Bukti Adanya Pencipta Tidak Terbantahkan

Penulis: Dr. David Cloud (www.wayoflife.org)

Ateis mengklaim bahwa tidak ada bukti untuk Tuhan, dan agnostik mengklaim bahwa bukti itu tidak cukup. Alkitab mengungkapkan rahasia hati manusia untuk menunjukkan bahwa para ateis dan agnostik menipu diri mereka sendiri.

“Sebab aku tidak malu akan Injil Kristus, karena Injil adalah kekuatan Allah untuk keselamatan bagi semua orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya kebenaran Allah dinyatakan dari iman kepada iman, sebagaimana tertulis: Orang benar akan hidup dari iman. Sebab murka Allah disingkapkan dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia yang menekan kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat diketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab hal-hal yang tidak nampak dari Dia, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, dapat nampak sejak penciptaan dunia, dimengerti melalui hal-hal yang diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” (Roma 1:16-20 Indonesian Textus Receptus / ITR).

Pertimbangkan pengajaran dari perikop Kitab Suci yang sangat fondasional ini:

Pertama, Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (Rom. 1:16-17).

Ini mengajarkan kita bahwa kita harus berfokus pada Injil. Berapologetika saja tidak cukup. Memenangkan argumen saja tidak cukup. Kita harus menjawab setiap pertanyaan tulus yang dimiliki orang, tetapi kita harus selalu kembali kepada Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Dengan menjawab pertanyaan dan membantah evolusi dan filosofi palsu lainnya, kita dapat membantu orang datang kepada Kristus. Contohnya adalah teman pertama yang Tuhan berikan kepada saya di dalam Kristus. Richard dibesarkan di rumah agnostik dan dididik di universitas. Entah bagaimana dia menemukan sebuah buku kecil yang membantah evolusi. Ini adalah pertama kalinya dia ditantang tentang ajaran ini. Dia mulai berpikir bahwa evolusi bisa jadi tidak benar dan memutuskan untuk membaca Alkitab sendiri. Sambil dia membaca Alkitab, dia menyadari bahwa ajarannya tampaknya benar. Akhirnya dia bertemu dengan beberapa orang Kristen dan mempercayai Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Dia tidak diselamatkan melalui pengajaran penciptaan atau argumen menentang evolusi, tetapi hal-hal ini mempersiapkan jalan sehingga dia akan mempertimbangkan Injil.

Kedua, ada bukti kuat tentang Tuhan.

Buktinya adalah alam ciptaan (Rom. 1:20). Buktinya juga ada dalam hati nurani manusia sendiri (Rom. 1:19; 2:14-15). Inilah sebabnya mengapa sebagian besar umat Hindu yang kami temui [Editor: ladang misi Dr. Cloud adalah di Nepal] secara naluriah tahu bahwa Tuhan itu suci, meskipun dewa-dewa Hindu sama sekali berbeda dengan standar itu. Ada saksi tentang Tuhan dan saksi tentang apa yang benar dan yang salah di dalam diri manusia.

Bahkan para evolusionis menyebut tubuh manusia sebagai ”ajaib.” Internet dipenuhi dengan ini.

Misalnya, situs web pendidikan biologi BioMedia Associates menggunakan istilah ajaib enam kali dalam menggambarkan berbagai proses dalam tubuh manusia.

“Jantung manusia adalah organ berotot yang merupakan keajaiban bioteknologi. Ia bekerja dengan sempurna, 24/7, sepanjang hidup setiap individu. Lihat bagaimana ia mengalirkan darah, zat yang benar-benar AJAIB, ke seluruh bagian tubuh manusia melalui jaringan arteri dan vena yang luas. … Tubuh manusia perlu mengkonsumsi makanan dan air yang ditemukan di lingkungan, dan melalui rangkaian proses mekanis dan kimia yang hampir AJAIB, tubuh mengubah makanan itu menjadi nutrisi yang menopang semua aktivitasnya. … Tidak ada KEAJAIBAN yang lebih besar di planet ini selain penciptaan suatu kehidupan baru. Dr Mark Reisman membawa Anda melalui setiap tahap KEAJAIBAN ini, dari dasar genetik kehidupan, perkembangan organ seks, pembentukan sel kelamin, pembuahan, munculnya embrio, hingga urutan pertumbuhan janin, dan akhirnya lahirnya kehidupan manusia yang baru. … Sentuhan, rasa, penciuman, pendengaran dan penglihatan – lima indera utama tubuh manusia. Mereka adalah indera yang telah berevolusi secara independen selama jutaan tahun tetapi disatukan oleh sistem saraf pusat kita yang luar biasa menjadi suatu sistem yang paling halus untuk berinteraksi dengan lingkungan dari spesies mana pun di planet ini. … 206 tulang kerangka manusia adalah KEAJAIBAN bioteknologi. Ringan dan sangat kuat, tulang kita memberi kita kemampuan untuk berjalan tegak, membebaskan tangan kita untuk manipulasi objek yang tepat” (“New Series: MIRACLE of the Human Body ” www.ebiomedia.com).

Seri video dari Public Broadcasting Network tentang perkembangan embrio di dalam rahim berjudul “The Miracle of Life.” Namun PBS sangat pro-evolusi dan anti-penciptaan.

Situs web Cotswold Grass Seeds berbicara tentang “keajaiban benih.”

Para evolusionis mengaitkan “keajaiban kehidupan” dengan proses naturalistik yang buta.

Tetapi orang-orang yang tidak dibutakan oleh dongeng evolusi tahu bahwa efek dari “keajaiban desain” menunjuk pada seorang desainer yang mampu menyebabkan keajaiban seperti itu.

Hukum sebab akibat (hukum kausalitas) didasarkan pada pengamatan umum serta eksperimen ilmiah. Hukum ini telah diakui oleh para ilmuwan dan filsuf sepanjang sejarah, dari Plato hingga Hume. Hukum ini mengatakan bahwa setiap efek material harus memiliki penyebab yang cukup. W.T. Stace, profesor filsafat di Princeton, menyebut ini “kanon utama ilmu pengetahuan, dasar dari semuanya” (A Critical History of Greek Philosophy). Dr. Richard Taylor menulis bahwa “hampir tidak dapat disangkal bahwa gagasan sebab-akibat tidak hanya sangat diperlukan dalam urusan biasa dalam kehidupan tetapi juga dalam semua ilmu terapan” (The Encyclopedia of Philosophy, 1967).

Keajaiban desain berarti memang ada seorang Perancang dan Pembangun. Ini adalah hukum sebab akibat. Dikatakan bahwa setiap efek material harus memiliki penyebab yang cukup. Ini telah diakui oleh para ilmuwan dan filsuf sepanjang sejarah, dari Plato hingga Hume. Hukum ini dijelaskan dalam Alkitab sebagai berikut: “setiap rumah dibangun oleh seseorang, tetapi Dia yang membangun segala sesuatu adalah Allah” (Ibr. 3:4).

Ketika kita melihat sebuah rumah, kita tahu bahwa ia memiliki seorang pembangun, dan kita tahu bahwa si pembuatnya mampu merancang dan membangunnya. Kita tahu bahwa pembuatnya pasti cukup bijaksana dan cukup kuat dan harus memiliki alat dan sumber daya yang diperlukan. Demikian juga, ketika kita melihat alam semesta yang mempunyai hukum-hukum yang sempurna seperti gravitasi dan kita melihat hal-hal seperti burung yang terbang dan sel yang hidup dan tubuh manusia dan kecerdasan manusia, kita tahu pasti ada Pembangun yang mempunyai kebijaksanaan dan kekuatan yang cukup untuk membuat semua ini.

Para bapa ilmu pengetahuan modern memahami hal ini.

Isaac Newton, penemu hukum gravitasi: “Sistem matahari, planet, dan komet yang sangat indah ini, hanya mungkin berasal dari pikiran dan kekuasaan Pribadi yang maha cerdas dan berkuasa. … Ateisme sangat tidak masuk akal. Ketika saya melihat tata surya, saya melihat bumi pada jarak yang tepat dari matahari untuk menerima panas dan cahaya dalam jumlah yang tepat. Ini tidak terjadi secara kebetulan” (Principia).

Robert Boyle, bapa ilmu kimia modern: “Keluasan, keindahan, keteraturan, dari benda-benda langit, struktur hewan dan tumbuhan yang luar biasa; dan fenomena alam lainnya secara adil mendorong pengamat yang cerdas dan tidak berprasangka untuk menyimpulkan adanya seorang perancang yang sangat berkuasa, adil, dan baik” (Works, vol. IV, hal. 25).

Ketiga, Allah memberikan cukup bukti untuk membuktikan bahwa Alkitab itu benar, tetapi juga ada cukup banyak hal yang Tuhan tidak buktikan untuk menghukum orang yang sengaja tidak mau percaya.

Tuhan memberi manusia kehendak dan pilihan. Kita melihat ini dalam diri Adam dan Hawa, dan kita melihatnya sepanjang sejarah manusia. Bandingkan Matius 13:10-16. Yesus berbicara dalam perumpamaan untuk menyembunyikan kebenaran dari mereka yang tidak mau percaya, mereka yang sudah menolak terang.

Profesor hukum Harvard Simon Greenleaf: “Kekristenan tidak mengklaim akan meyakinkan orang yang sesat dan keras kepala, untuk membawa bukti yang tak terbantahkan kepada yang sok dan tidak senonoh, untuk mengalahkan pencemooh yang sombong, dan memberikan bukti yang tidak mungkin bisa dihindari oleh orang yang ceroboh dan sesat. Ini mungkin akan menghancurkan tanggung jawab manusia. Yang diklaim oleh kekristenan, adalah mengajukan bukti-bukti yang dapat memuaskan orang yang lemah lembut, penurut, jujur, dan penanya yang serius” (The Testimony of the Evangelists Examined by the Rules of Evidence).

Pertimbangkan orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:27-31). Tidak ada bukti yang dapat meyakinkan orang yang sengaja skeptis.

Keempat, manusia menekan kebenaran karena mereka mencintai dosa (Rom. 1:18).

Ini mengajarkan bahwa medan pertempuran utama adalah hati dan kehendak, bukan pikiran. Lee Strobel menceritakan tentang seorang pria yang mendengar tentang bukti kebangkitan Kristus dan kemudian berkata, “Saya percaya bahwa buktinya jelas bahwa Kristus bangkit dari kematian, tetapi saya tidak percaya kepada-Nya karena saya tidak menginginkan tuan yang baru.”

Kelima, kebutaan rohani adalah alasan mengapa manusia tidak dapat melihat bukti keberadaan Allah (2 Kor. 4:4; Ef. 2:1-2).

Ibarat orang buta yang tidak bisa melihat keindahan ciptaan. Keindahan ada di sana, tetapi dia tidak bisa melihatnya. Satu-satunya harapan adalah Injil Yesus Kristus. Ketika orang berdosa menerima Injil, dia dilahirkan kembali dan dia memiliki hikmat rohani (1 Kor. 2:14-16; 2 Kor. 3:15-17).

Sahabat yang beriman, jangan terintimidasi oleh orang buta! Anda bisa melihat, jangan berkecil hati dengan mereka yang tidak bisa. Mereka melihat bukti yang sama dan berkata, “Saya tidak percaya.” Tapi itu tidak masalah bagi saya! Saya mempercayainya, dan saya dapat membuat pilihan saya sendiri dalam hidup. Saya tidak harus mengikuti orang banyak.

Keenam, pencerahan spiritual datang melalui keselamatan.

“Sebab aku tidak malu akan Injil Kristus, karena Injil adalah kekuatan Allah untuk keselamatan bagi semua orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” (Roma 1:16 ITR).

“Sebab Allah, yang telah berfirman agar terang bersinar dari kegelapan, Dia telah bersinar dalam hati kita, untuk memberikan terang pengetahuan kemuliaan Allah yang ada pada wajah Yesus Kristus.” (2 Korintus 4:6 ITR).

“Tetapi kalian adalah suku yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan, supaya kalian mewartakan perbuatan-perbuatan indah dari Dia yang telah memanggil kalian keluar dari kegelapan ke dalam terangNya yang ajaib.” (1 Petrus 2:9 ITR).

Hanya dengan keselamatan kita dibawa keluar dari kegelapan menuju terang (1 Pet. 2:9). Hanya dengan keselamatan tabir disingkirkan dari hati (2 Kor. 3:15-16). Hanya melalui keselamatan kita menerima Roh Allah sebagai Guru kita (1 Yohanes 2:20, 27). Banyak anak muda yang tumbuh dalam keluarga Kristen mengaku percaya kepada Kristus dan belajar bagaimana bertindak seperti orang Kristen, tetapi mereka tidak dilahirkan kembali. Mereka belum memiliki pengalaman pertobatan yang mengubah hidup. Mereka tidak mengenal Kristus secara pribadi sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ketika mereka pergi ke pekerjaan sekuler atau ke perguruan tinggi sekuler dan mendengar kebohongan iblis, mereka tidak memiliki kebijaksanaan dan kekuatan rohani untuk melawannya, dan iman mereka digulingkan. Ini karena mereka memiliki iman intelektual tetapi tidak memiliki iman yang menyelamatkan. Mereka tidak terjangkar di dalam Kristus. Mereka seperti orang banyak yang “percaya kepada Yesus” dalam Yohanes 2:23-24 dan kemudian berbalik dari-Nya dalam Yohanes 6:66. Sebaliknya, kita memiliki contoh Petrus yang menolak untuk berpaling dari Kristus karena ia memiliki iman yang menyelamatkan (Yohanes 6:67-69). Orang-orang dalam Yohanes 2:23-24 “percaya” pada mujizat Kristus, tetapi mereka tidak menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi mereka.

Ini mengajarkan kita bahwa tujuan kita bukanlah untuk memenangkan argumen tentang evolusi. Tujuan kita adalah untuk memimpin orang kepada Yesus Kristus. Itulah pekerjaan yang Tuhan berikan kepada kita. Dia telah membuat kita menjadi duta bagi Kristus (2 Kor. 2:20). Hanya ketika orang dilahirkan kembali, barulah mereka akan memahami hal-hal rohani dan supranatural.

This entry was posted in Apologetika, Atheisme/Agnostikisme, Science and Bible. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *