Kecanduan Komputer

(Berita Mingguan GITS 24 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Computer Crystal Meth: How Screens Are Killing Kids’ Minds and Souls,” The New American, 13 Sept. 2016: “Ini adalah kisah yang menyedihkan tetapi sering terjadi tentang kecanduan. Sepenuhnya kecanduan, John mulai mengabaikan dan melepaskan diri dari aspek-aspek kehidupannya yang lain. Perilakunya memburuk, dan hubungan inter-personalnya menjadi rusak. Tetapi John bukan kecanduan obat atau alkohol, dan dia juga bukan pria tengah baya. Dia adalah seorang anak enam tahun – dan obat yang membuat dia kecanduan adalah iPad. Walaupun nama ini fiktif, tetapi ceritanya nyata. Ibunya, Susan, membelikan dia iPad saat dia masuk kelas satu, atas dasar rekomendasi seorang guru teknologi. Akhirnya dia menemukan game yang populer, Minecraft, yang diklaim oleh para edukator sebagai ‘Lego dalam bentuk elektronik.’ … John terpukau. Sambil dia semakin kecanduan, dia mulai hilang ketertarikan terhadap membaca dan baseball, yang tadinya sangat dia sukai; perilakunya memburuk, dan dia tidak mau melakukan tugas-tugasnya. Bahkan kadang-kadang pada pagi hari dia berkomentar bahwa dia melihat bentuk-bentuk kubus Minecraft di dalam mimpinya. Tetapi kehidupan telah menjadi suatu mimpi buruk. John akan ngamuk-ngamuk jika Susan mencoba menghentikan dia bermain, dan sebagai cerminan cara mendidik anak modern yang mengizinkan segala sesuatu, Susan akhirnya menghilangkan kekhawatirannya melalui berbagai rasionalisasi dan membiarkan John. Namun, kemudian terjadilah suatu malam hal yang menghancurkan ilusinya.

Sebagai seorang psikoterapi berlisensi, Dr. Nicholas Kardaras, yang menangani Susan dan John, menulis tanggal 27 Agustus di New York Post: ‘Susan masuk ke dalam kamar untuk mengecek John. Dia mestinya sedang tidur. Susan menemukan anaknya itu sedang duduk di tempat tidurnya, dengan mata merah terbuka lebar, menatap kosong ke kejauhan sambil iPadnya menyala di sampingnya. Dia seperti ada dalam semacam trance. Susan panik dan sangat bingung dan harus menggoncang anak itu berulang kali untuk membuat dia keluar dari kondisinya. Penuh kekhawatiran, dia tidak dapat paham mengama bocahnya yang pernah begitu sehat dan gembira menjadi begitu kecanduan game sehingga masuk dalam suatu catatonic stupor (Editor: kondisi medis yang mendeskripsikan orang yang tak bergerak dan pikirannya melayang kosong, tidak merespon).’ Dr. Kardaras menunjukkan bahwa bukanlah kebetulan bahwa para bos-bos dan petinggi-petinggi dan insinyur-insinyur perusahaan-perusahaan teknologi, justru memasukkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah Waldorf, yang melarang siswa membawa teknologi.’ … Ini mirip dengan keluarga mafia narkoba yang menjual barang ke orang lain, tetapi melarang keras anaknya sendiri untuk mencobanya. Walaupun demikian, komputer tetapi memiliki fungsi yang baik dan sah.” Editor: Sama seperti hampir semua hal lain, teknologi dapat dipakai secara baik ataupun tidak baik. Orang Kristen harus ikut nasihat Paulus untuk tidak membiarkan diri diperhamba oleh apapun juga (1 Kor. 6:12).

Posted in Teknologi | Leave a comment

Imam Besar Telah Dipilih; Kebaktian Bait Yahudi Dapat Dimulai Kembali dalam Satu Minggu

(Berita Mingguan GITS 17 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Persiapan untuk Bait Ketiga terus berlanjut. Sanhedrin orang Yahudi telah merekomendasikan Rabi Baruch Kahane sebagai Kohen Gadol (Imam bessar) andaikata situasi politik berubah dan orang Yahudi memiliki akses ke Bukit Bait untuk mempersembahkan korban. Kahane “yakin bahwa jika situasi itu terjadi, kebaktian Bait Suci dapat dimulai dalam waktu kurang dari satu minggu” (“High Priest Is Chosen,” Breaking Israel News, 29 Agus. 2016). Temple Institute, yang didirikan tahun 1986, telah membentuk perabot-perabot yang diperlukan untuk Bait, termasuk pakaian-pakaian imam, mahkota emas imam besar yang menghabiskan $30.000, tutup dada imam besar dengan 12 batu berharga yang berukirkan nama suku-suku Israel, bejana cuci dari tembaga, sebuah mezbah ukupan, sangkakala-sangkakala perak, shofar yang dilapis emas dan perak, dan banyak hal lain lagi. Yang menarik adalah menorah, yang dibuat dari 95 pon emas murni. Pada Desember 2007, menorah ini dipindahkan ke sebuah lokasi di luar Plaza Tembok Barat, di seberang Bukit Bait, dan menorah ini sekarang ada di sana menantikan pembangunan Bait Ketiga. Temple Institute juga telah membuat sebuah daftar imam-imam dan mendirikan sekolah pendidikan imam. Dalam tradisi Yahudi, pembangunan kembali Bait dikaitkan dengan kedatangan Mesias. Menurut Maimonides (juga disebut Rambam), yaitu otoritas rabinik tertinggi, orang Yahudi mana pun yang memulai pembangunan kembali Bait berpotensi menjadi Mesias. Shimon ben Kosiba dianggap Mesias di abad kedua ketika dia memimpin pemberontakan untuk menguasai Yerusalem dan membangun Bait. Ben Kosiba dijuluki Bar Kokhba (‘Putra Bintang’) didasarkan pada nubuat Mesianik di Bilangan 24:17, dan sebuah koin dibuat dengan gambar bait dengan tabut perjanjian di dalamnya, dan bintang Mesias di atapnya. Melalui tradisi ini, kita dapat melihat barangkali bagaimana Antikristus akan dianggap mesias. Ketika mengunjungi Temple Institute beberapa tahun lalu, seorang perwakilan organisasi itu berkata: “Kami menantikan seorang Mesias. Dalam tradisi Yahudi, kami percaya bahwa dalam setiap generasi akan seseorang yang bisa menjadi Mesias. Pertanyaannya adalah siapakah dia nantinya. Jawabannya hanyalah seseorang yang melakukan hal-hal tertentu yang bisa disebut Mesias.” Ini adalah gambaran Mesias sebagai seorang Penyelesai Masalah Super, dan dalam kapasitas seperti itulah Antikristus akan muncul pada awalnya. Penting untuk memahami bahwa orang Yahudi tidak sedang mencari seorang Mesias Juruselamat untuk menyelesaikan dosa-dosa mereka. Ketika kami bertanya kepada seorang rabi Amerika Yahudi Reformed, “Bagaimana menghilangkan dosa?” dia menjawab, “Kami meminta Allah untuk pengampunan melalui doa dan melalui tindakan.” Dia mengatakan bahwa penafsiran Imamat 17:11 bahwa manusia memerlukan suatu pengorbanan darah yang literal untuk dapat diterima Allah adalah penafsiran yang palsu. Orang Yahudi tersandung pada Anak Domba Allah 2000 tahun yang lalu. Mereka mencari seorang Mesias untuk menyelamatkan mereka dari Roma, bukan seorang Mesias untuk mati bagi dosa-dosa mereka. Mereka menghendaki seorang Raja, bukan seorang Juruselamat, dan sampai hari ini sikap ini belum berubah.

