PBB Menyangkal Hubungan Sejarah Israel dengan Bukit Bait

(Berita Mingguan GITS 22 Oktober 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Minggu lalu, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), melakukan voting 24 banding 6, dan menyetujui sebuah resolusi yang menyangkal ada hubungan sejarah antara orang Yahudi dengan situs-situs kudus di Yerusalem, termasuk Bukit Bait (“‘Egregious and Sinister,’ CBN.com, 14 Okt. 14, 2016). Hanya Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Belanda, Lithuania, dan Estonia yang menyatakan tidak setuju. Dua puluh enam negara mengambil jalan penakut dan memilih abstain, sehingga mengizinkan resolusi ini untuk lolos. Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu merespon, “Bahkan jika mereka tidak membaca Alkitab, saya akan mengusulkan agar para anggota UNESCO mengunjungi Lengkung Titus (Arch of Titus) di Roma. Pada prasasti bersejarah itu dapat terlihat pasukan Roma sedang mengangkut benda-benda jarahan dari Bait Suci kedua di Bukit Bait 2000 tahun yang lalu. Di sana, terpahat pada Lengkung Titus, adalah menorah bercabang tujuh yang adalah simbol umat Yahudi, dan saya mengingatkan anda, juga adalah simbol bangsa Yahudi hari ini. Jangan-jangan UNESCO juga mau berkata bahwa Kaisar Titus terlibat dalam propaganda Zionis. Tetapi saya percaya bahwa kebenaran sejarah lebih kuat dan kebenaran akan menang. Dan hari ini kita berurusan dengan kebenaran.” Sungguh, kebenaran akan menang, tetapi Israel masih dalam pemberontakan terhadap Penciptanya dan masa depan jangka pendeknya tidaklah terang. Menurut nubuat Alkitab, dia akan ditipu oleh program “damai” antikristus. Dalam Wahyu 11 kita melihat pengukuran terhadap Bait Suci Ketiga di tengah-tengah masa berkhotbahnya dua nabi pembuat mujizat, dan Bait itu akan dikuasai oleh Antikristus yang akan mengklaim diri Allah dan memaksa dunia untuk menyembah dia dengan ancaman maut. “Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: ‘Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya. Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.’ Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya” (Wah. 11:1-3).

Posted in Arkeologi, Israel | Leave a comment

Membentuk Opal dan Menyatakan Evolusi Salah

(Berita Mingguan GITS 22 Oktober 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Dr. Andrew Snelling, “Growing Opals–Australian Style,” Creation, Desember 1989: “Len Cram adalah seorang Kristen yang berdedikasi dan yang penuh dengan keyakinan dalam pekerjaannya. Eksperimen-eksperimen yang dia lakukan telah menjungkirbalikkan teori-teori tradisional tentang batu opal, bahkan menantang ide-ide evolusi yang diterima luas tentang geologi dan jutaan tahun yang katanya diperlukan untuk pembentukan batu-batu opal. … Tidak banyak orang yang lebih mengenal batu opal lebih dari Len. Bahkan para ilmuwan yang tidak mau mengakui hasil kerjanya pun mengakui bahwa dia adalah seorang otoritas kelas dunia dalam subjek ini. … Len memulai perkenalannya dengan batu opal di Queensland tahun 1950an. … Dia mempelajari semua tulisan ilmiah tentang silika (bahan dasar opal) yang dapat dia temui. Dia menghabiskan bertahun-tahun dalam berbagai eksperimen – coba lagi dan coba lagi, gagal lagi dan gagal lagi. Setiap eksperimen didokumentasikan dengan baik. Hasil-hasil yang didapat juga didokumentasikan. Walaupun sering putus asa, ia tetap memelihara harapan, dan berlanjut. …Barulah pada tahun 1975 Len mendapatkan sukses pertamanya. Dia menuang sedikit barang “ini” dan sedikit barang “itu” ke dalam sebuah botol. Ia mengocoknya, dan menaruhnya di atas lemari dan melupakannya. Beberapa waktu kemudian, dia dan seorang teman sedang di dalam ruang laboratorium melakukan hal lain, dan teman itu memperhatikan botol tersebut. Di bagian dasar botol sudah terbentuk sekitar tiga milimeter batu opal yang berharga! Len lalu membangun di atas sukses pertama ini. Setelah menemukan kuncinya, ia kini dapat membentuk batu opal yang telihat paling alami yang dapat dibayangkan. Di lemarinya ada berbagai jenis batu opal, Andamooka biru dan hijau; Coober Pedy yang putih dan ‘kristal-kristal’; opal Mexico yang jingga, dan jenis Lightning Ridge yang hitam – semua dibentuk di ruangannya. … Opal yang dibuat oleh Lens ini terlihat seperti asli, karena memang asli. Proses yang dia pakai rupanya mencontoh proses terbentuknya batu opal di alam. … Opal-opal buatan Len yang terbaru kini terlihat persis dengan opal alami bahkan ketika dilihat di bawah mikroskop elektron.

Pekerjaan Len ini dimotivasi oleh keyakinan Kristennya yang kuat. Dia adalah seorang kreasionis (seorang yang percaya penciptaan) dan dia mengklaim bahwa eksperimennya ini membantah teori-teori geologi yang uniformitarian bahwa pembentukan opal terjadi pelan dan bertahap selama ribuan hingga jutaan tahun. Sementara dia mengembangkan sistem pembentukan opalnya, dia belajar banyak mengenai bagaimana opal bisa terbentuk. Len percaya hanya dibutuhkan beberapa bulan dalam bagian-bagian yang cocok di lapisan-lapisan sedimen yang muncul karena Air Bah Nuh – dan dia berkata dia bisa membuktikannya. …Teori sains masa kini, yang didasarkan pada kepercayaan uniformitarian para geolog pada proses yang pelan dan bertahap selama jutaan tahun, menyatakan bahwa pembentukan opal adalah proses sedimentasi. … Tetapi Len telah membuktikan bahwa pembentukan opal sepertinya sama sekali berbeda. Dalam toples-toplesnya, warna pertama sudah mulai muncul dalam waktu 15 menit! Dalam tiga bulan dia mendapatkan lebih dari satu sentimeter pertumbuhan. Len mengatakan bahwa yang paling lama adalah proses pengeringan, yaitu air yang terdapat dalam struktur opal yang berkembang itu didorong keluar selama beberapa bulan hingga tahun.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Taman-Taman Kuno Ditemukan di Petra

(Berita Mingguan GITS 08 Oktober 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Para arkeolog telah menemukan taman-taman kuno di Petra, dengan sistem terowongan airnya yang mengagumkan. “Penggalian baru-baru ini di Petra telah menyingkapkan suatu sistem irigasi dan penampungan air yang secara mengejutkan sangat canggih, yang memungkinkan penduduk kota padang pasir itu untuk bertahan hidup – dan bahkan memelihara sebuah taman yang indah dengan air mancur, kolam-kolam dan sebuah kolam renang yang besar. Keahlian teknis dan berbagai hal wewah yang ditemukan ini bersaksi tentang kekayaan dan kegemilangan ibukota kuno kaum Nabatean ini 2000 tahun yang lalu” (“Monumental forgotten Gardens of Petra,” Haaretz, 28 Sept. 2016). Air disalurkan dari sebuah mata air yang terletak di bukit-bukit di luar Petra, dan dipakai untuk mengirigasi sebuah taman yang besar yang berisikan pohon-pohon, palem-palem korma, berbagai tumbuhan, air-air mancur, dan sebuah kolam renang selebar 44 meter. Petra berlokasi di tengah pegunungan Edom, dan orang-orang Edom yang membangun kota misterius ini disebut sebagai kaum Nabatean. Belakangan orang Roma menguasai Petra ketika mereka mengalahkan Negev dan sebagian dari Arabia. Petra adalah sebuah kota yang kaya yang terletak di Jalur Rempah dari Arab Selatan menuju Mesir, Israel, dan ke sana lagi. Jarak dari Arab Selatan ke Israel adalah 2.400 km. Jarak inilah yang ditempuh oleh Ratu Syeba, yang berangkat untuk mengunjungi Salomo. Ada 65 stasiun unta di sepanjang jalur ini, dan pada zaman itu dikuasasi oleh kaum Nabatean. Kaum Nabatean terlibat dalam perdagangan dan menarik pajak dari karavan-karavan unta yang berperjalanan melewati padang gurun. Petra memiliki kuil-kuil berhala untuk berbagai dewa dewi palsu. Mereka menyembah seorang dewi yang bernama Allat, yang mirip dengan dewi immoral Roma, Aphrodite. Mereka juga menyembah matahari. Mezbah matahari terletak tinggi di Petra, yaitu di atas 600 anak tangga.

Posted in Arkeologi | Leave a comment

The Passion: Mencampur Yang Kudus dan Yang Najis

(Berita Mingguan GITS 08 Oktober 2016, sumber: www.wayoflife.org)

“Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis” (Im. 10:10). Firman Allah memerintahkan pemisahan antara yang kudus dan yang tak kudus, tetapi persis itulahyang tidak dilakukan oleh kekristenan kontemporer. Ada pencampuran yang berbahaya dan sesat, antara yang kudus dan yang sekuler, dan gereja atau rumah tangga manapun yang mengaku hidup berdasarkan Alkitab tetapi yang bermain api dengan musik Kristen kontemporer (musik duniawi) bertindak sangat bodoh. Perhatikan The Passion, sebuah program televisi spesial di saluran Fox, yang akan tayang pada tanggal 20 Oktober. Katanya film ini akan “menceritakan kisah saat-saat terakhir kehidupan Yesus Kristus di muka bumi ini melalui perikop-perikop Alkitab dan juga berbagai lagu pop yang terkenal” (“The Passion: New Orleans Soundtrack Set for Release,” Fox.com). Salah satu aktor di dalamnya adalah Michael W. Smith, seorang musisi CCM terkenal. Yesus Kristus diperankan oleh Jencarlos Canela, seorang rocker, dancer, dan aktor yang sensual, yang mengumumkan pada tahun 2011 bahwa dia dan pacarnya, Gaby Espino, menantikan seorang bayi yang akan lahir di luar nikah. Canela menjadi terkenal karena perannya dalam opera sabun yang secara moral kotor, Más Sabe el Diablo (Iblis Lebih Tahu), yang direkam pada tahun 2009-2010. Canela memainkan peran Angel, walaupun dia dikenal sebagai El Diablo (Iblis), yang digambarkan memiliki hati yang baik walaupun dia adalah seorang pencuri bermulut kotor, pezinah, dll. Seri yang penuh kekerasan itu memiliki fitur “para kekasih yang terlibat dalam intrik, pengkhianatan, pembalasan, dan nafsu yang tak terkekang.” Dalam The Passion, Maria, ibu Yesus, diperankan oleh Trisha Yearwood yang telah bercerai tiga kali. Soundtrack untuk film The Passion ini dibuat oleh Adam Anders dan Peer Astrom, yang sebelumnya memproduksi lagu untuk Backstreet Boys, dan juga untuk Madonna, si penyanyi yang sangat anti Yesus dan penuh kekotoran itu. Lagu-lagu untuk The Passion antara lain adalah lagu-lagu hit dari para musisi yang sangat tidak kudus. Salah satunya adalah Katy Perry, yang lagu “Dark Horse”nya mempromosikan okultisme dan penyembahan berhala Mesir, lengkap dengan ular-ular, binatang-binatang roh jahat, mantra-mantra, dewa Hors, dan dewi kotor Isis dan Aphrodite. Perry mengatakan bahwa albumnya, Prism, terinspirasi oleh The Power of Now, karya Eckhart Tolle, seorang universalis New Age (“Katy Perry’s Prism,” Billboard, 27 Sept. 2013). “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Kor. 6:14).

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, Separasi dari Dunia / Keduniawian | Leave a comment

Mayoritas Injili di AS Percaya “Semua Orang Akan Masuk Sorga”

(Berita Mingguan GITS 08 Oktober 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Menurut sebuah survei oleh LifeWay, 64% “injili” mengatakan bahwa semua orang akan masuk sorga. Tetapi survei itu juga menemukan bahwa 84% kaum “injili” percaya bahwa “neraka adalah tempat penghakiman abadi, ke sanalah Allah akan mengirim semua orang yang tidak secara pribadi percaya pada Yesus Kristus.” Di antara kaum non-Injili di Amerika, 30% percaya akan hal ini (“More US Evangelicals,” Christian Post, 3 Okt. 2016). Survei ini menunjukkan bahwa kaum Kristen “injili” Amerika sangat kebingungan tentang iman mereka dan bahwa “kepercayaan yang kontradiksi dan saling bertentangan tidak menjadi masalah bagi kebanyakan orang.” Ini adalah buah dari kompromi dan kesesatan selama 70 tahun. Hasil survei lainnya termasuk juga: sekitar 70% dari semua orang Amerika tidak setuju bahwa orang yang tidak percaya Yesus akan masuk neraka, 44% mengatakan seks di luar pernikahan tradisional bukanlah dosa, 40% mengatakan bahwa aborsi bukanlah dosa, dan 42% percaya bahwa kutuk dan peringatan dalam Alkitab terhadap perilaku homoseksual tidak berlaku hari ini.

Posted in Kesesatan Umum dan New Age, New Evangelical (Injili) | Leave a comment

Doa Ekumenis untuk Kebangkitan Rohani

(Berita Mingguan GITS 01 Oktober 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Ada banyak seruan belakangan ini untuk berdoa bersama secara ekumenis untuk meminta kebangkitan rohani. Yang paling terakhir adalah sebuah inisiatif yang diajukan oleh Uskup Agung Canterbury dicanangkan untuk musim semi 2017. “Umat Katolik, Baptis, Pantekosta, Koptik, Metodis, Kristen Ortodoks, dan anggota-anggota gereja-gereja bebas akan bersatu di bawah payung Anglikan setelah para presiden dari Churches Together in England (CTE) mengumumkan pada hari Minggu bahwa mereka akan menerima undangan untuk berdoa 10 hari sebelum hari Pentakosta 2017. … Mereka akan menulis kepada gereja-gereja mereka – yang berkisar dari gereja-gereja Advent-Hari-Ketujuh hingga gereja-gereja Koptik Ortodoks – dan menghimbau mereka untuk ikut berpartisipasi. ‘Kami berdoa kepada Bapa bahwa keluargaNya, yang dipanggil menjadi satu dalam Yesus Kristus, dapat menyaksikan pencurahan Roh Kudus untuk mentransformasi banyak kehidupan dan komunitas di negeri kita,’ kata mereka” (“Missions of Christians to Unite in Prayer for Revival,” ChristianToday.com, 19 Sept. 2016).

Doa adalah persis hal yang kita butuhkan hari ini. Ini adalah satu-satunya hal yang cukup berkuasa untuk menyelesaikan masalah-masalah yang kita hadapi. Tetapi doa ekumenis adalah pelanggaran jelas terhadap Firman Allah. Kesatuan yang dibicarakan dalam Perjanjian Baru adalah kesatuan yang “erat bersatu dan sehati sepikir” (1 Kor. 1:10). Ini berbicara mengenai kesatuan yang didapatkan di dalam sebuah gereja Perjanjian Baru yang sehat secara doktrinal. Tetapi, seringkali gereja yang sehat doktrinal justru tidak banyak berdoa. Doa-doa yang dilakukan di tengah minggu seringkali hanyalah permintaan yang dinaikkan setengah hati selama setengah menit, dan biasanya untuk orang-orang yang sakit. Biasanya, tidak ada waktu-waktu berdoa yang serius sebelum acara-acara khusus. Hampir tidak ada doa untuk bangsa dan negara seperti yang diperintahkan di 1 Timotius 2:1-2 ataupun doa agar Allah mengirimkan pekerja-pekerja, sebagaimana dalam Lukas 10:2. Berdoa yang serius hingga berpuasa hampir tidak pernah dilakukan di gereja-gereja yang percaya Alkitab. Doa disebut 407 kali dalam Alkitab dan 121 kali dalam Perjanjian Baru. Doa adalah salah satu dari empat karakteristik dasar jemaat pertama di Yerusalem (“ Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” Kis. 2:42). Doa adalah nasihat yang pertama (1 Tim. 2:1-2). Doa mendapatkan penekanan besar dalam pengajaran Yesus (Mat. 6:5-13; 7:7-11), dan rasul Paulus menyinggung doa boleh dibilang dalam semua surat-suratnya. Tetapi doa banyak diabaikan hari ini.

Posted in Ekumenisme | Leave a comment

Teknologi 3D Membuktikan Alkitab Ibrani Tidak Berubah Selama 2000 Tahun

(Berita Mingguan GITS 01 Oktober 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “3D tech proves,” The Times of Israel, 22 Sept. 2016: “Gumpalan terbakar yang berisikan sebuah gulungan berusia 2000 tahun terletak di sebuah ruang simpan arkeologi Israel selama puluhan tahun, terlalu rapuh untuk dapat dibuka. Kini, teknologi pemindaian yang baru telah menyingkapkan apa yang tertulis di dalamnya: bukti paling awal sebuah teks Alkitab dalam bentuk standar. Penemuan ini, yang diumumkan di sebuah artikel jurnal Science Advances oleh para peneliti di Kentucky dan Yerusalem pada hari Rabu, dapat terjadi dengan menggunakan ‘pembukaan virtual’ (virtual unwrapping), sebuah metode analisis 3D menggunakan scan X-ray. Para penilit mengatakan bahwa ini pertama kalinya mereka dapat membaca teks sebuah gulungan kuno tanpa perlu secara fisik membuka gulungan tersebut. … Teknologi digital tersebut, yang dibiayai oleh Google dan US National Science Foundation, dicanangkan akan dibuka kepada umum sebagai software open-source pada akhir tahun depan. Para peneliti berharap untuk memakai teknologi ini utnuk mengintip ke dalam dokumen-dokumen kuno lainnya yang terlalu rapuh untuk dibuka. … Gulungan Alkitab yang dipelajari tersebut ditemukan oleh para arkeolog pada tahun 1970 di Ein Gedi, sebuah situs komunitas Yahudi kuno dekat Laut Mati. Di dalam tabut sinagog kuno itu, para arkeolog menemukan gumpalan-gumpalan pecahan gulungan. Sinagog itu hancur karena api, sehingga gulungan-gulungannya terbakar gosong. Cuaca kering di wilayah itu membantu mempertahankan gulungan-gulungan, tetapi ketika para arkeolog mulai menyentuhnya, gulungan-gulungan itu akan mulai hancur. Jadi, gumpalan-gumpalan yang gosong itu disimpan saja selama setengah abad, tanpa seorang pun tahu apa yang tertulis di dalamnya. … Teks yang ditemukan dalam gulungan gosong di Ein Gedi itu ternyata ‘100 persen persis sama’ dengan versi kitab Imamat yang telah dipakai berabad-abad selama ini, kata ahli Gulungan Laut Mati, Emmanuel Tov dari Hebrew University di Yerusalem, yang ikut serta dalam penelitian itu. ‘Hal ini cukup mengagumkan bagi kami,’ dia berkata. ‘Dalam 2000 tahun, teks ini tidak berubah.’”

Posted in Alkitab, Arkeologi | Leave a comment

Para Ilmuwan Mengatakan Manfaat Kesehatan dari Alkohol Bisa Jadi Telah Dibesar-Besarkan

(Berita Mingguan GITS 01 Oktober 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari “Scientists Say,” Fox News, 26 Sept. 2016: “Walaupun ada klaim-klaim dalam tahun-tahun belakangan ini bahwa segelas anggur merah dapat menurunkan kemungkinan terkena penyakit jantung, riset yang baru kini menemukan bahwa informasi tersebut bisa jadi keliru. Para ilmuwan ini mengatakan bahwa banyak penelitian yang memuji manfaat alkohol sebenarnya didanai oleh perusahaan-perusahaan alkohol, demikian dilaporkan Wired. Sains sejati di balik yang ditenggarai sebagai manfaat-manfaat ini bisa jadi telah dibesar-besarkan dan bisa jadi telah membuat penutupan sistematis terhadap resiko serius meminum terlalu banyak alkohol – yaitu kanker. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 oleh profesor Curt Ellison dari Boston University, memimpin kepada deklarasi bahwa minum anggur merah secara moderat dapat membantu melawan penyakit jantung. Penelitian ini dikutip secara luas dan dielu-elukan oleh pentolan industri anggur. Tetapi riset Ellison didukung oleh ‘donasi pendidikan yang tak terbatas’ dari industri minuman keras, menurut majalah Addiction. … Sains dibalik riset ini juga banyak yang dikatakan salah. ….Sebuah studi yang diterbitkan di awal tahun ini dalam Journal of Studies on Alcohol and Drugs mereview penemuan dari 87 laporan sebelumnya mengenai minuman keras dan kematian. Ditemukan bahwa semua laporan itu yang direview itu, kecuali 13, memiliki kesalahan kritis. … 13 penelitian yang memperhitungkan bias abstainer menemukan bahwa tidak ada manfaat medis yang dapat dikaitkan dengan alkohol. Re-evaluasi tentang minum alkohol kini telah membuat berbagai pemerintah mengubah kebijakan. Dalam bulan Januari, pedoman baru dikeluarkan oleh Chief Medical Officer di Inggris yang memperingatkan bahwa level minum alkohol seberapa pun sudah meningkatkan kemungkinan terkena beberapa tipe kanker. … Dalam bulan Januari, Departemen Health and Human Services di AS menghapus kalimat dalam pedoman minum alkohol yang mengatakan bahwa minum ringan dapat menurunkan resiko penyakit jantung bagi sebagian orang.” Tiga ribu tahun yang lalu, Tuhan sudah memperingatkan mengenai minum alkohol dalam FirmanNya: “Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya” (Ams. 20:1).

Posted in Kesehatan / Medical | Leave a comment

Profesor Harvard yang Punya Agenda Pribadi Ditipu oleh Manuskrip Palsu tentang “Istri” Yesus

(Berita Mingguan GITS 24 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari Thomas D. Williams, Ph.D., “Jesus’ Wife Claims Revealed as ‘Whopping Fraud,’” Breitbart, 14 Sept. 2016: “Seorang profesor wanita di Harvard, yang dengan yakin mengumumkan kepada dunia bahwa dia memiliki bukti yang menunjukkan bahwa Yesus bisa jadi memiliki seorang istri, kini terbongkar sebagai seorang akademisi kacangan yang membiarkan dirinya dikadali oleh seorang penipu. Dr. Karen L. King, profesor di Fakultas Theologi di Harvard, mendapatkan ketenaran sesaat dengan cara mempertaruhkan reputasinya sebagai sejarahwan kekristenan awal pada otentisitas sebuah papirus kuno yang berbunyi: ‘Yesus berkata kepada mereka, istriKu … dia bisa menjadi muridKu.’ Di sebuah pertemuan yang mentereng, hanya sepelemparan batu jauhnya dari Vatikan, King mempresentasikan sebuah paper kepada 300 ahli dari 27 negara, dan dia mengumumkan penemuan sebuah serpihan papirus kuno, yang di dalamnya Yesus menyebut ‘istri’-Nya, yang menurut King kemungkinan adalah Maria Magdalena. … Harvard Theological Review menerbitkan satu edisi jurnal yang keseluruhannya membahas ‘Injil Istri Yesus,’ dan saluran TV Smithsonian membuat sebuah dokumentari besar tentang topik ini. National Geographic dengan yakin mengumumkan, ‘Tidak ada bukti pemalsuan pada Papirus Injil Istri Yesus’ dalam majalahnya terbitan 11 April 2014.

Permasalahannya adalah, ternyata dokumen itu palsu. Dr. King sebenarnya telah menerima papirus tersebut dari seorang pornografer bernama Walter Fritz, yang menciptakan suatu kisah mengenai bagaimana dia bisa memiliki serpihan papirus tersebut. … King sedemikian terpikat dengan berbagai kemungkinan yang timbul dari penemuan ini, sehingga dia tidak pernah mengecek seberapa dapat dipercaya Fritz ini, ataupun berbagai kontradiksi dalam kisahnya. … Wartawan yang akhirnya membongkar ‘penipuan besar’ ini adalah Ariel Sabar, yang mengejar asal usul dari serpihan ini, yang akhirnya menuntunya ke rumah Walter Fritz di pantai selatan Florida. Walaupun Dr. King tidak mau mengungkapkan nama orang yang memberikan papirus itu kepadanya, setelah penyelidikan yang sulit, Ariel Sabar toh akhirnya menemukannya. … Dalam tulisan selanjutnya, Ariel Sabar memperhatikan bahwa King terutama sangat tertarik dengan teks-teks Gnostik yang memberikan peran prominen pada Maria Magdalena sebagai teman dekat dan murid Yesus, karena jika ada bukti bahwa sebagian orang Kristen awal melihat Maria Magdalena sebagai istri Yesus, hal itu ‘akan menjadi tamparan keras bagi para patriarkh gereja.’ Jadi, dengan kata lain, agenda ideologis Karen King, membuat dia mudah percaya dengan kisah palsu Fritz mengenai papirus tersebut.

Posted in Arkeologi, Kristologi | Leave a comment

Gunung-Gunung Misterius Bukanlah Misteri

(Berita Mingguan GITS 24 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini dari CreationMoments.com, May 27, 2016: “‘Sampai bulan yang kesepuluh makin berkuranglah air itu; dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal satu bulan itu, tampaklah puncak-puncak gunung.’ Ada tiga cara untuk membuat gunung. Pergerakan dua lempeng tektonik yang saling bertabrakan akan mendorong munculnya gunung-gunung. Serupa dengan itu, aktivitas volkanik juga akan menghasilkan gunung-gunung. Terakhir, erosi besar-besaran atas strata lembek dari strata keras juga dapat menghasilkan gunung-gunung. Pada tahun 1950an, para peneliti Soviet menemukan sebuah rentang pegunungan, dinamakan Pegunungan Gamburtsev, di Antartika. Karena pegunungan ini berada di bawah hampir dua setengah mil lapisan es, penemuannya adalah berdasarkan survei seismik. Hanya ada satu masalah. Seharusnya tidak ada gunung di situ, menurut ilmu pengetahuan biasa. Itu karena Antartika adalah satu lempeng tektonik saja, dan tidak bertabrakan dengan apa-apa. Juga tidak ada tanda-tanda aktivitas volkanik di sana. Seperti yang dikatakan seorang ilmuwan, menemukan pegunungan ini adalah seperti membuka sebuah piramida kuno dan menemukan seorang astronot yang masih hidup di dalamnya. Namun, ada jawaban lain yang tidak mungkin dipertimbangkan oleh para geologis yang percaya evolusi (percaya uniformitarianisme). Kita tahu bahwa ada erosi besar-besaran pada waktu air bah melanda bumi, sebagaimana terbukti dari Grand Canyon dan daerah American Badlands. Hal ini juga bisa menjadi penjelasan paling mungkin dari misteri gunung-gunung di Antartika. Alkitab memberikan kita sejarah umum Bumi kuno yang paling akurat, dan bahkan bisa mengisi berbagai kekosongan dan kontradiksi yang muncul dari pendekatan ilmu pengetahuan modern yang berasumsi milyaran tahun.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment