Membuat Imamat Menjadi “Queer”

(Berita Mingguan GITS 13 Desember 2014, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah organisasi Yahudi di Amerika, sedang menafsirkan ulang Perjanjian Lama dengan “cara-cara baru” untuk mendukung homoseksualitas. Organisasi tersebut, bernama Nehirim, bertujuan untuk menyediakan “program yang hidup, pluralistik, egalitarian, dan dapat dijangkau, yang mengkultivasi dan menguatkan jiwa-jiwa Yahudi yang LGBTQI [Lesbian, Gay, Biseksual, Transeksual, Queer, Intersex].” (“I” adalah singkatan dari interseks, baru-baru ini ditambahkan ke singkatan LGBTQ. Nantinya bisa jadi ditambahkan juga “C” untuk “child sex” dan “B” untuk bestiality. Mengapa tidak bisa?) Rabbi Debra Kolodny, Direktur Utama dari Nehirim, menyebut penafsiran-penafsiran baru itu “menjadi teks queer” [queer adalah slang bahasa Inggris untuk orang homoseksual]. Ini menghasilkan “theologi queer.” Debra mencari chidush, atau “pemahaman yang tidak pernah diimajinasikan sebelumnya karena lensa yang kita cari hari ini belum pernah eksis sebelumnya” (“The Queering of Leviticus: How a Rabbi Permits Gay Sex,” The Times of Israel, 4 Des. 2014). Bagaimanakah dia membuat teks Imamat 20:13 menjadi “queer”? “Bila seorang laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.” Dia mengatakan bahwa kata “kekejian” di sini mengacu hanya kepada homoseksualitas dalam konteks suatu ritual kafir atau penyembahan berhala. Dia mengatakan bahwa jika seseorang bertanya apakah ok bagi dua lelaki untuk masuk dalam hubungan homoseksual, dia akan menjawab, “Apakah kamu terlibat dalam ritual kafir? Jika tidak, maka itu tidak dilarang – Taurat tidak berbicara mengenai hal ini.” Ini adalah cara standar para pendukung homoseksualitas menafsirkan larangan-larangan dalam Perjanjian Lama sejak munculnya “theologi queer” sekitar tiga dekade yang lalu. Retreat rohaniwan Yahudi Nehirim yang pertama diadakan di San Francisco minggu ini. Kami pernah melaporkan adanya “parade gay” tahunan yang besar di Tel Aviv. Sungguh benar bahwa Alkitab menggambarkan Yerusalem akhir zaman sebagai “Sodom” (Wahyu 11:8).

This entry was posted in Kesesatan Umum dan New Age. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *