OCKENGA ADALAH PENDIRI GERAKAN INJILI BARU (NEW EVANGELICAL) DAN MENYATAKAN BAHWA GERAKAN TERSEBUT MENOLAK SEPARASI
Harold Ockenga (1905-85) mungkin adalah pemimpin Injli yang paling berpengaruh di abad ke-20. Dia adalah gembala sidang dari Gereja Park Street yang prominen di Boston, pendiri dari National Association of Evangelicals, sesama pendiri dan juga presiden pertama dari Fuller Theological Seminary, presiden pertama dari World Evangelical Fellowship, presiden dari Gordon College, dan Gordon-Conwell Theological Seminary, seorang direktur dalam Billy Graham Evangelistic Association, dan ketua dewan direksi sekaligus pernah menjadi editor majalah Christianity Today.
Pada tahun 1950an Ockenga membantu menciptakan gerakan Injili Baru yang menolak separasi dan membidik filosofi yang lebih positif dan pragmatis, berlawanan dengan “negativisme” dan “isolasi” yang terdapat dalam fundamentalisme.
Dalam sebuah pidato yang dia sampaikan tahun 1947 pada saat pendirian Fuller Seminary, Ockenga berkata:
“Kita menolak gerakan ‘Keluarlah dari sana’ [Editor: seruan separasi fundamentalis] yang memvonis semua denominasi sebagai sesat. Kita berharap untuk positif dalam penekanan kita, kecuali di tempat-tempat kesalahan sudah sedemikian rupa sehingga kita harus membongkarnya untuk dapat menyatakan kebenaran. Penekanan positif ini akan didasarkan pada doktrin Kalvinisme rendah yang luas” (hal. 176).
Mengilas kembali pidato yang monumental tersebut tiga puluh tahun kemudian, Ockenga berkomentar: “Injil baru lahir….bersamaan dengan sebuah pidato yang saya sampaikan di pertemuan di Civic Auditorium di Pasadena. Sambil menegaskan ulang pandangan theologi fundamentalisme, pidato ini MENOLAK EKKLESIOLOGI DAN TEORI SOSIALNYA (Fundamentalisme). Seruan nyaring PENOLAKAN TERHADAP SEPARATISME DAN PANGGILAN TERHADAP KETERLIBATAN SOSIAL mendapatkan respons dari banyak Injili. Nama ini (Injili Baru) cepat diterima dan tokoh-tokoh seperti Doktor-doktor Harold Lindsell, Carl F. H. Henry, Edward Carnell, dan Gleason Archer mendukung pandangan ini. Kami tidak bermaksud memulai suatu gerakan, tetapi ternyata penekanan kami ini mendapatkan dukungan yang luas dan memainkan pengaruh yang besar. Injili-baru (neo-evangelicalism)….BERBEDA DARI FUNDAMENTALISME DALAM HAL PENOLAKAN TERHADAP SEPARASI DAN KETEGUHAN HATI UNTUK IKUT DALAM DIALOG THEOLOGIS ZAMAN ITU. GERAKAN INI MEMILIKI PENEKANAN BARU PADA APLIKASI INJIL KEPADA BIDANG-BIDANG SOSIOLOGI, POLITIK, DAN EKONOMI DALAM KEHIDUPAN. Para Injili-baru menekankan penulisan ulang theologi Kristen untuk menyocokkan diri dengan keperluan zaman, KEMBALI IKUT SERTA DALAM DIALOG THEOLOGI, MEREBUT KEMBALI KEPEMIMPINAN DI DENOMINASI, DAN PENELITIAN ULANG AKAN PROBLEM-PROBLEM THEOLOGI SEPERTI KEKUNOAN MANUSIA, UNIVERSALITAS AIR BAH, METODE ALLAH DALAM MENCIPTAKAN, DAN LAIN-LAIN” (Ockenga, kata pengantar untuk bukunya Harold Lindsell The Battle for the Bible).
Ockenga mewakili mood keturunan fundamentalis tua yang mulai berubah. Mereka sudah capek membongkar kesalahan dan memisahkan diri dari denominasi-denominasi dan gereja-gereja yang modernistik dan berkompromi. Generasi baru orang-orang Injili ini bertekad untuk meninggalkan pendirian Alkitab yang militan. Sebagai gantinya, mereka akan mengejar dialog, intelektualisme, dan menyenangkan pihak lain. Mereka bertekad untuk tinggal di dalam denominasi-denominasi yang sesat untuk berusaha mengubah keadaan dari dalam, bukan mempraktekkan separasi alkitabiah. Injili Baru akan lebih berdialog dengan mereka yang mengajarkan kesesatan daripada menyerukan Firman Tuhan dengan berani dan tanpa kompromi. Injili Baru akan menantang humanis yang sombong dan liberal yang congkak di “kandang” mereka sendiri yaitu dengan pendidikan manusia bukannya dengan rendah hati rela dianggap bodoh demi Kristus karena berdiri di atas Alkitab dengan sederhana. Para pemimpin Injili Baru juga bertekad untuk memulai suatu “proses pemikiran ulang,” yaitu suatu sikap bahwa cara-cara yang lama harus terus menerus dinilai ulang berdasarkan tujuan-tujuan, metode-metode, dan ideologi-ideologi baru.
Injili Baru telah menyapu dunia. Hari ini, tidaklah melebih-lebihkan untuk berkata bahwa mereka yang menyebut diri “Injili” adalah Injli Baru; kedua istilah ini telah menjadi sama. Para Injili kuno, dengan beberapa pengecualian yang jarang sekali, telah bergabung dengan gerakan fundamentalisme atau telah menerima Injili Baru. Gerakan Injili hari ini adalah gerakan Injili Baru. Secara praktis kedua istilah ini kini mengacu kepada hal yang sama.
Ernest Pickering mengobservasi: “Salah satu bagian yang menimbulkan kebingungan mengenai gerakan Injili Baru adalah karena sekarang sudah hampir tidak ada perbedaan antara “injili” dan Injili Baru. Prinsip-prinsip Injili Baru yang pertama muncul kini telah diterima secara universal oleh mereka yang menyebut diri “injili” sehingga semua perbedaan yang mungkin eksis bertahun-tahun yang lalu sekarang sudah tidak ada lagi. Tidak diragukan lagi bahwa istilah yang dipakai oleh Ockenga bagi gerakan baru ini, yaitu Injili Baru atau Neo-Evangelical, telah disingkat menjadi Injili…Jadi hari ini kita menyebut bagian dari kekristenan ini dengan sebutan sederhana gerakan Injili” (The Tragedy of Compromise, hal. 96).
Continue reading →