Rick Warren Merekomendasikan Perenungan Tanpa Kata-Kata

Gereja Saddleback merekomendasikan banyak sekali buku-buku mengenai mistikisme kontemplatif di website-nya. Spiritual Disciplines Handbook oleh Adele Calhoun, misalnya, dimasukkan di bawah kategori “Spiritual Growth” selama dua tahun terakhir. Rick Warren, gembala sidang senior di Saddleback, berpura-pura bahwa doa kontemplatif hanyalah mencari tempat sunyi untuk bermeditasi atas Firman Allah, tetapi sebenarnya lebih dari itu. Warren mengatakan bahwa doa kontemplatif tidaklah seperti yoga, tetapi sebagai mantan anggota klub meditasi Hindu, saya dapat bersaksi bahwa praktek-praktek seperti centering prayer jelas sangat mirip dengan yoga. Adele Calhoun merekomendasikan praktek-praktek kebiaraan Roma Katolik, yang dulunya dipinjam dari agama-agama kafir, seperti yang sudah kami dokumentasikan dalam buku Contemplative Mysticism. Calhoun mendaftarkan tokoh-tokoh Katolik sebagai “tutor rohani,” termasuk M. Basil Pennington, Henri Nouwen, Peter Kreeft, William Meninger, Francis de Sales, Richard Rohr, William Johnson, Teresa of Avila, Thomas Keating, John of the Cross, Brother Lawrence, Tilden Edwards, Ignatius Loyola, St. Benedict, Thomas Merton, John Henry Newman, Julian of Norwich. Orang-orang ini bukan hanya adalah individu-individu yang tersesat sangat jauh di dalam kesesatan Katolik, tetapi banyak yang telah dipimpin oleh praktek-praktek mistik mereka menuju universalisme, panentheisme, dan bahkan penyembahan berhala yang vulgar. (Sebagai contoh, Thomas Merton menyembah patung-patung Budha) Calhoun merekomendasikan untuk mengikuti kalender Roma Katolik, mencari arah rohani dari ordo-ordo Katolik, dan mengunjungi pusat-pusat retreat Katolik. Dia menggambarkan sebuah ziarah yang dia lakukan bersama 30 wanita di “kelompok perjanjian”nya untuk mengunjungi situs-situs para mistik Katolik untuk mempelajari praktek-praktek mereka. Dia merekomendasikan serombongan praktek-praktek kontemplatif yang tidak alkitabiah, termasuk Jesus prayer (berisi pengulangan berkali-kali yang sia-sia), palms up palms down (telapak ke atas, telapak ke bawah, suatu visualisasi psikologis), lectio divina, imagination prayer, centering prayer, breath prayer, practicing the presence (melatih hadirat), silence (keheningan), and spiritual direction. Dia merekomendasikan menggunakan satu kata sebagai mantra untuk mengusir pikiran yang sadar. “Pilih sebuah kata yang sederhana …Biarkan kata ini menjaga perhatianmu. …Ketika pikiranmu mulai berkelana, jatuhkan ke dasar pikiranmu. Jangan mengejar mereka. …Bayangkan pikiran-pikiranmu yang mengganggu sebagai bagian dari kotoran yang terapung di atas aliran sungai. Jangan mencoba untuk menangkap pikiran-pikiran ini; lepaskan mereka dan biarkan sungai kehidupan Allah membawa mereka pergi.” Dalam menggambarkan mistikismenya, dia mengutip Richard Rohr, “Doa secara utama bukanlah mengatakan kata-kata atau memikirkan pikiran-pikiran. Sebaliknya, doa adalah suatu sikap. Doa adalah suatu cara hidup di hadapan sang Hadirat.” Ini bukanlah perenungan Alkitabiah; ini adalah mistikisme buta. Bahkan mengenai renungan pembacaan Alkitab, Calhoun merendahkan “secara mental mengkritisi atau mengeksegesis teks.” Sebaliknya, Alkitab katanya harus dipakai sebagai papan loncat untuk mistikisme sambil orang itu menolak untuk menganalisa teks, tetapi hanya “mendengar dan menunggu.” Sulit untuk melebih-lebihkan betapa besarnya bahaya yang terkandung dalam mistikisme kontemplatif, dan tidaklah mungkin untuk memberi peringatan yang terlalu keras dan jelas mengenai kebutaan rohani para “injili” yang mempromosikan hal-hal seperti ini.

This entry was posted in Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *