Permulaan Gerakan “Bahasa Lidah” Modern

Oleh Dr. David Cloud

 

Di lihat dari sudut manapun juga, Charles Parham (1873-1929) adalah seorang tokoh penting dalam lahirnya gerakan Pantekostalisme. Dia ditahbiskan sebagai seorang Methodis, tetapi “meninggalkan organisasi tersebut setelah terjadi konflik dengan atasan-atasan gerejawinya” (Larry Martin, The Topeka Outpouring of 1901, hal. 14).

Dalam pencariannya yang tak jemu akan pengajaran rohani, ia mengunjungi pelayanan sejumlah pengajar gerakan kekudusan (holiness), kesembuhan iman (faith-healing), dan hujan akhir (Latter Rain), dan dari kesemuanya ia mengumpulkan berbagai penyimpangan doktrinal, yang akhirnya ia gabungkan menjadi satu dalam theologi Pantekosta dia sendiri.

Sebelum pergantian abad, Parham meneliti kebaktian-kebaktian yang dilakukan oleh Benjamin Irwin, pendiri dari Fire-Baptized Holiness Church, dan ia dipengaruhi secara mendalam oleh doktrin “berkat ketiga” yang diajarkan Irwin (ada berkat keselamatan, berkat kuasa, dan berkat kesempurnaan tanpa dosa). Seperti yang telah kita lihat, Irwin mengajarkan bahwa orang Kristen harus mengejar “baptisan api” untuk mendapat kuasa dan kesempurnaan. Sejarahwan Pantekosta, Vinson Synan, menggambarkan hubungan ini:

GEREJA FIRE-BAPTIZED HOLINESS BERFUNGSI SEBAGAI MATA RANTAI YANG PENTING DALAM MUNCULNYA GERAKAN PANTEKOSTA MODERN. Dengan mengajarkan bahwa baptisan Roh Kudus adalah suatu pengalaman yang berbeda dari dan terjadi sesudah pengudusan, ia membangun dasar doktrinal bagi gerakan selanjutnya. Sangatlah mungkin bahwa Charles F. Parham, orang yang memulai kebangkitan Pantekosta di Topeka, Kansas, tahun 1901, menerima dari Irwin ide dasar mengenai baptisan Roh Kudus yang terpisah dan terjadi setelah pengudusan. Dan memang, untuk suatu periode waktu pada tahun 1899, Parham mempromosikan ‘baptisan api’ di majalah Apostolic Faith yang dia buat” (Synan, The Holiness-Pentecostal Tradition, hal. 59).

Parham mengadopsi doktrin sesat tentang anihilasi (annihilation) dari ayah mertuanya yang adalah seorang Quaker, David Baker, yang menyangkali adanya hukuman kekal bagi orang-orang jahat, dan sebaliknya percaya bahwa orang-orang yang tidak selamat akan ter-anihilasi (hilang eksistensinya) di neraka.

Pada tahun 1898, Parham terpengaruh oleh Frank Sandford yang sudah pernah disinggung, dan pada tahun 1900, Parham pergi ke Chicago untuk belajar di bawah pelayanan John Dowie and untuk meneliti [komunitas yang Dowie dirikan, yaitu] Zion City.

Seperti Sandfond dan Dowie, Charles Parham mengajarkan bahwa kesembuhan fisik adalah hak setiap orang Kristen, dan ia mengecam keras penggunaan obat-obatan dan dokter. Dia mengklaim bahwa Allah selalu berkehendak untuk menyembuhkan penyakit. Pada 13 September 1899, dalam salah satu edisi majalah Apostolic Faith-nya, Parham menjawab pertanyaan apakah Alkitab melarang penggunaan obat-obatan, dengan memproklamirkan: “Kami katakan ya, dengan sangat tegas YA” (penekanan orisinal).

Sebuah edisi majalah Christian History (Issue 58, Vol. XVII, No. 2, 1998) mengandung sebuah foto dari Parham bersama tujuh pengikutnya yang sedang berdiri di tangga gedung pengadilan di Carthage, Missiouri. Waktu itu tahun 1906, dan Parham sedang memegang sebuah banner yang bertuliskan “Persatuan Rasuli.” Yang lainnya sedang memegang banner yang bertuliskan “Kebenaran, Iman, Hidup, Kemenangan, KESEHATAN.” Mereka sedang membuat suatu pernyataan doktrin iman mereka bahwa kesehatan adalah bagian hidup Kristiani yang dijamin.

Parham adalah pengkhotbah Pantekosta pertama yang mendoakan saputangan, lalu mengirimkannya lewat pos kepada orang-orang yang menginginkan pelayanannya (James Goff Jr., Fields White Unto Harvest, hal. 104).

Walaupun dia mengajarkan bahwa Allah selalu berkehendak untuk menyembuhkan dan bahwa obat serta dokter harus dijauhi, salah satu putra Parham meninggal saat berusia satu tahun karena penyakit yang tidak disembuhkan. Bahkan, anak itu mati dua bulan setelah terjadinya “bahasa lidah” di Sekolah Alkitab Bethel yang didirikan Parham di Topeka. Seorang putra lain dari Parham meninggal pada usia 37 tahun. Kebanyakan dari orang-orang yang menghadiri kebaktian-kebaktian Parham, tidak disembuhkan. Pada bulan Oktober 1904, seorang anak perempuan berusia 9 tahun, bernama Nettie Smith, meninggal. Ayahnya adalah seorang pengikut setia Parham dan menolak untuk mencari pengobatan bagi putrinya. Kematian anak perempuan kecil itu membuat opini publik berbalik melawan Parham karena penyakitnya sebenarnya dapat disembuhkan, dan komunitas menganggap kematiannya itu tidak perlu terjadi.

Parham sendiri menderita berbagai penyakit selama hidupnya, dan kadang-kadang terlalu sakit untuk berpergian atau berkhotbah. Sebagai contoh, dia menghabiskan keseluruhan dari musim dingin 1904-1905 sakit di atas ranjang (James Goff Jr., Fields White Unto Harvest, hal. 94), bertentang dengan doktrinnya sendiri bahwa kesembuhan dijamin dalam penebusan Kristus.

Pada tanggal 22 Maret 1899, edisi majalah Apostolic Faith-nya Parham membeberkan kepercayaan dia sebagai berikut: “keselamatan melalui iman; penyembuhan melalui iman, penumpangan tangan, dan doa; pengudusan melalui iman; kedatangan (pre-milenium) Kristus; baptisan Roh Kudus dan Api, yang memeteraikan Mempelai Perempuan dan menganugerahkan karunia-karunia.”

Jadi kita melihat kombinasi dari berbagai penyimpangan yang telah ia kumpulkan dalam berbagai perjalanannya.

Parham juga percaya doktrin anihilasi orang-orang yang tidak selamat. Dia mengajarkan bahwa ada dua ciptaan yang berbeda, dan bahwa Adam dan Hawa adalah ras yang berbeda dari orang-orang yang katanya hidup di luar Taman Eden. Ras manusia yang pertama tidak memiliki jiwa, demikian dia mengklaim, dan ras manusia tanpa jiwa ini dihancurkan dalam Air Bah. Parham percaya bahwa hanya mereka yang menerima baptisan Roh akhir zaman dan berbicara dalam bahsa lidah yang akan menjadi mempelai perempuan Kristus dan akan “dimeteraikan untuk Perjamuan Kawin Anak Domba” dan ahwa orang-orang ini akan mendapatkan tempat otoritas yang spesial pada saat kedatangan kembali Kristus. Dia percaya doktrin Partial Rapture, yaitu bahwa hanya orang yang berbahasa lidah yang akan diangkat.

Dari John Dowie, Parham mengadopsi kesesatan bahwa kaum Anglo-Saxons adalah orang-orang Israel yang sesungguhnya.

Dia sering berasosiasi dengan Ku Klux Klan dan percaya bahwa pernikahan antar-ras menyebabkan Air Bah Nuh (Martin, The Topeka Outpouring of 1901, hal. 19). Parham tidak percaya bahwa orang-orang kulit hitam bisa dimeteraikan sebagai bagian dari mempelai Kristus.

Setelah kunjungan-kunjungannya kepada Dowie dan Sandford, Parham mendirikan SEKOLAH ALKITAB BETHEL di TOPEKA, KANSAS. Sekolah ini dipolakan pada pelayanan Sandford dan dibuka pada bulan Oktober 1900 di dalam sebuah gedung dengan 30 ruangan, yang disebut “Stone’s Folly.” Gedung itu dinamakan demikian karena nama pemiliknya, Stone, tidak mampu menyelesaikan gedung tersebut sebelum bangkrut.

Parham yakin bahwa kedatangan kembali Kristus akan didahului oleh suatu pencurahan Hujan Akhir berupa tanda-tanda dan mujizat-mujizat, dan dia percaya bahwa bahasa adalah bukti baptisan Roh Kudus. Lebih lanjut lagi, dia percaya bahwa bahasa lidah adalah bahasa yang benar-benar ada di bumi yang akan memungkinkan para misionari untuk mengkhotbahkan Injil ke ujung dunia tanpa perlu mempelajari bahasa-bahasa asing. Menurut pengajaran Parham, orang-orang yang menerima baptisan Hujan Akhir akan membentuk mempelai perempuan Kristus dan akan memerintah bersama Dia pada saat kedatanganNya.

Parham mendorong murid-muridnya untuk mencari pengalaman ini, dan dalam konteks ini dia menumpangkan tangan pada salah satu dari murid Sekolah Alkitabnya, AGNES OZMAN, pada tanggal 1 Januari 1901, dan dikabarkan bahwa dia mulai berbicara dalam bahasa Cina dan belakangan dalam bahasa Bohemia. Dia berbicara dalam kondisi tidak sadarkan diri [trance] (Topeka State Journal, Jan. 9, 1901).

Selanjutnya, Parham dan yang lainnya di sekolah Alkitab kecil itu, juga dikabarkan mulai berbicara dalam bahasa lidah. Mereka bahkan mengklaim bahwa ada lidah-lidah api yang muncul di atas kepala orang-orang yang berbahasa lidah.

Parham mengatakan bahwa para profesor bahasa dan orang-orang lain yang berpendidikan linguistik mengiyakan bahwa bahasa lidah yang diucapkan para muridnya adalah bahasa-bahasa, tetapi hal ini tidak pernah dikonfirmasi. Para wartawan koran pada waktu itu menggambarkan fenomena tersebut sebagai “bunyi asal-asalan.”

Satu-satunya catatan riil yang kita miliki tentang “bahasa lidah” yang diucapkan oleh murid-murid Parham, ditulis oleh seorang wartawan dari Topeka State Journal. Saya menemukan sebuah salinan catatan ini sewaktu mengunjungi Kansas State Historical Society.

Mr. Parham memanggil Miss Lilian Thistlethrate [Thistlewaite] ke dalam ruangan dan meminta dia untuk mengucapkan sesuatu. Awalnya dia menjawab bahwa Tuhan tidak sedang menginspirasikan dia untuk mengatakan apa-apa, tetapi segara dia mulai mengucapkan kata-kata aneh, yang terdengar seperti ini: ‘Euossa, Euossa, use rela sema calah mala kanah leulla ssage nalan. Ligle logle lazie logle. Ene mine mo, sah rah el me sah rah me.’ Kalimat-kalimat ini lalu diterjemahkan sebagai, ‘Yesus berkuasa untuk menyelamatkan,’ ‘Yesus siap mendengar,’ dan ‘Allah itu kasih’” (“Hindoo and Zulu Both Are Represented at Bethel School,” Topeka State Journal, 9 Jan. 1901).

Ligle logle lazie logle!!!!! Ene mine mo!!!!! Ini persis adalah tipe “bahasa lidah” yang telah saya dengar lusinan kali di berbagai kebaktian Pantekosta dan kharismatik di berbagai bagian dunia, tetapi ini adalah bualan anak kecil.

Pada tahun 1914, Charles Shumway dengan rajin mencari bukti-bukti bahwa bahasa lidah pada awal gerakan Pantekosta adalah bahasa-bahasa sejati, tetapi dia gagal untuk menemukan satu orang pun yang dapat memastikan klaim-klaim yang dimunculkan (James Goff, Jr., Fields White Unto Harvest, Fayetteville: University of Arkansas Press, 1988, hal. 76).

Dalam disertasi Ph.D.nya pada tahun 1919, Shumway menegur koran lokal Houston Chronicle karena memberi laporan yang terlalu lekas percaya, dan menyatakan bahwa ‘ada surat-surat dari beberapa orang yang adalah juru penerjemah pemerintah di atau sekitar Houston pada waktu itu [ketika Parham membuka sekolah Alkitab di sana], dan mereka satu suara menyangkal bahwa mereka mengetahui apa-apa tentang hal-hal yang diklaim’” (Goff, hal. 98).

Setelah meneliti “bahasa lidah” yang diucapkan di misi Jalan Azusa yang dipimpin oleh William Seymour, maka pemimpin gerakan Holiness, W. B. Godbey menyimpulkan bahwa semua itu bukanlah bahasa (G.F. Taylor, The Spirit and the Bride, Falcon, NC: by the author, 1907, hal. 52).

Sebuah publikasi gerakan Holiness, The Rocky Mountain Pillar of Fire, untuk edisi 12 September dan 14 November 1906, berisikan laporan berikut:

Orang Hindu ini bisa berbicara dalam enam bahasa berbeda, dan berkata bahwa dia tidak pernah mendengar satu pun daripadanya dalam ‘kebaktian Bahasa Lidah.’ Salah satu bahasa yang ia kuasai adalah Arab, dan beberapa orang dalam kebaktian-kebaktian itu mengklaim berbicara dalam tersebut, tetapi ia mengatakan bahwa kedengarannya seperti kotekan ayam kalkun” (12 Sept. 1906).

Seorang gentleman, yang selama bertahun-tahun telah mengepalai pekerjaan misi di India, baru saja tiba di Los Angeles dengan tujuan untuk mendapatkan misionari ke ladang misinya yang mempunyai karunia bahasa lidah. Dia akhirnya kembali, dengan pernyataan bahwa dia tidak menemukan seorang pun yang dapat benar-benar berbicara dalam bahasa mana pun di India yang dia ketahui” (14 Nov. 1906).

Banyak ahli bahasa yang telah mempelajari “bahasa lidah” kaum Pantekosta dan Kharismatik yang telah sampai pada kesimpulan yang sama. William J. Samarin, profesor linguistik di University of Toronto, merangkumkan risetnya sebagai berikut:

Selama periode waktu lima tahun, saya telah ikut dalam pertemuan-pertemuan di Italia, Belanda, Jamaika, Kanada, dan Amerika Serikat. Saya telah mengobservasi Pantekosta gaya lama, dan juga Pantekosta baru; saya pernah di pertemuan kecil di rumah-rumah biasa, sekaligus juga pernah di kebaktian raksasa yang publik; saya pernah melihat berbagai setting budaya yang berbeda, seperti yang ada di kelompok Puerto Rico di Bronx, pada pemegang ular di Appalachians … kaum Molakan Russia di Los Angeles. … Sangatlah diragukan bahwa yang disebut-sebut kasus-kasus xenoglossia [berbicara dalam bahasa asing] di antara kaum kharismatik itu ada yang benar terjadi. Kapanpun seseorang mencoba untuk memverifikasinya, ia menemukan bahwa kisah-kisah ini telah terdistorsi luar biasa, atau bahwa para ‘saksi’ ternyata inkompeten atau tidak dapat diandalkan dari sudut pandang linguistik. …GLOSSOLALIA MEMANG MIRIP BAHASA DALAM ASPEK TERTENTU, TETAPI INI HANYALAH KARENA PEMBICARANYA (SECARA TANPA SADAR) MENGINGINKANNYA UNTUK SEPERTI BAHASA. NAMUN, WALAUPUN ADA KEMIRIPAN PADA PERMUKAAN KULITNYA, GLOSSOLALIA SECARA FUNDAMENTAL BUKANLAH BAHASA” (Samarin, Tongues of Men and Angels, 1972, hal. xii, 112, 113, 227).

The Gospel Message, yang diterbitkan di Kansas City pada Oktober 1906, mengandung kesaksian berikut:

Kami kenal dengan Mr. Charles Parham banyak tahun yang lalu, dan ketika dia mengunjungi Kanasa City dengan para pekerjanya setelah ia membuat pernyataan-pernyataan mengenai berkat luar biasa yang terjadi di sekolahnya di Topeka, kami mengundang dia untuk mengunjungi kami bersama para pengikutnya dan menceritakan kepada kami tentang pengalaman ini. Jadi mereka datang, dan sebelum pertemuan itu kami memberitahu dia bahwa ada orang-orang yang hadir yang dapat berbicara dalam bahasa Spanyol, Jerman, Arab, dan Swedia, dan bahwa jika ada di antara orang-orangnya yang dapat berbicara dalam bahasa lain, kami akan senang mendengar mereka dalam salah satu bahasa tersebut. Tetapi mereka tidak bisa melakukannya pada malam itu, namun mereka menceritakan pengalaman lalu mereka, dan mengenai tulisan-tulisan aneh yang telah dilaporkan sebagai kerja Roh Kudus. Tetapi ketika kami menanyai Mr. Parham secara tegas dan publik apakah dia tahu secara pasti tulisan-tulisan ini adalah dari Roh Kudus, atau hanyalah coret-coretan, dia dengan jujur mengatakan bahwa dia tidak tahu, tetapi bahwa dia sedang atau akan menyelidikinya, tetapi laporan tentang penyelidikan itu tidak pernah kami dengar” (reprinted from Larry Martin, Skeptics and Scoffers, hal. 47-48).

Ini mengingatkan kita bahwa setiap kali seseorang mencoba untuk menguji secara objektif bahasa lidah atau penyembuhan atau “tanda dan mujizat” lainnya dari kaum Pantekosta, fenomena itu terbukti entah sama sekali palsu, atau sangatlah ilusif. Tanda-tanda dan mujizat yang paling hebat selalu terjadi di tempat lain yang jauh atau pada waktu yang lama yang lalu, atau dalam kondisi lain yang tidak dapat diperiksa.

Saya mengunjungi Kansas State Research Library di Topeka pada tahun 2002, dan mendapatkan sebuah foto dari gedung tempat Parham mengadakan Sekolah Alkitabnya. (Gedung itu hancur oleh api pada Desember 1901). Saya juga menemukan beberapa artikel koran lama dan dokumen lainnya tentang sekolah Parham tersebut, yang akan saya kutip dalam bagian berikut dari laporan ini.

Dua artikel berisikan kesaksian dari S.J. Riggins, seorang murid yang meninggalkan sekolah tersebut, yang mengklaim bahwa murid-murid lain hanyalah mengucapkan “kata-kata asal-asalan.”

“‘Saya yakin semua mereka gila,’ kata Mr. Riggins kepada seorang wartawan dari ibu kota. ‘Saya belum penah melihat hal semacam itu. Mereka berlarian di ruangan sambil berbicara dan menggunakan gerakan tangan dan memakai bahasa yang aneh dan tak dapat dimengerti ini, yang mereka klaim berasal dari sang Mahatinggi. …Saya tidak pernah kata-kata asal-asalan mereka mempunyai arti apa-apa. Saya mencoba untuk menjadi seorang Kristen yang serius. … Ketika saya meninggalkan kumpulan itu hari ini, saya memberitahu alasan saya, dengan segenap keseriusan yang saya miliki.’ …Mr. Riggins mengatakan bahwa sebagian dari tulisan Miss Auswin [Ozman], yang dia klaim diinspirasikan, disodorkan kepada seorang dari Cina di Topeka, dengan tujuan murni untuk melihat apakah dia dapat menerjemahkannya. Orang Cina itu mengangkat tangan dan berkata: ‘Saya tidak paham. Bawa ke orang Jap.’ Mr. Riggins menceritakan kisah ini tanpa senda gurau, dan jika dia ada hal yang lucu dalam ceritanya, itu terjadi tanpa sengaja, karena dia terlihat sangat serius” (Topeka Daily Capital, 6 Jan. 1901).

“‘Mereka mulai mengklaim karunia bahasa lidah dan karunia membeda-bedakan, dan masing-masing berbicara kata-kata kacau yang berlainan, sambil mengklaim diinspirasikan Allah, dan bahwa mereka mengucapkan salah satu dari bahasa-bahasa asing. .. Saya tidak terpengaruh, dan dapat melihat bahwa murid-murid sekolah itu telah dipimpin kepada hal ekstrim ini melalui fanatikisme mereka, dan akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan sekolah itu. Sesuai dengan itu, Sabtu pagi terakhir saya pergi, tetapi sebelum pergi, saya memanggil teman-teman yang satu gedung itu bersama dan menjelaskan kepada mereka alasan saya untuk pergi. Saya memberitahu mereka bahwa mereka berada dalam pengaruh si jahat, dan bahwa hal terbaik yang dapat mereka lakukan adalah meninggalkan sekolah itu, seperti yang saya lakukan. Mereka semua menertawakan saya, dan saya meningalkan sekolah itu, dan tidak ada niat untuk kembali.’ …

Sekitar lima belas anggota koloni tersebut kini telah diberikan karunia bahasa lidah dan ketika seorang wartawan State Journal mengunjungi sekolah itu pagi ini, masing-masing dari murid favorit itu dipanggil dan mengucapkan beberapa kalimat dalam kata-kata yang aneh dan tidak alami , yang tidak mereka ketahui artinya ataupun dalam bahasa apa kata-kata itu. … Ini adalah pemandangan yang aneh bin ajaib, satu ruangan penuh dengan lelaki dan perempuan sekolah itu sedang duduk duduk, lalu terkadang mencuat pengucapan-pengucapan singkat dalam salah satu bahasa yang mereka klaim dapat mereka ucapkan, dan menulis dalam coretan-coretan yang aneh dan tak dapat dipahami yang mereka percayai adalah karakter untuk kata-kata dalam bahasa Syria, Cina, Jepang, Arab, atau bahasa-bahasa lain” (Topeka State Journal, 7 Jan. 1901).

Kami yakin bahwa Riggins sudah tepat dalam penilaian dia bahwa Parham dan murid-muridnya mengucapkan kata-kata asal-asalan dan mempraktekkan fanatikisme dan berada di bahwa pengaruh si jahat.

Perhatikan gambaran berikut yang diberikan oleh Parham mengenai apa yang murid-muridnya sedang lakukan pada hari setelah Ozman memulai karir bahasa lidahnya:

Pada hari berikutnya saya pergi ke pusat kota, dan ketika kembali, saya menemukan SEMUA MURID SEDANG DUDUK DI LANTAI, BERBICARA DALAM BAHASA YANG TAK DIKENAL, TIDAK ADA DUA ORANG YANG BERBICARA BAHASA YANG SAMA, DAN TIDAK ADA SEORANGPUN YANG MENGERTI BAHASA TETANGGANYA” (Topeka Mail and Breeze, 22 Feb. 1901).

Hal ini dengan jelas bertentangan dengan instruksi Alkitab tentang penggunaan bahasa lidah. “Bahasa lidah” di Sekolah Alkitab Bethel pada Januari 1901 adalah suatu kekacauan, yang menurut Alkitab bukanlah berasal dari Allah (1 Kor. 14:33). Alkitab mengatakan bahwa bahasa lidah tidak boleh dipergunakan kecuali jika diterjemahkan, dan sekalipun demikian, karunia ini hanya boleh dilakukan oleh satu pembicara secara bergiliran (1 Kor. 14:23-28). Lebih lanjut lagi, perempuan tidak boleh berbicara (1 Kor. 14:34).

Parham mengklaim bahwa Ozman tidak dapat berbicara dalam bahasa Inggris selama tiga hari setelah pengalaman bahasa lidah pertamanya. Kesaksian dia sendiri mengatakan bahwa ‘banyak kali kami hanya dapat berbicara dalam bahasa lain” (Martin, The Topeka Outpouring of 1901, hal. 88).

Sebaliknya, Alkitab mengatakan bahwa seorang nabi atau pemakai bahasa lidah yang sejati dapat mengendalikan dirinya. “Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi” (1 Kor. 14:32).

Bahasa lidah” Ozman yang tak terkendalikan itu bukan dari Allah.

Tidak adanya kendali atas “bahasa lidah” yang terjadi juga digambarkan oleh Lillian Thistlethwaite, seorang murid lainnya di sekolah Alkitab Parham.

Lidah saya mulai terasa tebal dan aliran tawa yang besar melanda hati saya. Saya tidak dapat lagi memikirkan kata-kata pujian, sebab pikiran saya terkunci, tetapi mulut saya dipenuhi oleh aliran kata-kata yang saya sendiri tidak pahami. Saya mencoba untuk tidak tertawa karena saya takut mendukakan Roh. Saya mencoba untuk memuji Dia dalam bahasa Inggris, tetapi tidak dapat, jadi saya hanya membiarkan pujian keluar seolah-olah dalam suatu bahasa baru…” (Martin, The Topeka Outpouring, hal. 61).

Ini bertentangan dengan apa yang kita lihat di kitab Kisah Para Rasul dan Surat-Surat.

Seperti yang sudah kita lihat di catatan-catatan koran yang dikutip di atas, murid-murid Parham bukan hanya mengklaim berbicara dalam bahasa lidah, tetapi juga menuliskannya. Mereka mengklaim bahwa tulisan-tulisan ini adalah bahasa asing, seperti bahasa Cina, tetapi ketika diteliti oleh orang-orang yang berpengetahuan, didapatkan hanyalah coretan-coretan yang tidak memiliki arti (Goff, hal. 76).

Topeka Daily Capital ada menerbitkan contoh-contoh dari “tulisan terinspirasikan” dari Ozman, dan masih bisa dilihat hari ini di Kansas State Research Library. Memang itu tidak lebih dari coretan anak kecil. Orang-orang ini tertipu, sederhananya demikian. Pers menyebut tulisan-tulisan ini “hieroglif yang aneh dan tak dapat dibaca” (Goff, hal. 80).

Seorang wartawan dari Topeka State Journal mengobservasi Agnes Ozman ketika dia katanya sedang menulis dalam inspirasi:

Miss Ozman duduk di samping sebuah meja, menuliskan surat-surat tertentu yang akan dikirimkan pagi itu. Segera setelah menyelesaikan surat-surat tersebut, dia duduk lagi untuk menulis dan langsung mengumumkan bahwa tangannya menolak sama sekali untuk menulis huruf-huruf bahasa Inggris. Dan dengan tangannya, tanpa sadar ia membentuk huruf-huruf dari suatu bahasa lain, tetapi dia tidak bisa memberitahu bahasa apa itu. Dia tidak menerjemahkan huruf-huruf itu. KETIKA MENULISKAN HURUF-HURUF TERSEBUT, OTOT-OTOT TANGAN MISS OZMAN KELIHATANNYA BERKONTRAKSI DAN DIA MENULIS SEPERTI AGAK KEJANG-KEJANG, TANGANNYA TERTARIK MAJU MUNDUR untuk membuat coretan-coretan itu” (“Hindoo and Zulu Both Are Represented at Bethel School,” Topeka State Journal, 9 Jan. 1901).

Fenomena yang sama ini terjadi dengan menulis otomatis dalam New Age, yang jelas berasal dari Iblis. Tidak ada sedikitpun acuan kepada hal semacam ini dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.

Para kaum Pantekosta awal mengira bahwa mereka akan bisa berkhotbah dalam bahasa-bahasa asing melalui karunia bahasa lidah. Parham dikutip sebagai berikut dalam sebuah artikel di koran pada waktu itu:

Ini adalah pekerjaan yang indah, karena muncul pas sebelum abad keduapuluh. Kami telah lama percaya bahwa kuasa Tuhan akan dinyatakan di tengah-tengah kami, dan bahwa kuasa itu akan diberikan bagi kami untuk berbicara dalam bahasa-bahasa lain, dan bahwa waktunya akan tiba ketika kami akan diutus untuk pergi ke segala bangsa dan memberitakan Injil, dan TUHAN AKAN MEMBERIKAN KAMI KEMAMPUAN BERBAHASA UNTUK BERBICARA KEPADA ORANG-ORANG DARI BERBAGAI BANGSA TANPA HARUS MEMPELAJARINYA DI SEKOLAH” (Topeka State Journal, 7 Jan. 1901).

Kami telah menerima beberapa pesan untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil, dan kami harus menaati perintah itu. SEBAGIAN DARI PEKERJAAN KAMI ADALAH MENGAJARKAN GEREJA-GEREJA BETAPA TIDAK BERGUNANYA MENGHABISKAN BERTAHUN-TAHUN MEMPERSIAPKAN MISIONARI UNTUK PEKERJAAN DI TANAH ASING, PADAHAL YANG PERLU MEREKA LAKUKAN HANYALAH MEMINTA ALLAH untuk kuasa, lalu memiliki iman bahwa kuasa itu akan datang” (Parham, dikutip dalam Kansas City Times, 27 Jan. 1901).

Sebagaimana ternyata, mereka tertipu dalam hal ini, sama seperti dalam semua hal lainnya.

Alfred Garr dan istrinya pergi ke India, dengan keyakinan bahwa mereka akan berbicara dalma bahasa supranatural, tetapi mereka segera mendapatkan bahwa itu adalah delusi. May Law dan Rosa Pittman pergi ke Jepang, yakin bahwa mereka akan berkhotbah dalam bahasa Jepang; tetapi ketika mereka menemukan bahwa tidak seorang pun dapat paham “bahasa lidah” mereka, mereka pindah ke Hong Kong, dengan pemikiran bahwa pastinya karunia mereka adalah bahasa Cina, tetapi mereka tidak lebih berhasil di sana. T. J. McIntosh adalah misionari Pantekosta pertama yang pergi ke Makau, dan walaupun dia berharap dapat langsung berbicara bahasa Cina dengan lancar, harapan-harapannya segera kandas.

Banyak misionari Pantekosta lainnya yang pergi ke luar negeri dengan kepercayaan bahwa mereka memiliki kemampuan mujizat untuk berbicara dalam bahasa-bahasa ke tempat mana mereka diutus. Klaim-klaim Pantekosta ini diketahui luas pada masa itu. S. C. Todd dari Bible Missionary Society menyelidiki delapan belas orang Pantekosa yang pergi ke Jepang, Cina, dan India, ‘dengan harapan untuk berkhotbah kepada orang-orang asli di negara-negara tersebut dalam bahasa mereka sendiri,’ dan menemukan bahwa dari pengakuan mereka sendiri, ‘tidak pernah satu kali pun mereka dapat melakukan itu.’ KETIKA ORANG-ORANG INI DAN MISIONARI-MISIONARI LAIN PULANG DENGAN KEKECEWAAN DAN KEGAGALAN, PARA PANTEKOSTA DIPAKSA UNTUK MEMIKIRKAN ULANG PANDANGAN AWAL MEREKA TENTANG BERBICARA DALAM BAHASA LIDAH” (Robert Mapes Anderson, Vision of the Disinherited: The Making of American Pentecostalism).

Sekolah Alkitab Parham di Kansas tutup dalam hitungan bulan, dan dia pindah ke Texas untuk mendirikan gereja-gereja. Dia juga memulai sebuah Sekolah Alkitab baru di Houston.

This entry was posted in Kharismatik/Pantekosta. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.