Otak Mengecewakan Pemikiran Evolusionistik

(Berita Mingguan GITS 15 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari creationmoments.com, 14 November 2019: “Menurut pemikiran evolusionistik, manusia berasal dari makhluk mirip kera. Makhluk-makhluk mirip kera ini berasal dari reptil melalui banyak tahapan. Dan seperti itu juga, reptil berasal dari ikan, melalui banyak tahapan. Para evolusionis mengatakan bahwa dengan setiap tahapan besar, lebih banyak bagian ditambahkan kepada otak. Perkembangan paling akhir, dan yang paling hebat, adalah korteks cerebri (bagian korteks dari otak). Menurut teori ini, salah satu bagian paling tua dari otak adalah bagian yang paling dalam. Evolusionis mengklaim bahwa bagian otak ini, yang disebut basal ganglia, berasal dari masa lalu reptil kita. Mereka menggambarkan bagian otak ini sebagai sesuatu yang “primitif,” yang mengontrol hal-hal sederhana seperti pergerakan dan memory spasial. Ini adalah fungsi-fungsi dasar yang dibutuhkan oleh reptil. Tentu saja, pandangan evolusi bahwa basal ganglia itu primitif, tidak pernah diteliti secara ilmiah. Lalu para periset mulai mempelajari cara kerja basal ganglia. Mereka telah menyimpulkan bahwa struktur-struktur mendalam dari otak, yang dikira adalah primitif, ternyata cukup rumit. Faktanya, struktur-struktur yang disebut berasal dari reptil ini, sama kompleksnya dengan korteks cerebri. Struktur-struktur ini menerima masukan dari semua bagian korteks. Dan semua bahan neurokimia yang ditemukan di bagian lain tubuh, juga ditemukan di struktur-struktur ini. Sekali lagi, riset ilmiah tidak menemukan apa yang diharapkan kaum evolusionis. Otak manusia tidak berkembang dengan menambahkan bagian-bagian baru kepada otak reptil. Otak manusia diciptakan khusus untuk manusia. REF.: Miller, Julie Ann. 1985. ‘Deep core of brain gains respect,’ Science News, v. 128, Nov. 9. p. 297.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Perhitungan Tanggal Uranium-Timah

(Berita Mingguan GITS 8 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari creationmoments.com, 16 Januari 2020: “Banyak orang berasumsi bahwa perhitungan Carbon dipakai untuk menentukan usia bebatuan dan fosil. Tidak demikian. Penanggalan menggunakan Carbon hanya secara khusus dipakai untuk memberikan usia materi-materi yang pernah menjadi bagian dari makhluk hidup, dan bahkan jika usia materi demikian bisa didapatkan, tidak akan memberikan usia lebih dari 100.000 tahun. Banyak geologis akan bergantung pada penanggalan menggunakan uranium-timah untuk menentukan usia suatu batu. Teknik ini mengukur jumlah isotop uranium U-238 dalam suatu sampel batu, dan juga isotop stabil timah Pb-206, yang adalah hasil peluruhan dari U-238. Sangatlah penting untuk menekankan bahwa teknik ini, dan juga teknik-teknik lain, sama sekali tidak mengukur langsung usia batu. Sebaliknya, usia dikalkulasikan dari jumlah uranium dan timah yang ditemukan, dengan menggunakan tiga asumsi: 1. Diasumsikan bahwa semua timah yang ada dalam batu tersebut berasal dari uranium. Tetapi mengapakah ini harus benar demikian? Tidakkah mungkin waktu batu itu terbentuk sudah ada timah di dalamnya? 2. Bahwa tidak ada dari timah yang terbentuk yang hilang. Tetapi karena senyawa-senyawa timah dapat larut sebagian dalam air, maka tidaklah masuk akal bahwa batu yang katanya jutaan tahun usianya sama sekali tidak mengalami erosi air. 3. Diasumsikan bahwa waktu paruh uranium-238 tidak pernah berubah selama masa hidup batu tersebut. Waktu paruh adalah seberapa cepat uranium berubah menjadi timah, tetapi kini kita tahu bahwa angka ini bisa berubah cukup drastis. Jadi ketiga asumsi yang mendasari penanggalan berdasarkan uranium-timah, semuanya meragukan. Lebih baik mempercayai catatan Alkitab mengenai asal usul dari bebatuan.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Penyembahan Berhala Superbowl

(Berita Mingguan GITS 8 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Super Bowl adalah salah satu dari berhala Amerika modern ini [Editor: Super Bowl adalah pertandingan final dalam liga football Amerika, berlangsung setahun sekali. Mirip dengan final Liga Champions dalam sepakbola]. Jumlah penonton mencapai puncaknya pada 115 juta orang di tahun 2014, namun saat ini masih berkisar di 100an juta. Ini bukan hanya sebuah pertandingan football, ini adalah suatu forum promosi kebejatan moral dan filosofi humanistik. Pertandingan sengaja dilaksanakan pada hari Minggu, suatu serangan terhadap Allah karena hari Minggu adalah hari jemaat-jemaat berkumpul. Untuk banyak tahun, pertunjukan pada waktu rehat half-time, telah pada ‘esensinya menjadi parade gay.’ Tahun ini, salah satu iklan yang ditayangkan berisikan ‘drag-queen pro homoseksual yang mati-matian mau mengindoktrinasi anak-anakmu tentang gaya hidup LGBTQ’ (sementara sebuah iklan anti aborsi dianggap tidak pantas). Pertandingan ini terutama adalah mengenai ketamakan, tetapi suasananya penuh dengan kata-kata kotor, minum-minum, judi, wanita-wanita setengah telanjang, sensualitas rock & roll, dan suatu filosofi ‘hidup semau-mu saja’ (dengan selapis tipis kekristenan palsu bergaya ‘Yesus itu sohib-ku yang membantu aku menang’). Fox mendapatkan $412 juta dalam pemasukan iklan tahun ini, dan kota tempat diberlangsungkannya pertandingan, Miami, menerima dampak ekonomi sebesar $500 juta. Harga satu tiket untuk masuk adalah lebih dari $6000. Anheuser-Busch telah menghabiskan $441 juta dalam iklan Super Bowl sejak tahun 2006. Para fans Super Bowl menghabiskan 52 juta rak bir. Sekitar 23 juta orang (7% penduduk Amerika) memasang taruhan dalam pertandingan ini, dengan total uang $6,8 Milyar. Super Bowl tidak membangkitkan perasaan-perasaan yang benar, melainkan “hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala” (Kol. 3:5). Seorang gembala yang berhenti menonton Super Bowl sejak tahun 2008 berkata, “Super Bowl telah menjadi konsentrasi pekat vulgaritas dan ego, dengan sedikit atletik dalam pertandingan itu dan kepintaran dalam beriklan yang menipu saya untuk menontonnya. Sederhananya, ini bukanlah tujuan hidup saya.” Terhadap pernyataan ini, kami mengatakan Amin. Kami bertanya-tanya bagaimana mungkin seseorang menaati Kitab Suci sambil berpartisipasi dalam Super Bowl. “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Efesus 5:11).

