektif yang lebih kuat, dan densitas otot yang lebih dibandingkan wanita,’ demikian tulis dewan tersebut. ‘Ciri-ciri ini tidak menghilang bahkan dengan level testosteron yang direndahkan. Sementara MTF (orang yang beralih Male-to-Female) bisa jadi lebih lemah dan memiliki lebih sedikit otot dari diri mereka dulunya, keuntungan biologis yang mereka dapatkan pada waktu lahir masih tersisa, lebih dari seorang wanita,’ Atlet transgender yang bersaing melawan jenis kelamin pilihan mereka telah menjadi topik prominen di dunia olahraga, terutama di dunia olah raga SMA.”

Posted in LGBT | Leave a comment