Posted in Akhir Zaman / Nubuatan, Israel | Leave a comment

Misi-Misi NASA yang Konyol

(Berita Mingguan GITS 17 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

NASA telah melakukan banyak hal yang luar biasa dalam sejarahnya, antara lain misi Apollo dan program pesawat luar angkasa ulang alik, tetapi dalam beberapa puluh tahun terakhir, NASA menjadi terobsessi dengan misi-misi yang secara teknis brilian, tetapi memiliki tujuan yang sangat konyol. Yang paling terakhir adalah OSIRIS-Rex, sebuah misi untuk mengumpulkan tanah dari sebuah asteroid, tanah yang katanya “memegang kunci jawaban beberapa pertanyaan terbesar kita tentang alam semesta, misalnya dari mana kita berasal, mengapa kita eksis” (“NASA is launching a mission that could solve the mystery of life,” Business Insider, 8 Sept. 2016). Pesawat luar angkasa tersebut, yang sukses diluncurkan minggu lalu, diberi tugas untuk terbang selama dua tahun untuk bertemu dengan sebuah asteroid, mendekati asteroid itu untuk mengambil sedikit tanah, dan kembali ke bumi. Misi ini konyol karena dua alasan. Pertama, ia konyol karena ada nol bukti untuk mendukung evolusi dan ada bukti-bukti tidak terbantahkan bahwa alam semesta diciptakan secara ilahi. Hukum-hukum sains yang sudah dipahami luas, seperti biogenesis dan hukum termodinamika, menghancurkan mitos evolusi. Bahkan, kepintaran dan pikiran brilian yang dibutuhkan untuk bisa membuat pesawat luar angkasa yang menuju ke sebuah asteroid, sudah membuktikan pengajaran Alkitab bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah dan bukanlah binatang. Kedua, misi ini konyol karena jika evolusi itu benar dan alam semesta ini adalah hasil dari suatu Big Bang yang tanpa arti dan mekanisme evolusi yang acak dan tidak intelijen, maka tidak ada arti bagi kehidupan. Jika evolusi benar, maka NASA sedang memainkan permainan konyol dalam suatu alam semesta yang tidak bertujuan dan sedang menuju kematian. Hidup manusia tidak memiliki arti lebih dari hidup seekor cacing. Puji syukur pada Tuhan bahwa hal itu tidak benar, tetapi seperti itulah kesimpulan yang tak terelakkan dari dogma evolusi.

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Para Arkeolog Merestorasi Lantai Bait Suci yang Diinjak Yesus

(Berita Mingguan GITS 17 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Archaeologists Restore,” ChristianToday.com, 8 Sept. 2016: “Para arkeolog Israel telah merestorasi fragmen-fragmen ubin lantai yang mereka percaya aslinya berasal dari Bait Kedua di Yerusalem. Bait tersebut dihancurkan pada tahun 70 M, dan puing reruntuhannya sekarang dikenal sebagai Bukit Bait oleh orang Yahudi, atau sebagai ‘tanah suci yang mulia’ bagi umat Muslim. Bagi Gabriel Barkay, seorang arkeolog yang sudah menggali di Yerusalem selama lebih dari 50 tahun, restorasi ini memiliki signifikansi yang mendalam. Berbicara kepada Media Line, dia mengatakan, “Sangatlah menyentuh bagi saya untuk menyadari bahwa ini adalah lantai yang di atasnya leluhur kita berjalan dan mempersembahkan korban sambil mereka beraktivitas di Bukit Bait 2000 tahun yang lalu.” Ubin-ubin yang direkonstruksi adalah bagian dari proyek penyaringan Bukit Bait, sebuah proyek Israel yang dimulai tahun 2005. Inisiatif ini dimulai setelah Muslim Waqf, sebuah organisasi agamawi yang mengendalikan situs kudus tersebut, memindahkan 400 truk tanah yang berisi penuh dengan artefak-artefak dari tempat kudus tersebut guna perluasan mesjid di dekat sana. Pemindahan tanah itu adalah kesempatan untuk meng-ekskavasi sebuah situs yang tadinya tidak tersentuh karena sensitivitas tempat tersebut, yang penting bagi baik Muslim dan Yahudi dan telah sering menjadi titik konflik dan kontroversi. … Mengenai restorasi lantai bait, sekitar 600 segmen ubin batu telah ditemukan, dan lebih dari 100 di antaranya berasal dari zaman Bait Kedua yang dipugar oleh Herodes.”

Posted in Arkeologi | Leave a comment

Santa Ibu Teresa

(Berita Mingguan GITS 10 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Mendiang Ibu Teresa diumumkan sebagai seorang santa (orang kudus) Katolik pada hari Minggu, 4 September, oleh Paus Fransiskus. Posisi santo (atau santa untuk yang wanita) memerlukan dokumentasi dua mujizat yang dilakukan oleh pribadi yang telah meninggal. Yang pertama, pada tahun 1998, pada tahun kematiannya (Teresa), adalah kesembuah seorang wanita India dari tumor perut. Walaupun uskup mengumumkan bahwa mujizat ini dilakukan oleh biarawati yang sudah meninggal itu, suami dari wanita itu mengatakan bahwa dia percaya obat-obatanlah yang menyembuhkan istrinya. Kasus yang kedua, pada tahun2008, adalah kesembuhan yang ‘tak dapat dijelaskan’ seorang lelaki Brazil yang bangkit dari koma setelah istrinya berdoa kepada Teresa. Berdasarkan pengakuannya sendiri, Ibu Teresa menemukan hanya kegelapan dalam kehidupan dan praktek rohaninya. Ini didokumentasikan dalam buku yang mengejutkan, berjudul Mother Teresa: Come Be My Light, the Private Writings of the Saint of Calcutta (2007), yang mengandung pernyataan-pernyataan biarawati tersebut kepada para imam yang menerima pengakuan dosanya dan para imam kepalanya selama periode waktu lebih dari 65 tahun. Dalam Maret 1953, dia menulis kepada imam penerima pengakuannya: “ADA KEGELAPAN YANG SEDEMIKIAN MENGERIKAN DI DALAM DIRIKU, seolah-olah semuanya mati. Kondisi ini sudah menetap kurang lebih sejak saya memulai ‘pekerjaan itu.’” Pada tahun 1979, dia menulis: “KEHENINGAN DAN KEHAMPAAN INI SEDEMIKIAN BESAR – sehingga saya memandang dan tidak melihat, memasang telinga tetapi tidak mendengar.” Pernyataan pribadi dia tentang kegelapan rohani yang dia temukan dalam doa kontemplatif berlanjut dalam nada yang sama sampai kematiannya, dan semua ini adalah peringatan yang sangat keras tentang bahaya mistikisme kontemplatif dalam Katolik yang saat ini sedang melanda kalangan Injili. Praktek kontemplatif, seperti Doa Yesus, doa nafas, doa visualisasi, doa centering, dan lectio divina, sangatlah berbahaya. Hal-hal ini adalah alat untuk membawa para praktisi bersentuhan dengan roh-roh jahat. Banyak orang yang terlibat dalam hal-hal ini akhirnya menjadi percaya konsep-konsep kafir tentang Allah, misalnya pantheisme (Allah adalah segala sesuatu) dan panentheism (Allah ada dalam segala sesuatu). Para praktisi biasanya menjadi semakin ekumenis dan lintas iman dalam pemikiran.

Posted in Katolik | Leave a comment

Orang Kudus yang Sejati

(Berita Mingguan GITS 10 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Doktrin Roma Katolik tentang orang kudus (santo santa) membuktikan sifat sesat dari gereja tersebut. Tidak ada kita temukan orang Kristen dalam gereja-gereja Perjanjian Baru berdoa kepada orang-orang kudus. Alkitab mengajarkan kita untuk berdoa kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus, satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia (1 Tim. 2:5). Berdoa kepada manusia biasa, laki ataupun perempuan, adalah penghujatan. Dalam Perjanjian Baru, istilah “orang kudus” diberikan kepada semua orang Kristen yang sudah lahir baru, bukan kepada sekelompok khusus orang Kristen yang sudah mati. Lihat Kis. 9:13, 32, 41; 26:10; Rom. 8:27; 12:13; 15:25, 31; 16:2, 15; 1 Kor. 6:1, 2; 14:33; 16:1, 15; 2 Kor. 8:4; 9:1, 12; 13:13; Ef. 1:1; Fil. 1:1; Kol. 1:2, 4; Fil. 7; Ibr. 6:10; 13:24. Bahkan orang-orang Kristen yang kedagingan di Korintus pun disebut orang-orang kudus (2 Kor. 1:1). Orang Kristen yang sudah lahir baru adalah orang kudus bukan karena kekudusan mereka sendiri; mereka orang kudus karena mereka memiliki Juruselamat yang tidak berdosa dan Dia telah menghilangkan dosa mereka di hadapan Allah (Wah. 1:5, 6; 1 Pet. 2:9, 10). Dalam pemandangan Allah, melalui Yesus Kristus, orang percaya adalah “kudus dan tak bercela dan tak bercacat” (Kol. 1:22). Inilah sebabnya kita disebut orang kudus. Puji namaNya kudusNya!

Posted in General (Umum), Katolik | Leave a comment

Barna: Hanya 3% Remaja AS Membaca Alkitab Setiap Hari

(Berita Mingguan GITS 3 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Menurut sebuah studi nasional baru yang dilakukan oleh Barna, hanya 3% remaja di Amerika membaca Alkitab setiap hari. Studi ini, yang berjudul 2016 Teen State of the Bible, menemukan bahwa 69% mempunyai Alkitab pribadi, tetapi hanya sedikit yang serius mempelajari Alkitab. Penerbit Group memiliki solusi yang diberi nama Pierced, sebuah Perjanjian Baru yang ditujukan bagi remaja-remaja “yang tidak membaca Alkitab.” Alkitab Pierced ini “lebih mirip novel daripada buku teks.” “Hasil formatting ratusan tahun” dihilangkan, seperti pasal-pasal dan ayat-ayat dan footnote. Justru ditambahkan ke dalamnya “catatan riil dari sepuluh remaja,” supaya “pembaca dapat berperjalanan dalam kisah Yesus bersama dengan orang-orang sebaya dengannya.” Veronica Preston, Design Artist dari Pierced, mengatakan, “Buku ini membuat mereka mengetahui bahwa mereka tidak sendirian; bergumul melalui Firman Tuhan bersama orang-orang lain … bebas untuk merasa lemah dalam proses ini” (“Novel-like New Testament Created for Teens Who Don’t Read the Bible,” Christian Newswire, 26 Agus. 2016).

Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh para remaja adalah keselamatan lahir baru dan pemuridan yang serius, yang akan menekankan bagaimana menjadi seorang pelajar Alkitab yang efektif. Ini yang terjadi pada saya di tahun 1973, pada usia 23 tahun. Saya lahir baru pada musim panas tahun itu, dan tiba-tiba saya memiliki sesuatu yang sebelumnya saya tidak pernah punyai ketika tumbuh besar di gereja, yaitu kehausan untuk mengenal Allah dan FirmanNya. Saya tidak mau sebuah edisi Firman Tuhan yang dilemahkan dan dijadikan seperti novel. Saya mau sebuah terjemahan yang akurat dari teks Ibrani, Aramaik, dan Yunani, yang ditulis oleh para nabi kudus di zaman dulu di bawah pengilhaman Tuhan. Alkitab bukanlah sebuah novel atau halaman Facebook yang cool. Bagian Alkitab yang paling baru pun sudah berusia 2000 tahun, dan Allah berkehendak bahwa perlu ada usaha untuk mempelajarinya dan mendapat manfaat darinya. Amsal 2 mengatakan bahwa pelajar Firman Tuhan yang efektif adalah seperti orang yang mencari perak, yaitu harus ada penggalian yang serius. Paulus menginstruksikan Timotius untuk menjadi “seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Tim. 2:15). Kami telah memiliki berkat kesempatan mengajar banyak orang muda menjadi pelajar Alkitab yang efektif, tetapi pertama mereka harus dilahirbarukan dulu dan kemudian berserah kepada kehendak Tuhan, yang memerlukan separasi dari hal-hal jahat dunia ini (Roma 12:1-2). Tanpa hal-hal itu, mereka bisa membaca Perjanjian yang dibuat seperti novel dan parafrase-parafrase lainnya 24 jam sehari tujuh hari seminggu, dan tetap tidak belajar Firman Tuhan. (Ada video The Effectual Bible Student, video 12 jam yang bisa didownload gratis sebagai e-video dari www.wayoflife.org).

Posted in Alkitab, Pemuda/Remaja | Leave a comment

Kuba Menutup Gereja-Gereja

(Berita Mingguan GITS 3 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Cuba: Church Demolitions Gather Pace,” Christian Solidarity Worldwide, 16 Agus. 2016: “Dalam paruh pertama 2016, penutupan dan penghancuran gereja-gereja di Kuba terjadi semakin cepat beriringan dengan usaha pemerintah untuk merusak kebebasan beragama atau berkepercayaan (Freedom of religion or belief, FoRB) di pulau itu. Otoritas pemerintah telah mulai menyita 1.400 gereja-gereja Sidang Jemaat Allah (AoG) yang telah ditandai untuk penyitaan pada tahun 2015. Laporan terbaru dari Christian Solidarity Worldwide (CSW) mendetilkan 1.606 pelanggaran yang terjadi antara Januari dan Juli 2016. Kasus-kasus yang dicatat termasuk penghancuran dan penyitaan gedung gereja, penghancuran barang-barang milik gereja, penangkapan semena-mena dan bentuk-bentuk lain serangan, terutama penyitaan barang-barang pribadi para pemimpin agama. Pemerintah telah meneruskan program penyitaan 1.400 gedung gereja-gereja AoG; 100 dari gedung gereja-gereja tersebut terancam dirubuhkan. Para pemimpin AoG dan pemimpin dari denominasi lain menyatakan kekhawatiran kepada CSW bahwa penganiayaan pemerintah terhadap kelompok-kelompok agama telah memburuk signifikan dalam satu tahun terakhir. Jumlah gedung gereja yang dihancurkan mendadak tinggi. Empat gedung gereja besar yang terkait dengan Gerakan Rasuli yang tidak terdaftar dihancurkan pemerintah di Kuba tengah dan timur. Dalam setiap kasus-kasus ini, para gembala dan keluarga mereka ditarik keluar dari rumah mereka pada remang-remang subuh hari. Mereka juga ditahan di kantor polisi yang berlainan selama proses penghancuran terjadi. Dalam sebagian kasus, sejumlah besar anggota jemaat juga ditahan, rupanya supaya mereka tidak bisa melakukan protes. Laporan ini juga mendetilkan penangkapan dan penyerangan semena-mena terhadap banyak pemimpin gereja.”

Posted in Penganiayaan / Persecution | 1 Comment

Para Ilmuwan Terkemuka Membuktikan Propaganda Media tentang Homoseksualitas Salah

(Berita Mingguan GITS 3 September 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Nearly Everything the Media Tell You about Sexual Orientation and Gender Identity Is Wrong,” CNSNews.com, 22 Agus. 2016: “Sebuah laporan penting yang baru, yang dipublikasikan hari ini dalam jurnal The New Atlantis, menantang narasi populer yang dipropagandakan oleh media massa mengenai orientasi seksual dan identitas gender. Ditulis oleh dua orang ilmuwan terkemuka dalam bidang kesehatan mental dan seksualitas, laporan sepanjang 143 halaman tersebut mendiskusikan lebih dari 200 penelitian yang sudah melalui proses peer-review dalam bidang biologi, psikologi dan ilmu-ilmu sosial, dan dengan sangat teliti mendokumentasikan apa yang ditunjukkan dan apa yang tidak ditunjukkan oleh riset sains mengenai seksualitas dan gender. Kesimpulan besarnya, sebagaimana dijelaskan oleh editor jurnal tersebut, adalah bahwa ‘beberapa klaim yang paling sering didengar tentang seksualitas dan gender tidak didukung oleh bukti-bukti sains.’ Berikut adalah empat kesimpulan yang paling penting dari laporan tersebut:

Satu – ‘Kepercayaan bahwa orientasi seksual adalah suatu sifat bawaan dan menetap secara biologis pada manusia – yaitu bahwa seseorang dilahirkan demikian – tidaklah didukung oleh bukti ilmu pengetahuan.’ Dua – ‘Dengan cara yang sama, kepercayaan bahwa identitas gender adalah suatu sifat bawaan dan menetap pada manusia terlepas dari jenis kelamin biologisnya – sehingga seseorang bisa menjadi laki-laki yang terperangkap dalam tubuh wanita atau wanita yang terperangkap dalam tubuh laki-laki – tidalah didukung oleh bukti-bukti ilmu pengetahuan.’ Tiga – ‘Hanya minoritas anak-anak yang mengekspresikan pemikiran atau perilaku yang tidak lazim bagi gendernya (gender-atypical) akan berlanjut seperti itu ketika masuk ke masa remaja dan dewasa. Tidak ada bukti bahwa semua anak-anak seperti itu harus didorong untuk menjadi transgender, apalagi diberikan terapi hormon dan oerasi.’ Empat – ‘Orang-orang non-heteroseksual dan orang-orang transgender memiliki tingkat masalah kesehatan mental yang lebih tinggi (kecemasan, depresi, bunuh diri), demikian juga masalah perilaku dan sosial (penyalahgunaan obat, kekerasan pada partner intim), daripada populasi umum. Diskriminasi saja tidak dapat menerangkan perbedaan ini.’

Laporan tersebut, berjudul ‘Sexuality and Gender: Findings from the Biological, Psychological, and Social Sciences,’ ditulis oleh Dr. Lawrence Mayer dan Dr. Paul McHugh. Mayer adalah seorang ilmuwan residen di Departemen Psikiatri di Universitas John Hopkins dan seorang profesor statistik dan biostatistik di Universitas Negeri Arizona. McHugh, yang digambarkan oleh editor The New Atlantis sebagai ‘bisa dikatakan psikiatris paling penting di Amerika selama 50 tahun terakhir,’ adalah profesor ilmu psikiatri dan perilaku di Fakultas Kedokteran Universitas John Hopkins. Ketika dia menjabat sebagai kepada psikiatri di Johns Hopkins, dia menghentikan program operasi ganti kelamin di sana, setelah sebuah penelitian yang dibuat di Hopkins memperlihatkan bahwa operasi itu tidak membawa manfaat yang diharapkan oleh dokter dan pasien.”

Posted in LGBT | 16 Comments

Homeschooling Adalah Cara Terpintar untuk Mengajar Anak

(Berita Mingguan GITS 27 Agustus 2016, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Homeschooling is the smartest way to teach kids in the 21st century,” Business Insider, 20 Agus. 2016: “Alison Davis tidak melihat homeschooling sebagai suatu alternatif yang aneh dari sekolah tradisional. Bahkan, kata ibu dari kota Williamstown, New Jersey tersebut, ketika membesarkan kedua anaknya, dia melakukan hal yang masuk akal. ‘Seseorang tidak akan masuk ke dunia kerja yang semua orang berasal dari sekolah yang sama dan semua orang berusia sama,’ kata dia kepada Business Insider. ‘Menurut pendapat saya, atmosfir sekolah tradisional tidak sama dengan dunia nyata sama sekali.’ ‘Homeschooling,’ katanya, ‘itulah dunia nyata.’ Kini semakin banyak orang tua di AS yang sama seperti Davis, menemukan kepuasan dalam mempertahankan anak-anaknya di luar dari sekolah publik dan sekolah privat, sesuai dengan data terbaru yang dikumpulkan oleh Departemen Pendidikan bahwa homeschoolilng bertumbuh 61,8% dalam 10 tahun terakhir, sampai kini dua juta anak – 4% dari populasi muda – kini belajar dari kenyamanan rumah mereka sendiri. Bertentangan dengan kepercayaan umum bahwa homeschooling menghasilkan orang-orang anti-sosial yang tidak bisa masuk masyarakat, kenyataannya adalah bahwa sebagian murid-murid yang paling berprestasi dan paling seimbang sedang mempelajari soal-soal matematika dari meja makan, bukan di meja sekolah. Menurut riset pegagogi (pendidikan anak) yang terbaru, pengajaran di rumah bisa jadi adalah yang paling relevan, bertanggung jawab, dan efektif, untuk mendidik anak di abad 21.

Davis mengatakan bahwa putranya, Luke, kesulitan membaca pada awalnya. Bahkan sampai memasuki kelas dua, dia tidak menikmati membaca dan merasa kesulitan. Di sekolah lain, guru-guru bisa jadi tidak akan memiliki waktu untuk membantu Luke secara khusus karena mereka harus memperhatikan 20 anak lain juga. Tetapi tidak demikian di keluarga Luke. ‘Saya bisa menghabiskan waktu ekstra dengan dia,’ kata Davis. Plus, waktu membaca menjadi lebih dari sekedar usaha membuat Luke melek huruf; itu juga menjadi waktu perekatan hubungan Mommy-Luke – sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh sekolah formal. ‘Sekarang, dia menghabiskan buku dalam sekejap, bisa dalam satu minggu atau kurang,’ katanya. Efek jangka panjang dari pendidikan yang dipersonalisasikan juga besar. Menurut sebuah studi tahun 209 tentang ujian standar, anak-anak yang dididik homeschool, rata-rata nilainya ada pada persentil 86. Hasil ini tetap berlaku setelah mempertimbangan variabel kontrol seperti tingkat pemasukan, pendidikan, kemampuan mengajar orang tua, maupun tingkat regulasi dari negara bagian. Riset juga mengindikasikan bahwa anak-anak homeschool lebih sering berhasil masuk ke perguruan tinggi dan berprestasi lebih tinggi di dalam perguruan tinggi.

Stereotip terbesar yang berkenaan dengan homeschool adalah bahwa pengajaran satu-banding-satu yang terjadi akan membuat anak kekurangan sosialisasi yang mereka butuhkan untuk berkembang. Tetapi tidak demikian. Anak-anak homeschool sama dengan anak-anak lain bisa bermain sepak bola dan melakukan proyek grup dengan murid lain. Keluarga Davis terlibat aktif dalam gereja lokal mereka, jadi Luke dan kakaknya Amanda memiliki teman di paduan suara. Mereka keduanya memainkan instrumen musik, jadi mereka punya teman di kelompok orkestra homeschool. … Anak-anak homeschool bukan hanya dapat menikmati berbagai hal positif; tetapi mereka juga tidak perlu mengalami banyak hal negatif yang sering terjadi di sekolah formal – misalnya peer-pressure (tekanan dari teman-teman) dan pembentukan grup/gang/kelompok sendiri. Dalam beberapa kesempatan, kata Alison, anak-anak lain menyatakan mereka cemburu bahwa Luke dan Amanda bisa belajar di rumah, lepas dari hirarki sosial di sekolah mereka.”

Posted in Education / Pendidikan | 21 Comments