Tahun Baru Imlek: Bolehkah Dirayakan Orang Kristen?

oleh GI Hasan Karman

Tahun Baru Imlek merupakan salah satu hari raya terpenting dalam tradisi dan budaya Tionghoa. Ada kalangan yang menganggap hari raya ini sebagai hari raya keagamaan, namun sebenarnya hari raya ini sama sekali bukan milik pemeluk keyakinan tertentu seperti agama Budha, Khonghucu maupun Taoisme atau umat Sam Kauw (San jiao ??, tiga agama). Ini dapat dibuktikan bahwa jauh sebelum ketiga keyakinan tersebut berakar di negeri Tiongkok, Tahun Baru Imlek sudah dirayakan. Memang benar Tahun Baru Imlek senantiasa dikaitkan dengan berbagai ritual penyembahan, legenda dan mitos yang membuat kalangan Kristen tertentu menganggap bahwa Tahun Baru Imlek itu bertentangan dengan ajaran Kristen. Ini adalah kesalahpahaman yang harus diluruskan. Menurut penulis, merayakan Tahun Baru Imlek sama sekali tidak bertentangan dengan iman Kristen, sejauh orang Kristen tidak ikut-ikutan dalam penyembahan yang bertentangan dengan Alkitab. Orang Kristen boleh dengan tenang dan damai merayakan Tahun Baru Imlek sebagai sebuah peristiwa budaya dan tradisi yang positif sama seperti menyambut Tahun Baru Internasional. Jika ada cerita legenda dan mitos yang dikaitkan dengan Tahun Baru Imlek, anggap saja sebagai dongeng karena negeri Tiongkok yang berusia ribuan tahun itu memang penuh dengan legenda dan mitos. Ritual penyembahan yang melekat erat dalam tradisi Imlek yang tidak selaras dengan ajaran Kristen itu sebenarnya baru ditambahkan kemudian setelah ajaran Sam Kauw mengakar luas disana. Padahal Tahun Baru Imlek adalah perayaan dalam rangka menyambut pergantian Musim Dingin ke Musim Semi yang sekaligus dihitung sebagai pergantian tahun dan masuk tahun yang baru dengan rasa syukur kepada Tuhan.

Asal-usul

Sebelum Dinasti Qin (Qín Cháo, ??, ± 221- 206 SM [Sebelum Masehi]), tanggal perayaan permulaan tahun baru masih belum jelas. Ada kemungkinan awal tahun bermula pada bulan 1 (pertama) semasa Dinasti Xia (Xià Cháo, ??, ± 2070–1600 SM), bulan 12 semasa Dinasti Shang (Sh?ng Cháo, ??, ± 1766-1122 SM), dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou (Zh?u Cháo, ??, ?± 1046–256 SM) di Tiongkok. Bulan kabisat (Run Yue, ??) yang dipakai untuk memastikan agar kalendar Tionghoa yang berpatok pada peredaran bulan (Im) sejalan dengan edaran mengelilingi matahari (Yang), selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian, ??? atau ???, sejarawan besar Tiongkok yang hidup sekitar tahun 145 atau 135 – 86 SM). Kaisar pertama Tiongkok, Qin Shi Huang (???) menukar dan menetapkan bahwa tahun Tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104 SM, Kaisar Wu (Han Wudi, ???, 156–87 SM) yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun sampai sekarang.

Tahun pertama Tahun Baru Imlek dihitung berdasarkan tahun pertama kelahiran Kongfuzi (???, Khonghucu) baru ditetapkan oleh Kaisar Han Wudi pada tahun 104 SM sebagai penghormatan kepada Kongfuzi, yang telah mencanangkan agar menggunakan sistem penanggalan Dinasti Xia dimana Tahun Baru dimulai pada tanggal 1 bulan kesatu. Oleh sebab itu sistem penanggalan ini dikenal pula sebagai Kongzili (Kalender Kongzi) yang tahun ini merupakan Tahun 2566. Itulah sebabnya umat Khonghucu mengklaim bahwa Tahun Baru Imlek sebagai hari ulang tahun Khonghucu.

Istilah atau sebutan untuk Tahun Baru Imlek

Secara tradisi, perayaan-perayaan seputar Tahun Baru Imlek dikenal sebagai Festival Nian atau Nián Jié (?? atau ??), yang berarti “Festival Tahunan” atau “Festival Tahun Baru”. Istilah turunannya yang dikenal dengan Guò Nián (?? atau ??), secara literal artinya “melewati tahun”, secara umum masih digunakan untuk merujuk kegiatan perayaan menyambut datangnya tahun baru itu. Sebutan lain untuk Tahun Baru Imlek adalah “Tahun Baru Kalender Pertanian” atau Nónglì X?nnían (???? atau ????). Kalender Pertanian (Nónglì, ?? atau ??) merupakan sebutan yang sangat umum untuk penanggalan ini di Tiongkok.

Secara tradisi Hari Tahun Baru disebut Yuándàn (??), secara literal berarti “pertama kali matahari terbit”, namun pada tahun 1913 pemerintah Republik Tiongkok yang baru terbentuk menyesuaikan nama tersebut dengan Tahun Baru Tionghoa yang disebut “Festival Musim Semi” (Ch?njié, ?? atau ??) sebagai rujukan daripada menggunakan Hari Tahun Baru yang baru diadopsi dari Kalender Gregorian (Tahun Internasional). Ini merupakan sebutan resmi hari libur publik Tahun Baru di Tiongkok Daratan maupun di Taiwan. Sebelum tahun 1913, “Festival Musim Semi” malah merujuk pada Lichun (4 atau 5 Februari), periode Solar pertama dalam Kalender Imlek yang menandakan berakhirnya Musim Dingin dan mulainya Musim Semi.

Sebutan alternatif lainnya untuk Tahun Baru Imlek adalah (Dà) Nián Ch?y? [(?) ???] yang secara literal berarti “Hari Pertama Tahun (Raya).” Di Hongkong dan Macau dikenal dengan sebutan Nónglì Nián Ch?y? (????? atau ?????), yang berarti “Hari Pertama Tahun Kalender Pertanian”, sedangkan sebutan resmi dalam bahasa Inggris adalah “The First Day of Lunar New Year”. Malam Tahun Baru, hari dimana keluarga Tionghoa berkumpul untuk makan malam bersama tahunan (Nian Ye Fan, ???), disebut “Malam dari yang Berlalu” (Chúx?,  ??).

Legenda dan Mitos

Sebutan Tahun Baru Imlek kontemporer berasal dari 2 kata: “Guò Nián” [secara literal berarti “melewati Nián atau lolos dari Nián”]. Menurut legenda dan mitos yang berkembang kemudian, “Nián(?) adalah seekor hewan buas mistis. Hewan ini akan keluar pada hari pertama Tahun Baru Imlek untuk memakan ternak, hasil panen, bahkan juga penduduk desa, terutama anak-anak. Untuk melindungi diri, penduduk desa akan meletakkan makanan didepan pintu pada awal setiap tahun. Mereka percaya bahwa setelah Nián menghabiskan makanan yang disediakan, ia tidak akan menyerang penduduk lagi. Suatu hari seorang penduduk desa memutuskan untuk melawan Nián. Seorang rahib yang sedang berkunjung memberitahu kepadanya untuk menempelkan kertas merah di rumahnya dan membakar petasan. Akhirnya penduduk desa mengerti bahwa Nián takut dengan warna merah dan bunyi ledakan. Ketika Tahun Baru tiba, penduduk desa menggantungkan lampion merah dan gulungan merah berbentuk spiral di pintu dan jendela. Penduduk juga menggunakan petasan untuk mengusir Nián. Sejak saat itu, Nián tidak pernah datang lagi ke desa tersebut. Menurut pemeluk Sam Kauw, Nián ditangkap oleh Hóngj?n L?oz? (???? atau  ????), yakni salah satu dewa dalam ajaran Tao yang menyamar sebagai rahib yang berkunjung ke desa. Nián kemudian menjadi tunggangan Hóngj?n L?oz?. Tentu ini adalah mitos yang dikembangkan kemudian. Yang jelas kata Nián ini diartikan sebagai “Tahun”, dan merayakan Tahun Baru disebut Guò Nián”.

Penutup

Sebenarnya masih banyak pernak-pernik dibalik perayaan Tahun Baru Imlek, namun kebanyakan adalah tradisi yang dikembangkan oleh umat Sam Kauw dalam perkembangan sejarah Tiongkok yang telah berusia ribuan tahun. Pernak-pernik ini erat berhubungan dengan tahyul, ritual dan penyembahan. Mungkin karena masalah inilah ada kalangan Kristen tertentu yang merasa alergi merayakan Tahun Baru ini karena takut dicap penyembah berhala. Yang jelas Tahun Baru Imlek itu sendiri adalah netral karena intinya hanya menyambut pergantian tahun dan bersyukur kepada Tuhan karena telah menyertai dan memberkati kita selama tahun yang lewat, kini masuk tahun baru. Bagi orang Kristen alkitabiah yang berasal dari keturunan Tionghoa, tidak ada salahnya menggunakan momentum ini untuk bersyukur, dan tradisi budaya ini sama positifnya seperti ketika mereka menyambut pergantian tahun 2014 ke tahun 2015 yang baru lalu. Bedanya Tahun Imlek yang akan berlalu ini hanya di angka 2565 dan akan segera berubah menjadi Tahun Baru Imlek 2566 pada tanggal 19 Februari 2015 nanti! Jadi, silakan merayakan.


Posted in General (Umum) | 1 Comment

Asal Usul Hari Santo Valentine

oleh Hasan Karman, SH, M.M.

Ditengah dunia yang semakin materialistis ini, umat manusia di seluruh dunia terserang virus pop culture dan mengikuti gaya hidup trend setter yang kadang-kadang berasal dari dunia industri. Orientasi mereka adalah bisnis dan bagaimana menjual serta meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Salah satu industri besar yang menjadi target para pebisnis adalah Hari Valetine yang jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahun. Perayaan ini dilakukan dengan mengirim bunga, permen, coklat, kartu, bahkan perhiasan yang mahal, kepada orang yang dikasihi. Perayaan ini menjadi incaran karena merupakan bisnis komersil raksasa penjualan bunga, permen, coklat, pakaian, perhiasan dan sebagainya. Namun tahukah anda bahwa asal-usul Hari Santo Valentine yang kelam ini berasal dari masa pra-Kristen (zaman paganisme) yang berhubungan dengan ketelanjangan (nudity) dan penderaan (menyakiti dengan cambuk). Sebelum anda ikut-ikutan merayakannya, ada baiknya anda mengetahui sejarahnya dan dari mana nama St. Valentine itu berasal.

Era Pra-Kristen

Pada masa Romawi kuno, tanggal 13, 14 dan 15 Februari dirayakan sebagai Hari Lupercalia, yaitu festival kesuburan penyembah berhala (pagan). Kelihatannya tanggal-tanggal ini menjadi dasar hari perayaan cinta-kasih. Menurut Noel Lenski, professor sastra Universitas Colorado di Boulder, yang menjadi narasumber di National Geographic, pria-pria muda akan bertelanjang bulat dan menggunakan cambuk dari kulit kambing atau anjing untuk mencambuki punggung wanita-wanita muda untuk meningkatkan kesuburan mereka. Ritual itu juga dipercayai dapat menangkal serangan serigala terhadap ternak dan untuk menghormati dewa kesuburan mereka. Ada kalangan yang meyakini Hari Valentine dirayakan pada pertengahan Februari untuk mengenang hari kematian St. Valentine – yang kemungkinan terjadi sekitar tahun 270 AD – namun ada juga yang mengklaim bahwa gereja Katolik kemungkinan memutuskan untuk menempatkan hari peringatan St. Valentine pada pertengahan Februari sebagai upaya untuk “mengkristenkan” perayaan pagan Lupercalia. Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari merupakan sebuah festival kesuburan yang dipersembahkan kepada Faunus, dewa pertanian Romawi, dan juga kepada pendiri Roma, Romulus and Remus.

Mengawali festival, para anggota Luperci, sebuah sekte pendeta Romawi, akan berkumpul di sebuah gua suci tempat dimana diyakini bayi Romulus dan Remus, para pendiri Roma, diasuh oleh seekor serigala betina atau Lupa. Pendeta-pendeta itu akan mengorbankan seekor kambing untuk kesuburan, dan seekor anjing untuk kemurnian. Mereka kemudian akan menguliti hewan itu, memotong-motong dagingnya dan mencelupkannya kedalam darah suci serta membawanya ke jalan-jalan dan memecutkan kulitnya kepada para wanita dan ladang-kebun tanaman. Wanita-wanita Romawi itu sama sekali tidak takut, namun malah antusias menyentuh kulit itu karena dipercayai akan membuat mereka lebih subur pada tahun mendatang. Menurut legenda kemudian semua wanita muda di kota itu akan menaruh nama mereka kedalam sebuah jambangan besar. Setiap pria bujangan kota itu akan memilih sebuah nama dan menjadi pasangan selama setahun dengan wanita yang dipilihnya tanpa ikatan pernikahan. Jika pasangan itu cocok, maka kemungkinan akan dilanjutkan dengan pernikahan sah.

Tiga nama Valentine yang dikaitkan dengan Hari Valentine

Sekitar Tahun 197 AD terdapat seorang Kristen bernama Valentine dari Terni mati martir karena keyakinannya pada masa Kaisar Aurelian. Sedikit sekali diketahui tentang kehidupannya, kecuali bahwa ia ditahbiskan sebagai Uskup Interamna (kini Terni) pada tahun 197 M dan wafat tidak lama kemudian. Rupanya ia dipenjarakan, disiksa dan dipenggal di Via Flaminia (Roma) atas perintah seorang gubernur Romawi yang dijuluki dengan nama yang ganjil, yaitu Placid Furius (‘Pemarah yang Kalem’). Menurut legenda, ia wafat pada 14 Februari, namun kelihatannya ini ditambahkan kemudian. Sekitar Tahun 289 AD dikisahkan St. Valentine adalah seorang rahib yang melayani di Roma pada abad ketiga. Kaisar yang berkuasa pada masa itu adalah Claudius II. Kaisar Claudius II berpendapat bahwa bahwa tentara bujangan lebih bagus daripada tentara yang menikah, sehingga ia melarang semua pria muda yang menjadi tentara untuk menikah. Valentine menentang putusan ini karena menurutnya tidak adil dan memilih tetap menikahkan pasangan muda secara rahasia. Ketika tindakannya ketahuan Kaisar, ia ditangkap dan dipenjarakan serta dihukum mati. Alkisah, pasangan-pasangan muda yang dinikahkan Valentine mengirimkan bunga dan surat kepada Valentine ketika mereka menjenguk dirinya di penjara. Legenda lain yang agak berbeda mengisahkan bahwa Valentine menolong orang-orang Kristen yang melarikan diri dari tahanan karena tidak tahan disiksa. Perbuatannya ini membuat dirinya ditangkap. Ketika dipenjara ia menobatkan kepala penjaranya karena menyembuhkan kebutaan puteri kepala penjara tersebut. Menurut versi yang muncul kemudian Valentine dikisahkan jatuh cinta kepada puteri kepala penjara itu. Sebelum dihukum mati, ia mengirim “surat valentine” pertama kepada kekasihnya dan menandainya dengan kata-kata “Dari Valentine-mu”. Kata-kata inilah yang ditiru dan digunakan dalam kartu Valentine. Nama Valentine dari Roma disebut-sebut wafat pada tanggal 14 Februari, ini adalah hal yang mustahil. Sekitar Tahun 496 AD Paus Gelasius yang memegang tahta kemudian menetapkan 14 Februari sebagai Hari St. Valentine, sebuah hari raya Katolik. Kelihatannya ini merupakan strategi kompromi “jika kamu tidak bisa mengalahkan mereka, bergabunglah dengan mereka” terhadap festival paganism Lupercalia yang masih populer.

Tahun 1382

Geoffrey Chaucer menulis Parlement of Foules (atau “Parliament of Fowls”, secara literal berarti “parlemen unggas atau burung”), yang diterima luas sebagai hal pertama yang dikaitkan dengan Hari Valentine sebagai cinta yang romantis. Dalam merayakan pertunangan Richard II dari Inggris dan Anne dari Bohemia, ia menulis: “Karena ini adalah Hari Valentine/Saat setiap unggas keluar memilih pasangannya”. Namun diperkirakan hal tersebut merujuk ke tanggal 2 Mei, hari santo dalam kalender liturgis Valentine dari Genoa – yang lebih tepat merupakan musim kawin unggas di Inggris. Tahun 1400 pada Hari Valentine di Paris dibentuk Pengadilan Tinggi Cinta, yang khusus mengurus masalah perikatan: perjanjian pernikahan, perceraian, perselingkuhan, dan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga). Beberapa tahun kemudian, Charles, Duke dari Orleans (yang asli orang Perancis) menulis surat Valentine pertama yang tercatat dalam sejarah kepada kekasihnya ketika dipenjarakan di Menara London setelah tertangkap dalam Pertempuran Agincourt pada tahun 1415. Pada tahun 1601 popularitas Hari Valentine menjadi begitu merasuk kedalam pikiran masyarakat ketika muncul syair ratapan Ophelia didalam Hamlet karya William Shakespeare: “Esok adalah Hari Santo Valentine,/Saat pagi menjelang,/Dan aku gadismu ada di jendela,/Sebagai Valentine-mu .”

Pertengahan abad ke-18 trend saling mengirim surat cinta menjadi populer di Inggris, sebuah pembuka tradisi kartu Valentine yang kita kenal sekarang. Awalnya hanya berupa kertas digulung dan diikat dengan tali renda. Pada tahun 1797, terbit The Young Man’s Valentine Writer, yang menganjurkan tulisan pesan dan syair yang sesuai dalam kartu Valentine. Munculnya pelayanan pos menjadi lebih mudah dijangkau, sehingga pengiriman kartu Valentine tanpa nama dimungkinkan. Menjelang awal abad ke-19, kartu ini menjadi begitu populer sehingga pabrik-pabrik percetakan mulai melakukan produksi massal. Tahun 1847 mengikuti tradisi Inggris tersebut, Esther Howland dari Worcester, Massachusetts, mulai mencetak kartu – dengan menggunakan kertas renda yang baru ditemukan dan lebih murah – di Amerika Serikat. Tahun 1913 munculnya Hallmark Cards yang mencetak kartu Valentine pertamanya yang dirancang dengan mewah, mahal dan bergengsi. Kartu Hallmark menjadi simbol status kelas atas yang banyak menguras kantong para kekasih yang ingin menunjukkan gengsinya kepada kekasih atau calon kekasihnya. Cara pengungkapan perasaan dengan bertemu langsung dianggap kuno karena munculnya promosi kartu mewah dan mahal merek Hallmark ini. Mengirim kartu Valentine merek Hallmark dianggap lebih tinggi gengsinya daripada cara lain. Pada pertengahan 1980-an komersialisasi berlanjut: melihat dampak penjualan coklat, bunga dan kartu pada Hari Valentine yang sangat dahsyat, industri berlian ikut ambil bagian dengan mempromosikan Hari Valentine sebagai saat yang tepat untuk memberikan perhiasan. Kekasih-kekasih digenjot gengsinya agar memberikan hadiah perhiasan mahal pada Hari Valentine. Promosi ini akhirnya menjadi “tradisi” bagi kalangan berduit. Tahun 2009 Hari Valentine menghasilkan penjualan retail sekitar $14.7 milyar (£9.2 milyar) di Amerika Serikat. Tahun 2010 diperkirakan 1 milyar kartu Valentine dikirim ke seluruh dunia, sehingga Hari Valentine menjadi perayaan No. 2 yang tertinggi pengiriman kartunya setelah Hari Natal. Penulis tidak menelusuri angka yang diperoleh pada tahun 2011-2014. Yang jelas tahun 2015 tak akan lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya.

Penutup

Barangkali kita tak akan pernah mengetahui jatidiri dan kisah sebenarnya dibalik orang-orang yang bernama St. Valentine, namun satu hal yang tak bisa dipungkiri, 14 Februari telah menjadi hari perayaan cinta-kasih para penyembah berhala (paganism), kemudian berlanjut pada masa keemasan gereja Katolik Abad Pertengahan. Secara faktual Hari Valentine menempati urutan ke-2 dalam record jumlah pengiriman kartu ucapan dibawah Hari Natal. Sebagai orang Kristen pencinta kebenaran apakah anda juga merayakan Hari Valentine setelah mengetahui asal-usul dan faktanya? Satu pribadi lagi yang mungkin ingin anda ketahui pada Hari Valentine, yaitu Cupid (kata Latin Cupido berarti hasrat atau napsu cinta). Dalam Mitologi Romawi, Cupid adalah putera Venus, dewi Cinta. Rekannya dalam mitologi Yunani adalah Eros. Dewa Cinta. Cupid adalah dewa yang digambarkan sebagai anak nakal yang terbang kesana-kemari dengan sayap kecilnya dan memanahi dewa-dewi dan manusia sehingga mereka menjadi saling jatuh cinta. Percayakah anda pada dewa?

Posted in General (Umum), Keluarga | 1 Comment

Fragmen Injil Markus dari Abad Pertama

(Berita Mingguan GITS 31 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Sepertinya sebuah fragmen Injil Markus dari abad pertama telah ditemukan di sebuah mumi Mesir. Fragmen ini adalah bagian dari pembungkus muka mumi tersebut, yang terbuat dari lembar-lembar papirus yang direkatkan bersama secara berlapis-lapis dan setelah itu dicat. Para ilmuwan dan ahli, dipimpin oleh Craig Evans dari Acadia Divinity College telah menemukan cara untuk melepaskan lem yang merekatkan kumpulan papirus itu dan menarik keluar tiap-tiap lembarnya masing-masing, dengan tinta asli tulisan pada papirus-papirus itu masih utuh. (“Ancient Biblical text discovered in an Egyptian mummy mask,” Science Alert, 20 Jan. 2015). Evans memberitahu Live Science, “Kami sedang menemukan ulang dokumen-dokumen kuno dari abad pertama, kedua, dan ketiga. Bukan hanya dokumen Kristen, bukan hanya dokumen Alkitab, tetapi teks-teks Yunani klasik, kertas-kertas bisnis, berbagai dokumen biasa lainnya, surat-surat pribadi. Dari satu tutup muka, tidaklah aneh untuk mendapatkan satu dua lusin, atau bahkan lebih. Kami pada akhirnya akan mendapatkan ratusan papirus ketika pekerjaan ini sudah selesai, bahkan bisa jadi ribuan.” Tim tersebut telah menetapkan tanggal fragmen Injil Markus itu ke tahun sekitar 90 M, melalui carbon-14, analisis tulisan, dan dokumen-dokumen lain yang didapatkan bersama dengannya. Ketika dokumen itu diterbitkan, kemungkinan belakangan tahun ini, kita akan tahu lebih banyak lagi, termasuk bagian Injil Markus mana yang tertulis di papirus itu. Penanggalannya lalu akan dikritisi oleh berbagai ahli lainnya. Tetapi ini adalah penemuan besar. Bisa jadi ini adalah fragmen Injil yang paling awal yang pernah ditemukan, yang semakin menambah otentisitas Kitab Suci Perjanjian Baru dan menyediakan lebih banyak lagi bukti untuk membantah teori liberal kuno bahwa kitab-kitab Injil ditulis lama setelah peristiwa-peristiwanya terjadi. Saat ini, fragmen Injil tertua adalah Rylands Library P52 (P singkatan dari papirus), yang adalah sepenggal Injil Yohanes yang ditanggali antara 117 hingga 138 M. Sebelum ini, bagian Injil Markus yang paling tua yang ditemukan adalah P45, yang ditanggali 200-250 M.

Posted in Alkitab, Arkeologi | Leave a comment

Pemerintahan Obama Menolak RUU yang Akan Melarang Aborsi Setelah Kehamilan Lima Bulan

(Berita Mingguan GITS 31 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Dukungan Presiden Barack Obama terhadap pembunuhan anak-anak yang belum lahir sekali lagi terlihat jelas dalam tindakan pemerintahannya yang menolak suatu RUU yang bertujuan untuk melarang aborsi setelah kehamilan 20 minggu. Gedung Putih menyebut RUU itu sebagai “serangan terhadap hak wanita untuk memilih,” dan adalah “opresif.” RUU H.R. 36 diajukan oleh Senator Trent Franks, dan mendapat dukungan luas, dengan hampir 160 sponsor. Office of Management and Budget yang di Gedung Putih memberi pendapat, “Wanita seharusnya bisa membuat pilihan mereka sendiri tentang tubuh mereka dan layanan kesehatan mereka, dan pemerintah tidak boleh mencampuri keputusan yang dibuat antara seorang wanita dengan dokternya.” Aborsi bukanlah masalah tubuh wanita; aborsi adalah mengenai tubuh seorang bayi. Dan pemerintahan Obama yang munafik sama sekali tidak bermasalah mencampuri banyak urusan pribadi lainnya kalau itu memang yang mereka mau lakukan. Kongres (semacam DPR) Amerika sekarang dikuasai oleh partai Republik, dan dua tahun berikutnya akan menjadi tahun-tahun presiden Obama banyak melakukan veto terhadap berbagai RUU yang keluar dari Kongres. Christian News Network melaporkan, “Mayoritas anak-anak yang diaborsi setelah kehamilan 20 minggu, kehilangan nyawa mereka melalui suatu prosedur yang disebut dilatasi dan evakuasi (D&E). Dilatasi dan evakuasi melibatkan pertama memasukkan obat yang akan menghentikan jantung si bayi. Lalu leher rahim sang ibu didilatasi (dibuka), dan bayi itu dikeluarkan sepotong demi sepotong dengan alat forceps. Menurut laporan, dokter pelaku aborsinya akan merangkai kembali potongan-potongan badan bayi itu di atas nampan untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan di dalam” (“Obama Administration Opposes Bill,” Christian News Network, 21 Jan. 2015).

Posted in General (Umum) | Leave a comment

Mempelajarai Ciptaan Allah Adalah Suatu Petualangan

(Berita Mingguan GITS 31 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Almarhum astronomer, Edwin Hubble, mengatakan, “Diperlengkapi dengan kelima inderanya, manusia menjelajahi alam semesta di sekitarnya dan menyebut petualangan itu ilmu pengetahuan” (The Nature of Science, 1954). Sejauh yang kita tahu, Dr. Hubble tidak pernah mengaku percaya Kristus, jadi dia bahkan belum bisa mulai memahami betapa ilmu pengetahuan itu suatu petualangan. Sebelum saya diselamatkan, saya menikmati membaca. Saya membaca banyak topik, dan saya tertarik akan banyak hal, tetapi ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang mendalam dan mendasar. Belajar bukan sungguh-sungguh suatu petualangan seru. Memang ada kalanya semua itu menarik dan bahkan menakjubkan, tetapi secara keseluruhan mempelajari kehidupan membawa kebingungan, mematahkan semangat, dan mengecewakan. Dua pikiran sering muncul pada diri saya pada waktu itu: Siapa yang bisa tahu pasti apa yang benar? Dan apa gunanya saya belajar banyak hal, karena saya akan mati? Tetapi sejak saya diselamatkan, semuanya menjadi berubah. Saya memiliki “kunci” belajar, yaitu pengenalan akan Allah yang sejati dalam Yesus Kristus dan memiliki WahyuNya dalam Alkitab. Saya telah dipanggil “keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib” (1 Petrus 2:9). Sekarang, belajar sungguh-sungguh adalah suatu petualangan. Tidak peduli apapun yang saya pelajari, dari sejarah manusia hingga ilmu alam, saya memiliki terang untuk menafsirkan setiap subjek dengan benar, dan saya memiliki motivasi untuk melakukannya karena saya mengenal sang Pencipta, dan saya tahu bahwa saya memiliki hidup yang kekal. Semua yang saya pelajari tentang kehidupan menunjuk kepada Allah, dan itu membuat segala sesuatu menjadi suatu petualangan. Johannes Kepler, penemu hukum alur gerak planet-planet, memahami hal ini. Seperti kebanyakan bapa-bapa sains modern, ia percaya pada Allah dalam Alkitab dan pada penciptaan ilahi, dan dia berkata, “Saya hanyalah memikirkan pikiran-pikiran Allah. Karena kami para astronom adalah imam-imam dari Allah yang maha tinggi berkaitan dengan buku alam semesta, adalah baik bagi kami untuk merenung, bukan tentang kemuliaan pikiran kami, tetapi sebaliknya, di atas segala yang lain, kemuliaan Allah.”

Posted in Science and Bible | Leave a comment

Kemunafikan Berteman dengan Katolik Tetapi Tidak dengan Mormon

(Berita Mingguan GITS 24 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Kemunafikan dan ketidakkonsistenan gerakan Ekumene terlihat jelas baru-baru ini di Cairns Christian Ministers Network (CCMN, terletak di Cairns, Queensland, Australia). Pada tanggal 13 Januari, CCMN membuat suatu pernyataan bahwa mereka tidak mendukung kebaktian World Day of Prayer lokal pada bulan Maret, karena acara itu akan dilaksanakan di gereja Mormon. Pengumuman menyatakan bahwa “CCMN (secara korporat maupun individu) dengan tegas tidak mendukung kepercayaan gereja Mormon dalam bentuk apapun.” Dua hari kemudian, CCMN mengirimkan suatu pengumuman lain yang mempromosikan Kebaktian Blessing Cairns yang diadakan tahunan di Katedral Katolik St. Monica. Mereka mengatakan, “Kami percaya kamu akan diberkati juga tahun ini. Gembala-gembala dari sepuluh denominasi berpartisipasi tahun ini, memberi kesaksian jelas kepada kota kita bahwa kita sungguh adalah satu Gereja.” Tetapi mereka sebenarnya bukan satu. Mereka memisahkan kaum Mormon yang kasihan itu, walaupun Mormon juga memakai nama Kristus. Kelompok ekumene mengritik kaum “fundamental” sebagai orang-orang yang suka menghakimi dan bersikap Farisi karena menguji segala sesuatu berdasarkan Firman Allah, tetapi ketika mereka sendiri menghakimi kaum Mormon atau Unitarian atau yang lainnya, maka itu boleh-boleh saja. Ini tidak konsisten. Kalau mau memisahkan diri dari kesesatan, maka harus dilakukan konsisten. Jika boleh menghakimi sebagian sekelompok doktrin sebagai doktrin yang sesat, maka semua doktrin yang salah harus dinilai dan dihakimi juga. Jika boleh menghakimi “kristus” palsu Mormonisme dan injil palsu mereka berdasarkan 2 Korintus 11:4, maka sama bolehnya untuk menghakimi “kristus” palsu Roma yang berupa “roti hosti” dan injil sakramental mereka yang dimulai dari kelahiran melalui baptisan.

Posted in Ekumenisme | 1 Comment

Kepemimpinan yang Lemah Bisa Berbahaya

(Berita Mingguan GITS 24 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Kepemimpinan adalah hal yang sulit, terutama ketika melibatkan peneguran, memberi peringatan, dan disiplin, dan seringkali hal-hal ini memang harus dilakukan oleh pemimpin. Kita semua ingin disukai. Kita lebih memilih untuk menjadi populer daripada tidak populer, tetapi hal ini bisa menghalangi kita untuk menolong orang-orang yang seharusnya kita pimpin. Ini adalah jerat yang dapat menyandung pemimpin manapun, dari seorang ayah atau ibu, ke seorang polisi, ke seorang gembala sidang. Baru-baru ini saya membaca tentang serangan seekor beruang grizzly di sebuah taman nasional di Amerika. Dua orang yang terbunuh adalah pekerja di taman nasional itu, dan mereka sebenarnya sudah diberikan instruksi dan peringatan mengenai bagaimana harus bersikap ketika berhadapan dengan beruang, tetapi para pemimpin di sana (dalam hal ini para ranger taman dan manager) tidak selalu mengetatkan peraturan tersebut. Salah satu pemimpin di sana dideskripsikan sebagai seseorang yang “sangat populer di antara bawahannya; gayanya cenderung ringan dan penuh canda.” Dan walaupun dia “menyatakan peraturan” tentang keselamatan berurusan dengan beruang, dia tidak selalu memastikan peraturan itu diikuti dengan baik. Ketika dia diberitahu bahwa ada pegawai-pegawai wanitanya yang mengabaikan “peraturan” yang dia buat, dan malam-malam jalan-jalan ke daerah beruang untuk pacaran, dia “mengangkat tangan” dan mengatakan bahwa “ada batasan seberapa banyak nasihat yang bisa diberikan sebelum kita dianggap tukang celoteh yang membosankan, dan bahwa dia merasa dia sudah sampai kepada batasan tersebut.” Motivasinya adalah dia ingin populer, dan tidak dianggap “tukang celoteh yang membosankan.” Dalam kasus ini, wanita-wanita yang bersangkutan tidak terbunuh oleh beruang, tetapi ada dua orang lain yang terbunuh. Kita semua ingin “disukai,” tetapi kasih yang sejati menjalankan teguran dan disiplin yang saleh. Alkitab mengatakan, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya” (Ams. 13:24). Orang tua bijak yang mengasihi anaknya akan mengoreksi dan menghukum dia walaupun terasa sulit, karena sang orang tua lebih peduli kepada anak itu dan hubungan anak itu dengan Tuhan dan karakter dan masa depannya daripada perasaannya sendiri dan kenyamanannya sendiri. Ini juga adalah salah satu motivasi besar bagi seorang gembala untuk melaksanakan disiplin. Disiplin tidak pernah mudah, baik bagi yang memberi maupun menerimanya, tetapi ini hal yang penting di dunia yang jatuh dalam dosa ini, dan ketika dilakukan dengan benar sesuai dengan Firman Allah, ini adalah suatu tindakan kasih yang besar.

Posted in General (Umum) | Leave a comment

Laodikia dan Hukum Termodinamika Kedua

(Berita Mingguan GITS 24 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” (Wahyu 3:15-16). Salah satu dari banyak pelajaran dari perikop ini adalah fakta bahwa orang percaya harus berapi-api bagi Tuhan, dan jika tidak ia akan mundur. Tidak ada daerah netral. Saya entah sedang “menuju tempat yang lebih tinggi,” atau saya sedang mundur. Untuk tetap panas memerlukan banyak usaha. Begitu saya selesai menuangkan kopi pagi saya, sebelum saya menyeruputnya, gelas kopi itu sudah mulai mendingin. Kami memiliki sebuah teko air panas yang bekerja 24/7 di rumah kami, tetapi air di situ tetap panas hanya karena ada aliran listrik yang konstan ke elemen-elemen pemanasnya. Para ilmuwan menyebut prinsip ini sebagai Hukum Termodinamika Kedua. Ada suatu hukum universal tentang pembusukan, peluruhan, yang mengingatkan kita bahwa kita hidup di dunia yang jatuh dalam dosa. Untuk mempertahankan apapun memerlukan aplikasi energi yang konstan, apakah itu kekuatan otot tubuh, hingga mobil yang tetapi kinclong, dan ini benar di dunia rohani maupun fisik. Sumber energi yang mempertahankan hidup kekristenan tetap panas adalah keselamatan pribadi yang dipahami dengan baik, persekutuan yang intim dengan Kristus, hubungan yang mendalam dengan FirmanNya, iman dan ketaatan seorang murid. Hidup Kristen yang panas adalah tentang semangat, gairah, roh yang berapi-api, fokus, kesetiaan yang tidak berubah, dan kasih mula-mula.

Posted in Renungan | Leave a comment

Hillsong Masih Memuaskan Telinga Orang

(Berita Mingguan GITS 17 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Beberapa tahun yang lalu, Brian Houston, gembala sidang senior dari Gereja Hillsong di Sydney, ditanya oleh seorang wartawan koran mengenai mengapa gerejanya begitu sukses di suatu negara seperti Australia, yang jelas-jelas tidak begitu mendukung kekristenan. Dia menjawab, “Kami memberikan kepuasan kepada orang-orang di tempat mereka ingin dipuaskan” (“The Lord’s Profits,” Sydney Morning Herald, 30 Januari 2003). Sungguh menyegarkan mendengar kejujurannya dalam mengakui bahwa ia menggenapi nubuat. “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Tim. 4:3). Angkatan yang sesat yang digambarkan oleh nubuat ini memiliki telinga yang gatal untuk mendengar hal-hal baru dan cerita-cerita fiksi, dan ada begitu banyak guru-guru yang berlombaan untuk memuaskan keinginan tersebut.

Salah satu cara utama Hillsong memuaskan keinginan telinga orang-orang yang sesat adalah melalui musik mereka, yang diakui dalam ulasan dari album Young & Free milik Hillsong, yang berjudul “This Is Living,” sebagai berikut: “Mungkin terdengar aneh, tetapi YESUS JELAS TERDENGAR MERDU DI LANTAI JOGET. Sementara Hillsong Worship dan Hillsong UNITED berfokus pada suara-suara yang jelas lebih seperti stadium pop-rock, Hillsong Young & Free (Y&F) hadir bagi mereka yang ingin membawa Yesus ke dalam area musik dansa elektronik. Dengan beat-beat yang bergoncangan dan lampu-lampu disko yang gemerlap membingungan, Y&F telah memberikan musik penyembahan suatu suara terbaru yang bisa ditandingkan dengan musiknya Meghan Trainor dan Bruno Mars . . . Dengan semakin banyaknya anggota UNITED yang beranjak dari keremajaan, Y&F telah menjadi pionir untuk memimpin orang-orang yang lebih muda kepada Yesus DENGAN MUSIK YANG MENGGELITIK TELINGA MEREKA dan membuat mereka BERJOGET DEMI INJIL” (“Hillsong Young and Free,” Hallels.com, 6 Jan. 2015). Tidak diragukan bahwa Hillsong adalah salah satu penggelitik telinga yang paling hebat di planet ini. Angkatan ini mencari suatu “perasaan,” dan CCM sungguh memuaskan keinginan telinga itu.

Posted in Kharismatik/Pantekosta, musik | Leave a comment

Yang Mati dan yang Terluka Ketika Mencoba Menyentuh Patung Yesus

(Berita Mingguan GITS 17 Januari 2015, sumber: www.wayoflife.org)

Dua orang mati dan ribuan lainnya harus mendapatkan pertolongan medis dalam keributan yang terjadi dalam penyembahan suatu patung Roma Katolik yang diklaim sebagai Yesus di Filipina. Lima juta orang tanpa kasut kaki melakukan penyiksaan untuk pengampunan dosa, dan mereka membanjiri jalanan ketika patung itu diparadekan melalui kota Manila sebelum kunjungan Paus Fransiskus. Kerumunan yang sudah kacau itu ingin menyentuh patung itu, atau menggesekkan pakaian mereka kepadanya, dengan suatu kepercayaan kafir bahwa mereka bisa mendapatkan transfer berkat dan mujizat dari suatu patung yang mati. Patung dari abad 17 yang terkenal itu menggambarkan Yesus sebagai seorang yang berkulit agak gelap, berambut panjang, dengan halo di kepala dan membawa salib. Patung ini disetujui untuk disembah oleh Paus Innocent X tahun 1650. Pada tahun 1880, Paus Pius VII memberikan patung itu berkat kepausan dan dia mengumumkan pengampunan dosa penuh bagi barangsiapa y ang berdoa di hadapannya. Patung ini dikeluarkan untuk penyembahan umum tiga kali setahun: Hari Tahun Baru, tanggal 9 Januari, yaitu hari prosesi patung, dan Jumat Agung. Hal seperti ini persis sama dengan yang dilakukan oleh orang-orang Hindu, mengharapkan berkat dan kemujuran dari patung-patung mereka. Tahun lalu, suatu rutinitas baru dimulai untuk patung yang disebut Black Nazarene itu. Patung Yesus itu berhenti di Basilica Minore de San Sebastián, tempat sebuah patung Maria (Our Lady of Mount Carmel), dikeluarkan dan diangkat oleh para imam untuk “melihat” dan “bertemu” dengan patung Black Nazarene. Sambil patung Yesus itu dibawa dari basilika tersebut, para imam dengan perlahan memutar patung Maria itu, seolah sedang “menonton” sang Black Nazarene berangkat (Ricky Velasco, Doctor Love radio show, DZMM 630, Manila, 9 Jan. 2014). Katanya ini mengisahkan Stasiun Salib keempat yang mitologis di Yerusalem, tempat katanya Yesus bertemu Maria ketika sedang dibawa ke tempat penyaliban. Tentu saja tidak ada ritual Katolik yang lengkap kalau tidak ada Maria-nya. Kekristenan yang palsu adalah hasil mahakarya Iblis dan telah menjadi batu sandungan bagi banyak sekali orang. Mereka melihat hal-hal seperti ini dan berpikir, “Kekristenan hanyalah suatu agama palsu dan sia-sia seperti lainnya,” tanpa pernah mengenal kekristenan yang sejati. Tidak ada satu halpun yang dilakukan itu yang didukung oleh Kitab Suci, dan nabi Yesaya memperingatkan ““Carilah pengajaran dan kesaksian!” Siapa yang tidak berbicara sesuai dengan perkataan itu, maka baginya tidak terbit fajar” (Yes. 8:20).

Posted in Katolik | 1 Comment