Gereja-Gereja Baptis Zaman Dulu dan Pendisiplinan

(Berita Mingguan GITS 10 November 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Abraham Marshall (1748-1819) adalah contoh tipe orang yang menggembalakan gereja-gereja Baptis di Amerika pada awal abad 19. Dia adalah anak dari Daniel Marshall, pendiri dari gereja Baptis pertama di Georgia (Kiokee Baptist, didirikan tahun 1772). Abraham menggembalakan gereja Kiokee Baptist selama 37 tahun setelah kematian ayahnya. Dia juga menjalankan pelayanan keliling. Dalam suatu perjalanan keliling yang berat selama enam bulan pada tahun 1786, dia menjelajah 3000 mil di atas kuda, mengunjungi 11 negara bagian, dan berkhotbah minimal 197 kali. “Catatan gereja menyingkapkan bahwa Marshall dan gerejanya menjalankan disiplin yang ketat, tetapi mereka tidak terburu-buru atau sembarangan. Mereka menunjukkan kesabaran dan hanya menjalankan disiplin ketika seruan dan nasihat mereka diabaikan atau ditolak. Mereka lambat mendisiplin dan cepat memaafkan, menyambut kembali ke dalam gereja siapapun yang menunjukkan sikap rendah hati dan pertobatan. Marshall adalah seorang gembala sidang yang penuh kasih dan lembut, tetapi pada saat yang sama dia adalah seseorang dengan keyakinan yang kuat – terutama mengenai kesetiaan kepada Kristus dan jemaatNya. Ketika dia melihat umatnya tidak perhatian atau menelantarkan tugas-tugas Kristiani mereka, dia cepat menasihati dan jika perlu menegor tindakan mereka. Salah satu topik yang membangkitkan kejengkelan Marshall adalah anggota-anggota jemaat yang memuati kereta kuda mereka di akhir minggu dan pergi ke pasar di Augusta dan tidak kembali untuk ikut kebaktian Minggu. …Sebagai seorang gembala dia mengharapkan semua kepala keluarga untuk memimpin waktu doa, pembacaan Alkitab, dan renungan harian. …Tujuan Marshall adalah untuk menghasilkan umat yang menaruh Kristus dan jemaatNya sebagai prioritas dalam kehidupan mereka” (Thomas Ray, Daniel and Abraham Marshall: Pioneer Baptist Evangelists to the South, hal. 36, 37).

Posted in Gereja, Sejarah dan Doktrin Baptis | Leave a comment

Persiapan untuk Bait Ketiga Bergerak Penuh

(Berita Mingguan GITS 3 November 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah laporan di majalah Israel Today, bulan ini mengatakan, “Persiapan untuk Bait Ketiga bergerak penuh.” Selama Hari Raya Pondok Daun (Sukkot), orang-orang Lewi dalam jubah putih menimba air dari Kolam Siloam kuno, untuk melakukan tradisi Talmud “Penuangan Air.” Seremoni ini disebut “Simchat Beit HaShoeva” (“Bersukacita pada tempat penimbaan air”) dan didasarkan pada nubuat di Yesaya 12:3, “Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.” Konteks perikop itu, yang diabaikan oleh penafsiran Talmud, adalah pertobatn Israel dan pendirian kerajaan Kristus. Perikop ini akan digenapi ketika Israel bisa benar-benar mengatakan, “Allah itu keselamatanku” (Yes. 12:2). Pada hari itu, nama TUHAN akan “diketahui di seluruh bumi” (Yes. 12:5). Hal-hal ini belum terjadi hari ini. Alkitab menyinggung Bait Ketiga sebanyak empat kali, mulai dari nubuat Daniel, tetapi setiap kali disebut, Bait ini selalu terkait dengan antikristus. Lihat Daniel 9:27; Matius 24:15-21; 2 Tesalonika 2:4; Wahyu 11:1-3. “Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel para pembaca hendaklah memperhatikannya maka orang-orang yang di Yudea haruslah melarikan diri ke pegunungan . . . Sebab pada masa itu akan terjadi siksaan yang dahsyat seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi . . . Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Mat. 24:15-16, 21, 29-30).

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Israel | Leave a comment

Enzim Diperlukan untuk Kehidupan

(Berita Mingguan GITS 3 November 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Seeing the Non-existent: Evolution’s Myths and Hoaxes, David Cloud, copyright 2011: “Sel memerlukan aktivitas protein-protein yang disebut enzim, yang adalah katalis yang memfasilitasi dan mempercepat reaksi-reaksi kimia. Michael Pitman, yang mengajar biologi di Cambridge, menulis: ‘Enzimologis terkemuka, M. Dixon, berkomentar, ‘Zat hidup adalah sistem kimia paling luar biasa di dunia.’ Bagian dari magic-nya adalah bahwa ia terdiri dari suatu jaringan kompleks reaksi-reaksi dan proses-proses kimia, yang diatur sedemikian rupa sehingga produk dari setiap reaksi menjadi materi awal dari reaksi berikut dalam rantai reaksi. Semua reaksi seperti itu dihasilkan oleh enzim-enzim, yang ada ribuan banyaknya. Enzim adalah protein yang spesial, masing-masing dengan kemampuan untuk menyebabkan reaksi kimia yang spesifik yang tidak akan terjadi jika tidak ada enzim tersebut. Dixon menyamakan enzim dengan alat-alat mesin otomatis, yang masing-masing melakukan satu tugas pada suatu produk, lalu menyerahkannya kepada mesin selanjutnya. Ada jalur produksi yang bergabung mnejadi satu, sehingga menghasilkan suatu jaringan jalur dengan banyak cabang – suatu jaringan yang disebut metabolisme. … Dixon mengaku bahwa dia tidak bisa membayangkan bagaimana sistem seperti itu dapat muncul dengan sendirinya. Kesulitan utama adalah bahwa suatu sistem enzim tidak dapat berfungsi kecuali jika ia sudah komplit atau hampir komplit. Masalah lainnya adalah pertanyaan bagaimana enzim dapat muncul tanpa adanya enzim lain sebelumnya untuk membuat enzim itu. “Hubungan antara enzim dan kehidupan,” tulis Dixon, “adalah sedemikian intim, sehingga masalah asal usul kehidupan adalah juga masalah asal mula enzim.” … Beberapa jalur mendasar dimiliki oleh semua sistem kehidupan dan harus ada sejak kehidupan itu mulai. Jalur glikolitik, yaitu jalur reaksi pemecahan gula yang menghasilkan energi, adalah salah satu contoh; respirasi dan banyak fungsi dasar kehidupan lainnya juga bergantung pada jaringan jalur-jalur metabolisme, biasanya melibatkan lusinan tahapan yang kompleks, yang dapat diperhatikan di seluruh dunia binatang dan tumbuhan. … Sistem-sistem enzim melakukan setiap menitnya, apa yang tidak bisa dilakukan oleh ahli-ahli kimia secara full-time. Mekanisme tindakan mereka barulah mulai dimengerti dan kita masih belum bisa memanipulasi mereka dengan fasih. Ide untuk mendesain enzim untuk tujuan-tujuan spesifik, lalu mensintesa mereka, itu masih di masa depan. Bisa saja terjadi: dan jika terjadi, maka itu adalah hasil dari pemikiran yang sangat terkonsentrasi dan manipulasi dari satu tim ilmuwan yang berdedikasi. Bisakah seseorang membayangkan bahwa ada enzim yang membuat dirinya sendiri, bersama dengan ratusan temannya yang spesifik, secara acak? Enzim dan sistem enzim, sama seperti mekanisme genetika yang merupakan asal mereka, adalah mahakarya yang rumit’ (Pitman, Adam and Evolution, hal. 144, 145). Enzim mempercepat proses-proses dalam kehidupan, yang tanpa enzim tidak akan terjadi. Enzim fosfatase, misalnya, mengkatalisis hidrolisis atau pemecahan ikatan fosfat, yang penting untuk kehidupan seluler. ‘Enzim ini memungkinkan reaksi vital sinyalisasi dan regulasi sel yang terjadi dalam seperseratus detik. Tanpa enzim, reaksi penting ini akan memakan waktu satu trilyun tahun – hampir seratus kali usia alam semesta menurut evolusi (menurut mereka alam semesta sekitar 15 milyar tahun)’ (Jonathan Sarfati, By Design, hal. 157).’

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Pemenang Medali Perunggu Kejuaraan Sepeda Dunia, Komplain Bahwa Seorang “Wanita” Transgender Memenangkan Emas

(Berita Mingguan GITS 27 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Setelah seorang “wanita” transgender memenangi kejuaraan dunia balap sepeda kategori wanita, sang juara tiga, seorang wanita sejati, melayangkan komplain bahwa hal tersebut tidaklah adil. Ajang yang dimaksud adalah 2018 Masters Track Cycling World Championship di Los Angeles, dan acaranya adalah kategori wanita, bracket 35-39. Pemenangnya, Rachel McKinnon, “mengidentifikasi” diri sebagai seorang wanita, tetapi secara biologis sebenarnya adalah seorang pria (“Biological Male Wins World Championship Event,” Daily Signal, 14 Okt. 2018). Juara tiga, Jennifer Wagner, meng-tweet, “Jelas TIDAK fair.” Empat hari kemudian, Wagner minta maaf kepada McKinnon, mengatakan “Saya minta maaf karena tidak memberi ucapan selamat kepadamu pada hari perlombaan. Saya harap anda menerimanya beberapa hari kemudian.” Tetapi bukannya menerima permintaan maaf itu, McKinnon malah menulis, “Ini alasannya mengapa permintaan maaf ini tidak diterima: dia masih percaya apa yang dia tulis itu.” Jadi, McKinnon bukan hanya menuntut “hak” untuk menjadi jenis kelamin apapun, dia juga mau mengendalikan pemikiran orang-orang yang tidak setuju dengan dia. Dia mencoba mengakhiri perdebatan topik ini, dengan cara mengecap semua orang yang mengritik gaya hidupanya sebagai “para pembenci yang transfobia.” Ini adalah buah dari gerakan unisex yang dimulai tahun 1960an, dan hasilnya adalah kekacauan yang luar biasa. Terkait intim dengan gerakan unisex adalah feminisme dan homoseksualitas. Generasi ini bisa marah-marah melawan “alam” dan mencoba untuk mengubahnya, tetapi tidak akan berhasil. Firman Allah itu benar, bahkan jika seluruh dunia tidak mau percaya. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Ini adalah kata pertama mengenai topik ini, dan juga kata terakhir.

Posted in LGBT | Leave a comment

Kanada Melegalkan Marijuana

(Berita Mingguan GITS 27 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Kanada menjadi negara kedua yang secara penuh melegalkan marijuana untuk penggunaan rekreasional (bukan medis), yaitu setelah Uruguay. Di Newfoundland, propinsi paling timur di Kanada, toko-toko marijuana buka pada tengah malam, 17 Oktober, untuk melayani pelanggan yang sudah mengantri. Seperti legalisasi “pernikahan sama jenis,” legalisasi marijuana adalah refleksi dari perubahan dramatis pada kondisi moral dan spiritual suatu bangsa. Sejak 2012, 10 negara bagian di Amerika Serikat telah melegalkan marijuana rekreasional, dan negara-negara bagian lain telah menghilangkan tuntutan kriminal bagi orang-orang yang memiliki obat tersebut dalam jumlah kecil. Para pendukung marijuana rekreasional, biasanya mengabaikan berbagai bahaya yang sudah terbukti, seperti kecanduan, psikosis, marijuana sebagai obat yang mengantar kepada obat lain, efek-efek jangka panjang pada pembelajaran, kognisi, dan kepribadian, “sindrom amotivasional” (yaitu letargi dan hilangnya ketertarikan untuk mencapai sesuatu), bronkitis dan infeksi saluran nafas, dan meningkatnya resiko penyakit kardiovaskular. Pada bagian awal tahun 2018, telah diumumkan bahwa sebuah penilitian ilmiah besar yang terbaru, oleh Case Western Reserve University di Cleveland, Ohio, telah menemukan bahwa penggunaan marijuana secara independen terhubung kepada peningkatan 26 persen resiko stroke dan 10 persen peningkatan gagal jantung (“Pot Smoking,” Newsmax, 16 Mar. 2018). Sejak legalisasi marijuana di Colorado, tahun 2012, jumlah pengendara mobil yang dites positif marijuana melonjak 145 persen (‘Traffic fatalities linked to marijuana,’ Denver Post, 25 Agus. 2017). Penggunaan obat oleh remaja di Colorado adalah yang tertinggi di seluruh AS. Kecelakaan mobil yang fatal, yang terkait penggunaan obat, telah melonjak pesat (“The sad anniversary of Big Commercial Pot in Colorado,’ The Gazette, 21 Nov. 2017).

Kami yakin bahwa legalisasi marijuana rekreasional adalah suatu eksperimen bodoh yang akan menimbulkan efek-efek sangat buruk. Fakta bahwa penggunaan marijuana dalam budaya modern dapat dilacak kembali kepada dunia cabul jazz, blues, dan rock & roll, adalah peringatan yang cukup bagi siapapun yang memiliki telinga untuk mendengar. Saya tahu hal ini dengan sangat baik, karena saya adalah pemakai obat sebelum saya diselematkan, mulai dari waktu saya di Vietnam dalam Angkatan Darat, 1970-71. Setelah saya dibebastugaskan, saya tenggelam ke budaya obat dalam gerakan hippie, dan bergabung bersama banyak orang generasi saya dengan Magical Mystery Tour bodoh yang dibuat The Beatles. Alkohol adalah obat yang sangat kuat, tetapi marijuana mengubah pandangan saya lebih dari alkohol. Ia adalah obat psikoaktif yang memiliki sifat-sifat halusinogenik. Ini bukan barang yang tak berbahaya. Ini dapat mengganggu bagian-bagian terdalam dari jiwa seseorang. Tidak semua orang memiliki pengalaman buruk dengan obat ini, tetapi banyak mengalaminya. Obat ini mempengaruhi tiap-tiap orang secara berbeda, tetapi depresi, kekhawatiran yang intens, dan paranoia, adalah efek-efek samping yang sering didapati, dan psikosis akut juga tidak jarang. Marijuana jelas adalah obat “pintu” bagi saya dan bagi banyak teman saya (memimpin ke obat-obat lain). Dan marijuana hari ini jauh lebih kuat dari marijuana tahun 1960an dan 1970an, biasanya mengandung 15-20% THC (unsur psikoaktif di dalamnya), dan bahkan sampai setinggi 37%, dibanding dengan 3-4% di masa lampau. Pada tahun 2013, American Medical Association merekomendasikan untuk tidak melegalkan marijuana, dengan peringatan bahwa “kanabis adalah obat yang berbahaya dan oleh karena itu adalah masalah bagi kesehatan publik. …Penggunaan kanabis secara berat dalam pertumbuhan remaja dan pemuda, menyebabkan masalah permanen pada kemampuan neuro-kognitif dan IQ, dan penggunaannya terkait dengan meningkatnya kekhawatiran, gangguan mood, dan gangguan pikiran psikotik” (Ruth Marcus, “The perils of legalized pot,” The Washington Post, 2 Jan. 2014). Sir Robin Murray, seorang psikiatris di King’s College di London, mengatakan, “Bahkan saya, 20 tahun lalu, biasa memberitahu pasien bahwa kanabis itu aman. Barulah setelah anda melihat semua pasian anda menjadi psikotik, anda mulai menyadari – bahwa barang ini tidak begitu aman” (dikutip dari Linda Nathan, The Cross and the Marijuana Leaf, tersedia di LighthouseTrails.com). Gerakan besar untuk melegalkan marijuana didorong oleh budaya pop yang cabul, industri hiburan, sistem pendidikan yang menjunjung relativisme moral, masyarakat yang merayakan ekspresi diri tanpa kendali, dan kekurangan hikmat yang parah yang biasa tercermin dalam pelaporan media massa pada umumnya.

Perintah Allah agar umatNya “sadar”, diulang sebanyak 12 kali dalam surat-surat Perjanjian Baru. “Sadar” berarti memegang kendali atas pikiran dan roh diri sendiri, sehingga tidak ada hal lain selain Allah yang berkuasa. “Sadar” adalah lawan dari berada dalam pengaruh alkohol atau obat-obat terlarang, atau apapun juga yang lain. Seseorang bisa mabuk musik, fashion, video game, sport profesional, atau apapun juga yang dapat menjerat hati. “Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar” (1 Tes. 5:6). “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Pet. 4:7). “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Pet. 5:8). Karena betapa cepatnya banyak gereja-gereja Baptis Independen sekalipun [apalagi gereja-gereja lain], masuk ke pendirian kontemporer yang disertai sikap dan filosofi “jangan menghakimi, biarkan orang hidup terserah mereka,” saya memprediksi bahwa tidak lama lagi sebagian akan menerima penggunaan alkohol dan marijuana.

 

Posted in Kesehatan / Medical, Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Fosil Baru yang Memiliki Penjelasan Evolusi yang Tidak Masuk Akal

(Berita Mingguan GITS 20 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Para evolusionis terkenal oleh kemampuan mereka untuk menciptakan kisah-kisah mitologi yang “pokoknya begitulah,” untuk menjelaskan kepercayaan mereka. (Pada tahun 1902, Rudyard Kipling menerbitkan Just So Stories for Little Children [‘Just So’ bisa diterjemahkan pokoknya begitulah] yang mengandung penjelasan imajiner mengenai bagaimana berbagai binatang mendapatkan ciri khas mereka.) Sebuah fosil baru yang dipertunjukkan di Royal Tyrrell Museum di Alberta, adalah sebuah contoh. Fosil dari Borealopelta, yang dikatakan berusia 110 juta tahun, disebut sebagai “salah satu penemuan fosil paling spektakuler sepanjang masa.” Ini karena fosil tersebut mengawetkan secara utuh: kulit, jaringan lunak, tulang-tulang. Fosil ini mirip dengan boneka binatang. Ia adalah “dinosaurus yang berat, berbadan rendah, mirip tank,” yang memiliki berat 1,5 ton, dan sekitar 6-7 meter panjangnya (“A Dinosaur So Well Preserved,” The Atlantic, 3 Agus. 2017). Fosil tersebut ditemukan pada tahun 2011 oleh operator alat berat yang bekerja di penambangan minyak dan pasir Millenium Mine, di Alberta utara. Setelah kerja keras selama bertahun-tahun untuk mengeluarkan fosil tersebut dari blok batu seberat 7.500 kg yang ditarik keluar dari tambang tersebut, baru-baru ini ia dipertunjukkan di Royal Tyrrell, sebuah museum dengan fosil-fosil kelas dunia, yang disertai dengan cerita-cerita “pokoknya begitulah” yang juga kelas dunia. Perhatikan penjelasan berikut mengenai bagaimana makhluk ini bisa menjadi fosil: “Entah kenapa, individu yang spesifik ini sampai ke laut. Mungkin ia tidak hati-hati waktu di pantai. Mungkin ia tenggelam dalam suatu banjir dan terhanyut ke laut. Apapun itu, gas-gas mulai berkumpul dalam tubuhnya, membuatnya mengapung dengan perutnya mengarah ke atas. Ketika gas-gas tersebut keluar, dinosaurus yang mati ini tenggelam, dan menghantam lantai laut cukup keras, hingga menimbulkan kawah kecil. Sebelum ikan-ikan hiu sempat menggigitinya, atau cacing-cacing menyerbu ke tulang-tulangnya, ia dengan cepat tertutup oleh sedimen halus dan terpisahkan dari dunia luar. Di sana ia tinggal selama jutaan tahun, sampai 11 Maret 2011, ketika sebuah ekskavator mengangkatnya” (Ibid.). Ini adalah penjelasan yang tidak mungkin terjadi mengenai proses fosilisasi dari Borealopelta. Makhluk hidup tidak menjadi fosil seperti itu dengan sendirinya. Ketika suatu makhluk mati dan tenggelam ke dasar lautan, ia akan habis dimakan oleh makhluk laut, bakteri, dan cacing-cacing, jauh sebelum ia bisa ditutupi oleh sedimen dan terpisahkan dari dunia. Faktanya, fosililasi yang nampak pada Borealopelta adalah hasil dari suatu peristiwa yang luar biasa, yang terjadi super cepat, yang terjadi di lautan yang pada suatu masa yang lalu menutupi Alberta. Peristiwa ini terdengar persis seperti air bah dalam Alkitab, tetapi para ilmuwan evolusionis lebih suka membuat suatu kisah yang tidak ilmiah, daripada mendukung Alkitab. Satu hari yang indah, sebagaimana dinubuatkan dalam Kitab Suci, museum-museum di dunia ini akan dipenuhi dengan kebenaran, bukan kebohongan. “Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut” (Hab. 2:14). Mitos evolusi dan para pencemooh yang mempromosikannya, secara tidak sadar membuktikan bahwa Alkitab adalah Firman Allah, karena mereka sudah dinubuatkan dalam Alkitab 2000 tahun yang lalu. “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? … Mereka sengaja tidak mau tahu, bahwa oleh firman Allah langit telah ada sejak dahulu, dan juga bumi yang berasal dari air dan oleh air, dan bahwa oleh air itu, bumi yang dahulu telah binasa, dimusnahkan oleh air bah. Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik” (2 Pet. 3:3-7).

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Berpakaian Baik untuk Gedung Putih dan Berpakaian Buruk untuk Rumah Tuhan

(Berita Mingguan GITS 20 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Pada tanggal 11 Oktober, grup musik Rock Kristen, MercyMe, mengunjungi Gedung Putih untuk berpartisipasi dalam acara Presiden Trump menandatangani Undang-Undang Modernisasi Musik. Saya menemukan suatu hal yang sangat menarik, bahwa para anggota grup tersebut memakai jas dan dasi secara tradisional untuk acara Gedung Putih tersebut, sementara mereka biasanya berpakaian casual untuk Rumah Tuhan, memakai t-shirt, baju yang tidak disisipkan ke celana, jeans, cargo pants, sepatu tenis, dan hal-hal lain seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa pakaian yang layak untuk gereja hanyalah jas dan dasi yang tradisional di Barat; yang saya mau katakan adalah bahwa jika ada suatu acara di muka bumi ini yang untuknya kita pantas ‘berpakaian rapi dan terhormat’ sesuai dengan standar budaya kita masing-masing, maka acara itu adalah perkumpulan resmi umat Tuhan di rumah Tuhan yang hidup, 1 Timotius 3:15. Mengapa berpakaian rapi dan terhormat untuk gereja? Untuk menghormati Tuhan! Walaupun masyarakat Amerika telah menjadi casual dan “berantakan” secara ekstrim dalam masa hidup saya (ketika saya lahir, orang-orang masih memakai jas dan dasi dan gaun yang sopan ke pertandingan olahraga), orang Amerika masih tahu apa artinya “dress up” (yaitu berpakaian rapi dan resmi dan terhormat). Mereka “dress up” untuk acara pernikahan, untuk makan malam di restoran yang mewah, dan acara-acara lain. New York Philharmonic Orchestra masih melarang pemain musik wanita mereka untuk memakai celana panjang, dan kebanyakan orang menganggap sebuah konser formal oleh sebuah orkestra besar sebagai suatu acara khusus, dan akan berpakaian rapi dan formal untuk acara tersebut. Sayap Barat Gedung Putih membuka kesempatan tur dengan “kode pakaian bisnis casual (tidak boleh celana pendek, jeans, t-shirt, sendal, dll.),” dan ketika bertemu dengan presiden, “Laki-laki harus memakai jas dengan baju yang bersih dan rapi, atau khaki dengan baju berkancing, juga bersih dan rapi; para pria, pastikan sepatu anda kinclong.” Hal yang serupa juga diterapkan pada orang-orang yang mau bertemu dengan Paus: “pakaian yang sopan yang menutupi bahu dan décolleté (belahan dada), lebih panjang dari lutut; lelaki dengan jas gelap dan dasi warna utuh.” Khalayak ramai kontemporer bisa saja tertawa, tetapi saya setuju dengan pernyataan berikut: “Style adalah maknanya. Musik, pakaian, dan gaya trendy dari orang-orang Baptis independen kontemporer, memberitahu kita bukan terutama tentang pandangan mereka soal style/gaya, tetapi tentang pandangan mereka mengenai Allah. Hal yang sama dapat dikatakan mengenai kebanyakan acara. Cara kita berpakaian memberitahu kita tentang pandangan kita mengenai acara tersebut, lebih dari pandangan kita mengenai style tersebut” (Dave Mallinak, “Gone Contemporary,” https://villagesmithysite.wordpress.com/2018/08/31/gone-contemporary).

Posted in General (Umum), Gereja | Leave a comment

Hormat dan Kasih terhadap Gembala-Gembala yang Saleh

Berikut ini dicuplik dari buku The Pastor’s Authority and the Church Member’s Responsibility, edisi Juli 2018, yang bisa didapatkan secara gratis dalam bentuk eBook dari www.wayoflife.org

Ketika memberikan berbagai nasihat kepada para anggota jemaat, kami akan mengatakan, pertama-tama, bahwa mereka sepatutnya menghormati dan mengasihi para gembala.

Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah selalu dalam damai seorang dengan yang lain” (1 Tesalonika 5:12-13).

Inilah tanggung jawab anggota jemaat kepada para gembala dinyatakan secara singkat. Dalam konteks ini Paulus menyinggung pekerjaan seorang gembala, sebab adalah “karena pekerjaan mereka” bahwa anggota jemaat harus menghormati mereka.

Mereka bekerja. Mereka bekerja keras dan bukanlah orang-orang yang malas. Kerja keras diperlukan untuk membangun dan memelihara gereja-gereja yang alkitabiah. Ada kerja keras dalam mempelajari Alkitab, berdoa, mengajar, berkhotbah, menginjil, memuridkan, dan mendisiplinkan.

Mereka adalah pengawas. Mereka memiliki panggilan dan karunia untuk mengawasi kawanan. Ini mengacu kepada otoritas gembala. Ini mengacu kepada membangun para anggota, membimbing mereka dan menyediakan visi dan arahan, dan melindungi dari setiap bahaya. Perhatikan bahwa para gembala memimpin jemaat “dalam Tuhan.” Mereka memiliki otoritas hanya jika mereka memimpin dalam ketaatan kepada otoritas Tuhan dan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Mereka adalah orang-orang yang menegor. Ini mencakup mengajar, menyemangati, dan juga memperingatkan, tetapi penekanan dari kata “menegor” ada pada peringatan. Kata Yunani yang mendasarinya, ‘noutheteo,’ bisa diterjemahkan ‘menasihati’ dan juga ‘menegor.’ Seseorang yang tidak bisa atau tidak mau melakukan penegoran, memberi nasihat, dan memberi peringatan, tidak memenuhi syarat untuk menjadi seorang gembala, dan buah dari orang yang demikian adalah jemaat yang lembek, suam suam kuku, dan terbelakang rohani.

Banyak gembala yang menginginkan hormat yang digambarkan dalam perikop ini, tetapi tidak melakukan hal-hal yang digambarkan dalam perikop yang sama. Jemaat disuruh untuk sangat menghormati mereka “karena pekerjaan mereka,” yang berarti karena mereka melakukan pekerjaan yang digambarkan di sini. Alkitab sama sekali tidak mengajarkan suatu ketaatan buta dan “kesetiaan buta” kepada pemimpin-pemimpin rohani. Itu adalah ciri khas bidat. Itu adalah ciri khas kepausan.

Sebagai gantinya, jemaat haruslah mengenal pemimpin-pemimpin mereka. Ini tentu berarti lebih dari sekedar tahu siapa pemimpinnya. Itu seharusnya sudah jelas. Tetapi yang dimaksud adalah mengenal mereka dalam pengertian mengenal bahwa panggilan dan otoritas mereka berasal dari Allah dan memahami nilai dari pemimpin yang demikian. Orang-orang perlu diajari tentang syarat-syarata dan pekerjaan gembala, sehingga mereka dapat memberikan hormat yang sepantasnya pada mereka.

Jemaat harus sungguh-sungguh menjunjung para pemimpin dalam kasih. Perhatikan kata “sungguh-sungguh.” Kata ini berasal dari Yunani ‘perissos,’ yang bisa diterjemahkan ‘dengan sangat,’ dan adalah istilah yang kuat. Pengertian dari kata ini adalah meluap-luap, atau melimpah ruah. Ini adalah bahasa yang kuat. Gembala-gembala yang alkitabiah harus dihormati dengan baik. Di tempat lain Paulus memakai istilah ‘dihormati dua kali lipat’ (1 Tim. 5:17). Ini adalah kehendak Allah yang nyata mengenai masalah ini, dan berdasarkan hal inilah jemaat-jemaat akan dinilai pada takhta pengadilan Kristus. Saya tidak mau berdiri di sana suatu hari dan harus memberi pertanggungan jawab mengapa saya tidak memiliki hubungan yang pantas dan saleh dengan gembala-gembala saya.

Perhatikan bahwa kasih Kristiani adalah kunci dari menunjukkan hormat yang sepantasnya kepada pemimpin rohani. Kasih adalah kunci dari rasa hormat seorang istri kepada suaminya, dan hormat seorang anak kepada orang tuanya, dan juga seorang anggota jemaat kepada seorang gembala. Ini berarti sebuah jemaat memperlakukan gembalanya sebagaimana mestinya, para anggota haruslah diselamatkan dan berjalan dalam persekutuan dengan Kristus, karena ini adalah satu-satunya cara untuk memiliki kasih yang sejati. Ini mengingatkan kita akan pentingnya membatasi keanggotaan jemaat hanya kepada orang-orang yang memenuhi syarat, sebagaimana dalam Kisah Rasul 2:41-42. Gembala jemaat yang tidak berhati-hati dalam hal ini dan terlalu cepat menerima anggota, tidak boleh terkejut jika orang-orang itu lalu tidak menaati Firman Allah, atau jika mereka menimbulkan sakit hati padanya.

Sama seperti kasih Kristiani pada umumnya, kasih dan hormat anggota-anggota jemaat kepada para gembala, adalah sesuatu yang harus ditunjukkan melalui tindakan konkrit. Kasih yang ilahi bukanlah sesuatu yang sekedar ‘dirasakan’; ini adalah sesuatu yang dilakukan. Sama seperti seorang suami terhadap seorang istri, anggota jemaat harus memikirkan bagaimana ia bisa menunjukkkan kasih dan hormat kepada gembalanya. Beberapa cara adalah sebagai berikut: menjadi jemaat yang setia dan dapat diandalkan, tepat waktu, menunjukkan perhatian yang saleh kepada khotbah dan pengajaran, mematuhi pengajaran, menyampaikan kata-kata penguatan yang tulus (bukan menjilat atau munafik), selalu berpikiran positif terlebih dahulu terhadap gembala, dan mendukung dia secara finansial.

Sama seperti hati seorang suami seharusnya dapat senantiasa percaya kepada istrinya (Amsal 31:11), demikian juga hati seorang gembala seharusnya dapat dengan aman mempercayai jemaatnya. Terlalu sering terjadi, seorang gembala harus hidup dalam ketakutan bahwa dia akan diserang dari belakang, dan bahwa ada usaha-usaha untuk memecah belah jemaat dan mencuri kasih orang-orangnya. Seorang gembala yang jatuh dalam dosa perlu didisiplin oleh jemaat (1 Tim. 5:19-21) tetapi gembala yang setia pada Firman Tuhan harus senantiasa dihormati dalam kasih.

Perhatikan bahwa hubungan yang alkitabiah antara gembala dengan jemaatnya, akan mendatangkan damai sejahtera. Ini adalah salah satu bagian besar dalam menjaga perdamaian dalam jemaat.

 

Posted in General (Umum), Gereja | Leave a comment

Seharusnyakah Penginjilan Itu Lepas dari Theologi?

(Berita Mingguan GITS 6 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari D. Martyn-Lloyd, Preaching and Preachers, 1971: “Ada sebuah tipe berkhotbah yang kadang-kadang, bahkan cukup sering hari ini, dianggap non-theologis, yaitu khotbah penginjilan. Saya masih sangat ingat bagaimana ketika sebuah acara penginjilan dilakukan di London beberapa tahun lalu [Billy Graham Crusade], salah satu majalah mingguan agama yang liberal yang mendukung acara tersebut berkata, ‘Mari kita gencatan senjata theologis selama satu minggu sementara acara penginjilan berlangsung.’ Majalah itu berlanjut mengatakan bahwa setelah acara penginjilan itu, kita lalu harus memikirkan banyak hal dan bertheologi. Ide yang disampaikan adalah bahwa penginjilan itu non-theologis, dan memasukkan theologi dalam tahapan penginjilan adalah hal yang salah. Anda ‘membawa orang kepada Kristus,’ kata mereka, dan kemudian barulah anda mengajar mereka kebenaran. Barulah belakangan theologi masuk. Hal ini, bagi saya, adalah sesuatu yang sangat salah, dan bahkan mengerikan. Saya bahkan siap untuk berargumen bahwa dalam banyak aspek, khotbah penginjilan haruslah lebih theologis, bukan kurang theologis, dibandingkan khotbah lain, dan ada alasan baik untuk hal ini. Mengapakah anda memanggil orang kepada pertobatan? Mengapakah anda memanggil mereka untuk mempercayai Injil? Anda tidak bisa dengan benar berurusan dengan pertobatan tanpa berurusan dengan doktrin tentang manusia, doktrin tentang Kejatuhan, doktrin tentang dosa, dan murka Allah terhadap dosa. Lalu ketika anda memanggil orang untuk datang kepada Kristus dan menyerahkan diri kepadaNya, bagaimana anda bisa melakukan ini tanpa memahami siapa Dia, dan atas dasar apa anda mengundang mereka untuk datang padaNya, dan banyak hal lagi? Dengan kata lain, semua hal ini adalah bertheologi. Penginjilan yang tidak bertheologi bukanlah penginjilan dalam arti yang sebenarnya” (hal. 65).

Posted in Misi / Pekabaran Injil, Theologi | Leave a comment

Cina Bermaksud untuk “Meng-Cina-Kan” Kekristenan dan Menulis Ulang Alkitab

(Berita Mingguan GITS 6 Oktober 2018, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “China Berusaha Menulis Ulang,” Christian Post, 28 Sept. 2018: “Rev. Bob Fu, seorang mantan pemimpin gereja rumah di Cina, yang telah berimigrasi ke Amerika Serikat tahun 1997, dan mendirikan sebuah organisasi pemberi peringatan penganiayaan, China Aid, memberikan banyak detil-detil dalam sebuah presentasi di hadapan House of Representatives (semacam DPR) AS, pada hari Kamis, tentang sebuah rencana yang dibuat oleh denominasi-denominasi yang diakui pemerintah di Cina, untuk ‘meng-sino-sasi’ [yaitu ‘meng-cina-kan’] kekristenan di sana. Sementara Cina semakin gencar menekan kebebasan beragama, yang mengakibatkan banyak gereja-gereja rumah dihancurkan dan ribuan salib dihilangkan dari gereja-gereja di seluruh negeri itu, Fu memperingatkan [bahwa] ‘kebebasan beragama di Cina telah menyentuh level yang paling parah yang belum pernah terjadi sejak permulaan Revolusi Budaya oleh Pemimpin Mao [Zedong] pada tahun 1960an.’ . . . Sebagai pusat dari peningkatan level penganiayaan yang tinggi ini adalah peraturan baru Cina tentang urusan agama, yang dikeluarkan tahun lalu tetapi ditetapkan tanggal 1 Februari. Menurut Fu, revisi peraturan-peraturan keagamaan dimaksudkan untuk secara aktif membimbing agama untuk ‘beradaptasi kepada suatu masyarakat sosialis.’ Dalam sebuah kesaksian tertulis, Fu mengatakan bahwa di bawah aturan-aturan baru ini, tempat-tempat kegiatan keagamaan akan ‘menerima bimbingan, supervisi, dan inspeksi dari departemen-departemen yang relevan dari pemerintah lokal, mengenai manajemen personel, keuangan, aset, akuntansi, sekuriti, perlindungan terhadap kebakaran, perlindungan relik-relik, pencegahan penyakit, dan lain0lain.’ . . . Salah satu cara yang mereka rencanakan untuk ‘mengcinakan’ kekristenan, Fu berkata, adalah dengan ‘menerjemahkan ulang’ Perjanjian Lama da memberikan komentari baru pada Perjanjian Baru untuk membuat ide-ide sosialis dan budaya Cina terkesan lebih ilahi. . . . Menurut outline paling terakhir, kata Fu, sebuah terjemahan ulang akan merupakan rangkuman dari Perjanjian Lama dengan sebagian Kitab Suci Buddha dan pengajaran Konfusius, dan komentari baru atas Perjanjian Baru. . . . Fu menambahkan bahwa rencana lima tahunan ini mengusahakan ‘memasukkkan elemen-elemen Cina ke dalam kebaktian-kebaktian di gereja, himne-himne dan lagu-lagu, pakaian kependetaan, dan gaya arsitektural dari bangunan gereja. Ini termasuk mengedit dan menerbitkan lagu-lagu penyembahan dengan karakteristik Cina dan mempromosikan proses peng-cina-an musik penyembahan, memakai bentuk-bentuk seni yang khas Cina . . . Pada permulaan setiap kebaktian gereja, paduan suara gereja harus menyanyikan beberapa lagu-lagu revolusi komunis, dan memuji partai komunis sebelum mereka boleh menyanyikan lagu-lagu penyembahan, Fu memberikan keterangan. . . . Ratusan pemimpin kristen di Cina menandatangani sebuah pernyataan yang menyerang peraturan-peraturan baru ini, meningkatnya penganiayaann dan kendali yang dilakukan oleh partai terhadap gereja-gereja. ‘[Kami] percaya dan diwajibkan untuk mengajar semua orang percaya bahwa semua gereja-gereja sejati di Cina yang adalah milik Kristus harus memegang prinsip separasi gereja dan negara, dan harus memproklamirkan Kristus sebagai satu-satunya kepala dari gereja. . . . Demi Injil, kami siap untuk menanggung segala kerugian – bahkan hilangnya kebebasan kami dan hidup kami.’ demikian bunyi pernyataan tersebut. . . . Dalam acara Ministerial to Advance Religious Freedom pada bulan Juli, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan sebuah pernyataan resmi yang mengritik Cina karena pelanggaran-pelanggaran kebebasan beragama. Tetapi, pernyataan itu hanya ditandatangani oleh tiga negara.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | Leave a comment