BBC Mengajarkan Anak-Anak Sekolah di Inggris Bahwa Ada “Lebih dari 100 Gender”

(Berita Mingguan GITS 23 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “The BBC teaching British school children,” Creation.com, 14 Nov. 2019: “Stasiun media terkenal dari Inggris, BBC, telah merilis sembilan video online yang berjudul ‘The Big Talk’ untuk dipakai di sekolah-sekolah Inggris sebagai bagian dari kurikulum Edukasi tentang Hubungan dan Seksualitas, yang baru saja berlaku di Inggris mulai September 2019. Dalam film-film ini, yang rata-rata berdurasi empat menit, anak-anak diajarkan bahwa seks tidak berhubungan dengan gender, bahwa orang bisa masuk penjara karena ‘tidak menghormati atau bersikap benci’ (kepada orang dengan orientasi seksual yang berbeda), dan bahwa ada ‘lebih dari 100 identitas gender yang berbeda.’ … Siapapun yang mempertanyakan ideologi ini akan dianggap sebagai seorang yang sangat sesat. Namun, pengajaran BBC ini hanya akan menaburkan kebingungan besar di dalam masyarakat. Kebenaran yang pahit adalah bahwa suatu filosofi yang radikal dan berbahaya sedang dipaksakan kepada kaum yang muda dan rentan sebagai bagian dari usaha memajukan suatu ideologi politis yang ekstrim. Sangatlah mengkhawatirkan bahwa BBC sekarang mengkhotbahkan ‘doktrin inklusivitas’ yang baru ini kepada anak-anak yang masih berusia 9-12 tahun. … Materi dalam video-video BBC tersebut seharusnya membuat terkejtuh orang tua dan guru manapun yang peduli kepada kesehatan mental anak-anak, terutama yang mau membesarkan anak-anak sesuai dengan standar Alkitab. Kejadian 1:26-28 menyingkapkan bahwa Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, sesuai dengan gambar dan rupaNya. Adam dan Hawa adalah pasangan pertama yang menikah dalam Kitab Suci, dan Yesus sendiri menegaskan definisi Alkitab tentang pernikahan sebagai seorang wanita dan seorang laki-laki untuk seumur hidup (Matius 19:4-6; Mar. 10:6-8). …Namun, dalam video-video BBC tersebut, anak-anak sekolah dihimbau untuk melanggar standar Firman Allah yang jelas dan untuk merayakan perilaku menyimpang. Hal ini dilakukan untuk memantik benang bom budaya dan moral. …Baru-baru ini, seorang akademisi Kanada, Christopher Dummitt, seorang pemimpin dalam bidang studi sejarah gender, dengan blak-blakan mengakui: ‘Semua orang mengarang sesuka hati saja. Inilah caranya ilmu pembelajaran gender berlaku.’ Dummitt mengakui bahwa bidang studinya didasari pada kepercayaan ideologis yang belum terbukti bahwa gender adalah sesuatu yang diciptakan oleh masyarakat, dan bahwa gender itu tidaklah biner (yaitu tidak hanya lelaki dan perempuan saja), dan bahwa maskulinitas tradisional memberikan kekuatan kepada laki-laki untuk menganiaya wanita. Pemikiran demikian telah mendominasi bidang liberal arts di institusi-institusi akademis Barat sejak tahun 1990an. Tetapi ideologi seperti itu, Dummitt mengakui, adalah ‘rusak total,’ tidak didasarkan pada fakta biologis.”

Posted in LGBT | Leave a comment

Apakah Roh Berdoa Telah Hilang?

(Berita Mingguan GITS 23 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Metropolitan Tabernacle di London, Inggris, pada masa penggembalaan Charles Spurgeon (1854-1882), adalah suatu contoh gereja yang berdoa. Khotbah di sana efektif dan gereja itu agresif dalam penginjilan (misal khotbah di jalan, pembagian traktat yang agresif, 27 Sekolah Minggu yang melayani lebih dari 8000 anak-anak dengan 612 guru). Ribuan orang diselamatkan dan dibuktikan dengan hidup yang berubah, dan Spurgeon menyatakan bahwa semua hal ini adalah berkat dari doa. “Spurgeon menganggap kebaktian doa sebagai ‘kebaktian yang paling penting dalam seminggu.’ Dia sering mengatakan bhawa tidaklah heran jika gereja-gereja tidak bertumbuh, ketika mereka menganggap kebaktian doa sedemikian tidak berarti, sehingga satu malam dalam seminggu dianggap cukup untuk kombinasi lemah dari kebaktian sekaligus pertemuan doa. …A.T. Pierson, yang melayani di Tabernacle selama masa sakit Spurgeon yang terakhir, mengatakan, ‘Metropolitan Tabernacle ini adalah sangat jelas sekali suatu rumah doa … doa dinaikkan terus hampir tiada henti. Ketika satu pertemuan tidak sedang berlangsung, ada yang lain yang sedang berlangsung. … Ada pertemuan-pertemuan doa sebelum khotbah, dan ada lagi setelah khotbah. …Tidak heran bahwa khotbah Mr. Spurgeon sedemikian diberkati. Dia sendiri mengatakan itu adalah terutama berkat doa yang berkuasa dari orang-orangnya’” (Wonders of Grace: Original testimonies of converts during Spurgeon’s early years, hal. 14). Spurgeon memperingatkan tentang sikap tidak berdoa yang menjadi ciri banyak gereja Baptis di zamannya. Dia mengatakan bahwa “penurunan” doktrin di Baptist Union adalah karena kondisi rohani yang lemah dari gereja-gereja itu. Dia menulis, “Apakah gereja-gereja berada dalam kondisi yang baik jika mereka hanya memiliki satu pertemuan untuk doa dalam seminggu, dan itupun hanya sekadarnya saja? Gereja-gereja yang memiliki pertemuan-pertemuan doa beberapa kali selama hari Tuhan, dan sering dalam seminggu, masih merasakan betapa mereka memerlukan lebih banyak lagi doa; tetapi bagaimana dengan mereka yang jarang mempraktekkan penaikan doa bersama? Apakah hanya ada sedikit pertobatan? Apakah jemaat semakin berkurang? Siapakah yang heran bahwa semua ini terjadi ketika roh berdoa telah hilang?” (The Sword and the Trowel, Aug. 1887).

Posted in Doa, General (Umum) | Leave a comment

Politisi Finlandia Dituduh “Membangkitkan Kebencian” Karena Buku Kecil “Ia Menciptakan Mereka Laki-Laki dan Perempuan”

(Berita Mingguan GITS 16 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Finnish Politician, Pastor’s Wife Accused,” Christian News Network, 5 Nov. 2019: “Seorang anggota dewan perwakilan rakyat dan istri gembala di Finlandia saat ini sedang diperiksa oleh polisi karena sebuah posting di media sosial. Dalam posting tersebut, dia mempertanyakan kerjasama yang dijalin oleh Gereja Luther Finland dengan sebuah event Helsinki Pride (Editor: suatu parade LGBT). Dalam pemeriksaan polisi ini, dia juga menghadapi pemeriksaan awal atas tuduhan “membangkitkan kebencian” karena sebuah buku kecil yang ia tulis 15 tahun lalu, yang berjudul “Ia Menciptakan Mereka Laki-Laki dan Perempuan.” Kantor Kejaksaan Agung Finlandia mengeluarkan pernyataan pers pada hari Senin, yang menyatakan bahwa walaupun tulisan yang diterbitkan oleh Paivi Rasanen pada tahun 2004 itu – yang masih tersedia online — ‘menyatakan sikap tentang kebijakan gerejawi, kebijakan sosial, seksualitas, dan pernikahan, berhubungan dengan Alkitab dan penafsirannya,’ Penuntut Raija Toiviainen percaya bahwa teks tersebut berpotensi menjadi ‘ujaran kebencian. … ‘Menurut Jaksa Agung, ada alasan untuk percaya bahwa karena pengecaman terhadap kaum homoseksual melalui pelanggaran kehormatan manusiawi mereka, Ms. Rasanen bersalah akan kejahatan “membangkitkan kebencian” terhadap kelompok tertentu,’ demikian dijelaskan. ‘Oleh karena itu, akan ada penyelidikan awal tentang masalah ini.’ … Sebagaimana telah dilaporkan sebelumnya, suami Rasanen adalah seorang gembala sidang di dalam Gereja Luther Finlandia, yang adalah denominasi terbesar di negara tersebut, dengan sekitar tiga juta anggota. … Rasanen terkenal sebagai seorang yang membela kehidupan dan pernikahan, melawan aborsi, euthanasia dan homoseksualitas. …Pada bulan Juni, Rasanen, seorang anggota dari Partai Kristen Demokrat, meng-tweet pandangannya mengenai dukungan yang tidak alkitabiah. ‘Bagaimana mungkin fondasi doktrinal Gereja, yaitu Alkitab, dapat berdampingan dengan pengangkatan sesuatu yang memalukan dan berdosa sebagai suatu sumber kebanggaan? #LGBT #HelsinkiPride2019 #Romans 1:24-27,’ dia tulis, sambil membagikan sebuah foto teks Alkitab yang berkaitan langsung dengan homoseksualitas. Namun, pada bulan September, diumumkan bahwa Rasanen telah dimasukkan dalam penyelidikan karena postingnya itu, dituduh ‘membangkitkan kebencian terhadap minoritas seksual dan gender.’ … Dia juga memberitahu Christian Broadcasting Network bahwa dia ‘khawatir kasus ini, yaitu penyelidikan kriminal, akan menakuti sebagian orang Kristen untuk bersembunyi dan tetap diam.’ ‘Kebenaran biasanya ada harganya. Seseorang harus membayar agar dapat ikut kebenaran, mengakui kebenaran dan menyatakannya. Dan sebaliknya, orang-orang digoda untuk menjual kebenaran, untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri dengan menyerah kepada ide-ide yang populer, namun palsu, dan dengan menyimpangkan kebenaran. Namun Alkitab menasihatkan, Belilah kebenaran, dan jangan menjualnya! Rasanen menyatakan dalam sebuah seminar tahun 2013, menurut teks dalam websitenya, … ‘Jika kita mengabaikan hak ini, maka ruang untuk berbicara akan semakin lama semakin kecil. Semakin kita diam tentang pengajaran Alkitab mengenai isu-isu yang menyakitkan di zaman kita, semakin keras penolaknnya Jika tidak ada cukup banyak orang yang ber-ski dalam jalur ski saat badai salju, maka akan sulit untuk bergerak maju. Kita perlu orang-orang yang ber-ski di depan kita.’”

Posted in LGBT, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Orang-Orang Muda yang Meninggalkan Gereja Tidak Kembali Lagi Belakangan

(Berita Mingguan GITS 9 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Riset berikut ini telah dikonfirmasi oleh banyak gereja Baptis Selatan dan Baptis fundamental yang sekarang dihuni oleh kebanyakan orang-orang tua. Orang-orang mudanya telah menghilang. Ini disadur dari ‘Young People Who Leave Church,’ Christian Post, 23 Okt. 2019: “Sementara para gembala telah sejak dulu bergantung pada ilmu sosial yang menunjukkan bahwa orang-orang muda yang meninggalkan gereja biasanya akan kembali lagi pada saat mereka lebih tua, maka sebuah analisis baru-baru ini mengenai tren tersebut, sepertinya menunjukkan bahwa fenomena ini tidak ada lagi. Dalam analisis yang dia lakukan terhadap data dari General Social Survey berkaitan dengan jendela waktu 5 tahunan orang-orang yang lahir mulai dari 1965 hingga 1984, dipublikasikan oleh Barna Group, Ryan Burge, seorang asisten profesor ilmu politik di Eastern Illinois University dan gembala dari First Baptist Church di Mt. Vernon, Illinois, memperlihatkan bahwa generasi-generasi yang lebih muda yang dibesarkan di gereja, biasanya tidak kembali lagi ke gereja jika dibandingkan dengan generasi ‘Baby-boomer’ yang lahir antara tahun 1945-1964. Dalam analisis Burge tentang generasi boomer, empat grup-5-tahunan yang berbeda menunjukkan adanya ‘penonjolan statistik yang khas’ yang didukung oleh ilmu sosial tradisional tentang ‘saatnya setiap kelompok kelahiran masuk ke rentang umur 36-45 tahun. Itu persis yang diprediksikan oleh efek siklus kehidupan: Orang-orang mulai berkeluarga, punya anak, dan mereka kembali ke gereja.’ Ketika ia mengamati data untuk kelompok umur yang lebih muda, 1965-1969, 1975-1979 dan 1980-1984, data menunjukkan memudarnya efek siklus kehidupan ini. Walaupun masih ada penonjolan statistik di antara mereka yang lahir antara 1965-1969, suatu pergeseran dalam efek siklus kehidupan mulai terlihat sejak sekitar tahun 1970. ‘Garis tren menjadi sepenuhnya datar – orang-orang itu tidak kembali ke gereja ketika mereka menginjak usia 30an. Kamu bisa melihat mulainya penonjolan statistik di antara orang yang lahir tahun 1975 dan 1979, tetapi dalam kelompok lahir berikutnya, penonjolan ini malah terbalik. Fenomena khas untuk kembali ke gereja – yangmenjadi pegangan bagi para gembala dan pemimpin gereja selama puluhan tahun – bisa jadi sedang memudar,’ kata Burge. Bagi siapapun yang peduli dengan pertumbuhan gereja, Burge berkata, ‘ini seharusnya membunyikan alarm.’” CATATAN DR. CLOUD: Tentu saja seharusnya ini “membunyikan alarm,” tetapi orang-orang muda tidak seharusnya meninggalkan gereja dari awalnya, dan kami tidak percaya bahwa ini adalah pertempuran yang sudah pasti kalah. Buku Keeping the Kids: How to Keep the Kids from Falling Prey to the World penuh dengan pertolongan alkitabiah yang praktis untuk rumah dan gereja dalam subjek yang penting ini. Tersedia gratis sebagai eBook di www.wayoflife.org.

Posted in Gereja, Pemuda/Remaja | Leave a comment

John MacArthur Memberitahu Pengkhotbah Wanita, Beth Moore, untuk “Pulang”

(Berita Mingguan GITS 2 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Di Konferensi Truth Matters, yang diadakan di Grace Community Church, gereja MacArthur sendiri, tanggal 16-18 Oktober 2019, John MacArthur ditanya dalam sesi tanya jawab tentang Beth Moore. MacArthur menjawab dengan dua kata, “go home” atau “pulang” dalam bahasa Indonesia. Dia melanjutkan dengan penjelasan berikut, “Tidak ada pembenaran yang bisa dibuat secara alkitabiah untuk seorang pengkhotbah wanita. Titik. Paragraf. Akhir diskusi. … Saya lihat ini adalah feminisme yang telah masuk ke gereja. Inilah mengapa kita tidak boleh membiarkan kebudayaan sekeliling kita mengeksegesis Alkitab.” Ini adalah nasihat yang 100% alkitabiah, dan MacArthur tidak akan menyesalinya di hadapan takhta pengadilan Kristus nanti. Walaupun kita tidak dapat menerima theologi Reformed milik MacArthur, kita sangat mengapresiasi pengkhotbah-pengkhotbah yang berani dalam era yang penuh pengecut ini. Dan dia mengatakan kata-kata ini dalam acara peringatan 50 tahun pelayanannya. Pada bulan Mei tahun ini, Beth Moore mengatakan bahwa dia tiba pada kesimpulan bahwa kaum lelaki yang menentang pengkhotbah wanita adalah orang-orang yang iri hati dan kedagingan. Rupanya Beth Moore ini mendapat wahyu atau bagaimana begitu, sehingga dia memiliki kemampuan untuk menghakimi hati dan motivasi orang lain. Setelah Owen Strachan, profesor SBC di Midwestern Baptist Theological Seminary, menegornya lewat akun Twitter-nya, dengan berkata “wanita tidak seharusnya khotbah di Minggu pagi kepada seluruh jemaat,” Moore secara publik menegor dia dengan Twitter-nya juga, berkata, “Saya akan ketakutan untuk menjadi wanita yang kamu setujui.” Dengan berkata demikian, Beth Moore mengakui bahwa dia menolak untuk menjadi wanita yang akan disetujui Rasul Paulus, karena Rasul Paulus-lah yang dengan keras berkata, “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri” (1 Tim. 2:12). Beth Moore tidak pintar berdiam diri, ataupun, sepertinya untuk menunjukkan “roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah” (1 Pet. 3:4). Dia menyebut posisi Owen yang sebenarnya alkitabiah itu sebagai “seksisme dan misogini.” Tidak mengejutkan, MacArthur dikritik secara luas, termasuk oleh J. D. Greear, presiden dari Southern Baptist Convention, dan Danny Akin, presiden dari Southeastern Baptist Theological Seminary. Ada sebagian orang yang mengritik MacArthur karena pandangannya, dan ada yang mengritiknya karena “nada” yang dia gunakan. Tetapi orang-orang yang merasa bahwa John MacArthur terlalu keras, perlu menghabiskan lebih banyak waktu dengan para pengkhotbah Alkitab zaman dulu yang dipuji oleh Tuhan, misalnya Henokh, yang berkata tentang generasi sekarang ini, “Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas ORANG-ORANG FASIK karena semua PERBUATAN FASIK, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan ORANG-ORANG BERDOSA YANG FASIK itu terhadap Tuhan” (Yudas 15). Kira-kira bagaimana “nada” bicara demikian? Saya bertanya-tanya apakah Henokah juga seorang misoginis (istilah untuk “pembenci wanita”)?

Posted in Gereja, Wanita | Leave a comment

Posisi Steven Anderson tentang Homoseksualitas vs Pengajaran Alkitab

(Berita Mingguan GITS 2 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Pada waktu terjadi penembakan di sebuah nightclub di Orlando, 2016, Steven Anderson mengatakan “Kabar baiknya adalah bahwa berkurang lagi 50 orang pedofilia di dunia, karena orang-orang homoseksual ini adalah sekumpulan orang aneh najis dan pedofilia” (“Gay Hating Preacher,” Sunday Express, 16 Sept. 2016). Dia berkata bahwa sayang sekali bagi ada sebagian homoseksual di nightclub itu yang berhasil selamat. Tentang selebriti transgender, Bruce (Caitlyn) Jenner, Anderson mengatakan dalam sebuah khotbah, “Dengarkan saya – saya membenci dia dengan kebencian yang sempurna. Saya tidak memiliki kasih terhadap si monster Bruce ini. Saya berharap dia mati hari ini, saya berharap dia mati dan masuk neraka – dia memuakkan, dia kotor, dia reprobat” (Adam Salandra, “Pastor Prays Caitlyn Jenner’s Heart Explodes,” NewNowNex, n.d.). Anderson mengajarkan bahwa tidak ada harapan bagi kaum homoseksual untuk diselamatkan. Dalam video-nya, “Born That Way?” dia mengatakan, “Ya, saya hanya berkata bahwa Alkitab mengajarkan di banyak tempat bahwa bisa saja sudah terlambat bagi seseorang sebelum titik tersebut, jika mereka menolak Kristus cukup banyak kali. Dan saya akan berkata bahwa kaum homoseksual jatuh pada kategori ini.” Dia mengatakan, “Tidak ada orang queer yang diperbolehkan masuk gereja ini. Tidak ada orang homo yang diperbolehkan masuk gereja ini selama saya gembala di sini. Tidak akan pernah!” Ini adalah kegilaan yang tidak alkitabiah. Orang berdosa manapun seharusnya disambut untuk masuk kebaktian gereja sebagai pengunjung, selama mereka tidak menimbulkan kekacauan, karena amanat bagi gereja adalah untuk mengundang semua orang kepada keselamatan dari Allah. Kristus membuat pendamaian bagi seluruh dunia (1 Yoh. 2:2), yang berarti bahwa Dia membuat keselamatan mungkin bagi semua orang, dan Dia memerintahkan agar Injil diberitakan “kepada segala makhluk” (Mar. 16:15), dan segala makhluk artinya segala makhluk! Dalam minggu manapun, bisa saja ada pezinah, homoseksual, orang yang berpoligami, penyembah berhala, pencuri, pembohong, ataupun orang yang mengikuti Iblis masuk ke kebaktian gereja kami. Siapapun bebas untuk mendengarkan pemberitaan Firman Allah. Di sisi lain, untuk masuk keanggotaan gereja, diperlukan keselamatan melalui kelahiran kembali, dan ini perlu dibuktikan. Keanggotaan gereja di Korintus digambarkan sebagai berikut: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Dan BEBERAPA ORANG DI ANTARA KAMU DEMIKIANLAH DAHULU. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” (1 Korintus 6:9-11). Kita melihat di sini bahwa kaum homoseksual dapat diselamatkan dan mengalami hidup yang berubah dalam Yesus Kristus, dan mereka diselamatkan dengan cara yang sama dengan orang berdosa lainnya: dengan bertobat dari dosa mereka melawan Allah dan percaya pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat dengan segenap hati. “Aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus” (Kis. 20:21). Namun, Steven Anderson tidak percaya bahwa Alkitab mengharuskan pertobatan, dan ini adalah kesesatan utama dia.

Posted in LGBT | Leave a comment

Bagaimana Himne Karangan Charles Wesley Menyelamatkan Nyawa Seorang Prajurit dalam Perang Saudara Amerika

(Berita Mingguan GITS 2 November 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari Dr. Julian’s Hymnology: “Selama Perang Saudara Amerika, pasukan Federal (utara) dan pasukan Confederate (selatan) yang saling bertikai, sedang berhadap-hadapan satu sama lain dalam kesempatan tertentu. Suatu malam, seorang prajurit jaga malam dari pasukan Confederate sedang bertugas, ketika ia mendengar suara nyanyian dari posisi pasukan Federal. Dia bergerak dengan lambat ke arah pasukan musuh itu, dan mengamati seorang jaga malam musuh yang sedang mondar mandir sambil menyanyikan lagu “Yesus, Pengasih Jiwaku.” Menaruh senapannya ke atas bahunya, ia hampir mau menembak, ketika si prajurit penyanyi itu sampai pada kata-kata ‘Jagalah kepalaku yang tak berperlindungan ini dengan bayangan sayapMu.’ Kata-kata ini terlalu menyentuh bagi si prajurit Confederate, dan dia menurunkan senjatanya, membiarkan calon korbannya itu pergi tanpa cidera. Banyak tahun berlalu, dan si prajurit Confederate, yang kini menjaid rakyat biasa, sedang naik sebuah perahu uap ke Sungai Potomac, ketika dia mendengar seorang penginjil menyanyikan himne ini. Ingatannya dibangkitkan, dan karena merasa bahwa ia mengenali suara tersebut, dia mendekati si penyanyi dan setelah bercakap-cakap menemukan bahwa si penginjil memang adalah prajurit jaga yang hampir dia tembak. Betapa besar sukacita mereka bersama ketika dia menyingkapkan bahaya yang mengancam si penyanyi itu, dan bagaimana ia diselamatkan dari bahaya itu banyak tahun yang lalu, ketika ia saat jaga malam, meminta perlindungan ilahi dengan menyanyikan lagu “Yesus, Pengasih Jiwaku.”

Posted in musik | Leave a comment

Sekolah Illinois Mencuci Otak Anak-Anak PAUD dengan Agenda LGBT

(Berita Mingguan GITS 26 Oktober 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Illinois Schools Promoting Transgenders to Preschoolers,” The Stream, 14 Okt. 2019: “Semua sekolah umum di Illinois sekarang harus mengajarkan sejarah LGBT. Mereka hanya boleh membeli buku sejarah yang memasukkan hal tersebut. Dan suatu ide yang sangat spesifik tentang sejarah tersebut. ‘Undang-Undang Kurikulum Inklusif’ ditandatangani pada bulan Agustus. UU ini akan mulai berlaku sejak 1 Juli 2020, untuk membiarkan para guru mempersiapkan bahan pelajaran tahun ajaran 2020-2021. Hukum ini juga melingkupi sejarah kelompok wanita dan minoritas. California, Colorado, New Jersey, dan Oregon, juga telah mengesahkan undang-undang yang serupa. Mengapa? Kepala dari grup lobi LGBT, Equity Illinois, menjelaskan. ‘Sebagai mantan guru kelas satu, saya tahu bagaimana sistem pendidikan yang inklusif dapat menciptakan perubahan dalam sebuah komunitas.’ … Undang-Undang ini hanyalah memaksakan apa yang sudah dilakukan oleh banyak sistem sekolah. Misalnya, sekolah-sekolah di Evanston/Skokie. Sistem sekolah di sini menampilkan kurikulum minggu LGBT-nya secara online. Anak-anak preschool (PAUD) dan TK akan ‘menjelajahi konsep-konsep tentang keluarga, mainan dengan jenis kelamin tertentu, dan stereotip berpakaian, warna dan arti, bendera, menjadi teman, dan identitas.’ Anak-anak kelas 1 akan belajar untuk menggunakan kata ganti ‘they’ untuk seorang individu. Anak-anak kelas 4 dan 5 akan menonton sebuah film dokumentar PBS tentang seorang anak perempuan yang memimpikan menjadi pemimpin dari pasukan Hula yang eksklusif laki-laki. … Kurikulum ini mengajarkan anak-anak untuk menyetujui keluarga yang dipimpin oleh orang tua sesama jenis. Salah satu caranya adalah untuk membandingkan keluarga demikian dengan keluarga yang orang tuanya dari suku berbeda dan keluarga adopsi. Cara kedua adalah dengan menormalisasi hal ini. Dalam sebuah video, seorang anak lelaki berkata bahwa dia memiliki dua orang ayah dan dua orang ibu. Materi-materi yang disuguhkan termasuk foto-foto pasangan sesama jenis bersama anak-anak, yang mengajarkan para murid untuk menyebut ini sebagai sebuah keluarga. … Kurikulum mengambarkan orang-orang transgender sebagai orang-orang yang membuat keputusan yang sangat normal. Tetapi berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa 20% orang yang transgender, akhirnya kembali ke jenis kelamin awal mereka. Hal ini sering terjadi setelah seorang muda diterapi dengan hormon dan melakukan operasi ganti kelamin. Mereka lalu sangat menyesal telah melakukan perubahan-perubahan fisik tersebut. Kurikulum ini tidak memperingatkan anak-anak mengenai hal ini. Mereka tidak diberitahu bahwa banyak orang transgender menyadari kesalahan mereka dan berbalik. Anak-anak juga tidak diberitahu bahwa 41% dari kaum transgender akan mencoba untuk bunuh diri. Juga bahwa penyakit mental mendera 60-90% dari kaum transgender. Dan bagaimana dengan sudut pandang yang lain? Banyak orang tua dengan keras tidak setuju dengan ide-ide di balik transgenderisme. Orang-orang Kristen, Yahudi, dan Muslim berpegang kepada kepercayaan yang berbeda tentang lelaki dan perempuan. Kurikulum ini tidak menawarkan alternatif kepada ide LGBT, tidak menjelaskan bagaimana sebagian agama menentang gaya hidup demikian. Ini adalah ‘pendidikan’ satu sisi. Ia tidak mengajarkan anak-anak unutk memikirkan isu ini. Perbedaan pendapat tidak diperbolehkan. Anak-anak hanya diizinkan untuk menyetujui gaya hidup LGBT, dan mereka didorong keras ke arah sana.”

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, LGBT | Leave a comment

Pemerintah Cina Menghancurkan Sebuah Gereja Besar

(Berita Mingguan GITS 26 Oktober 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “China: Authorities forcibly demolish ‘illegal’ church,” Christian Post, 15 Okt. 2019: “Para pejabat Komunis menghancurkan sebuah gereja di propinsi Henan, Cina, dengan alasan gereja itu melakukan ‘pencarian dana ilegal.’ Penghancuran gedung gereja itu dilakukan setelah mengusir secara paksa para jemaat, dan dalam proses melukai dua orang tua. Menurut kelompok pengamat penganiayaan di Cina, Bitter Winter, gedung Gereja True Jesus tersebut diratakan sama sekali ke tanah. Sebuah lapangan baru yang ditanami pohon-pohon kecil menggantikan gedung gereja tersebut, sama sekali menghilangkan jejak-jejak eksistensinya. …Setelah menggeledah gereja tersebut dengan seksama, polisi mengambil pergi sebuah piano dan empat unit AC. Lalu, delapan excavator mulai menghancurkan gedung gereja, dengan nilai sekitar 10 juta RMB (sekitar $1.400.000). Para pejabat terus menganiaya para anggot jemaat bahkan setelah gedung gereja tersebut dirobohkan. …Pada bulan September, dilaporkan bahwa para pejabat pemerintah Cina menuntut agar para pendeta yang berafiliasi dengan gereja Protestan yang disetujui oleh negara, mendasarkan khotbah mereka kepada sebuah buku baru yang menggabungkan pengajaran alkitabih dengan pengajaran Kong Fu Chu, salah satu filsuf yang paling berpengaruh dalam sejarah Cina. …Pada awal tahun 2018, rezim komunis mengeluarkan peraturan baru tentang masalah agama di Cina, yang melarang pengajaran agama yang ‘tidak disetujui.’ … Baru-baru ini, dituduhkan oleh China Tribunal di sebuah pertemuan Dewan Hak Asasi Manusia di PBB, bahwa pemerintah Cina telah membunuh ‘ratusan ribu’ anggota minoritas Uighur Muslim dan Falun Gong, untuk mengambil organ-organ mereka. …Open Doors USA memberikan peringkat nomor 27 kepada Cina sebagai negara terburuk di dunia berkaitan dengan penganiayaan terhadap orang Kristen dalam Daftar Dunia tahun 2019 mereka.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment

Pengadilan Inggris dalam Kasus Transgender: Percaya Alkitab ‘Tidak Kompatibel’ dengan Kehormatan Manusia

(Berita Mingguan GITS 12 Oktober 2019, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “British Court,” The Daily Wire, 2 Okt. 2019: “Pada hari Selasa, sebuah pengadilan Inggris memutuskan bahwa kepercayaan pada Alkitab ‘tidaklah kompatibel dengan kehormatan manusia.’ Pernyataan tersebut muncul dalam sebuah kasus yang melibatkan Dr. David Mackereth, seorang Kristen yang saleh yang telah bekerja sebagai seorang dokter gawat darurat untuk National Health Service selama 26 tahun. Dia mengatakan bahwa dia dipecat dari pekerjaannya karena ia menolak untuk memanggil seorang lelaki biologis sebagai seorang wanita. Keputusan pengadilan tersebut menyatakan: ‘Kepercayaan pada Kejadian 1:27, tidak percaya pada transgenderisme, dan penolakan nurani atas transgenderisme, dalam pandangan kami, tidaklah kompatibel dengan kehormatan manusia dan berkonflik dengan hak-hak mendasar orang lain, secara khusus di sini, dengan individu-individu transgender.’ Pengadilan menambahkan, ‘…sejauh kepercayaan-kepercayaan tersebut membentuk bagian dari iman dia yang lebih luas, maka iman dia yang lebih luas itu juga tidak memenuhi persyaratan layak dihormati dalam sebuah masyarakat yang demokratis, tidak kompatibel dengan kehormatan manusia dan berkonflik dengan hak-hak mendasar dari orang-orang lain.’ The Telegraph melaporkan bahwa Mackereth mengatakan dia dikeluarkan dari pekerjaannya di Department of Work and Pensions (DWP) pada akhir Juli 2018 setelah bosnya ‘menginterogasi’ dia tentang keyakinan-keyakinan imannya yang pribadi. Mackereth memberitahu pengadilan pada bulan Juli bahwa manajer di atasnya bertanya kepadanya, ‘Jika ada seorang lelaki setinggi 185 cm dengan brewok datang dan berkata bahwa dia ingin disebut sebagai nyonya dan diacu dengan kata ganti she (dia perempuan), apakah kamu akan melakukannya?’ Mackereth mengatakan bahwa karena kepercayaan imannya, dia tidak dapat melakukan hal itu, dan ia lalu diberhentikan dari pekerjaannya. CBN melaporkan bahwa pengacara Mackereth, Michael Phillips, memberitahu pengadilan, ‘Imannya adalah pada kebenaran Alkitab, dan terutama, kebenaran Kejadian 1:27: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarNya, menurut gambar Allah diciptakanNya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka.” Dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang diciptakan oleh Allah adalah laki-laki atau perempuan. Seseorang tidak dapat mengubah jenis kelaminnya sesukanya. Setiap usaha, atau kebohongan, untuk melakukan hal tersebut, tidaklah berguna, menghancurkan diri sendiri, dan adalah berdosa.’ … Mackereth merespon terhadap keputusan pengadilan tersebut, menyatakan, ‘Saya tidak sendirian dalam keprihatinan mendalam terhadap hasil ini. Staf di NHS, bahkan yang tidak memiliki keyakinan iman Kristen saya, juga prihatin karena mereka melihat kebebasan berpikir atau berpendapat mereka sendiri diserang oleh keputusan para hakim ini. Tidak ada dokter, atau periset, atau filsuf, yang dapat mendemonstrasikan atau membuktikan bahwa seseorang dapat mengubah jenis kelaminnya. Tanpa integritas intelektual dan moral, ilmu kedokteran tidak dapat berfungsi dan 30 tahun saya sebagai seorang dokter sekarang dianggap tidak relevan dibandingkan resiko bahwa seseorang dapat tersinggung.’ … Mackereth mengatakan bahwa ia akan naik banding terhadap keputusan tersebut.”

Posted in LGBT, Penganiayaan / Persecution | Leave a comment