Sekretaris Negara Kepausan: Kebujangan Bukanlah Dogma

(Berita Mingguan GITS 21September 2013, sumber: www.wayoflife.org)

Pietro Parolin, Sekretaris Negara baru di Vatikan, memberitahu sebuah koran bahwa praktek Katolik yang mengharuskan kebujangan (bagi para imam) adalah suatu tradisi, bukan dogma, sehingga bisa “didiskusikan” dan bisa menjadi subjek “modifikasi” (“New Secretary of State Parolin on Celibacy,” National Catholic Reporter, 11 Sept. 2013). Konsili Lateran Kedua pada tahun 1139 membuat aturan bahwa imam-imam dilarang menikah. Dalam sebuah wawancara tahun 2012, Paus Fransiskus (waktu itu masih berstatus Kardinal Jorge Bergoglio) mengatakan bahwa kebujangan “adalah masalah disiplin, bukan masalah iman; itu bisa berubah” (“Is Pope Francis Open to Optional Celibacy?”National Catholic Reporter, 19 Maret 2013). Dia menambahkan, “Untuk saat ini, saya mendukung mempertahankan kebujangan.” Gereja Katolik selama puluhan tahun telah memperlunak posisi mereka mengenai imam yang harus “membujang.” Mereka terlihat melunak, karena baru-baru ini mereka membiarkan non-imam untuk melakukan berbagai hal yang dulunya hanya boleh dilakukan oleh imam, dan mereka juga membiarkan imam-imam Anglikan yang menikah untuk berpaling menjadi Katolik dan tetap mempertahankan status imam mereka. “Kebujangan” Roma telah sejak dulu menjadi skandal. Banyak buku telah mendokumentasikan kebusukan moral yang menjadi bagian dari keimamatan Katolik. Dalam tahun-tahun belakangan, Gereja Katolik di Amerika telah membayar lebih dari satu milyar dolar untuk menyelesaikan berbagai tuntutan hukum karena imam-imam yang menyerang anak-anak secara seksual.

This entry was posted in Katolik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *