Ribuan Orang Berbaris Gerak Mendukung Pembangunan Bait Ketiga

(Berita Mingguan GITS 5 Agustus 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pada hari Senin, 31 Juli, ribuan orang Israel berbaris di sekeliling tembok Yerusalem bagian Kota Tua, yaitu pada permulaan Tisha B’Av, untuk mendukung pembangunan Bait Ketiga (“Israelis March Demanding Access to Temple Mount and Building of Third Temple,” Israel Today, 1 Agus. 2017). Tisha B’Av, yang berarti hari kesembilan dalam bulan Av, adalah hari puasa berduka untuk mengingat kehancuran bait Yahudi yang pertama dan yang kedua, yang dihancurkan pada hari yang sama (kehancuran pertama pada tahun 586 SM, dan yang kedua pada tahun 70 M). Pada Tisha B’Av, Taurat diselimuti hitam. Ada puasa dan ratapan, dan ada pembacaan kitab Ratapan dan puisi Yahudi yang disebut kinnot. Orang Yahudi Ortodoks percaya bahwa Tisha B’Av akan terus dilakukan hingga Mesias datang untuk membangun Bait dan membawa damai kepada Israel, dan pada waktu itu akan berubah menjadi perayaan sukacita. Sebenarnya, bait ketiga akan dibangun oleh antikristus dan akan dinajiskan oleh dia juga. “ Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah” (2 Tes. 2:3-4).

 

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Israel | Leave a comment

Kesalahan Pembaptisan Bayi

Kesalahan Membaptiskan Bayi

Banyak gereja hari ini membaptiskan bayi, atau lebih cocok sebenarnya dikatakan mereka memercik bayi. Kata “baptis” berarti menyelamkan, dan kebanyakan gereja tidak menyelamkan bayi, mereka hanya memercik mereka. Tetapi, Gereja Ortodoks Timur, yang memiliki basis Yunani (dibandingkan Roma Katolik yang berbasiskan Latin), benar-benar menyelamkan bayi.

Gereja-gereja Protestan juga melakukan “baptis” bayi atau pemercikan bayi. Ini karena gereja-gereja Protestan keluar dari Roma Katolik, dan karena itu mewarisi sebagian doktrin-doktrin Katolik. Sepanjang sejarah, ada sekelompok orang-orang percaya alkitabiah, yang dikenal dengan berbagai nama (Donatis, Bogomil, Waldensian, Novatian, Anabaptis, dll., modern ini kaum Baptis), yang sejak awal berada di luar Roma Katolik, dan mempertahankan pengajaran alkitabiah bahwa hanya orang percaya yang boleh dibaptis. Berikut ini akan dipaparkan secara singkat, kesalahan praktek membaptiskan bayi (apalagi memercik bayi). Membaptis bayi adalah kesalahan besar, karena:

1. Melanggar Prinsip Firman Tuhan tentang Baptisan

a. Percaya kepada Yesus Kristus adalah syarat baptisan

Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.” (Kis. 8:36-37)

Perikop ini sangat jelas mengajarkan tentang pembaptisan. Filipus menginjili seorang sida-sida dari Etiopia. Lalu, sida-sida itu ingin dibaptis, dan menanyakan apakah ia boleh dibaptis atau tidak. Filipus memberikan jawaban yang tegas: Jika seseorang percaya dengan segenap hati (kepada Yesus, sesuai dengan penjelasan Filipus tentang perikop dalam Yesaya yang dibaca oleh sida-sida), maka ia boleh dibaptis. Tentu kebalikannya menjadi benar, bahwa jika seseorang belum percaya pada Yesus dengan segenap hati, maka ia tidak boleh dibaptis.

Dari ayat di atas menjadi jelas, bahwa bayi tidak boleh dibaptis. Mengapa? Karena bayi belum percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi bukankah orang tuanya telah percaya? Dalam Alkitab, masalah iman selalu adalah masalah pribadi seseorang dengan Tuhan, dan tidak bisa iman seseorang menyelamatkan pribadi lain selain dirinya sendiri. Jadi, orang tua yang beriman tidak bisa meminjamkan iman mereka pada bayi mereka, sehingga bayi itu dibaptis.

Ada lagi orang yang berdalih dan berkata, “Pokoknya saya tidak melihat ada ayat di Alkitab yang mengatakan ‘tidak boleh membaptis bayi.’” Tetapi, ini adalah argumen yang dicari-cari dan membangkang pada Firman Tuhan. Dengan memakai logika yang sama, seorang pemuda yang nakal dapat berkata, “tidak ada ayat yang mengatakan jangan merokok, tidak ada ayat yang mengatakan jangan pakai heroin.” Tetapi, jelas orang Kristen yang sejati tahu untuk tidak merokok dan tidak menggunakan narkoba, karena ada PRINSIP-nya dalam Alkitab, antara lain: bahwa kita tidak boleh merusak tubuh kita (1 Kor. 6:19-20; 3:16-17), dan bahwa kita tidak boleh membiarkan diri kita diperhamba oleh apapun (1 Kor. 6:12). Jadi, tidak diperlukan ayat yang berkata “tidak boleh membaptis bayi,” karena pembaptisan bayi sudah otomotis dilarang dengan adanya syarat baptisan: haruslah seseorang yang percaya.

Ada lagi orang yang ingin menggugurkan prinsip ini, dengan menunjukkan bahwa sebagian Alkitab terjemahan modern, menghilangkan Kisah Rasul 8:37. Memang sebagian Alkitab terjemahan modern menghilangkan ayat 37 (LAI menuliskannya dalam tanda kurung), tetapi itu karena terjemahan modern mengikuti teks yang korup, yang disebut Critical Text. Critical Text adalah teks yang banyak menghilangkan ayat-ayat tentang keilahian Kristus dan kedagingan Kristus, tetapi teks ini disenangi oleh kaum liberal dan bidat. Sayangnya, akademia Kristen banyak dikuasai oleh orang-orang liberal, sehingga sebagian penerjemahan Alkitab memakai teks yang korup ini. Tetapi, dengan akal sehat saja, kita bisa melihat bahwa sebenarnya tidak mungkin tidak ada ayat 37. Masakan ada pertanyaan sida-sida: “apakah halangannya jika aku dibaptis,” lalu tidak ada jawaban dari Filipus? Dari sudut pandang literatur, hilangnya ayat 37 akan menghancurkan struktur. Jelas ayat 37 dihilangkan oleh teks yang korup, tetapi puji Tuhan terpelihara dalam teks yang diterima oleh orang percaya (Tekstus Receptus).

Continue reading

Posted in Alkitab, Gereja, Theologi | 11 Comments

Gereja Anglikan Menawarkan Kebaktian Khusus untuk Orang-Orang Transgender

(Berita Mingguan GITS 15 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sinode Umum Gereja Anglikan telah melakukan voting dan menyetujui “penawaran kebaktian khusus untuk menyambut orang-orang transgender ke dalam imam Anglikan” (“Anglican Church set to offer,” The Guardian, 9 Juli 2017). Usulan ini berhasil disetujui dengan angka voting 284 banding 78. Chris Newlands, asal Blackburn, Lanchashire, yaitu orang yang mengangkat usulan ini, mengatakan: “Saya harap kita bisa membuat suatu pernyataan yang kuat yang mengatakan bahwa kita percaya orang-orang trans dihargai dan dikasihi oleh Allah, yang menciptakan mereka, dan yang hadir dalam semua lika-liku dan tikungan dalam kehidupan mereka.” Allah yang menciptakan manusia menciptakan mereka laki-laki dan perempuan, jadi seseorang yang transgender (Editor: mengganti jenis kelamin) sedang memberontak melawan aturan yang Allah ciptakan. Jenis kelamin bukanlah suatu kecelakaan dalam alam. Mazmur 139 mengatakan bahwa Allah menciptakan individu dalam rahim ibunya sesuai dengan rencanaNya. Gereja Anglikan sejak dulu memang bukanlah gereja yang alkitabiah, dan dalam waktu-waktu belakangan ini semakin sesat secara doktrinal dan juga bobrok secara moral. Bahkan di tahun 1953 saja, Uskup Agung Canterbury, William Temple, dalam bukunya Nature and God, mengatakan, “…tidak ada yang namanya kebenaran yang disingkapkan” (Untuk informasi lebih banyak tentang hal ini, lihat laporsan “Lima Puluh Tahun Liberalisme Anglikan” di website Way of Life).

Posted in Gereja, LGBT | Leave a comment

Polinasi

(Berita Mingguan GITS 15 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sistem polinasi adalah suatu sistem simbiosis yang telah dikalibrasi secara halus, dan melibatkan tak terhitung jumlah bunga, serangga, dan burung, yang berbeda-beda tipe, yang semuanya terintegrasi secara sempurna untuk mempertahankan kehidupan. Tanaman yucca bergantung pada ngengat yucca untuk melakukan pembuahan, dan larva ngengat tersebut bergantung pada tanaman yang spesifik untuk makanan. Lili voodoo meningkatkan temperaturnya sebanyak 25 derajat (Fahrenheit) dan mengeluarkan sejenis bau-bauan yang mirip dengan bau daging busuk, untuk dapat menarik kumbang tertentu. Ketika kumbang itu mengeriap di sekitar bunga itu sambil mencari makanan, ia tertutup oleh pollen, yang ia sebarkan dari bunga ke bunga. Perhatikan anggrek. “Dalam banyak kasus, perkembangannya sedemikian rupa sehingga bunga dan serangga saling cocok satu sama lain seperti sarung tangan dengan tangan. Dalam kasus-kasus tertentu, desainnya sedemikian pintar sehingga lebah atau serangga lain tertarik oleh bau dan nektar ke dalam sebuah ruangan [dalam bunga], yang hanya memiliki satu jalan keluar, dan ketika melewati jalan keluar itu, serangga harus pertama menyentuh stigma bunga, lalu stamen bunga, dan sambil ia meneruskannya ke bunga berikutnya, ia membawa pollen ke stigma berikutnya. Tetapi desain-desain seperti ini hampir tidak terhitung jumlahnya. Ada lebih dari tujuh ribu spesies yang diketahui…” (Robert Broom, The Coming of Man: Was It Accident or Design?). Anggrek ember misalnya [bucket orchid], menarik dua jenis lebah yang tergiur kepada cairannya karena dapat menarik lebah betina untuk kawin. Karena permukaan anggrek ini basah, sang lebah terperosok ke dalam suatu lorong yang akan menutup, memerangkap lebah itu sambil menempelkan kantong-kantong pollen kepadanya, sebelum melepaskannya. Lebah yang sama akan jatuh ke dalam perangkap yang sama di anggrek kedua, tetapi anggrek kedua ini tidak akan menempelkan kantong-kantong pollen lagi, tetapi akan melepaskan kantong-kantong itu, sehingga melengkapi proses polinasi (Geoff Chapman, “Orchids … a Witness to the Creator,” Creation Ex Nihilo, Dec. 1996-Feb. 1997). Evolusi buta harus “menciptakan” DNA bagi setiap dari desain yang ajaib ini; dan bukan hanya itu saja, evolusi harus “menciptakan” saling keterkaitan yang sempurna antara tumbuhan dan serangga yang melakukan polinasi. Bagaimana ini bisa terjadi tanpa adanya desainer, ketika bunga tidak dapat mempelajari serangga dan serangga tidak mampu mempelajari bunga, tetapi masing-masing saling tergantung kepada yang lainnya untuk dapat bertahan hidup dan masing-masing dilengkapi secara sempurna untuk tugasnya dalam proses yang rumit ini? “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rom. 1:20).

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Robot Imam Dapat Mengucapkan Berkat dalam Lima Bahasa

(Berita Mingguan GITS 08 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah gereja Protestan di Jerman telah mengembangkan sebuah robot yang dapat melafalkan “berkat-berkat” dalam lima bahasa, sambil menyinarkan cahaya dari tangannya (“Robot Priest Introduced,” WorldReligionNews.com, 31 Mei 2017). Robot imam yang konyol ini dibangun oleh Nassau and Hesse Evangelical Church untuk perayaan 500 tahun pemakuan 95 Thesis oleh Martin Luther di pintu gereja Katolik di Wittenberg. Berkat dapat dipesan melalui sebuah layar sentuh (touchscreen) di bagian dada robot tersebut, dan pemohon dapat memilih suara lelaki atau suara perempuan. “Mesin elektronik itu akan menyinarkan cahaya, mengangkat tangannya dan mengucapkan sebuah ayat Alkitab yang sesuai. Ia akan mengakhiri setiap permintaan berkat dengan kata-kata pujian bahwa Allah melindungi dan memberkati pemohon.” Menurut seorang perwakilan dari Nassau and Hesse Evangelical Church, “Idenya adalah untuk membuat orang mempertimbangkan apakah mungkin menerima bahwa suatu mesin dapat memberikan berkat, atau haruskah ada unsur manusia untuk tugas seperti ini.” Jawaban kami adalah bahwa sebuah robot tentu bisa memberikan berkat, yaitu yang sama efektifnya dengan berkat yang diberikan seorang pengkhotbah Protestan yang sesat. Fakta sebenarnya, satu-satunya yang dapat “memberikan berkat,” adalah Allah Mahakuasa, dan berkatNya telah dibayarkan oleh AnakNya di Golgota dan ditawarkan kepada setiap orang berdosa yang mempercayai Injil dalam keselamatan. EDITOR: Walaupun Martin Luther memprotes banyak kesalahan Katolik, masih ada beberapa kesalahan besar Katolik yang belum dia protes, dan akibatnya masih berlanjut dalam suatu bentuk atau lainnya. Salah satunya adalah masalah keimamatan. Dalam Perjanjian Baru, imamat Harun sudah dihentikan, dan Tuhan mengumumkan bahwa tidak ada lagi keimamatan spesial di kalangan orang percaya, karena semua orang percaya sudah diangkat menjadi imam (1 Petrus 2:9). Gereja Katolik melakukan kesalahan dengan terus mempertahankan keimamatan yang spesial. Banyak gereja Prostestan juga masih memiliki konsep yang serupa, dan oleh karena itu para “pendeta” mereka dianggap imam, yang pada akhir kebaktian mengangkat tangan untuk memberkati “umat,” mirip praktek imam di Perjanjian Lama. Padahal, dalam Perjanjian Baru, tidak ada lagi perbedaan antara “imam” dan “umat.”

Posted in Gereja | Leave a comment

Zuckerberg Mengatakan Facebook Adalah Gereja yang Baru

(Berita Mingguan GITS 08 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, mengatakan bahwa jaringan sosial yang dia buat itu dapat memberikan rasa komunitas yang sama seperti suatu gereja. Pernyataan misinya yang baru adalah “Membawa dumia semakin dekat satu sama lain.” Dan metodenya adalah jaringan grup-grup online yang menciptakan suatu rasa komunitas. Saat ini 100 juta orang berpartisipasi dalam jaringan-jaringan Facebook. Pembangunan komunitas adalah salah satu dari banyak alat yang dipakai oleh guru-guru New Age untuk mencapai tujuan pencerahan rohani, mencapai transformasi pribadi, dan membangun suatu dunia baru. Pembangunan komunitas yang dimaksud adalah proses penghancuran tembok-tembok pemisah antara orang-orang dan penekanan pada persatuan dan pemikiran kelompok daripada individualisme. Hal ini memerlukan suatu sikap tidak menghakimi dan kerelaan untuk menerima pandangan-pandangan dan praktek-praktek yang berbeda sebagai hal yang sah. Alat-alat New Age lainnya adalah meditasi, pengakuan positif, pembayangan terpimpin, visualisasi, positive thinking, dan dialog antar-agama. Zuckerberg mengakhiri pidatonya dalam acara kewisudaan di Universitas Harvard dengan sebuah doa Ibrani yang dia nyanyikan kepada putrinya setiap malam sebelum tidur. Lagu ini adalah suatu doa Yahudi yang meminta kesembuhan (Mi Shebeirach), yang dipakai sebagai suatu pengakuan positif, bukan sebagai doa alkitabiah. Zuckerberg memberitahu kelas yang wisuda di Harvard itu bahwa dia percaya “agama sangatlah penting,” tetapi dia mungkin tidak akan mau memasukkan “agama” dari Allah yang esa, dan kebenaran yang satu-satunya sebagaimana diajarkan di Kitab Suci, dan satu jalan keselamatan dalam Yesus Kristus saja. EDITOR: Positive Confession (yang diterjemahkan menjadi Pengakuan Positif), adalah konsep dan praktek mengucapkan secara lantang (keluar suara) apa yang anda inginkan terjadi dengan keyakinan bahwa Allah akan menjadikannya realita. Ini mirip dengan konsep Word-Faith, yang mengatakan bahwa ada kuasa dalam kata-kata kita yang kita ucapkan dengan “iman.” Jadi, seorang yang sakit misalnya, akan disuruh untuk berulang-ulang mengucapkan “saya tidak sakit,” “saya sehat,” “saya sembuh total,” dengan keyakinan. Mereka percaya bahwa dengan melakukan ini, kata-kata ini punya kuasa untuk mempengaruhi realita. Ini adalah konsep New Age (alam semesta akan membantumu, seperti dalam buku The Secret) yang sering kali dibungkus dengan sampul Kristen (Tuhan akan mengabulkan imanmu). Kesalahan theologis dalam konsep ini adalah bahwa Pengakuan, dalam Alkitab, adalah mengatakan dan menyetujui apa yang Allah katakan, bukan mengatakan sesuatu lalu mengharapkan Allah melakukannya. Iman dalam Alkitab adalah mempercayai janji Allah, bukan memaksa Allah melakukan kehendak kita.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Metode Pembaptisan

Bolehkah Pemercikan, Penuangan, atau Cara-Cara Lain, Menggantikan Pembaptisan?

oleh Dr. Steven E. Liauw

Topik pembaptisan memang adalah topik yang banyak menjadi bahan diskusi, bahkan perdebatan, dalam kekristenan. Ada banyak aspek dari baptisan yang diperdebatkan, misalnya, makna baptisan (apakah perlu untuk keselamatan, untuk apa dibaptis), siapa yang boleh dibaptis (subjek baptisan), metode pembaptisan (selam, tuang, percik, kibar bendera?), atau siapa yang berhak membaptis. Pada artikel ini, pembahasan akan difokuskan pada Metode/Mode Pembaptisan, sedangkan aspek-aspek lain tidak akan dibahas, atau hanya akan disinggung sekilas saja.

Mengenai bagaimana cara membaptis (metode/mode baptisan), ada beberapa posisi, antara lain:

A. Posisi bahwa membaptis berarti menyelamkan/membenamkan, sesuai dengan arti kata baptizo, sehingga jika seseorang tidak dimasukkan ke dalam (air), maka orang itu belum dibaptis (air). Artikel ini memegang posisi pertama ini, dan akan memperlihatkan alasan dan argumen alkitabiahnya.

B. Posisi bahwa memang kata baptizo berarti menyelamkan, tetapi bahwa hal ini tidak terlalu penting untuk dipertahankan, karena yang penting adalah “makna” baptisan, bukan caranya.

C. Posisi bahwa kata baptizo bukan hanya berarti menyelamkan, tetapi bisa berarti hal-hal lain, seperti mencuci, atau bahkan memercik dan menuang. Oleh karena itu, baptisan bisa dengan cara menyelamkan, mencurahkan, atau memercik.

D. Posisi bahwa baptisan yang benar (atau lebih benar) adalah melalui pemercikan/pencurahan, dan bahwa praktek penyelaman justru adalah salah, atau minimal kurang disetujui. Posisi ini sering mengetengahkan bahwa Tuhan Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama dipercik atau dituang.

Posisi A dan D saling bertolak belakang secara fundamental, sedangkan posisi B dan C memperbolehkan baik penyelaman maupun cara-cara lain seperti pemercikan dan pencurahan. Tentunya keempat posisi ini tidak mungkin semuanya benar. Banyak orang yang menentukan posisinya berdasarkan tradisi gerejanya, tetapi kebenaran hanya dapat ditentukan berdasarkan fakta-fakta, dan terutama fakta-fakta dalam Alkitab. Tuhan Yesus memerintahkan agar orang-orang yang percaya padaNya menjadikan segala bangsa muridNya dan menyelamkan mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Berikut adalah dasarnya:

I. Alkitab menggunakan kata baptizo

Tidak diperdebatkan bahwa Tuhan memerintahkan agar orang Kristen membaptis. Jadi, langkah yang paling mendasar dan pertama adalah untuk memahami apa arti dari kata “baptis.” Untuk memahami arti suatu kata, diperlukan kamus, atau penyelidikan langsung tentang bagaimana suatu kata dipakai.

Continue reading

Posted in Gereja, Theologi | Leave a comment

Hati-Hati Lobangnya

(Berita Mingguan GITS 01 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 8 Juni 2017: “Hati-hati lobang (gap) adalah perkataan yang sering terdengar di Stasiun Kereta Bawah Tanah London, yang memperingatkan orang-orang untuk tidak melangkah ke dalam gap (lobang atau jarak) antara platform stasiun dengan kereta itu. Tetapi ‘hati-hati gap (lobang)’ juga adalah nasihat baik bagi para pelajar Alkitab! Ada orang-orang yang mengusulkan bahwa ada gap, ada lobang / jarak, antara Kejadian pasal 1, ayat pertama dan ayat kedua. Beberapa bahkan mengusulkan bahwa gap atau lobang waktu ini bisa jadi selama jutaan tahun, atau milyaran tahun, dan pada masa inilah Lucifer jatuh dari Sorga, manusia pra-Adam hidup, bersama dengan binatang-binatang, termasuk dinosaurus. Dan akhirnya, Allah menghancurkan dunia dalam apa yang mereka sebut Air Bah Lucifer, yang lalu memimpin ke ayat 2 (dari Kejadian 1). Ide ini sudah lama muncul, bahkan sebelum teori evolusi populer, ke para geologis yang percaya zaman yang lama, seperti James Hutton. Sebagian theolog menjadi yakin bahwa suatu masa yang panjang bagi Bumi telah dibuktikan, jadi mereka mencoba untuk mengakomodasi jutaan tahun yang dicanangkan melalui ide ini. Tidak ada pembenaran Alkitab maupun sains untuk apa yang disebut Teori Gap ini. Sungguh, Alkitab menyatakan sebaliknya. Dalam Keluaran 20:11, Allah menyatakan, sebagai alasan dari Hukum Keempat, bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Ini berarti bahwa Kejadian 1:1 – penciptaan langit dan bumi – adalah bagian dari enam hari itu. Jadi, tidak mungkin ada gap atau lobang waktu di antara ayat pertama dan kedua dalam Alkitab.” EDITOR: Sebagai tambahan, bahasa Ibrani di ayat 1 dan 2 Kejadian 1 tidak memungkikan adanya gap. Di antara ayat 1 dan ayat 2, ada conjunctive waw, yang berarti ayat 2 bukanlah ‘peristiwa selanjutnya,’ tetapi adalah menggambarkan bumi yang disebut di ayat 1.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Peringatan 500 Tahun Reformasi Protestan

(Berita Mingguan GITS 24 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Tahun ini adalah peringatan 500 tahun Martin Luther memakukan 95 dalil yang membuka jalan bagi Reformasi Protestan. Istilah “Protestan” sendiri muncul dari sekelompok pangeran Jerman yang melakukan protes melawan Roma dua belas tahun kemudian, yaitu pada tahun 1529. Istilah Protestan biasanya mengacu kepada denominasi-denominasi yang muncul dari era tersebut – terutama Lutheran, Presbyterian, Anglikan (Episkopal), dan Methodis – tetapi sering juga dipakai untuk menggambarkan semua denominasi non-Katolik. Walaupun kaum Protestan keluar dari Roma dan menolak banyak dari kesalahan Roma, mereka juga masih menyimpan banyak hal yang tidak alkitabiah, seperti baptisan bayi, suatu keimamatan terbatas, penafsiran nubuat yang alegoris, theologi penggantian (replacement theology), dan penggabungan gereja dengan negara. Reformasi adalah suatu fenomena sosial, politik, dan agamawi yang besar dan kompleks, yang melibatkan banyak negara dan mencakup waktu yang panjang dan gerakan in berperan besar dalam membentuk dunia modern sekarang ini. Terjadi perubahan zaman yang besar (Dan. 2:21). Penyebaran terang rohani melalui pemberitaan Injil dan penerbitan Alkitab menghasilkan hal-hal seperti konsep kebebasan manusia yang maju, perbaikan kondisi ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan dalam bidang seni, dan kemajuan sosial (misal meningkatkan angka literasi, berakhirnya perbudakan, kondisi bekerja yang membaik, gaji yang lebih tinggi). Buku The Bible and Western Society yang Dr. Cloud tulis, menggambarkan sebagian buah baik hasil dari Reformasi. Sebuah penjabaran ekstensif tentang Reformasi Protestan dapat ditemukan dalam buku dua volume, A History of the Churches from a Baptist Perspective, edisi 2016.

Posted in Sejarah Gereja-Gereja | 9 Comments

Teknologi Hidup

(Berita Mingguan GITS 24 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pada akhir abad 18, William Paley memakai sebuah jam tangan sebagai ilustrasi tentang konsep desain. Jika anda berjalan melalui suatu hutan dan melihat sebuah jam tergeletak di tanah, anda langsung berasumsi bahwa jam ini dibuat oleh seorang desainer yang intelijen. Dengan cara yang sama, ketika kita melihat kompleksitas dari makhluk-makhluk hidup, kita harus berasumsi tentang eksistensi seorang desainer intelijen. Para skeptik mencoba untuk meredam argumen Paley dengan klaim bahwa tidak ada hubungan langsung antara sebuah jam dengan organisme makhluk hidup, tetapi ilmu pengetahuan telah sejak itu menyingkapkan teknologi hidup yang brilian yang terlihat jelas di seluruh kehidupan, bahkan pada level seluler. Para ilmuwan telah menemukan mesin-mesin yang hidup! Walt Brown, Ph.D. dalam teknik mesin dari MIT mengobservasi: “Kebanyakan fenomena kompleks yang diketahui oleh sains ditemukannya di dalam sistem-sistem yang hidup – termasuk yang melibatkan fenomena elektrik, akustik, mekanis, kimiawi, dan optik. Penelitian mendetil dari berbagai binatang juga telah menyingkapkan peralatan dan kemampuan fisik tertentu dan yang tidak dapat ditiru oleh para desainer terbaik dunia ini, sekalipun menggunakan teknologi yang paling rumit. Contoh-contoh desain demikian meliputi motor-motor berukuran molekul di kebanyakan makhluk hidup; teknologi canggih dalam sel; sistem sonar yang mini dan teruji dalam lumba-lumba dan paus; ‘radar’ dan sistem pembedaan benda dengan memakai frekuensi dalam kelelawar; kemampuan aerodinamis yang efisien dari hummingbird; sistem kontrol, balistik internal, dan ruang bakar dari kumbang bombardier; sistem navigasi yang sangat tepat dan berlapis dari banyak burung, ikan, dan serangga; dan terutama kemampuan memperbaiki diri sendiri yang dimiliki hampir semua bentuk kehidupan. Tidak ada satu pun komponen dari sistem-sistem yang kompleks ini yang dapat berevolusi tanpa menyebabkan organisme tersebut berada dalam posisi payah dan rugi sampai komponen tersebut selesai. Semua bukti menunjuk kepada desain intelijen. Banyak bakteri, seperti Salmonella, Escherichia coli, dan beberapa Streptococci, menggerakkan diri mereka dengan motor-motor mini … Teori evolusi mengajarkan bahwa bakteri adalah salah satbu bentuk kehidupan yang pertama berevolusi, dan oleh karena itu, mereka sederhana. Bakteri bisa jadi memang kecil, tetapi mereka tidaklah sederhana. Mereka dapat berkomunikasi dengan sesama mereka menggunakan bahan-bahan kimia. Sebagian tumbuhan memiliki motor yang ukurannya seperlima dari ukuran motor bakteri. Semakin tingginya ketertarikan dunia dengan teknologi nano, kini menunjukkan bahwa makhluk-makhluk hidup telah didesain dengan sangat hebat – lebih dari apa yang Darwin dapat bayangkan” (In the Beginning: Compelling Evidence for Creation and the Flood, hal. 19).

Posted in Science and Bible | Leave a comment