Sumber: www.wayoflife.org
oleh: Dr. David Cloud
Kami tidak meyakini bahwa para penulis Perjanjian Baru, saat mengutip Perjanjian Lama, mengambil kutipan dari Septuaginta atau terjemahan bahasa Yunani.
Perhatikan contoh saat Matius mengutip Yesaya 9:1-2 dalam Matius 4:13-16.
“Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan menuju laut, seberang sungai Yordan, Galilea wilayah bangsa-bangsa, umat yang tinggal dalam gelap telah melihat terang yang besar dan bagi orang-orang yang tinggal di wilayah dan bayang-bayang maut, terang telah terbit bagi mereka” (Mat. 4:15-16, ITR).
“Tetapi tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit itu. Kalau dahulu TUHAN merendahkan tanah Zebulon dan tanah Naftali, maka di kemudian hari Ia akan memuliakan jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, wilayah bangsa-bangsa lain. Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar” (Teks Ibrani, Yes. 9:1-2).
“Bertindaklah segera, hai tanah Zebulon, tanah Naftali, dan penduduk pesisir laut lainnya, serta tanah di seberang Sungai Yordan, Galilea wilayah bangsa-bangsa lain. Hai bangsa yang berjalan dalam kegelapan, lihatlah terang yang besar: kamu yang diam di wilayah dan bayang-bayang maut, terang akan bersinar atasmu” (Teks Yunani Septuaginta, Yes. 9:1-2).
Sebagaimana sering terjadi dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus — Sang Penulis Kitab Suci — mengutip secara selektif dan memodifikasi nubuat tersebut demi tujuan-Nya sendiri dalam konteks Perjanjian Baru. Ia tidak sedang mengutip dari versi bahasa Yunani. Ketika Matius, Paulus, atau Petrus mengutip bagian dari tulisan Musa, Daud, atau Yesaya, hal itu “ibarat seseorang yang mengutip dan mengubah kata-katanya sendiri, yang telah ia ucapkan jauh sebelumnya dan dalam situasi yang sangat berbeda.” Hal ini dijelaskan sebagai berikut oleh Eldridge Hatcher dalam bukunya, The Young Professor:
“Kata-kata dalam Perjanjian Lama diilhamkan oleh Allah, namun kata-kata baru yang digunakan oleh para rasul juga diilhamkan oleh-Nya. Jika Allah dapat mengilhami Daud untuk mengungkapkan suatu kebenaran dengan kata-kata tertentu kepada orang-orang Ibrani pada masa itu, tidakkah Allah juga dapat mengilhami para rasul untuk mengambil gagasan yang sama — yang pernah diucapkan Daud kepada orang-orang Ibrani — lalu mengungkapkannya dengan kata-kata lain kepada orang-orang yang hidup ratusan tahun kemudian? Apakah Allah hanya bisa mengungkapkan suatu kebenaran dengan satu cara saja? Anda dan saya tidak bisa mengubah kata-kata dalam Perjanjian Lama karena kita mungkin tidak menggunakan kata-kata yang tepat saat melakukan perubahan itu, namun Allah bisa saja mengilhami kita untuk menggunakan rangkaian kata yang berbeda. … Anda dapat melihat bahwa ketika Paulus mengutip bagian dari tulisan Daud dan mengubah kata-kata Daud, hal itu bukanlah seperti seseorang yang mengubah kata-kata orang lain, melainkan ibarat seseorang yang mengutip dan mengubah kata-katanya sendiri, yang telah ia ucapkan jauh sebelumnya dan dalam situasi yang sangat berbeda. Roh Kudus adalah satu-satunya penulis seluruh Alkitab. Dalam satu kitab Ia berfirman melalui Musa, dalam kitab lain melalui Petrus, dan dalam kitab lainnya lagi melalui Yohanes; jadi, ketika dalam Kisah Para Rasul Roh Kudus — melalui para rasul — mengutip perkataan Daud, itu sebenarnya hanyalah Roh Kudus yang sedang mengutip perkataan-Nya sendiri” (Hatcher, The Young Professor, bab 39 “Alteration of Old Testament Words by New Testament Writers,” 1901).