Prediksi Darwin

(Berita Mingguan GITS 17 Mei 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Ketika Charles Darwin mengamati setangkai bunga anggrek Madagaskar, yang berbentuk bintang, dengan tuba nektar sepanjang 28 cm, ia memprediksikan bahwa akan ditemukan juga seekor kupu-kupu yang memiliki proboscis (alat sedot yang dimiliki kupu-kupu) dengan panjang 28 cm yang dapat menjangkau nektar dalam bunga tersebut. Ia menyatakan hal ini dalam buku On the Various Contrivances by Which British and Foreign Orchids Are Fertilized, tahun 1862. Pada tahun 1903, 21 tahun setelah kematian Darwin, kupu-kupu Morgan’s Sphinx ditemukan, dan pada tahun 2004, Philip DeVries menggunakan kamera inframerah untuk merekam tindakan kupu-kupu itu menyerbuki anggrek tersebut dengan proboscis-nya yang luar biasa. Lihat http://www.youtube.com/watch?v=OMVN1EWxfAU. Pada 1867, Alfred Russel Wallace memunculkan “teori” ko-evolusi (evolusi bersama) untuk menjelaskan eksistensi hubungan simbiosis misalnya antara bunga dan serangga yang mempolinasi bunga tersebut. Ini tetap menjadi suatu mitos yang dipromosikan di museum-museum dan buku-buku sains hari ini, seolah-olah metode alamiah mana saja dapat menjelaskan asal usul makhluk-makhluk hidup yang sedemikian luar biasa ini dan hubungan simbiosis yang sedemikian indah! Baik bunga maupun serangga yang bersangkutan sangatlah kompleks. Mereka menyerukan adanya penciptaan dari setiap tingkat eksistensi mereka, mulai dari sel-sel dan DNA mereka hingga proses-proses seperti fotosintesis dan metamorfosis hingga kemampuan untuk melihat dan mendengar dan terbang dan berkembang biak. Diperlukan sejumlah besar sekali informasi genetika yang sempurna untuk menghasilkan satu anggrek dan satu kupu-kupu yang dapat beroperasi bersama dalam harmoni yang sempurna ini. Proses Darwinian macam apa yang bisa menjelaskan hal seperti ini? “Seleksi alam” hanya bisa bertindak di dalam parameter informasi genetika yang sudah ada, dan mutasi sudah diketahui mayoritas besarnya bersifat negatif dan merusak. Walaupun banyak teriak sana sini, evolusi Darwinian tidak pernah mampu mengusulkan suatu mekanisme kreatif “alami” yang didukung oleh fakta-fakta sains mengenai asal usul kehidupan. Cerita evolusi mengenai bagaimana kehidupan bisa muncul atau bagaimana suatu makhluk hidup tertentu bisa ada, tetap adalah sekedar “cerita” yang “pokoknya begitu.” Satu-satunya yang dibuktikan oleh cerita-cerita ini adalah bahwa para evolusionis memiliki imajinasi yang tinggi. Lebih lanjut lagi, jika bunga dan serangga yang menyerbukinya memang “berevolusi,” maka mereka harus berevolusi persis pada saat yang sama – maksimum dalam jangka waktu seminggu atau sebulan satu sama lainnya – karena eksistensi mereka saling tergantung satu sama lain. Darwin memang benar, bahwa kupu-kupu itu memang ada, tetapi dia salah total mengenai bagaimana kupu-kupu itu bisa ada.

This entry was posted in Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *