Polinasi

(Berita Mingguan GITS 15 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sistem polinasi adalah suatu sistem simbiosis yang telah dikalibrasi secara halus, dan melibatkan tak terhitung jumlah bunga, serangga, dan burung, yang berbeda-beda tipe, yang semuanya terintegrasi secara sempurna untuk mempertahankan kehidupan. Tanaman yucca bergantung pada ngengat yucca untuk melakukan pembuahan, dan larva ngengat tersebut bergantung pada tanaman yang spesifik untuk makanan. Lili voodoo meningkatkan temperaturnya sebanyak 25 derajat (Fahrenheit) dan mengeluarkan sejenis bau-bauan yang mirip dengan bau daging busuk, untuk dapat menarik kumbang tertentu. Ketika kumbang itu mengeriap di sekitar bunga itu sambil mencari makanan, ia tertutup oleh pollen, yang ia sebarkan dari bunga ke bunga. Perhatikan anggrek. “Dalam banyak kasus, perkembangannya sedemikian rupa sehingga bunga dan serangga saling cocok satu sama lain seperti sarung tangan dengan tangan. Dalam kasus-kasus tertentu, desainnya sedemikian pintar sehingga lebah atau serangga lain tertarik oleh bau dan nektar ke dalam sebuah ruangan [dalam bunga], yang hanya memiliki satu jalan keluar, dan ketika melewati jalan keluar itu, serangga harus pertama menyentuh stigma bunga, lalu stamen bunga, dan sambil ia meneruskannya ke bunga berikutnya, ia membawa pollen ke stigma berikutnya. Tetapi desain-desain seperti ini hampir tidak terhitung jumlahnya. Ada lebih dari tujuh ribu spesies yang diketahui…” (Robert Broom, The Coming of Man: Was It Accident or Design?). Anggrek ember misalnya [bucket orchid], menarik dua jenis lebah yang tergiur kepada cairannya karena dapat menarik lebah betina untuk kawin. Karena permukaan anggrek ini basah, sang lebah terperosok ke dalam suatu lorong yang akan menutup, memerangkap lebah itu sambil menempelkan kantong-kantong pollen kepadanya, sebelum melepaskannya. Lebah yang sama akan jatuh ke dalam perangkap yang sama di anggrek kedua, tetapi anggrek kedua ini tidak akan menempelkan kantong-kantong pollen lagi, tetapi akan melepaskan kantong-kantong itu, sehingga melengkapi proses polinasi (Geoff Chapman, “Orchids … a Witness to the Creator,” Creation Ex Nihilo, Dec. 1996-Feb. 1997). Evolusi buta harus “menciptakan” DNA bagi setiap dari desain yang ajaib ini; dan bukan hanya itu saja, evolusi harus “menciptakan” saling keterkaitan yang sempurna antara tumbuhan dan serangga yang melakukan polinasi. Bagaimana ini bisa terjadi tanpa adanya desainer, ketika bunga tidak dapat mempelajari serangga dan serangga tidak mampu mempelajari bunga, tetapi masing-masing saling tergantung kepada yang lainnya untuk dapat bertahan hidup dan masing-masing dilengkapi secara sempurna untuk tugasnya dalam proses yang rumit ini? “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih” (Rom. 1:20).

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Robot Imam Dapat Mengucapkan Berkat dalam Lima Bahasa

(Berita Mingguan GITS 08 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Sebuah gereja Protestan di Jerman telah mengembangkan sebuah robot yang dapat melafalkan “berkat-berkat” dalam lima bahasa, sambil menyinarkan cahaya dari tangannya (“Robot Priest Introduced,” WorldReligionNews.com, 31 Mei 2017). Robot imam yang konyol ini dibangun oleh Nassau and Hesse Evangelical Church untuk perayaan 500 tahun pemakuan 95 Thesis oleh Martin Luther di pintu gereja Katolik di Wittenberg. Berkat dapat dipesan melalui sebuah layar sentuh (touchscreen) di bagian dada robot tersebut, dan pemohon dapat memilih suara lelaki atau suara perempuan. “Mesin elektronik itu akan menyinarkan cahaya, mengangkat tangannya dan mengucapkan sebuah ayat Alkitab yang sesuai. Ia akan mengakhiri setiap permintaan berkat dengan kata-kata pujian bahwa Allah melindungi dan memberkati pemohon.” Menurut seorang perwakilan dari Nassau and Hesse Evangelical Church, “Idenya adalah untuk membuat orang mempertimbangkan apakah mungkin menerima bahwa suatu mesin dapat memberikan berkat, atau haruskah ada unsur manusia untuk tugas seperti ini.” Jawaban kami adalah bahwa sebuah robot tentu bisa memberikan berkat, yaitu yang sama efektifnya dengan berkat yang diberikan seorang pengkhotbah Protestan yang sesat. Fakta sebenarnya, satu-satunya yang dapat “memberikan berkat,” adalah Allah Mahakuasa, dan berkatNya telah dibayarkan oleh AnakNya di Golgota dan ditawarkan kepada setiap orang berdosa yang mempercayai Injil dalam keselamatan. EDITOR: Walaupun Martin Luther memprotes banyak kesalahan Katolik, masih ada beberapa kesalahan besar Katolik yang belum dia protes, dan akibatnya masih berlanjut dalam suatu bentuk atau lainnya. Salah satunya adalah masalah keimamatan. Dalam Perjanjian Baru, imamat Harun sudah dihentikan, dan Tuhan mengumumkan bahwa tidak ada lagi keimamatan spesial di kalangan orang percaya, karena semua orang percaya sudah diangkat menjadi imam (1 Petrus 2:9). Gereja Katolik melakukan kesalahan dengan terus mempertahankan keimamatan yang spesial. Banyak gereja Prostestan juga masih memiliki konsep yang serupa, dan oleh karena itu para “pendeta” mereka dianggap imam, yang pada akhir kebaktian mengangkat tangan untuk memberkati “umat,” mirip praktek imam di Perjanjian Lama. Padahal, dalam Perjanjian Baru, tidak ada lagi perbedaan antara “imam” dan “umat.”

Posted in Gereja | Leave a comment

Zuckerberg Mengatakan Facebook Adalah Gereja yang Baru

(Berita Mingguan GITS 08 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, mengatakan bahwa jaringan sosial yang dia buat itu dapat memberikan rasa komunitas yang sama seperti suatu gereja. Pernyataan misinya yang baru adalah “Membawa dumia semakin dekat satu sama lain.” Dan metodenya adalah jaringan grup-grup online yang menciptakan suatu rasa komunitas. Saat ini 100 juta orang berpartisipasi dalam jaringan-jaringan Facebook. Pembangunan komunitas adalah salah satu dari banyak alat yang dipakai oleh guru-guru New Age untuk mencapai tujuan pencerahan rohani, mencapai transformasi pribadi, dan membangun suatu dunia baru. Pembangunan komunitas yang dimaksud adalah proses penghancuran tembok-tembok pemisah antara orang-orang dan penekanan pada persatuan dan pemikiran kelompok daripada individualisme. Hal ini memerlukan suatu sikap tidak menghakimi dan kerelaan untuk menerima pandangan-pandangan dan praktek-praktek yang berbeda sebagai hal yang sah. Alat-alat New Age lainnya adalah meditasi, pengakuan positif, pembayangan terpimpin, visualisasi, positive thinking, dan dialog antar-agama. Zuckerberg mengakhiri pidatonya dalam acara kewisudaan di Universitas Harvard dengan sebuah doa Ibrani yang dia nyanyikan kepada putrinya setiap malam sebelum tidur. Lagu ini adalah suatu doa Yahudi yang meminta kesembuhan (Mi Shebeirach), yang dipakai sebagai suatu pengakuan positif, bukan sebagai doa alkitabiah. Zuckerberg memberitahu kelas yang wisuda di Harvard itu bahwa dia percaya “agama sangatlah penting,” tetapi dia mungkin tidak akan mau memasukkan “agama” dari Allah yang esa, dan kebenaran yang satu-satunya sebagaimana diajarkan di Kitab Suci, dan satu jalan keselamatan dalam Yesus Kristus saja. EDITOR: Positive Confession (yang diterjemahkan menjadi Pengakuan Positif), adalah konsep dan praktek mengucapkan secara lantang (keluar suara) apa yang anda inginkan terjadi dengan keyakinan bahwa Allah akan menjadikannya realita. Ini mirip dengan konsep Word-Faith, yang mengatakan bahwa ada kuasa dalam kata-kata kita yang kita ucapkan dengan “iman.” Jadi, seorang yang sakit misalnya, akan disuruh untuk berulang-ulang mengucapkan “saya tidak sakit,” “saya sehat,” “saya sembuh total,” dengan keyakinan. Mereka percaya bahwa dengan melakukan ini, kata-kata ini punya kuasa untuk mempengaruhi realita. Ini adalah konsep New Age (alam semesta akan membantumu, seperti dalam buku The Secret) yang sering kali dibungkus dengan sampul Kristen (Tuhan akan mengabulkan imanmu). Kesalahan theologis dalam konsep ini adalah bahwa Pengakuan, dalam Alkitab, adalah mengatakan dan menyetujui apa yang Allah katakan, bukan mengatakan sesuatu lalu mengharapkan Allah melakukannya. Iman dalam Alkitab adalah mempercayai janji Allah, bukan memaksa Allah melakukan kehendak kita.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age | Leave a comment

Metode Pembaptisan

Bolehkah Pemercikan, Penuangan, atau Cara-Cara Lain, Menggantikan Pembaptisan?

oleh Dr. Steven E. Liauw

Topik pembaptisan memang adalah topik yang banyak menjadi bahan diskusi, bahkan perdebatan, dalam kekristenan. Ada banyak aspek dari baptisan yang diperdebatkan, misalnya, makna baptisan (apakah perlu untuk keselamatan, untuk apa dibaptis), siapa yang boleh dibaptis (subjek baptisan), metode pembaptisan (selam, tuang, percik, kibar bendera?), atau siapa yang berhak membaptis. Pada artikel ini, pembahasan akan difokuskan pada Metode/Mode Pembaptisan, sedangkan aspek-aspek lain tidak akan dibahas, atau hanya akan disinggung sekilas saja.

Mengenai bagaimana cara membaptis (metode/mode baptisan), ada beberapa posisi, antara lain:

A. Posisi bahwa membaptis berarti menyelamkan/membenamkan, sesuai dengan arti kata baptizo, sehingga jika seseorang tidak dimasukkan ke dalam (air), maka orang itu belum dibaptis (air). Artikel ini memegang posisi pertama ini, dan akan memperlihatkan alasan dan argumen alkitabiahnya.

B. Posisi bahwa memang kata baptizo berarti menyelamkan, tetapi bahwa hal ini tidak terlalu penting untuk dipertahankan, karena yang penting adalah “makna” baptisan, bukan caranya.

C. Posisi bahwa kata baptizo bukan hanya berarti menyelamkan, tetapi bisa berarti hal-hal lain, seperti mencuci, atau bahkan memercik dan menuang. Oleh karena itu, baptisan bisa dengan cara menyelamkan, mencurahkan, atau memercik.

D. Posisi bahwa baptisan yang benar (atau lebih benar) adalah melalui pemercikan/pencurahan, dan bahwa praktek penyelaman justru adalah salah, atau minimal kurang disetujui. Posisi ini sering mengetengahkan bahwa Tuhan Yesus dan orang-orang Kristen abad pertama dipercik atau dituang.

Posisi A dan D saling bertolak belakang secara fundamental, sedangkan posisi B dan C memperbolehkan baik penyelaman maupun cara-cara lain seperti pemercikan dan pencurahan. Tentunya keempat posisi ini tidak mungkin semuanya benar. Banyak orang yang menentukan posisinya berdasarkan tradisi gerejanya, tetapi kebenaran hanya dapat ditentukan berdasarkan fakta-fakta, dan terutama fakta-fakta dalam Alkitab. Tuhan Yesus memerintahkan agar orang-orang yang percaya padaNya menjadikan segala bangsa muridNya dan menyelamkan mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Berikut adalah dasarnya:

I. Alkitab menggunakan kata baptizo

Tidak diperdebatkan bahwa Tuhan memerintahkan agar orang Kristen membaptis. Jadi, langkah yang paling mendasar dan pertama adalah untuk memahami apa arti dari kata “baptis.” Untuk memahami arti suatu kata, diperlukan kamus, atau penyelidikan langsung tentang bagaimana suatu kata dipakai.

Continue reading

Posted in Gereja, Theologi | Leave a comment

Hati-Hati Lobangnya

(Berita Mingguan GITS 01 Juli 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, 8 Juni 2017: “Hati-hati lobang (gap) adalah perkataan yang sering terdengar di Stasiun Kereta Bawah Tanah London, yang memperingatkan orang-orang untuk tidak melangkah ke dalam gap (lobang atau jarak) antara platform stasiun dengan kereta itu. Tetapi ‘hati-hati gap (lobang)’ juga adalah nasihat baik bagi para pelajar Alkitab! Ada orang-orang yang mengusulkan bahwa ada gap, ada lobang / jarak, antara Kejadian pasal 1, ayat pertama dan ayat kedua. Beberapa bahkan mengusulkan bahwa gap atau lobang waktu ini bisa jadi selama jutaan tahun, atau milyaran tahun, dan pada masa inilah Lucifer jatuh dari Sorga, manusia pra-Adam hidup, bersama dengan binatang-binatang, termasuk dinosaurus. Dan akhirnya, Allah menghancurkan dunia dalam apa yang mereka sebut Air Bah Lucifer, yang lalu memimpin ke ayat 2 (dari Kejadian 1). Ide ini sudah lama muncul, bahkan sebelum teori evolusi populer, ke para geologis yang percaya zaman yang lama, seperti James Hutton. Sebagian theolog menjadi yakin bahwa suatu masa yang panjang bagi Bumi telah dibuktikan, jadi mereka mencoba untuk mengakomodasi jutaan tahun yang dicanangkan melalui ide ini. Tidak ada pembenaran Alkitab maupun sains untuk apa yang disebut Teori Gap ini. Sungguh, Alkitab menyatakan sebaliknya. Dalam Keluaran 20:11, Allah menyatakan, sebagai alasan dari Hukum Keempat, bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Ini berarti bahwa Kejadian 1:1 – penciptaan langit dan bumi – adalah bagian dari enam hari itu. Jadi, tidak mungkin ada gap atau lobang waktu di antara ayat pertama dan kedua dalam Alkitab.” EDITOR: Sebagai tambahan, bahasa Ibrani di ayat 1 dan 2 Kejadian 1 tidak memungkikan adanya gap. Di antara ayat 1 dan ayat 2, ada conjunctive waw, yang berarti ayat 2 bukanlah ‘peristiwa selanjutnya,’ tetapi adalah menggambarkan bumi yang disebut di ayat 1.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Peringatan 500 Tahun Reformasi Protestan

(Berita Mingguan GITS 24 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Tahun ini adalah peringatan 500 tahun Martin Luther memakukan 95 dalil yang membuka jalan bagi Reformasi Protestan. Istilah “Protestan” sendiri muncul dari sekelompok pangeran Jerman yang melakukan protes melawan Roma dua belas tahun kemudian, yaitu pada tahun 1529. Istilah Protestan biasanya mengacu kepada denominasi-denominasi yang muncul dari era tersebut – terutama Lutheran, Presbyterian, Anglikan (Episkopal), dan Methodis – tetapi sering juga dipakai untuk menggambarkan semua denominasi non-Katolik. Walaupun kaum Protestan keluar dari Roma dan menolak banyak dari kesalahan Roma, mereka juga masih menyimpan banyak hal yang tidak alkitabiah, seperti baptisan bayi, suatu keimamatan terbatas, penafsiran nubuat yang alegoris, theologi penggantian (replacement theology), dan penggabungan gereja dengan negara. Reformasi adalah suatu fenomena sosial, politik, dan agamawi yang besar dan kompleks, yang melibatkan banyak negara dan mencakup waktu yang panjang dan gerakan in berperan besar dalam membentuk dunia modern sekarang ini. Terjadi perubahan zaman yang besar (Dan. 2:21). Penyebaran terang rohani melalui pemberitaan Injil dan penerbitan Alkitab menghasilkan hal-hal seperti konsep kebebasan manusia yang maju, perbaikan kondisi ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan dalam bidang seni, dan kemajuan sosial (misal meningkatkan angka literasi, berakhirnya perbudakan, kondisi bekerja yang membaik, gaji yang lebih tinggi). Buku The Bible and Western Society yang Dr. Cloud tulis, menggambarkan sebagian buah baik hasil dari Reformasi. Sebuah penjabaran ekstensif tentang Reformasi Protestan dapat ditemukan dalam buku dua volume, A History of the Churches from a Baptist Perspective, edisi 2016.

Posted in Sejarah Gereja-Gereja | 9 Comments

Teknologi Hidup

(Berita Mingguan GITS 24 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pada akhir abad 18, William Paley memakai sebuah jam tangan sebagai ilustrasi tentang konsep desain. Jika anda berjalan melalui suatu hutan dan melihat sebuah jam tergeletak di tanah, anda langsung berasumsi bahwa jam ini dibuat oleh seorang desainer yang intelijen. Dengan cara yang sama, ketika kita melihat kompleksitas dari makhluk-makhluk hidup, kita harus berasumsi tentang eksistensi seorang desainer intelijen. Para skeptik mencoba untuk meredam argumen Paley dengan klaim bahwa tidak ada hubungan langsung antara sebuah jam dengan organisme makhluk hidup, tetapi ilmu pengetahuan telah sejak itu menyingkapkan teknologi hidup yang brilian yang terlihat jelas di seluruh kehidupan, bahkan pada level seluler. Para ilmuwan telah menemukan mesin-mesin yang hidup! Walt Brown, Ph.D. dalam teknik mesin dari MIT mengobservasi: “Kebanyakan fenomena kompleks yang diketahui oleh sains ditemukannya di dalam sistem-sistem yang hidup – termasuk yang melibatkan fenomena elektrik, akustik, mekanis, kimiawi, dan optik. Penelitian mendetil dari berbagai binatang juga telah menyingkapkan peralatan dan kemampuan fisik tertentu dan yang tidak dapat ditiru oleh para desainer terbaik dunia ini, sekalipun menggunakan teknologi yang paling rumit. Contoh-contoh desain demikian meliputi motor-motor berukuran molekul di kebanyakan makhluk hidup; teknologi canggih dalam sel; sistem sonar yang mini dan teruji dalam lumba-lumba dan paus; ‘radar’ dan sistem pembedaan benda dengan memakai frekuensi dalam kelelawar; kemampuan aerodinamis yang efisien dari hummingbird; sistem kontrol, balistik internal, dan ruang bakar dari kumbang bombardier; sistem navigasi yang sangat tepat dan berlapis dari banyak burung, ikan, dan serangga; dan terutama kemampuan memperbaiki diri sendiri yang dimiliki hampir semua bentuk kehidupan. Tidak ada satu pun komponen dari sistem-sistem yang kompleks ini yang dapat berevolusi tanpa menyebabkan organisme tersebut berada dalam posisi payah dan rugi sampai komponen tersebut selesai. Semua bukti menunjuk kepada desain intelijen. Banyak bakteri, seperti Salmonella, Escherichia coli, dan beberapa Streptococci, menggerakkan diri mereka dengan motor-motor mini … Teori evolusi mengajarkan bahwa bakteri adalah salah satbu bentuk kehidupan yang pertama berevolusi, dan oleh karena itu, mereka sederhana. Bakteri bisa jadi memang kecil, tetapi mereka tidaklah sederhana. Mereka dapat berkomunikasi dengan sesama mereka menggunakan bahan-bahan kimia. Sebagian tumbuhan memiliki motor yang ukurannya seperlima dari ukuran motor bakteri. Semakin tingginya ketertarikan dunia dengan teknologi nano, kini menunjukkan bahwa makhluk-makhluk hidup telah didesain dengan sangat hebat – lebih dari apa yang Darwin dapat bayangkan” (In the Beginning: Compelling Evidence for Creation and the Flood, hal. 19).

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Tumbuhan Memiliki “Otak Mini”

(Berita Mingguan GITS 24 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Para ilmuwan sedang belajar banyak tentang bagaimana tumbuhan “berpikir,” dan ini adalah penelitian yang begitu mengagumkan. Sebagai contoh, para peneliti telah menemukan dua kelompok sel di dalam embrio tumbuhan yang cara kerjanya mirip dengan bagaimana otak manusia, yang fungsinya adalah untuk memutuskan kapan tumbuhan ini harus bertunas. “Pengaturan letaknya mirip dengan otak manusia, dengan hormon-hormon yang saling bertukaran antara dua kelompok sel mirip dengan situasi ketika kita manusia sedang memutuskan mau bergerak atau tidak. Tim dari Universitas Birmingham di Inggris, menggunakan model matematika untuk memperlihatkan bahwa komunikasi antara dua kelompok sel – kelompok satu mendukung tetap dorman, dan kelompok satu mendukung untuk bertunas – mengendalikan sensitivitas tumbuhan tersebut terhadap lingkungan. Ketika kelompok sel yang mendukung bertunas akhirnya menang, maka biji akan bertunas … Pusat pengambilan keputusan ini ditemukan di ujung akar dari benih Arabidopsis thaliana (tanaman thale cress dalam bahasa Inggris) yang dipelari oleh para peneliti” (“Plant Seeds Use ‘Mini Brains’ to Decide When to Sprout,” Science Alert, 10 Jun. 2017). Walaupun kita mencurigai bahwa kebanyakan ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini adalah evolusionis, ini bukanlah karena riset mereka mendukung evolusi; ini adalah karena mereka memiliki komitmen sebelumnya terhadap evolusi yang tidak tergoyahkan oleh fakta-fakta yang mereka temukan sekalipun. Kompleksitas dan intelijensi tanaman yang sangat mencengangkan, yang baru mulai dipahami oleh para ilmuwan, adalah bukti jelas melawan evolusi.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Kreeft Mengatakan Suatu “Reformasi Baru” Sedang Berlangsung

(Berita Mingguan GITS 10 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Peter Kreeft, seorang pembela Roma Katolik dan ekumenis yang terkenal, mengatakan bahwa suatu “reformasi baru” sedang berlangsung yang mempersatukan Katolik dan non-Katolik. Dalam sebuah wawancara dengan The Christian Post, dia mengatakan bahwa “lebih banyak kemajuan ekumenis terjadi dalam 50 tahun terakhir dibandingkan 500 tahun sebelumnya” (“God Is Moving to Unite Catholics and Protestants,” Christian Post, 31 Mei 2017). “Reformasi baru” yang dimaksud Kreeft ini adalah kebalikan dari Reformasi Protestan. Dalam buku barunya Catholics and Protestants: What Can We Learn from Each Other?, dia mengatakan bahwa runtuhnya moralitas dalam masyarakat seharusnya membawa orang Katolik dan Protestan semakin dekat satu terhadap yang lain. Kreeft berpindah dari Reformed Belanda ke Katolikisme melalui pengaruh dari tulisan “bapa-bapa gereja” sewaktu dia menjadi mahasiswa di Calvin College di Grand Rapids, Michigan. Dia secara khusus tertarik kepada “Santo Agustinus,” dan dalam tulisan-tulisannya itu dia menemukan hal-hal seperti “Ekaristi, Kehadiran Sejati, doa kepada santo-santa, devosi kepada Maria, penekanan pada kesatuan yang terlihat” (“Hauled Aboard the Ark,” www.peterkreeft.com). Dr. Kreeft tidak menemukan kebenaran dalam “bapa-bapa gereja,” dia menemukan doktrin setan-setan, dan entah mengapa rohnya sejalan dengan kesalahan-kesalahan ini. Para “bapa-bapa gereja” tidak menambahkan satu iota pun kebenaran kepada kanon Kitab Suci, dan mereka sama sekali tidak memiliki otoritas. Persatuan yang diserukan oleh orang-orang seperti Kreeft pada zaman sekarang ini bukanlah persatuan yang alkitabiah; ini adalah persatuan kesesatan akhir zaman yang menuju kepada suatu “gereja” esa-sedunia. Hal ini dipimpin oleh pribadi yang “menyamar sebagai Malaikat Terang” (2 Korintus 11:14).

Posted in Ekumenisme | Leave a comment

Gereja Inggris Akan Mempertimbangkan Kebaktian Baptisan Spesial untuk Orang “Transgender”

(Berita Mingguan GITS 10 Juni 2017, sumber: www.wayoflife.org)

Pada sidang Sinode Umum bulan Juli ini (2017), Gereja Inggris akan mempertimbangkan suatu proposal untuk jenis kebaktian baptisan baru “untuk merayakan individu-individu transgender yang telah mengganti jenis kelamin” (Church of England Considers Baptizing People into New Gender,” ChristianHeadlines.com, 2 Juni 2017). Gereja ini, kalau masih bisa disebut gereja, telah memiliki imam-imam transgender. Salah satunya adalah Rachel Mann, yang mengatakan, “Orang-orang trans merasakan panggilan yang kuat untuk diakui dalam nama ‘pilihan’ mereka. Jadi, suatu kesempatan untuk secara publik diperkenalkan kepada Allah adalah signifikan.” Kita tidak yakin “Allah” yang mana yang dimaksud oleh Mann, tetapi jelas bukanlah Allah Pencipta yang menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan. Kitab Suci mengajarkan bahwa sang Pencipta membentuk setiap individu di dalam rahim menurut suatu rencana yang sudah dari dahulu kala, dan menjadi laki-laki atau perempuan bukanlah suatu kebetulan. Gereja-gereja sejati tidak merayakan kebengkokan moral; gereja-gereja sejati memberitakan Injil Yesus Kristus yang mengubah hidup, sehingga orang-orang berdosa ditobatkan dari kejahatan dan diberikan suatu pikiran yang baru yang mengasihi kebenaran dan kebajikan. Gerakan transgender di abad 21 ini adalah konsekuensi logis dari gerakan feminis uniseks abad 20. “Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya” (Maz. 139:16).

Posted in LGBT | Leave a comment