Posted in Separasi dari Dunia / Keduniawian, Sports/Olahraga | Leave a comment

Gembala Lutheran Injili yang Transgender

(Berita Mingguan GITS 2 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Transgender Latin makes history,” NBC News, 13 Des. 2019: “Sebelum menyatakan diri sebagai seorang transgender, Nicole Garcia berdoa setiap hari agar Allah mau membetulkan dirinya. Ketika doa-doanya tidak dijawab dan perasaan dalam hatinya tidak kunjung hilang, dia meninggalkan agama. Sekarang, hampir empat dekade kemudian, Garcia berdiri di belakang mimbar di Westview Lutheran Church di Boulder, Colorado, dan menyampaikan khotbah mingguan kepada lebih dari 100 orang jemaat, sebagai gembala mereka yang sudah ditahbiskan. ‘Tidak seorangpun bisa mempertanyakan imanku, ketulusanku kepada Kristus, ketulusanku kepada gereja. Itulah mengapa saya gembala di sini,’ kata Garcia, yang baru saja berusia 60 tahun hari Kamis lalu, kepada NBC News. ‘Menjadi seorang trans itu hal sekunder.’ Garcia, yang menyampaikan khotbah pertamanya di Westview pada awal bulan ini, adalah Latina transgender pertama yang diketahui menjabat sebagai seorang gembala dalam Gereja Evangelical Lutheran yang memiliki 4 juta jemaat di Amerika – suatu posisi yang tidak disangka-sangka bagi seseorang yang tumbuh besar di Gereja Roma Katolik dan meninggalkan agama sama sekali selama hampir 20 tahun.” KOMENTAR DR. CLOUD: Yang tidak ditemukan dalam kesaksian Garcia adalah keselamatan yang alkitabiah. Sebagai seorang Roma Katolik, Garcia dibaptis, disakramen-kan, dan didoakan, tetapi dia tidak pernah sampai datang kepada Allah dari sudut tuntutan Allah mengenai pertobatan dan iman yang menyelamatkan. Ketika dia menjadi seorang Lutheran, terjadi hal yang sama: sakramentalisme. Sepanjang hidupnya, menurut kesaksiannya sendiri, Garcia telah mempercayai suatu injil perbuatan, dan itu adalah injil yang palsu yang tidak memiliki kuasa untuk mengubah hidup. Agama tidak bisa ‘membetulkan’ masalah dosa manusia. Sifat Adamik yang lama penuh dengan dosa, segala jenis dosa. Tuhan Yesus berkata, “sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan” (Mar. 7:21-22). Hanya keselamatan yang alkitabiah yang dapat ‘membetulkan’ manusia melalui kelahiran kembali dan pengudusan. Paulus menggambarkan bagaimana beberapa anggota di kota Korintus ‘dibetulkan.’ “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Kor. 6:9-11).

Posted in Gereja, LGBT | Leave a comment

Pemimpin Baptis Selatan Mengatakan Bahwa Banyak Orang Katolik Lahir Baru

(Berita Mingguan GITS 2 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Richard Land dari Baptis Selatan mengatakan bahwa dia sedang menyaksikan “semakin banyak orang-orang Katolik” yang menjadi lahir baru (“Being ‘born again’ isn’t trendy–it’s meaningful,” OneNewsNow, 24 Jan. 2020). Land menjabat sebagai kepala dari Komisi Etika dan Kebebasan Beragama di Konvensi Baptis Selatan dari tahun 1988 hingga 2013. Dia membuat komentar yang barusan ini dalam konteks Survei Masyarakat Umum tahun 2018-2019 yang menemukan bahwa istilah “lahir kembali” mulai merambah ke kalangan Katolik dan gereja Protestan umumnya. Dia mengatakan, ‘Ini bukan masalah apa afiliasi denominasi anda, ini adalah mengenai apakah anda memiliki hubungan pribadi dengan Yesus Kristus.’ Tetapi Gereja Roma Katolik bukan hanya sekedar suatu ‘denominasi’ yang berbeda. Ia adalah suatu agama yang berbeda dari iman Perjanjian Baru yang telah sekali diberikan kepada orang-orang kudus. Roma memiliki kristus yang palsu dan injil yang palsu. Kristus yang ia beritakan adalah wafer yang dispesialkan yang disebut hosti, yang disembah sebagai Yesus Kristus itu sendiri. Injilnya adalah kelahiran kembali melalui baptisan yang diikuti oleh sakramen-sakramen lainnya. Saya sudah bertemu dengan para “Katolik injili” ketika menghadiri konferensi-konferensi ekumenis sebagai seorang jurnalis atau tim media, tetapi ketika ditanya dengan teliti mengenai keselamatan, mereka memperlihatkan kebingungan dan kepercayaan mereka terhadap sakramen-sakramen dan “gereja.” Saya belum pernah bertemu dengan seorang Roma Katolik yang bersaksi, “Saya bersandar pada darah Kristus saja untuk keselamatan; baptisan dan sakramen sama sekali tidak ada hubungan dengan keselamatan; Maria dan para santo santa tidak bisa mendengar dan menjawab doa; saya tahu bahwa injil Katolik tidaklah Alkitabiah dan saya menolkanya.” Seperti itu barulah kesaksian seorang yang benar-benar adalah “Katolik lahir baru.” Pada tahun 2005, Land diakui oleh majalah Time sebagai salah satu dari “25 tokoh Injili paling berpengaruh di Amerika.”

Posted in Katolik, Keselamatan | Leave a comment

Saya Mencintai Pengangkatan Pra-Tribulasi

(Berita Mingguan GITS 18 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Saya mencintai pengajaran Alkitab tentang Pengangkatan (Rapture) Pra-tribulasi. Saya sudah mempelajarinya selama hampir setengah abad, dan sama sekali tidak ada keraguan bahwa ini adalah doktrin Alkitab dan juga suatu doktrin yang fundamental. Doktrin ini tidak didasarkan pada satu ayat mana pun; ia didasarkan pada totalitas pengajaran Alkitab tentang nubuat. Jika anda menafsirkan nubuat Alkitab dengan cara yang normal-literal secara konsisten, yang memang adalah satu-satunya cara yang benar untuk menafsirkannya, maka anda akan sampai pada kesimpulan adanya perbedaan jelas antara gereja dan Israel, dan anda akan memahami 70 minggu di Daniel 9 dan Wahyu 5-18 sebagai bagian Israel, bukan bagian gereja. Anda akan memahami bahwa doktrin iminensi (bahwa Tuhan Yesus bisa kembali kapan saja), yang jelas diajarkan dan sangat ditekankan dalam surat-surat (misal Rom. 13:12; Fil. 4:5; 1 Tes. 1:9-10; 5:4-9; Tit. 2:13; Yak. 5:8-9; 1 Pet. 4:7; Yud. 1:21; Wah. 1:3), menuntut bahwa orang-orang kudus zaman gereja diangkat sebelum program Israel dikembalikan menjadi menu utama. Kedatangan Tuhan sudah dekat! Bagi saya sendiri, masalah ini sudah jelas. Saya telah mengeluarkan tenaga untuk menyelidiki setiap sisi dari isu ini dan Pengangkatan Pra-tribulasi (Pre-tribulation Rapture) bergaung dalam diri saya semakin kuat seiring berlalunya tahun-tahun. Pelajaran Alkitab pertama yang kami terbitkan pada tahun 1980an, adalah tentang nubuat. Dalam tahun-tahun belakangan, kami telah menerbitkan buku-buku berikut: Understanding Bible Prophecy ; The Future According to the Bible ; Jews in Fighter Jets: Israel Past, Present, and Future ; dan pembelajaran nubuat lainnya. Dispensasionalisme, sebagai nama suatu sistem theologi, bermula di abad 19, tetapi penafsiran literal terhadat nubuat dan kembalinya Kristus yang imminen dan perbedaan jelas antara Israel dan Gereja dan penggenapan literal perjanjian-perjanjian Israel, semuanya adalah doktrin Alkitab yang jelas dan diajarkan oleh Rasul-Rasul dan dipercayai oleh gereja-gereja awal. Roh Allah membangkitkan kembali doktrin ini menjadi prominen pada tahun 1800an, dan telah mendorong suatu kebangkitan rohani yang besar untuk hidup kudus dan semangat untuk penginjilan dan pengabaran misi dunia. Ia memberitakan kekudusan, sikap berjaga-jaga, dan pemberian harapan, dan mempertahankan fokus gereja pada Amanat Agung. Kami memperhatikan ada buah yang besar dari mengkhotbahkan doktrin ini, dan saya akan berusaha sebisa mungkin untuk menjauhkan pengaruh pengkhotbah-pengkhotbah yang menolak Pengangkatan Pra-tribulasi dari keluarga dan gereja kami. Saya jelas menganggap doktrin ini sebagai isu yang pantas untuk melakukan separasi.

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan | 2 Comments

Iminensi Kembalinya Kristus untuk Orang-Orang Kudus Zaman Gereja Mengajarkan Bahwa Pengangkatan Mendahului Minggu Ke-70

(Berita Mingguan GITS 18 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Alkitab menyatakan bahwa kedatangan Tuhan “sudah dekat” (Rom. 13:12; Fil. 4:5; 1 Pet. 4:7). Ini berasal dari kata eggizo, yang berarti “dekat, mendekat.” Frase Inggris “at hand” adalah suatu metafora yang mengindikasikan sesuatu yang dekat, dan siap, seperti tanganmu. Frase ini dipakai untuk menggambarkan lokasi kubur Yesus, yang “tidak jauh letaknya” (KJV: nigh at hand) dari tempat penyalibanNya (Yoh. 19:42). Paulus menggunakannya untuk mengambarkan kematiannya yang dapat terjadi kapan saja, atau iminen (2 Tim. 4:6). Kedatangan kembali Kristus untuk orang-orang kudus zaman gereja selalu dalam posisi “sudah dekat,” dan iminen, dapat terjadi kapan saja. Hal ini mengajarkan kita bahwa Rapture/Pengangkatan yang digambarkan dalam 1 Tesalonika 4 dan 1 Korintus 15, mendahului minggu ke-70 Daniel (Dan. 9:27). Jika pengangkatan terjadi kapanpun selama masa 7 tahun itu, maka ia tidak bisa iminen, karena peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sudah jelas dinyatakan dalam Kitab Suci. Itu bermula dari perjanjian Antikristus selama 7 tahun dengan Israel yang sesat — “Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa.” Selama tiga setengah tahun pertama, Bait ketiga akan dibangun (Wah. 11:1-2), penghakiman-penghakiman awal akaan terjadi sebagaimana dilukiskan dalam Wahyu 6 (peperangan dan kelaparan yang akan membinasakan seperempat populasi bumi, suatu gempa bumi yang besar, tanda-tanda di langit), 144.000 orang penginjil Yahudi akan berkhotbah dan menghasilkan tuaian jiwa-jiwa yang besar di tengah-tengah penganiayaan yang hebat (Wah. 7), dan kedua saksi akan bernubuat di Yerusalem (Wah. 11:3-6). Setelah tiga setengah tahun, Antikristus akan melanggar perjanjiannya dan mendirikan kekejian yang membinasakan di Bait sebagaimana digambarkan oleh Daniel, oleh Tuhan Yesus, dan oleh Paulus. “Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan..” (Dan. 9:27). Lihat juga Matius 24:15 dan 2 Tesalonika 2:3-4. Setelah tiga setengah tahun pertama, kedua saksi akan dibunuh dan sebuah gempa bumi dahsyat akan menghancurkan sepersepuluh dari kota Yerusalem (Wah. 11:7-13). Peristiwa-peristiwa para paruh kedua dari Minggu ke-70 Daniel digambarkan di bagian-bagian lain kitab Wahyu. Termasuk di dalamnya adalah hujan es dan api yang menghancurkan sepertiga pohon dan rumput (Wah. 8:7), sepertiga laut berubah menjadi darah (Wah. 8:8-9), sepertiga air menjadi pahit (Wah. 8:10-11), belalang-belalang yang mengerikan dari jurang maut (Wah. 9:1-11), 200 juta pasukan dari Timur yang mengakibatkan sepertiga umat manusia dibinasakan (Wah. 9:13-21), penyembahan mendunia terhadap Antikristus dan pemerintahannya yang diktatorial (Wah. 13), sungai-sungai dan mata-mata air menjadi darah (Wah. 16:4-6), penghangusan manusia oleh api yang dahsyat (Wah. 16:8-9), kegelapan (Wah. 16:10-11), penghancuran agama Babel Rahasia (Wah. 14:8; 17:16-18), penghancuran Babel komersil (Wah. 18:5-24), Harmagedon (Wah. 16:12-16). Jika Pengangkatan tidak mendahului Minggu ke-70 Daniel, maka ia tidak mungkin sudah dekat, karena harus terjadi dulu peristiwa-peristiwa ini dan waktunya akan diketahui dengan persis sambil peristiwa-peristiwa itu terjadi. Orang-orang kudus zaman gereja menantikan Kristus, bukan Antikristus; kita menantikan Pengharapan yang penuh bahagia, bukan Tribulasi yang sangat berat. “Sebab mereka sendiri berceritera tentang kami, bagaimana kami kamu sambut dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan yang benar, dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari murka yang akan datang…Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. …Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita,” (1 Tes. 1:9-10; 5:4-5, 9).

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan | Leave a comment

Rabi Menyela Pidato Netanyahu untuk Menyerukan Pembangunan Bait Ketiga

(Berita Mingguan GITS 18 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Ketika secara berbicara baru-baru ini mengenai pentingnya kehadiran Israel di Yudea dan Samaria, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu disela oleh Rabi Yehuda Glick yang menyerukan pembangunan Bait Ketiga. Dalam Forum Kebijakan Kohelet, pada tanggal 8 Januari lalu, Netanyahu berkata, “Jika Israel tidak hadir di bukit-bukit Yudea dan Samaria, para Islamis akan mengambil alih.” Rabi Yehuda Glick langsung berteriak, ‘Sama dengan Bukit Bait!” (“Rabbi Glick,” Breaking Israel News, 8 Jan. 2020). Glick memberitahu media setelah itu bahwa mereka harus menjaga ide tentang Bait Ketiga terus berkobar. “Kamu harus terus mengatakannya. Kalau kamu tidak mengatakannya, kamu akan melupakannya.” Glick, seorang anggota dari Partai Likud-nya Netanyahu, bertahan hidup setelah melewati percobaan pembunuhan pada tahun 2014, ketika ia ditembak empat kali di bagian dada oleh seorang teroris, yaitu Mutaz Hijazi. Hijazi, seorang anggota dari Islamic Jihad yang pernah dipenjara 11 tahun di Israel, kemudian terbunuh empat hari kemudia dalam suatu baku tembah dengan polisi Israel. Glick adalah penulis dari buku Arise and Ascend, sebuah buku pandu bagi para pengunjung Yahudi ke Bukit Bait. Dia juga terasosiasikan dengan Temple Mount Faithful, yang adalah salah satu organisasi yang mempersiapkan pembangunan Bait berikutnya. Dalam sebuah wawancara pada tahun 2015, Rabi Yisrael Ariel, kepala dari Temple Institute, mengatakan bahwa semua materi untuk keberlangsungan Bait, “sudah siap dalam kotak-kotak di ruang bawah, supaya ketika kita sampai Yerusalem, akan ada truk-truk untuk menurunkan semuanya, dan kita bisa mulai bekerja,” (“Ariel’s Jerusalem,” Arutz Sheva, 7 Mei 2015). Dalam tradisi Yahudi, pembangunan kembali Bait terhubung dengan kedatangan Mesias. Menurut Moshe ben Maimon (Maimonides atau Rambam) (1135-1204), salah satu otoritas rabinik tertinggi, orang Yahudi dari keluarga Daud manapun yang memulai pembangunan kembali Bait Suci, adalah potensi sang Mesias. Maimonides mencari seorang Mesias yang akan membangun kembali Bait Suci “pada tempatnya yang asli.” Rabi-rabi lain telah memperluas hal ini, sehingga tidaklah diperlukan si pembangun Bait itu dari keturunan Daud. Shimon ben Kosiba dulu dianggap Mesias pada abad kedua ketika dia memimpin pemberontakan untuk merebut kembali Yerusalem dan membangun kembali Bait. Dia diberi gelar Bar Kokhba (Putra Bintang), berdasarkan nubuat tentang Mesias di Bilangan 24:17, dan sebuah koin dibuat dengan gambar Bait dengan tabut perjanjian di dalamnya dan bintang Mesias di atapnya. Melalui tradisi ini, mudah untuk memahami bagaimana Antikristus atau nabi palsunya akan dikira Mesias. Para penuntun tur Israel, walaupun kebanyakan mereka adalah “Yahudi sekuler” yang melawan “agama,” berbicara mengenai Mesias yang akan datang dari bukit Zaitun. Ada satu yang memberitahu kami pada tahun 2019, ‘Kalian orang Kristen mencari Mesias yang akan datang lagi, dan kami mencari Dia untuk datang. Perbedaannya hanya pada satu kata. Kita semua menantikan Dia datang ke bukit Zaitun.” Orang-orang Yahudi di Israel sudah siap untuk menerima seorang Mesias yang datang dari Bukit Zaitun dan menegakkan perdamaian antara Israel dan tetangga-tetangganya, dan mengumumkan pembangunan kembali Bait. Antikristus yang digambarkan dalam nubuat Alkitab cocok dengan itu semua dengan persis. Mungkin dia akan datang ke Yerusalem dari arah Bukit Zaitun untuk menekankan poin ini.

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Israel | 3 Comments

Ibu Menolak Tekanan untuk Mengaborsi Bayi dengan Sindrom Down

(Berita Mingguan GITS 11 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Ibu ditawarkan aborsi pada bayi cukup bulan karena putranya mengidap sindrom Down,” Right to Life UK, 24 Des. 2019: “Seorang ibu telah membeberkan tentang tekanan konsisten yang dia dapatkan dari dokter-dokter untuk mengaborsi bayi laki-lakinya, bahkan ketika bayi dalam kandungannya itu sudah cukup bulan, hanya karena dia mengidap sindrom Down. Cheryl Bilsborrow mau bersuara setelah angka-angka yang dipublikasikan minggu lalu menunjukkan bahwa jumlah bayi yang terlahir dengan sindrom Down telah menurun 30% di rumah-rumah sakit NHS, yang telah memperkenalkan tes-tes prenatal baru yang tidak invasif. Berbicara kepada koran The Sun tentang pengalamannya, ibu yang berprofesi sebagai refleksologis klinis tersebut mengatakan: ‘Tes-tes ini dan cara negatif dan menakutkan penyampaian hasilnya, membuat wanita-wanita yang hamil mengaborsikan bayi-bayi yang sangat mereka inginkan itu. Putra saya yang berusia 2 tahun sekarang, adalah bayi yang luar biasa. Dia memiliki rambut yang putih dan mata yang biru, dan dia selalu tersenyum dan tertawa, memberikan ciuman dan meminta pelukan. Tetapi ketika saya hamil, saya dibuat merasa bahwa hidupnya tidak memiliki nilai dan saya harus mengaborsi dia. Mengapa? Karena dia mengidap sindrom Down.’ … Cheryl berusia 43 tahun ketika dia hamil dengan anak keempatnya. Karena usianya, dia dianjurkan oleh dokter-dokter untuk melakukan tes skrining terhadap sindrom Down. …Cheryl berkata bahwa sejak awal, persepsi para dokter tentang kondisi tersebut adalah negatif dan bahwa dia didorong untuk aborsi setiap kali dia bertemu dengan bidan. ‘Tidak ada tawaran untuk konseling, tidak ada diskusi mengenai bagaimana hidup saya bisa diperkaya oleh bayi ini. Aborsi dan hilangkan seolah-olah menjadi satu-satunya jawaban.’ … ‘Bahkan, pada usia kehamilan 38 minggu, ketika saya datang untuk melakukan scan, petugas sonografer berkata: Kamu mestinya tahu bahwa kami mengaborsi bayi-bayi usia penuh yang mengidap sindrom Down… Pesannya jelas dan lantang: bayi-bayi dengan sindrom Down tidak memiliki nilai. Sekarang, setelah mempunyai Hector, saya tahu bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan … Sungguh memilukan hati saya untuk berpikir bahwa begitu banyak bayi, seperti [dia], bisa dirampok hak untuk menjalani hidup yang bahagia.”

Posted in Keluarga, Kesehatan / Medical | 2 Comments

Uskup-Uskup Katolik Menyatakan Homoseksualitas “Normal”

(Berita Mingguan GITS 11 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Uskup-uskup Katolik di Jerman telah memproklamirkan bahwa homosexualitas adalah “suatu bentuk predisposisi seksual yang normal” dan tidak seharusnya diubah. Pada tanggal 5 Desember, Konferensi Uskup-Uskup Jerman mengumumkan penemuan dari Komisi tentang Pernikahan dan Keluarga mereka, yang termasuk di dalamnya adalah “uskup-uskup, seksologis, theolog-theolog moral, theolog-theolog dogma, dan ahli-ahli hukum kanon.” Satu-satunya yang tidak hadir di sana adalah theolog yang lahir baru yang percaya Alkitab. Pernyataan pers mereka berbunyi, “Juga ada kesepakatan bahwa preferensi seksual manusia mengekspresikan diri pada saat pubertas dan mengambil suatu orientasi yang hetero- atau homo- seksual. Keduanya termasuk dalam bentuk-bentuk normal predisposisi seksual, yang tidak dapat dan tidak seharusnya diubah dengan bantuan sosialisasi yang spesifik. … [Untuk alasan ini] segala bentuk diskriminasi terhadap orang-orang dengan orientasi homoseksual haruslah ditolak.” Hal ini bertentangan dengan Katekisme Gereja Katolik tahun 1992, yang menyatakan tindakan-tindakan homoseksual sebagai sesuatu yang “secara intrinsik bermasalah,” dan “berlawanan dengan hukum alami” (CCC 2357). Alkitab menyatakan hukuman bukan hanya atas tindakan-tindakan homoseksual, tetapi juga atas hawa nafsu homoseksual. Roma 1:24-27 menggambarkan “hawa nafsu” dan “keinginan hati” dan “menyala-nyala dalam berahi” sesama jenis sebagai sesuatu yang najis di hadapan Allah.

Posted in Katolik, LGBT | Leave a comment