Kesalahan Membaptiskan Bayi
Banyak gereja hari ini membaptiskan bayi, atau lebih cocok sebenarnya dikatakan mereka memercik bayi. Kata “baptis” berarti menyelamkan, dan kebanyakan gereja tidak menyelamkan bayi, mereka hanya memercik mereka. Tetapi, Gereja Ortodoks Timur, yang memiliki basis Yunani (dibandingkan Roma Katolik yang berbasiskan Latin), benar-benar menyelamkan bayi.
Gereja-gereja Protestan juga melakukan “baptis” bayi atau pemercikan bayi. Ini karena gereja-gereja Protestan keluar dari Roma Katolik, dan karena itu mewarisi sebagian doktrin-doktrin Katolik. Sepanjang sejarah, ada sekelompok orang-orang percaya alkitabiah, yang dikenal dengan berbagai nama (Donatis, Bogomil, Waldensian, Novatian, Anabaptis, dll., modern ini kaum Baptis), yang sejak awal berada di luar Roma Katolik, dan mempertahankan pengajaran alkitabiah bahwa hanya orang percaya yang boleh dibaptis. Berikut ini akan dipaparkan secara singkat, kesalahan praktek membaptiskan bayi (apalagi memercik bayi). Membaptis bayi adalah kesalahan besar, karena:
1. Melanggar Prinsip Firman Tuhan tentang Baptisan
a. Percaya kepada Yesus Kristus adalah syarat baptisan
Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata sida-sida itu: “Lihat, di situ ada air; apakah halangannya, jika aku dibaptis?” Sahut Filipus: “Jika tuan percaya dengan segenap hati, boleh.” Jawabnya: “Aku percaya, bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah.” (Kis. 8:36-37)
Perikop ini sangat jelas mengajarkan tentang pembaptisan. Filipus menginjili seorang sida-sida dari Etiopia. Lalu, sida-sida itu ingin dibaptis, dan menanyakan apakah ia boleh dibaptis atau tidak. Filipus memberikan jawaban yang tegas: Jika seseorang percaya dengan segenap hati (kepada Yesus, sesuai dengan penjelasan Filipus tentang perikop dalam Yesaya yang dibaca oleh sida-sida), maka ia boleh dibaptis. Tentu kebalikannya menjadi benar, bahwa jika seseorang belum percaya pada Yesus dengan segenap hati, maka ia tidak boleh dibaptis.
Dari ayat di atas menjadi jelas, bahwa bayi tidak boleh dibaptis. Mengapa? Karena bayi belum percaya kepada Yesus Kristus. Tetapi bukankah orang tuanya telah percaya? Dalam Alkitab, masalah iman selalu adalah masalah pribadi seseorang dengan Tuhan, dan tidak bisa iman seseorang menyelamatkan pribadi lain selain dirinya sendiri. Jadi, orang tua yang beriman tidak bisa meminjamkan iman mereka pada bayi mereka, sehingga bayi itu dibaptis.
Ada lagi orang yang berdalih dan berkata, “Pokoknya saya tidak melihat ada ayat di Alkitab yang mengatakan ‘tidak boleh membaptis bayi.’” Tetapi, ini adalah argumen yang dicari-cari dan membangkang pada Firman Tuhan. Dengan memakai logika yang sama, seorang pemuda yang nakal dapat berkata, “tidak ada ayat yang mengatakan jangan merokok, tidak ada ayat yang mengatakan jangan pakai heroin.” Tetapi, jelas orang Kristen yang sejati tahu untuk tidak merokok dan tidak menggunakan narkoba, karena ada PRINSIP-nya dalam Alkitab, antara lain: bahwa kita tidak boleh merusak tubuh kita (1 Kor. 6:19-20; 3:16-17), dan bahwa kita tidak boleh membiarkan diri kita diperhamba oleh apapun (1 Kor. 6:12). Jadi, tidak diperlukan ayat yang berkata “tidak boleh membaptis bayi,” karena pembaptisan bayi sudah otomotis dilarang dengan adanya syarat baptisan: haruslah seseorang yang percaya.
Ada lagi orang yang ingin menggugurkan prinsip ini, dengan menunjukkan bahwa sebagian Alkitab terjemahan modern, menghilangkan Kisah Rasul 8:37. Memang sebagian Alkitab terjemahan modern menghilangkan ayat 37 (LAI menuliskannya dalam tanda kurung), tetapi itu karena terjemahan modern mengikuti teks yang korup, yang disebut Critical Text. Critical Text adalah teks yang banyak menghilangkan ayat-ayat tentang keilahian Kristus dan kedagingan Kristus, tetapi teks ini disenangi oleh kaum liberal dan bidat. Sayangnya, akademia Kristen banyak dikuasai oleh orang-orang liberal, sehingga sebagian penerjemahan Alkitab memakai teks yang korup ini. Tetapi, dengan akal sehat saja, kita bisa melihat bahwa sebenarnya tidak mungkin tidak ada ayat 37. Masakan ada pertanyaan sida-sida: “apakah halangannya jika aku dibaptis,” lalu tidak ada jawaban dari Filipus? Dari sudut pandang literatur, hilangnya ayat 37 akan menghancurkan struktur. Jelas ayat 37 dihilangkan oleh teks yang korup, tetapi puji Tuhan terpelihara dalam teks yang diterima oleh orang percaya (Tekstus Receptus).
Continue reading →