Satu Lagi Keuskupan Roma Katolik Mengajukan Kebangkrutan Karena Pelecehan Anak

(Berita Mingguan GITS 29 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Keuskupan Roma Katolik di Harrisburg, Pennsylvania, telah mengajukan kebangkrutan ketika menghadapi ancaman gugatan jutaan dollar karena pelecehan seksual anak yang dilakukan oleh imam-imam mereka. Wilayah keuskupan tersebut sudah menyelesaikan 111 kasus, tetapi diperkirakan masih ada 200 lainnya lagi. Mereka mengklaim terancam gugatan antara $50 hingga $100 juta, padahal hanya memiliki aset kurang dari $10 juta. Pengumuman itu terjadi setelah terungkap bahwa keuskupan membayar $12 juta kepada orang-orang yang di-abuse sewakti anak-anak. Pada tahun 2018, juri di pengadilan menyimpulkan bhawa lebih dari 1000 anak di-abuse oleh imam-imam Roma Katolik dalam enam keuskupan di Pennsylvania saja, dalam beberapa dekade terakhir. Laporan itu, yang merupakan hasil dari penyelidikan selama 2 tahun, mengidentifikasi 300 imam dan orang “awam” yang melakukan pelecehan dan menemukan bukti adanya usaha untuk menutup-nutupi secara sistematis oleh pemimpin-pemimpin senior gereja di Pennsylvania dan di Vatikan, Roma (“Report Identifies More Than 1,000,” Associated Press, 14 Agus. 2018). Dalam sebuah konferensi berita, Jaksa Agung Pennsylvania, Josh Shapiro, mengatakan, “Cara mereka menutup-nutupi hal ini sungguh canggih. Dan sementara ini semua berlangsung, sangat mengejutkan bahwa kepemimpinan gereja mempertahankan catatan terjadinya abuse dan usaha menutupi tersebut.” Keenam wilayah keuskupan itu mewakili hanya setengah gereja-gereja Katolik di Pennsylvania. Kebanyakan dari korbannya adalah anak-anak lelaki. Gereja Roma Katolik di Amerika telah membayar lebih dari $2 milyar untuk menyelesaikan gugatan hukum terhadap imam-imam yang immoral. Organisasi Bishop Accountability mengatakan bahwa lebih dari 4.000 imam telah dituduh melecehkan anak-anak (“US Church to Pay 12.6 Million,” AFP, 11 Agus. 2008). Sebuah organisasi Katolik konservatif mendokumentasikan urusan yang jahanam ini dalam edisi 2002 musim gugur/dingin dari majalah Ad Majorem Dei Gloriam, dengan mengobservasi, “… mayoritas besar dari kasus-kasus pelecehan seksual di Gereja Katolik – sekitar 90% — melibatkan imam yang homoseksual yang memangsa anak-anak lelaki remaja. Media-media besar dan budaya AS pada umumnya lebih suka untuk menyangkali atau mengeleskan faktor homoseksual dalam skandal ini.” Sejauh ini, sedikitnya 22 keuskupan Katolik dan ordo religius di AS telah mengajukan kebangkrutan.

Posted in Katolik, LGBT | Leave a comment

Kecanduan Smartphone / Media Sosial

(Berita Mingguan GITS 29 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Your smartphone is making you stupid, antisocial and unhealthy,” The Globe and Mail, 10 Apr. 2018: “Jika kita telah kehilangan kendali atas hubungan kita dengan smartphone, maka itu memang sesuai dengan desainnya. Faktanya, model bisnis dari alat-alat ini memang mengharuskan demikian. Karena kebanyakan website dan app yang paling populer tidak memungut bayaran, maka internet ditopang secara finansial oleh banyaknya perhatian manusia. Jadi, semakin lama dan semakin sering kamu menghabiskan waktu menatapi Facebook atau Google, semakin banyak jumlah uang yang bisa mereka tarik dari para pengiklan. Untuk memastikan bahwa mata kita tetap terpatri ke layar kita, yaitu smartphone kita – dan dunia-dunia digital yang tersambung dengannya – para raksasa internet telah menjadi sangat jago dalam meyakinkan, memanggil-manggil kita untuk mengecek mereka lagi dan lagi – dan untuk waktu yang lebih lama dari yang kita maksudkan. Para pemakai rata-rata mengecek telepon mereka sekitar 150 kali sehari, menurut beberapa perkiraan, dan itu sekitar dua kali lebih banyak dari estimasi mereka sendiri, menurut sebuah studi tahun 2015 yang dilakukan oleh psikolog-psikolog Inggris. Jika ditambahkan, maka para pengguna di Amerika Utara menghabiskan antara tiga hingga lima jam sehari menatapi smartphone mereka. Sebagaimana dinyatakan oleh profesor marketing dari New York University, Adam Alter, itu berarti bahwa dalam rentang waktu kehidupan rata-rata, kebanyakan dari kita akan menghabiskan tujuh tahun terbenam dalam komputer bawaan kita itu. Perusahaan-perusahaan ini telah berhasil meyakinkan kita untuk menyerahkan begitu banyak dari kehidupan kita dengan cara mengeksploitasi beberapa kelemahan manusia. Salah satunya adalah yang disebut NOVELTY BIAS (Bias Barang Baru). Ini berarti bahwa otak kita sungguh terpincut oleh barang-barang baru. … membuat kita tidak bisa tinggal tenang menghadapi notifikasi Facebook dan nada masuknya email. Itulah mengapa app media sosial terus merengek meminta anda untuk menyalakan notifikasi. Mereka tahu bahwa begitu icon-icon tersebut mulai berkedip di lock-screen anda, anda tidak akan mungkin bisa mengabaikannya. Ini juga alasan mengapa Facebook mengganti warna notifikasinya, dari biru tenang ke merah yang menarik perhatian. … Matt Mayberry, yang bekerja di perusahaan start-up California bernama Dopamine Labs, mengatakan bahwa adalah pengetahuan umum dalam industri bahwa Instagram mengeksploitasi rasa kecanduan ini dengan secara strategis menahan “like” dari pengguna tertentu. Jika app untuk saling berbagi foto tersebut memutuskan bahwa kamu perlu menggunakan pelayanan mereka lebih sering, ia akan hanya menampilkan sepersekian dari “like” yang kamu dapatkan pada post tertentu, awalnya, dengan harapan kamu akan kecewa dengan pendapatan “like” kamu dan mengecek kembali dalam satu atau dua menit ke depan. ‘Mereka menyerang rasa tidak nyaman terbesarmu,’ kata Mr. Mayberr. … Beberapa logika mental dari eksploitasi smartphone sangat jelas, tetapi ada yang tidak begitu jelas. Prinsip ‘hadiah bervariasi’ masuk dalam kategori kedua ini. Ditemukan oleh psikolog B.F. Skinner dan para pengikutnya dalam serangkaian eksperimen atas tikus dan merpati, prinsip ini memprediksikan bahwa makhluk akan lebih mungkin mencari hadiah jika mereka tidak yakin seberapa sering hadiah itu dbagikan. Merpati, misalnya, ditemukan lebih sering mematuk tombol untuk makanan, jika makanan itu dibagikan secara tidak konsisten daripada jika selalu konsisten waktunya, demikian penjabaran profesor hukum Columbia University, Tim Wu, dalam bukunya baru-baru ini: The Attention Merchants. Jadi begitu juga dengan app media sosial: walaupun empat dari lima post Facebook berisikan hal yang tidak berarti, feed yang me-refresh tanpa henti secara otomatis itu selalu menjanjikan adanya kata-kata bagus, atau gosip hangat, pas di bawah batasan layar, yang dapat diakses dengan melakukan swipe pada gelas kaca.”

Posted in Teknologi | 1 Comment

Harimau Adalah Kucing

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari creationmoments.com, 22 Januari 2020: “Mungkin nampak jelas bagi orang hari ini untuk menganggap harimau sebagai semacam kucing. Kita mengklasifikasikan harimau sebagai bagian dari keluarga kucing. Tetapi apa artinya hal ini dalam prakteknya? Kejadian 1 menjelaskan bahwa semua binatang diciptakan menurut jenis mereka masing-msaing. Dalam sains penciptaan, kita menyebut jenis-jenis yang diciptakan ini sebagai baramin – suatu kata yang dibuat dari gabungan kata Ibrani untuk “jenis” dan “cipta.” Allah membawa dua dari setiap baramin kepada Nuh untuk masuk ke dalam bahtera, dan setelah Air Bah, binatang-binatang ini berkembang biak sesuai dengan jenis mereka. Famili kucing terdiri dari dua subfamili – kucing kecil (felinae) dan kucing besar (pantherinae). Termasuk dalam kucing-kucing kecil adalah kucing rumah, lynx, dan cougar – yaitu kucing kecil yang paling besar. Pantherinae meliputi singa, macan tutul, dan harimau. Kita tahu bahwa jika dua spesies binatang dapat saling kawin mengawin dan menghasilkan keturunan, maka mereka pastinya adalah bagian dari baramin yang sama, dan oleh karena itu pasti memiliki nenek moyang yang sama di bahtera Nuh. Ada banyak sekali hibrida yang eksis di dalam famili felinae, dan juga hibrida-hibrida kucing besar yang diketahui umum – misalnya liger, perpaduan dari singa (lion) dan harimau (tiger). Hibrida antara kedua subfamili ini lebih jarang – mungkin karena perbedaan ukuran fisik – namun ada eksis! Salah satu yang paling dikenal adalah campuran antara seekor cougar (subfamili felinae) dengan seekor macan tutul (subfamili pantherinae); kucing kecil yang paling besar dengan kucing besar yang paling kecil! Kesimpulannya, bukti terjadinya hibridisasi (kawin campur) ini memberi tahu kita bahwa semua kucing – besar ataupun kecil – adalah bagian dari baramin yang sama – baramin kucing – dan semuanya turun dari sepasang jenis kucing yang naik ke bahtera Nuh. Ref: Lightner, J.K. (2012), Mammalian Ark Kinds, Answers Research Journal 5 (2012):151–204.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Protestan dan Katolik Merayakan Misa Bersama di Katedral Kalvin

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Protestants and Catholics,” Reformation Charlotte, 17 Feb. 2020: “Ekumenisme sudah matang dan nyata dan banyak denominasi dan gereja-gereja Protestan yang sesat sedang menuju kembali ke pelacur yang merupakan asal usul mereka – Roma. Pada tanggal 29 Februari, di Katedral Kalvin di Jenewa, Switzerland, orang-orang Protestan dan Katolik akan untuk pertama kalinya merayakan misa bersama-sama, setelah misa dilarang dalam Katedral tersebut selama ratusan tahun. Berikut ini diterjemahkan dari protestinfo.ch. Pada bulan Agustus 1535, misa dilarang di Jenewa setelah para demonstran merusak katedral Saint-Pierre dengan cara merusak patung-patung dan memotong lukisan-lukisan yang tidak sesuai dengan ‘sekte’ yang baru saja direformasi tersebut. Sejak saat itu, tidak ada misa yang pernah dilaksanakan lagi di bangunan tersebut, yang dipakai untuk ibadah Protestan. Kehampaan yang sudah lama ini akan berakhir pada hari Sabtu, 29 Februari 2020, dengan suatu perayaan misa, pukul 6.30 sore, oleh Pascal Desthieux, vicar episkopal untuk canton Jenewa. … ‘Tidak ada perlawanan, yang berarti. Ide untuk melakukan hal ini menarik karena seiring dengan kerinduan kami untuk membuat katedral ini suatu tempat pertemuan untuk semua orang-orang Kristen di Jenewa. Suatu ruang yang melompati batas-batas pengakuan iman,’ kata Daniel Pilly, presiden dari Konsil Parish. … ‘Ini adalah suatu sinyal bahwa iklim di Jenewa sangatlah mendukung dan subur untuk Gereja Roma Katolik. Kita telah membuat kemajuan yang berarti dalam hal ekumenisme, terutama dengan Deklarasi Bersama, yang ditandatangani tahun 2017, yang mengakui pelayanan masing-masing,’ demikian dinyatakan secara spesifik oleh Emmanuel Fuchs, presiden dari Gereja Prostestan di Jenewa.

Posted in Ekumenisme | Leave a comment

Mistik New Age Berbicara di Chapel Baylor University, Berdoa kepada “Bunda Mistik”

(Berita Mingguan GITS 22 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Katilin Curtice menjadi pembicara di chapel Baylor University pada tanggal 12 Februari, dan berdoa kepada “Bunda Mistik.” Baylor, yang adalah universitas Baptis terbesar di dunia, berafiliasi dengan Texas Baptist Convention pada level negara bagian, dan dengan Southern Baptist Convention pada level nasional. Curtice adalah seorang penganut mistikisme kontemplatif New Age. Dia mendefinisikan “kontemplasi” sebagai “mendengarkan Sesuatu yang Ilahi/Misteri/Kuasa yang lebih Tinggi/Allah, dan membiarkan gelombang kasih itu melanda ke aspek-aspek kehidupan lainnya” (Curtice, “A Shared Vision of Contemplative Activism,” Sojourners, 4 Sept. 2019). Dia adalah seorang aktivis lingkungan dan juga penyembah alam. Dalam pidatonya di Baylor, dia mengatakan bahwa dia mencelupkan sehelai daun tembakau ke dalam air di Danau Michigan, dan “Bunda Bumi” berbicara kepada dia” (“BU speaker’s prayer sparks campus controversy,” KWTX television, 13 Feb. 2020). Baylor University sudah sering menyambut para penyesat sejak awal abad 20. Pada tahun 1921, profesor Baylor, Grover Dow, mengajarkan evolusi manusia dari kera dengan menggunakan buku teks Introduction to Sociology. “Mengenai tubuhnya, kita tidak memiliki pemahaman yang jelas, karena tulang belulang yang ditinggalkan sangatlah fragmenter, jarang melebihi satu atau dua tulang saja. Tetapi dari ini, dengan menggunakan imajinasi kita, kita telah sampai kepada kesimpula bahwa ia berpostur pendek, jelek, membungkuk, kuat, setengah manusia setengah binatang yang mencari perlindungan dari hewan-hewan buas, pertama-tama di pepohonan dan lalu di gua-gua, dan bahwa dia ada di pertengahan antara kera anthropoid dan manusia modern.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Gereja Inggris Meminta Maaf Karena Mengatakan Hanya Orang Heteroseksual Yang Telah Menikah Yang Boleh Berhubungan Intim

(Berita Mingguan GITS 15 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Church of England apologizes,” Christian Post, 2 Feb. 2020: “Uskup Agung Canterbury, Justin Welby, dan Uskup Agung York, John Sentamu, telah meminta maaf atas sebuah dekrit yang dikeluarkan oleh Gereja Inggris yang mengatakan bahwa hanya pasangan heteroseksual yang telah menikah yang boleh berhubungan intim dan bahwa seks dalam pasangan yang gay ataupun lurus (yang belum menikah), ‘telah gagal mencapai rancangan Allah bagi umat manusia.’ ‘Kami sebagai uskup-uskup agung, bersama dengan para uskup Gereja Inggris, meminta maaf dan bertanggung jawab atas pengeluaran pernyataan minggu lalu, yang kami sadari telah merusak kepercayaan,’ kata kedua uskup agung itu dalam sebuah pernyataan, menurut Belfast Telegraph. ‘Kami sangat menyesal dan memahami perpecahan dan cidera yang disebabkan oleh hal ini.’ The House of Bishops dari Gereja Inggris, minggu lalu mencetuskan sebuah panduan pastoral, yang mengatakan, ‘Bagi orang-orang Kristen, pernikahan – yaitu persatuan seumur hidup antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, yang dibuat melalui pertukaran janji – tetap merupakan konteks yang benar untuk aktivitas seksual.’ … Setelah dikeluarkannya panduan tersebut, beberapa tokoh Anglikan yang penting menulis sebuah surat terbuka kepada para uskup agung tersebut, memberi peringatan bahwa denominasi tersebut sudah menjadi suatu ‘bahan tertawaan bagi suatu bangsa yang percaya [gereja itu] telah terobsesi dengan seks,’ menurut The Telegraph. Panduan pastoral itu, mereka menambahkan, ‘membuat jelas bahwa tidak ada keingingan untuk mendengarkan atau belajar dari orang-orang di kalangan kita yang menjelaskan betapa menyakitkannya nada bicara dokumen dari House of Bishop tersebut. Sungguh, pernyataan itu sama sekali tidak “pastoral,” — melainkan dingin, defensif, dan tidak mempedulikan dampaknya pada jutaan orang yang terpengaruh.’”

Posted in Gereja, LGBT | Leave a comment

Anak-Anak Kecanduan Pornografi Lewat Smartphone

(Berita Mingguan GITS 15 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “What’s the Right Age for a Child to Get a Smartphone,” New York Times, 20 Juli 2016: “Tidak lama yang lalu, banyak orang tua yang bertanya-tanya, pada usia berapakah mereka patut memberikan anak mereka akses penuh kepada kunci mobil. Zaman sekarang ini, orang tua menghadapi pertanyaan yang lebih sulit dijawab: pada usia berapakah seorang anak patut memiliki sebuah smartphone? Topik ini sedang semakin banyak diperdebatkan, dan anak-anak mendapatkan smartphone pada usia yang semakin muda. Rata-ratanya, anak-anak mendapatkan smartphone mereka pada sekitar usia 10 tahun, menurut agensi riset Influence Central, dan ini menurun dari usia 12 tahun pada tahun 2012. Bagi sebagian anak, kepemilikan smartphone bermula bahkan lebih awal lagi – termasuk ada yang kelas dua dengan usia 7 tahun, menurut para ahli keamanan internet. … ‘Semakin lama anda bisa menutup kotak Pandora ini, semakin baik anda,’ kata Jesse Weinberger, seorang pembicara keamanan internet yang berbasis di Ohio, yang memberikan presentasi kepada para orang tua, sekolah, dan petugas penegak hukum. ‘Tidak ada interaksi dengan dunia gelap jika tidak memiliki barang ini.’ … Ms. Weinberger, yang menulis buku panduan keamanan smartphone dan internet, The Boogeyman Exists: And He’s in Your Child’s Back Pocket, mengatakan bahwa dia mensurvei anak-anak dalam waktu 18 bulan terakhir, da menemukan, bahwa rata-rata, sexting (mengirim foto seksual diri sendiri) dimulai di kelas 5, konsumsi pornografi dimulai ketika anak berusia 8 tahun, dan kecanduan pornografi dimulai pada usia 11.”

Posted in Teknologi | Leave a comment

Otak Mengecewakan Pemikiran Evolusionistik

(Berita Mingguan GITS 15 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari creationmoments.com, 14 November 2019: “Menurut pemikiran evolusionistik, manusia berasal dari makhluk mirip kera. Makhluk-makhluk mirip kera ini berasal dari reptil melalui banyak tahapan. Dan seperti itu juga, reptil berasal dari ikan, melalui banyak tahapan. Para evolusionis mengatakan bahwa dengan setiap tahapan besar, lebih banyak bagian ditambahkan kepada otak. Perkembangan paling akhir, dan yang paling hebat, adalah korteks cerebri (bagian korteks dari otak). Menurut teori ini, salah satu bagian paling tua dari otak adalah bagian yang paling dalam. Evolusionis mengklaim bahwa bagian otak ini, yang disebut basal ganglia, berasal dari masa lalu reptil kita. Mereka menggambarkan bagian otak ini sebagai sesuatu yang “primitif,” yang mengontrol hal-hal sederhana seperti pergerakan dan memory spasial. Ini adalah fungsi-fungsi dasar yang dibutuhkan oleh reptil. Tentu saja, pandangan evolusi bahwa basal ganglia itu primitif, tidak pernah diteliti secara ilmiah. Lalu para periset mulai mempelajari cara kerja basal ganglia. Mereka telah menyimpulkan bahwa struktur-struktur mendalam dari otak, yang dikira adalah primitif, ternyata cukup rumit. Faktanya, struktur-struktur yang disebut berasal dari reptil ini, sama kompleksnya dengan korteks cerebri. Struktur-struktur ini menerima masukan dari semua bagian korteks. Dan semua bahan neurokimia yang ditemukan di bagian lain tubuh, juga ditemukan di struktur-struktur ini. Sekali lagi, riset ilmiah tidak menemukan apa yang diharapkan kaum evolusionis. Otak manusia tidak berkembang dengan menambahkan bagian-bagian baru kepada otak reptil. Otak manusia diciptakan khusus untuk manusia. REF.: Miller, Julie Ann. 1985. ‘Deep core of brain gains respect,’ Science News, v. 128, Nov. 9. p. 297.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Perhitungan Tanggal Uranium-Timah

(Berita Mingguan GITS 8 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari creationmoments.com, 16 Januari 2020: “Banyak orang berasumsi bahwa perhitungan Carbon dipakai untuk menentukan usia bebatuan dan fosil. Tidak demikian. Penanggalan menggunakan Carbon hanya secara khusus dipakai untuk memberikan usia materi-materi yang pernah menjadi bagian dari makhluk hidup, dan bahkan jika usia materi demikian bisa didapatkan, tidak akan memberikan usia lebih dari 100.000 tahun. Banyak geologis akan bergantung pada penanggalan menggunakan uranium-timah untuk menentukan usia suatu batu. Teknik ini mengukur jumlah isotop uranium U-238 dalam suatu sampel batu, dan juga isotop stabil timah Pb-206, yang adalah hasil peluruhan dari U-238. Sangatlah penting untuk menekankan bahwa teknik ini, dan juga teknik-teknik lain, sama sekali tidak mengukur langsung usia batu. Sebaliknya, usia dikalkulasikan dari jumlah uranium dan timah yang ditemukan, dengan menggunakan tiga asumsi: 1. Diasumsikan bahwa semua timah yang ada dalam batu tersebut berasal dari uranium. Tetapi mengapakah ini harus benar demikian? Tidakkah mungkin waktu batu itu terbentuk sudah ada timah di dalamnya? 2. Bahwa tidak ada dari timah yang terbentuk yang hilang. Tetapi karena senyawa-senyawa timah dapat larut sebagian dalam air, maka tidaklah masuk akal bahwa batu yang katanya jutaan tahun usianya sama sekali tidak mengalami erosi air. 3. Diasumsikan bahwa waktu paruh uranium-238 tidak pernah berubah selama masa hidup batu tersebut. Waktu paruh adalah seberapa cepat uranium berubah menjadi timah, tetapi kini kita tahu bahwa angka ini bisa berubah cukup drastis. Jadi ketiga asumsi yang mendasari penanggalan berdasarkan uranium-timah, semuanya meragukan. Lebih baik mempercayai catatan Alkitab mengenai asal usul dari bebatuan.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Penyembahan Berhala Superbowl

(Berita Mingguan GITS 8 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Super Bowl adalah salah satu dari berhala Amerika modern ini [Editor: Super Bowl adalah pertandingan final dalam liga football Amerika, berlangsung setahun sekali. Mirip dengan final Liga Champions dalam sepakbola]. Jumlah penonton mencapai puncaknya pada 115 juta orang di tahun 2014, namun saat ini masih berkisar di 100an juta. Ini bukan hanya sebuah pertandingan football, ini adalah suatu forum promosi kebejatan moral dan filosofi humanistik. Pertandingan sengaja dilaksanakan pada hari Minggu, suatu serangan terhadap Allah karena hari Minggu adalah hari jemaat-jemaat berkumpul. Untuk banyak tahun, pertunjukan pada waktu rehat half-time, telah pada ‘esensinya menjadi parade gay.’ Tahun ini, salah satu iklan yang ditayangkan berisikan ‘drag-queen pro homoseksual yang mati-matian mau mengindoktrinasi anak-anakmu tentang gaya hidup LGBTQ’ (sementara sebuah iklan anti aborsi dianggap tidak pantas). Pertandingan ini terutama adalah mengenai ketamakan, tetapi suasananya penuh dengan kata-kata kotor, minum-minum, judi, wanita-wanita setengah telanjang, sensualitas rock & roll, dan suatu filosofi ‘hidup semau-mu saja’ (dengan selapis tipis kekristenan palsu bergaya ‘Yesus itu sohib-ku yang membantu aku menang’). Fox mendapatkan $412 juta dalam pemasukan iklan tahun ini, dan kota tempat diberlangsungkannya pertandingan, Miami, menerima dampak ekonomi sebesar $500 juta. Harga satu tiket untuk masuk adalah lebih dari $6000. Anheuser-Busch telah menghabiskan $441 juta dalam iklan Super Bowl sejak tahun 2006. Para fans Super Bowl menghabiskan 52 juta rak bir. Sekitar 23 juta orang (7% penduduk Amerika) memasang taruhan dalam pertandingan ini, dengan total uang $6,8 Milyar. Super Bowl tidak membangkitkan perasaan-perasaan yang benar, melainkan “hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala” (Kol. 3:5). Seorang gembala yang berhenti menonton Super Bowl sejak tahun 2008 berkata, “Super Bowl telah menjadi konsentrasi pekat vulgaritas dan ego, dengan sedikit atletik dalam pertandingan itu dan kepintaran dalam beriklan yang menipu saya untuk menontonnya. Sederhananya, ini bukanlah tujuan hidup saya.” Terhadap pernyataan ini, kami mengatakan Amin. Kami bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang menaati Kitab Suci sambil berpartisipasi dalam Super Bowl. “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Efesus 5:11).

Posted in Separasi dari Dunia / Keduniawian, Sports/Olahraga | Leave a comment