(Berita Mingguan GITS 31 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)
Almarhum astronomer, Edwin Hubble, mengatakan, “Diperlengkapi dengan kelima inderanya, manusia menjelajahi alam semesta di sekitarnya dan menyebut petualangan itu ilmu pengetahuan” (The Nature of Science, 1954). Sejauh yang kita tahu, Dr. Hubble tidak pernah mengaku percaya Kristus, jadi dia bahkan belum bisa mulai memahami betapa ilmu pengetahuan itu suatu petualangan. Sebelum saya diselamatkan, saya menikmati membaca. Saya membaca banyak topik, dan saya tertarik akan banyak hal, tetapi ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang mendalam dan mendasar. Belajar bukan sungguh-sungguh suatu petualangan seru. Memang ada kalanya semua itu menarik dan bahkan menakjubkan, tetapi secara keseluruhan mempelajari kehidupan membawa kebingungan, mematahkan semangat, dan mengecewakan. Dua pikiran sering muncul pada diri saya pada waktu itu: Siapa yang bisa tahu pasti apa yang benar? Dan apa gunanya saya belajar banyak hal, karena saya akan mati? Tetapi sejak saya diselamatkan, semuanya menjadi berubah. Saya memiliki “kunci” belajar, yaitu pengenalan akan Allah yang sejati dalam Yesus Kristus dan memiliki WahyuNya dalam Alkitab. Saya telah dipanggil “keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib” (1 Petrus 2:9). Sekarang, belajar sungguh-sungguh adalah suatu petualangan. Tidak peduli apapun yang saya pelajari, dari sejarah manusia hingga ilmu alam, saya memiliki terang untuk menafsirkan setiap subjek dengan benar, dan saya memiliki motivasi untuk melakukannya karena saya mengenal sang Pencipta, dan saya tahu bahwa saya memiliki hidup yang kekal. Semua yang saya pelajari tentang kehidupan menunjuk kepada Allah, dan itu membuat segala sesuatu menjadi suatu petualangan. Johannes Kepler, penemu hukum alur gerak planet-planet, memahami hal ini. Seperti kebanyakan bapa-bapa sains modern, ia percaya pada Allah dalam Alkitab dan pada penciptaan ilahi, dan dia berkata, “Saya hanyalah memikirkan pikiran-pikiran Allah. Karena kami para astronom adalah imam-imam dari Allah yang maha tinggi berkaitan dengan buku alam semesta, adalah baik bagi kami untuk merenung, bukan tentang kemuliaan pikiran kami, tetapi sebaliknya, di atas segala yang lain, kemuliaan Allah.”