Membiarkan Kerugian

(Berita Mingguan GITS 24 Desember 2016, sumber: www.wayoflife.org)

“Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya? Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?” (1 Kor. 6:6-7). Berikut dari dari komentari John Phillips atas 1 Korintus: “Bertahun-tahun yang lalu, saya jatuh ke tangan pebisnis yang tidak jujur yang meyakinkan saya untuk menginvestasikan uang dalam suatu usaha yang dia tahu tidak ada nilainya. Dia memberikan kepada saya dokumen-dokumen yang juga tidak bernilai sebagai jaminan. Ketika cek giro bunga pertama dikembalikan oleh bank, saya tahu bahwa saya telah ditipu. Saya membawa cek giro itu kepadanya dan menuntut suatu penjelasan. Itu suatu kesalahan, kata dia, dan dia bermaksud untuk membayar giro itu. Saya disuruh untuk melakukan deposito ulang. Itu semua adalah permulaan dari rentetan kebohongan dan penghindaran yang panjang. Akhirnya saya mencari nasihat hukum. ‘Ini kasus penipuan yang jelas,’ kata pengacara saya. ‘Serahkan kasus ini kepada saya dan saya akan memastikan dia masuk penjara.’ Orang itu adalah seorang yang mengaku Kristen. Dia pergi ke gereja yang sama dengan saya. Saya kenal dengan istri dan anak-anaknya yang kecil. Setelah pergumulan hati yang berat, saya memutuskan untuk membiarkan masalah itu. Jumlah uang yang terlibat adalah besar (untuk standar saya itu besar), tetapi tidak pantas untuk menjadikannya tuntutan hukum. Saya memutuskan untuk membiarkan diri saya ‘menderita ketidakadilan.’ ‘Ah!’ orang-orang bijak dunia ini akan berkata, ‘jadi saudara ini bisa memakai 1 Korintus 6 untuk bebas melakukan penipuan!’ Hmm, ya dan tidak! Sebenarnya, kasus ini hanyalah dioper ke Pengadilan yang Lebih Tinggi. Orang itu tidak lolos dengan ketidakjujurannya, sebagaimana saya ketahui belakangan. Dia membayar dengan cara-cara lain. Dan saya juga tidak menjadi pecundang. Seorang teman pebisnis saya yang kaya mendengar apa yang terjadi. Dia mendekati saya satu hari dan berkata, ‘Saya seharusnya memperingatkan kamu tentang orang tersebut. Saya tidak tahu kamu adalah calon korbannya. Tuhan telah menggerakkan hati saya untuk membantu kamu. Juallah pada saya jaminan-jaminan itu. Jangan khawatir bahwa saya akan rugi, saya bisa menanggungnya dengan mudah. Lagipula, saya punya jauh lebih banyak pegangan dari kamu dan saya juga jauh lebih kenal dia. Biar saya yang berhadapan dengan dia.’ Orang tersebut berpegang pada perkataannya. Dalam beberapa minggu dia memberikan kepada saya giro dengan jumlah uang yang sepenuhnya. Tentu saja tidak semua kasus akan berakhir manis dengan cara seperti ini. Tetapi semuanya pasti akan berakhir manis – pada akhirnya.”

This entry was posted in General (Umum). Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *