Peta Menyerukan Agar Penerjemah NIV Menghormati Binatang

(Berita Mingguan GITS 09 April 2011, sumber: www.wayoflife.org)
PETA (People for the Ethical Treatment of Animals) menyerukan kepada para penerjemah NIV yang baru untuk menghilangkan apa yang mereka sebut bahasa yang “speciesis” (condong terhadap spesies tertentu, seperti rasis adalah condong terhadap ras tertentu) dan agar mereka mengacu kepada binatang dengan menggunakan kata ganti “he” atau “she” dan bukan “it” (“PETA: Don’t Call Animals It,” CNN Belief Blog, 23 Maret 2011). Bruce Friedrich, wakil presiden PETA untuk urusan kebijaksanaan, mengatakan bahwa “menyebut binatang dengan kata ‘it’ menghilangkan sesuatu dari mereka; mereka dikasihi Allah.” Jadi sepertinya anjing dan babi juga perlu self-esteem (harga diri). Mungkin kita juga perlu mengharuskan para peternak untuk menyewa psikolog bagi binatang-binatang mereka. Jelas sekali bahwa orang ini tidak tahu Alkitab sama sekali. Alkitab mengatakan bahwa binatang diciptakan demi manusia. Hanya manusia yang diciptakan dengan rupa Allah (Kej. 1:25-27). Di seluruh Alkitab kita melihat contoh manusia mempergunakan binatang untuk pekerjaan, mengendarai mereka untuk transportasi dan perang (Neh. 2:12; Maz. 32:9; Ams. 21:31; Mat. 21:1-7), membajak dengan mereka (Ul. 25:4), dll. Tidak ada dalam Kitab Suci hal seperti ini dipersalahkan. Ini tidak berarti manusia boleh kejam terhadap binatang; ini berarti manusia punya hak dari Tuhan untuk berkuasa atas ciptaan dan untuk mempergunakannya bagi keperluan-keperluan manusia. Alkitab mengedepankan kebaikan bahkan terhadap binatang-binatang di dunia ini (Ams. 12:10). Mengenai vegetarianisme, sejak zaman Nuh hingga hari ini Allah telah menetapkan bahwa manusia boleh makan daging binatang (Kej. 9:3). Bangsa Israel makan daging. Tuhan Yesus Kristus makan daging. Santapan Paskah adalah seekor domba (Kel. 12:5-10), dan Kristus makan malam Paskah (Mat. 26:17-19). Dia juga makan ikan (Luk. 24:42, 43). Ada orang yang mau membuat kita percaya bahwa larangan untuk makan daging babi dan daging-daging lain adalah untuk alasan kesehatan, tetapi tidaklah demikian. Larangan makanan tertentu di Perjanjian Lama adalah untuk memisahkan Israel dari bangsa-bangsa lain dan untuk mengajar kepadanya perbedaan antara sesuatu yang kudus dan yang najis. Dalam gereja-gereja Perjanjian Baru, Allah telah menghilangkan larangan makanan tersebut. Bahkan, dalam 1 Timotius 4:1-5 kita membaca bahwa mereka yang “melarang orang makan makanan” sedang mengajarkan ajaran setan-setan. Tidaklah kejam ketika seseorang membunuh binatang dalam proses berburu atau memancing atau memakannya. Tidaklah kejam untuk membantai binatang untuk makanan. Itu salah satu alasan Allah menciptakan binatang. Orang Kristen bebas untuk makan daging dan bebas untuk tidak makan daging. Itulah pengajaran dalam Roma 14:2-3, 6. Petrus berbicara mengenai “hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan” (2 Pet. 2:12). Ini mengacu kepada binatang seperti babi dan ayam yang memang diciptakan untuk makanan manusia (setelah kejatuhan dalam dosa dan air bah).

This entry was posted in Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *