Program Natal Beatles di Megachurch

(Berita Mingguan GITS 4 Januari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Dalam sebuah contoh paling terkini mengenai bagaimana cinta duniawi terhadap rock & roll membuat orang-orang yang mengaku Kristen menjadi agak gila, Community Christian Church di Naperville, Illinois, telah menggabungkan kisah Natal dengan musik Beatles. Pertunjukan itu diberi judul “Let It Be Christmas: The Gospel According to Matthew, Mark, Luke, John, Paul, George and Ringo” (“Beatles Music, Christmas Story,” Religion News Service, 18 Des. 2019). Pertunjukan diiklankan sebagai suatu “tur misteri penuh magic melalui keempat Injil untuk menceritakan kisah teragung sepanjang masa dengan musik terhebat sepanjang masa!” Tiket untuk sembilan pertunjukan yang dilakukan di gereja yang memiliki beberapa kampus itu terjual habis. Lagu-lagu Beatles yang dipakai dalam performa itu termasuk “All My Loving,” “From Me to You,” “We Can Work It Out,” “Taxman,” and “Love Me Do.” Tritunggal digambarkan dengan penuh hujat sebagai seorang Insinyur, seorang Tukang Kayu, dan seekor Burung Hitam (ini juga adalah judul dari salah satu lagu Beatles). Ketika Maria diberitahu bahwa dia akan menjadi ibu dari sang Kristus, dia berdansa dengan burung hitam tersbut. Ini adalah kesesatan yang sangat memuakkan. Grup Beatles telah melakukan lebih untuk memajukan program Iblis di akhir zaman ini dibandingkan grup lain manapun. Mereka tidak diragukan lagi dikendalikan oleh roh-roh jahat ketika mereka mendapatkan cinta satu generasi penuh dengan musik “misteri magical” mereka dan membawa jutaan orang-orang muda dalam perjalanan mereka menuju relativisme moral, seks bebas, uniseks, agama-agama Timur, atheisme, penyalahgunaan obat, dan pemberontakan melawan tatanan yang sudah ada. Dalam bukunya tahun 1965, A Spaniard in the Works, John Lennon menyebut Yesus Kristus dengan banyak kata-kata yang jahat yang tidak bisa kita taruh dalam artikel ini, dan dia menghujat Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam lagu “God” (1970), Lennon bernyanyi: “Saya tidak percaya Alkitab. Saya tidak percaya Yesus. Saya hanya percaya saya sendiri, Yoko dan saya, itulah realita.” Lagu Lennon yang sangat populer, “Imagine” (1971), mempromosikan atheisme dan persatuan global New Age. Liriknya berkata: “Bayangkan tidak ada surga … Tidak ada neraka di bawah kita, di atas kita hanya ada langit … tidak ada agama juga / Kamu mungkin berkata saya seorang pemimpi, tetapi saya bukan satu-satunya / Saya berharap suatu hari kamu akan bergabung, dan dunia akan hidup sebagai satu kesatuan.” Berapa juta orang di seluruh dunia yang telah mengikuti John Lennon dalam mimpi yang menipu ini? Kematian akan membuktikan bahwa “mimpi” ini sebenarnya adalah mimpi buruk yang paling menakutkan yang bisa dibayangkan. George Harrison adalah seorang Hindu hingga pada hari kematiannya dan memimpin banyak orang kepada kegelapan kafir ini. Sampai dengan April 2009, dua orang anggota Beatles yang masih hidup, memimpin sebuah konser untuk menggalang dana demi promosi Transcendental Meditation (TM) di antara anak-anak. “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Ef. 5:11).

Posted in musik, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Gerakan Injili dan Universalisme

Gerakan Injili dan Universalisme

Oleh Dr. David Cloud

Diterjemahkan oleh Dr. Steven Liauw

Dalam sebuah surat terbuka kepada seorang editor surat kabar, Paus Fransiskus mengatakan bahwa orang-orang atheis yang tulus akan diterima oleh Allah. Menulis kepada Eugenio Scalfari, pendiri dari La Repubblica, sang Paus berkata: “Kamu bertanya kepada saya apakah Allah orang Kristen mengampuni orang-orang yang tidak percaya dan yang tidak mencari iman. Saya mulai dengan mengatakan – dan ini adalah hal mendasarnya – bahwa belas kasihan Allah tidak memiliki batasan jika kamu pergi kepadaNya dengan hati yang tulus dan rendah. Hal utama bagi orang-orang yang tidak percaya ada Allah adalah menaati hati nurani mereka” (“Pope Francis Assures Atheists,” The Independent, UK, 11 Sept. 2013).

Pernyataan ini membuat berita yang heboh, tetapi apa yang dikatakan di sini sudah dikatakan oleh kaum “Injili” selama puluhan tahun. Faktanya, ini hanyalah salah satu cara lainnya kaum Roma Katolik dan injili “sedang menjadi satu.” Ini adalah aspek lainnya dari pembangungan “gereja” esa-sedunia akhir zaman.

Sebuah buku yang diterbitkan oleh Zondervan Publishing House tahun 1996, berisikan tulisan berbagai theolog mengenai subjek apakah ada keselamatan dalam agama-agama kafir. Buku itu, berjudul More Than One Way? diberi judul kecil “empat pandangan tentang keselamatan dalam dunia yang pluralistik.”

Tiga dari pandangan-pandangan yang dimunculkan mendukung semacam inklusivisme atau universalisme. Para penulis dari pandangan-pandangan tersebut adalah John Hick, Clark Pinnock, Alister McGrath, R. Douglas Geivett, dan W. Gary Phillips. Buku itu diedit oleh Dennis Okholm dan Timothy Phillips, profesor theologi assosiat di Wheaton College. Berbagai pandangan tersebut dibagi menjadi empat kelompok: 1) Normatif Pluralisme, 2) Inklusivisme, 3) Agnostikisme mengenai orang-orang yang belum pernah mendengar Injil, dan 4) Eksklusivisme – keselamatan hanya melalui iman pribadi kepada Kristus.

Continue reading

Posted in Keselamatan, Kesesatan Umum dan New Age, New Evangelical (Injili) | 2 Comments

Kebodohan Kartu Tarot

(Berita Mingguan GITS 7 Desember 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Tarot Card Resurgence,” Al Perrotta, The Stream, 28 Okt. 2019: “Kita sedang mengalami ledakan popularitas kartu tarot. The New York Times pada tahun 2017 merayakan ‘Tarot is Trending.’ The Guardian mempromosikannya sebagai suatu bentuk terapi pada tahun 2018. Seorang penulis mengatakan bahwa dia menghitung ada 550 app tarot di Apple Store, sebelum berhenti menghitung. Mencari di Amazon untuk ‘kartu tarot’ akan menampilkan 10.000 hasil. …Sebelum menyerahkan hidup saya sepenuhnya kepada Kristus, saya dulu adalah seorang fans kartu tarot. Saya mempelajari kartu tarot lebih serius dari mempelajari subjek apapun di sekolah. … ini membawa kita kepada rahasia kotor dari tarot … Pertama, kamu harus mempelajari arti dasar dari setiap kartu. Lalu kamu belajar arti-arti alternatif dari setiap kartu. Lalu kamu mempelajari bahwa arti tersebut, positif ataupun negatif, tergantung pada apakah kartunya tegak atau terbalik. Dan kemudian kamu belajar bahwa artinya juga tergantung pada posisinya relatif terhadap kartu yang disebelahnya. Dengan kata lain, sebuah ‘kartu’ negatif di masa lampau dapat menjadi ‘baik’ jika kartu setelahnya itu mengindikasikan perubahan untuk hal yang lebih baik. Dan sebaliknya. Tunggu, masih ada lagi. Lalu kamu belajar bahwa sebuah bagian yang tersendiri dari suatu gambar bisa saja mengandung suatu arti yang tertanam di dalamnya. Misalnya, kartu yang umumnya disebut ‘The Chariot’ [Kereta Kuda]. Lihat roda-rodanya? Dalam sebuah pembacaan yang spesifik, Chariot itu sendiri bisa jadi berhubungan dengan mobil kamu. Bisa jadi berhubungan dengan perjalanan. Jika kartu ini terbalik, bisa jadi hati-hati roda bisa copot dari suatu proyek atau hubungan. Bagaimana dengan makhluk-makhluk mirip sphinx yang hitam putih itu? Bisa mengacu kepada suatu isu yang jelas, hitam atau putih. Simbol merah di antara mereka terlihat seperti suatu gasing bisa berarti bahwa walaupun pilihannya sepertinya hitam putih, kepalamu berputar seperti gasing untuk mencoba menentukan isu ini. Ia bisa juga mengacu kepada kesatuan dari banyak hal yang berbeda – kedua sphinx, hanya warnaya beda. Walaupun keputusan ini sepertinya hitam putih, sebenarnya tidak. … Anda mulai paham? Jika tidak, baiklah saya sederhanakan. Kartu manapun pada saat manapun, dapat berarti apapun. Dan jika sesuatu dapat berarti apapun, sama saja tidak ada artinya. …Bahkan jika kartu-kartu itu dapat memberitahumu sesuatu tentang masa depan, mereka tidak memberimu kuasa untuk mengubah masa depan. Itulah mengapa kita harus berpegang pada Allah yang telah menyatakan diriNya. “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:5-6).

Posted in General (Umum), Okultisme, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Berbagai Respons Terhadap Artikel “Kemerosotan Bob Jones University ke dalam Kalvinisme Reformed Baru”

(Berita Mingguan GITS 7 Desember 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini adalah sepasang respons terhadap laporan minggu lalu.

RESPONS #1 — “Saya seorang alumni BJU tahun 1977, saya SANGAT kesal bahwa saya terpaksa menyadari bahwa BJU sekarang adalah sebuah sekolah Injili Baru, dan telah berubah menjadi demikian tanpa sepatah kata pun dari Dr. Bob Jones III, sejauh yang saya ketahui. Dua atau tiga tahun lalu, saya mengecek website dari seseorang yang dijadwalkan untuk berkhotbah di Konferensi Alkitab [di BJU]. Dalam tautan ke halaman Komisi Pemuda dari gerejanya, kita bisa mendengar musik hard rock. Bukan ‘soft rock’ yang diperhalus, tetapi HARD rock. Seharusnya tidak ada gembala sidang yang menyajikan hard rock ke anak-anak muda gerejanya yang boleh diizinkan mendekat ke mimbar BJU, apalagi berkhotbah dari sana. Saya melayangkan komplain kepada Presiden [Rektor] Pettitt, yang menjawab dengan berkata ‘Saya tidak melihat ada yang salah.’ Tidak mengherankan, karena dia sendiri bahkan ada dalam video tersebut. Perhatikan bahwa dalam website BJU, tautan untuk ‘Gereja-Gereja di Greenville yang Direkomendasikan’ mendaftarkan bukan hanya Second Presbyterian Church (PCA) tetapi juga Southern Baptist Church yang bersituasi persis di seberang sekolah tersebut, yaitu White Oak Baptist, yang digembalakan oleh Dr. Lonnie Polson, seorang anggota dari fakultas BJU dan Kepala Departemen. Saya memprediksikan bahwa setelah kematian Bob Jones III yang berusia 80 tahun, mereka akan mengubah nama sekolah tersebut.”

RESPONS #2 — “Bob Jones telah kehilangan banyak murid selama 20 tahun terakhir. Mereka pada dasarnya kehilangan peserta Baptis independen mereka. Para gembala Baptis Independen khawatir bukan hanya tentang posisi BJU mengenai Alkitab, tetapi juga karena BJU semakin dekat dengan theologi reformed/covenant. Northland juga telah menempuh trayektori yang serupa. (Mereka dulu pada zaman keemasan mereka, pernah dikenal sebagai Bob Jones di daerah Tengah Barat). Jadi sekarang BJ sedang menjangkau kepada teman-teman Presbyterian mereka untuk mencoba membangun ulang sekolah tersebut. Saya ragu ini bisa berhasil. Kaum Presbyterian punya jaringan sekolah mereka sendiri. Tetapi ketika sekolah-sekolah ini kehilangan peserta mereka, maka tingkat pendaftaran mereka menurun. Ketika itu terjadi, keuangan mereka menurun. Ketika itu terjadi, mereka mulai membuat langkah-langkah putus asa yang menyedihkan untuk bisa tetap mengapung. Kita sedang menyaksikan hal ini pada Bob Jones. Saya telah menyaksikan hal yang sama terjadi pada Northland dan Pillsbury, tidak usah dikatakan lagi Tennessee Temple University, Clearwater, dan Calvary Seminary. Tempat-tempat lain seperti Central Seminary dan Detroit Seminary saat ini pas-pasan saja bertahan hidup, dan sekarang sudah lebih Injili daripada fundamentalis. (Kebetulan semua tempat-tempat ini pernah menjadi bagian dari Jaringan Bob Jones, termasuk juga grup-grup seperti Fundamental Baptist Fellowship. Tetapi benang merah di semua tempat ini adalah mereka merangkul pengakuan akademis dunia – salah satu poin Injili Baru – yang memimpin mereka untuk menganut Alkitab Critical Text, dan lalu bermain mata dengan theologi reformed and CCM. Mereka semua sudah atau sedang gagal, termasuk FBF. Tentu saja, fokus sejati dari penginjilan memudar seiring dengan sikap mencari pengakuan akademis dunia meningkat. Betapa sedih!”

Posted in Fundamentalisme | Leave a comment

Kemerosotan Bob Jones University ke dalam Kalvinisme Reformed Baru

(Berita Mingguan GITS 30 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Sejak tahun 2006, kami telah mendokumentasikan pergerakan menuju Kalvinisme Reformed yang dilakukan oleh banyak tamatan BJU, tetapi belumlah jelas di posisi mana sekolah itu sendiri berdiri. Kini gambarannya sudah menjadi jelas, dan ternyata lebih buruk dari yang kita bayangkan. Pada bulan Oktober, Presiden dari BJU, Steve Pettit, berpartisipasi dalam “Greenville Conference on Reformed Theology” di Gereja Second Presbyterian. Dua orang pembicara lainnya adalah Joel Beeke dan Richard Phillips. Beeke adalah seorang profesor di Puritan Reformed Theological Seminary, dan Phillips melayani di dewan The Gospel Coalition. Pada tanggal 11-12 November, Andy Naselli adalah pembicara tamu di BJU untuk Seri Kuliah Stewart Custer. Naselli adalah seorang profesor di Bethlehem College & Seminary milik John Piper, dan adalah seorang penatua di Bethlehem Baptist Church. Naselli juga adalah anggota staf dari The Gospel Coalition. Kini semakin jelas mengapa Bob Jones University membangun jembatan kepada Keith Getty, yang adalah seorang Kalvinis Reformed dan yang gembala sidangnya, Alistair Beggs, adalah seorang anggota prominen dari The Gospel Coalition. TGC merepresentasikan Kalvinisme Reformed baru. Tidak seperti Kalvinisme Reformed lama, Kalvinisme Reformed baru bersifat ekumenis. Orang-orang Reformed yang lama percaya bahwa Roma adalah pelacur besar di Wahyu 17, yang mabuk oleh darah para martir, tetapi Reformed yang baru memiliki hubungan ekumenis dengan Roma, atau minimal simpatik terhadapnya. Pada halaman web TGC yang berjudul “Haruskah Orang Kristen Ekumenis,” kita menemukan pernyataan berikut ini: “Dapatkah orang-orang Injili dan Katolik benar-benar bersatu? … Doa Yesus untuk persatuan dalam Tubuh mengharuskan saya untuk melihat tugas ekumenisme sebagai tugas yang penting bagi kekristenan” (oleh Trevin Wax, seorang profesor Southern Baptist Wheaton College yang berasosiasi dengan keluarga Getty). Ini adalah salah. Doa Yesus dalam Yohanes 17 tidak ada hubungan dengan ekumenisme. Faktanya, Kristus menekankan ketaatan kepada Firman Allah dan pentingnya kebenaran (Yoh. 17:6, 8, 14, 17, 19), yang tidaklah cocok dengan ekumenisme. Lou Martuneac membuat observasi berikut, “Apa yang telah ditunjukkan oleh presiden BJU, Steven Pettit, kepada kita dengan cara mengambil peran aktif dalam konferensi ini, dengan para pembicara ini? Pertama, ia telah menghilangkan segala keraguan yang masih tersisa bahwa ia telah memimpin Universitas ini untuk memeluk Theologi Reformed. Kedua, The Gospel Coalition (TGC), mengandung orang-orang di dalam kepemimpinannya, yang adalah pelaku-pelaku kompromi ekumenis yang paling berat di dalam apa yang disebut kalangan Injili ‘konservatif.’ … Bagi pengamat objektif manapun, sudah ada cukup bukti untuk menghilangkan keraguan yang tersisa, bahwa BJU telah mencampakkan prinsip-prinsip separatisnya yang merupakan landasannya. … Universitas tersebut memang dari dulu memiliki rentang theologi yang lebar. Jadi, dalam hal ini, itu bukan barang baru. Tetapi yang baru adalah pergaulan dengan denominasi-denominasi yang sudah berkompromi yang tidak pernah memegang fundamentalisme” (“This Is Not Your Father’s Bob Jones University, A Continuation,” In Defense of the Gospel, 14 Nov. 2019).

Posted in Ekumenisme, Fundamentalisme, Kalvinisme | 2 Comments

Yesus-nya Kanye Tidak Datang untuk Membuat Orang Jahat Jadi Baik

(Berita Mingguan GITS 30 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Rapper Kanye West, yang memiliki pengaruh sangat luas, telah mengaku bertobat menjadi seorang Kristen dan sekarang mengkhotbahkan Yesus. West dulunya adalah seorang penghujat yang kotor. Dia pernah tampil sebagai Yesus dengan mahkota duri dalam sampul Rolling Stones pada tahun 2006. Albumnya tahun 2013 diberi berjudul Yeezus, yang adalah pelesetan dari nama kecil West, Yeezy dan nama Yesus. Gambar di sampul tersebut memperlihatkan West sedang dimahkotai sebagai raja oleh malaikat-malaikat. Dalam lagu “I Am a God,” dia nge-rap, “Saya baru saja bicara dengan Yesus, dan dia berkata, ‘Ada apa, Yeezus?’” Kita berharap bahwa orang ini sungguh lahir baru, tetapi maksimum dia saat ini adalah seorang bayi rohani, dan dia telah membuat kesalahan besar dengan cara mempertahankan dirinya dalam sorotan lampu dunia dan mengadakan berbagai kebaktian. Ketika dia mempertimbangkan untuk meninggalkan musik hip hop karena “itu adalah musik Iblis,” dia disuguhi nasihat yang sangat buruk oleh gembala sidangnya, Adam Tyson, bahwa “kamu bisa nge-rap tentang Allah.” Dalam sebuah konser baru-baru ini dengan Kendrick Lamar, Kanye berbincang dengan seseorang yang berkostum seperti Yesus. West mengatakan, ‘Yesus, saya sangat menyesal. Saya dulu adalah seorang yang begitu buruk.” Figur Yesus itu menjawab, “Kanye, tidak tahukah kamu bahwa saya tidak datang untuk membuat orang yang jahat menjadi baik? Saya datang untuk membuat orang yang mati menjadi hidup.” Ini adalah setengah kebenaran, dan sesuatu yang setengah benar itu sangatlah berbahaya. Memang, membuat orang jahat menjadi baik bukanlah jalan keselamatan dari Kristus, namun membuat orang jahat menjadi baik sangat benar adalah tujuan dari keselamatan. Jalan keselamatan adalah dengan menerima hadiah kasih karunia Allah yang cuma-cuma, tanpa pekerjaan, tetapi keselamatan yang gratis yang diterima tersebut lalu akan menghasilkan pekerjaan-pekerjaan baik. Efesus 2:8-10 memperjelas kesalahan yang sering dibuat ini dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan tepat. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan DALAM KRISTUS YESUS UNTUK MELAKUKAN PEKERJAAN BAIK, YANG DIPERSIAPKAN ALLAH SEBELUMNYA. IA MAU, SUPAYA KITA HIDUP DI DALAMNYA.” Zaman sekarang ini dicirikan oleh banyaknya pengajar yang mengacaukan kasih karunia Allah dengan kebebasan moral. Ini adalah penggenapan dari nubuat dalam 2 Timotius 4:3-4, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” Rasul Paulus mendefinisikan kasih karunia Allah yang sejati sebagai berikut: “Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus, YANG TELAH MENYERAHKAN DIRI-NYA BAGI KITA UNTUK MEMBEBASKAN KITA DARI SEGALA KEJAHATAN DAN UNTUK MENGUDUSKAN BAGI DIRI-NYA SUATU UMAT, KEPUNYAAN-NYA SENDIRI, YANG RAJIN BERBUAT BAIK” (Titus 2:11-14). Kanye seharusnya mendengarkan pengajaran Paulus yang diinspirasikan Allah dan menolak setiap suara yang berlawanan dengan itu.

Posted in General (Umum), Keselamatan | Leave a comment

BBC Mengajarkan Anak-Anak Sekolah di Inggris Bahwa Ada “Lebih dari 100 Gender”

(Berita Mingguan GITS 23 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “The BBC teaching British school children,” Creation.com, 14 Nov. 2019: “Stasiun media terkenal dari Inggris, BBC, telah merilis sembilan video online yang berjudul ‘The Big Talk’ untuk dipakai di sekolah-sekolah Inggris sebagai bagian dari kurikulum Edukasi tentang Hubungan dan Seksualitas, yang baru saja berlaku di Inggris mulai September 2019. Dalam film-film ini, yang rata-rata berdurasi empat menit, anak-anak diajarkan bahwa seks tidak berhubungan dengan gender, bahwa orang bisa masuk penjara karena ‘tidak menghormati atau bersikap benci’ (kepada orang dengan orientasi seksual yang berbeda), dan bahwa ada ‘lebih dari 100 identitas gender yang berbeda.’ … Siapapun yang mempertanyakan ideologi ini akan dianggap sebagai seorang yang sangat sesat. Namun, pengajaran BBC ini hanya akan menaburkan kebingungan besar di dalam masyarakat. Kebenaran yang pahit adalah bahwa suatu filosofi yang radikal dan berbahaya sedang dipaksakan kepada kaum yang muda dan rentan sebagai bagian dari usaha memajukan suatu ideologi politis yang ekstrim. Sangatlah mengkhawatirkan bahwa BBC sekarang mengkhotbahkan ‘doktrin inklusivitas’ yang baru ini kepada anak-anak yang masih berusia 9-12 tahun. … Materi dalam video-video BBC tersebut seharusnya membuat terkejtuh orang tua dan guru manapun yang peduli kepada kesehatan mental anak-anak, terutama yang mau membesarkan anak-anak sesuai dengan standar Alkitab. Kejadian 1:26-28 menyingkapkan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, sesuai dengan gambar dan rupaNya. Adam dan Hawa adalah pasangan pertama yang menikah dalam Kitab Suci, dan Yesus sendiri menegaskan definisi Alkitab tentang pernikahan sebagai seorang wanita dan seorang laki-laki untuk seumur hidup (Matius 19:4-6; Mar. 10:6-8). …Namun, dalam video-video BBC tersebut, anak-anak sekolah dihimbau untuk melanggar standar Firman Allah yang jelas dan untuk merayakan perilaku menyimpang. Hal ini dilakukan untuk memantik benang bom budaya dan moral. …Baru-baru ini, seorang akademisi Kanada, Christopher Dummitt, seorang pemimpin dalam bidang studi sejarah gender, dengan blak-blakan mengakui: ‘Semua orang mengarang sesuka hati saja. Inilah caranya ilmu pembelajaran gender berlaku.’ Dummitt mengakui bahwa bidang studinya didasari pada kepercayaan ideologis yang belum terbukti bahwa gender adalah sesuatu yang diciptakan oleh masyarakat, dan bahwa gender itu tidaklah biner (yaitu tidak hanya lelaki dan perempuan saja), dan bahwa maskulinitas tradisional memberikan kekuatan kepada laki-laki untuk menganiaya wanita. Pemikiran demikian telah mendominasi bidang liberal arts di institusi-institusi akademis Barat sejak tahun 1990an. Tetapi ideologi seperti itu, Dummitt mengakui, adalah ‘rusak total,’ tidak didasarkan pada fakta biologis.”

Posted in LGBT | Leave a comment

Apakah Roh Berdoa Telah Hilang?

(Berita Mingguan GITS 23 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Metropolitan Tabernacle di London, Inggris, pada masa penggembalaan Charles Spurgeon (1854-1882), adalah suatu contoh gereja yang berdoa. Khotbah di sana efektif dan gereja itu agresif dalam penginjilan (misal khotbah di jalan, pembagian traktat yang agresif, 27 Sekolah Minggu yang melayani lebih dari 8000 anak-anak dengan 612 guru). Ribuan orang diselamatkan dan dibuktikan dengan hidup yang berubah, dan Spurgeon menyatakan bahwa semua hal ini adalah berkat dari doa. “Spurgeon menganggap kebaktian doa sebagai ‘kebaktian yang paling penting dalam seminggu.’ Dia sering mengatakan bhawa tidaklah heran jika gereja-gereja tidak bertumbuh, ketika mereka menganggap kebaktian doa sedemikian tidak berarti, sehingga satu malam dalam seminggu dianggap cukup untuk kombinasi lemah dari kebaktian sekaligus pertemuan doa. …A.T. Pierson, yang melayani di Tabernacle selama masa sakit Spurgeon yang terakhir, mengatakan, ‘Metropolitan Tabernacle ini adalah sangat jelas sekali suatu rumah doa … doa dinaikkan terus hampir tiada henti. Ketika satu pertemuan tidak sedang berlangsung, ada yang lain yang sedang berlangsung. … Ada pertemuan-pertemuan doa sebelum khotbah, dan ada lagi setelah khotbah. …Tidak heran bahwa khotbah Mr. Spurgeon sedemikian diberkati. Dia sendiri mengatakan itu adalah terutama berkat doa yang berkuasa dari orang-orangnya’” (Wonders of Grace: Original testimonies of converts during Spurgeon’s early years, hal. 14). Spurgeon memperingatkan tentang sikap tidak berdoa yang menjadi ciri banyak gereja Baptis di zamannya. Dia mengatakan bahwa “penurunan” doktrin di Baptist Union adalah karena kondisi rohani yang lemah dari gereja-gereja itu. Dia menulis, “Apakah gereja-gereja berada dalam kondisi yang baik jika mereka hanya memiliki satu pertemuan untuk doa dalam seminggu, dan itupun hanya sekadarnya saja? Gereja-gereja yang memiliki pertemuan-pertemuan doa beberapa kali selama hari Tuhan, dan sering dalam seminggu, masih merasakan betapa mereka memerlukan lebih banyak lagi doa; tetapi bagaimana dengan mereka yang jarang mempraktekkan penaikan doa bersama? Apakah hanya ada sedikit pertobatan? Apakah jemaat semakin berkurang? Siapakah yang heran bahwa semua ini terjadi ketika roh berdoa telah hilang?” (The Sword and the Trowel, Aug. 1887).

Posted in Doa, General (Umum) | Leave a comment

Politisi Finlandia Dituduh “Membangkitkan Kebencian” Karena Buku Kecil “Ia Menciptakan Mereka Laki-Laki dan Perempuan”

(Berita Mingguan GITS 16 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Finnish Politician, Pastor’s Wife Accused,” Christian News Network, 5 Nov. 2019: “Seorang anggota dewan perwakilan rakyat dan istri gembala di Finlandia saat ini sedang diperiksa oleh polisi karena sebuah posting di media sosial. Dalam posting tersebut, dia mempertanyakan kerjasama yang dijalin oleh Gereja Luther Finland dengan sebuah event Helsinki Pride (Editor: suatu parade LGBT). Dalam pemeriksaan polisi ini, dia juga menghadapi pemeriksaan awal atas tuduhan “membangkitkan kebencian” karena sebuah buku kecil yang ia tulis 15 tahun lalu, yang berjudul “Ia Menciptakan Mereka Laki-Laki dan Perempuan.” Kantor Kejaksaan Agung Finlandia mengeluarkan pernyataan pers pada hari Senin, yang menyatakan bahwa walaupun tulisan yang diterbitkan oleh Paivi Rasanen pada tahun 2004 itu – yang masih tersedia online — ‘menyatakan sikap tentang kebijakan gerejawi, kebijakan sosial, seksualitas, dan pernikahan, berhubungan dengan Alkitab dan penafsirannya,’ Penuntut Raija Toiviainen percaya bahwa teks tersebut berpotensi menjadi ‘ujaran kebencian. … ‘Menurut Jaksa Agung, ada alasan untuk percaya bahwa karena pengecaman terhadap kaum homoseksual melalui pelanggaran kehormatan manusiawi mereka, Ms. Rasanen bersalah akan kejahatan “membangkitkan kebencian” terhadap kelompok tertentu,’ demikian dijelaskan. ‘Oleh karena itu, akan ada penyelidikan awal tentang masalah ini.’ … Sebagaimana telah dilaporkan sebelumnya, suami Rasanen adalah seorang gembala sidang di dalam Gereja Luther Finlandia, yang adalah denominasi terbesar di negara tersebut, dengan sekitar tiga juta anggota. … Rasanen terkenal sebagai seorang yang membela kehidupan dan pernikahan, melawan aborsi, euthanasia dan homoseksualitas. …Pada bulan Juni, Rasanen, seorang anggota dari Partai Kristen Demokrat, meng-tweet pandangannya mengenai dukungan yang tidak alkitabiah. ‘Bagaimana mungkin fondasi doktrinal Gereja, yaitu Alkitab, dapat berdampingan dengan pengangkatan sesuatu yang memalukan dan berdosa sebagai suatu sumber kebanggaan? #LGBT #HelsinkiPride2019 #Romans 1:24-27,’ dia tulis, sambil membagikan sebuah foto teks Alkitab yang berkaitan langsung dengan homoseksualitas. Namun, pada bulan September, diumumkan bahwa Rasanen telah dimasukkan dalam penyelidikan karena postingnya itu, dituduh ‘membangkitkan kebencian terhadap minoritas seksual dan gender.’ … Dia juga memberitahu Christian Broadcasting Network bahwa dia ‘khawatir kasus ini, yaitu penyelidikan kriminal, akan menakuti sebagian orang Kristen untuk bersembunyi dan tetap diam.’ ‘Kebenaran biasanya ada harganya. Seseorang harus membayar agar dapat ikut kebenaran, mengakui kebenaran dan menyatakannya. Dan sebaliknya, orang-orang digoda untuk menjual kebenaran, untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri dengan menyerah kepada ide-ide yang populer, namun palsu, dan dengan menyimpangkan kebenaran. Namun Alkitab menasihatkan, Belilah kebenaran, dan jangan menjualnya! Rasanen menyatakan dalam sebuah seminar tahun 2013, menurut teks dalam websitenya, … ‘Jika kita mengabaikan hak ini, maka ruang untuk berbicara akan semakin lama semakin kecil. Semakin kita diam tentang pengajaran Alkitab mengenai isu-isu yang menyakitkan di zaman kita, semakin keras penolaknnya Jika tidak ada cukup banyak orang yang ber-ski dalam jalur ski saat badai salju, maka akan sulit untuk bergerak maju. Kita perlu orang-orang yang ber-ski di depan kita.’”

Posted in LGBT, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Orang-Orang Muda yang Meninggalkan Gereja Tidak Kembali Lagi Belakangan

(Berita Mingguan GITS 9 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Riset berikut ini telah dikonfirmasi oleh banyak gereja Baptis Selatan dan Baptis fundamental yang sekarang dihuni oleh kebanyakan orang-orang tua. Orang-orang mudanya telah menghilang. Ini disadur dari ‘Young People Who Leave Church,’ Christian Post, 23 Okt. 2019: “Sementara para gembala telah sejak dulu bergantung pada ilmu sosial yang menunjukkan bahwa orang-orang muda yang meninggalkan gereja biasanya akan kembali lagi pada saat mereka lebih tua, maka sebuah analisis baru-baru ini mengenai tren tersebut, sepertinya menunjukkan bahwa fenomena ini tidak ada lagi. Dalam analisis yang dia lakukan terhadap data dari General Social Survey berkaitan dengan jendela waktu 5 tahunan orang-orang yang lahir mulai dari 1965 hingga 1984, dipublikasikan oleh Barna Group, Ryan Burge, seorang asisten profesor ilmu politik di Eastern Illinois University dan gembala dari First Baptist Church di Mt. Vernon, Illinois, memperlihatkan bahwa generasi-generasi yang lebih muda yang dibesarkan di gereja, biasanya tidak kembali lagi ke gereja jika dibandingkan dengan generasi ‘Baby-boomer’ yang lahir antara tahun 1945-1964. Dalam analisis Burge tentang generasi boomer, empat grup-5-tahunan yang berbeda menunjukkan adanya ‘penonjolan statistik yang khas’ yang didukung oleh ilmu sosial tradisional tentang ‘saatnya setiap kelompok kelahiran masuk ke rentang umur 36-45 tahun. Itu persis yang diprediksikan oleh efek siklus kehidupan: Orang-orang mulai berkeluarga, punya anak, dan mereka kembali ke gereja.’ Ketika ia mengamati data untuk kelompok umur yang lebih muda, 1965-1969, 1975-1979 dan 1980-1984, data menunjukkan memudarnya efek siklus kehidupan ini. Walaupun masih ada penonjolan statistik di antara mereka yang lahir antara 1965-1969, suatu pergeseran dalam efek siklus kehidupan mulai terlihat sejak sekitar tahun 1970. ‘Garis tren menjadi sepenuhnya datar – orang-orang itu tidak kembali ke gereja ketika mereka menginjak usia 30an. Kamu bisa melihat mulainya penonjolan statistik di antara orang yang lahir tahun 1975 dan 1979, tetapi dalam kelompok lahir berikutnya, penonjolan ini malah terbalik. Fenomena khas untuk kembali ke gereja – yangmenjadi pegangan bagi para gembala dan pemimpin gereja selama puluhan tahun – bisa jadi sedang memudar,’ kata Burge. Bagi siapapun yang peduli dengan pertumbuhan gereja, Burge berkata, ‘ini seharusnya membunyikan alarm.’” CATATAN DR. CLOUD: Tentu saja seharusnya ini “membunyikan alarm,” tetapi orang-orang muda tidak seharusnya meninggalkan gereja dari awalnya, dan kami tidak percaya bahwa ini adalah pertempuran yang sudah pasti kalah. Buku Keeping the Kids: How to Keep the Kids from Falling Prey to the World penuh dengan pertolongan alkitabiah yang praktis untuk rumah dan gereja dalam subjek yang penting ini. Tersedia gratis sebagai eBook di www.wayoflife.org.

Posted in Gereja, Pemuda/Remaja | Leave a comment