Berbohong tentang Fidel

(Berita Mingguan GITS 26 November 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Kematian diktator Kuba, Fidel Castro, minggu lalu, memicu tercurahnya kebohongan-kebohongan penuh simpati dari propaganda “media massa populer” berhaluan kiri. Sebuah laporan di Reuters menjadi contoh tipikal dari berbagai laporan yang muncul di berbagai situs berita internet dan di koran-koran di seluruh dunia, untuk mencuci otak orang-orang pada umumnya yang tidak memiliki informasi sebenarnya. Saya [Dr. Cloud] membacanya di koran The Himalayan Times di sebuah kedai kopi di Kathmandu, Nepal. Inti dari laporan itu adalah bahwa Fidel adalah seorang pahlawan yang menentang penindasan Amerika Serikat dan menciptakan suatu negara komunis yang menyenangkan yang katanya meningkatkan kehidupan rakyat. “Dia membuang kapitalisme dan memenangkan dukungan karena mendirikan sekolah dan rumah sakit bagi orang-orang miskin” (“Former Cuban Leader Dies at 90,” Reuters, 26 Nov. 2016).

Fakta kebenarannya, dia tidak memenangkan dukungan; dia memaksakan dukungan melalui terorisme dan penindasan yang brutal. Sementara laporan itu mengakui bahwa Fidel memiliki “banyak sekali musuh dan pengritik” yang “memandang dia sebagai seorang tiran yang tak berbelas kasihan,” para kritik ini tidak diberikan suara untuk menyampaikan keprihatinan mereka. Seorang pembaca yang tidak mengetahui faktanya bisa jadi dipimipin untuk berpikir bahwa kritikan mereka terhadap Fidel-sang-orang-baik adalah kritikan yang tidak adil. Laporan Reuters tentang Fidel ini tidak menginformasikan para pembaca tentang brutalitas Fidel, penghancuran kebebasan berbicara, kebebasan beragama, kebebasan pers, dan pemilihan demokratis, dan penghancuran ekonomi melalui prinsip-prinsip Marxisme, atau sel-sel penjara yang kecil, gelap, bagaikan mimpi buruk, yang berisikan 500.000 “pengritik,” dan “rasio pemenjaraan politik per kapita tertinggi di dunia,” penyiksaan dan pemukulan, 15.000 eksekusi mati oleh regu tembak, dan kerja paksa. Reuters tidak menjelaskan mengapa ratusan ribu orang Kuba mempertaruhkan nyawa mereka untuk lari dari firdaus komunisnya Fidel, untuk lari ke penindasan Amerika (puluhan ribu orang tenggelam atau dimakan ikan hiu dalam usaha ini), sementara hampir tidak ada orang yang mau ber-imigrasi ke Kuba. Orang-orang itulah yang dapat memberitahu kepada anda kebenaran tentang Kuba, tetapi mereka tidak diberikan suara oleh Reuters, dll. (Mereka diberikan suara dalam buku-buku seperti The Black Book of Communism oleh Pascal Fontaine, Fidel: Hollywood’s Favorite Tyrant oleh Humberto Fontova, dan Against All Hope oleh Armando Valladares, yang menggambarkan 22 tahun mengerikan penyiksaan dan pemenjaraan yang dia alami secara pribadi karena “sekedar menyinggung masalah kebebasan”).

Walaupun sistem kesehatan Kuba yang sosialis sering dipuji sebagai salah satu yang terbaik di dunia, realitanya adalah ada dua sistem kesehatan di Kuba, satu yang kualitasnya sangat rendah untuk orang Kuba biasa, dan satu yang bagus untuk elit partai Komunis dan turis-turis kesehatan. “Kesaksian dan dokumentasi tentang subjek ini sangat luas tersedia. Rumah sakit dan klinik-klinik sudah dalam kondisi hampir rubuh. Kondisi di sana tidak higienis, dan pasien bisa jadi lebih baik di rumah saja, di mana pun rumah itu. Jika mereka pergi ke rumah sakit, mereka harus membawa seprei mereka sendiri, begitu juga sabun, handuk, makanan, dan bolam lampu – bahkan tisu WC. Dan pengobatan yang dasar sulit ditemukan . . . menemukan aspirin saja susah. Antibiotik bisa dijual mahal sekali di pasar gelap. Peralatan yang dipakai oleh para dokter sudah sangat kuno atau bahkan tidak ada. Para dokter diketahui harus memakai ulang sarung tangan latex – tidak ada pilihan lain. Ketika mereka berkunjung ke pulau Kuba, dalam misi kemanusiaan, dokter-dokter Amerika memastikan mereka membawa sebanyak mungkin peralatan dan sebanyak mungkin suplai yang dapat mereka bawa. Salah seorangnya memberitahu Associated Press, ‘Dokter-dokter [Kuba] cukup terlatih, tetapi mereka tidak memiliki alat untuk bekerja. Ini seperti melakukan operasi dengan pisau dan sendok’” (“Does Cuba Have the Best Healthcare System?” 22 Mei 2016, quora.com). Laporan Reuters ini juga gagal memberitahu para pembacanya bahwa orang-orang Kuba masih terus mengalir keluar dari firdaus komunisnya Fidel ke pantai Amerika yang katanya penuh penindasan (“Surge in Cuban Immigration to U.S. continues,” 5 Agus. 5, 2016, Pewresearch.org). Kita bertanya-tanya, mengapa para wartawan sayap kiri ini tidak pindah saja ke salah satu firdaus komunis itu daripada tetap tinggal di Amerika yang penuh penindasan?

This entry was posted in General (Umum). Bookmark the permalink.

1 Response to Berbohong tentang Fidel

  1. Lukas says:

    Bukan mau membela orde baru, tetapi PKI (secara ideologi) belumlah mati. Sekarang banyak lembaga terutama LSM yang mengatasnamakan demokrasi, toleransi, keadilan sosial, dan HAM tetapi relatif mengarah ke kiri di Indonesia ini. Kalau bapak menginginkan nama-nama organisasi tersebut saya siap menyebutnya blak-blakan.

    Soeharto memang kejam dan korup, tetapi propaganda mengenai “bahaya laten komunis” adalah benar meski implementasi pada masanya banyak melanggar HAM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *